Ciaossu~ ga jadi update 29 Feb 2016 deh~ berbahagia ya?
Disclaimer: NOT MINE! I REPEAT! NOT MINE!
Pairing: 1827
Rate: T
Warning: OOC, AU, Yaoi, Genderbender, Chara-death, typo, bahasa campur", dll
-0-0-0-The Date (?)-0-0-0-
Sang mentari pun mulai menunjukan dirinya, bersinar terang menyambut hari yang baru. Sinar mentari mulai masuk melalui cela – cela tirai jendela berwarna coklat gelap itu, membangunkan seorang putri tidur di dalamnya. Perlahan – lahan kelopak mata sang putri tidur pun terbuka, menampakan irirs karamel yang menggoda. Ia mengedipkan kelopak matanya beberapa kali sebelum membukanya dengan sempurna. Perlahan – lahan sang putri bangun dari posisi tidurnya sebelum akhirnya mulai menggeraknya anggota tumbuhnya satu – persatu. Dengan raut muka yang masih kusam, ia melangkahkan kaki menuju kamar mandi yang tersedia.
Tak lama, sang putri tidur sudah lengkap dengan kemeja kuning pucat dan celana coklat pendek. Ia mengambil seutas dasi kupu – kupu dan melingkarkannya di sekeliling kerah kemejanya. Merasa puas dengan penampilanya, ia melangkahkan kembali kakinya ke arah balkon kamar sampai sebuah suara ketukan menghentikan niatnya. Membalikan badannya, ia segerah membukakan pintu untuk sang pengetuk. Dilihatnya, teman yang baru ia kenal kemarin sedang berdiri di depan pintu kamarnya. Meraka saling menatap, walau hanya sebentar.
"Mattina," sapa pemuda berambut raven itu dengan singkat.
"Ah! Buon Giorno, Kyoya-san!" sapa sang bocah kembali dengan senyuman manisnya dan sukses membuat sang pemuda yang terkenal dingin, memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya. Menginsyaratkan sang bocah mengikutinya, si pemuda berdarah biru ituberjalan menusuri koridor yang bangun amat menyulitkan dan memusingkan, menuju ruang makan untuk sarapan. Seperti biasa, tak ada yang di antara mereka yang angkat bicara sampai mereka sampai di depan ruang makan. Disambut dengan bungkukan hormat dua orang pelayan yang beradadi depan pintu, merak langsung memasuki ruang makan yang lega itu. Mengambil posisi duduk yang sama seperti kemarin dan dilihatnya, semua anggota keluarga Nuvola dan tambahan satu dari keluarga Cavalone sudah berada di tempat masing sambil menikmati sarapan masing – masing.
"Buon Giorno Tsunayoshi-kun," sapa Fon dengan senyum ramah di susul dengan Dino yang baru saja meneguk kopi hangatnya.
"Buon Giorno, Nuvola-san, Fon-san, Dino-san!" sapa Tsunayoshi kembali.
Memandang apa yang terdapat di piringnya, rasa laparnya mulai mempengaruhi pikiranya. Tanpa menuggu lagi, ia langsung melahap sarapan paginya dengan lahap. Tak lama, seluruh anggota keluarga bangsawan tersebut menginggalkan ruang makan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, meninggalkan putra bungsung keluarga Nuvola dengan temannya yang baru saja selesai menyantap makanannya.
"Herbivore..." panggilnya pelan.
"Iya?" jawab sang bocah sambil mengelap sisa makanan yang ada si sekitar mulutnya.
"Kita akan pergi sekarang," ucap sang pemuda berambut hitam kelam itu secara singkat.
"Um... Kyoya-san... kita mau kemana ya?" tanya sang bocah dengan polosnya.
"Ke kota," jawab Kyoya singkat sambil menuntun lebih tepatnya menyeret temannya keluar dari mansion megah itu. Sebuah mobil lengkap dengan seprang supir, sudah menunggu mereka di depan masnion. Sekilas melihat wajah sang supir, Tsunayoshi langsung mengenalinya. Supir itu merupakan butler yang kemarin menyambut Kyoya dan dirinya dari pintu belakang. Menyadari tuan mudanya sudah berada di dekatnya, sang butler merangkap menjadi supir langsung membunguk hormat.
"Buon giorno, tuan muda," ucapnya sopan. Sang tuan muda hanya mengabaikannya dan berjalan menyeret teman barunya kearah pintu gerbang. Sang bocah hanya dapat pasrah dan mengikuti kemana pemuda raven itu membawanya. Tak disadarinya, mereka berdua sudah berada di tengah –tengah kota yang ramai dengan penduduk. Karena tak menyukai tempat – tempat yang ramai, Kyoya langsung lagi – lagi menyeret bocah yang dari tadi ia seret kemana – mana kesebuah cafe sepi, mungkin sepi ketika para pengunjungnya mengetahui pemuda berdarah biru itu menuju kearah mereka. Ia buka pintu kaca cafe kecil itu, dan langsung duduk di sebuah meja yang hanya memiliki dua buah tempat duduk. Dengan takut – takut, seorang gadis dari beberapa pelayan yang ada di sana, menuju ke meja mereka.
