HALO SEMUANYA... maaf menunggu lama, karena ga bisa online/kehabisan kuota makannya lama. hehehehehe...
untuk Mitoshi Koro-san : kenapa Sora menjadi Tsubaki, karena dalam cerita SKET-DANCE, Tsubaki dan Bossun adalah sodara kembar. itu ajh sih alasanya, hehehehe...
Nyambung dengan review Mitoshi Koro-san, soal Agata, apa kakak punya usul ? aku binggung menetapkannya...
Hmmmm... mungkin sekian dulu pembukaannya, jadi silakan baca...
Disclaimer : KH punya Disney dan Square Enix, aku hanya meminjam.
Story Idea : SKET-DANCE
Warning: banyak typo, cerita gak jelas, dll...
Chapter 4 : Tranvese Town 1
"Ya benar, klub kalian harus dibubarkan" kata lelaki yang mengaku wakil ketua OSIS itu.
"Kenapa ? kami merasa tidak melakukan hal yang buruk tuh" Roxas mencoba melawan. Namun Sang wakil ketua OSIS membantahnya.
"Banyak sekali prosedur – prosedur yang belum lengkap, dan..." Sora pun memasukan tangannya ke saku celana.
"Kalian menggunakan kertas biasa, tidak menggunakan kertas formulir klub" Sora pun menunjukan selembaran kusut dengan bertulisan 'KEN, klub para siswa'. Disitu tertulis nama klub, anggota klub, dan tujuan klub."Kalian tidak mengisinya dengan lengkap, dan terlebih lagi kalian sudah melakukan banyak kegaduhan"
"Kegaduhan ?" Roxas tak percaya apa yang dikatakannya tadi.
"Suara ledakan, suara bising, dan lain-lain" katanya. Roxas pun memulai mengingat apa yang dilakukan kemarin-kemarin. "Jika dipikir-pikir memang bener sih... Tapi kenapa aku bisa ga inget" Roxas mencoba menolak kenyataan.
"Dan... klub kalian beroprasi tanpa ada guru pebimbing, dan menurut informasi yang kudapat klub kalian hanya diam saja kerjanya"
"Dia bener lagi..." batin Roxas. "Seorang pebimbing ? Ah maksudmu Vexen-san ? kau tau sendirikan dia orangnya—" sebelum selesai bicara, Sora sudah memotongnya...
"Vexen-sensei ? kau tidak menulisnya di lembaran ini" kata Sora sambil melihat kembali kertas yang dipegangnya. "AHKK... dia sadar lagi" Roxas sudah kehabisan akal.
DIIIIINNNNGGG DOOONNNGG...
DIIIINNNGGG DOOOONNNGG...
Bel tanda jam pelajaran selanjutnya sudah terdengar, para siswa pun berhamburan memasuki ruang kelas masing-masing. Namun Roxas dan Sora masih mendebatkan masalah klub.
"Roxas ! karena bel sudah berbunyi, sebaiknya kau masuk ke kelas. Lalu hari ini juga kau harus membubarkan klub konyolmu itu" Sora pun pergi meninggalkan Roxas.
"..." Roxas berpikir bagaimana cara mendapat guru pebimbing. Tapi, dia sudah terlanjut menyebutkan Vexen-sensei. Mungkin, hanya itu kesempatan yang ada. Roxas pun pergi menuju Lab IPA-Kimia tempat biasanya Vexen-sensei berdiam diri.
Lab IPA-Kimia
Lab IPA-Kimia dipenuhi dengan botol-botol misterius, bahkan dalam salah satu laci terdapat botol bergambarkan tengkorak, bahan-bahan disini mudah terbakar, namun mengingat kebiasaan Vexen-sensei yang sering merokok, itu membuat hal tersebut meragukan. Kenapa barang-barang disini masih bisa utuh. Lab IPA-Kimia berada di lantai dua gedung sekolah, sementara yang dekat dengan ruang klub adalah Biologi. Vexen-sensei sendiri adalah guru wali kelas Roxas,Namine dan Riku. Jadi mereka bisa dibilang sudah akrab. Itu juga menjadi alasan kenapa Roxas mengatakan Vexen-sensei telah menjadi guru pengawas klub KEN.
