Still

Rated : T (teen)

Pairing : SasuSaku of course ;)

Genre : romance, friendship, hurt/comfort

Warning : Ooc, abal, jelek, garing, bikin sakit kepala, typo berantakan, dll.

.

.

.

Chapter 3 : Unforgettable Memories

.

.

.

Sakura menatap langit. Mendung. Sebentar lagi akan turun hujan deras, ia mendecak kesal. Ia harus segera sampai ke rumahnya sebelum hujan, kalau tidak, berkas-berkas yang dibawanya bisa basah. Dan kalau berkas itu basah, ia tidak akan mendapat pekerjaan, karena ijazahnya ada di dalam map yang berisi berkas-berkas tersebut.

Ia mempercepat langkahnya. Ia melirik ke kanan dan ke kiri. Jalanan sangat sepi, tak ada kendaran di sekitar jalanan itu. Rintik-rintik hujan perlahan turun dari langit gelap itu. Sakura mulai panik dan segera mencari tempat untuk berlindung. Akhirnya wanita berambut softpink itu menemukan tempat untuk berlindung dari hujan. Ia berteduh di bawah tempat menunggu bus, lebih tepatnya halte bus. Ia memeluk mapnya sambil menatap nanar ke depan. Sudah setengah hari ia mencari pekerjaan, namun tak ada satupun yang menerimanya. Ia juga tidak tahu apa sebabnya, mungkin karena ia hanya tamatan SMA. Ia harus mencari pekerjaan, ia membutuhkan uang sekarang. Uang demi biaya ayahnya yang sedang sakit. Menjadi anak tunggal mengharuskan Sakura untuk mencari nafkah untuk keluarga. Ayahnya tidak dapat lagi mencari nafkah, dan ibunya hanya membuka warung kecil untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Sakura yang miris melihat ibunya kelelahan setiap hari akhirnya memutuskan untuk bekerja. Dengan berbekal ijazah SMA, ia memisahkan diri dari orang tuanya dan memutuskan untuk tinggal di Konoha. Sebuah kota yang cukup jauh dari rumahnya. Dari pagi ia datang ke perusahaan-perusahaan dan tak ada yang mau menerimanya. Sakura memang belum punya pengalaman, Sakura sadar dirinya memang tidak cukup pantas untuk mencari pekerjaan di perusahaan. Tapi hanya bekerja di perusahaanlah ia bisa mendapat gaji yang cukup untuk menafkahi keluarganya.

Ia mendesah pelan. Orang-orang mulai berdatangan untuk berlindung di tempat yang sama dengan Sakura. Sakura nampak tak mempedulikan orang-orang sekitar dan fokus dengan pikirannya sendiri. Sampai ia dikejutkan oleh air kotor yang tiba-tiba mengenainya. Bukan hanya dia, namun orang-orang di dekatnya juga tekena air kotor tersebut. Sakura mencari penyebabnya, dan ternyata penyebabnya adalah seorang pengendara mobil yang melajukan mobilnya cukup kencang, tidak sengaja mengendarai mobilnya di genangan air dan mencipratkannya ke Sakura dan orang-orang yang berlindung di halte bus itu.

Sakura menggeram kesal. Sang pengemudi nampaknya tak peduli dan tetap melajukan mobilnya, namun Sakura menahannya.

"Hey kau! Berhenti!" teriak gadis itu. Mobil itu berhenti, Sakura menghampiri mobil itu dengan amarah yang amat besar, sebab akibat pengemudi itu, ia terkena air kotor yang membuat mapnya basah! Dan otomatis ijazah yang ada di dalamnya juga basah! Sakura mengetuk jendela kaca mobil tersebut, membuat si pengemudi membukanya setengah. Saat kaca terbuka, nampaklah seorang pemuda berkacamata hitam yang memandang Sakura dengan datar. Membuat emosi Sakura naik.

