If it s Wrong

Tittle: If it s Wrong

Cast: Baekhyun (girl)

Kris

Hyukjae (girl)

Sungmin (5yo)

Chanyeol

Luhan (girl)

Kai

Chapter: 3/?

Disclaimer: Cerita ini asli punyaku!

Warn: NC, CRACK PAIR, Cerita membosankan, GENDERSWITCH, ooc

.

.

.

Aku sekarang sedang berbaring dikasur kami sedangkan Baekhyun sudah tertidur pulas disampingku dengan posisi menghadap ke arahku. Dia pasti sangat kelelahan akibat kegiatan kami barusan, mengingat tadi kami melakukannya dengan posisi woman on top yang tentu akan sangat melelahkan bagi Baekhyun, ditambah lagi dengan ronde kedua yang berlangsung cukup lama.

Aku berbalik menghadapnya, memperhatikan wajahnya, wajah Baekhyun sahabatku dari Junior High School, menghapus keringat dikeningnya, dia pasti sangat kelelahan.

Aku menghela nafas pelan, takut mengganggu tidur Baekhyun. Aku berpikir apa pilikanku untuk menikahi Baekhyun itu benar?

Benar ucapannya, kami berdua hanya sahabat yang terjebak dalam situasi yang tak pantas dilakukan oleh dua orang sahabat, tertangkap basah dan menikah tiga hari setelahnya. Aku bahkan tak mengerti apa yang ada diotakku waktu itu hingga aku bisa berkata bahwa 'aku akan menikahi Baekhyun' di depan kamar Jae eomma, yang ku tau aku sangat menyayangi Baekhyun dan keluarganya, melihat Jae eomma yang terpuruk saat mendengar aku melakukan 'itu' pada anak satu-satunya membuatku merasa sangat bersalah. Memang benar Baekhyunlah yang menggodaku, tapi aku juga tak sepantasnya melakukan hal itu kan pada sahabatku. Jadilah aku berkata seperti itu pada Jae eomma, tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu. Aku merasa sangat bodoh sekarang.

Aku mengelus rambutnya yang sedikit basah karena keringat.

"Mianhae.." Ucapku padanya.

Perasaan bersalah kembali kurasakan, melakukan hal 'itu' pada sahabat yang bersatatus istrimu tanpa ada rasa cinta didalammnya? Apa maksudnya itu. Tapi tak dapat dipungkiri, terbesit sedikit rasa bahagia bisa merasakannya, bahkan menjadi yang pertama baginya. Haahh aku merasa brengsek sekarang.

Aku dulu tak semesum ini, aku dan Baekhyun menjalani hari kami seperti pasangan sahabat lain. Kalau hanya berpelukan tentu sudah sering, tapi kalau seperti tadi, ah aku bahkan tak pernah membayangkan akan melakukannya bersama Baekhyun.

Hah iya, aku mengaku aku pernah sekali mimpi basah memimpikan Baekhyun, juga sekali membayangkan melakukannya bersama Baekhyun saat tak sengaja melihatnya ganti Baju di kamarnya. Aku hanya membayangkan itu dua kali, tapi kalau membayangkan mencumbu tubuhnya sudah sering. Hei, aku pria normal dan Baekhyun kerap kali tak sadarkan diri mempertontongkan keseksian tubuhnya di depanku. Seperti saat dia memelukku, dadanya ditempelkan sembarangan pada tubuhku, siapa yang tergoda.

Tapi sejak Baekhyun dengan beraninya menggodaku, aku jadi begini. Jadi salahkan Baekhyun yang menggodaku, membangkitkan sisi mesumku yang tersembunyi(?).

Aku menyelimuti tubuhnya yang masih nacked, dan kembali menatap langit-langit kamar kami. Aku juga berpikir, bagaimana kehidupan kami setelahnya. Kami menikah bukan atas dasar cinta, ya itu memang benar. Apa jadinya rumah tangga tanpa dasar cinta? Apakah setelah ini aku harus bercerai? ataukah meninggalkannya? hei, pemikiran bodoh macam apa itu.

Aaah sudahlah, aku lebih baik tidur. Besok aku akan coba membicarakan hal ini dengan Baekhyun.

.

.

.