Roxas pun tiba, namun yang dia lihat adalah pintu dengan pengumuman bertulisan "JANGAN BERISIK SEDANG ADA PERCOBAAN" katanya. "Percobaan ?"Roxas merasa curiga akan pengumuman yang dibuat Vexen-sensei. Roxas pun memberanikan dirinya untuk masuk lab. Roxas dengan takut-takut membuka pintunya.
DUAAARR sebelum berhasil membuka pintunya, terdengar suara ledakan dari dalam dan tiba-tiba keluar asap ungu dari sela-sela pintu. "Apa yang dilakukan si kakek tua itu ?" Roxas pun membuka pintunya dan hasilnya. Vexen-sensei sedang memegang botol berwarna biru, di depannya terdapat beberapa botol dengan berbagai warna.
"OI Kakek tua ! sedang apa kau ?" tanya Roxas.
"Ah Roxas, bukanya kau harusnya masuk kelas ?" kata Vexen-sensei tenangnya.
"Malah balik nanya. Yang penting sedang apa kau ?" tanya Roxas sambil menunjuk botol-botol anehnya itu.
"Kau ingin tau ? ini adalah bahan untuk membuat pil" katanya.
"Pil ?" Roxas semakin penasaran.
"Pil penukar roh. Pil ini bisa—"
"PENUKAR ROH ? kau ini gila ato apa ?" Kata Roxas memotong perkataan Vexen-sensei.
"Dengerin dulu klo orang tua ngomong..., Pil ini dapat menukar kesadaran seseorang. Contohnya yang dialami Tom dan Tim" Vexen-sensei menjelaskannya dengan riang. Roxas hanya bisa diam melihat guru yang menjadi harapannya mendapat ide gila.
"Tom dan Tim ? siapa dia ?"
"Tikus percobaanku"
"BAGAIMANA CARA TAUNYA ? mereka berdua 'kan Tikus. Secaran fisik saja sudah sama"
"Insting kedokteran" jawabnya singkat.
"Mana ada Insting Kedokteran !" protes Roxas.
"Sudah-sudah...ngomong-ngomong ngapai kau kesini ? bukannya sudah waktunya masuk kelas ?" katanya enteng. Roxas baru saja sadar klo dia kemari meminta mengajukan diri sebagai pengawas klub KEN. Roxas pun menceritakan semuanya kepada Vexen-sensei. Vexen-sensei hanya mengangguk-ngangguk saja.
"Jadi bagaimana ? kau mau ?" tanya Roxas yang udah bersusah payah menjelaskannya.
"Baiklah, namun aku mau meminta bantuanmu dulu" katanya. Vexen-sensei pun berdiri dan membuka lemari yang berada di samping meja kerjanya. Lalu dia pun mengeluarkan selembar kertas kecil. Dan diberikannya kepada Roxas. "Tolong belikan ini di Apotek, lalu kirimkan Tranvese Town" perintahnya.
"Tranvese Town ? yang bener aja... Memang siapa yang mau obat ini ?" Roxas pun membaca kertas tersebut secara teliti. Isinya obat pelangsing, obat pemutih wajah, obat batuk dan obat peninggi badan.
"Anakku. Dia perempuan keras kepala. Wajahku dengannya sangat tidak mirip" katanya depresi.