"Kau tahu apa kesalahanmu?!" kata Sakura dengan nada keras. Pemuda itu hanya diam, dan sesaat berkata,

"Tidak." Sakura semakin emosi.

"Kau mencipratkan air pada kami yang sedang berlindung di sana!" teriak Sakura. Pemuda itu membuka kacamatanya, menunjukkan mata onyx yang memandang gadis itu dengan pandangan datar.

"Lalu?" Cukup. Batas kesabaran Sakura sudah sampai di puncaknya.

"Lalu?! Kau membuat kami basah! Dan kau seenaknya saja ingin pergi tanpa bertanggung jawab!" Sakura berkata sambil menunjuk-nunjuk pemuda itu.

"Hn, memangnya kau mau tanggung jawab apa?" tanyanya santai.

"Kau seharusnya minta maaf!" teriak Sakura keras.

"Hn, aku minta maaf, puas?" kata pemuda itu, namun Sakura nampaknya belum puas.

"Belum! Gara-gara kau, ijazahku basah!" katanya wanita itu masih dengan nada yang sama.

"Lalu? Kau ingin aku menggantikan ijazahmu, dengan masuk sekolah lagi?" tanya pemuda itu, yang membuat Sakura bungkam.

"B-bukan begitu…"

"Hn?" Pemuda itu menaikkan sebelah alisnya.

"Cih! Kau menyebalkan! Kau seharusnya bertanggung jawab! Tanpa ijazah ini, aku tidak akan bisa mendapat pekerjaan!" Pemuda itu terdiam mendengar perkataan Sakura. Sakura menunggu respon dari pemuda itu, sesaat kemudian, pemuda itu berkata,

"Ayo naik," katanya. Membuat Sakura bingung.

"Naik?" katanya kebingungan. Apa maksud pemuda tanpa nama ini?

Pria itu turun dari mobilnya, membuka pintu mobil di sebelah kirinya, dan mendorong Sakura masuk ke dalam mobilnya.

"H-hey! Turunkan aku!" Pemuda itu dengan cepat menaiki mobilnya dan menginjak gas mobilnya.

"Hei! Kau mau membawaku ke mana?!" tanya Sakura. Namun pemuda itu diam tanpa kata.

Karena tak direspon, Sakura mencoba untuk membuka pintu mobil. Membuat pemuda itu menoleh pada Sakura.

"Apa yang kau lakukan?! Kau mau mati?!" gertak Sasuke. Sakura akhirnya menghentikan kegiatannya dan membuka jendela mobil Sasuke.

"Tolooonng! Aku mau diperkosa!" teriaknya ke luar jendela. Mata onyx pria itu membelalak lebar mendengar teriakan Sakura.

"Kau gila!" kata pemuda itu. Sakura menatapnya sarkastik. Pemuda itu menaikkan kecepatan mobilnya, membuat Sakura berteriak.

"KAU YANG GILA!"

.

.

.

Sakura turun dari mobil yang sudah terparkir rapi di tempat parkir sebuah perusahaan megah. Sakura menganga melihat bangunan di depannya. Di bangunan perusahaan itu terdapat lambang kipas dan tulisan "Uchiha" di bawahnya.

'Uchiha? Perusahaan ini milik keluarga Uchiha?' batin Sakura. Pemuda itu masuk ke dalam gedung perusahaan, Sakura menyusul di belakangnya. Semua karyawan, satpam, dan para staff berojigi saat pemuda itu lewat di depan mereka, dan menatap Sakura dengan pandangan heran.

"Selamat siang, Sasuke-san," sapa salah satu karyawan. 'Jadi namanya Sasuke," batin Sakura.

"Hn." Respon pemuda itu, Sasuke.

"Hei!" panggil Sakura pada Sasuke. Sasuke berbalik menatap Sakura.

"Err… kenapa kau membawaku ke sini?" tanya gadis itu. Sasuke menatapnya datar.

