Pemilik onyx itu terdiam. Ia menundukkan wajahnya, tak ingin jika pemilik emerald di depannya melihat ekspresinya saat ini. Sedangkan pemilik sang emerald tadi terlihat menunggu jawaban pria di depannya yang masih saja menundukkan wajahnya.
"Sasuke…?" panggilnya. Namun pria itu tak menghiraukannya. Pria itu kemudian membalikkan badannya dan melangkah menjauhi Sakura yang heran melihat tingkahnya yang semena-mena meninggalkannya. Namun sedetik kemudian, pria itu terhenti dan kemudian membalikkan badannya.
"Apa yang kau lakukan?" tanyanya seraya menaikkan alisnya. Sakura hanya melihatnya tanpa ada tanda-tanda untuk menjawab pertanyaannya. Sasuke menghela nafas berat. Dan kemudian menjulurkan tangannya.
"Ayo berjalan bersama, sebagai teman…"
.
.
.
Still
Rated : T (teen)
Pairing : SasuSaku of course ;)
Genre : romance, friendship, hurt/comfort
Warning : Ooc, abal, jelek, garing, bikin sakit kepala, typo berantakan, dll.
Don't like? Don't read!
.
.
.
Chapter 5 : She is come back?!
.
.
.
"Pergi dari hadapanku!"
"Tidak akan."
Sakura menggeram kesal melihat tingkah pemuda berambut merah di depannya. Pemuda itu sungguh telah membuat Sakura naik pitam. Sebenarnya apa yang diinginkan pemuda itu?
"Baiklah, Gaara. Sekarang katakan apa yang kau inginkan." Sakura berkata seraya melipat tangannya di depan dadanya, sedangkan Gaara menyeringai tipis saat mendengar ucapan Sakura.
"Aku menginginkanmu," ucapnya tanpa beban. Sakura membulatkan mata emeraldnya. Pemuda ini sudah gila!
"Hentikan omong kosong ini!" teriak Sakura. Gaara terdiam mendengarnya.
"Kau…" Sakura menunjuk Gaara dengan geram. "Sudah membuat emosiku naik!" lanjutnya. Gaara tersenyum simpul mendengarnya. Entah apa yang membuatnya tersenyum, namun wajah Sakura sedikit memanas mendengar senyum pemuda itu.
"Aku tahu kau tidak bisa melupakan Sasuke, tapi aku yakin aku akan dapat membuatmu melupakan pria brengsek yang sudah menyakitimu itu." Sakura sekali lagi membelalakkan matanya. Bisa-bisanya untuk yang kedua kalinya pemuda itu mengungkit kehidupan pribadinya! Apalagi kehidupan yang tidak akan pernah lagi ia sentuh.
"Apa yang kalian lakukan?" Suara baritone dari belakang Sakura membuat pandangan keduanya dilemparkan pada asal suara. Dan tampaklah seorang pemuda dengan wajah datar dan tangan yang dimasukkan ke kantung celananya berdiri dengan tegap di belakang Sakura. Ia menatap kedua insan di depannya dengan pandangan datar nan curiga. Dan kemudian menatap pemuda berambut merah di depannya dengan pandangan tajam, tidak ingin dikalah, pemuda berambut merah dengan tattoo 'ai' di dahinya juga balik menatap tajam pria itu. Sakura yang merasakan adanya aura berbeda dari keduanya segera memecah perang dingin itu.
"Kenapa kemari, Sasuke?" tanya Sakura. Sasuke melepas pandangan tajamnya dengan Gaara dan menatap Sakura dengan pandangan datar seperti biasanya.
"Aku hanya ingin berkunjung ke restaurant-mu, dan tak sengaja melihat kalian di sini." Sakura mengangguk mengerti mendengar penjelasan Sasuke.
"Cih, kenapa kalian berbaikan? Bukannya kalian selalu bertengkar?" Sasuke mendelik ke arah Gaara. Pemuda berambut merah itu sungguh menyebalkan. "Sakura…" Gaara menggenggam tangan Sakura lembut, tatapan tajam dari onyx milik Sasuke tak dihiraukannya.
