IF IT'S WRONG

Tittle: If it's Wrong

Cast: Baekhyun (girl)

Kris

Hyukjae (girl)

Sungmin (5yo)

Chanyeol

Luhan (girl)

and other.

Chapter: 6/?

Disclaimer: Cerita ini asli punyaku!

Warn: NC, CRACK PAIR, CERITA ANEH, GENDERSWITCH, ooc

.

.

.

"Kau yakin tak mencintai Kris?" Tanya Hyukjae menyelidik.

"Aku tak tau eonni, aku kan tak tau mencintai orang itu rasanya seperti apa. Ishh." Baekhyun menjawab sedikit menggerutu.

Sore ini mereka sedang bersantai di teras rumah Hyukjae yang mengarah ke pekarangan. Baekhyun belum pulang sejak dia datang sekitar jam 11 tadi pagi. Sedangkan Sungmin sekarang sedang berada di rumah Wookie, calon istrinya.

"Apa jantungmu berdetak cepat saat kau berada dalam jarak dekat bersama Kris?"

Baekhyun mengerutkan keningnya, menggigit bibir bawahnya dan menopang dagunya. Berpikir keras.

"Aku tak tau, aku tak pernah memperhatikannya." Jawabnya.

"Okay, pindah ke pertanyaan selanjutnya. Apa kau merasa tidak suka saat Kris berdekatan dengan perempuan lain?"

"Tidak, karena setauku cuma aku dan Luhan yang berteman sangat dekat dengan Kris."

Hyukjae menghela nafas kasar.

"Aku menyerah, padahal jika kalian saling mencintai tak akan jadi rumit kan."

Baekhyun tak menjawab. Suasana hening sejenak.

"Eonni, aku pernah membuat perjanjian bersama Kris." Ungkap Baekhyun.

"Perjanjian apa?"

"Perjanjian kalau kami akan tetap menjalani pernikahan ini, kami akan tampil mesra jika berada di depan eomma dan appa, beberapa bulan setelahnya kami berencana akan bercerai karena kami sadar kami tak saling mencintai."

"Lalu kenapa kau sangat sedih saat kau menceritakan kehidupan pernikahanmu dengan Kris tadi pagi?"

"Karena aku juga tak yakin kalau eomma dan eomma Kris akan mengizinkanku untuk bercerai, aku juga tak tau alasan apa yang harus kami gunakan nanti. Aku belum pernah membicarakannya dengan serius bersama Kris. Awalnya aku yakin kalau rencana ini akan berhasil, tapi setelah kupikir-pikir aku sedikit ragu. Apalagi aku takut jika harus membohongi eomma, eonni tau kan kalau eomma pasti tau jika aku sedang membohonginya."

"Lalu?"

"Aku belum sempat membicaran keraguanku tentang perjanjian ini bersama Kris." Ujar Baekhyun lesu.

Hyukjae mengelus rambut Baekhyun,

"Sebaiknya kalian membicarakan ini secepatnya, eonni sarankan jangan cepat mengambil keputusan untuk bercerai."

Baekhyun mengangguk.

"Jika kau dan Kris merasa nyaman dan bahagia dengan hubungan pernikahan ini, kenapa kalian harus repot repot memikirkan perceraian? Sekarang eonni tanya, apa kau pernah merasa terbebani dengan pernikahanmu?"

"Hmmm tidak, aku hanya sangat merasa bersalah pada Kris."

"Tapi apa Kris menyalahkanmu tentang masalah ini?"

"Tidak, dia tidak pernah menyalahkanku tapi dia menyalahkan dirinya sendiri."

"Begini, kalian berdua sama-sama bersalah. Kau bersalah karena telah menggoda Kris, dan Kris bersalah karena telah mengeluarkannya didalam. Kenapa kalian tak coba menjalani pernikahan kalian dengan 'normal' saja?"

"Apa tidak apa-apa?" Tanya Baekhyun sedikit ragu.

Hyukjae mengangguk.