"Kau akan tahu nanti," jawabnya. Mereka masuk di dalam suatu ruangan. Ruangan itu sangat luas. Di dalam ruangan terdapat sebuah sofa, meja, dan sebuah meja dan kursi yang biasa di pakai orang untuk bekerja di perkantoran. Sakura memandang sekeliling ruangan itu, ia mendecak takjub. Ruangan itu sangat mewah. Sepertinya ini ruangan untuk direktur utama di perusahaan ini. Ia melihat meja kerja yang ada di dekat jendela besar di ruangan itu. ia melihat papan nama di meja itu, yang membuat Sakura memebelalakkan matanya.

'Uchiha Sasuke'

'Hah?! Dia direktur utama?!" batinnya kaget. Ia tak menyangka pemuda menyebalkan di depannya ini ialah direktur utama perusahaan megah itu.

"Aku akan bertanggung jawab, kau akan bekerja di sini," kata Sasuke, membuat Sakura terkejut.

"K-kau serius?" tanya Sakura memastikan.

"Apa aku terlihat bercanda?" Sakura tersenyum senang mendengarnya.

"T-terima kasih! Terima kasih!" ucap Sakura sambil berojigi. Membuat Sasuke tersenyum tipis, amat tipis.

"Tidak masalah, kebetulan aku sedang mencari sekertaris, aku yakin kau bisa melakukan pekerjaan sebagai seorang sekertaris." Sakura takjub mendengar kata-kata terpanjang yang diucapkan Sasuke.

"Tapi… aku belum punya pengalaman, dan aku hanya tamatan SMA," ucap Sakura malu-malu.

"Aku tidak peduli jika kau tidak punya pengalaman, ataupun hanya tamatan SMA. Yang aku nilai adalah kerja kerasmu, Nona," kata Sasuke.

"Namaku Haruno Sakura," kata Sakura memperkenalkan diri.

"Baik, Sakura, kuberi kau waktu seminggu bekerja di tempatku, jika memang kau bekerja dengan baik, aku akan menerimamu bekerja di sini," ucap Sasuke. Sakura mengangguk seraya tersenyum senang.

"Baik!" kata Sakura semangat. Mereka berdua tidak pernah tahu, bahwa mereka akan memasuki kehidupan baru.

.

.

.

Kehidupan memang mempermainkan mereka berdua. Seiring berjalannya waktu, mereka saling jatuh cinta, dimana cinta mereka berdua yang akan memisahkan mereka. Cinta mereka yang membuat mereka saling memberi perhatian satu sama lain tanpa mengetahui perasaan mereka masing-masing. Saling menyembunyikan perasaan mereka. Mereka tersesat di perasaan cinta itu, tersesat di debaran asing yang mereka rasakn itu, sampai mereka tak sadar bahwa takdir dan kehidupan benar-benar mempermainkan mereka berdua.

.

.

.

"Aku mencintaimu, Sakura…"

~~~0~~~

.

.

.

Mereka telah resmi berpacaran, membuat para pegawai iri akan hubungan mereka. Namun tak ada satupun dari mereka berniat untuk menghancurkan hubungan sepasang insan itu. hubungan cinta mereka berjalan dengan sangat mulus, tak ada hambatan. Bahkan orang tua Sasuke maupun Sakura setuju akan hubungan mereka berdua. Tak ada pihak ketiga, setiap hari hanya diisi oleh canda tawa dan sedikit pertengkaran kecil. Itu semua membawa mereka ke hubungan yang lebih lanjut.

.

.

.

"Menikahlah denganku, Sakura."

~~~0~~~

.

.

.

Disinilah mereka berdiri. Tempat di mana mereka akan mengucapkan janji sakral sehidup semati, saat di mana mereka akan sah sebagai suami istri.

Sakura memandang dirinya di cermin besar. Ia mengenakan gaun putih mewah yang dibuat dengan perancang terkenal. Wajahnya dipolesi oleh make up yang membuat dirinya menjadi semakin cantik.

"Sakura…" Sakura menoleh menuju asal suara yang memanggilnya.

