Still © Hany-chan DHA E3

Naruto © Masashi Kishimoto

Rated : T+

Warn : ooc, bad diction, read summary first and DLDR!

Happy reading :D

Chapter 8 : Again.

.

.

.

"G-Gaara…" Sakura menatap pemuda di depannya dengan raut wajah terkejut tak percaya kala mendengar perkataan yang dilontarkan Gaara tadi. Sakura menunduk dan tertawa paksa, wanita itu kini tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. "Jangan bercanda…" lirihnya dengan tawa paksa yang masih menghiasi wajah cantiknya. Ia tahu-tidak, ia sangat tahu kalau pemuda dengan mata hazel di depannya ini tidak bercanda ; terlihat dari keseriusan maksimal yang ditampilkannya di wajah tampannya saat ini.

"Kau tahu aku tidak bercanda." Suara Gaara terdengar ditelinga Sakura. Sakura semakin menunduk, tidak berani menatap wajah Gaara yang pasti tengah menatapnya dengan tajam saat ini.

"I-ini terlalu cepat … tidak bisakah kau memikirkannya sekali lagi?" Sakura terpaksa harus menatap Gaara saat dirasakannya kedua tangan pemuda itu mencengkram kedua bahunya. Sakura kini dapat melihat mata hazel Gaara memandangnya dengan tatapan kecewa, marah, serius ; semuanya bercampur aduk. Tapi Sakura yakin perasaan kecewa Gaara-lah yang lebih besar.

"Aku tidak perlu memikirkannya dua kali. Keputusanku sudah bulat, Sakura. Aku akan menikahimu." Gaara melepas cengkramannya dan kembali berkata, "kau mau orang-orang berpikir negatif tentangmu?" Sakura menggeleng mendengar pertanyaan Gaara.

"Bagiku tak masalah. Tak masalah jika mereka menghinaku, mengataiku, atau menganggapku bagaimana. Aku tidak peduli, karena ini memang kesalahanku." Rahang Gaara mengeras mendengar perkataan Sakura.

"Kau memang tak peduli. Tapi bagaimana dengan bayi itu?" Gaara melirik bagian perut Sakura. "Dia tak berdosa. Haruskah dia menanggung rasa sakit akibat ulahmu dan Sasuke? Apa tanggapannya jika ia dianggap sebagai anak haram?" Sakura membulatkan matanya. Ia tak pernah berpikir jauh ke depan seperti itu. Perkataan Gaara ada benarnya, bagaimana jika nanti anak Sakura merasakan rasa sakit yang dirasakannnya?

"Aku … tidak mau, aku tidak mau anakku merasakan rasa sakit yang dirasakan ibunya!" Gaara tersenyum tipis saat mendengar pekikan Sakura.

