"O-tou-san."
Sasuke tersenyum miris saat Hikari memanggilnya dengan sebutan itu. Hati kecilnya merasa iba dengan anak ini, anak yang keberadaannya sangat tidak ia inginkan. Anak dari rahim wanita yang sama sekali ia tidak cintai. Pria raven keturunan Uchiha tersebut menatap keluar jendela, ia menerawang. Kami-sama, bisakah ia bertahan dengan keadaan yang seperti ini?
Still
Rated : T (teen)
Pairing : SasuSaku of course ;)
Genre : romance, hurt/comfort
Warning : Ooc, abal, jelek, garing, bikin sakit kepala, typo berantakan, dll.
Don't like? Don't read!
Chapter 7 : Gaara, pregnant, and Sasuke.
Haruno Sakura berjalan sempoyongan di tengah-tengah kerumunan manusia yang berlalu lalang di pusat kota Konoha. Matanya sembab, menandakan wanita itu baru saja menangis keras. Ia letih, sedih, marah, dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Wanita malang itu juga tidak tahu di mana ia harus melampiaskan kekesalannya. Perasaan sengsara kini berkecamuk dalam hatinya, membuat wanita itu lemas seketika.
Sakura mendudukkan dirinya di sebuah kursi dekat taman kota. Mata emerald-nya yang memancarkan tatapan lesu menatap sekeliling, ia melihat sebuah keluarga bahagia dengan seorang ayah, ibu, dan anak yang menggenggam tangan ayah dan ibunya, membuat wanita bermanik viridian itu tersenyum kecut. Segudang pertanyaan kini menyelimuti hatinya. Mengapa … keluarganya dulu tak sebahagia itu?
"Sakura?" Sakura menoleh dengan cepat. Wanita itu kini dapat melihat Gaara. Pemuda berambut merah itu tampak mengenakan pakaian santai, namun aura kewibawaannya masih terpancar dengan jelas jika memandangnya. "Apa yang kau lakukan di sini?" Gaara mendekati Sakura. Sakura masih tak merespon pertanyaan Gaara, mulutnya masih kaku untuk berbicara. Mengerti akan hal itu, Gaara menempatkan dirinya duduk di samping Sakura. Diam. Mereka tak tahu apa yang harus ia perbincangkan.
"Gaara…" Akhirnya, Sakura membuka suara. Gaara merespon pertanyaan Sakura dengan wajah bertanya. Meski tak melihatnya, Sakura dapat merasakan bahwa Gaara meresponnya. "Apakah kau … pernah merasakan sakit?" Gaara mengernyit heran kala mendengar pertanyaan Sakura.
"T-tentu saja." Gaara tidaklah bodoh, pemuda itu menyadari rasa 'sakit' apa yang mereka perbincangkan saat ini.
"Pernahkah kau … merasa menyesal dengan keputusan yang kau buat?" Sakura kembali membuka suara. Gaara semakin heran mendengar pertanyaan Sakura.
"Pernah," jawab Gaara singkat. "Apa maksudmu?" Gaara balik bertanya pada Sakura. Sakura menjawabnya dengan senyuman.
"Pernahkah kau … merasa bahwa kau manusia yang paling menderita di bumi ini?" Cukup. Gaara meraih pundak Sakura, mata jadenya menatap tajam wanita itu.
"Menderita atau tidaknya, semua takdir Tuhan. Tapi, tugas manusia untuk menyeimbangkannya dengan sebuah kesenangan," ucap Gaara. "Kau bukanlah makhluk yang paling menderita di bumi ini, Sakura. Ada saatnya kau merasakan sebuah kegembiraan. Hidup seseorang tak pernah datar." Sakura mendengus, lalu tertawa.
"Hahahahaha!" Gaara tersentak melihat tingkah Sakura. Apa wanita itu sudah gila?
