Seorang pemuda berambut raven tampak merebahkan diri di kasur king size-nya. Ia terlihat frustasi. Ia memejamkan matanya sejenak, dan kemudian membukanya lagi. Ia menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan menerawang. Ia kemudian teringat dengan kejadian tadi sore, saat Sakura menepis tangannya, menamparnya, mendorongnya, dan berjalan pergi menjauhinya. Meninggalkannya.
Nyeri kembali terasa di dadanya. Melihat wajah Sakura, mantan istrinya yang menatapnya dengan pandangan benci itu membuat dirinya merasa bersalah. Semua perkataan Sakura, perilakunya tadi seolah-olah mengatakan dia tidak akan kembali ke sisinya lagi. Tidak akan pernah. Sebab, Sasuke tahu, lebih mudah meminta maaf, daripada memaafkan…
Still
Rated : T (teen)
Pairing : SasuSaku of course ;)
Genre : romance, friendship, hurt/comfort
Warning : Ooc, abal, jelek, garing, bikin sakit kepala, typo berantakan, dll.
.
.
.
Chapter 2 Mistake
.
.
.
"Ra?"
"…."
"Sakura?!"
"Ah!" Sakura, gadis yang dipanggil tadi tersentak kaget mendengar suara nyaring yang berteriak tepat di telinganya. Ia kemudian memberi deathglare kepada seorang gadis cantik berambut pirang yang memandangnya dengan tatapan tak bersalah.
"Jangan memandangku seperti itu. Aku sudah memanggilmu berkali-kali," ucap gadis berambut pirang tadi sambil berkacak pinggang. Sakura baru saja ingin membuka mulutnya untuk membalas perkataan Ino, tapi Ino lebih dulu berbicara.
"Kau lihat?" Ino menunjuk ke sekeliling. Terlihat banyak orang di restaurant itu. Restaurant itu sangat ramai, dipenuhi oleh orang-orang dengan berbagai usia dan kalangan. "Restaurant ini padat akan pengunjung. Dan kau hanya tinggal diam melamun dan tidak membantu kami!" Sakura kemudian cengengesan dan meminta maaf kepada Ino.
"Hehe… gomen," ucapnya.
"Hhh… apa ada yang menganggumu Sakura?" tanya Ino pada Sakura. Sakura terdiam sejenak dan kemudian menggeleng pelan.
"Benarkah?" tanya Ino memastikan. Sakura kemudian menatap Ino dan berusaha tersenyum.
"Tidak ada apa-"
"Apakah kau terganggu dengan pertemuanmu dengan Sasuke?" ujar Ino memotong perkataan Sakura. Sakura tersentak. Membuat Ino semakin curiga.
"A-aku bilang tidak ada apa-apa! Dan tolong jangan menyebut nama itu lagi!" kata Sakura dengan nada yang naik. Tersirat emosi yang tinggi dalam perkataannya barusan. Ino menghela nafas pelan.
"Kalau kau memang mau menghindarinya, kau kurang beruntung, Haruno Sakura," ucap Ino seraya menunjuk ke arah pintu masuk restaurant. Terlihat beberapa orang berpakaian formal ala perusahaan besar memasuki resturant tersebut. Salah satu di antaranya membuat Sakura tercenggang. Dia lagi. mereka bertemu lagi- bukan, lebih tepatnya, dia melihat pria itu lagi! Sakura kemudian menatap Ino dengan pandangan memohon.
"Maaf Sakura, aku sibuk dengan urusan dapur." Tanpa di jelaskan pun, Ino mengerti maksud pandangan Sakura.
"Ayolah Ino… aku tidak ingin bertemu dengannya!" pinta Sakura.
"Maaf Sakura, aku benar-benar sibuk, yang lainnya juga sibuk. Aku harap kau tidak mencampur urusan pribadi dan pekerjaan." Setelah berkata demikian, Ino memasuki dapur. Meninggalkan Sakura yang bimbang. Ino benar. Ia tak seharusnya seperti ini. Mencampurkan masalah pribadi dan pekerjaan memang benar-benar sebuah kesalahan. Kaki jenjang wanita pink itu mulai bergerak. Ia melangkah menuju meja tempat Sasuke dan kawan-kawannya. Ia kemudian menghela nafas, menguatkan dirinya untuk bertemu lagi dengan pria itu.