"Karena itulah…" Gaara menggenggam tangan Sakura dan tersenyum lembut pada wanita itu. "…menikahlah denganku."

~~~0~~~

"Menikah dengan Gaara?! Kau serius?!" Ino tak dapat menyembunyikan keterkejutannya, mata aquamarine gadis itu membelalak lebar ; menatap sahabat pink-nya dengan tatapan tak percaya sekaligus syok berat. "Tapi bagaimana dengan Sasuke?" tanyanya lagi saat gadis itu mulai tenang. Mendengar nama 'Sasuke', membuat Sakura menunduk.

"Sasuke sudah tidak ingin menemuiku lagi. Ini lebih baik…" Sakura menghirup nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya melalui mulut, berharap agar bebannya hilang bersamaan dengan nafas yang dihembuskannya. Sakura memegang perutnya, kemudian mengelusnya lembut dengan tatapan sendu. "Sasuke lebih baik tak mengetahui keberadaannya."

Braak!

Sakura terkesiap saat Ino memukul meja di depannya, membuat seluruh pelanggan kafe tersebut memandang ke arah mereka berdua. Sakura baru saja hendak menegur Ino, namun Sakura tak sempat berkata-kata saat melihat amarah yang terpancarkan dari manik aquamarine sahabatnya itu. "Bodoh!" geram Ino. "Terserah jika kau mau menikah dengan Gaara, tapi biarkan Sasuke mengetahui keberadaan bayinya!" seru Ino kencang. Sakura menatap sekeliling, pengunjung kafe tersebut menatap mereka berdua dengan pandangan aneh, membuat Sakura terpaksa menarik tangan Ino untuk keluar ; yang tentu saja disemprot berbagai protesan dari wanita pirang tersebut.

"Sakura, lepaskan aku!" Ino berusaha melepas tangannya dari cengkraman maut Sakura, namun Sakura tak menghiraukannya dan memilih untuk berjalan lebih cepat. Saat dirasanya telah sampai ke tempat yang lumayan sepi, Sakura menghempaskan tangan Ino dan menatap wanita itu dengan pandangan malas.

"Kau tidak lihat semua pengunjung kafe tadi menatap kita dengan pandangan aneh?" Sakura berkacak pinggang, sedangkan Ino mendelik tajam.

"Memangnya perkataanku salah? Coba kau pikir, jika kau punya seorang bayi, tapi kau tak mengetahui keberadaannya dan malah mengenal anakmu itu sebagai anak orang lain, namun kau juga merasakan ikatan batin dengan anakmu itu, apa yang kau rasakan?" Sakura menatap Ino aneh, wanita itu tidak mengerti maksud pertanyaan dari Ino yang berbelit-belit itu, Ino menghela nafas kemudian bertanya, "apa kau pikir pernikahan semudah itu? Kau akan menikah, dikarenakan ingin menutupi kehamilanmu itu? Kau memang ingin menutupinya, tapi bagaimana dengan Gaara?" Sakura mengernyitkan alisnya heran, sekali lagi, ia tak mengerti pertanyaan istri pelukis di depannya.

"Apa maksudmu?" Ino menggerlingkan matanya ke arah lain, namun kemudian kembali menatap Sakura dengan pandangan serius.

"Gaara itu menikahimu dengan alasan ingin menutupi kehamilanmu, tapi itu bukan tujuan sebenarnya," imbuh Ino yang semakin mengundang tatapan penasaran dari Sakura. "Dia menikahimu, karena ia cemburu dengan Sasuke. Ia tak ingin jika kau kembali padanya lagi." Sakura menunduk kaku kala mendengar perkataan Ino.

"Aku tahu itu, Gaara mengajakku menikah untuk membuktikan seberapa besar cintaku padanya." Sakura meremas roknya pelan, sedangkan Ino menatapnya dengan pandangan serius.

"Nah, pertanyaannya adalah-" Sakura mendongak menatap Ino, "-apakah kau benar-benar mencintai Gaara?"

Deg!

Tubuh Sakura menegang. Sebenarnya ini adalah pertanyaan yang sangat mudah. Tinggal menjawab iya- atau –tidak. Pertanyaan Ino terngiang di kepalanya- apakah ia benar-benar mencintai Gaara?

"Alasanmu menikahi Gaara dan alasan Gaara menikahimu berbeda. Seharusnya kau lebih mengetahuinya daripada aku." Ino meraih ponselnya dan tampak mengetikkan sebuah nomor, kemudian wanita itu menempelkan ponselnya di telinganya- menelpon seseorang.

"Ini aku, Ino." Ino berbicara, sedangkan Sakura hanya diam ; masih bergelut dalam pikirannya. "Terserah kau mau percaya atau tidak- tapi aku akan memberitahumu sesuatu, dan aku bersumpah bahwa apa yang kukatakan ini benar." Sakura mulai penasaran akan arah pembicaraan Ino pada orang yang ditelponnya.

"Sakura mengandung anakmu." Sakura membulatkan matanya. Ternyata- orang yang ditelpon Ino adalah Sasuke?!

"Ino!" Ino tak menghiraukan seruan Sakura dan tetap berbicara.

"Kami ada di taman pusat kota. Jika kau mau bertemu Sakura, datanglah ke sini."

Piip…

Ino memutuskan sambungan dan menatap Sakura yang kini menatapnya dengan pandangan marah. "Kenapa kau melakukannya?!" gertak Sakura marah. Ino hanya menatap Sakura santai seraya mengedikkan bahunya.

"Aku hanya membantumu," jawabnya enteng. Sakura mengepalkan tangannya, tubuhnya bergetar hebat. Ia ingin marah- tapi ia tak tahu alasan yang menyebabkan dirinya marah. "Sasuke akan segera ke sini. Aku harap kau berbicara padanya dengan kepala dingin. Ingat, Sakura…" Ino melembutkan nada suaranya.

"…tidak ada salahnya memberikan kesempatan kedua padanya 'kan?" Ino tersenyum tipis, kemudian berkata lagi, "jangan mengingat seseorang karena kesalahannya di masa lalu, tapi ingatlah bagaimana usaha orang itu untuk berubah." Menghela nafas sejenak, kemudian wanita itu kembali berkata, "Sasuke memang pernah menyakitimu. Tapi jika ia tak menyesali perbuatannya, buat apa ia repot-repot mengejarmu? Sedangkan dia bisa hidup santai bersama Tenten, atau ia bisa mencari penggantimu dan hidup bahagia sekarang. Ia bahkan tak perlu menghancurkan imej Uchiha-nya itu di depanmu." Sakura menunduk, kepalanya sangat pusing sekarang, ia begitu tertekan dengan keadaannya-dan ia tahu bahwa ia tak dapat lari dari keadaan ini.

"Sakura?" Sakura dan Ino menolehkan kepalanya pada pria yang menghampiri mereka. Sakura terkesiap saat melihat orang tersebut. Orang itu-

"N-Neji!"