"Aku pernah merasakan kegembiraan. Tapi itu dulu." Gaara terdiam. "Sekarang ataupun nanti, aku tidak akan pernah merasakan kebahagiaan lagi." Sakura tersenyum sendu. Gaara tertegun melihatnya, wajah pemuda itu memanas, ia tak menyangka bahwa Sakura secantik ini. 'A-apa yang terjadi padaku? Ja-jantungku…'
"Dinding kebahagiaanku sudah runtuh. Aku tidak akan pernah-" Perkataan Sakura terputus saat Gaara memeluknya dengan erat. Pemuda itu menutup matanya merasakan kenyamanan di pelukan Sakura.
"Jika dinding kebahagiaanmu bersama Sasuke sudah runtuh, maka bangunlah dinding itu kembali…" Diam sejenak, Sakura menahan nafasnya. "-bersamaku."
.
.
.
Dua minggu kemudian…
"Lho? Kau mau ke mana, Sakura?" Karin tercenggang kaget saat melihat sepupu kesayangannya mengenakan baju kaos putih dengan rok mini manis, serta gelang mutiara yang menghiasi tangan putihnya. Sepupunya benar-benar terkesan 'manis' sekarang.
"Mmm … aku-"
"Kau bahkan tak terlihat seperti seorang janda!" canda Karin seraya tertawa renyah, Sakura menggembungkan pipinya kesal melihat tingkah gadis berambut merah tersebut.
"Ya, kau benar. Bahkan kau yang belum menikah pun kalah dengan pesonaku!" Sakura tersenyum meremehkan, sekarang Karin yang menggembungkan pipinya. Sepupunya itu memang pintar membalikkan keadaan. Namun, seketika Karin tersenyum simpul, setidaknya, Sakura terlihat lebih 'ceria' dibandingkan dua minggu yang lalu. Gadis berkacamata tersebut tidak tahu apa yang terjadi dengan Sakura, namun ia hanya bisa bersyukur dengan keadaan Sakura yang seperti ini.
Ting … Tong…
Sakura dan Karin berpandangan. Dengan gerakan lincah, Karin membuka pintu, dan terkejut melihat seseorang yang kini berada di depannya.
"Sakura ada?" Karin tersenyum kemudian mengangguk menatap pemuda di depannya. Pemuda yang membawa pulang sepupunya dua minggu yang lalu. Entah mereka dari mana, Karin tak peduli, namun pasti pemuda ini sudah sangat dekat dengan Sakura.
"Gaara?" Sakura muncul di belakang Karin. Gaara tersenyum tipis saat melihat Sakura. Sakura melangkah menuju Gaara, lalu mereka berjalan bersama menuju mobil Gaara yang sudah terparkir di jalanan.
"E-eh? Kalian mau ke mana?"
"Ke mana saja~" Setelah berkata demikian, Gaara dan Sakura sudah tak terlihat lagi, mereka berdua sudah memasuki mobil Gaara. Karin sekali lagi tersenyum melihatnya. Sakura benar-benar terlihat lebih baik sekarang.
.
.
.
"Makan ini." Gaara menyodorkan burger kepada Sakura, tanpa berkata apapun, Sakura mengambilnya dan langsung memakannya. Wanita itu memang dalam keadaan lapar sekarang, sehingga memakan burger tersebut dengan lahap.
Satu gigitan…
Enak.
Dua gigitan…
Aneh.
Tiga gigitan…
"Hoek!" Sakura memegang mulutnya dengan cepat, burger yang dipegangnya tadi telah jatuh ke tanah. sebelah tangannya memegang perutnya yang terasa mual. Gaara yang berada di sampingnya seketika panic dan cemas melihatnya.
"A-ada apa, Sakura?" Gaara memegang pundak Sakura. Wanita itu tetap menutup mulutnya. Wajahnya terlihat pucat, kemudian wanita itu segera berlari menuju wc umum yang berada di sekitar mereka.
"T-tunggu sebentar!" perintah Sakura kemudian menutup mulutnya lagi. Gaara mengangguk ringan, membiarkan Sakura meninggalkannya sendirian di tengah keramaian saat ini. Gaara memandang sekeliling, mencari tempat untuk mengistirahatkan kakinya yang terasa agak pegal. Pemuda itu menemukan sebuah kursi panjang di bawah sebuah pohon rindang, membuat pemuda itu menyunggingkan senyumnya.