"Kenapa bisa ga sama ?" kata Roxas. Vexen-sensei semakin depresi, dia pun mengambil sesuatu dari lemari tadi. Dan itu adalah sebuah foto keluarganya. Foto tersebut terdapat sebuah keluarga berisikan 3 orang, paling kanan adalah Vexen-sensei sendiri dan paling kiri seorang perempuan berambut merah sedang memegang anak yang ditengah. Dan anak yang paling tengah sedang tersenyum lebar, dia seorang perempuan berambut merah mengenakan topi bundar kuning. Dia adalah orang yang mirip dengan orang yang Roxas lihat kemarin.
"Shiki Misaki, seorang idol"
"APPPUAAA ! YANG BENER AJAH !" teriak Roxas. "Kenapa bisa ?","Dunia pasti sudah terbalik" Roxas terkejut mendengar nama Shiki Misaki yang terkenal itu.
"Rezeki kali" kata Vexen-sensei.
"Aku masih ga percaya, apa yang barusan aku dengar" kata Roxas masih meneliti Shiki Misaki dengan Vexen-sensei.
"Rahasiakan ini dari yang lain, ini semua atas kemauan Shiki sendiri. Kau tau 'kan klo rahasia ini terbongkar ?" kata Vexen-sensei serius. Roxas pun mengangkuk pelan sambil menelan ludah. "Pergilah, sebelum yang lain tau, terlebih lagi jika para OSIS mengetahui kau keluar saat jam pelajaran" Vexen-sensei pun membukakan jendela.
"Baiklah. Pasti berat, harus melihatnya di balik layar" kata Roxas pun keluar lab melalui jendela itu. Vexen-sensei hanya tersenyum miris mendengarnya.
"Demi anak sendiri, apa pun akan aku lakukan. Itulah tugas orang tua" katanya. "Namun... jika kau penasaran, kau tanyakan saja padanya. Dia tidak akan menolak permintaan dari seorang lelaki ganteng"
"Hahahahaha... terima kasih pujiannya. Itu hanya perasaanmu. Aku pergi dulu..." Roxas malu-malu. Dia pun pergi keluar sekolah secara sembunyi-sembunyi.
Tranvese Town's Plaza
Tranvese Town adalah sebuah kota kecil yang berada diantara Radiant Garden dan Twilight Town, walaupun kecil, namun kota ini merupakan tempat lahir para seniman terkenal. Contohnya Ariel, dia adalah penyanyi opera terkenal yang sekarang tinggal di Disney Town, konsernya saja sudah memecahkan rekor dunia, sekitar 100.000.000 orang dari seluruh menontonya. Dan masih banyak lagi para seniman terkenal berasal dari sini.
"Untungnya sempet beli jaket, jadi ga keliatan lagi mabal" kata Roxas yang sedang memakan es-krim sambil duduk di bangku taman kecil di Plaza. Sebelum kesini Roxas membeli jaket murah yang berada sekitar stasiun. Jaket itu berwarna hitam dan putih bermotif garis-garis, dengan lengan panjang dan sebuah tudung terlihat dia sedang olahraga di siang hari.
Namun hari tampak berbeda, plaza dipenuhi oleh kios-kios kecil dan para pengunjung banyak berdatangan, para pengunjung itu tampak terkagum-kagum dengan hal-hal yang menurut Roxas biasa saja. "Jangan-jangan... mereka adalah turis ?"
"Kau benar nak, mereka adalah para turis" tiba-tiba seseorang datang dari belakang Roxas, dia seorang lelaki tua dengan janggut dan rambut berwarna putih. Tubuhnya sangat kecil tapi wajahnya sangat jauh dari wajah seorang anak kecil. Dengan berjalan perlahan, dia menawarkan sebuah teh hijau kepada Roxas dan duduk disebelahnya. "Karena hari ini adalah Festival Musik"
"Festival ? tapi aku sendiri baru tau klo ada festival musik daerah sini" kata Roxas sambil meminum teh hijau tadi. Sang kakek hanya tersenyum dan melihat Roxas lalu kembali melihat para turis.