Aku terbangun saat perutku berbunyi meminta haknya. Kulirik jam di dinding, sudah jam 7 pagi. Aku berbalik melihat 'istri'ku masih terlelap sambil memeluk lenganku. ooh istriku yang lucu.

"Bangun, yeobo. Suamimu ini sudah lapar." Ucapku sambil mengelus pipinya. Yah dia memang melarangku memanggilnya yeobo, tapi menggodanya sedikit tak apa kan?

Dia perlahan-lahan membuka kelopak matanya, segera kuposisikan wajahku tepat di depan wajahnya.

"Pagi yeobo. Apa kau mimpi indah semalam?" Ucapku memasang senyum manis.

"Kris, aku masih mengantuk, jangan menggangguku. Nafasmu bau." Ucapnya, sambil mendorong wajahku dengan telapak tangannya dan kembali meringkuk dalam selimut, melepas tangannya yang sedari tadi memeluk lenganku. Oh tidak, wajahku yang tampan.

Kucoba mencium aroma mulutku sendiri, dan memang agak sedikit tidak enak untuk dihirup. - Oke, bau. Puas? aku baru bangun dan belum sikat gigi jadi wajar.

"Aku lapar, yeobo. Buatkan aku sesuatu."

Dia tak menggubris ucapanku. Oh perutku sudah sangat lapar sedangkan istriku ini masih betah berada di alam mimpinya.

Baiklah, dia pasti masih kelelahan, biar bagaimanapun aku juga kan yang sudah membuatnya seperti ini.

"Baiklah, kau lanjutkan tidurmu. Aku akan pesan makanan." Ucapku mengalah dan mencium keningnya. Hei, mencium kening istrimu sendiri hal yang wajar kan, Baekhyun sudah jadi istriku sekarang. Lagipula dia pasti tidak menyadarinya, aku bahkan tak yakin kalau dia mendengar ucapanku. Aku tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan, aku suaminya. CATAT.

.

Setelah mandi, menyikat gigi, dilanjukan dengan mengisi perut aku segera membangunkan istriku.

Ada apa denganku, kenapa aku selalu memanggilnya istriku atau yeobo? Tapi benar kan dia memang istriku. Ah sudahlah, aku akan segera melihat Baekhyun, apa dia sudah bangun atau masih dalam alam lain.

Pintu kamar terbuka, aku melihatnya duduk menghadap jendela, sepertinya dia sudah mandi.

"Pagi, Yeobo. Kau sudah bangun? Kau pasti lapar, ada makanan dibawah." Ucapku padanya. Aku masih berdiri diambang pintu.

"..."

"Baekhyun?" Panggilku lagi, mencoba menyadarkannya bahwa suaminya sedang berada di belakangnya sekarang.

"Kenapa Kris?" Suaranya terdengar seperti bisikan.

"Apa?"

"Kenapa seperti ini?" Tanyanya lagi.

Aku tak menjawab, menunggu dia melanjutkan ucapannya. Sedikit tak mengerti arah pembicaraannya.

"Kenapa jadi begini? Kenapa kita seperti ini?" Tanyanya lagi, masih terdengar seperti bisikan.

Aku melangkah mendekat, berdiri disampingnya dan ikut memandang keluar jendela. Aku mengerti kemana arah pembicaraannya sekarang.

"Aku juga tak tau, Baekhyun. Tapi aku minta maaf." Ucapku, masih menatap keluar jendela.

"..."

Dia terdiam. Mungkin ini saat yang tepat untuk membicarakan hal ini padanya.

"Kau tau, aku juga masih sedikit shock dengan apa yang terjadi kepada kita sekarang. Semua terjadi begitu mendadak hingga tak memberiku waktu walau sekedar untuk berpikir. Aku tau ini pasti sulit bagimu, tapi ini juga sulit bagiku."

"Maaf, seandainya aku tak menggodamu waktu itu, pasti tak akan begini."

"Hm, tapi benar kata Hyuk noona, ini juga salahku yang tak mendengarkan ucapannya."

"Kenapa kita tidak bercerai saja, Kris?" Tanyanya, dia mendongak menatapku.

"Dan melihat eommamu dan eommaku mengamuk? BIG NO Baekhyun. Kau tau, waktu aku menyampaikan pada orang tuaku kalau aku berniat menikahimu, eommaku sangat semangat mendengarnya. Bahkan dia tak bertanya kenapa atau bagaimana malah dengan semangatnya dia berkata dia setuju." Aku bercerita tanpa menatapnya.

