Still
Rated : T (teen)
Pairing : SasuSaku of course ;)
Genre : romance, friendship, hurt/comfort
Warning : Ooc, abal, jelek, garing, bikin sakit kepala, typo berantakan, dll.
.
.
.
Chapter 4 : When the hatred starting to dissapeared
Sakura menatap pemandangan malam melalui balkon rumahnya. Kenangan masa lalunya kini kembali menghantui pikirannya. Ingatan-ingatan itu seakan selalu mengikuti Sakura dimanapun dan kapanpun wanita itu berada. Setelah cerai, Sakura memilih untuk hidup di kampung bersama ibu dan ayahnya, dan mendengar kabar angin bahwa Sasuke pindah ke Paris untuk memimpin salah satu perusahaannya di sana. Sedangkan Tenten tidak diketahui keberadaannya. Sakura masih ingat bagaimana belaian kasih sayang ibunya saat ia pulang ke rumah ayah dan ibunya seraya menangis tersedu-sedu, Sakura ingat perkataan ibunya bahwa dunia ini pasti akan berputar, pasti tidak akan selamanya Sakura merasakan sakit, pasti ada kalanya ia akan merasa senang.
Dua tahun di rumah ayah dan ibunya, Sakura bagaikan burung yang hidup di sangkarnya. Ia hanya sebuah pajangan di rumahnya sampai wanita itu memutuskan untuk kembali ke Konoha bertujuan untuk melanjutkan kuliahnya yang sempat tertunda. Baru seminggu di Konoha, dia sudah bertemu mimpi buruknya. Ia sama sekali tak menyangka bahwa pria itu telah kembali. Pria yang telah menjalin hubungan resmi dengannya selama satu tahun.
Drrtt…drrtt..
Sakura tersentak begitu mendengar getaran handphone-nya. Ia mengambil handphone berwarna senada dengan rambutnya itu.
Pig is calling…
Sakura segera menekan tombol hijau yang berada di handphone-nya dan memulai pembicaraan.
"JIDAT!" Sakura segera menjauhkan hapenya dari telinganya ketika mendengar suara cempreng Ino.
"Ada apa?" tanya Sakura malas. Ino hanya cengengesan di seberang sana.
"Hehehe… aku hanya kurang kerjaan, kau sedang apa?"
"Hanya mengingat masa lalu yang membosankan," jawab Sakura sekenanya.
"Membosankan? Wah... Bukankah saat itu kau merasa senang?" Sakura mengernyit mendengar perkataan Ino.
"Kau mengejekku?" Nada bicara Sakura mulai tak bersahabat, namun Ino tak menghiraukannya.
"Tidak, aku tidak mengejekmu. Tapi aku hanya mengingatkanmu bahwa betapa bahagianya kau dulu, meskipun berujung dengan sakit hati." Sakura terdiam mendengar perkataan Ino kali ini.
"Ayolah Sakura… selama ini, kau hanya mengingat 'kesakitan'-mu saja, kau tidak pernah mengingat masa-masa bahagiamu, kau terlarut dalam kesedihan dan kesakitan. Selama bercerai dengan Sasuke, kau hanya mengingat kata 'cerai' saja, dan tidak mengingat kata-kata 'aku mencintaimu'."
"Kenapa aku harus mengingat kata-kata yang mengandung unsur kebohongan?" tanya Sakura sarkastik.
"Kebohongan? Sasuke mencintaimu Sakura, dia masih mencintaimu sampai sekarang," kata Ino.
"Kenapa kau kali ini berpihak kepadanya?" Sakura mulai curiga dengan Ino, Ino hanya tersenyum, biarpun Sakura tak dapat melihatnya.
"Aku baru saja bertemu Sasuke. Dia bilang bahwa dia baru saja dari rumahmu, dan dia juga bilang bahwa kau hampir saja diperkosa oleh para preman, dan saat itu dia datang menolongmu." Sakura memutar bola matanya bosan. Sasuke memberitahu sosok 'kepahlawanan'-nya saja pada Ino, dan tidak menceritakan sosok 'membuka laci orang sembarangan'.