'Tempat yang bagus,' pikirnya. Tanpa ba-bi-bu lagi, ia segera mendudukkan dirinya di kursi tersebut, menghirup semilir angin yang berhembus di taman tempatnya berada. Ia tak pernah merasa sebahagia ini, bersama Sakura, ia merasa kehangatan dari seorang wanita yang sama sekali belum pernah ia rasakan, bahkan ia tidak merasakan kehangatan seorang ibu dikarenakan ibunya telah meninggal saat ia dilahirkan.
"Gaara-san?" Gaara membuka matanya yang tadi ia tutup, menoleh pada orang di sampingnya yang kini tersenyum tipis padanya.
"N-Neji-san…" gumam Gaara, ia tak menyangka akan bertemu rekan bisnisnya di saat seperti ini.
"Kenapa kau berada di tempat seperti ini?" tanya Neji bingung, berada di taman, duduk di bawah pohon, dan sendirian. Sama sekali bukan tipe Gaara saat di kantor.
"Ah, aku sedang bersama seseorang," jawab Gaara, dan mempersilahkan pemuda bersurai coklat itu duduk di sampingnya.
"Siapa?" Neji bertanya penasaran.
"Dia-"
"Gaara!" Perkataan Gaara terputus saat seseorang memanggilnya. Kedua pria tersebut menoleh pada Sakura yang berusaha tersenyum meski wajahnya pucat. Gaara juga ikut tersenyum saat melihat Sakura, sedangkan Neji mengerjap kaget.
"Ne-Neji?" Sakura juga ikut tersentak saat melihat orang yang berada di samping Gaara saat ini. Wanita itu membelalak melihat teman lamanya berada di sana.
"H-hai Sakura, lama tak berjumpa," sapa Neji agak gugup, namun kegugupannya berusaha ia sembunyikan dibalik wajah datarnya. Sakura mengangguk, kemudian tersenyum sumringah.
"Bagaimana kabarmu? Sudah lama sekali aku tidak melihatmu, kau sama sekali tidak berubah!" ucap Sakura girang, wanita itu senang bertemu sahabat masa lalunya.
"Baik, bagaimana denganmu? Kau juga sama sekali tidak berubah." Neji tersenyum tipis. Gaara yang melihat aura 'keakraban' dari mereka berdua seketika cengo di tempat. Ia merasa terlupakan dengan perbincangan Neji dan Sakura.
"Ehem!" Pemuda itu berdehem dengan keras, namun nampaknya Sakura dan Neji sama sekali tak menghiraukannya.
"Ah, baiklah, Sakura. Aku pamit pulang dulu, masih banyak hal yang harus kukerjakan," pamit Neji dan berdiri dari kursinya. Sakura mengangguk seraya tersenyum. "Senang bertemu denganmu, Sakura." Setelah berkata demikian, Neji beranjak meninggalkan Gaara dan Sakura. Sakura tiba-tiba mendudukkan dirinya di samping Gaara dan tersenyum menatap kepergian Neji.
"Aku tak percaya kalian saling mengenal," cetus Gaara di sampingnya. Sakura menoleh dan tersenyum riang.
"Dia teman baikku waktu SMU, dan berlanjut sampai aku kerja di tempat Sasuke. Dia satu-satunya sahabat priaku," ujar Sakura ringan. Gaara menaikkan alisnya.
"Kau pernah bekerja di tempat Sasuke?" Sakura mengangguk sebagai jawaban. Gaara memandang Sakura takjub, masih banyak yang ia tidak ketahui tentang wanita di sampingnya.
"Ya, bahkan saat menikah dengan Sasuke pun, aku dan dia masih bersahabat…" Sakura menerawang, mengingat masa lalunya bersama Neji dan Sasuke, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia sebenarnya sangat merindukan masa-masa itu. "Aku terlalu jahat padanya…" Gaara menoleh bingung, tidak mengerti maksud Sakura mengatakan kalimat tersebut.