"Jadi bagaimana ini? Sampai kapan kita begini, Kris?" Ucapnya lemas dan kembali menatap jendela

"Aku tak tau, Baekhyun."

"..."

"..."

"..."

"Aku punya ide, tapi entahlah." Ucapku sedikit ragu dan langsung mendudukkan diriku di pinggiran jendela yang terbuka, jadi aku dan Baekhyun berhadapan.

"Apa? Cepat katakan, Kris!" Ucapnya semangat.

"Kita bisa jalani kehidupan kita sekarang ini, tetap kuliah seperti hari-hari kemarin, bersikap mesra didepan orang tua kita. Tapi hanya beberapa bulan saja, setelahnya kita bisa bercerai dengan alasan ketidak cocokan atau apalah, tapi aku tak yakin ini ide yang bagus atau tidak."

"Aaah ide yang bagus, aku setuju. Kau pintar, Kris." Dia memekik kegirangan.

"Tapi apa mereka tak akan curiga?" Tanyaku.

"Tidak akan."

"Baiklah. Tapi ada syaratnya, kita tetap boleh melakukan hal itu." Ucapku.

"Hal apa?" Tanyanya. Sifat polosnya sedang kambuh.

"Seperti yang kita lakukan beberapa jam yang lalu. Setuju?"

"AKU TAK MAU. Lagi pula tak ada untungnya bagiku." Tolaknya.

"Eoh? Kita sama-sama untung kan, kenapa kau berkata seperti itu? Kau juga menyukainya kan?"

"Aku hanya terbawa suasana. Lagi pula aku tak mau menjadi tempat pelampiasan nafsumu." Tolaknya

"Pelampiasan nafsu? Apa aku pernah melakukannya dengan kasar? Apa aku pernah memasukkannya tanpa persetujuanmu? Apa aku pernah memaksamu?" Ucapku, tak terima dengan kata 'pelampiasan nafsu' yang dia ucapkan.

"Kita melakukannya baru dua kali, jadi tidak menutup kemungkinan kau akan begitu jika sudah sering melakukannya kan" Dia tetap kekeuh dengan pendiriannya.

"Aku berjanji tak akan melakukannya jika kau tak mau. Kau boleh mencubitku sesuka hati jika aku melanggar janjiku. Bagaimana?" aku terus berusaha membujuknya, setidaknya jika melakukannya dengan persetujuannya dan tanpa perlu menjebaknya terlebih dahulu, aku tak perlu merasa bersalah bukan.

Dia terlihat sedang menimbang-nimbang ucapanku. Semoga dia setuju. Harapku dalam hati.

"Janji kau tak melakukannya jika aku tak mau?" Ucapnya.

Aku mengangguk menjawabnya.

"Janji tak akan menjebakku lagi?"

"Yes mam. Aku berjanji sebagai seorang pria." Ucapku lantang.

Dia tersenyum. "Hmm baiklah." Ucapnya pada akhirnya.

"Tapi tiap malam make out, setuju?" Tambahku.

"Yak, Kris mesuummmmm." Teriaknya, wajahnya merah entah karena malu ataukah karena marah.

"Hanya make out, punyaku tak akan kumasukan. Mau ya?"

"TIDAK MAU. KAU MESUUMM"

Dia langsung menerjangku, memberikan cubitan mautnya diperutku. Untunglah sebelum aku sempat jatuh terjungkal lewat jendela aku sudah terlebih dahulu berdiri.

Baekhyun sekarang sungguh sangat ganas, kalau dia ganas saat sedang 'bermain' aku tentu akan senang-senang saja tapi ini dia ganas karena sedang murka padaku, alhasil perutku yang menjadi korban keganasan jari-jari kecilnya itu, perut six pack-ku yang malang.

Aku menangkap tangannya yang masih asyik mencubiti perutku.

"Sudah Baekkie, aku hanya bercanda."

"Huh, kau menjengkelkan Kris." ucapnya dan langsung membelakangiku.

"Maaf, aku hanya bercanda. sudah, jangan marah lagi, okay." Aku melingkarkan tanganku dibahunya.