"Ibu…?" Sang ibu hanya tersenyum melihat anaknya.

"Lihatlah anak siapa ini! Kau sangat cantik Sakura…" puji ibunya dengan senyuman takjub, Sakura hanya tersenyum mendengar pujian ibunya.

"Tak dirasa ini waktu aku harus melepaskanmu anakku, kau sudah dewasa sekarang…" Dan dimulailah perbincangan antara ibu dan anak itu. Canda tawa kemudian terdengar di ruangan pengantin wanita tersebut.

"Sakura…" Ibu Sakura tiba-tiba berkata dengan serius, yang membuat senyum riang dibibir Sakura menghilang saat ditatapnya wajah serius ibunya.

"Ibu ingin bertanya, apa kau yakin dengan keputusanmu ini?" tanya ibunya. Sakura tertegun sesaat dan kemudian mengangguk yakin.

"Ya, aku yakin!" Ibu Sakura tersenyum melihatnya.

"Tapi kau masih terlalu muda, usiamu baru 19 tahun Sakura," kata ibunya.

"Aku tahu ibu, tapi tekadku sudah bulat!" ucap Sakura semangat.

"Baiklah… kau memang keras kepala. Tapi ibu hanya ingin memperingatkanmu satu hal, kau dan Sasuke masih muda. Sasuke baru dua puluh tahun, di usia kalian, emosi kalian masih labil, aku harap kau jangan selalu bertengkar dengan Sasuke, apalagi mengatakan kata 'cerai', ibu tak mau itu terjadi…" Sakura sedikit tercenggang mendengar perkataan ibunya. Ibunya benar-benar khawatir padanya. Sakura menyunggingkan senyumnya, mencoba menenangkan ibunya.

"Aku janji, aku tidak akan pernah berkata 'cerai' pada Sasuke," ucap Sakura mantap. Ibunya semakin tersenyum senang mendengar janji anaknya.

.

.

.

