Mimpi buruk memang selalu datang disaat tertentu yang sangat kita tidak inginkan. Sesuatu yang akan membuat seseorang merasakan sakit yang mendalam memang selalu muncul tiba-tiba bak air yang mengalir, mengalir bersama kehidupan yang terus berjalan seiring berjalannya waktu. Dan saat itu, semuanya tergantung kepada kita, bagaimana kita menanggapi mimpi buruk tersebut, bahkan ataupun dengan sesuatu yang pasti akan menyakiti orang lain.
Still
Rated : T (teen)
Pairing : SasuSaku of course ;)
Genre : romance, friendship, hurt/comfort
Warning : Ooc, abal, jelek, garing, bikin sakit kepala, typo berantakan, dll.
Don't like? Don't read!
Chapter 6 : The bad dream is coming
.
.
.
"T-tenten?!" Kedua insan berbeda warna surai tersebut memekikkan sebuah nama yang kini tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Sasuke meneguk ludahnya, Sakura memandang wanita bercepol dua di depannya dengan pandangan tak percaya. Sedangkan Karin menatap heran keduanya, namun memutuskan diam saat merasakan hawa keseriusan yang terjadi. Saat ini, Sasuke, Sakura, dan bahkan Tenten serta seorang gadis kecil yang berada di genggamannnya merasa bahwa bandara ini sepi, tak ada seorangpun selain mereka berempat, bahkan Karin pun ikut terlupakan oleh mereka.
"Hai, lama tak berjumpa, Sasuke, Sakura." Suara wanita itu terdengar di telinga Sasuke dan Sakura. Sakura yang lebih dulu tersadar oleh keterkejutannya kini memandang Tenten dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Hai," sapanya juga. Sasuke hanya terdiam. Pria itu tak sanggup berkata-kata lagi.
"Ah, ini Hikari, anakku dan…" Mata Tenten bergulir ke arah Sasuke yang masih terdiam. "…Sasuke."
Karin melongo mendengarnya. Apa? Anak Tenten dan Sasuke?
"W-what the f**k thing is this?!" serunya marah. Gadis berambut merah itu menatap Sasuke dan Sakura penuh dengan pandangan marah dan minta penjelasan. "Sakura! Jelaskan padaku!" ucap Karin. Sakura hanya tersenyum terpaksa dan menyeret Karin.
"Sudahlah Karin…" ucap wanita itu. "Kita pulang." Sakura menyeret paksa Karin yang masih meminta penjelasan pada mereka. Sedangkan Sasuke hendak menyusul Sakura, namun ditahan oleh Tenten.
"Hey! Jadi ini reaksimu saat bertemu anakmu? Dasar tak sopan, antar kami ke rumahmu! Aku tak punya tempat tinggal lagi di kota ini," kata Tenten menahan Sasuke. Sasuke menatap Tenten sinis.
"Lalu kenapa kau kemari? Kau meminta uang lagi?" tanya Sasuke.
"Huh! Kau sangat kasar Sasuke! Uang yang kau berikan dulu masih banyak, aku hanya ingin Hikari melihat ayahnya." Sasuke melihat gadis kecil yang berdiri di samping Tenten. Manis. Gadis kecil yang benar-benar mewarisi rupa Tenten itu benar-benar manis. Gadis itu memang benar-benar copy-an Tenten, bahkan gadis itu memang tak mirip Sasuke sama sekali, lebih condong ke ibunya yang membuat semua orang pasti tak percaya bahwa anak itu adalah anak dari Sasuke.
.
.
.
"Sekarang jelaskan padaku! Siapa wanita tadi? Dan… anak siapa itu?" Emerald Sakura bergulir gelisah mendengar pertanyaan Karin yang menggebu-gebu. Karin memang tidak mengetahui akibat Sasuke dan Sakura bercerai, bukan hanya Karin, seluruh kerabatnya tak mengetahuinya kecuali orang tuanya, mereka hanya menjelaskan bahwa Sasuke dan Sakura sudah merasakan adanya ketidakcocokan diantara mereka berdua sehingga mereka memutuskan untuk berpisah. Dan saat inilah yang ditakutkan Sakura, dimana salah satu keluarganya mendesak untuk mengetahui kebenaran dari masa lalunya yang mengakibatkan masa lalunya kembali menghantuinya. Ditambah lagi kedatangan Tenten yang membawa anak dari mantan suaminya, membuat mimpi buruk yang sudah pernah ia kubur dalam-dalam kembali terbuka.