"Ada yang bisa saya bantu?" ucapnya berusaha tenang. Sasuke menoleh pada Sakura.
"Sakura…" ujarnya.
"Ada yang bisa saya bantu?" ulang Sakura berusaha tak menghiraukan Sasuke. Sasuke menghela nafas dan kemudian bertanya pada teman-temannya, menanyakan apa yang ingin mereka pesan. Sakura mencatat semua pesanan mereka. Ketika ia ingin membalikkan badannya, tangan Sasuke mencegahnya.
"Sakura, apakah tak ada kesempatan sekali lagi?" Sakura tercenggang mendengar pertanyaan Sasuke. Bukankah itu berarti…Sasuke ingin meminangnya kembali?
Sakura menepis tangan Sasuke dan memandangnya sinis.
"Maaf tuan, saya sedang sibuk," ucapnya dan kemudian membalikkan badannya dan segera melangkah pergi.
.
.
.
"Jadi, dia mantan istrimu, Teme?" tanya seorang pemuda dengan rambut spike berwarna pirang.
"Hn." Respon pria yang di tanya tadi.
"Sepertinya, ia benar-benar tak ingin denganmu lagi," ucap seorang pria berambut merah dengan tatoo 'ai' di dahinya. Sasuke terdiam mendengar perkataan Gaara, pemuda berambut merah tadi.
"Gaara benar Teme, kalau kau memang masih mencintainya, jangan memaksanya."
BRAAKK!
Gaara dan Naruto tersentak kaget melihat Sasuke menggebrak meja dengan keras. Bukan hanya Gaara dan Naruto, pengunjung restaurant yang mendengar suara keras itu juga tersentak kaget.
"Diam kalian," kata Sasuke dengan nada dingin. Naruto langsung terdiam, tapi lain halnya dengan Gaara.
"Dia tidak mencintaimu lagi Sasuke, apa kau tidak lihat pandangan benci tadi?" katanya memancing emosi Sasuke.
"Dia tidak membutuhkan lelaki sepertimu," ucapnya dengan senyum sinis. "Dan aku, yang akan menyembuhkan luka yang telah kau buat di hatinya."
"Apa maksudmu?" Sasuke memandang Gaara dengan tajam.
"Aku merasa menyukai mantan istrimu itu." Sasuke semakin menatap Gaara dengan tajam. Seakan ingin melahap pemuda berambut merah itu hidup-hidup. Baru saja Sasuke ingin mengakatakan sesuatu, pesanan mereka telah datang. Sasuke tidak ingin Sakura melihatnya bertengkar, jadi ia memutuskan untuk diam. Diam lebih baik, setidaknya untuk saat ini.
~~~0~~~
.
.
.
Sakura berjalan dengan tenang di salah satu distrik dekat rumahnya. Jam telah menunjukkan pukul sebelas malam. Sepulang kerja tadi, ia memutuskan ke rumah Ino untuk mengobrol, tapi tanpa terasa ia sudah menghabiskan waktu lima jam mengobrol dan akhirnya harus pulang tengah malam.
Sakura mengeratkan jaketnya. Udara malam itu memang sangat menusuk. Angin sangat kencang malam itu, membuat bulu kuduk Sakura merinding. Ia mulai mempercepat langkahnya. 'Sedikit lagi...' batinnya. Tapi ketakutannya semakin memuncak ketika melihat gerombolan pria mendekat ke arahnya. Semakin dekat, semakin tajam pula bau alkohol yang menguar dari para pria itu. Sakura mulai mundur perlahan, ia mulai ketakutan. Tubuhnya bergetar hebat, ia sangat ingin berlari sekencang-kencangnya dari tempat itu, namun entah kenapa kakinya serasa berat untuk bergerak.