"…dengan ini, kalian sah sebagai suami-istri."

~~~0~~~

.

.

.

Mereka telah sah sebagai suami-istri. Sasuke sangat menyayangi Sakura, begitupun sebaliknya. Mereka sangat rukun. Sasuke belum ingin punya anak, jadi dia menyuruh Sakura meminum pil KB. Sakura awalnya setuju, tapi lama-lama, ia bosan. Sakura ingin punya anak sekarang, ia tak mau menunggu, sampai ia memperbincangkan hal ini pada Sasuke.

"Sasuke-kun, aku ingin punya anak…" Sakura menghampiri suaminya yang kini membaca buku tebal. Sasuke melirik Sakura sebentar lalu kembali membaca.

"Aku belum ingin," kata Sasuke datar.

"Kenapa? Sampai kapan kita akan menundanya?"

"Sampai aku siap. Aku ingin menikmati masa-masa kita berdua dulu, tanpa ada pengganggu. Tanpa ada anak terlebih dahulu," kata Sasuke. Sakura mulai merasa kesal.

"Kau selalu saja menyuruhku meminum pil KB, kau tahu Sasuke-kun? Meminum pil itu sama saja secara tidak langsung 'membunuh' calon bayi kita!" Nada bicara Sakura meninggi. "Kau selalu saja menyuruhku ini dan itu tanpa mendengar omonganku sama sekali! Kau egois Sasuke-kun!"

PAAAKK!

Sakura tersentak kaget mendengar suara keras oleh Sasuke yang menutup buku tebalnya dengan keras sehingga menimbulkan suara yang membuat Sakura kaget. Sasuke beranjak menuju Sakura dan membisikkan sesuatu di telinga Sakura.

"Aku mohon, jangan memancing emosiku, keadaan perusahaan sedang tidak baik sekarang. Aku tidak ingin bertengkar denganmu karena masalah ini." Setelah berkata demikian, Sasuke pergi. Meninggalkan Sakura yang meneteskan air matanya. Sejak hari itu, mereka sering bertengkar. Mempertengkarkan berbagai macam hal, hal sekecil apapun, jika tak ada kecocokan antara mereka berdua, mereka pasti bertengkar. Membuat mereka berdua perlahan-lahan menjauh satu sama lain.

.

.

.

Sakura bersenandung kecil seraya menghias bento buatannya. Hari ini ia akan membawakan Sasuke makan siang, sekaligus ingin memperbaiki hubungan mereka lagi. Ia bertekad tak akan bertengkar hari ini. Ia berhenti bekerja di perusahaan sejak mereka menikah, tentu saja, Sasuke yang menyuruhnya berhenti. Tentang biaya ayah Sakura, Sasuke lah yang menanggungnya.

Sakura berlari-lari kecil menuju ruangan Sasuke. Pintu ruangan Sasuke sedikit terbuka, sehingga Sakura dapat mengintip ke dalam.

"…tapi bagaimana dengan bayi ini, Sasuke?"

Deg!

Sakura menghentikan langkahnya saat dia mendengar suara wanita dari ruangan Sasuke. Ia mengintip ke dalam ruangan itu. terlihat Sasuke dan wanita bercepol dua yang sedang memegangi perutnya yang masih rata.

"Masa aku harus menggugurkannya?!" kata wanita bercepol dua itu. Sakura melihat Sasuke diam. Sakura tidak ingin berperasangka buruk terhadap suaminya.

"Aku masih punya perasaan! Laki-laki memang tidak mau bertanggung jawab atas anaknya!"

Klontangg…

Sakura menjatuhan rantang miliknya. Suara rantang yang jatuh itu tidak terdengar sampai di dalam ruangan. Sakura memuturkan untuk memungut makanan yang jatuh itu. Saat berhasil memungutnya, Sakura kembali mengintip. Mata emeraldnya sukses membelalak lebar saat melihat Sasuke berpelukan dengan wanita itu. Mata emerald Sakura berkaca-kaca. Dan tanpa aba-aba, ia meninggalkan ruangan itu. Sekarang ia tahu, alasan mengapa Sasuke tak ingin anak darinya, karena ia telah mempunyai anak dari wanita lain!

.

.

.

"Tadaima…"

"Okaeri, Sasuke-kun…" Sakura menyambut Sasuke dengan senyuman. Sasuke melirik ke arah mata Sakura. Mata Sakura sembab dan bengkak.

"Kau menangis?" tanya Sasuke sembari memegang pipi Sakura. Namun Sakura menepis tangannya.

"Tidak usah khawatirkan aku, khawatirkanlah wanita bercepol dua itu!" Sasuke terkejut saat mendengar perkataan Sakura.

"Bercepol dua? Ten-Tenten?" ucap Sasuke terbata-bata.