"Sakura! Demi Tuhan! Aku sepupumu! Sepupu terdekatmu! Jika kau ada masalah, kumohon jangan menutup-nutupinya dariku!" Merasa tak dihiraukan, Karin mengeraskan suaranya, membuat Sakura semakin diselimuti perasaan gelisah.
"Sakura!" Sakura yang tadinya menunduk kini menatap Karin dengan sorot keputusasaan yang membuat Karin terhenyak memandangnya. "Sa-Saku…"
"Baiklah, sekarang waktunya-" Sakura menghirup nafas dalam-dalam. "-kau mengetahuinya."
.
.
.
"Tou-chan, ini rumah Tou-chan?" Sebuah tangan kecil menarik baju Sasuke yang membuat pria itu menunduk untuk melihat Hikari. Sasuke melihat Hikari dengan pandangan sebal, seenak jidatnya anak itu memanggilnya dengan sebutan 'Tou-chan', padahal Sasuke begitu tak suka mendengarnya. Sasuke berjongkok untuk menyamai tingginya dengan Hikari dan memegang kedua pundak anak itu.
"Dengarkan aku," Sasuke menatap anak itu tajam. "Jangan memanggil aku dengansebutan 'Tou-chan', mengerti?" Hikari menautkan kedua alisnya, membuat wajahnya semakin imut.
"Tapi kenapa?"
"Tidak usah tanya mengapa, aku hanya tidak suka mendengarnya." Sasuke berdiri, ekor matanya memandang Hikari yang menampilkan raut wajah sedih. Melihatnya membuat Sasuke sedikit iba juga, dia sadari dirinya jahat. Tapi ia juga tidak menyukai anak itu, siapa yang ingin anak dari wanita yang tidak diinginkannya? Wanita yang mengklaim bahwa dirinya telah dihamili oleh Sasuke ketika Sasuke dikuasai iblis jahat bernama alkohol?
Dan… tidak bisakah ia mengulang masa lalu?
.
.
.
~~~0~~~
.
.
.
Sakura terdiam. Karin terkejut. Gadis bersurai merah tersebut menutup mulutnya saking tidak percayanya dengan kenyataan yang diterima oleh sepupu kesayangannya. Ternyata, kisah sepupunya begitu menyakitkan. Ia tak menyangka seorang lelaki seperti Sasuke, yang dingin dengan wanita begitu tega berselingkuh. Ternyata, pepatah yang mengatakan bahwa 'Don't judge book by it cover' memang betul.
"Jadi… kenapa kau masih bersamanya?! Kau tidak sakit hati, hah?!" Inilah yang Sakura takutkan, Karin adalah seorang tempramental yang bisa melakukan apa saja yang bisa membuat dirinya puas dan sangat sensitive jika orang yang mereka sayangi terluka.
"Hubunganku dengannya membaik, aku akui dia sebenarnya pria yang baik, Karin." Karin mendecih mendengar perkataan Sakura.
"Baik? Kau begitu lugu Sakura! Pertahananmu begitu lemah! Bagaimana jika perilaku Sasuke yang menurutmu baik itu malah hanya sebuah topeng yang ia gunakan untuk kembali menjeratmu ke dalam rayuan palsunya yang akan membuatmu sakit hati lagi, hah?!" Sakura terdiam. Ia yakini perkataan Karin benar. Pertahanannya memang lemah, dan ia bukan lugu, ia bodoh. Sakura tersenyum getir.
"Aku… memang bodoh…" Karin terkejut mendengar lirihan Sakura. Gadis itu mengambil tempat duduk disamping Sakura dan mengelus punggung wanita emerald itu.
"Bukan, kau tidak salah. Sasuke yang salah. Sasuke yang menyebabkan semua ini, dan dialah yang harusnya menanggung segala kesakitan yang ia buat, bukan kau…" Suara Karin melemah, namun masih menyisakan tekanan amarah di setiap kata yang dilontarkannya.