"Hai nona manis~ sedang apa sendirian di tempat ini~?" ucap salah satu pria itu sambil menjilat bibirnya sendiri. Pria-pria di belakangnya mulai mendekat ke arahnya. Sakura mulai mundur dan mengambil langkah untuk berlari, namun salah seorang pria menahannya.
"Tolong!" teriaknya. Matanya mulai berair ketika para pria itu mendekat ke arahnya.
"Ssstt… jangan berisik nona, bermainlah dengan kami sebentar~" Dua orang pria menahan tangan
Sakura, membuat Sakura tidak bisa bergerak.
"Tolooonng!" teriaknya lagi. Nihil. Tak ada yang datang menolongnya, membuat ia menangis terisak. Ia berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri. Tapi tenaga lelaki memang terlalu kuat untuk wanita mungil seperti Sakura.
"Ayolah nona~ sebentar saja…"
.
.
.
Sasuke merasa gelisah. Ia tidak tahu perasaan apa ini. Ia mengemudikan mobilnya dengan kencang, namun tak bisa dipukiri, ada perasaan resah dan gelisah yang melandanya malam ini. Sebuah firasat buruk. Ia tahu itu, namun ia tidak tahu hal buruk apa yang terjadi.
Ia mengemudikan mobilnya di distrik sepi dekat tempat tinggal Sakura. Entah apa yang merasukinya sehingga melewati daerah ini. Ia langsung mengerem mendadak saat di dengarnya suara meminta tolong. Suara itu sangat familiar di telinganya.
Ia kemudian tersentak kaget. Sakura! Suara itu suara Sakura! Ia berusaha mencari asal suara itu. Ia turun dari mobilnya, berlari mencari asal suara. Ia sangat khawatir dengan Sakura. Sangat…
.
.
.
"Tolong! Lepaskan aku! Kumohon!" pinta Sakura dengan air mata yang membanjiri wajahnya. Kini pria-pria itu mengapitnya di tembok. Membuatnya semakin sulit bergerak.
"Kami akan melepaskanmu jika kami sudah puas dengan tubuh indahmu, nona…" ucap salah seorang pria dengan tubuh yang paling besar. Sakura tidak tahu apa lagi yang harus ia perbuat selain menangis. Dulu, di saat ia kesusahan, selalu ada Sasuke, Sasuke yang melindunginya dari segala macam bahaya. Sasuke… kenapa ia teringat lelaki itu di saat seperti ini?
Pria itu mulai mendekatkan wajahnya, hendak mencium tengkuknya. Sakura berusaha melepaskan tangannya. Tapi tidak bisa, ia mulai kelelahan. Lelah akibat menangis, berteriak, dan melawan. Dengan sisa tenaganya, ia berteriak lagi, berharap teriakannya kali ini berhasil membuatnya tertolong.
"SASUKE-KUN!"
BUUGGHHH!
Sakura, dan para lelaki tadi tersentak kaget saat melihat pria yang hampir menciumnya tadi terpental jauh dan meringis kesakitan. Sakura melihat orang yang baru saja menolongnya, mata emeraldnya membelalak kaget. Dia…
"Sa-Sasuke-kun…" gumamnya tanpa sadar. Sasuke tersenyum tipis pada Sakura.
"Aku datang menyelamatkanmu," katanya. Segerombolan pria yang menyaksikan adegan itu langsung bersiap-siap untuk menghajar Sasuke. Sasuke melihatnya dengan cuek dan kembali menatap Sakura.
"Tunggu sebentar, aku akan melawan tikus-tikus kecil ini." Setelah berkata demikian, Sasuke menghajar pria-pria itu dengan gerakan lincah. Sakura yang melihatnya tercenggang. Tanpa sadar, ia merindukan sosok itu. Sosok yang selalu melindungi dan menyelamatkannya. Sosok yang dulu Sakura sangat sayangi, dan sosok yang ia cintai sampai rela mengorbankan apa saja untuk sosok itu. Tapi Sakura menepis ingatan-ingatan tentang sosok itu. Ia tidak ingin mengingatnya lagi.