"Kau langsung berpihak padanya saat mendengar ceritanya?"
"Tidak, bukan karena ceritanya. Tapi emosinya. Saat bercerita, dia terlihat sangat emosi dengan para preman itu. Baru kali ini aku lihat si Uchiha itu menampilkan ekspresi selain wajah stoicnya," jawab Ino. "Aku juga tidak terlalu mendukungnya, tapi… aku hanya ingin kau tidak terlalu membencinya, bagaimanapun, dia telah memberi kebahagiaan untukmu, Sakura." Sakura bungkam mendengar perkataan Ino. Perkataan Ino ada benarnya juga, sepertinya dia cukup keterlaluan pada pria berambut raven itu.
"Hhh… perkataanmu ada benarnya juga," ucap Sakura yang membuat Ino tersenyum puas di seberang sana.
~~~0~~~
.
.
.
Sasuke berjalan memasuki rumahnya. Hari yang meletihkan. Di mulai dari pekerjaannya, menghajar preman, dan berakhir dengan diusir. Sasuke menghela nafas. Ia baru saja bertemu dengan sahabat Sakura yang super duper cerewet yang memaksanya untuk menjelaskan semua hal yang terjadi padanya dan Sakura hari ini, membuat Sasuke terpaksa harus menceritakannya, membuatnya semakin letih.
Sasuke memasuki kamarnya. Kamarnya dengan Sakura dulu, bahkan foto pernikahan mereka masih terpajang di dinding ruangan itu. Sasuke menatap Sakura. Apa ia harus melupakan wanita itu? Jika memang ini yang terbaik, ia akan melupakannya secara perlahan. Namun, ia jadi teringat Gaara. Bayangan bahwa Sakura akan bersama pemuda itu membuat Sasuke merasa marah dan cemburu. Tidak. Ia akan berusaha mendapatkan Sakura kembali. Sasuke bukanlah orang yang pantang menyerah. Sakura pasti akan kembali padanya, dan saat itu, Sasuke akan benar-benar membahagiakannya dan tidak akan menyakiti wanita itu lagi.
.
.
.
Sasuke memasuki supermarket yang berada dekat dari kantornya. Semua pegawainya seolah-olah tiba-tiba menghilang, sehingga dialah yang terpaksa harus pergi sendiri membeli minunam ketika ia kehausan. Sasuke mendekati tempat minuman di dalam supermarket itu, mencari minuman yang terlihat segar untuk diminum saat cuaca panas seperti ini. Ketika melihat minuman yang sepertinya cocok, Sasuke segera mengambilnya. Namun tangannya bersentuhan dengan tangan mungil seseorang yang nampaknya juga ingin mengambil minuman itu. Sasuke menoleh ke arah sang empunya tangan, Sasuke sekali lagi terkejut melihat orang itu.
"Sakura?" Sakura juga tidak kalah terkejutnya melihat Sasuke. Sungguh kebetulan. Mereka selalu saja bertemu secara tak terduga seperti ini.
"Ah, Sasuke? Bagaimana lenganmu?" tanya Sakura. Sasuke terheran melihat perlakuan Sakura. Ada apa dengan wanita itu?
"Sudah baikan. Kau sedang apa di sini?" tanya Sasuke juga berusaha bersikap normal.
"Aku ingin membeli makanan untuk makan malam nanti, kau sendiri?"
"Hanya sedikit haus," jawabnya.
"Mm… aku… juga ingin meminta maaf, aku rasa kau sudah keterlaluan padamu," kata Sakura. Sasuke sekali lagi terheran.
"Ah, iya. Tidak apa."
Hening. Tak ada yang memulai percakapaan. Masing-masing pihak tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
"Mmm… Sakura?" Sasuke memulai pembicaraan. Sakura mendongak menatap Sasuke yang lebih tinggi darinya dengan pandangan bertanya.