"Jadi… apa yang harus kulakukan?" tanya Sakura lirih.
"Kau harus meninggalkannya. Apapun yang terjadi, kau tak boleh kembali padanya dalam status apapun. Baik itu teman, sahabat, kenalan, atau apapun! Kau tak boleh bertemu dengannya lagi, tinggalkan segala kesakitanmu seiring kau meninggalkannya. Bukalah lembaran baru dalam hidupmu tanpanya. Mengerti?"
"Aku mengerti."
.
Hujan. Sesuatu yang dapat membuat suasana hati semua orang berubah-ubah. Senang bagi yang membutuhkan, dan sedih sekaligus kesusahan bagi orang yang tak membutuhkan. Seperti halnya wanita dengan tubuh mungil yang berdiri di halte bus. Ia daritadi menggigil kedinginan, bus yang daritadi dinanti-nantinya belum datang juga. Semua orang yang menunggu di halte tersebut berangsur-angsur menghilang ditelan taksi, mungkin karena kelamaan menunggu di suasana dingin, akhirnya mereka memutuskan untuk menaiki taksi.
Tapi tidak bagi Sakura. Uangnya yang tidak cukup bila memesan taksi membuatnya harus menunggu bus yang tidak tahu kapan kemunculannya itu.
Ckiiitt…..
Sakura mendongakkan kepalanya, ia melihat sebuah sedan berwarna hitam berhenti di depannya. Sang pengemudi kemudian membuka kaca jendelanya. Wajah yang sangat familiar itu kini dapat dilihat dengan jelas oleh Sakura.
"Naiklah!" perintah pengemudi itu. Sakura nampak ragu-ragu. Namun hujan yang semakin deras mau tidak mau membuatnya harus menaiki mobil tersebut.
"Kenapa kau bisa ada disini, Sasuke?" tanya Sakura basa-basi.
"Hn, tempat kerjaku kan lewat sini." Oke, ketahuan berbasa-basi, akhirnya Sakura membuang mukanya yang memerah untuk menatap keluar melalui kaca jendela mobil Sasuke. Sadar bahwa jalanan ini bukanlah jalanan menuju rumahnya, Sakura pun kembali menoleh ke arah Sasuke.
"Kita mau ke mana?"
"Ke rumahku, ada sesuatu yang harus kuambil."
"Tapi aku-"
"Tenanglah. Kau beristirahat saja di rumahku, aku tidak akan macam-macam."
Oke, belum cukup sehari, Sakura sudah menggugurkan rencana Karin untuk menghindari Sasuke. Kini ia bergerak-gerak gelisah, mau turun, tapi nanti kehujanan, mau ke rumah Sasuke, sudah terlanjur janji. Serba salah! Akibat terfokus dengan pikirannya sendiri, Sakura tak sadar bahwa Sasuke telah memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya.
"Ayo turun," perintah Sasuke. Sakura hanya menurut. Melihat rumah itu, membuat Sakura kembali terbayangi masa-masanya bersama Sasuke. Rumah itu, rumah mereka dulu. Sakura melihat ke ayunan taman yang berada di dekat kolam ikan, Sakura menatapnya sendu. Ia benar-benar tak menyangka, bahwa rumah tangganya bisa hancur meninggalkan moment-moment indah sekaligus menyayat hati.
"Sakura! Aku daritadi mencarimu, ternyata kau ada disini."
"Hihihi… aku tak akan menghilang Sasuke-kun! Aku tak akan meninggalkanmu!"
"Oh ya? Mana buktinya?"
"Buktinya…"
Cup!
"Hanya segini?"
"Memangnya kau mau apa?"
"Aku mau lebih Sakura."
"Apa maksud- KYAAA! Turunkan aku Sasuke-kuuunn!"
.
"…ra?"
"Sakura!"
Sakura tersentak mendengar panggilan Sasuke.
