Still © Hany-chan DHA E3
Naruto © Masashi Kishimoto
Rated : T+
Warn : Ooc, bad diction, read summary first and DLDR!
Happy reading :D
Last Chapter : Final!
.
.
.
Suasana menegang. Bahkan Ino dan Karin yang terkesan cerewet pun tak sanggup berkata-kata. Hanya Gaara yang terlihat santai dalam keadaan ini. Mengerti akan situasi, Gaara membuka suara.
"Ada banyak hal yang harus kau ketahui, Sasuke, Sakura," ucap pemuda itu serius. Sasuke dan Sakura menatap pemuda tanpa alis tersebut dengan pandangan bertanya.
"Banyak hal yang harus kami ketahui? Apa itu?" tanya Sakura tak dapat menyembunyikan rasa penasarannya, apalagi kala melihat Tenten yang menampilkan wajah cemas.
"Tenten, jelaskan apa yang terjadi pada mereka." Gaara menatap Tenten tajam, sedangkan Tenten panik di tempatnya.
"M-menjelaskan apa? A-aku tidak mengerti apa yang kau katakan!" seru Tenten tergesa-gesa. Gaara menatap wanita itu kemudian menghela nafas.
"Jelaskan siapa ayah Hikari! Kau tak bisa menyembunyikannya dariku. Aku tahu bahwa Sasuke bukan ayah Hikari." Sasuke, Sakura, Neji, Ino dan Karin terkejut kala mendengar perkataan Gaara, mereka yakin Gaara tak sedang bercanda. Raut wajah keseriusan maksimal yang ia tampilkan membuat perkataannya tak dapat dibantah.
"A-apa maksudmu Gaara?" Sakura bertanya dengan nada terbata-bata.
"Hikari mempunyai pony yang menutupi kebenarannya," tutur pemuda bermata panda tersebut.
"Hah?! Pony! Kau bercanda, panda?! Mana mungkin sebuah pony dapat menyembunyikan kebenaran!" Karin mengelak. Ia yakin perkataan Gaara sungguh tak masuk akal.
"Hn. Dibalik pony Hikari, ada sebuah tanda di dahinya yang persis dengan tanda lahir yang ada pada ayah kandungnya," ucap Gaara. Semuanya sontak memandang pada kening Hikari yang masih tertutupi pony.
"J-jadi maksudmu…" Ino melangkah mendekati Hikari. "Tanda yang sama? Berarti Hikari..." Ino memandang Gaara dengan tatapan tak percaya, "…anakmu?"
Gaara memejamkan matanya dan mengangguk. "Ya."
.
.
.
Krik … krik…
"Hah?! Bukan bodoh! Hikari bukan anakku!" seru Gaara kencang saat ia baru sadar tentang apa yang ia ucapkan tadi. Ino yang tak terima dikatai bodoh langsung membalas.
"Kau yang bodoh! Siapa lagi yang punya tanda lahir di kening selain kau?! Tattoo 'ai'mu menjawab segalanya! Lagipula kau menjawab 'ya' tadi!" Gaara mendengus.
"Itu perkataan refleks! Aku pikir kau dapat menjawabnya!" Gaara mendecak kesal. "Bukan hanya aku yang punya. Neji juga punya tanda lahir di keningnya. Sebuah tanda lahir yang terlihat samar, yang menandakan bahwa ia berasal dari Klan Hyuuga bawah." Gaara menatap Tenten tajam seraya berkata, "dan Hikari juga punya itu."
Sakura, Sasuke, Ino, Karin, dan bahkan Neji lagi-lagi terkejut mendengar perkataan Gaara.
"Apa yang kau katakana? Anakku?" Nada suara Neji meninggi, pria itu menatap Tenten penuh tanya, meminta penjelasan pada wanita tersebut. "Katakan Tenten! Apakah Hikari anakku?!" bentaknya. Tenten hanya menunduk seraya diam di tempatnya. Wanita itu meremas roknya.
"Katakan Tenten, apakah Hikari anak Neji?" Sasuke ikut membuka suara. Perasaan pria tersebut kacau balau, ia merasa senang, namun ia belum dapat menunjukkan rasa senangnya itu. Tenten masih terdiam.
"Tenten … kumohon. Katakan yang sejujurnya…" pinta Sakura memohon. Tenten kemudian mendongak menatap semuanya dengan air mata yang telah tumpah.
"YA! YA! YA! HIKARI ANAKMU, NEJI!" teriaknya frustasi. "AKU MELAKUKAN SEMUANYA KARENAMU!" teriak Tenten lagi. Sakura yang merasa iba langsung memeluk Tenten, mencoba menenangkan wanita tersebut.