Para pria tadi telah dikalahkan oleh Sasuke. Sasuke tersenyum penuh kemenangan dan menghampiri Sakura.
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya khawatir. Sakura mengangguk pelan. Namun matanya membelalak kaget saat melihat salah seorang pria bangkit dan mengeluarkan pisau dari dalam sakunya, hendak menusuk Sasuke, membuat Sakura berteriak dengan refleks.
"Sasuke-kun! Awas di belakangmu!" teriakan Sakura membuat Sasuke berbalik dengan cepat dan dengan gesit memukul perut pria itu. Kemudian memukul wajahnya. Namun pria itu juga membalas pukulan Sasuke dan mengayun-ayunkan pisaunya ke segala arah. Sampai mengenai lengan Sasuke.
"Arggh…" ringis Sasuke membuat Sakura merasa cemas dan panik. Sasuke kemudian menendang perut pria itu hingga terpental jauh dan pingsan. Sakura segera menghampiri Sasuke dan memeriksa lengan Sasuke.
"Ini hanya luka kecil."
"Luka kecil bisa menjadi besar Sasuke-kun!" Sasuke tercenggang mendengar perkataan Sakura.
"Ayo ke rumahku, di sana banyak obat yang bisa menyembuhkan lukamu," ajak Sakura. Sasuke mengangguk dan kemudian berjalan ke rumah Sakura.
.
.
.
"Selesai." Sakura tersenyum saat ia telah selesai melilit luka Sasuke menggunakan kain.
"Maaf, aku hanya punya kain untuk menutup lukamu."
"Tidak apa-apa." Sakura berjalan ke dapur. Sasuke melihat ke sekeliling rumah Sakura. Disini sangat sepi, Sakura memang sejak dahulu tinggal sendiri. Hidup terpisah dengan orang tuanya dengan alasan ingin mandiri. Sasuke mengintip Sakura ke dapur, ingin mengetahui apa yang sedang di kerjakan gadis-ah, tidak, wanita itu di sana. Ternyata Sakura sedang memasak. Sasuke memilih untuk tidak mengganggu Sakura di dapur, jadi ia hanya berkeliling di rumah Sakura.
Dulu, Sasuke sangat sering ke sini sebelum mereka menikah. Hanya sekedar berkunjung, ataupun menemani Sakura saat wanita itu merindukan dirinya. Sasuke kembali mengenang masa itu. Dia benar-benar bodoh. Sangat bodoh, karena mengkhianati Sakura yang sangat tulus mencintainya. Tapi catat, itu dulu. Menghadapi kenyataan bahwa Sakura tak mencintainya lagi membuat Sasuke tersenyum kecut. Sakura memang benar-benar melupakannya. Bahkan, tidak ada foto-foto dirinya di rumah Sakura. Semua fotonya dengan Sakura yang dulu terpajang dengan indah di dinding rumah ini telah hilang. Tidak ada lagi fotonya dan Sakura, tidak ada lagi kenangannya bersama Sakura, dan tidak ada lagi cinta Sakura untuk dirinya.
Sasuke mendesah pelan. Sakura lama sekali di dapur, membuat pemuda itu merasa bosan. Sasuke kembali memandang sekeliling. Dan matanya tertuju pada sebuah laci. Sasuke berjalan menuju laci itu dan membukanya. Ia begitu kaget melihat apa yang ada dalam laci itu. Kenangannya dan Sakura, semuanya ada di dalam laci itu. Foto-foto mereka, foto pernikahan mereka, dan hadiah-hadiah yang pernah Sasuke berikan kepada Sakura juga ada di dalam laci yang berukuran cukup besar itu. Ternyata, Sakura masih menyimpannya, Sasuke sangat senang dan bersyukur, ternyata Sakura tidak membakar semua kenangan mereka.
"Apa yang kau laku-" ucapan Sakura terputus melihat Sasuke membuka lacinya. Ia segera menghampiri Sasuke dan menutup laci itu dengan cepat.