"Mau makan siang denganku?" tawarnya. Sakura nampak berpikir. Apa ia harus menerima ajakan itu?
"Aku tidak memasakmu," kata Sasuke. "Aku hanya menawarkan sebuah aja-"
"Aku mau." Kata-kata Sasuke terputus begitu mendengar jawaban Sakura. Sakura juga bingung akan jawabannya, kata-kata itu begitu saja meluncur dari bibir mungilnya. Sasuke tersenyum kecil.
"Mau makan di mana?" tanyanya.
"Di dekat sini saja, aku masih harus bekerja setelah makan siang." Sasuke hanya menuruti perkataan Sakura. Mereka makan di sebuah kafe dekat restaurant tempat Sakura bekerja. Setelah makan, mereka memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di taman di sekitar tempat itu.
"Bagaimana kuliahmu?"
"Baik." Begitulah percakapan singkat dari mereka berdua, sampai mereka di kagetkan oleh bunyi handphone Sasuke.
"Moshi-moshi?" Sasuke nampak berbicara pada sang penelpon.
"Sekarang? Ah aku… Hn, baiklah." Sasuke mengakhiri teleponnya. Sakura nampak tak peduli dan tetap melemparkan pandangan ke arah lain.
"Maaf, Sakura. Aku ada rapat mendadak," kata Sasuke dengan nada merasa bersalah.
"Tidak apa, ayo segera pergi! Rapat itu pasti penting!" perintah Sakura. Sasuke hanya mengangguk dan kemudian berjalan meninggalkan Sakura. Sakura sendiri masih diam di tempatnya. Ia merasa aneh. Kemarin dia dan Sasuke tidak seakrab ini. Hari ini mereka bagaikan teman lama, seolah tak ada yang terjadi diantara mereka berdua.
"Apa seterusnya aku sanggup seperti ini?" lirih Sakura. Jujur saja, masih ada perasaan sakit hati pada Sasuke. Tapi, selama bertemu dalam tiga hari ini, Sasuke sangat baik terhadapnya. Membuat Sakura tak tega untuk membencinya.
"Hai, Nona…" Seseorang menyapa wanita cantik itu dari belakang. Sakura membalikkan badannya dan mengernyitkan dahinya pertanda bahwa ia tak mengenal orang yang baru saja menyapanya.
"Namaku Gaara, Sabaku Gaara." Orang itu memperkenalkan diri sebelum Sakura sempat menanyakan namanya.
"Ah, ya, namaku Sa-"
"Sakura. Haruno Sakura." Perkataan orang itu sekali lagi membuat Sakura mengernyit heran. Kenapa orang ini bisa tahu namanya?
"Hahaha… wajah heranmu begitu lucu," ucapnya diselingi dengan tawa ringan. Namun Sakura masih terheran akan perilaku orang ini.
"Aku teman Sasuke. Aku tahu kau mantan istrinya," katanya enteng. Sakura beru mengerti sekarang.
"Jadi apa urusanmu?" tanya Sakura sarkastik. Sebenarnya siapa orang ini? Berani mengungkit hal pribadinya?
"Tidak ada, aku hanya ingin berkenalan denganmu. Betapa bodohnya Sasuke yang bercerai denganmu, kau bahkan lebih manis dilihat dengan wajah sedekat ini." Sakura baru ingat sekarang. Dia teman Sasuke yang pergi ke restaurant bersamanya kemarin siang.
"Terimakasih atas pujiannya," kata Sakura.
"Sama-sama." Pemuda itu tersenyum. Sakura sedikit blushing melihat senyuman pemuda berambut merah yang begitu menawan itu.
"Maaf Gaara-san, aku harus kembali ke tempatku bekerja sekarang," pamit Sakura. Gaara hanya mengangguk. Sakura membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan pemuda dengan tattoo 'ai' itu. Namun baru dua langkah Sakura berjalan, Gaara berteriak ke arahnya.