"Jahat?" tanyanya menaikkan sebelah alisnya. Sakura mengangguk pelan.
"Aku menikah dengan Sasuke, padahal aku tahu kalau…-"
"Kalau?" Sakura tersenyum tipis dan menoleh pada Gaara, semburat merah menghiasi wajah putihnya saat ini.
"-Neji mencintaiku sejak SMU."
.
.
.
Sasuke merebahkan dirinya di kasur, tangannya ia pakai untuk menutup matanya. Ia sungguh lelah dengan pekerjaan di kantor tadi. Setelah sekian lama melepas lelah, ia pun bangkit dari kasurnya. Sepi, ia merasa kesepian saat ini. Tenten dan Hikari sepertinya tak ada di rumah semenjak ia pulang, tapi Sasuke yakin, keberadaan Tenten dan Hikari tak akan berhasil mengusir rasa kesepiannya saat ini. Ia butuh sosok itu, sosok yang menghangatkannya.
Hatinya mencelos saat mengingat perpisahan mereka kemarin. Ia bodoh, pria itu mengakui bahwa dirinya sungguh tolol. Ia terbawa emosi kemarin, mungkin perkataannya telah membuat Sakura terluka. Pria itu mengernyit, sebenarnya … apa yang harus ia lakukan agar membuat Sakura tak terluka? Apakah ia memang benar-benar harus menjauhi wanita itu? Sasuke tahu, trauma Sakura tidak akan mudah di sembuhkan. Tapi jujur saja, ia tidak bisa terus-terusan seperti ini…
Sasuke meraih ponselnya yang tergeletak manis di sebelahnya. Apakah ia harus menghubungi Sakura untuk mengusir rasa kesepiannya? Sasuke menggeleng, tidak. Sakura akan merasa terganggu jika Sasuke selalu saja 'meneror'-nya.
Resah. Pria itu sungguh resah sekarang. Ia tak pernah merasa segelisah ini. Ia memencet-mencet tombol ponselnya, mungkin, ini dapat menghilangkannya sejenak.
'Halo? Sasuke? Ada apa?' Suara wanita di seberang sama sekali tak ia hiraukan. Sasuke tersenyum kecut, seharusnya ia tahu bahwa ini tak akan berhasil.
"Aku ingin berbicara pada Hikari," ucap Sasuke dengan suara berat. Sedetik kemudian, Sasuke dapat mendengar suara anak kecil yang memanggilnya.
"Otou-san!" Sasuke tersenyum paksa.
"Kau ke mana Hikari?" tanya Sasuke berat.
"Aku berjalan-jalan sama Kaa-san! Kaa-san membelikanku boneka beruang besar! Bonekanya lucu, Hikari gemas melihatnya." Sasuke mendengarnya dengan wajah datar. Tidak, bahkan suara Hikari tidak menenangkan keadaanya batinnya. Tanpa aba-aba, ia memutuskan teleponnya. Kasihan juga Hikari, tapi mau bagaimana lagi, suara Hikari hanya akan membuatnya teringat Sakura. Lebih tepatnya, mengingat hal yang membuat dirinya dan Sakura terpisah.
.
.
.
"Selamat Nyonya, anda hamil."
Perkataan dokter di depan Sakura dan Karin bagaikan malapetaka yang tiba-tiba menerjang mereka, lebih tepatnya menerjang Sakura. Wanita itu refleks menutup mulutnya yang hampir menganga saking tak percaya. Ia sudah menduga semua ini akan terjadi. Satu lagi, kesalahannya dan Sasuke. Satu lagi, hal yang berhubungan dengan Sasuke. Dan satu lagi, mimpi buruk baginya.
Sakura dan Karin berjalan keluar ruangan dokter, mereka berjalan di koridor rumah sakit dalam diam. Mereka terlalu shock menerima kenyataan yang ada, terlebih untuk Sakura. Wanita itu hanya terus berjalan tanpa memedulikan orang-orang di depannya yang hampir ditabraknya. Wanita itu memandang lantai tanpa memandang ke depan, seakan menatap lantai adalah satu-satunya hal yang dapat ia lakukan sekarang.