~~~0~~~

Gaara merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Rapat dengan perusahaan Sasuke benar-benar menyita tenaganya. Ia melirik sekeliling, orang-orang telah meninggalkan ruangan rapat ; meninggalkan pemuda itu sendirian. Saat merasa otot-ototnya sudah mulai tak kaku lagi, ia beranjak dari kursinya dan keluar dari ruang rapat. Pemuda itu berjalan dengan santai di koridor perusahaan Sasuke, sampai ia mengerutkan keningnya kala melihat seorang anak kecil sedang duduk seraya bersenandung ria, gadis itu mengayun-ayunkan kakinya dengan santai. Entah setan apa yang merasukinya, Gaara menghampiri anak kecil berambut cokelat tersebut dan duduk di sebelahnya.

"Kau sendirian?" Sungguh. Gaara terlihat seperti seorang om-om yang menggoda gadis muda. Gadis kecil tadi menoleh dan menatap Gaara dengan pandangan heran, namun seketika ia tersenyum dan mengangguk.

"Ya, ibuku sedang membeli makanan." Gaara mengangguk.

"Oh ya, namaku Gaara. Sabaku Gaara," ucap Gaara memperkenalkan diri, gadis kecil tadi tersenyum sekali lagi dan mengangguk.

"Namaku Hikari, salam kenal paman!" seru anak itu dengan nada riang. Hikari? Gaara merasa tak asing dengan nama gadis kecil tersebut. Seakan mengingat sesuatu, Gaara tersentak, kemudian menoleh pada gadis itu dengan cepat.

"Siapa nama ayahmu?" tanya Gaara. Hikari menatap Gaara dengan tatapan heran sejenak, namun kemudian gadis kecil itu menjawab.

"Uchiha Sasuke." Mata hazel Gaara membulat lebar, ternyata tebakannya benar. Anak di hadapannya ini adalah anak Sasuke.

"Hikari!" Baru saja Gaara hendak bertanya lagi, namun dihentikan oleh seruan wanita bercepol dua yang menghampiri mereka dengan pandangan cemas. "Ibu mencarimu ke mana-mana! Ternyata kau ada di sini." Gaara memandang wanita bercepol dua tersebut, jadi ini selingkuhan Sasuke dulu, heh? Tenten menoleh pada Gaara yang mengamatinya, wanita itu tersenyum tulus pada Gaara.

"Apakah anak ini merepotkanmu? Maafkan aku…" Tenten menunduk di depan Gaara, Gaara menggeleng dengan cepat.

"Tidak, ia tidak merepotkanku," elak Gaara berusaha tersenyum. Gaara dapat melihat bahwa Tenten adalah wanita yang baik, mana mungkin wanita ini selingkuhan Sasuke? Dibayangan Gaara, wanita selingkuhan Sasuke adalah wanita yang tak jauh beda dari wanita panggilan di luar sana, namun wanita di depannya sungguh berbeda, wanita di depannya memiliki sopan santun dan tampak baik.