"Aku harap lain kali kita bisa mengobrol lebih panjang dari ini!" Sakura terdiam dan menyempatkan dirinya untuk menoleh sejenak, membuat pemuda itu tersenyum. Namun hanya sejenak sebelum Sakura benar-benar berlari kecil meninggalkannya.
.
.
.
Sakura mendecih kesal. Pemuda itu lagi. Mau apa dia datang di tempat kerja Sakura?
Sakura berpura-pura tidak melihatnya. Namun lama-lama merasa risih dengan pemuda it yang melihat setiap gerak-geriknya melalui kaca restaurant. Lama-kelamaan, Sakura keluar untuk menemui pemuda itu.
"Mau apa kau disini?" tanyanya.
"Melihatmu," jawab Gaara enteng. Sakura mendengus.
"Lebih baik kau meluangkan waktumu untuk hal yang lebih berguna." Sakura membalikkan badannya, hendak meninggalkan Gaara. Namun Gaara menahannya.
"Tunggu sebentar!" Sakura terdiam di tempatnya. Menunggu Gaara kembali berbicara.
"Mau jalan-jalan denganku?" tawarnya. Sakura kembali mendengus.
"Tidak usah! Aku bilang luangkanlah waktumu untuk hal yang lebih berguna!" Kali ini Sakura berkata dengan nada yang sengaja ditinggikan dan masuk ke restaurant-nya.
"Siapa dia?" bisik Ino pada Sakura. Sakura hanya menatapnya malas.
"Entahlah," jawabnya acuh. Ino menoel-noel Sakura.
"Pengganti Sasuke, heh?" Sakura mendetahglare Ino.
"Dia hanya teman Sasuke yang sok kenal sok dekat denganku, tidak lebih! Dan jangan kau sekali-kali menyebutnya sebagai pengganti Sasuke! Karena-"
"-karena tidak ada yang bisa menggantikan Sasuke di hatiku." Sakura menjitak Ino.
"Jangan seenaknya melanjutkan kata-kataku, Pig!" Ino kembali menjitak Sakura.
"Memang itu yang mau kau katakan, kan?!" Sakura kembali menjitak Ino.
"Bukan bodoh!" Dan dimulailah acara jitak-jitakan kedua sahabat itu. Persahabatan yang aneh.
.
.
.
"Sasuke?" Sakura terkejut melihat Sasuke menunggunya di depan rumahnya. Sasuke tersenyum tipis melihat Sakura.
"Hai," sapanya.
"Sedang apa kau disini?" tanya Sakura heran.
"Menunggumu, aku ingin mengajakmu berjalan-jalan ke taman ria. Kau mau?" Sakura terdiam. Ayolah… dia bisa saja menolak ajakan itu. Namun, entah kenapa dia tidak bisa berkata apapun.
"Diam berarti iya." Sasuke menarik Sakura yang tidak sempat melawan ke mobilnya. Merekapun pergi ke taman ria yang tidak jauh dari rumah Sakura. Sakura terlihat senang di taman ria itu, taman itu memang tidak jauh dari rumah Sakura, namun kesibukan Sakuralah yang membuat wanita itu tidak sempat untuk pergi ke sana dan mencicipi beberapa permainan serta makanan yang dijual di sana.
"Kau mau masuk ke rumah hantu?" Sakura merinding mendengar ajakan Sasuke. Ekspresinya langsung pucat mendengar kata 'rumah hantu'.
"Kau takut, heh?" ejek Sasuke. Sakura yang tidak suka diejek pun mulai menampakkan wajah angkuh.
"Siapa takut?!" katanya. Sasuke terkekeh pelan dan segera menarik Sakura. Di dalam rumah hantu, Sakura berkali-kali memanjatkan doa agar diberi keberanian. Wanita itu berkali-kali memegang erat baju Sasuke saat hantu-hantunya mulai bermunculan. Setelah keluar, barulah Sakura merasa lega dan segera menarik Sasuke menuju stand tempat penjual aksesoris.
