HALOOOO... balik lagi denga serial KEN,
Seperti yang dikataka oleh CoreFiraga-san, cerita ini memang mengabil dari SKET DANCE
ini list character-nya :
Roxas - Bossun
Namine - Himeko
Riku - Switch
Xion - Captain(tapi di sini ceritanya bukan menjadi kapten, namun anggota saja)
Kairi - Saaya
Untuk Sora,Terra,Ventus dan lain-lain masih dipikirkan nanti, tebak-tebak saja ya
Disclaimer : KH bukan punya saya, cuman minjem
Ide Cerita : SKET-DANCE
Chapter 2 : Daily Day's 1
Ruang Klub, sehabis sekolah...
"Rox... lo nonton anime kemaren malem ?" tanya gadis berambut putih sambil menyajikan segelas teh kepada orang yang dia tanya. Gadis ini adalah Namine, salah satu gadis yang memiliki kukuatan seperti lelaki pada umumnya.
"Aaaaahhh... yang mana ?" bales Roxas yang sedang melipat origami dekat jendela. Roxas, adalah lelaki yang mempunyai impian mulia (menurutnya), yaitu membantu para siswa yang kesulitan dengan segenap hati.
"Samurai X, SA-MU-RAI-X. Masa lo ga tau sih ? itu kan anime terkenal" Namine tampak terheran-heran mendengar jawaban Roxas.
"Samurai X yah ? aku lupa tuh... " jawabnya enteng.
"Lo ngapain sih sepanjang malem kemaren ?" tanya Namine pun langsung berpikir apa yang dia lakukan kemarin malam.
"Main Gundam di kamar..."
BRAAAAK terdengar bunyi bantingan keras dari arah pintu masuk klub. Roxas yang pertama kali melihat orang tersebut. Dia berambut hitam pekat dengan gaya spikynya, dia mengenakan baju kimono, dan di pinggangnya terselip sebuah pedang kayu berukuran panjang.
"Anooo..." Roxas pun berusaha membuka pembicaraan, Namine diam saja tanpa melihat orang itu. "Oi Namine lihat orang itu... muncul klien aneh nih" bisik Roxas pelan. Namine hanya menggeleng-geleng tanda tak mau. Dan tiba-tiba orang tadi merunduk dengan cepatnya.
"SELAMAT SORE ! saya Zack dari klub kendo, saya kemari mau meminta bantuan Klub KEN" teriaknya dengan lantang.
"Ah...silakan masuk" kata Roxas sambil berdiri menyiapkan tempat untuk Zack. "Nam... buatin teh buat dia" bisik Roxas. Namine masih menutup mulut dan tanpa komentar langsung menyiapkan teh. "Kenapa nih orang ?" batin Roxas.
Zack pun masuk dan duduk di tempat yang Roxas sediakan. "Anoo...Zack kan? Boleh tanya, kau tau dari siapa tentang kami ?" tanya Roxas yang duduk di seberang Zack.
"Sebelum itu saya berterima kasih kepada Roxas-sama telah mempersilahkan saya untuk masuk ke ruangan ini dan—"
"Ah sudah, cukup cukup. Ga usah terlalu formal begitu, langsung saja...hehehehe" kata Roxas berusaha membuat pembicaraan menjadi santai.
"Maaf kan saya klo begitu" Zack pun merunduk tanda meminta maaf. "Ya ampun... muncul orang aneh nih" batin Roxas. "Saya mengetahui tentang anda dari teman saya yang bernama Xion-sama"
"Ah...Xion toh. Jadi apa permintaanmu ?" tanya Roxas. Namine pun membagikan tehnya kepada Zack dan Roxas dan dia pun duduk disamping Roxas dengan wajah panik dan sedikit gemetaran.
"Sebenarnya saya sedang mengalami masalah harga diri, Roxas-sama" kata Zack dengan raut wajah yang serius.
"Harga diri ?" tanya Roxas heran.
"Ya, saya memegang prinsip keluarga, yaitu Kalahkan musuhmu sampai dia mati ataupun menyerah dan menjadi pengikutmu, jika dirimu yang kalah maka kalahkan dia lagi atau melakukan bunuh diri untuk tidak menodai harga diri keluarga" jelas Zack. Roxas yang mendengarnya berusaha mencerna apa yang Zack jelaskan. "Prisip apaan tuh ?" batin Roxas.