"Apa yang kau lamunkan?" Sakura menggeleng sebagai jawaban dan kemudian menyusul masuk ke dalam rumahnya. Sakura terpengarah melihat isinya. Foto-foto pernikahannya dengan Sasuke masih terpajang jelas di setiap sudut ruangan, bahkan foto saat mereka masih berpacaranpun juga bertengger rapi di atas meja dan dihiasi dengan bingkai yang membuatnya semakin indah. Rumah itu tak berubah, masih sama dengan beberapa tahun yang lalu.
"Sasuke-kun… Televisi ini mau ditaruh di mana?"
"Terserah kau saja."
"Huft! Kau jahat! Bantu aku membereskan rumah ini Sasuke-kuun!"
"Nanti saja, Sakura. Aku capek!"
"Jahat!"
"Ck. Baiklah."
"Yeeyy! Suamiku baik deh…!"
"Dasar tukang gombal."
"A-aww! Ittai~ kamu jangan menjitak jidatku dong! Hei! Jangan lari Sasuke-kuun! Televisinya belum dipindahkaaan!"
Sakura tersenyum kecut mengingat masa lalunya.
"Ada apa?" Sakura sekali lagi menggeleng. "Ya sudah, pakai ini." Sasuke menyodorkan pakaian pada Sakura, yang Sakura ketahui ialah pakaian lamanya saat masih tinggal di sini.
"Kau pasti terkejut, aku memang sengaja tak melepasnya." Sakura memandang Sasuke. "Aku berpikir, ini adalah kenangan yang tak akan bisa kulupakan. Aku tahu kau tak akan menerimaku lagi kembali ke sisimu." Sakura mendengarkan Sasuke dalam diam.
"Tapi aku tak akan menyerah begitu saja." Sakura terpengarah mendengar kalimat Sasuke. "Tak peduli berapa banyak kebencian yang kau tanam padaku, tak peduli kau tak akan memaafkanku seumur hidup, tak peduli dengan perkataan semua orang tentangku diluar sana, tak peduli kau masih mencintaiku atau tidak-" Sakura menunggu kalimat Sasuke selanjutnya. "-aku pasti akan selalu menyayangi dan mencintaimu."
Cukup. Air mata Sakura kini mengalir, bahkan wanita itu tak tahu apa yang menyebabkan air mata itu keluar. Sasuke melangkah mendekati Sakura.
"Maka dari itu… tak bisakah kau memberiku kesempatan sekali saja?" Sakura masih terdiam dengan air mata yang terus mengalir. "Kumohon Sakura, sekali saja… aku akan memperbaiki semuanya, aku akan menanggungnya, jangan biarkan dirimu saja yang merasakan sakit. Aku juga pantas menerimanya, kumohon, bagilah kesakitan itu padaku dengan cara apapun."
"Kau mau memukulku? Menyakitiku? Bahkan membunuhku juga tak masalah, asal cintamu tetap untukku." Sasuke menempelkan dahinya ke dahi lebar Sakura dan mengelus kedua pipi Sakura menggunakan kedua telapak tangannya. "Kumohon…"
Bibir mereka pun menyatu. Sakura tak membalas, namun tak juga mengelak. Namun lama-kelamaan, Sakura membalas pagutan itu, menjadi ciuman yang lebih panas. Bibir Sasuke perlahan-lahan menurun, mencium tengkuk Sakura. Mereka membiarkan hasrat mereka menyatu, melewati hal panjang, mencoba melupakan kesakitan dengan nafsu, hasrat, dan tanpa akal sehat. Membuat mereka terjerumus ke dalam lubang kesakitan yang lebih dalam.(Untuk adegan berikutnya, silahkan readers bayangin sendiri. Habis Rated-nya kan rated T ^^ #sok imut)
.
.
.
"Terimakasih atas usulnya, Hyuuga-san." Pria berambut merah dan pria berambut coklat panjang itupun bersalaman, mengakhiri rapat mereka pada hari ini.
"Sama-sama Sabaku-san, usul anda juga sangat bagus untuk kelancaran proyek ini." Gaara, pria berambut merah tadi melempar senyum pada Neji yang tadi bersalaman dengannya.
"Mau minum kopi sebentar?" tawar Neji, Gaara mengangguk dan kemudian mereka menuju Café pegawai yang telah disediakan.