Sakura sedikit tersentak saat dirasakannya tepukan di punggungnya, wanita itu menoleh ke sampingnya dan memandang Karin yang menatapnya dengan tatapan datar. "Kita pulang." Setelah berkata demikian, Karin mempercepat langkahnya dan berjalan di depan Sakura.
.
.
.
PAAAK!
Sakura terkejut saat Karin memukul stir mobilnya dengan keras. Sakura tahu Karin pasti akan memarahinya, Sakura tahu Karin pasti kecewa dengan wanita malang itu.
"Anak siapa itu?!" tanya Karin dingin. Sakura meneguk ludahnya dengan susah payah, inilah yang ia takutkan.
"A-anakku," jawab Sakura pelan sambil menunduk.
PAAAK!
Sakura lagi-lagi tersentak. Karin menepikan mobilnya di pinggir jalan dan mematikan mesinnya. Gadis temperamental tersebut menatap ke arah Sakura dengan tajam, seakan ingin menerjangnya saat itu juga. Sakura bahkan tak berani menatap mata ruby Karin yang menatapnya dengan amarah yang pasti telah menggunung.
"Anak Gaara kah?" Sakura menggeleng dengan cepat dan menutup matanya. Mendengar jawaban tidak langsung Sakura, membuat Karin menghela nafas dengan berat dan menghempaskan punggungnya pada sandaran sofa mobilnya. "Kenapa…" Gadis ruby itu menutup matanya sejenak, lalu membukanya lagi. "Kenapa dia selalu saja ada dalam kehidupanmu?!" Suara Karin mulai meninggi, mulai menunjukkan sisi temperamental gadis tersebut.
"K-Karin…"
"Baru saja kau bilang sudah berpisah dengan Sasuke, sekarang kau mengandung anaknya?! Ada apa denganmu Sakura?!" Sakura menutup matanya, sungguh, ia tak berani menatap Karin yang sedang meluapkan amarahnya. Wanita itu mengakui kesalahannya, wanita itu mengakui kebodohannya. Ia begitu mudah terjebak dalam pelukan Sasuke.
"Sekarang kau akan kembali merenungi masa lalumu! Kau memang tidak mempunyai masa depan!" Sakura refleks membuka matanya mendengar omongan Karin, Sakura menatap Karin dengan pandangan sedih.
"Aku tahu aku punya masa lalu yang buruk! Tapi bukan berarti aku tidak punya masa depan!" Emosi Sakura terpancing akibat perkataan Karin, namun bukannya merasa bersalah atas apa yang dilontarkannya, Karin menatap Sakura lebih tajam dibanding sebelumnya.
"Masa depan apa, hah?! Masa depan dengan anak itu?! Masa depan dengan kesakitanmu? Kau terlalu baik dan lemah!" Sakura tersenyum kecut.
"Kau benar, aku lemah…" lirih Sakura.
"Sekarang, apa yang mau kau lakukan?" Nada suara Karin merendah, sepertinya emosi gadis itu mulai stabil.
"Aku…" Sakura meneguk ludahnya dan menggigit bibir bawahnya. "…akan menggugurkan anak ini."
PLAK!
Emerald Sakura melebar saat dirasakannya tamparan di pipi kananya. Ia memegang pipinya yang agak memerah akibat tamparan telak dari Karin yang kini kembali menatapnya dengan tajam.
"Aku mengerti kedaanmu…" gumam Karin. "Aku mengerti kau sakit hati dengan Sasuke, aku mengerti anak ini ada karena kesalahanmu dengannya. Tapi bukan berarti kau harus menggugurkan anak ini!" Air mata Sakura kini jatuh ke pipi ranumnya.
"Lalu aku harus bagaimanaa?!" Sakura mengerang frustasi.