"Kris, aku teringat Chanyeol dan Luhan. Bagaimana kabar mereka sekarang? eonni memberi hukuman apa pada mereka?"

"Entahlah aku tak tau. Oh iya, kau tak lapar? Dibawah ada makanan." Ucapku dan langsung menariknya.

.

.

.

"Eonni, sampai kapan kami harus seperti ini? Ini sangat melelahkan eonni." Luhan merengek sambil berteriak.

"Kalian ini sudah kuberi hukuman yang ringan, jadi berhenti mengeluh." Ucap Hyukjae, sedikit berteriak.

Kalian heran? Biar kujelaskan. Di teras rumah Hyukjae, Hyukjae sedang duduk manis sedangkan di pekarangan rumahnya terlihat seorang manusia berjenis kelamin laki-laki dengan tubuh tingginya dan telinga mirip gajah, iya, dia Chanyeol. Disampingnya terlihat seorang perempuan yang jika dilihat dari penapilannya terlihat seperti laki-laki, sedangkan jika diperhatikan wajahnya amat sangat cantik, dan dia Xi Luhan si yeoja tomboy. Mereka sedang berjongkok dengan tubuh mereka bermandikan keringat.

"Setidaknya berikan kami pekerjaan yang cocok noona. Kami tidak terbiasa seperti ini." Teriak Luhan lagi.

"Diamlah adik manis, kalian sudah setuju untuk dihukum kan? Kau tak lihat namjachingu-mu itu terlihat sangat senang dengan hukumannya." Ucap Hyukjae manis.

"Dia bukan namjachinguku. Setidaknya biarkan kami istirahat, disini sangat panas." Rengek luhan.

"Kalian kan baru mulai setengah jam yang lalu, setengah jam lagi baru istirahat. Aku sudah menyediakan makanan dan minuman enak untuk kalian."

"Eonni kejaaammmm."

Semetara Luhan asyik meratapi nasib, Chanyeol malah terlihat sangat menikmati pekerjaannya mencabuti rumput, terkadang bersenandung kecil.

"Sudahlah chagi, kerjakan saja. Setidaknya Hyuk Noona tidak memisahkan kita seperti Cinderella yang dipisahkan dengan pangerannya." Chanyeol berucap dengan nada yang sarat akan kebahagiaan tak menatap orang yang dipanggilnya chagi itu, sambil terus mencabuti rumput.

"Berhenti memanggilku Chagi, dan Cinderella itu tidak dipisahkan dengan pangerannya Chanyeol bodoh." Ucap Luhan gemas.

"Terserahlah, yang penting kita tetap bersama kan.?! Ucap Chanyeol cuek.

Tak sadar bahwa ucapannya yang singkat itu membuat pipi seorang Luhan memanas karena malu.

.

.

.

Aku sedang menonton tv, ah sebenarnya cuma mataku yang tertuju ke tv tapi otakku keluyuran entah kemana. Aku sangat bosan hari ini.

Ekor mataku melihat Baekhyun dengan rok setengah lutut dan t-shirt sedang berjalan kearahku sambil memakan sebuah pisang? dan langsung duduk tepat disampingku.

"Kris, apa kau ada kelas hari ini?" Tanyanya, mengabaikan pisangnya.

"No." Jawabku teramat singkat. Huaah aku bosan.

"Aku ada kelas hari ini, kau mau mengantarku kan Kris? Sekalian menjemputku, jam 5 sore. Bagaimana?"

"Apa untungnya buatku?" Jawabku malas-malasan.

"Yak! Aku ini istrimu, kenapa kau tak mau mengantar dan menjemput istrimu hah? Suami macam apa kau ini." Ucapnya, bibirnya sudah maju bersenti-senti. Lucu sekali dia.

Tring~~ Saat yang tepat untuk kkkk...

"Kau istriku? Apa kau yakin?" Ucapku.

Dia tampak sangat kaget mendengar ucapanku.

"Aku Baekhyun, kris bodoh. Apa kau hilang ingatan?" Tanyanya.

"Tidak, aku hanya meminta bukti apa kau ini memang benar-benar istriku atau bukan." Ucapku cuek.

"Ini aku Baekhyun, Kris. Ada apa denganmu?"