"Ah, kalau begitu, terimakasih telah menjaga anakku." Tenten sekali lagi berojigi dan hendak meninggalkan Gaara, Gaara menyadarinya dan segera menghentikan langkah Tenten. Ia menahan tangan Tenten untuk pergi.

"Sabaku Gaara," ucap Gaara. Tenten tampak terpengarah, kemudian wanita itu tersenyum lembut.

"Tenten." Mereka saling berjabat tangan.

"Emm … mau berjalan-jalan ke taman sebentar?" ajak Gaara kikuk. Tenten menaikkan sebelah alisnya ; heran. Gaara menjerit dalam hati, tingkahnya sungguh konyol, baru pertama bertemu, dan langsung mengajak seseorang ke taman? Kali ini ia benar-benar om-om penggoda!

"Tapi aku-"

"Tamaaan!" Hikari tiba-tiba berseru kencang-memotong ucapan-ralat, tolakan ibunya dengan seruan yang disertai dengan mata berbinar-binar. "Hikari mau ke tamaaan!" rengek gadis kecil itu seraya menarik-narik tangan ibunya dengan manja. Tenten menghela nafas perlahan, dan tersenyum ke arah Gaara.

"Baiklah."

.

.

.

Sasuke mempercepat langkahnya, pria itu tak menghiraukan tatapan orang-orang yang memandanginya heran. Tentu saja heran, pakaian Sasuke adalah pakaian kantor, dan malah berjalan di taman sendirian. Tapi Sasuke tak peduli, tujuannya sekarang hanyalah Sakura, Sakura, dan Sakura.

Sasuke meralat semua perkataannya bahwa ia akan meninggalkan Sakura. Sasuke melempar jauh-jauh keinginannya untuk melupakan Sakura. Sasuke membuang semua niatnya untuk tak menemui Sakura lagi. Hari ini ia akan menemui Sakura, dan calon bayinya. Sasuke tersenyum simpul, ia tak menyangka bahwa Sakura akan mengandung anaknya. Ia bahkan sempat berteriak senang saat Ino memberitahunya tadi. Saat Ino memberitahunya, ia langsung beranjak dari kantornya. Namun sayang sekali kunci mobilnya harus hilang di saat seperti ini, sehingga ia harus berjalan kaki sampai ke taman. Ah- ia baru ingat, ternyata ia juga sempat membuang kunci mobilnya saking senangnya.

Kini ia merasa bodoh. Dulu ia tak mengharapkan seorang penerus, namun ternyata keberadaan penerus tersebut malah membuatnya senang berkali-kali lipat dari biasanya. Sasuke memicingkan matanya kala melihat seorang wanita berambut merah menatapnya dengan pandangan tajam.

"UCHIHA SASUKE!" Karin-gadis tadi menghampirinya. "Kau mau ke mana, heh?" tanyanya dengan nada menantang. Sasuke memutar bola matanya, bukan gadis ini yang mau ditemuinya, tapi sepupunya!

"Aku mau menemui Sakura." Mata ruby Karin membulat lebar.

"TIDAK! Tidak boleh!" Karin berseru kencang sekali lagi. "Memangnya Sakura itu barang yang mau kau temui seenaknya?! Sakura ingin menemuimu kemarin, tapi kau tak mau menemuinya! Dan sekarang… hey! Tunggu! Aku belum selesai!" Karin menarik tangan Sasuke yang hendak pergi meninggalkannya. Sasuke berusaha melepaskan diri dari cengkraman maut Karin.

"Minggir! Aku mau menemui Sakura dan calon bayiku!" Mata Karin sekali lagi membulat.

"Dari mana kau mengetahuinya?!" Sasuke hanya menatap malas Karin dan membalikkan dirinya lagi, namun Karin menahan tangannya. "Jangan ganggu hidup Sakura lagi, pantat ayam sialan!" Karin terus menarik tangan Sasuke yang melangkahkan kakinya. Sasuke berusaha melepaskan diri dari Karin yang terus menahannya. Terjadilah aksi tarik-menarik antara mereka berdua, namun tentu saja Sasuke yang menang. Karin belum menyerah, ia mempererat cengkramannya pada tangan Sasuke, Sasuke tak peduli dan tetap berjalan cepat sehingga Karin ikut terseret.