"Aku tahu ini sulit, tapi … biarkan Sasuke mengetahui ini. Aku tahu kau tak akan mudah menerimanya, tapi dia adalah ayah dari anak yang kau kandung." Karin memutuskan perkataannya untuk menghembuskan nafas, lalu kembali melanjutkannya. "Apapun yang terjadi, jangan menggugurkan anak ini, Sakura. Anak ini tak berdosa, ia tak harus menanggung beban akibat ulah kalian."
=…=
Sasuke mengerang frustasi di atas tempat tidurnya. Pria itu berapa kali mengembuskan nafas, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Tenten dan Hikari telah pulang, namun Sasuke masih berdiam diri di kamarnya, tak ada minat untuk keluar hanya untuk sekedar menyapa. Ia benar-benar merindukan Sakura! Ia tak pernah merasa serindu ini pada wanita berambut softpink itu. Ini benar-benar hari yang melelahkan baginya.
Sasuke masih tak bergeming saat mendengar ponselnya berbunyi. Ia menutup telinganya dengan bantal, berusaha untuk tidur dan menghiraukan ponselnya yang terus bernyanyi. Ia malas mengangkatnya, sepenting apapun telepon itu, ia benar-benar malas mengangkatnya. Namun akhirnya ia menyerah juga saat ponselnya tidak berhenti berdering. Ia menatap layar ponselnya, nomor yang tidak diketahui menelponnya. Pria itu mengerutkan alisnya seraya mengangkat telponnya.
"Siapa ini?" Tanpa sapaan, Sasuke langsung bertanya pada sang penelpon.
"Emm … i-ini aku." Mata onyx Sasuke membulat saat mendengar suara yang sangat dirindukannya.
"Sakura? Ada apa? Dan nomor siapa ini?" tanya Sasuke menggebu-gebu.
"Ini nomor Karin, ano … bisa kita bertemu?" Sasuke mengernyitkan alisnya, tumben Sakura mengajaknya ketemuan. Bukankah wanita itu sudah memutuskan untuk berpisah? Ataukah ini hanya sebuah tes yang diberikan Sakura kepada Sasuke untuk memastikan bahwa pria itu benar-benar sudah menjauhinya? Onyx Sasuke menjadi sendu, tidak. Jika ia bertemu Sakura lagi, hanya akan membuat wanita itu merasa sakit hati. Tapi … ini permintaan dari Sakura!
Kebimbangan Sasuke terpecah saat suara Sakura menyadarkannya.
"Halo? Sasuke? Kau masih di sana?"
"Ah, ya … kapan?"
"Besok lusa, di depan restoran tempatku bekerja, kau bisa?" Sasuke menghela nafas, besok lusa ia ada rapat penting dengan perusahaan Naruto dan Gaara. Ia tidak bisa meninggalkan rapat itu, tapi ia juga tak rela menolak ajakan Sakura. Namun, Sasuke kembali berpikir, kapan ia dapat melupakan Sakura jika ia dan Sakura sering bertemu?
"Maaf, aku tidak bisa." Perkataan itu meluncur begitu saja dari mulut Sasuke. Tanpa berkata apapun lagi, Sasuke segera memutuskan sambungan telponnya. Kemudian pria itu menutup matanya. Ini mungkin lebih baik, untuk dirinya dan Sakura.
=…=
"Bagaimana?" Karin mengernyitikan dahinya saat melihat wajah sedih dan kecewa dari Sakura.
"Ia tidak bisa, dan langsung memutuskan telponnya," lirih Sakura. Sebenarnya wanita itu cukup bingung dengan perilaku Sasuke yang 'tidak biasa' itu.
"Kurang ajar Uchiha itu!" geram Karin, namun Sakura langsung menenangkannya.
"Sudahlah Karin, mungkin dia memang sibuk…"
"Huh! Kau benar-benar baik! Itulah kenapa kau selalu tertindas!" Perempatan siku-siku muncul di pelipis Sakura. "Emosi tak baik untuk kehamilan!" tegur Karin dan membuat Sakura mendengus. Wanita itu mengelus perutnya pelan, ia bingung dengan perasannya. Ia bingung apakah ia harus senang atau sedih, karena bagaimanapun juga, ini anak pertamanya.