"Aku menyukaimu… aku yakin kau bisa bahagia bersamaku…"
Sakura tertegun mendengar perkataan Gaara. Sasuke pun ikut membelalakkan matanya. Kemudian ia memisahkan tangan Gaara dari tangan Sakura secara paksa.
"Jangan dengar dia, Sakura!" perintah Sasuke.
"Bukannya kau yang semestinya tak perlu didengar, heh? Kau sudah menceraikannya! Berhentilah mengejar masa lalumu itu!" Sasuke mencengkram kerah Gaara.
"Hentikan!" Sakura melerai mereka berdua, namun karena tubuhnya yang mungil, ia hanya menjadi pajangan atau bagaikan semut penganggu di situ.
"Apa? Kau mau memukulku? Perkataanku benar kan?" Gaara tersenyum mengejek. Sasuke mengepalkan tangannya.
"HENTIKAN!" Teriakan Sakura membuat keduanya berhenti. Lebih tepatnya, Sasuke yang mengendurkan cengkramannya pada kerah Gaara.
"Kau…" Sakura menunjuk Gaara. "Kau tak berhak mencampuri urusan pribadiku!" bentak wanita pink itu. "Dan kau Sasuke…" Kali ini Sakura menunjuk Sasuke. "Kau jangan cepat emosi!" Kedua pria tampan itu terdiam mendengar perkataan Sakura. Wanita itu menghentakkan kakinya dan meningglkan dua pemuda itu. Saat sosok Sakura menghilang, keduanya saling menatap tajam satu sama lain.
"Lihat saja, aku pasti akan merebutnya," desis Gaara, kedua mata hazelnya memandang onyx di depannya.
"Coba saja kalau kau berani," desis Sasuke tak mau kalah.
.
.
.
"Lho? Kenapa kau kesal Sakura?" Ino memandang Sakura heran saat wanita itu memasuki restaurant dengan wajah kesal.
"Ada dua serangga yang menggangguku." Ino cengo mendengar alasan kekesalan Sakura.
"Eh, soal Sasuke… bagaimana hubunganmu dengannya?" goda Ino, Sakura berdecak pelan.
"Aku sudah berteman dengannya," ucap Sakura cuek. Ino tersenyum geli mendengarnya.
"Sudah kuduga, Sasuke pasti masih berpengaruh padamu," ucap Ino senang.
"Kau disogok apa olehnya?" tanya Sakura tajam.
"Eh?"
"Pasti kau disogok olehnya, mana mungkin kau langsung membelanya hanya karena mendengar cerita tentang kepahlawanannya melindungiku dari preman 'kan?" pandangan Sakura seolah mengintimidasi Ino, Ino nyengir memandangnya.
"Hehe…" Sakura semakin menyipitkan matanya. "Mencurigakan." Ucapnya.
"Huh, aku tersinggung kau bilang seperti itu. Aku sama sekali tak disogok, tapi hatiku yang berbicara," ucap Ino puitis mengikuti suaminya.
"Aku tak percaya," ucap Sakura masih dengan tatapan mencurigai Ino, Ino mengendikkan bahunya.
"Terserah kau." Ino kemudian meninggalkan Sakura yang mendengus kesal.
.
.
.
Drrtt… Drrtt…
Sasuke menaikkan sebelah alisnya saat merasakan ponselnya bergetar. Ia memandang layar ponselnya, sebuah nomor tak dikenal menghubunginya. Sasuke berusaha tak menghiraukannya, paling orang iseng, batinnya. Namun ponselnya tak berhenti bergetar, membuat Sasuke berdecak kesal. Siapa gerangan orang yang menganggu waktu istirahatnya saat ini?
"Halo…" ucapnya malas.