"Jadi... menurut kesimpulanku... Kau kalah dari seseorang ?" Roxas berusaha menebak-nebak apa yang akan Zack katakan.
"Betul sekali Roxas-sama, seperti yang dikatakan Xion-sama anda memang cerdas" kata Zack tersenyum riang.
"Ah... terima kasih, terima kasih. Kau terlalu berlebih-lebihkan. Dan kau pasti mau—" kata Roxas malu-malu.
"Yah saya mau mengalahkannya" kata Zack mantap.
"Oke baiklah klo begitu, boleh tau siapa yang mengalahkanmu ?" tanya Roxas.
"Hmmm... dia berambut putih, tingginya hampir sepantar dengan anda..." Zack pun masih mengingat-ngingat. "Rambut putih ? Riku ? ga mungkin..." Roxas pun ikut berpikir siapa yang mengalahkan Zack.
"Dia menggunakan tongkat berwarna c oklat seperti pemukul besbol dan klo dari bentuk fisiknya dia perempuan" jelas Zack. "Perempuan berambut putih ? jangan-jangan—" Roxas pun melirik Namine, dan Namine sudah bercucuran keringat sampai keringatnya membuat genangan air di bawah kakinya.
"ZACK !" teriak Roxas sambil berdiri. Zack pun kaget melihat Roxas dengan wajah panik. "Berhubung sudah sore, bagaimana klo ka—kau pulang duluan... a—aku akan mencarikanmu guru hebat" kata Roxas dengan cepat.
"Benarkah ?" Zack pun terheran-heran melihat sikap Roxas yang berubah drastis. Roxas pun tiba-tiba mendorong Zack keluar.
"Te—tenang saja , aku akan mencarinya segera. Datang lagi besok. DAAAAAAHHH" BRAAAK Roxas pun menutup pintu dengan keras sambil mengatur napasnya.
"Rox... makasih..." kata Namine lemas.
"MAKASIH PALE DUL ! kenapa ga bilang dari tadi ? klo lo yang ngalahin dia ?" teriak Roxas.
"Sorry... sorry Rox, klo gue ngomong, mungkin dia bakalan tau klo gue yang dia lawan kemaren" bela Namine.
"Kenapa ga ceritaaa ?" Roxas semakin kesal.
"Tadinya mau cerita, taunya tuh samurai dateng duluan"
"Oke klo begitu, ceritain semuanya !"
"Begini—"
1 hari ke belakang...
"Namineee...!" teriak seseorang memanggil Namine dari belakang. Ternyata dia adalah Xion dengan mengenakan seragam softballnya.
"Xion ? ada apa nih ?" tanya Namine.
"Begini...kami kekurangan orang, karena salah satu pemain kami cedera saat latihan.. jadinya kami perlu pengganti, kau mau bantu kami ?" jelas Xion sambil mengatur napasnya.
"Hmmmm... Baiklah 'kan ku bantu" kata Namine. Xion yang mendengar jawaban dari Namine tampak kegirangan sampai-sampai tak hentinya mengucapkan terima kasih dan menyeret Namine ke lapangan softball.
Lapangan Softball, sehabis latihan...
"Wuaaaaahhh... cape-nyaaaa..." kata Namine sambil merenggangkan kedua tangannya. "Sudah lama aku tidak bermain softball selama ini"
"Lain kali kau ikut juga yah" ajak Xion. Xion menawarkan minuman kepada Nanime.
"Thank you—" pandangan Namine pun teralih oleh adanya segerombolan orang mengenakan kimono sedang berlarian sambil meneriakan yell yell mereka. "Mereka tuh klub Kendo yah ?" tanya Namine penasaran.
"Ya.. mereka selalu berlari jam seginian..." jelas Xion.
"Ooohhh..., klo begitu yang mana ketuanya ?" tanya Namine kembali. Xion pun mencari dari gerombolan tadi.
"AH !itu dia, yang paling depan, yang rambutnya hitam dan spiky.." kata Xion sambil menunjuk sang ketua. "Dia Zack, teman sekelasku. Orangnya tegas dan disiplin, namun sayangnya dia..." suara Xion semakin pelan.
"Kenapa dia ? apa yang aneh dengannya ?" tanya Namine. Xion pun mengambil napas panjang dan berkata.
"Dia orangnya keras, karena dia memiliki prinsip seorang samurai—"
"SAMURAI ? dia hidup zaman kapan sih ?" Namine kaget dan tanpa sadar telah membuat semua orang disekitarnya melirik mereka. Xion pun buru-buru menutup mulut Namine.