"Kalau kau benar-benar istriku, mana kewajibanmu sebagai seorang istri?"

Mukanya tampak bingung. Aku sungguh senang mengerjainya seperti ini. Istriku yang manis.

"..."

"Ayo layani suami mu, Baekhyun. Apa yang kau tunggu? Kalau kau mengerjakan tugasmu sebagai istri yang baik, aku tentu juga akan mengerjakan tugasku sebagai suami yang baik. Seimbang bukan?" Jelasku, berharap dia mengerti.

Dia terdiam beberapa saat, lalu menatapku waspada setelah mengerti kemana arah pembicaraanku.

"Ayolah yeobo." Aku membalikkan tubuhku menghadapnya.

"Aku ada kelas, Kris. Bagaimana jika aku kelelahan dan absen? Aku tak mau." Tolaknya. Menggeser tubuhnya sedikit, menjauhiku.

"Hanya make out yeobo. Kau tau make out kan? Aku tak akan memasukkannya. Ayolah yeobo." Ucapku lagi. Aku juga menggeser tubuhku mendekat ke arahnya.

"Janji hanya make out? Tidak lebih?" Dia menunjuk tepat di depan wajah tampanku.

"Aku berjanji, jadi boleh kan?"

Dia mengangguk, "Tapi berhenti memanggilku, yeobo."

Aku mengangguk semangat, dan langsung meraup bibirnya. Rasa pisang yang baru saja dia makan terasa saat lidahku bersentuhan dengan lidahnya.

Dia bersandar di sofa sedangkan aku duduk tepat disamping kanannya dan memutar badanku agar dapat menciumi bibirnya. Tangan kiriku memeluk pinggangnya, sedangkan tanganku yang lain mengangkat t-shirt yang dia kenakan, masih dengan bibir yang bertautan. Segera kuremas payudaranya yang kenyal itu yang masih tertutup bra.

Tangan kanannya mendorong dadaku, aku heran. Tak biasanya dia menghentikan ciumanku. Akupun melepaskan kerja bibirku, tapi tidak dengan tanganku, tanganku masih meremas payudaranya, dia terpejam.

"hmm.."

"Kenapa hm?" Bisikku.

Dia menahan tanganku yang bekerja di dadanya.

"Pisangku belum habis, Kris." Ucapnya dan menggoyangkan benda itu di depan wajahku sedangkan aku hanya bisa sweatdrop menatapnya.

Aku lupa bahwa benda kuning bulat kesukaan hewan peliharaan Dora itu masih tersisa setengah. Dia pun dengan semangat menggigiti pisangnya.

Aku yang merasa terabaikan langsung menciumi pipinya, dia tak bergeming. Kuturunkan ciumanku kerahangnya, dan dia masih tetap sibuk mengunyah. Akhirnya aku menjilat lehernya, diselingi kecupan kecil dan dengan sengaja menghembuskan nafasku di lehernya, dia bergidik sedikit kegelian, mendongak melihat wajahnya dan ternyata DIA MASIH MENGUNYAH BUAH KUNING ITU.

Oke, aku sedikit marah.

Kukulum cuping telinganya sesekali menghisapnya, lidahku menggelitiki lubang telinganya, tanganku meremas payudaranya sedikit kuat.

"Aahmmm Krish.." Desahnya, pada akhirnya.

Kuhentikan kulumanku.

"Pisangmu sudah habis?" Tanyaku.

Dia memasukkan suapan terakhir dalam mulutnya.

"Mmm.." menganggukkan kepalanya

"Kau mau lagi? Ini, kau boleh bermain sepuasmu dengan ini, sayang." Ucapku, membawa jarinya menuju selangkanganku.

"Aku boleh menggigitnya?" Tanyaya

"Jangan digigit sayang, cukup kau jilat dan masukkan dalam mulutmu. Bagaimana?"

"Hmm.. Nanti saja. Aku mau kau menciumku seperti tadi." Ucapnya.

Dia mendudukkan dirinya diatas pangkuanku, tangannya mengalun di leherku sedangkan kedua kakinya tertekuk di sampan kiri dan kanan tubuhku. Mengingatkanku pada saat pertama kali dia menggodaku. Sungguh kenangan yang indah.