"Um... Benvenuti, signore. A-a-da yang ing-ingin anda pe-pe-san?" ucap sang pelayan takut – takut.
"Cappuccino, kau?" ucapnya sambil melirik kearah Tsunayoshi.
"Um... aku pesan caffe latte," jawab Tsunayoshi sambil tersenyum dengan imutnya kearah si pelayan dan sukses membuat sang pelayan merona merah. Mendapat tatapan tajam dari sang tuan muda, pelayang itu segera beranjak pergi ke belakang cafe. Beberapa jeritan bernada yang mengganggu terdengar dari belakang café pun segerah terdengar ketika si pelayan memasuki dapur cafe. Keduanya hanya duduk si kursi masing – masing sambil tenggelam dalam pikiran masing. Tak ada dari mereka yang angat mulut hingga pelayan yang tadinya mengambil pesanan mereka kembali dengan nampan yang berisi secangkir cappuccino dan secangkir caffe latte.
"Ini pesanan anda, Hibari-sama," ucap sang pelayan sambil meletakan secangkir cappuccino di hadapan Kyoya dan meletakan cangkir satunya di hadapan Tsunayoshi. Tsunayoshi langsung tersenyum manis dan memulutkan terima kasih sebelum sang pelayan kembali ke tempatnya, lebih tepatnya kabur dari meja yang sedang ia pakai. Kembali keheningan canggung menghampiri mereka. Tak ada di antara mereka yang angkat bicara, mereka hanya duduk diam sambil meneguk minuman masing – masing dan tenggelam dalam pikiran masing –masing.
"Um.. ano Kyoya-san... kita mau kemana ya?" Tanya Tsunayoshi untuk membuka sebuah percakapan dengan pemuda dingin itu.
"Kau mau kemana?" tanya Kyoya sambil meletakan cangkir cappucinonya di atas meja.
"Um... aku hanya mau mengenal kota ini saja, sebelum aku pergi," ucap Tsunayoshi sambil menundukan kepalanya.
"Hm... bagaimana kalau kita ketaman kota saja? Tempat itu sepi," ucap Kyoya sambil tersenyum kecil sangat kecil hingga tak seorang pun dapat melihatnya. Kepala Tsunayoshi yang tadi terduntuk langsung terangkat. Dengan wajah berseri – seri, ia menganggukan kepalanya dengan semangat.
Dengan senyum berseri – seri, bocah berambut coklat lembut itu melangkahkan kaki rampingnya keluar dari cafe yang sunyi senyap itu. Bersama dengan anggota bangsawan yang memegang gelar keluarga bangsawan paling di takuti di kota tersebut, ia menggandeng lengan pemuda bermata biru besi itu mendekati taman kota yang sepi. Seperti yang di katakan Kyoya, taman itu memang sepi, hanya ada beberapa orang saja yang berjalan sanyai menerusuri taman indah nan damai itu. Banyak jenis tanaman sampai bunga tertanam rapi di seluruh sudut taman. Beberapa jalan setapak dengan ukiran unik terdapat di taman kota tersebut. Memang tidak sebagus taman keluaraga Nuvola, tetapi, taman itu mendatangakan hawa damai yang tenang.
"Kyoya-san itu... tidak suka dengan namanya keramaian ya?" tanya Tsunayoshi sambil memandangi bunga di sekitar mereka.
"Hn" jawab Kyoya singkat, mungkin terlalu singkat.
"Um... kita diam disini saja ya, Kyoya-san?" tanya Tsunayoshi sambil mencoba memetik sekuncup bunga mawar berwarna ungu. Kyoya hanya diam saja tak menjawab. Diperhatikanya bocah menyerupai seorang malaikat di hadapannya itu. Diperhatikan mata karamel si bocah yang sudah membuatnya tertarik sejak pertama kali memandangnya. Kedua mata polos itu sudah berhasil untuk menghinotisnya untuk semakin ingin mencoba untuk memilikinya.
"Ouch!" jerit si bocah membuyarkan lamunan si pemuda. Setetes darah segar mulai mengalir dari jari telunjuk si bocah. Tanpa pikir panjang, si pemuda langsung mengambil telunjuk si bocah dan memasukannya ke dalam mulutnya sendiri. Seberutan merah pun langsung menyebar keseluruh sudut wajah imut sang bocah. Merasa sudah cukup, ia mengeluarkan jari mungil tersebut dari mulutnya dan mengecup punggung tangan pemilik jari tersebut. Perbuatanya sukses membuat seberutan merah di wajah si bocah semakin memerah.