"Oh ya, sekedar bertanya. Apa Hyuuga-san sudah punya istri?" Neji tertawa renyah.
"Belum, pacar pun tak punya. Pacarku meninggalkanku dulu, entah apa sebabnya." Gaara terkejut mendengar cerita Neji. "Kalau anda sendiri?"
"Aku…" Sepintas, Gaara terbayang wajah Sakura. Wanita itu membuat dirinya tertarik akhir-akhir ini, yang awalnya Cuma ingin membuat Sasuke cemburu, malah berakhir dengan sebuah ketertarikan. Membuat Gaara tersenyum dengan sendirinya.
"Aku belum menikah, sama sepertimu, aku juga belum mempunyai seorang pacar. Tapi aku akhir-akhir ini tertarik pada seseorang…"
"Oh ya? Siapa orang yang beruntung itu?" Gaara tertawa renyah mendengar pujian tak langsung dari mulut pemuda bermata unik itu.
"Namanya Sakura." Neji tiba-tiba menghentikan aktifitasnya. Pria itu memandang mata jade Gaara dengan pandangan kaget dan sulit diartikan.
"Sakura… Haruno Sakura?"
"Aku tidak tahu marganya," kata Gaara dan menyesap kopinya.
"Maksudmu… Sakura istrinya Sasuke 'kan?" Gaara memandang mata lavender Neji.
"Mereka sudah cerai." Mata lavender Neji membelalak kaget. Gaara bahkan baru melihat ekspresi rekan kerjanya seperti itu.
"Apa maksudmu?! Mereka sudah cerai?!" Gaara memandang Neji aneh. Rekan kerjanya itu tiba-tiba out of character saat ini.
"Ya, memangnya kenapa? Kau mengenal mereka?" Neji terdiam.
"Tidak, tidak apa-apa…"
.
.
.
"Engghh…"
Mata emerald Sakura terbuka. Ia mencoba bangun, namun dikagetkan oleh tangan yang memeluknya. Mata wanita itu membelalak saat melihat Sasuke disampingnya, dan lebih membelalak saat melihat tubuhnya dan tubuh Sasuke tanpa busana. Kesadarannya pulih kembali, mengingat hal yang dilakukannya bersama Sasuke beberapa jam lalu membuat dirinya dikuasai amarah dan kesedihan. Bagaimana bisa dia terjerumus lagi dalam pelukan Sasuke?!
Sasuke juga nampak bangun saat wanita yang direngkuhnya bergerak. Sakura menatap Sasuke dengan amarah serta kebencian.
"Saku…"
PLAAAK!
Sakura merasa matanya memanas. Ia keluarkan seluruh emosinya dengan tamparan telak dipipi kanan Sasuke. Ia tak menyangka akan terjadi hal seperti ini, ini sudah diluar batas.
"Mengapa… MENGAPA KAU MELAKUKANNYA?!" Wanita itu mengamuk. Sasuke hanya terdiam, menyadari kebodohan yang ia buat. Pasti Sakura akan lebih membencinya setelah ini. Setelah apa yang mereka lakukan, mungkin tak akan ada lagi harapan Sakura dapat memaafkan Sasuke.
"Sakura… dengarkan aku…" Mencoba sabar, Sasuke mencoba untuk meraih tangan Sakura, namun segera ditepis oleh wanita bermata emerald yang kini mengeluarkan tatapan kebencian itu.
"Apa yang harus kudengarkan darimu, hah?! Aku tak butuh penjelasan tak masuk akalmu! Mengapa selalu aku?! Mengapa selalu aku yang kau sakiti?! Mengapa selalu aku yang merasa sakit akibat perpisahan kita?! Mengapa selalu aku yang disalahkan!? Mengapa selalu aku yang selalu terikat dalam takdir bodoh nan menyakitkan bersamamu?! Mengapa aku selalu saja terjerat dalam dirimu?! Dan sampai kapan takdir bodoh ini berlanjut?!" Sakura mengambil nafas dengan cepat, air matanya kini kembali mengalir. Ia merasa bodoh, sangat bodoh.