Kami terus berciuman, tangan tanganku sudah bermain di payudara dan vaginanya sedangkan dia mendesah nikmat dalam ciuman kami, saling hisap, saling gigit.

"Buka bajumu, sayang" Bisikku setelah melapas ciuman kami dan menghentikan aksi kedua tanganku.

Dia mengangguk, dan segera membuka bajunya sendiri. Aku melepas pengait branya, dan langsung menerjang payudaranya, kujilati daerah sekitar nipplenya dengan gerakan melingkar sedangkan payudaranya yang lain hanya ku elus-elus.

"Ahh Kris, ayolah berhenti bermain." Ucapnya manja.

"Baiklah, lalu kau mau aku bagaimana, hm?" tanyaku. Kujilat pelan ujung nipplenya, tanganku masih mengelus payudanya yang lain.

"Kris, geliii."

Dia mencengkram rambutku, menariknya hingga wajahku menghadap ke arahnya, mencium bibirku dengan sangat semagat, ciumannya tak kubalas hanya membiarkan dia bermain sepuasnya bibirku, tangannya meremas tanganku yang sedari tadi mengelus payudaranya.

Baiklah, sudah cukup bermainnya. Kududukkan tubuhnya kembali ke sofa. Tubuhnya sudah penuh denga keringat, wajahnya memerah dan mimirnya mengkilat dan agak membengkak. Kutarik underwarenya dan kusingkap roknya hingga tampaklah lubang yang selalu memanjakan kejantananku. Kutiup pelan lalu mulai menjilatinya, kubuka bibir vaginanya dengan tangan sehingga lidahku dengan leluasa bermain didalam, tanganku kadang memnggoda klitoris dan juga hole buttnya. Lidahku semakin semangat menjilati seluruh bagian vaginanya saat dia mendesahkan namaku. Kulirik wajahnya, matanya terpejam dan tangannya meremas remas payudaranya sendiri.

Beberapa saat kemudian kudengar desahannya makin menggila, dan dia orgasme dengan menyebut namaku.

Kududukkan diriku disampingnya, kupeluk pinggangnya, kubelai wajahnya dam kubawa menghadap kearahku, ciuman lembut kuberikan padanya, nafasnya masih terengah tapi dia tetap membalas ciumanku.

"Sekarang giliranku, sayang." Ucapku diakhiri kecupan singkat dibibirnya.

Dia menarik tengkukku dan menciumku, tangannya mengelus kejantananku dari luar dengan sedikit remasan. Tak ingin merasakan nikmat sendiri, kubalas meremas payudaranya.

Tangannya membuka kancing dan resleting jeansku, menyusup dalam bokser yang kukenakan lalu menarik kejantananku keluar.

Kejantananku sudah berada di dalam mulutnya yang hangat sejak beberapa saat lalu, rambutnya yang tergerai kutahan agar tak menghambat gerakannya.

Mulut dan tangannya tak berhenti merangsang kejantananku hingga kurasa aku akan orgasme, kugerakkan kepalanya naik turun dengan tanganku dengan sedikit brutal hingga keluarlah spermaku dalam mulutnya, tapi dia memuntahkannya di lantai. Wajahnya tampak tak suka, mungkin belum terbiasa karena ini memang pertama kalinya aku mengeluarkannya dalam mulutnya.

Nafasku terengah, dia duduk disampingku dan hanya rok yang menutupi tubuhnya sedangkan aku masih berpakaian lengkap hanya milikku yang keluar.

"Kau berniat membunuhku, kris?" Ucapnya

"Maksudmu?"

"Kau mengeluarkannya dalam mulutku, bagaimana jika aku mati tersedak hah? Kau mau jadi duda?" Omelnya.

"Kau tak akan mati hanya karena itu. Hmm kau harus membiasakan dirimu dengan rasanya Baekkie, mulai sekarang mungkin aku akan lebih sering mengeluarkannya di dalam."

"Kris bodoh."

Dia hanya menggumam kecil, dia kelelahan mungkin sedangkan aku masih menikmati pasca-orgasmeku.

.

.

.

Baekhyun kini sedang menunggu Kris menjemputnya, dia tak suka mengendarai mobil sendiri, terlalu merepotkan menurutnya.

"Hi, Baekhyun. Menunggu seseorang?"