"Akhirnya aku tahu alasan kenapa kau tidak ingin anak, itu karena kau sudah punya keturunan dari wanita lain!" ucap Sakura dengan suara meninggi. Sasuke hanya diam mendengarnya.

"Kenapa diam, heh?! Membayangkan saat wanita itu memelukmu tadi?" kata Sakura sinis. "Atau saat bercinta dengan wanita j****g itu?!" Sasuke menatap Sakura tajam.

"Jaga mulutmu Sakura!" bentak Sasuke. Dibentak seperti itu, membuat Sakura terisak, membuat Sasuke merasa bersalah.

"S-Sakura…"

"Aku kecewa padamu! Aku percaya padamu! Tapi kenapa kau membuat rasa percayaku hancur begitu saja?!" Sakura mulai mengamuk.

"Sakura, tenang… dengar penjelasanku dulu…"

"Penjelasan?! Aku tidak perlu penjelasan konyolmu itu! Kau memang seenaknya saja memerintahku, aku sabar akan hal itu, tapi mengapa kau lakukan ini padaku?!" Sasuke mulai emosi mendengar perkataan Sakura.

"Memangnya kenapa kalau aku selingkuh?" Sakura menmandang Sasuke tidak percaya.

"Tentu saja aku marah! Kau menganggapku sebagai apa?!"

"Oh ya? Itu bukan urusanku!"

"Kau…" Sakura menunjuk Sasuke dengan jari telunjuknya.

"Apa? Kau mau marah padaku? Silahkan! Kau pikir aku akan memedulikanmu? Aku masih punya banyak urusan penting daripada memedulikanmu!"

"Dan urusan penting itu pasti dengan wanita j****g itu!"

PLAAAKK!

Mata emerald Sakura membelalak lebar. Rasa sakit dipipinya membuatnya refleks memegang pipi putihnya itu. ia memandang sosok di depannya dengan tatapan tidak percaya dan kecewa. Sasuke memandang Sakura dengan tatapan dingin.

"Jaga mulutmu…" Sasuke berkata dengan nada yang amat dingin. Sakura tetap diam sembari menatap Sasuke dengan pandangan tidak percaya.

.

.

.

"…kita cerai."

.

.

.

Dan semuanya berakhir. Takdir memang mempermainkan kalian berdua, bukan?

TBC

Hai minnaaaaa!

Gi mana tentang chapter ini? Memuaskan gak?#readers : kagaakk!

Maaf yah, udah telat update, hasilnya ancur gini, wkwkwkwk XD

Oh ya, aku mau balas review dulu :

Hanaretara :

Hai hana-san!#lambai-lambai

Hahaha… thanks udah bilang aku cantik meskipun itu Cuma rayuan#plaak

Makasih juga udah bilang cerita ini seru

Thanks juga udah review, review lagi yaaahh?

Hanazono yuri :

Hai yuri-san

Cinta segitiga? Hm… nanti deh aku liat, wkwkwk XD

Thanks udah review, review lagi dooongg#puppy eyes

Rura seta :

Salam kenal rura-san!

Hehe.. ini udah dijelaskan kenapa mereka cerai, yaah.. meskipun gak jelas =="

Soal Gaara, kita liat aja nanti deh.. fufufu..

Oke, thanks dah review, review lagi! ^b^

Tsurugi De Lelouch :

Hai tsurugi-senpai!

Haha.. kata-kata tsurugi-san boleh kuambil untuk chapter depan nggak? XD

Thanks dah review, review lagii!

Hinamori Miko Koyuki :

Haiii!

Sedih atau tidaknya, ikutin aja yaahh#plak!

Ahaha.. yang nggak selamanya sedih lah, maksih udah review… review lagi yaahhh ^^"

.77 :

Holaaa~~

Ini udah dijelaskan kenapa mereka cerai XD

Makasih udah review dan bilang cerita ini bagus.. review lagi yaahhh!#puppy

Harukichi Ishinomori :

Makasih udah review! Reviewmu juga baguss..*prokkprokkprokk*#apa'an?

Review lagi doongg! ^^

Ayano Futabei :

Haha.. maaf telat update ^^"

Makasih reviewnya ayano-san! Review lagi ddoongg! XD

Sami haruchi :

Orang ketiganya akan ditentukan nanti, aku pikir-pikir dulu yaahh…#plak

Oke, thanks udah review, review lagi ^^

Deshe Lusi :

Haha… aku memang author yang suka bikin orang bingung(?)

Oke, thanks udah review! Review lagi ^^

Azu Rizu :

Salam kenal Azu-san ^^

Makasih udah review dan bilang cerita ini menarik ^^ #terharu

Review lagi donngg!#puppy

Hidan gak bisa mati :

#sweatdrop

Makasih atas pujian sekaligus hinaannya om =v=

Hahahaha! Makasih udah review dan fave hidaann! Review lagi, oke? Harus!#plak

Aku rasa udah cukup…#tepar

Mohon maaf atas kesalahan dalam penulisan nama yah… maklum, orang ngantuk…

Hn, terkahir…

REVIEW PLEASE!

Arigatou~

Hany-chan DHA E3