"Baiklah. Kalau begitu aku akan membicarakannya dengan Kris nanti. Sekarang aku mau mengunjungi eomma dulu. Eonni mau ikut? Kajja."

.

.

.

"Chanyeol, kau benar-benar akan menginap disini?" Tanya Luhan.

Chanyeol mengangguk, "Tentu saja, aku akan terus mengikutimu sampai kau percaya bahwa aku memang menyukaimu." Ucapnya mantap.

Ternyata setelah insiden menyatakan cinta Chanyeol tadi, Luhan langsung pulang ke apartmennya sendiri dan Chanyeol nengikutinya.

Luhan menghela nafas berat. "Memangnya kalau aku percaya, kau mau apa hah?"

"Entahlah, aku hanya tak suka jika kau tak mempercayaiku." Jawab Chanyeol.

Luhan sedikit kecewa mendengar jawaban Chanyeol.

Luhan sebenarnya percaya dengan apa yang tadi Chanyeol ucapkan. Dia mengenal Chanyeol dan Chanyeol tak pernah membohonginya, dia hanya mensugesti dirinya sendiri untuk tak mempercayai ucapan Chanyeol, tak mau berharap banyak pada pria cuek dan sedikit bodoh, oh dan tidak peka itu.

"Pulanglah Park Chanyeol." Luhan berucap lemas dan segera beranjak ke kamarnya, tapi Chanyeol menarik lengannya keras hingga dia kini berada dalam pelukan Chanyeol.

"Aku tak percaya, Chanyeol. Aku tak mau mepercayaimu, kau bohong, kau bohong, kau hanya memberiku harapan palsu, aku tak mau percaya, hiks hiks.." Luhan berucap frustasi, dengan isakan yang sudah tak dapat dia tahan lagi. Dia sudah menyukai Chanyeol sejak lama, menahannya sendiri tapi Chanyeol memang bodoh dan tidak peka hingga tak menyadarinya.

"Aku mencintaimu, Lu. Aku sungguh mencintaimu. Percayalah." Bisiknya pelan. Pelukannya mengerat pada pinggang Luhan, sementara Luhan telah menangis tersedu-sedu di pelukan Chanyeol.

"Kau bodoh Chanyeol." Ucap Luhan melepaskan pelukan Chanyeol.

"Aku menyukaimu sejak dulu tapi kau selalu tak peduli, saat aku berniat melupakan perasaanku kau dengan seenaknya berkata kau mencintaiku. Hentikan, jangan membuatku semakin mengharapkanmu." Lanjutnya, air mata senantiasa mengalir dari kedua matanya.

Luhan langsung berlari ke kamarnya, mengunci dan menangis sejadi-jadinya. Menangis memang bukan gayanya, tapi perang batin antara percaya dan takut membuatnya merasa sesak, hingga air mata yang hanya dia perlihatkan di depan orang tuanya kini mengalir dan bodohnya hal itu terjadi di depan Chanyeol.

Chanyeol hanya berdiri membatu setelah mendengar ucapan Luhan. 'Luhan menyukaiku? Sudah lama dan aku hanya diam saja? Kenapa aku tak menyadarinya? Dasar bodoh, kau memang bodoh Chanyeol, dan sekarang kau telah membuat Luhan menangis.' batinnya.

Chanyeol mendekati pintu kamar Luhan, suara isak tangis Luhan terdengar sangat pilu. Dia tak pernah melihat Luhan menangis, dan untuk pertama kalinya dia melihat Luhan menangis, dan sialnya itu karena dirinya. Tangannya mengelus permukaan pintu seakan Luhan bisa merasakannya, dia menyandarkan dahinya pada pintu itu.

"Maafkan aku Lu, maafkan aku. Aku mencintaimu, kumohon." Bisiknya, yang tentu saja tak bisa didengar Luhan.

"Aku mencintaimu Luhan, sangat mencintaimu." Ucapnya lebih keras.

Luhan mendengarnya, dia menghapus air matanya kasar.