"Shhhh... jangan keras-keras ! klo Zack dengar bi—" sebelum menyelesaikannya, raut wajah Xion berubah drastis menjadi panik.
"Oi Xion ! ada apa ?" tanya Namine.
"Apa maksudmu dengan perkataan menghina itu ?" tiba-tiba seseorang bertanya dengan nada mengancam. Dia adalah orang yang dibicarakan tadi, Zack. "Prinsip Samurai adalah pedoman hidup orang jepang" teriaknya.
"HAH ! perkataanmu itu berlebihan" Namine pun terprovokasi dan sekarang sedang menatap tajam Zack.
"Seorang samurai lebih kuat dari pada siapa pun" kata Zack dengan tegasnya.
"HAH ! lebih kuat dari siapa pun ? klo begitu buktikan dengan cara melawanku" Namine pun mengambil pemukul bola yang didekatnya dan mebersiap-siap untuk menyerang. Xion pun berusaha menenangkan mereka berdua, namun usahanya gagal. 'Aduuuhh... apa yang kalian lakukan sih ? Roxaaass, Rikuuu kalian di mana ?' batin Xion.
Mereka berdua pun menyiap kuda-kuda mereka dengan seriusnya, hembusan angin yang membawa beberapa helai daun mendukung ketegangan mereka. Saat helai daun terakhir terjatuh, mereka berdua langsung saling melesat dan mengadukan kedua senjata mereka dengan kuat. Zack dengan pedang kayunya dengan lincah mengayun-ayun pedangnya, sedangkan Namine dengan tongkat baseballnya terus menahan serangan Zack dan kadang kala meluncurkan serangan keras ke arah bahu. Pertarungan berjalan imbang, kedua belah pihak sedang terpenggal-penggal nafasnya.
'Sial ! gara-gara aku main softball, staminaku terkuras habis' batin Namine sambil menahan kuda-kudanya. Zack yang melihat kesempatan itu, langsung berlari menuju Namine dengan pedang kayu yang siap menusuk. Di saat yang sama Namine melihat lari Zack tidak secepat tadi dan dia mencari timing yang tepat untuk menghindar. 'Ini dia saatnya' dan Namine pun mengelak tepat saat ujung mata pedang kayu Zack hampir mengenai bahu. Zack pun hampir jatuh dan kehilangan keseimbangannya. Namine langsung memukul perut Zack dengan tongkatnya. Zack langsung terpental tak jauh dari sana, namun cukup sakit walaupun tidak terpental jauh.
"Ketua !" para anggota lainnya berdatangan membantu Zack berdiri. "Ketua, Ketua ! kau tidak apa-apa ?" tanya salah satu anggota gerombolan tadi.
"Kau...Gadis berambut putih... akan aku ingat wajahmu dan di saat kita bertemu lagi. Aku akan membalas kekalahanku. Ini janji samuraiku" Zack pun pergi sambil memegang perutnya yang kesakitan itu.
Ruang klub, saat ini...
"Nah begitu ceritanya..." jelas Namine dengan jelas. Roxas masih tak percaya bahwa temannya ini begitu ceroboh.
"Lo tuh ga bisa nahan diri ya..." Roxas pun memarahi Namine. Layaknya orang tua yang sedang menasehati anaknya yang nakal. Roxas terus menasehati Namine bermenit-menit lamanya."...lo harus menghargai dia, walaupun pemikirannya kaya orang udik"
"AAAAAHHHKKKK ! cukuuup ! kau bukan orang tuaku" teriak Namine.
"Siapa juga yang mau jadi orang tuamu ?" Roxas pun membalasnya. Pertengkaran mereka pun tak terhindar lagi.
BRAAAK pintu masuk pun kembali terbuka, dan yang muncul adalah Kairi sambil membawa bungkusan kecil di tangannya.
"HUAAAAA... KAIIIRII... tolong akuuu, Roxas terus memarahiku" tiba-tiba Namine berlari menghampiri Kairi dan memeluknya.
"OI Roxas ! apa yang telah kau lakukan ?" tanya Kairi sambil mengelus-elus rambut Namine.
"Ini emang salahnya, dia menantang Zack tanpa alasan" jelas Roxas."Tumben kau kesini ? ada apa ?" tanyanya.