"Hai Sasuke-kun~" Suara yang terkesan manja tersebut membuat Sasuke membelalakkan matanya. Suara familiar yang membawanya ke masa lalunya.
"T-Tenten?"
"Kau bahkan masih mengingat suaraku! Aku tersanjung…" Sasuke mendengus kesal. Mau apa lagi wanita itu?
"Kau pasti sedang bertanya mau apa aku menelponmu…" Benar. Dan cepat jawab, karena aku tak punya banyak waktu, batin Sasuke.
"Tak usah terburu-buru, aku hanya mau mengatakan bahwa-"
Pip..
Sasuke mematikan ponselnya, mematikannya sampai benar-benar mati, lalu menceburkan kartunya di air minumnya. Agar wabita itu tak lagi mengusiknya. Sasuke bahkan bingung, dari mana wanita itu mendapatkan nomor ponsel yang termasuk rahasianya itu? Sasuke menutup matanya. Tidak. Ia tidak akan membiarkan wanita itu memasuki hidupnya lagi, tidak akan! Sasuke mengingat Sakura yang dulu memandangnya dengan tatapan sakit saat ia menyinggung Tenten, dan Sasuke bertekad untuk membuat Sakura tidak menatapnya dengan pandangan sakit seperti itu lagi. Tidak akan pernah lagi!
.
.
.
"Selamat da- Sasuke?" Sakura terkejut melihat Sasuke datang ke restaurantnya menggunakan pakaian santai. Kaos hitam yang dilindungi oleh jaket biru dongker serta celana jeans, orang-orang yang melihatnya pasti tak akan menyangka bahwa pria itu sudah menikah sebelumnya.
"Hn."
"Mau apa kau ke sini?" tanya Sakura.
"Memangnya ada larangan aku ke sini?" Dari nada bicaranya yang terbilang ketus, Sakura dapat menyimpulkan bahwa Sasuke sedang bad mood saat ini, entah karena apa, Sakura tak tahu dan nampaknya tak mau tahu.
"Aku pesan lemon tea, " ucap Sasuke. Sakura mengangguk dan berjalan ke dapur restaurant itu. Sasuke duduk di salah satu kursi pengunjung, ia melihat di sekitar restaurant itu. Restaurant bertema klasik namun modern. Sungguh tempat yang nyaman untuk menenangkan diri.
"Ini lemon tea-nya…" Sakura menyerahkan lemon tea pada Sasuke dan disambut anggukan oleh pemuda itu.
"Tunggu sebentar Sasuke, aku ke dalam dulu," pamit Sakura, Sasuke mengangguk, sungguh egois kalau dia meminta Sakura menemaninya di saat restaurant ini padat akan pengunjung. Dari kejauhan, Sasuke dapat melihat Sakura menerima telepon dari sesorang, dan wajah gadis itu seketika ceria saat menerima telepon. Sasuke menaikkan alisnya, penasaran dengan si penelpon yang menelpon Sakura. Sasuke jugta dapat melihat Sakura celingak-celinguk, nampak mencari sesuatu, dan tatapan bingung itu tertuju padanya, Sakura kemudian tersenyum dan mendekati Sasuke.
"Sasuke… bisa aku minta tolong padamu?" tanyanya hati-hati. Sasuke tersenyum kecil.
"Tentu saja, ada apa?" tanya Sasuke.
"Bisa kau mengantarku menuju bandara? Kau tahu Karin kan? Dia akan berjalan-jalan ke Jepang untuk syuting film, jadi dia minta di jemput." Sasuke mengangguk. Ia jelas mengenal Karin. Sepupu Sakura yang sangat cerewet yang sangat memerhatikan penampilan. Tapi semua orang memakluminya disebabkan sepupu Sakura itu artis yang tinggal di London saat ini.