"Pulanglah Chanyeol." Balasnya dengan suara serak.

Chanyeol tak tahan, anggota tubuhnya seakan kehilangan fungsinya saat mendengar suara Luhan yang serak karena menangis, tubuhnya merosot, berlutut di depan pintu kamar Luhan. Dia ingin menenangkan Luhan, memeluk tubuhnya erat.

Chanyeol menggedor-gedor pintu kamar Luhan, "Xi Luhan, buka pintunya. Kumohon."

.

.

Sekarang sudah jam setengah 9, Baekhyun belum pulang dan Kris telah menunggunya dengan resah di ruang tengah. Dia mendapat pesan dari Baekhyun bahwa dirinya sedang berada di rumah Jae eomma. Yang membuatnya resah adalah, apakah ia harus menyampaikan tentang dirinya dan Kyungsoo, dan setelah memikirkannya baik-baik dia memilih menyampaikannya, dan dia berjanji tak akan melakukannya lagi dengan Baekhyun, 'Mmm mungkin satu kali sebagai penutup, dan aku akan menyampaikannya pada Baekhyun besok. Ya, ide yang bagus.' Batinnya sambil tersenyum senang.

Dia mengambil Handphonenya yang tergeletak di meja, bermain games sembari menunggu Baekhyun pulang.

Sekitar jam 9 Baekhyun pulang, dia mendapati Kris tertidur dengan Handphone di pahanya. Dia berjalan mendekati Kris, membungkukkan badannya tepat di hadapan Kris.

"Kris, heii bangun." Ucapnya sambil mengetuk-ngetuk kening Kris dengan jari telunjuknya.

Kris membuka matanya, "Eoh, Baekki kau sudah pulang." Ucapnya, meregangkan ototnya yang kaku karena posisi tidurnya yang tidak nyaman.

"Iya, kenapa kau tidur disini?" Tanya Baekhyun dan mendudukkan dirinya di samping Kris. Dia mengambil handphone Kris dan menyimpannya di meja.

"Aku menunggumu, Yeobo. Aku mau meminta jatahku" Ucap Kris.

"Jatah apa? Makan? Kau belum makan?" Tanya Baekhyun bingung.

"Bukan itu, Yeobo. Aku merindukan tubuhmu, kita sudah beberapa hari tak melakukannya kan? Kajjaa." Ucap Kris semangat dan langsung menggendong Baekhyun menuju kamarnya.

Baekhyun memberontak, dia baru sadar bahwa sedari tadi Kris memanggilnya Yeobo, itu berarti Kris menuntut Bakhyun melakukan tugasnya sebagai istri.

"Apa tak bisa besok, Kris? Aku lelah." Baekhyun berucap dalam gendongan Kris.

"Tak bisa Yeobo, aku maunya sekarang. Kau dibawah saja jadi tak akan kelelahan kan?"

Baekhyun pasrah sekarang, lagi pula mungkin ini bisa menjadi awal untuk menjalani kehidupan pernikahan yang normal, pikirnya. Dia mengalunkan lengannya pada tengkuk Kris.

Kris mendudukkan Baekhyun di pinggiran kasur, dan segera membuka bajunya.

"Buka bajumu yeobo, atau kau mau aku yang membukanya?"

"Tak usah, biar aku saja." Ucap Baekhyun dan langsung membuka bajunya serta rok yang dikenakannya, hingga hanya menyisakan bra dan underwearnya.

Kris sudah topless, dia mebaringkan Baekhyun dengan pelan dan menindih tubuhnya. Dia bertumpu pada lengan kanannya, tangan kirinya mengelus wajah Baekhyun dengan lembut.

"Kau mau kan?" Tanya Kris untuk memastikan.

Baekhyun menatap mata Kris, mengangguk dan melingkarkan tangannya pada tengkuk Kris. Kris tersenyum dan balas menatap mata Baekhyun, menempelkan bibirnya pada bibir Baekhyun yang sedikit terbuka, melumat bibir bawahnya.