"Bu-bukannya aku bermaksud menemuimu, aku hanya pas lewat sini saja" kata Kairi. Kairi dan Namine pun duduk dengan Namine yang masih memeluk Kairi.
"Jadi, ada apa ?" tanya Roxas langsung to the point.
"Sebenarnya, aku mau kalian membantuku menjaga Bonny saat bertanding" jelas Kairi.
"WOAH. Ada kompetisi Cheerleader ? kapan ?" tanya Namine antusias.
"Sebenarnya hari ini, jam 5 sore acara pembukaannya, mulai bertandingnya sih paling jam 6-7 malam"
"Tunggu-tunggu... jadi kita harus disana sampai malam ?" Roxas sepertinya merasa tidak yakin.
"Yaaa... seperti itulah, kalian mau ?" tanya Kairi.
"Megang babi malem-malem, nanti dikira gue lagi ngepet lagi" kata Roxas. "Aku sih ga masalah, tapi Namine dan Riku sih ga tau" Roxas pun melirik sinis Namine. Namine yang menyadarinya hanya bisa menelan ludah.
"Aku harus mencari seseorang...hahahahahaha" kata Namine.
"Seseorang ? siapa ?" kata Kairi penasaran. Namine hanya bisa menggaruk-garuk kepala, dia sedang mencari alasan untuk menjawab.
"Hmmm... seseorang yang jago bermain pedang, mungkin" Namine berpikir keras.
"Jago bermain pedang ? kau ingin latihan ? klo itu sih aku punya kenalan yang jago bermain pedang" kata Kairi.
Namine yang mendengarkannya, tiba-tiba memegang kedua bahu Kairi dengan wajah berseri-seri dan menggoyang-goyangkannya. "Siapa ? Siapa ? Siapa ?" tanya Namine antusias.
"Wa...wa..wa, hentikan hen—hentikan. Cloud Strife, alumni sekolah ini, tinggal ga jauh dari rumahku, dia bekas ketua klub kendo kita" Jelas Kairi. "Sekarang dia mungkin masih ada di rumah, karena dia sedang siap-siap test beasiswa".
"Oke klo begitu, aku akan ke sana, tolong alamatnya e-mail-in ajah" Namine pun berlari keluar dengan buru-buru. Di saat yang sama pintu klub terbuka dan Riku telah tiba dengan wajah memelas.
CTEK CTEK CTEK "Maaf-maaf, diriku telambat kare-" sebelum menyelesaikan alasannya, dia sudah di seret oleh Namine dan dibawa pergi.
"Kenapa dia buru-buru gitu ?" tanya Kairi yang masih melihat pintu yang terbuka. Roxas menawarkan teh yang Zack ga minum tadi.
"Itu lah ganjarannya, klo merahasia kan sesuatu dari sahabatnya" kata Roxas kesal. "Nah, Bonny mana ?"
"Ada di gedung olahraga, lagi main sama yang lain" kata Kairi. "Klo begitu, aku balik lagi ya, ada latihan terakhir sebelum pertandingan" Kairi pun pamit pergi.
"Aku ikut yah, bosen di sini ga ada orang" kata Roxas yang ikut berdiri.
"Be-bener mau ikut, kan aneh klo laki-laki nonton cheerleader ? bahkan adapun yang nonton pasti gerombolan orang mesum" Kairi tampak gugup. Roxas hanya tersenyum.
"Aku kan ditugaskan jaga Bonny, jadi harus memegangnya saat kau latihan. Lagi pula aku mau lihat kau berlatih" kata Roxas sambil tersenyum.
"Me-me-melihatku ? apa mak-maksud mu ?" Kairi menjadi gagap. Roxas hanya tertawa melihat Kairi yang selalu gugup klo dia salah paham.
"Hahahaha... kau ini gampang salah paham ya. Ayo pergi" Roxas pun pergi duluan meninggalkan Kairi yang masih salah paham.
"A-a—apa maksudmu ? HEI ! tungguu..." Kairi pun menyusul Roxas.
Gedung olahraga
Yell-yell cheerleaders terdengar jelas, suara yang menggema semakin memperjelas apa yang mereka teriakan. Cheerleader Twilight High School mengenakan seragam yang didominasi warna orange, di bagian depan seragam terdapat gambar menara jam yang merupakan ciri khas dari Twilight Town. Tulisan 'Twilight High School' yang melengkung berada di punggung mereka, dan bagian rok, terdapat garis berwarna putih pada tiap lipatan-lipatan.