Baekhyun yang mendengar namanya disebut langsung menoleh ke asal suara. Dia mendapati seorang pria berkulit coklat berdiri tepat di samping kanannya. Dia kai, salah satu teman Baekhyun.

"Eoh, kau Kai. Aku sedang menunggu Kris menjemputku. Kau sendiri tak pulang?"

"Aku akan menemanimu sampai Kris datang. Sendirian tentu akan membosankan kan."

"Kau baik sekali, Kai."

Akhirnya Baekhyun menunggu kedatangan Kris dengan Kai yang menemaninya, terkadang saling tertawa saat sesuatu yang lucu keluar dari mulut Kai atau Baekhyun sendiri. Tampak seperti pasangan kekasih yang berbahagia.

Sekitar lima menit kemudian, seseorang dengan motor hitam besarnya berhenti tepat di depan mereka, menginterupsi pembicaraan keduanya.

"Kris? kenapa kau membawa motor, kenapa tidak membawa mobil saja?" tanya Baekhyun setelah menyadari siapa si pengendara motor tersebut.

Kris membuka helmnya.

"Tidak usah protes, mobilku sedang dibengkel dan hanya motor ini yang ada. Cepatlah, aku ada urusan setelah ini. Aku akan mengecek mobilku di bengkel." Ucap Kris.

"Jadi kau tak sempat mengantarku ke toko buku?" Tanya Baekhyun penuh harap.

"Sepertinya tak sempat, aku sedang buru-buru. Apa bisa lain kali saja?"

"Aku ada tugas dan harus diserahkan besok, aku lupa mengerjakannya kemarin. Jadi aku harus segera menyelesaikannya secepatnya. Kau benar-benar tak sempat?" Ucap Baekhyun.

"Aku bisa mengantarmu, aku juga akan membantumu mengerjakannya kalau kau mau." Ucap Kai menginterupsi.

Baekhyun menoleh, "Benarkah, Kai? ah kalau begitu, Kris kau bisa mengecek mobilmu sekarang, aku akan pergi bersama kai." Ucap Baekhyun riang.

"Baiklah." Ucap Kris dan segera menjalankan motornya.

.

Setelah mengecek keadaan mobilku di Bengkel, aku langsung pulang ke rumah, rumahku dan Baekhyun tentunya. Sekarang sudah jam 9 lewat 30 menit, Baekhyun belum pulang. Apa sekarang dia masih bersama si Kai itu? Mengerjakan tugas, ataukah merekah malah berkencan? Aku tidak cemburu, aku hanya khawatir. Wajar kan, aku dan Baekhyun sudah bersahabat lama.

Sigh, kalau tau dia akan pulang kemalaman begini lebih baik aku yang mengantarnya tadi. Aku menang mengenal Kai, tapi tak terlalu dekat, yang aku tau wajahnya terlihat mesum. /Lebih mesum wajahmu kris/

Aku tak mau Istriku di apa-apakan oleh si Kai muka mesum itu. Aku lebih baik menyusulnya, ah tapi aku tak tau mereka kemana. aargh aku bisa gila. Istriku sedang berdua dengan laki-laki berwajah mesum diluar sana, dan itu bahaya untuknya.

Kenapa aku terus memakai kata 'istri'? Baekhyun sahabatku, dan aku meng-khawatirkannya sebagai seorang sahabat, bukan khawatir sebagai seorang suami. Iya itu benar, kurasa. Ya itu memang benar kan, aku sahabat merangkap suaminya jadi wajar.

Brak Brak Brak

Suara gedoran keras dari pintu depan menyadarkanku. Aku berjalan dengan cepat menuju pintu depan.

Setelah pintu terbuka, nampaklah seorang pria tinggi, hitam, mesum yang sedang menggendong istriku, coret, sahabatku Baekhyun.

Baekhyun tidur atau Pingsan? Matanya terpejam. Kutatap si muka mesum itu tajam, dia juga balas menatapku. /dua muka mesum tatap-tatapan yeiy/

"Baekhyun ketiduran saat dalam perjalanan pulang, dia sepertinya kelelahan. Untung dia telah memberikan alamatnya sebelumnya. Maaf jika menggedor pintumu menggunakan kaki. Bisa tunjukkan kamarnya?" Ucap Kai panjang lebar dengan suara yang dikecilkan sedikit.