"Lalu bagaimana dengan Gaara?" Sakura menghentikan aktivitasnya, tangannya seketika kaku untuk mengelus perutnya lagi. Ia lupaaa! Ia lupa tentang Gaara!
"Ba-" Sakura memegang kedua pundak Karin, mencengkram pundak gadis bermata ruby tersebut. "Bagaimana ini?! Aku lupa tentang Gaara!" Sakura mengguncang-guncangkan tubuh sepupunya itu.
"Sebenarnya kau ini ada hubungan apa sama Gaara?" Aktivitas Sakura kembali terhenti.
"Mmm … entahlah," jawab Sakura dengan nada ragu. "Aku senang di dekatnya, tapi aku ragu … mungkin aku senang di dekatnya hanya karena aku kesepian atau butuh seseorang untuk bersandar," lanjutnya dengan mata menerawang.
"Gaara pemuda baik, Sakura. Aku dapat melihat bahwa dia tulus mencintaimu," ujar Karin mengeluarkan pendapatnya.
"Tapi … Gaara tak cocok untukku, dia masih dapat mencari gadis lain di luar sana." Sakura menunduk. Jujur, ia senang saat Gaara mengatakan bahwa Sakura dapat membangun masa depannya dengan wanita itu, tapi hati kecilnya mengatakan bahwa ia tak pantas untuk Gaara. Apalagi sekarang ia tengah mengandung anak Sasuke, tentu saja membuat dirinya lebih minder dengan Gaara.
"Gadis lain memang banyak. Tapi dia hanya mencintaimu."
"Dia tidak pernah bilang mencintaiku, Karin…"
.
.
.
Sakura melirik arlojinya. Sudah pukul satu siang, sudah setengah jam ia berdiri menunggu Sasuke di luar kantornya. Wanita itu sudah bertekad bahwa Sasuke harus mengetahuinya, meski nanti anak ini menjadi alasan kuat bagi Sasuke untuk kembali padanya, namun Sakura tidak dapat menerimanya lagi. Ia hanya ingin Sasuke mengetahui keberadaan anaknya, wanita itu tidak akan meminta pertanggungjawaban dari Sasuke.
Sakura tercenggang kaget saat melihat Gaara keluar dari kantor Sasuke. Gaara juga ikut terkejut saat melihat Sakura berada di sana. Dengan cepat, pemuda itu beranjak menuju Sakura.
"Sakura? Kau sedang apa di sini?" tanya Gaara bingung.
"K-kau sendiri?" Sakura bertanya dengan gugup tanpa menjawab pertanyaan Gaara.
"Aku sedang rapat di sini." Jawaban Gaara dihiraukan Sakura saat emeraldnya menangkap Sasuke keluar dari kantornya. Pria itu memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celananya dan melirik Sakura. Sasuke nampak terkejut, namun seketika membuang pandangannya dari Sakura, membuat Sakura heran akan tingkahnya.
"Sasu-" Perkataan Sakura terputus saat Sasuke berjalan melewatinya tanpa memandang ke arahnya. Sakura menatapnya dengan pandangan kecewa, apakah Sasuke benar-benar tidak ingin lagi berbicara padanya?
"Oh, jadi ternyata kau masih memikirkannya." Sakura menoleh ke Gaara yang menatapnya dengan tajam.
"A-aku…"
"Kalau kau masih memikirkannya, kenapa kau selalu bersamaku? Kenapa kau tidak mengejarnya saja?" Nada suara Gaara menjadi dingin, membuat Sakura panik.
"G-Gaara, bu-"
"Kau tahu aku mencintaimu! Tapi kenapa kau masih memikirkannya, hah?! Untuk apa kau mendekatiku kalau kau masih saja terjerat dalam diri Sasuke?!"
"Bukan begitu! Aku-" Sakura meneguk ludahnya. "-hamil."
Mata jade Gaara membelalak lebar, sebuah hantaman telak di rasakan dari dalam hatinya. Ia menatap miris wanita di depannya, kemudian menunduk diam.