Roxas sedang menonton anggota cheerleaders dari pojokan gedung bersama Bonny yang berada di kepala Roxas.
"OI Bon..." tiba-tiba Roxas memanggil Bonny. NGUIK ? Bonny menjawabnya tanpa melihat Roxas.
"Kau bosan tidak ? kita jalan-jalan yuk" ajak Roxas. Bonny hanya menggelengkan kepalanya, yang berarti tidak mau.
"Kau ini pemalas ya" ejek Roxas. NGUUUUIIKKK kata Bonny sambil mengangkat kepalanya. "Hahahahaha... ku anggap itu 'Iya' darimu" mereka berdua saling bercengkraman satu sama lain. Namun tiba-tiba Roxas mendengar suara tertawa kecil dari suatu tempat.
"Suara apa tuh ?" tiba-tiba Bonny melompat dari kepala Roxas dan berlari kencang kearah ujung gedung lainnya. Roxas pun mengejarnya. NGUIK NGUIK NGUIK Bonny tampak geram dengan kerasnya ke arah bawah. Ternyata terdapat jendela kecil yang terbuka. Di balik jendela ada yang buram-buram, berwarna abu-abu, saat Roxas melihat lebih jelas lagi ternyata...
"HEI ! jangan menghalangi kami !" teriak dari benda tersebut. Benda tersebut ternyata segerombolan siswa laki-laki yang sedang menonton anggota cheerleader latihan. Namun wajah mereka terlihat aneh, pipi yang memerah dan hidung yang kempang-kempis.
"Ka-kalian sedang apa ?" tanya Roxas memberanikan diri.
"Tentu saja sedang melihat mereka, lo laki-laki tapi ga ngerti" kata salah satu dari mereka.'Jangan-jangan... mereka oranng mesum yang Kairi bilang' pikir Roxas. "Sudahlah minggir sana, kami mau lihat saat mereka terbang"
"Terbang ?" Roxas ga mengerti apa yang dia maksud.
"Lihat dan perhatikan" Roxas pun melihat anggota cheerleader yang sedang membuat formasi yang akan mengangkat salah satu anggotanya. Dan kebetulan yang diangkat adalah Kairi. Dengan hitungan kuda-kuda yang sudah siap, Kairi pun dia terbangkan keatas. Dia saat di atas Kairi melakukan koprol sebanyak 3 kali. Saat Kairi mau mendarat, roknya pun otomatis terangkat dan bagian dalam roknya pun terlihat.
BRAAK tiba-tiba Roxas menendang jendela itu dan jendelanya pun tertutup. Roxas tampak kesal, tentu saja dengan Bonny yang dari tadi terlihat marah kepada para siswa tadi.
"Kairi bukan tontonan yang seperti itu" kata Roxas. NGUIK NGUIK Bonny tampak setuju dengan kata-kata Roxas. "Hahahaha... sepertinya kita bersependapat. Iya 'kan Bonny ?" NGUUUIIIKK Bonny tampak riang. Roxas pun jongkok dan mengusap-usap Bonny.
"Roxas ? sedang apa kau di sini ?" tiba-tiba seseorang bertanya pada Roxas. Roxas pun berpaling dan yang pertama kali dia lihat adalah rok dari anggota cheerleader. Roxas pun langsung mundur dengan cepat sampai menabrak tembok gedung. "Kau kenapa sih ?"
"Ka-ka-kairi ?" Roxas pun panik dan wajahnya memerah mengingat saat Kairi mencoba mendarat tadi. "Bukan apa-apa koq, sungguh" Roxas tertawa kecil.
"Dasar aneh" Kata Kairi. "Kita mau istirahat dulu beberapa menit, dan habis itu langsung ke Radiant Garden"
"Radiant Garden ? di sana kalian akan bertanding ?" Tanya Roxas.
"Ya, jadi kau tunggu sebentar lagi ya" Kairi pun pergi menuju teman-temanya yang sedang berkumpul.
"Sepertinya, aku juga perlu istirahat" kata Roxas sambil menyenderkan badannya ke tembok.
To Be Continue...
Nah gimana ceritanya, mungkin OOC-nya berlebihan, tapi mau gimana lagi klo Roxas-nya bego dikit, figure coolnya berkurang...
Nah sampai bertemu lagi...
Mohon Reviewnya