"Kau pasti baru pertama kali kesini 'kan ?" Roxas menganggukan kepala mendengar perkataan kakek tadi."...Festival Musik adalah festival lokal, jadi ga banyak orang tau. Para turis ini adalah orang yang tertarik akan musik, kebanyakan mereka semua adalah pengamat, pemain ataupun penikmat musik yang sangat menyukai musik. Festival musik sendiri adalah apresiasi para penduduk kota ini dalam bermusik untuk memperingati pentingnya musik dalam kanca dunia. Tanpa kita sadari, setiap kita melangkah, kita selalu mendengar alunan nada, bisa itu suara air, langkah kaki, ataupun suara angin" jelas kakek.
"Hmmm... menarik, mungkin aku setiap tahun akan kesini nanti" kata Roxas. Si kakek hanya tertawa dan memberikan selembaran kertas yang berisi jadwal kegiatan acara. Acara berlangsung 3 hari, hari ini adalah hari musik tradisional, besok adalah hari musik modern dan hari terakhir adalah hari musik masa depan. Acara ini diadakan hingga malam hari jam 11 malam dan dilanjutkan lagi pada pagi hari jam 9. Dan si kakek itu pun memberikan lagi kertas kepada Roxas, kertas itu berisi para seniman yang akan tampil. Roxas melihat jadwal pemain pada hari modern, dia melihat orang yang dicari. Shiki Misaki akan bernyanyi siang besok jam 12 sampai jam 1 siang. "Lama amat mainnya..." kata Roxas.
"Siapa ?" tanya kakek itu.
"Ah... bukan siapa-siapa.." kata Roxas panik, dia pun menaikan ujung kertas sedikit supaya si kakek ga bisa lihat nama Shiki Misaki.
"Nak, apa kau bakalan pulang hari ini ?" tanya si kakek. Sebelum menjawab Roxas sempat berpikir sejenak."Klo aku pulang dan besok kesini lagi, uang jajanku bakalan habis sebelum akhir bulan, apa aku harus menginap di sini, namun harga penginapan pasti sedang naik. Klo tinggal di kakek ini, bakalan ngerepotin, tapi... demi klub KEN aku harus bertemu Shiki dan membeli obat—"
"Lebih baik kau tinggal di sini, harga lagi pada naik. Dan kemungkinan harganya naik 3 kali lipat, mengingat besok adalah hari modern" usul Kakek.
"Tapi harus kemana, uangku sedang menipis" kata Roxas lesu. Si kakek tiba-tiba menepuk pundak Roxas dan berkata.
"Datanglah ke kios kakek dan bantu kakek. Nanti akan kakek kasih gaji untuk tinggal di penginapan"
"... mau gimana lagi" Roxas pun berdiri dan membantu si kakek untuk berdiri. Mereka berdua pun pergi menuju kios kakek yang berada di dekat panggung, dan disanalah Roxas harus berkerja membantu kakek untuk menjual masakan kakek, Takoyaki.
Setelah selesai berkerja...
Roxas diberikan uang oleh kakek itu sepertiga dari penghasilan penjualan tadi. Roxas yang kaget hanya bisa menerimanya, dan kakek itu berkata...
'Kau masih muda dan memerlukan uang , jadi itu jumlah yang pantas untukmu, lagi pula kau seperti sedang mencari seseorangdi daerah sini, jadi kau pasti butuh uang lebih'
"Kapan lagi aku bertemu dengan orang baik" Roxas pun masuk salah satu penginapan kecil dekat panggung utama, harganya cukup murah walaupun sudah mengalami kenaikan karena ada festival. Roxas pun mendapat nomor kamar 103, kamar tersebut berada di ujung koridor lantai bawah. Tak lama kemudian handphone Roxas bergetar...
"Yo Halo ?" kata Roxas.
"KEMANA AJAH LO SELAMA INI ? KAMI HAMPIR MATI KARENA NGURUSIN KLUB KITA" teriak orang yang menelponnya.