Baekhyun tidak membalas ciuman Kris, entah kenapa pertanyaan Hyukjae terlintas di pikirannya.

'Apa aku benar tak mencintai Kris? Jantungku berdetak sangat cepat, apa itu berarti aku mencintai Kris? Tapi jika aku benar mencintai Kris apa Kris juga mencintaiku? Bagaimana jika tidak? Aaah tapi belum terbukti kan jika aku benar benar mencintai Kris, mungkin jantungku begini karena aku kelelahan. Ya, kelelahan.' Benak Baekhyun.

Kris yang merasa ciumannya tak dibalas, langsung meremas payudara Baekhyun yang masih tertutup bra, melepaskan ciumannya.

"Kenapa tak membalas ciumanku, hm?" Tanya Kris lembut, menghapus jejak saliva di bibir Baekhyun dengan ibu jarinya dan beralih mengelus lembut pipi Baekhyun.

Baekhyun merasakan detak jantungnya yang semakin menggila, dan dia makin meragukan ucapannya yang menyatakan bahwa dia tak mencintai Kris. Mungkin memang dia mencintai Kris yang baru dia sadari sekarang, tapi hanya 'mungkin'. Dia belum sepenuhnya yakin bahwa yang dia rasakan itu Cinta.

Baekhyun menggeleng menjawab ucapan Kris, "Ayo, lanjutkan lagi." Ucapnya dengan senyum di bibirnya.

Kris tak menunggu lama, dia langsung menciumnya. Melumat bibir bawah Baekhyun, sedangkan Baekhyun melumat bibir atasnya, tangan Kris meremas lembut payudara Baekhyun dari luar sambil terus menghisap bibir Baekhyun.

Baekhyun tersenyum kecil dalam ciumannya, ciuman kali ini terasa sedikit berbeda. Bukan cara ciumannya tapi 'rasa' ciumannya. Lidah Kris masuk dalam rongga mulutnya, dia balas dengan sedikit dorongan pada lidah Kris. Bosan mendorong lidah Kris dia beralih menghisapnya lalu kembali mempermainkan lidah Kris dengan lidahnya. Kris menarik lidahnya, Baekhyun beralih melumat bibir bawah Kris.

Tangan Kris menyusup pada punggung Baekhyun, Baekhyun mengerti jadi dia mengangkat punggungnya sedikit hingga payudaranya menempel dengan dada Kris. Kris langsung membuka pengaitnya. Bibir mereka masih saling bertautan, tangan Kris masuk dalam cup bra Baekhyun yang belum dia buka, baru pengaitnya. Menggerakkan jari-jarinya melingkar pada sekitar nipple Baekhyun tanpa menyentuh nipplenya.

Baekhyun melepas ciumannya, "akkhh Kriss, buka.." Baekhyun mendesah sambil sedikit merengek pada Kris.

Kris tersenyum, dia langsung membuka bra Baekhyun dan melemparnya kebelakang. Tangan Kirinya meremas payudara kanan Baekhyun sedangkan bibirnya langsung mengemut payudara kiri Baekhyun. Menjilatnya dan kadang memberikan gigitan kecil.

Baekhyun mendesah nikmat, tangan kanannya ikut membantu tangan kiri Kris yang meremas payudaranya.

Bibirnya ganti mengemut payudara kanan Baekhyun, sedangkan yang kiri dia remas dengan tangannya. Sesekali mencubit dan memelintir nipplenya. Baekhyun mendesah, dia meremas rambut Kris gemas.

Kris menghentikan permainannya, beralih menatap Baekhyun.

"Kau belum pernah menstruasi selama kita menikah kan, yeobo?" Tanya Kris.

"Belum, kenapa?"

"Kalau begitu kukeluarkan di dalam ya?"

"Tak beresiko hamil kan?"

"Tidak, yeobo."

