HAAAAAAAAAAAAAAAAAAALLLLLLLLOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO O~~~~ without further delay~

Disclaimer: KHR punya Akira Amano!

Pairing: 1827

Rate: T

Warning: OOC, AU, Yaoi, Genderbender, Chara-death, typo, bahasa campur", dll

Enjoy~

Di suatu tempat entah dimana, seorang kecil malaikat berdiri di tengah – tengah ruangan megah dengan banyak sekali malaikat – malaikat yang berkumpul. Semua pandangan tertuju kepada malaikat kecil di tengah ruangan. Bisikan demi bisikan pun di lontarkan dari sekumpulan malaikat – malaikat tersebut. Banyak diantaranya mencela dosa yang telah di lakukan si malaikat, banyak juga yang melontarkan kata – kata kasihan hingga sebuah cahaya besar memenuhi ruangan tersebut and seluruhnya menjadi hening.

"Sawada Tsunayoshi," sebuah suara tegas pun memecah keheningan yang canggung tersebut. Malaikat yang dimaksud hanya terdiam dan nenundukan kepalanya. Siapa pun tak akan berani bertatapan langsung dengan si penguasa surga bukan? Begitu pula si malaikat yang satu ini.

"Kau tahu dosa apa yang kau perbuat, anakku?" suara itu pun bertanya dan mendapatkan sebuah angggukan kecil dari si malaikat. Bisikan – bisikan kecil pun mulai terdengar dari kawanan malaikat. Sebuah tangan pun terangkat dan semuanya pun kembali menjadi sunyi. "Kau sebagai seornag malaikat seharusnya sudah tahu untuk tidak menjalin hubungan dengan seorang manusia, Tsunayoshi," mendengar kata - kata yang di lontarkan si penguasa surga, si malaikat yang di maksud pun tetap berdiam diri. Sebuah suara keluhan kecil pun bergema, membuat selurunya meneggang.

"Kalau begitu kau tak akan di ijinkan kembali lagi ke bumi, pekerjaanmu akan diambil alih oleh malaikat lain, itulah hukumanmu anakku," dengan begitu, cahaya terang tersebut pun lenyap. Sekelompok malaikat yang berkumpul pun bubar dengan segerah, meninggalkan Tsunayoshi yang masih berada di tengah ruangan seorang diri masih dengan kepala tertunduk.

Beberapa saat kemudian, seorang malaikat berpenampilan aneh pun mendekati Tsunayoshi yang masih saja berdiri di tengah ruangan. Pandangan si malaikat muda itu terlihat kosong. Iris karamelnya yang dulu dipenuhi cahaya dan semangat kini pun redup.

"Kufufu... kau masih di sini Tsunayoshi?" malaikat aneh itu pun bertanya. Tak menerima sepatah kata apapun dari malaikat yang lebih muda, si malaikat yang lebih senior itu pun mendekati rekan kerjanya sekaligus teman baiknya. "Kau tahu? Kau tak perlu memikirkan manusia bodoh itu, kau masih punya aku bukan?" ucap si malaikat berambut aneh-menyerupainanas- sambil meletakan tangannya di pundak temannya dan sedikit memeluk teman baikanya. "Ayolah Tsunayoshi, kita pergi sekarang! Kau juga tidak bisa bertemu dengan manusia bodoh itu lagi! Jadi tak usah di pikirkan lagi ya?" ucap si malaikat nanas lagi mencoba membujuk temannya untuk dengannya. Kedua lengannya pun ia lingkarkan di pinggang temannya dan memeluknya dengan erat. "Ayo Tsunayoshi–"

"Tinggal aku sendiri Mukuro!" perintah Tsunayoshi dengan nada bergetar seperti ingin menangis.

"Tsunayoshi ak–"

"Pergi!" bentak Tsunayoshi sekali lagi sambil menutup matanya dengan erat. Dengan ragu – ragu, Mukuro pun terbang menjauh sesuai dengan permintaan temannya. "Cepatlah pulang," bisik Mukuro kecil sebelum meninggalkan Tsunayoshi seorang diri dan dengan waktu yang bersamaan, setetes air mata pun mengalir dari kelopak mata si malaikat muda yang tertutup.

"Kyoya-san..." setetes demi tetes air mata pun mulai mengalir keluar dari kedua kelopak matanya.

Entah berapa lama ia berdiri di tempat itu. Kakinya pun mulai melemas, membuatknya terjatuh ke tanah. Tak berusaha kembail berdiri menggunakan sayapnya, ia hanya terduduk di atas awan lembut surga, dengan air mata yang mengalir bagaikan sungai kecil menghiasi wajah imut si malaikat.

"Oya, oya?" sebuah suara pun mengaketkan Tsunayoshi dan dengan sergap ia pun mengakat kepalanya. Di hadapannya seorang iblis berambut putih bersih berpakaian serba putih yang merupakan hal yang aneh karena tak banyak kaum iblis yang menyukai warna terang termasuk putih. Rambutnya yang berwarna putih salju dang senyumannya manisnya, iblis tersebut menyerupai seorang malaikat kalau bukan dikarenakan taring tajamnya beserta seekor ibilsnya yang berwarna putih pucat. "Bukankah ini pemandangan yang menyedihkan?" senyuman si iblis pun melebar. "Kau perlu sesuatu malaikat kecilku?" tanyanya sambil mengulurkan tanganya ke hadapan si malaikat.

"Um... ti-tidak terima kasih!" walau dalam keadaan kacau, insting si malaikat pun masih berkerja dengan baik dan sekarang ini instingnya menyuruhnya untuk menjauh dari iblis di depannya. Dengan langkah cepat, si malaikat pun berusaha untuk menjauh. Ia pun mulai untuk mengapakan sayapnya untuk menjauh sebelum si iblis menghentikannya dengan pernyataan yang ia ucapakan. "Kau sedang bermasalah dengan seorang manusia, malaikat kecilku?" tanya si iblis dengan seringan lebar memperlihatkan taring tajamnya.

"Ba-bagaimana kau–"

"Aku tahu segalanya Tsunayoshi-kun~" ucap si iblis dengan nada riang dengan sebuah seringan yang tak pernah lepas dari wajahnya. "Kau mau kubantu Tsunayoshi-kun? Aku bisa mengabulkan semua impian terdalammu hanya dengan bayaran sayap cantikmu itu! Bagaimana?" tawar si iblis. Perasaan si malaikat pun mulai tercampur aduk. Hati dan logikanya pun mulai bertengkar. Ia mengerti jika membuat janji kepada seorang iblis akan berbuah fatal tetapi di pihak lain, ia juga ingin bertemu kembali dengan Kyoya-san-nya.

"A-aku–"

"Namaku Byakuran~ bersediakah kau membuat kontrak denganku, malaikat kecilku?" tawar si ibis sekali lagi sambil mengulurkan tangannya. Berpikir sejenak, iris karamelnya pun di penuhi dengan keteguhan. Memandang lurus ke iris violet sang iblis, ia pun menjawab,

"Aku bersedia"

-0-0-0-TBC-0-0-0-

Lama bgt ga update ini fic ya~ dah mau setaun pula! hahaha! dah lama engga nulis ff sih! teehee! apa lagi skrg KHR dah tamat sejak itu jadi males bgt bikin ff. ff gw yg lain aja belom di update! *sigh!

Tp mudah"an msh ad yg baca nih ff! RnR~

Ciao Ciao~