"Namine ?" tanya Roxas ragu-ragu.
"MEMANGNYA SIAPA LAGI ?" jawabnya. Roxas yang tak percaya langsung melihat nama sang penelpon. Dan benar dia adalah Namine.
"AH namine toh. Gimana kabar klub kita ?"
"APA MAKSUDMU HAAAAAHH !" katanya, Roxas merasa gemetaran. Sampai-sampai aura jahat Namine terlihat menjulur keluar dari dalam handphonenya.
"Aku sedang sibuk maaf, tapi kemungkinan besok aku ga akan pulang, karena..." Roxas mencoba menjelaskannya secara singkat, namun hasilnya dia menjelaskan selama 1 jam lebih. Namine terus menyangkal dan tak percaya apa yang Roxas katakan.
"Baiklah klo begitu, jika itu untuk klub, lo harus berhasil. Kau tau, saat lo nyebutin nama Shiki Misaki, Riku merengek untuk bertemu denganmu" kata Namine, tak lama tangisan Riku semakin terdengar, walaupun itu suara komputer, Roxas membayangkan Riku sedang menulis terus suara tangisannya.
"Ah terima kasih, sampai ketemu nanti" TUT Roxas menutup teleponnya dan masuk ke kamarnya untuk tidur.
?
Sinar bulan telah menerangi Tranvese Town yang sedang berpesta, sangat terang bahkan bisa membuat kamar menjadi terang tanpa nyalanya lampu. Suara tawa dan alunan musik lamban laun menjadi mereda dan sehabis itu hilang sudah suara merdu dari alat musik tradisional Tranvese Town. Kota sekarang sangat tenang dan damai, hanya suara angin yang terdengar. Dan disaat itu pulalah Roxas terbangun dengan rambut yang berantakan dan raut wajah yang acak-acakan.
"WAH, gue ga bisa tidur" Roxas pun berajak dari kasur dan membasuh wajahnya. Waktu telah menunjukan jam 12 malam. "Bulannya terang banget... Mungkin nyari angin dimalam hari bisa membuat gue ngantuk".
CKELK saat membuka pintu, Roxas melihat seseorang dari depan kamarnya. Dia mengenakan jaket tebal yang menutupi seluruh tubuhnya. Dia juga terkejut melihat Roxas yang tiba-tiba keluar hanya dengan kaos dan celana sekolah saja.
"Anooo..." Roxas ingin melihat wajah orang itu, namun orang tersebut terus menutupinya dengan tudung jaketnya.
"..." suasana canggung ini berlangsung lama, mereka berdua saling menatap. Saat Roxas mencoba memulai pembicaraan kembali, terdengar suara langkah kaki dari lobby penginapan. Roxas yang mencoba mencari tahu apa yang dia dengar, tiba-tiba orang itu menutup pintu kamarnya dan mendorong Roxas masuk ke kamar Roxas. Dia pun melanjutkannya dengan menutup pintu kamar.
"Woi ! apa yang kau lakukan ?" teriak Roxas pelan. Orang itu pun langsung menutup mulut Roxas dengan rapat.
"Sssssttt... bisa diam tidak !" katanya, karena penasaran, Roxas mencoba untuk membuka tudung dan topi itu. Hasilnya...
"Ternyata benar, kau adalah orang yang aku cari. Shiki Misaki-san"
TO BE CONTINUE
NAH... gitu deh chapter 4-nya... untuk chapter sekarang-sekarang sih masih ngejelasin beberapa karakter utama, ato masih di bilang chapter pengenalan...
Sebenarnya saya merasa aneh, bahkan ga percaya kenapa saya masukin VEXEN menjadi ayahnya SHIKI MISAKI...
Tapi semoga dapat di terima oleh fansnya SHIKI MISAKI... TT..TT
silakan Review jika ada saran bahkan kritikan untuk fic ini...
TERIMA KASIH BANYAK !