"Aku lelah dengan semua ini! Aku lelah mengalami kutukan yang Tuhan berikan padaku! Sebenarnya apa salahku?! Kau yang membuat semuanya kacau, bukan aku! Tapi kenapa kau tak merasa sakit sedikitpun?! Kau yang selingkuh! Kau yang menghamili Tenten! Kau yang membuat rumah tangga kita berantakan! Kau yang menyebabkan takdir bodoh ini! Kau yang membuat semua moment-moment terindah menjadi moment-moment terburuk! Kau yang mengajakku memasuki lingkaran kehidupan ini! Demi Tuhan! AKU SANGAT MEMBENCIMU!"
"Cukup…"
"Dan kau datang lagi ke kehidupanku! Meminta maaf seolah semuanya baik-baik saja jika kau melontarkan kata itu! Kau membuat semuanya seolah-olah hanya angin yang berlalu! Dimana rasa bersalahmu, hah?! Semudah itukah kau mengajakku lagi ke kehidupanmu?! Semudah itukah aku melupakan luka menganga yang kau torehkan padaku?! Apa kau pikir semudah itu, hah?! Disaat kau sudah punya seorang anak yang menunggumu, kau masih mencari orang lain, apakah ini sifat aslimu!? Seharusnya aku sadar bahwa kau tak akan pernah puas dengan kehidupanmu! Kau tak akan puas jika tak menyakitiku!"
"Cukup…"
"Aku sangat membencimu! Kau egois! Kau hanya menjadikanku budak saat kita menikah! Aku hanyalah seorang kucing yang terperangkap dalam kandang yang kau buat! Dan kau meninggalkanku, menghancurkanku, dan kau-"
"CUKUP!" Sakura tersentak mendengar teriakan frustasi Sasuke. Sasuke menjambak rambutnya dengan gemas, ia tak tahu apa yang harus ia perbuat sekarang.
"Kau…" Sasuke memandang Sakura. "Kau selalu saja menuduhku! Dan juga, kau tadi tak menolak 'kan?" Sakura bungkam, tak tahu kalimat apa yang sesuai untuk perkataan Sasuke barusan. Perkataan Sasuke membuatnya mati kutu, pria itu benar. Namun kebenarannya masih disangkal oleh wanita mungil tersebut.
"Aku memang salah, aku yang salah! Dan kau bilang aku tak merasakan sakit, aku juga sakit Sakura! Bukan mauku untuk menghamili Tenten! Kau tak tahu kenyataan yang sebenarnya!"
"Memangnya kenyataan apa lagi, hah?! Aku muak dengan kenyataan palsumu!"
"Sudahlah! Terserah kau jika kau tak mau mendengarnya!" Sasuke menatap Sakura tajam. "Aku tak akan mengejarmu lagi, terserah kau! Terserah kau jika tak mau memaafkanku! Terserah kau jika membenciku! Dan terserah kau jika kau mau terus-terusan merenung di kesedihanmu! Aku sudah menyerah!"
Hati Sakura mencelos, entah mengapa ia merasa terluka dengan perkataan Sasuke. Namun ia memutuskan untuk memakai bajunya dan keluar rumah, Sasuke juga memakai baju kaos hitamnya dan segera menyusul Sakura.
"S-Sakura… tunggu!" Sakura tetap berjalan, tak peduli dengan Sasuke yang mengejarnya dari belakang. "Sakura… maafkan aku! Aku tak sadar dengan apa yang kuucapkan, aku terlalu marah tadi… Sakura!" Sakura tetap berjalan, ia baru saja ingin membuka pintu saat-
"Wah… ada Sakura rupanya…" –Tenten dan anaknya muncul dihadapannya.
"Hikari-chan, ini bibi Sakura, ayo beri salam pada Sakura," kata Tenten pada anaknya yang sementara menjilat es krim rasa vanilla yang digenggamnya itu.
"Konbawa, Sakura-baa-san…" Gadis kecil itu menunduk menyalami Sakura. Sakura menatap anak itu dengan sendu. Sungguh anak penurut dan baik hati. Sakura berjongkok demi menyamai tingginya dengan gadis itu dan mengelus rambut coklat Hikari.