Setelah percakapan singkat itu selesai, Kris langsung membuka underwear Baekhyun, dan mengubah posisi Baekhyun menjadi sedikit bersandar pada hadboard kasur dengan disangga satu batal dan kaki mengangkang. Dia memposisikan wajahnya di depan vagina Baekhyun yang sudah Basah, mengelus klitoris Baekhyun dengan jari tengah dan telunjuknya, sedangkan bibirnya sibuk menjilati paha putih Baekhyun. Tangannya masih setia mengelus klitoris Baekhyun, Baekhyun sendiri sudah sangat kegelian.

"Krishh aaah masukkan jarimuhhmmm." Ucap Baekhyun tak sabaran.

Kris membawa wajahnya kembali kedepan vagina basah Baekhyun, dan jangan lupakan jarinya yang masih mengelus klitoris Baekhyun yang sedikit mengeras karena rangsangan jari Kris.

"Masukkan kemana, yeobo." Ucap Kris, hawa nafasnya jelas terasa pada vagina Baekhyun.

"aah jarimu, Krishh masukkan ke vaginaku, jangan mengelusnya saja." Ucap Baekhyun dengan sedikit mendesah.

Vagina Baekhyun sudah sangat basah, hingga Kris tak segan-segan langsung memasukkan tiga jarinya kedalam, menggerakkannya keluar masuk.

Baekhyun sempat memekik pelan, tapi segera tergantikan dengan desahan nikmat.

Kris masih menggerakkan jarinya keluar masuk, lidahnya menjilat Klitoris Baekhyun, melumatnya, kadang juga menggodanya dengan giginya.

Baekhyun menarik tangan Kris yang bebas untuk meremas payudaranya, sedangkan payudaranya yang lain dia remas sendiri. Baekhyun hanya bisa mendesah dan mendesah, Kris selalu memperlakukannya dengan sangat lembut, dan dia menyukainya.

"Lebih cepat, kris." Titahnya pada Kris.

Kris melakukannya dengan senang hati, tangannya ia gerakkan dengan cepat, dan menghisap klitorisnya dengan kuat, hingga cairan Baekhyun mengalir dari dalam vaginanya. Kris menjilat cairan Baekhyun.

Baekhyun, terengah. Dia merasakan pergerakan Kris, entah apa yang dilakukannya, tak lama dia merasa Kris merangkak di atas tubuhnya, tapi dia terlalu lemas untuk melihatnya.

Kris memalingkan wajah Baekhyun ke arahnya, dan langsung memberikan ciuman lembut seperti biasanya. Baekhyun tak membalas dia masih lemas.

Kris menghentikan ciumannya, mengubah posisinya menjadi berlutut, hingga wajahnya kini menghadap pada kejantanan Kris. Ternyata dia telah membuka celananya.

"Masukkan dalam mulutmu, yeobo."

Baekhyun hanya membuka mulutnya lebar, dan Kris langsung memasukkannya dalam mulut Baekhyun, menggerakkan pinggulnya maju mundur. Baekhyun tak banyak bergerak, dia hanya membiarkan Kris melakukan apa yang dia mau.

Tak lama, Kris berhenti, dan dia pindah kesamping Baekhyun.

"Menungginglah, Yeobo."

Baekhyun menungging, Kris langsung memposisikan miliknya di depan bibir vagina Baekhyun. Mulai mendorong pelan miliknya, tak susah karena cairan sisa orgasme Baekhyun masih tersisa di vaginanya.

Keduanya menggeram tertahan saat kejantanan Kris perlahan mulai tertanam dalam lubang Baekhyun.

Kris mulai menggerakkan pinggulnya, awalnya gerakannya masih sangat pelan, tak lama gerakan itu berubah makin cepat. Tangannya meremas payudara Baekhyun yang bergoyang karena gerakannya.

Baekhyun hanya bisa mendesah dan mendesah, posisi seperti ini membuat kejantanan Kris yang memang sudah sangat panjang menurutnya itu menusuknya makin dalam.

Kris bergerak makin liar, remasannya pada kedua payudara Baekhyun juga sudah tidak teratur, tapi justru membuat Baekhyun makin merasakan nikmat.