"Jangan pergiiiii!"

.

.

.

"Kau sering ke taman ini?" Gaara memecahkan keheningan yang melandanya dan Tenten. Tenten menggeleng.

"Tidak juga," jawabnya. Gaara mengalihkan pandangannya pada Hikari yang sedang menjilat es krimnya.

"Oh ya, aku pacar Sakura." Tenten terlonjak kaget dan refleks menoleh ke arah Gaara.

"S-Sakura?" Gaara mengangguk. Tenten seketika tersenyum kikuk. "K-kebetulan sekali bertemu pacar Sakura di sini…" Gaara mengamati gelagat Tenten, merasa diamati, Tenten memandang Gaara dan tersenyum.

"Aku mau ke toilet sebebentar." Gaara mengangguk. Tenten beranjak meninggalkan Gaara dan Hikari. Pemuda berambut merah itu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru taman, sampai ia melihat Karin dan Sasuke yang sedang bermain (?) tarik-tarikan. Gaara baru saja hendak mengejar mereka, namun Hikari menahan tangan Gaara.

"Paman mau ke mana?" tanya gadis kecil itu. Gaara terlihat bingung, pemuda itu menjongkokkan dirinya, menyamakan ketinggiannya dengan Hikari.

"Hikari, bagaimana pendapatmu tentang ayahmu?" tanya Gaara tiba-tiba.

"Ayah? Ayah orang yang baik, dia tidak menyukai Hikari, tapi ayah masih baik terhadap Hikari." Gaara mengernyitkan alisnya.

"Tak menyukai Hikari?" Hikari mengangguk.

"Ayah tak menyayangi Hikari. Hikari tahu kalau ayah cinta sama bibi Sakura." Gaara memandang Hikari dengan tatapan miris. Kasihan sekali anak ini. "Tapi, Hikari tetap menyayangi ayah!" Hikari tersenyum lebar, menampilkan deretan gigi-gigi putihnya.

Syuuuu!

Angin berhembus kencang, menyibak rok dan rambut Hikari. Hikari menggosok matanya yang tampaknya kelilipan itu, Gaara menahan kepala Hikari dan meniup-niup mata gadis kecil itu.

Syuuuu!

Angin sekali lagi berhembus kencang, menyibak ponny Hikari yang berada di depan Gaara, memperlihatkan kening Hikari yang agak lebar itu. Mata hazel Gaara terbelalak, gerakannya untuk meniup mata Hikari terhenti.

"Paman?" Hikari memanggil Gaara, Gaara tersentak dan tersenyum ke arah Hikari. Hikari tak membalas senyum Gaara dan menoleh ke arah kanan, kemudian tersenyum sumringah. "Ibu!" serunya saat melihat ibunya menghampirinya.

"Maaf lama menunggu." Tenten tersenyum. Gaara bangkit dan memandang Tenten dengan tatapan tajam.

"Kenapa kau melakukan ini…" lirih Gaara, Tenten memandang Gaara heran.

"Apa maksudmu?" tanya Tenten heran. Gaara menarik tangan Hikari dengan lembut dan beranjak pergi, Tenten yang melihatnya semakin heran akan tingkah Gaara. "Kalian mau ke mana?" tanya Tenten penasaran. Gaara tak menjawab, Hikari memandang kedua orang dewasa di hadapannya dengan tatapan bingung.

"Paman, kita mau ke mana?" tanya Hikari polos. Gaara memandang Hikari dan menghela nafas pelan, kemudian tersenyum.

"Kita akan menemui ayahmu." Hikari memiringkan kepalanya.

"Ayah?" ulangnya lagi. Gaara mengangguk.

"Ayahmu. Ayah aslimu."

.

.

.

"N-Neji?" Neji tersenyum tipis pada Sakura.

"Ternyata benar kau," ujar Neji. Sakura membalas senyuman Neji.

"Neji? Kau Hyuuga Neji yang sekelas dengan Sakura 'kan?" Neji memandang Ino dengan tatapan heran. "Aku Ino, dari kelas sebelah. Kau ingat?" Neji tampak berpikir, kemudian terkekeh pelan.