"Konbawa mo, Hikari-chan…" Sakura mencoba tersenyum, meski pasti akan terlihat seperti senyum paksa. Wanita itu kemudian berjalan keluar meninggalkan Tenten, Hikari, dan Sasuke. Namun Sasuke segera menyusulnya.
"Sakura!" Langkah Sakura terhenti.
"Apa yang kau lakukan?" seru Sakura dingin. Wanita itu berbalik. "Tidak usah mengejarku lagi, ada seorang gadis kecil yang lebih membutuhkan kehadiranmu, Sasuke." Sasuke terdiam, pria itu sudah menangkap maksud dari Sakura.
"Berbaliklah ke belakangmu, Hikari anak yang baik dan penurut. Aku yakin kau dan Tenten dapat merawatnya dengan baik. "
"Tapi aku-"
"Kumohon Sasuke, aku tak mau terus-terusan bertengkar denganmu. Menolehlah kekehidupanmu yang baru, buanglah masa lalumu, maka aku juga akan membuang masa laluku dan menatap ke masa depan." Sasuke tertunduk, masih tetap diam. Namun sedetik kemudian, pria itu menatap Sakura sendu.
"Baiklah," ucapnya. Pria berambut raven itu membalikkan badannya seraya mengucapkan selamat tinggal pada Sakura. Sakura tersenyum lemah.
"Sayonara…" Wanita itu menutup matanya dan juga membalikkan badannya. "…Sasuke-kun."
.
.
.
"Otou- eh, Sasuke-ojii-san dari mana?" Hikari menyambut Sasuke di depan pintu rumahnya. Sasuke hanya diam dan melewati Hikari, membuat gadis kecil itu melengkungkan bibirnya ke bawah, pertanda sedih. Sasuke yang dapat melihat itu melalui ekor matanya menghela nafas berat, dan kembali menghampiri Hikari yang masih cemberut. Pria itu mengusap kepala Hikari.
"Hikari…" Hikari mendongak menatap Sasuke, menunggu kata-kata Sasuke selanjutnya.
"Mulai sekarang, aku adalah ayahmu. Jangan ragu untuk memanggilku Otou-san, kau mengerti?"
.
.
.
TBC
huoo… apa ini?! Apa ini?! Kenapa chapter ini semi M?!
maaf yah reader, bukan maksudku untuk membuatnya menjadi T+, tapi alurnya yang membuatnya seperti ini!#sama aja kali!
Oh ya, saatnya untuk membalas review unlogin ^^
Kelly :
Hai, wah.. ada flamer…
Jelek yah? Alsannya? Menjijikkan? Alasannya apa yah? Kalo mau flame, yang lengkap dong, setidaknya kasih saran kek, apa kek, titik kejelekan dan menjijikkannya kek, atau apapun itu yang dapat membuatku lebih berkembang.
Kalo gini sih, aku gak tau mau ngomong apa sama kamu ==" kalo ngasih saran, mungkin akan aku usahakan memperbaikinya, kalo tetap nggak suka, ada tulisan "Don't like don't read" kan? atau mau aku terjemahkan artinya?
Kalo gini sih, aku hanya mau bilang
Mau yang lebih menjijikkan? Lihat disini! #ngasih cermin trus kabur xD
Aitara fuyuharu :
Hai… XD
Makasih udah review, nih lanjutannya!#nunjuk diatas
Makasih juga semangatnya ^^
Review lagi yaahh…
Sasusaku kira :
Hai!
Wah.. jangan tanya di saya, saya juga tidak tahu apa-apa!#kabur #plak
Iya, amin deh #ikut berdoa
Aku juga gak suka kalo akhirnya sad ending Dx #apaan?!
Oke deh, Sasusaku kira-san… makasih reviewnya ^^
Review lagi yah? *puppy eyes*
Zukazuka :
Bukan! Itu anakku dan Sasuke!#dishannaro Sakura
Makasih reviewnya yah ^^
Review lagi please!
Udah semua kan? seribu maaf ke HanarinNoHimeko yang kelupaan di chapter kemarin, aku sudah tulis balasannya di review, karena aku tahu kalo aku bakal lama update…
Dan Night School sementara diketik, harap tunggu yang mau nunggu yah… #blinkblink
Oke, dadah semuaaaaaa!
Review please!