"Biar saya yang menggendongnya ke kamarnya." Ucapku dan langsung membawa tubuh kecil Baekhyun dalam gendonganku

"Silakan masuk, Kai-ssi."

Ingin aku segera mengusirnya, tapi untuk sopan santun dan tanda terima kasih telah membawa Baekhyun pulang.

Kai mengikutiku dan langsung duduk di sofa ruang tamu dan aku membawa Baekhyun ke kamar.

Setelah memastikan Baekhyun tidur dengan nyaman, aku langsung menuju ke ruang tamu menemui Kai. Aku belum mengganti pakaian Baekhyun, tapi akan kulakukan nanti setelah Kai pulang, karena sepertinya akan berlangsung sedikit lama. /allert/

Aku duduk berhadapan dengan Kai.

"Terimakasih telah mengantar Baekhyun pulang, Kai-ssi." Ucapku dengan senyum yang amat sangat tipis.

"Sama-sama, Kris-ssi. Hmm tapi apa disini kalian tinggal berdua? Kenapa kau bisa tinggal di rumah yang sama dengan Baekhyun? Kalian hanya sahabat kan?"

.

.

.

Bersambung

Oke, chapter ini bersambung. Sebenarnya gak pengen masukin kai disini, takutnya jiwa KaiBaek-ku kambuh, trus kai culik baekhyun, Kris merana lalu mati gantung diri kan gak seru ya. tapi mau gimana lagi cuma kai yang cocok menurutku. Jadi,

WELCOME TO THIS FIC KAI

Ok, mari balas review

ohristi95: Senyum kenapa? Lucukah? Baek lucu ya?; kkkk salahkan Baekhyun, Sungmin aja yang masih kecil napsu ama dia, apalagi kris yang udah gede coba; cinta? Mmm liat nanti aja ya. makasih uda review

Majey jannah: panas digin? Minum Sunlight seribu /iklan apa ini/ /iklan sesat/ makasih udah review

Guest: ; cinta? Mmm liat nanti aja ya; Baek dibikin hamil? Iya nanti aku bilangin ke kris. Makasih udah review

SHY Fukuru: #ikutanmewekk huweee hiks hiks srot; Bayangin chanbaek? Iya, bayangin KrisMit juga boleh kok /dikeroyok massal/ yang penting bacanya enak(?) dan nyaman aja; aku taunya masa subur itu beberapa hari setelah menstruasi, kalau make out saat PMS aku kira boleh, kan baru pra-menstruasi belum menstruasi. Maapin kalau salah ya; Makasih udah review

askasufa: Q: Kris gila atau bodoh? A: Kris itu tampan-.- ; Sungmin polos sama kayak emaknya dan mesum sama kayak bapaknya. Jadi sungmin itu si polos yang mesum hohoo. Makasih udah review

AnitaLee: cinta? Mmm liat nanti aja ya; mau baek hamil? Pengennya hamil anak siapa?; yaa cuma segini doang /lirik ke atas/ baek mau kuliah soalnya. Makasih udah review

poetpoet: iya nih kris nakal, sesi tanya tanyanya belon selese udah nyosor aje dia; cinta? Mmm liat nanti aja ya /DilemparPanci/. Makasih udah review

lili: Baek ama kris? Iya, udah nikah kan mereka. ; threesome chanbaekris? Boleh juga, tapi mungkin bukan di cerita ini, kasian Baekkienya kan. ; Makasih udah review

Lee Eun Ho: aku setuju ama kamu, kris emang jual mahal; /sodorin kolor bekas diompolin kris/; izin fav? Huhuu aku terharu loh. Makasih udah review

CheftyClouds: kan ceritanya terpaksa gitu nikahnya, karena udah terlanjur kemasukan si baeknya. ; mereka memang unik. Makasih udah review. makasih juga udah review chapter satu dan dua.

EXOSTics: iya, ini udah lanjut. Semoga suka yah. ; kamu baca aja aku udah seneng, apalagi review. ; love u too mumumu /apadeh/. Makasih udah review.

Gak ada yang ketinggalan kan? Yaudah. Makasih semua buat yang udah review, buat yang udah follow tapi gak review juga terimakasih, buat yang fav juga makasih. Terimakasih terimakasih terimakasih. Aku cinta kalian