"Karenaku? Apa maksudmu Tenten?! Kenapa kau tak mengatakannya dan malah meninggalkanku dulu?!" Neji mendekati Tenten. Tenten terisak di pelukan Sakura, wanita itu kemudian menatap Neji.
"Kau tak mengingatnya, Neji. Saat itu, dua tahun yang lalu…"
.
.
.
Flashback
"Neji, kau tidak apa?" Tenten menopang tubuh Neji yang tengah mabuk, mereka berdua memasuki ruangan salah satu hotel di dekat tempat kerja mereka.
"Hik … kau kah itu Tenten? Hik…" Neji berucap di tengah alam sadarnya.
"Ya, ini aku…" ujar Tenten lembut. "Aku tak menyangka kau akan semabuk ini. Sekarang beristirahatlah di sini." Tenten masih menopang tubuh Neji. Saat wanita itu ingin menidurkan Neji di ranjang, Neji malah menyerangnya, menciumnya dengan ganas dan mengapit tubuh wanita itu di tembok.
"Hmmphh… Neji! Hmmpph… lepas-" Neji terus menciumnya tanpa ampun. Tenten mencoba mendorong tubuh kekasihnya itu, namun tenaga Neji sungguh kuat. Mencoba mendorong Neji malah membuat tenaga Tenten terkuras. Neji terus menerus menyerangnya. Tubuh Tenten mulai lemas, ia tak merasakan apa-apa lagi. Hanya satu kata yang terdengar di telinganya, satu kata dari mulut kekasihnya yang membuatnya terkejut bukan main.
"Sakura…"
.
.
.
Tenten menatap tubuhnya yang tak dibalut apapun dengan tatapan miris. Wanita itu menatap pria yang tertidur di sampingnya dengan pandangan sedih. Pria yang amat dicintainya, namun sepertinya perasaannya masih bertepuk sebelah tangan walau saat ini pria tersebut telah menjadi kekasihnya. Tenten tahu, bahwa Neji hanya menjadikannya pelampiasan atas cintanya yang bertepuk sebelah tangan dengan Sakura-istri atasannya. Wanita tersebut perlahan berdiri dan memakai pakainnya. Nyeri ia rasakan pada selangkangannya, namun wanita itu tetap melangkah. Sebelum ia meninggalkan kekasihnya, ia menyempatkan mengecup bibir kekasihnya untuk yang terakhir kalinya. Setitik air mata jatuh dari kelopak matanya.
Tak terasa telah sebulan Tenten menjauh dari Neji. Neji telah berapa kali menghubunginya, namun Tenten tak juga mengangkat telpon atau membalas sms Neji. Ia pindah dari apartemennya demi menjauhi pria tersebut. Ia mengganti jam tugasnya di kantor tempatnya bekerja pada jam sibuk Neji, sehingga pria tersebut tak bisa menemuinya.
"Selamat Nyonya, anda hamil dua minggu."
Bagaikan sebuah hantaman keras, Tenten dinyatakan hamil. Saat itu, Tenten tak tahu lagi bagaimana ia harus hidup. Namun ia bertekad untuk tak menggugurkan kandungannya. Anak ini adalah anaknya dan Neji. Satu-satunya peninggalan Neji untuknya. Tak masalah baginya jika ia harus menjadi seorang single parent.
Tenten berjalan gontai di koridor kantornya. Jam telah menunjukkan pukul sebelas malam, wanita itu lembur sehingga pulang lambat. Kantor Uchiha Corp sangat sunyi, sepertinya semua karyawan telah pulang.
"Kau tak mengerti perasaanku, Sasuke-kun!" Tenten terperanjat kaget saat mendengar sebuah suara. Tenten mendekati asal suara dan mengintip ke dalam ruangan asal suara tersebut, matanya terbelalak saat melihat atasannya dan istrinya tengah bertengkar.
"Kau yang tak mengerti perasaanku, Sakura!" Tenten dapat melihat Uchiha Sasuke menampilkan raut wajah marah dan lelah.
"Apa salahnya jika ada anak di antara kita berdua?! Aku menginginkannya Sasuke-kun! Aku lelah dengan sifatmu yang kekanak-kanakan itu!"
"Bukankah yang kekanak-kanakan itu kau?!"
"Kau yang egois! Aku selalu menuruti keinginanmu, sedangkan kau tak pernah menuruti keinginanku sedikitpun! Hanya ini yang kuminta!"