"Ino si ratu gosip itu kah?" Ino memanyunkan bibirnya. Baru saja ia hendak membalas omongan Neji, namun sebuah seruan kencang menghentikannya.

"SAKURAAAA!" Sakura, Ino dan Neji tersentak kaget dan menoleh ke arah Sasuke dan Karin. Karin masih saja mencengkram tangan Sasuke, sedangkan Sasuke berjalan tanpa ada niat untuk menghiraukan Karin. Sampai di depan Sakura, Sasuke melepas cengkraman Karin dengan sekali hentakan dan memandang wanita di depannya dengan pandangan sedih.

"Aku tahu tak ada gunanya lagi meminta maaf padamu." Sasuke bergumam, pria itu menunduk.

"Sasuke?" Sasuke kembali mendongak dan memandang Neji, mata onyx Sasuke membulat.

"Kau-" Neji juga tampak kaget saat melihat Sasuke yang kini di hadapannya. "-Neji?!"

"Lama tak jumpa, Sasuke. Terasa seperti bernostalgia." Sasuke mendelik tajam. Sasuke tahu bahwa Neji dulu menyukai Sakura-dan tak ada yang bisa memastikan bahwa Neji tak menyukai Sakura lagi. Bisa saja kali ini Neji ingin merebut Sakura 'kan?

"Sepertinya semuanya berkumpul di sini." Sakura, Ino, Karin, Neji serta Sasuke menoleh pada Gaara, Tenten dan Hikari yang menghampiri mereka. Neji dan Tenten saling memandang dan sama-sama membulatkan kedua matanya.

"Neji?!"

"Tenten?!"

Mereka memekik bersamaan. Di samping itu, muncullah hawa ketegangan di antara mereka.

.

.

.

Tbc

Pendek? Iya.

Hancur? Iya.

Lama update? Banget.

Saya … gak tahu harus bagaimana. Ehem, minta maaf? Saya sudah sering melakukannya #gelindingan

Walau begitu, saya minta maaf banget telat update, sudah telat, hancur plus pendek pula T.T gomen minna #sembunyidibelakangitachi

S-saya mau menjawab reviewer unlogin dulu :

Guest :

Lanjut kok ._. Saya pasti lanjutin story saya, walau update-nya lama T.T

Oh ya, makasih udah review ^^ review lagi? :D

Meimei-chan :

hai :D

Sedih? Fanfic-nya gak sedih, tapi author-nya yang menyedihkan #guling-guling

Makasih udah review :D review lagi? xD

Chii no pinkycherry :

Hai haiiiii :D

Makasih udah review, review lagi? x"D

Uchiha :

Hai :D wkwkwkwk xD iya anak aku aja deh x"D anak aku dengan Itachi, wakakakak xD

Makasih udah review yah :D review lagi? xD

NE :

Haaiiiiii :D

Kenapa yah? Mungkin karena Gaara … mukanya muka orang ketiga? #kicked

Makasih udah review :D review lagi? x"D

Sasusaku kira :

Haiiiii :D

Iya tuh, apaan tuh Sasuke! Kok menghindar sih?! Waduh, kan ribet! #geplaked

Makasih udah review :D review lagi? x"D

QRen :

Haaaiii :D

Iya nihhh, Gaara sama aku aja! #benerandigantung

Makasih udah review yah :D review lagi? x"D

Tw :

Haii … :D

Wkwkwk, makasih udah review walaupun hanya senyum doang xD review lagi? x"D

Maaf jika ada kesalahan dalam penulisan nama dan ada reviewer unlogin yang tak dibalas, boleh melakukan protes :D

Fic ini tamatnya chapter berapa? Yang bertanya tentang hal itu, iya deh, aku jawab…

Fic ini tamatnya chapter 9. Jadi chapter depan chapter terakhir ^^ #innocent #kicked

Sebenarnya aku mau namatin di chap ini, tapi nanti kepanjangan, jadi aku belah dua (?) dan hasilnya malah kependekan Dx

Hmmm… sekian bacotan saya :D

Review please? :D

Arigatou,

HN.