"Kyaa! Yang ini lucu sekali!" Sakura menunjuk boneka putih yang cukup besar yang dipajang di stand itu. Melihat ekspresi Sakura, membuat Sasuke segera mengeluarkan dompetnya.
"Berapa harga boneka itu?" Sakura menoleh ke arah Sasuke dengan pandangan heran.
"Maaf Tuan, boneka itu tidak dijual," kata paman penjaga stand tersebut.
"Kalau tidak dijual, kenapa dipajang?" tanya Sasuke.
"Boneka itu akan diberikan jika Tuan berhasil menembak bebek," jelas paman it.
"Bebek?" tanya Sasuke heran. Namun ia segera mengerti melihat mesin di belakang paman itu.
"Baiklah, aku akan mencobanya." Paman itu memberi tembak pada Sasuke. Mesin itu mulai bergerak. Bebek mainan berwarna kuning itu bergerak dengan cepat. Sasuke mulai mengarahkan tembaknya kepada bebek itu. Mencermati setiap gerak-gerik sang bebek.
Dor!
Sasuke berhasil menembak bebek itu dengan sekali tembakan. Membuat paman penjaga stand itu menatapnya takjub, namun segera memberikan boneka itu pada Sakura, yang membuat Sakura memekik kegirangan.
"Anda mempunyai pacar yang begitu baik, Nona," kata paman itu pada Sakura. Wajah Sakura memanas mendengar perkataan paman itu. Ia melirik ke arah Sasuke, Sasuke nampak tak mendengar perkataan paman itu. Sakura hendak menjelaskan bahwa Sasuke itu bukan pacarnya, namun Sasuke segera memanggilnya untuk menuju ke tempat lain. Sakura akhirnya hanya tersenyum pada paman itu dan berlari kecil menuju Sasuke.
"Sasuke!" panggilnya saat Sasuke terus berjalan tanpa menunggunya.
"Cepatlah," perintah Sasuke. Sakura semakin mempercepat larinya agar sejajar dengan Sasuke.
"Sasuke, aku… ingin membicarakan satu hal." Langkah Sasuke terhenti. Sakura juga ikut terhenti dan kemudian melanjutkan perkataannya.
"Selama bercerai, aku memutuskan untuk membencimu. Tidak ingin menemuimu lagi." Sasuke menunggu Sakura berbicara.
"Namun Ino menyadarkanku bahwa kebencian hanyalah kekosongan belaka." Sasuke kini memandang Sakura penuh tanya.
"Maka dari itu, aku tidak ingin membencimu lagi," kata Sakura dengan senyuman, membuat Sasuke terpengarah.
"Bisakah kita… memulai semuanya lagi…" Sakura menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan senyuman.
.
.
.
"…sebagai teman?"
.
.
.
Tbc
Hello minna :D
Telat update yah? Hehe… gomen!
Oh ya, aku langsung saja membalas review yang unlogin yah, waktuku tidak banyak untuk berbacot ria
Ucucubi :
Hahaha…#tawa laknat
Sasuke memang bersalah! Wkwkwk….#dichidori
Btw, thanks reviewnya, review lagi?
Adem ayem :
Hai adem ayem-san
Salam kenal sebelumnya,
Hehe… apa di fic ini penyesalan Sasu kurang berasa?
Thanks reviewnya, review lagi ^^
Guest :
Wah, singkat banget O.O
Hehe… thanks reviewnya, review lagi ^^
Uchiha :
Huaaa… saya juga gak rela..! #plaakk
Haha… ini Sasu udah menderita kok, atau mau kubikin lebih menderita?#sadis mode on
Btw, thanks udah review, review lagi yah?
Sasu-kun :
Cinta segilima?! Aku baru denger =="
Wah, rencananya mungkin mau bikin sampai cinta segiduabelas#plaakplakkplakk
Heehe… thanks udah review, review lagi?
Itu udah semua! Hehehe…
Btw, sebelum kalian mengamuk akan kejelekan chap ini, aku pergi dulu!
REVIEW PLEASE! #menghilang
Arigatou~
Hany-chan DHA E3