"Demi tuhan Sakura! Aku lelah! Aku lelah berdebat denganmu tentang hal ini! Kau tak lihat aku sedang lembur? Dan kau malah datang kepadaku untuk berdebat!" Tenten dapat melihat Uchiha Sakura terisak pelan. Alis Tenten mengerut.
"Kau jahat! Padahal aku hanya ingin anak … hiks…" Sasuke mendekati istrinya dan mengusap kepalanya.
"Maafkan aku, tapi sungguh, aku belum sanggup…" Tenten masih terheran-heran, namun wanita tersebut memutuskan untuk tak peduli dan meninggalkan ruangan bos-nya itu. Tenten tak menyangka, ternyata hubungan atasannya dan istrinya kurang baik. Padahal mereka sangat romantis pada awal pernikahan mereka.
.
Ini sudah yang kesekian kalinya Tenten mendapat atasannya dan istrinya bertengkar dengan satu hal yang sama ; anak. Semakin hari, pertengkaran mereka semakin hebat. Jika dulunya Sasuke selalu minta maaf, maka kali ini atasannya tak meminta maaf lagi. Dan lama-kelamaan pula, Tenten menjadi tertarik dengan pertengkaran mereka.
Malam ini malam jum'at, Tenten berjalan di koridor kantornya. Kantor saat ini sangat sepi, Tenten juga tak mendengar suara-suara Sasuke yang sedang bertengkar dengan istrinya. Tenten terus berjalan, namun langkah kaki jenjang wanita tersebut terhenti kala mendengar sebuah suara dari ruang atasannya.
"Hik … Sakura…" Tenten mengerutkan keningnya. Ia mengintip ke dalam ruangan melalui celah pintu. Matanya terbelalak saat ia melihat bos-nya memegang sebotol minuman keras dan tampak linglung. Lama ia melihat bos-nya, sampai sebuah ide muncul di kepalanya. Ide yang membuatnya jatuh ke dalam lubang dosa.
"Jika…" Tenten berlirih pelan. "…aku membuat rumah tangga Sasuke dan Sakura retak, apakah Neji punya kesempatan untuk memiliki Sakura?" Tenten bertanya pada dirinya sendiri. Entah mengapa, terlintas dibenaknya untuk meretakkan hubungan sang atasan dan istrinya. Tenten mengelus perutnya pelan.
"Kau ingin seorang ayah?" tanyanya pada bayi yang masih dalam kandungannya. "Aku rasa lebih baik kau memilikinya, sayang…" Dengan gontai, Tenten memasuki ruang atasannya. Ia melirik atasannya yang saat ini tertidur di sofa. Ia melihat atasannya dengan pandangan sedih, wanita itu membuka jas serta kemeja Sasuke. Kemudian ia membuka pakaiannya sendiri, saat ini ia hanya memakai bra dan celana dalam. Tenten menarik tubuh Sasuke dengan pelan dan menjatuhkannya di lantai seraya terisak. Wanita itu menidurkan dirinya di samping atasannya.
"Maafkan aku, Sasuke, Sakura…" Setelah berucap, wanita itu jatuh tertidur.
.
.
.
"Apa yang kau lakukan di sini?!" Uchiha Sasuke terlihat frustasi saat menemukan dirinya bersama dengan bawahannya yang saat ini dalam keadaan setengah telanjang.
"T-tadi malam aku melihat Sasuke-san mabuk. Aku masuk ke ruangan ini dan kau malah menyerangku!" Tenten berdusta, sebenarnya ia begitu tak tega melakukan ini. Miris ia rasakan di lubuk hatinya yang terdalam. Uchiha Sasuke memakai bajunya dan segera meninggalkan ruangan dengan wajah frustasi. Tenten menatap punggungnya dengan tatapan sendu. Hatinya sangat sakit dan hancur, dosa yang ia lakukan kali ini sangatlah besar. Ia tahu itu. Tapi apa daya, hanya inilah satu-satunya jalan untuk membantu Neji. Besarnya rasa cintanya pada pemuda itu membuatnya rela melakukan apa saja. Termasuk mengotori dirinya sendiri di mata atasannya.
Sakit yang dirasakan Tenten semakin besar saat mendengar kabar bahwa Sasuke dan Sakura bercerai. Namun sebagian hatinya merasa senang, ini berarti rencananya berhasil. Namun Tenten tahu, bahwa atasannya itu masih mencintai mantan istrinya. Sasuke memberinya sejumlah uang dan menyuruhnya pergi. Tenten tahu bahwa Sasuke begitu hancur saat ini. Karena dia, ulahnya. Tanpa berkata apapun, Tenten pergi meninggalkan atasannya. Dalam hati ia berharap, agar Neji dan Sakura dapat hidup bahagia.