"Ga-Gaara?" Gaara masih tak merespon panggilan Sakura, ia merasa tak sanggup berbicara. Amarahnya mulai sampai di puncak kesabarannya.
"Jadi selama ini, kau hanya mempermainkanku…" Sakura tersentak mendengar gumaman Gaara. Wanita itu menggeleng dengan cepat.
"Tidak! Aku-"
"Kau hanya menjadikanku pelampiasan!" Sakura menatap Gaara yang memancarkan pandangan kecewa padanya. Emerald Sakura mulai berkaca-kaca, ia merasa bersalah telah menghancurkan perasaan tulus Gaara.
"Aku tidak menjadikanmu pelampiasan! Percayalah padaku, Gaara!" ucap Sakura dengan nada bersungguh-sungguh, Gaara memicingkan matanya tajam.
"Buktikan kalau kau serius dan tak bermain-main denganku," ujar Gaara dingin, Sakura mengernyitkan alisnya.
"Bukti? Apa maksudmu? Aku tidak mau menggugurkan anak ini!" Sakura dengan refleks memegang perutnya.
"Tidak, aku tidak menyuruhmu untuk menggugurkannya." Sakura memiringkan kepalanya, penasaran dengan maksud Gaara, Gaara menatap Sakura masih dengan tatapan yang sama dengan sebelumnya. "Jika kau memang mempunyai perasaan padaku, tak mempermainkanku, dan serius padaku, maka…" Tatapan Gaara melembut, membuat Sakura menahan nafasnya.
"…menikahlah denganku."
.
.
.
TBC
Apa iniiiii?! #lompat dari jembatan
Gomen ne reader-san T.T Gomen sebanyak-banyaknya! Udah telat update, hasilnya malah kek gini ==" #bunuhlah akuuu!
Oh ya, sekedar informasi. Saya ini Sasuke Centric, jadi saya tidak tega buat Sasuke menderitaaa! Dx
Ini aja udah merasa bersalah banget sama Sasuke, apalagi Sakura… gomeeeenn! #sujud-sujud
Jadi, buat reader yang minta Sasu lebih disiksa, mungkin saya akan buat dia tersiksa, tapi saya nggak akan kelewatan. Jadi mohon dimengerti kalo nanti Sasuke gak terlalu tersiksa yaahh…#ngomong apaan sih?
Saya juga gak bermaksud buat Saku menderita, tapi ini memang alurnya, dan saya nggak bisa ubah alurnya, karena endingnya udah terlintas di kepala saya =="
Oke, saatnya balas review :
Hanna Aiko :
Hai ^^
Hmm … gimana yaahh?#plaak!
Hikari? Kan udah kubilang, dia anakku dan Sasuke xD#plak #becanda kok
Oke, baca aja deh pokoknya! Thanks reviewnya yah, review lagi ^^
Uchiha :
Eem … bagusnya anak siapa?
Btw, hai ^^ thanks reviewnya, review lagi xD
Guest :
Alasan? Karena Neji lebih milih saya dari Tenten… #plak!
Pokoknya baca aja deh! Thanks reviewnya! Review lagi ;)
Cachan :
Maaf Cachan-san T.T
Sudah kujelasin kan di atas? Tapi tenang aja, ada kok saat-saat di mana Sasuke menderita nanti, jadi baca aja yah ;))
Oh ya, makasih reviewnya, review lagi yaahh!
SasuSaku Kira :
Huo … jangan tanya saya, saya juga tidak tahu!#plak!
Iya, Saku baik bangeeett jadi pengen cubit pipinya deehh… #dishannaro
Oke, makasih reviewnya, review lagi yah ^^
Maaf kalo ada yang tidak kubalas, boleh protes kok, saya teledor sih =="
Bagi yang login, silahkan cek PM kalian masing-masing! Okey? ;)
Btw, maaf kalo feel-nya gak kerasa yah, saya ngetik ini dalam keadaan yang buruk habis terkena sebuah insiden =="#ceilah
Oke, review please!
Arigatou gozaimasu!
Hany-chan DHA E3