"Kau harus hati – hati," ucap Kyoya dengan nada lembut. Ia perlahan – lahan memetik mawar yang tadi hendak Tsunayoshi petik. Perlahan – lahan ia mengupas duri – duri yang melekat di tangkai mawar itu. Dengan hati – hati, ia meletekan mawar anggun itu di sela rambut dan telingan sang bocah yang sedang bersemu itu.
"Cocok," bisik sang pemuda sambil tersenyum hangat.
"Te-te-rima kashi," ucap si bocah sambil ber-blushing-ria.
Mata meraka saling memandang. Karamel bertemu dengan biru besi, perbaduan yang aneh, tetapi serasi. Suara tangisan seorang anak kecil menghentikan aksi tatap – menatap mereka. Tsunayoshi yang terkejut langsung membalikan tubuhnya sambil mencari – cari asal suara tersebut. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun sang bocah langsung berlari meninggalkan pemuda yang dari tadi menemaninya. Sang bocah berlari menusuri taman yang cukup luas itu. Memanfaatkan pendengarannya yang tajam, ia menemukan seorang bocah sedang menangis sambil memeluk erat luntutnya. Wajahnya tenggelam dalam luntut kecilnya. Merasa kasihan, perlahan – lahan ia dekati bocal cilik itu.
"Hei, adik kecil... kau tidak apa – apa?" tanya Tsunayoshi sambil tersenyum manis.
"Hahaha!" bocah itu pun langsung tertawa membuat Tsunayoshi terbinggung – binggung.
"Dame-Tsuna tetaplah Dame-Tsuna ya," ucap si bocah kecil itu sambil mengangkat wajahnya yang sukses membuat kedua mata karamel Tsunayoshi terbelak kaget.
"Re-REBORN?" teriak Tsunayoshi sampai hampir semua penghuni taman menoleh kearahnya. Merasa tidak nyaman, ia langsung mengecilkan volume suaranya yang nyaring itu.
"Reborn? Apa yang kau lakukan di sini? Apa – apaan dengan penampilanmu itu?" tanya Tsunayoshi bertubi – tubi.
"Aku disini hanya mengawasimu saja... penampilanku? Memangnya kenapa? Kau mau protes?" ucap Reborn sambil mengeluarkan pistol hijaunya.
"Hiiiiieeee! Reborn! Jangan tembak! Jangan tembak!" teriak Tsunayoshi panik.
"Kau ini... sama saja," ucap Reborn sambil menghela nafas. "Ngomong – ngomong... bagaimana liburanmu, Dame-Tsuna? Menyenangkan?" tanya Reborn mengalihkan pembicaraan.
"Baik – baik saja, sepertinya," jawab Tsunayoshi dengan wajah sedih.
"Kau... hey, Dame-Tsuna! Kau itu..." ucap Reborn menebak – nebak. Mengerti maksud mantan gurunya, ia pun menganguk kecil.
"Cih! Kau ini, kau tahu kan kalau hubungan malaikan dengan manusia itu dilarang! Tapi kau-"
"Maaf, Reborn... tapi aku..."
Sang mantan guru hanya dapat menghela nafas. "Memang kapan kau bertemu dengannya?" tanya Reborn pasrah terhadap nasip mantan muridnya.
"Ke-kemarin," jawab Tsunayoshi takut – takut. Reborn pun langsung merasa dirinya ingin membenturkan kepalanya dengan tembok terdekat.
"Kemarin? Kau gila?" seru Reborn lepas kendai.
"Hiiie! Maafkan aku Reborn!" teriak si malaikat muda itu sambil melindungi kepalanya.
"Kau ini..." tak dapat melanjutkan kaliamtnya, sang guru hanya dapat menghela nafas. "Sudahlah...jangan sampai ketahuan saja" lanjutnya.
"Terima kasih Reborn!" seru sang bocah yang sangking senangnya sampai memeluk mantan gurunya yang terkenal sangat amat sadis.
-0-0-0-TBC-0-0-0-
Slesai deh~
Yang review bahasa indonya pada dewa semua ya! Ampe di liatin satu" kesalahannya~ gw coba perbaikin deh… tp gw ga bisa jamin bisa smuanya gw benerin! Semampunya ya… yg Chapter 1 sih dah gw edit dikit"… comment kaya gitu jg gw trima kok! Lumayan blajar BI tambahan~ thank you reviewnya btw~
Review please? Kalo gw review gw update lg tgl 29 Feb 2016!