.
End of flashback
"Aku tak tahu bahwa kau ternyata tak pernah bertemu Sakura sejak kita berpisah! Ini semua demi kau! Demi kebahagiaanmu!" Sakura menatap Tenten miris, ia tak menyangka beban yang dipikul Tenten lebih berat darinya.
"Tenten…" lirih Neji pelan.
"Kenapa kau tak menggunakan kesempatan itu, bodoh!? Kenapa kau tak mencari Sakura?!" Tenten berteriak histeris. Sakura menitikkan air matanya saat melihat Tenten yang histeris.
"Bagaimana bisa aku mencari wanita lain saat aku sudah merebut mahkotamu!" Neji ikut berseru. "Aku tahu bahwa malam itu aku dan kau melakukannya! Tapi aku tak menyangka kau akan hamil, kenapa kau tak menemuiku?!" Tenten terperanjat kaget saat mendengar perkataan Neji.
"N-Neji…"
"Kenapa kau tak meminta pertanggungjawabanku?! Aku akan dengan senang hati bertanggung jawab!"
"A-apa maksudmu?" Neji menunduk saat mendengar pertanyaan Tenten.
"Aku…" Neji mengepalkan tangannya. "AKU MENCINTAIMU, BODOH!" Tenten menatap Neji dengan pandangan tak percaya. Namun sedetik kemudian, Tenten tertawa miris.
"Omong kosong," ujar Tenten. "Kalau kau mencintaiku, kenapa kau menyebut nama Sakura malam itu?!" Neji tampak kaget.
"Aku … saat itu, aku belum menyadari perasaanku. Saat kau pergi, itu membuatku tersiksa! Aku terus mencarimu sampai membuatku kehabisan daya! Dan saat itu aku sadar bahwa aku membutuhkanmu, aku sadar bahwa aku menyayangimu, aku sadar bahwa aku mencintaimu!" Pandangan mata Tenten mengabur karena air mata.
"Bodoooh!" Tenten berteriak kencang. "Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?! Setelah semua yang kulakukan … setelah aku merusak hubungan Sasuke dan Sakura … setelah aku memfitnah Sasuke…" Tenten jatuh terduduk di tanah. Ia merasa kakinya sangat lemas bahkan untuk berdiri. "Hiks … maaf … maafkan aku … maafkan aku … ini semua salahku…" lirih Tenten seraya terisak. Sakura juga ikut terisak dan memeluk Tenten.
"Tidak apa, semua telah terjadi Tenten. Ini adalah takdir…" Hikari yang sedari tadi diam ikut memeluk ibunya. Gadis kecil itu turut menangis kala melihat sang ibu menangis. "Pasti berat, 'kan? Beban yang kau tanggung pasti sangat berat … membesarkan Hikari sendirian, bukanlah hal yang mudah…" Tenten terus terisak. "Aku memaafkanmu Tenten…"
Tenten menatap Sakura tak percaya, kemudian balas memeluk wanita berambut merah muda tersebut. "Terima kasih, Sakura…"
.
.
.
"Nah, satu masalah terselesaikan. Sekarang bagaimana, Sakura?" Gaara bertanya saat ia melihat Tenten sudah lebih tenang dari sebelumnya.
"Apa maksudmu, Gaara?" tanya Sakura bingung.
"Sekarang telah terbukti bahwa Hikari bukan anak Sasuke. Sekarang, apakah kau mau menerima Sasuke kembali, atau tetap bersamaku?"
Deg!
Kebimbangan telak dirasakan Sakura saat ini. Sasuke … telah dinyatakan tak bersalah. Apakah ia harus kembali padanya? Lalu bagaimana dengan Gaara? Apakah ia harus meninggalkan pemuda tersebut setelah semua yang ia lakukan pada Sakura? Bagaimana dengan anak yang dikandungnya ini? Memikirkan semua itu, membuat kepala Sakura dilanda rasa pusing.
"A-aku…"
"Sakura, kau bilang kau mencintaiku 'kan?" Tubuh Sakura semakin menegang saat mendengar pertanyaan Gaara. Apakah dia benar-benar mencintai Gaara? Atau…
"Sakura, jawab dengan jujur. Siapa yang kau cintai?" Karin memandang Sakura serius. Sakura meneguk ludahnya susah payah, apa salahnya memilih?
"A-aku…"
.
.
.