"Kya~ terimakasih Sasuke! Kau memang teman yang baik! Tunggu sebentar yah!" Sakura tersenyum riang dan lagi-lagi memasuki dapur. Melepas seragam kerjanya, mungkin? Namun itu tidak penting, yang terpenting adalah hati Sasuke yang miris. Teman. Sasuke tak tahu harus senang atau sedih mendengar kata itu. Sedetik kemudian, Sakura siap dengan bajunya yang telah diganti. Sasuke juga beranjak dari meja pengunjungnya dan keluar restaurant menuju tempat parkir.
"Ng… apa benar tak apa Sasuke?" tanya Sakura memastikan, ia merasa tidak enak pada Sasuke. Pria itu pasti mengunjungi restaurant-nya untuk refreshing, dan malah disuruh menjadi supir seperti ini. Sasuke mengangguk dan tersenyum kecil, meski tak mengucapkan sepatah katapun, namun Sakura mengerti bahwa Sasuke pasti tak keberatan.
.
.
.
Di bandara
Ramai. Sesak. Polusi. Itulah yang dirasakan kebanyakan orang yang berada di bandara. Seperti apa yang dirasakan Sasuke saat ini. Pria yang satu itu memang sama sekali tak menyukai keramaian, namun, karena ada Sakura, akhirnya pria itu menurut saja untuk mengantarnya.
"Sakuraaa~!" Sebuah teriakan membuat Sasuke dan Sakura menoleh. Saat ini mereka melihat seorang gadis modis berkecemata dan berambut merah mendekati mereka berdua.
"Karin!" Kedua sepupu itu saling berpelukan.
"How are you, Cherry?" Karin tersenyum sumringah. Pasti gadis itu sangat senang sampai tak sengaja berbicara menggunakan bahasanya.
"Baik, Karin!" jawab Sakura. Karin menatap Sasuke.
"Eh, Sakura… bukannya kau sudah bercerai dengannya?" bisik Karin. Sakura tertawa renyah.
"Ya, memang. Tapi perceraian bukan berarti perpisahan dalam dunia persahabatan 'kan?" Karin tersenyum melihat Sakura.
"Hihihi… you're really kind, cherry!" ucap Karin. Sakura melirik Sasuke menggunakan ekor matanya, nampaknya pria itu tidak terlalu memedulikan Sakura dan Karin dan malah sibuk mengotak-atik ponselnya.
"Biklah, Karin… ayo kita ke rumahku!" ajak Sakura yang disambut anggukan dari Karin.
"Hey Sasuke?" Sasuke tersentak dan menoleh ke arah Sakura. Ia kemudian mengangguk, namun, saat mereka hendak membalikkan badan-
"Nah, Hikari-chan… itu ayahmu!" Suara familiar terdengar di telinga Sakura dan Sasuke yang sukses membuat langkah keduanya terhenti. Mereka serempak membalikkan badannya. Sakura dan Sasuke sukses membelalakkan matanya melihat wanita yang berada di depan mereka saat ini. Mimpi buruk. Mimpi buruk masa lalu kini kembali datang. Keduanya sama-sama memandang mimpi buruk mereka. Seorang anak kecil dan wanita yang berada di sampingnya tersenyum memandang merak berdua.
"Hai…" Wanita itu menyapa mereka. Tidak. Itu sama sekali tidak memperbaiki keadaan mereka.
.
.
.
"T-Tenten?!'"
.
.
.
TBC
Gomen pendek, hancur, membingungkan, bikin kesal, dan sebagainya…. T.T
Aku yakin mengecewakan, apalagi saat Tenten muncul, wkwkwk… berkepribadian ganda
Haha.. saatnya membalas review unlogin :
Ryuche :
Haii! Nih, Tenten udah muncul XD
Menderita? Tentu saja! Hohoho…#plak
Thanks udah review, review lagi! ^^
Uchiha :
Tenten pergi ke bulan…#kalem #plakplakplak
Haha… banyak banget yang request bikin Sasu menderita T.T
Thanks udah review, review lagi yahh?
Untuk yang login, silahkan cek PM kalian ^^
Oke, bye bye! Sampai jumpa chapter depannn!
Arigatou!
Review please!