Tak lama, mereka orgasme hampir bersamaan.

Kris membalik posisi Baekhyun, membuatnya terlentang, dia sendiri membaringkan tubuhnya di samping Baekhyun menyangga kepalanya dengan tangan lalu memberikan ciuman lembut pada bibir Baekhyun. Entah itu kebiasaan atau apa, Kris akan selalu mencium Baekhyun dengan amat sangat lembut saat Baekhyun telah orgasme.

Baekhyun hanya menikmati perlakuan Kris.

"Tidurlah." Ucap Kris sambil tersenyum. Menyeka keringat di dahi Baekhyun, menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.

Baekhyun mengangguk dan langsung memejamkan matanya. Padahal sebenarnya dia ingin membicarakan apa yang dia bicarakan dengan Hyukjae sebelumnya, tentang menjalani kehidupan rumah tangga dengan normal, tapi tubuhnya lelah. Jadi lebih baik dibicarakn besok. Menurutnya. Kris sendiri sudah tertidur di sampingnya dengan lengan yang melingkar cantik di perutnya.

Mereka tidur bersama, dengan senyum kecil yang terpatri di wajah keduanya.

.

.

.

Tengah malam Luhan terbangun karena meras tenggerokannya kering, dia berdiri di depan pintu dengan ragu mencoba membuka pintu kamarnya. Sesaat setelah pintu terbuka, tubuh Chanyeol telah tergeletak di depan Luhan. Luhan yakin Chanyeol duduk bersandar di depan pintu kamarnya.

Chanyeol langsung meringkuk memegangi perutnya, matanya tertutup setengah terbuka. Luhan panik, langsung berlutut di sampingnya, membawa kepala Chanyeol di pangkuannya,

"Kau kenapa Chanyeol?" Ucapnya, menghapus titik titik keringat di dahi Chanyeol.

"A-aaku, aauuhhh." Belum sempat menyelesaikan ucapannya dia kembali berteriak kesakitan.

Luhan semakin panik.

"Kau kenapa?" Tanyanya lagi sambil menepuk-nepuk pipi Chanyeol.

"A-aku lapar, Lu." Jawab Chanyeol pada akhirnya.

Luhan serasa ingin melompat dari lantai tiga saat mendengar jawaban Chanyeol, dia merasa sia-sia telah menghawatirkannya.

"Oh, bangunlah. Aku buatkan makanan." Luhan langsung berdiri, membuat kepala Chanyeol menentuh lantai dengan 'lembut'. Dia kembali berteriak kesakitan.

Luhan sebenarnya tak berniat membuat Chanyeol kesakitan, hanya saja Luhan sedikit jengkel pada sifat berlebihan Chanyeol yang tak tepat waktu.

Chanyeol mengikuti Luhan ke dapur.

"Tunggu di situ." Ucap Luhan menunjuk arah meja makan.

Luhan hanya membuat 2 mangkuk mie instan, satu untuknya dan satu lagi untuk Chanyeol. Mereka berdua makan dalam keheningan.

Chanyeol menghabiskan makanannya lebih dahulu, dia hanya memandangi Luhan yang makan dengan tenang tak meliriknya apalagi melihatnya.

Luhan berdiri, makanannya juga telah habis. Dia berdiri di samping Chanyeol, berniat mengambil mangkuk kotor bekas Chanyeol makan dan membawanya untuk di cuci. Tapi Chanyeol menarik pinggangnya hingga dia berada di pangkuan Chanyeol.

Chanyeol memegang pinggul Luhan erat agar tak kabur darinya, satu tangannya membawa wajah Luhan agar menghadapnya.

"Lu, i love you. I really love you. Don't you see that?" Tanya Chanyeol, Luhan tertunduk. Dia tak pernah mendengar Chanyeol berbicara padanya dengan bahasa asing seperti itu, dia tau Chanyeol sangat serius kali ini.

"Look at my eyes, Lu. and tell me what you feel." Pinta Chanyeol.

