Yo~ Long time no see~ Anyone missed me? Or at least the story? No? ;w;
Disclaimer: NOT MINE! I REPEAT! NOT MINE!
Pairing: 1827
Rate: T
Warning: OOC, AU, Yaoi, Genderbender, Chara-death, typo, bahasa campur", dll
Enjoy~
-0-0-0-The Sin-0-0-0-
Tak terasa, waktu terulur dengan cepatnya. Dengan berjalannya waktu, hubungan Tsunayoshi dengan sang bangsawan pun semakin mengerat. Di bawah sinar mentari, mereka menghabiskan hari – hari dengan berbincang – bincang di taman milik kediaman bangsawan Nuvola dengan di temanin bunga – bunga cantik alegan serta pepohonan rindang menyejukan.
Banyak sekali hal - hal yang Tsunayoshi ingin ketahui dan mengerti tentang manusia yang baru ia kenal itu. Terkadang, rasa- rasa tak enak pun mulai bermunculan di dalam batin sang malaikat cilik.
Sejak kecil Tsunayoshi memang sudah tidak pandai dalam menutupi sesuatu apa lagi berbohong dengan orang di sekitarnya. Dia sudah seperti sebuah buku anak kecil yang mudah sekali di baca oleh orang lain dan itulah salah satu kelemahannya yang sangat ia benci.
Entah apa yang terjadi dengan dirinya, ia menjadi menginginkan sesuatu yang lebih dari pemuda di sebelahnya itu. Sebuah perasaan terlarang bagi seluruh kaum malaikat pun telah menodai batin hati sang malaikat cilik ini.
"Herbivore, apa ada sesuatu yang menggangumu?" tanya sang pemuda secara tiba – tiba memotong percakapan mereka sebelumnya.
"Huh? Tidak ada Kyoya-san!" jawab Tsunayoshi dengan sergap, sedikit kaget di lontarkan pertanyaan yang jauh dari topic yang mereka sedang bicarakan. Bola matanya pun bergeser ke samping menadakan sekali jika ia sedang berbohong.
"Jangan mencoba berbohong denganku, herbivore," ancam Hibari dengan nada kesal.
"A-aku tidak apa – apa kok, Kyoya-san! Sungguh!" seru Tsunayoshi mencoba meyakinkan sang bangsawan walau pun gagal total.
"Herbivore..." ucap Hibari sekali lagi dan kali ini dengan sebuah tonfa – yang tentah dari mana asal – usulnya – tergenggam di tangan kirinya. "Kau tahu kalau aku tidak suka pada pembohong. Katakan sekarang atau kau akan kugigit sampai mati!" desis Hibari kesal.
"Hiiiie! Baiklah, tapi simpan dulu tonfanya!" seru si malaikat panik. Ketika tonfa milik 'teman'nya sudah lenyap entah kemana, ia pun menghela nafas sebelum mengeluarkan sebuah pertanyaan. "Kyoya-san percaya pada malaikat tidak?" tanyanya dengan mimik serius.
"Mereka hanya mitos omong kosong herbivore," jawab Hibari dengan nada tidak peduli.
"Oh? Jadi Kyoya-san tidak percaya begitu?" tanya Tsunayoshi sedikit kecewa.
"Tidak," jawabnya singkat.
"Kalau aku bisa membuktikan keberadaan mereka bagaimana, Kyoya-san?" tanya Tsunayoshi lagi, mengharapkan secuil minat dari sang bagsawan.
"Itu hal bodoh, Hebivore. Kenapa kau menanyakan hal bodoh seperti ini?" gerutu Hibari kesal. Sesaat ia menoleh kearah remaja di sebelahnya, tak tersadar olehnya kalau jarak diantara mereka pun semakin menipis.
"Jangan tutup matamu ya, Kyoya-san," bisik Tsunayoshi dengan lembut sebelum ia benar – benar menutup jarak diantara mereka berdua. Mata Hibari pun sergap terbuka lebar bukan hanya karena ciuman pertamanya diambil seorang laki – laki tetapi sepasang sayap putih salju pun muncul di punggung remaja tersebut. Perlahan – lahan si malaikat pun menjauh. Sayap putihnya pun masih terlihat segar bagi pemuda yang baru diciumnya itu.
"Bagaimana, Kyoya-san? Kau sudah percaya?" tanya Tsunayoshi dengan senyuman lebar menghiasi wajah imutnya.
"Apa itu asli, Hebivore?" tanya si pemuda berdara biru itu bingung sambil mengulurkan tanganya guna untuk membuktikan kalau matanya sedang tidak bermain – main dengannya.