"Kau tidak sopan! Jangan mambuka barang-barangku!" gertak Sakura.
"Barang-barangmu? Berarti… semua kenangan kita itu juga termasuk barang-barangmu?" kata Sasuke. Sakura memandang Sasuke tajam.
"Apakah aku masih bisa berharap, Sakura?" tanya Sasuke seraya memandang Sakura dengan serius.
"Apa maksudmu?"
"Aku masih mencintaimu Sakura," ucap Sasuke yang membuat Sakura tersentak.
"Aku ingin kita kembali seperti dulu," kata Sasuke lagi.
"Hentikan!"
"Tidak bisakah kau memberiku kesempatan sekali lagi, Sakura?"
"Aku bilang hentikan!"
"Aku mohon… aku masih sangat mencintaimu." Sasuke menggenggam tangan Sakura, tapi Sakura segera menepisnya.
"Mencintaiku?! Omong kosong! Kalau kau mencintaiku, kenapa kau menceraikanku?!" Pertanyaan Sakura membuat Sasuke terdiam dengan wajah bersalah.
"Maaf, aku sungguh minta maaf, aku sangat menyesalinya…"
"Semudah itukah?! Kau tidak mengerti perasaanku, Sasuke-kun!" Sakura merasa emosinya meluap-luap. "Ya! Aku memang mencintaimu! Tapi itu dulu, sebelum kau mengacaukan segalanya!"
"Dulu, kau ingin bercerai, dan aku menyetujui itu, karena ku rasa itu memang keinginanmu, dan sekarang… semudah itu kau meminta untuk kembali padaku?!" Sasuke berusaha memeluk Sakura, namun Sakura mendorong Sasuke dengan keras.
"Aku sugguh minta maaf, aku tak menyangka hal sepele yang kulakukan bisa menyakiti hatimu sampai seperti ini.." lirih Sasuke.
"Hal sepele? Huh, sudah ku bilang, luka kecil bisa menjadi luka besar." Sakura memandang Sasuke sinis.
"Dan kuminta kau dengan hormat… silahkan angkat kaki dari rumah ini, karena aku tidak ingin melihatmu lagi."
TBC
#tepar
Reader-san… maaf banget lama update! Maaf! Maaf! Maaf!
Hehe.. chapter ini agak memusingkan yah? Apalagi pas adegan Sakura yang di goda itu, kata 'pria' nya banyak banget, aku yang nulis aja pusing!#plak
Oh ya, aku mau balas satu-satu review dari reviewers yang nggak login :
Hanaretara :
Salam kenal hana-saaann! ^^ *niup terompet
Makasih udah review dan bilang idenya beda banget…*terharu
Review lagi yaahh!
Sweet Pop :
Ficnya bikin penasaran?! Hwaa.. makasih karena udah penasaran(?)
Makasih juga udah review..emm..eerr..#bingung mau manggil apa
Pokoknya makasih deh! Review lagi! ^^
Ucucubi :
Makasih udah bilang ceritanya bagus ^^
Makasih juga karena udah review ucucubi-san! Review lagi ya?*puppy eyes
Slyth males login :
Hai slyth-san!
Makasih udah bilang cerita ini bagus! Kalo tentang udah cerai berapa tahun…ehmm..*hitung pake jari
Tunggu aja deh di chapter depan! Bakal terungkap deh, semuanya!
Hehe.. review lagi!
Fishy ELF
Makasih udah review, penasaran, dan bilang cerita ini seru ^^
Btw, salam kenal! Haha.. review lagi yah?!
Yup! Itu tadi reviewers unlogin, yang merasa login, silahkan cek ke PM kalian masing ^^
Dan.. aku ngasih bocoran, di fic selanjutnya, bakal banya flashback, karena nyeritain tentang kisah mereka berdua…hohoho..
Sekali lagi sorry kalo chapter ini kurang memuaskan T,T *pundung di pojokan
Dan! Review pleasee! No flame!
#tepar kembali
Arigatou~
Hany-chan DHA E3