Luhan perlahan mengangkat wajahnya, menatap wajah Chanyeol yang juga sedang menatapnya.

"I love you too pabbo." Bisiknya. Dia sudah memikirkannya, Chanyeol memang bodoh, tapi dia juga mencintanya. Dia yakin Chanyeol juga mencintainya karena Chanyeol mengatakannya dalam Bahasa inggris. /sweatdrop/

Chanyeol tentu saja bisa mendengarnya dengan jelas, senyum bahagia terpatri di wajahnya.

"Boleh aku menciummu, Lulu?"

Luhan mempoutkan bibirnya mendengar pertanyaan Chanyeol yang menurutnya bodoh itu. Seharusnya hal seperti itu tak usah dipertanyakan lagi, pikirnya.

Luhan mengecup singkat pipi Chanyeol. Senyum bahagia di wajah Chanyeol makin melebar hingga tampak seperti orang bodoh. Chanyeol menangkup pipi Luhan dengan tangan besarnya lalu mempertemukan kedua bibir mereka. Luhan memejamkan matanya saat Chanyeol melumat bibirnya. Luhan membalas ciumannya dan dengan berani memeluk leher Chanyeol.

.

.

"Baekki, aku ingin menyampaikan sesuatu padamu." Ucap Kris pada Baekhyun yang sedang menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.

"Apa?"

"Kau tau Kyungsoo satu jurusanku? Aku dan dia telah berpacaran."

"Hah, benarkah? Kalau begitu kita bercerai saja." Ucap Baekhyun santai.

"A-aap maksudmu Baekkie, kau tak takut eomma kita mengamuk?"

"Yasudah, aku bunuh diri saja."

.

.

.

~BERSAMBUNG~

Ada yang merasa chapter ini membosankan? maaf yah :( pas buat Chap ini kepikiran ChanLu terus makanya jadinya gitu. Mana adegannya ChanLu drama banget lagi.

Ada yang gak suka ChanLu?

Ada yang merasa NC-nya membosankan? Aku jiga merasa begitu.

Balasan Review:

- AnitaLee: Huhuu iya, mereka pacaran. Iya, ini udah lanjut. Makasih udah review

- SHY Fukuru: SAW itu film genre suspense, sumpah itu film sadis banget. Kalau film yang hiu-hiu itu bukannya JAWS ya?; chanlu gak nyesek lagi kan sekarang? Makasih udah review

- askasufa: Maklum muka yeol gak ada setting seriusnya, jadi begitulah; iya aku juga suka cara kyung nyatain cinta, santai banget; kalau kaihun yaoi sendiri itu ibarat liat Sehun berada diantara orang negro; Makasih udah review

- ohristi95: haduh.. gak usah dibayangin, muka tegang kris itu gak ganteng. /dibakarKris/; ini udah lanjut kok, maaf chap ini membosankan u.u; makasih udah review

- TrinCloudSparkyu: Iya, si Ming pervert; si itemnya lagi luluran ciyn, jadi gak muncul dia; makasih udah review.

- CheftyClouds: ini udah gak pendek :) ; Reaksinya baekhyun mungkin chap depan baru diceritain lebih jelas. Makasih udah review.

- Mrs. LeeHyukjae: udah lanjut, semoga suka. Makasih udah review.

- Blacknancho: doain aja biar Baek tegar ya #BeStrongBaek ; makasih udah review

- Kim Eun Seob: Baek mau bunuh diri O_O ; makasih udah review

- EXOSTics: waduh kamu sadis banget nak. Motongnya jangan banyak-banyak, ngitungnya susah nanti kan; ini updatenya udah kilat kan? Makasih udah review

- lili: hueee maaf chap kemarin gak ada NC-nya, tapi chap ini udah ada kok, walau gak hot; makasih udah review.

†††

Makasih udah review, makasih udah favorit dan follow. Makasih juga buat Silent Readers sekalian. Makasih reviewer yang usah doain.

Maaf, typonya banyak.

Makasih Semua, i Love You all. Mumumuu~~

†††