"Tentu saja ini asli! Kau mau menyentuhnya kok, Kyoya-san?" tanya Tsunayoshi sambil mendekatkan sayapnya hingga terjangkau oleh sang pemuda.
'Lembut', tanpa ia sadari, seulas senyuman pun terukir di wajah sang pemuda.
"Ano... Kyoya-san... um... Aku menyukaimu!" seru si malaikat dengan lantang, mengagetkan si pemuda berdarah biru tersebut. Mata sang pemuda yang sebentar sempat melebar, perlahan – lahan menutup dan menunjukan mimik wajah halus dengan sebuah senyuman kecil pun terurai di wajahnya.
"Aku juga..." ucapnya dengan nada lembut. entah apa yang terjadi dengannya, si pemuda pun tak tahu. Ia, Hibari Kyoya, bangsawan yang paling di hormati dan di engganni, tersenyum dengan seorang pemuda – yang ternyata seorang malaikat – dan menyatakan perasaaannya pada si pemuda dengan mudahnya. Ini bukan dirinya yang biasanya. Tapi, ia lebih memilih mengikuti apa kata hatinya dan melahap bibir merah di depannya. Sang bangsawan pun mulai memperpendek lagi jarang bibir mereka sekali lagi untuk mengambil bibir merah muda mempersona di depannya. Tepat sebelum bibir mereka menyatuh, sebuah cahaya terang pun mengelilingi mereka. Dalam hitungan detik, sekelompok mahluk menyerumai manusia dengan berban membalut wajah mereka pun keluar dari cahaya tersebut beserta kabut tipis yang keluar dari sekunjung tubuh mereka. Segala sesuatunya pun menjadi dingin dan beku mengsertai setiap langkah yang para mahluk itu jalankan. Tubuh si malaikat kecil pun tiba – tiba menegang disertai dengan genggaman si malaikat yang langsung mengerat.
Salah satu mereka pun berjalan maju, meninggalkan yang lainnya di belakangnya.
"Sawada Tsunayoshi," sebuah suara dingin keluar dari mahluk aneh tersebut.
"Ve-vendicare..." ucap Tsunayoshi pelan. Badannya pun mulai bergetar, genggamnya pada kemeja sutra Hibari pun semakin mengerat seaakan – akan ia akan kehilangan nyawanya jika terlepas dari sang pemuda.
"Sawada Tsunayoshi, waktumu telah tiba, waktunya untuk kembali," suara dingin pun terlontar salah satu mahluk di depan mereka. Suhu di sekitar mereka pun menurun membuat si malaikat kecil bergetar lebih hebat. "Kami tidak menerima penolakan, Sawada Tsunayoshi," mahluk lain di sebelahnya pun menambahkan. Sekejap, beberapa rantai pun mulai bermunculan, mengitarin dan melilit di sekujung tubuh sang malaikat. Tanpa mempedulikan suara rintihan sakit yang di lontarkan si malaikat kecil, mahluk – mahluk aneh menyerupai manusia itu menarik paksa rantai – rantai yang mereka gunakan untuk mengikat si malaikat. Hibari mencoba untuk menarik kembali tubuh Tsunayoshi, tetapi hasilnya nihil. Dengan sekejap para mahluk aneh tersebut menghilang membawa Tsunayoshi dengan mereka, meninggalkan seorang pemuda seorang diri. Ia tak dapat mengerti apa yang telah terjadi, yang ia tahu hanya satu, yaitu orang yang ia cintai telah dibawa pergi entah kemana.
-0-0-0-TBC-0-0-0-
7 bulan tanpa kabar ama sekali~ ahahahahahahahahaha~ *menghindari segala macam UFO* sorrysorrysorrysorrysorrysor rysorrysorrysorrysorrysorrys orrysorrysorrysorrysorry sorrysorrysorrysorrysorrysor rysorrysorrysorrysorrysorrys orrysorrysorrysorrysorry bgt! Haha~ ga dpt mood bwt nulis fic ama sekali sih~ XP sekolah juga baru tenang… ujian dah mw abis dan kesekolah itu cmn buat ngabisin waktu. Tapi gw sih dah pernah bilang gw kalo bkin fic itu tergantung mood jadi kalo updatenya berserakan mohon maklum~ gw bkin fic can buat have fun bkn buat kerja jadi gw ga bikin dead line bwt ini.
Anyway~ mudah"an ada yang mw dengan baik hati ngereview fic ini ya~ bisa aja tiba" mood gw naik~ RnR~ ciao~