5 months after…
Seorang pria berambut merah dan seorang wanita berambut gulali berjalan santai di tengah keramaian kota. Wanita tersebut memegang perutnya yang telah buncit.
"Sakura … ayo…" Pria tersebut memanggil wanita di belakangnya yang berjalan sangat lambat.
"Perut buncit ini menyulitkanku, tahu!" Pria berambut merah tadi tertawa kecil. Gaara, pemuda tadi kemudian berjalan lebih lambat demi menyamai langkahnya dengan Sakura.
"Berjalan-jalan seperti ini baik untuk ibu hamil." Sakura mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ya, ya, ya," ucapnya ogah-ogahan. Gaara semakin tertawa saat dilihatnya raut wajah Sakura. Ia mencubit pipi Sakura, membuat Sakura memekik kesakitan. "Sakiiitt!" pekiknya kencang. Gaara tertawa kemudian berlari di depannya.
"Kejar aku kalau bisa!" Gaara menjulurkan lidahnya. Sakura menggembungkan pipinya kesal.
"Dasar panda jahil!" teriaknya. Baru saja ia mengambil ancang-ancang untuk lari, namun-
Greep!
-seseorang memeluknya dari belakang.
"Kau tidak boleh berlari, Sakura." Sakura tersentak kaget dan menoleh ke belakang.
"Ah! Sasuke-kun!" pekiknya girang. Sedangkan pria yang memeluknya hanya menatap datar ke depan seraya menggumamkan gumaman andalannya.
"Hey, kebetulan sekali Sasuke. Aku dan Sakura baru saja ingin ke kantormu." Sasuke mendelik tajam ke arah Gaara. Gaara yang menyadari itu hanya mendengus menahan tawa. "Jangan cermburu begitu, Sasuke. Aku hanya kebetulan berpapasan dengan Sakura di jalanan, sudah lama kami tak berjumpa." Tatapan tajam Sasuke lama-kelamaan pudar. Ia kemudian melepas rengkuhannya dari Sakura dan berdiri di samping wanita itu.
"Mau apa kau ke kantorku?" tanya Sasuke.
"Mengantar Sakura. Terlalu berbahaya jika seorang wanita hamil berjalan sendirian," jelas Gaara yang disambut anggukan dari Sakura.
"Mau apa kau di kantorku?" Sasuke menolehkan kepalanya pada Sakura, Sakura mengerucutkan bibirnya kesal.
"Kau pikir aku tidak bosan di rumah? Lagipula, si bayi merindukan ayahnya. Iya 'kan, sayang?" Sakura mengelus perutnya. Sasuke menghela nafas pelan, kemudian ia meraih tangan Sakura untuk berjalan bersamanya. Sakura mengikuti langkah Sasuke, namun seakan teringat sesuatu, ia membalikkan badannya. "Kau mau mampir ke rumahku, Gaara?" Pemuda berambut merah tersebut mengulum senyumnya kemudian menggeleng.
"Tidak usah, aku ingin menjemput Matsuuri di kampusnya." Sakura mengangguk-anggukan kepalanya, kemudian menyeringai.
"Kau pacar yang baik! Jangan menyakiti gadis muda itu yah!" pesannya kemudian membalikkan badannya, sedangkan Gaara hanya tersenyum kecil melihat kedua pasangan tersebut.
.
.
.
"Sasuke-kun, lihat! Ini surat dari Neji dan Tenten!" Sakura menggoyang-goyangkan sebuah surat yang berada di genggamannya. Ia kemudian mendudukkan dirinya di samping Sasuke yang sedang membaca koran. Wanita itu membuka surat tersebut dengan perlahan, Sasuke menghentikan kegiatannya dan ikut melihat isi surat itu. "Hai Sakura, Sasuke! Bagaimana keadaanmu? Aku harap kalian baik-baik saja. Dan bagaimana keadaan si janin? Aku yakin ia tumbuh sehat. Semoga kau melahirkan dengan lancar, Sakura. Hubungi aku jika waktu melahirkanmu tiba, oke? Oh ya, kami sedang berada di Paris untuk berjalan-jalan, Hikari tampak senang berada di sini. Lain kali, berjalan-jalanlah ke sini, kami berencana untuk membeli rumah di sekitar sini." Sakura membaca surat tersebut.
"Paris? Neji dan Tenten ingin pindah ke sana?" Sakura mengangguk pelan.
"Dia bilang Hikari-chan suka berada di sana. Sepertinya Neji benar-benar memanjakannya."
"Tentu saja. Mungkin ia merasa menyesal karena baru mengetahui bahwa Hikari anaknya. Jika aku berada di posisinya, mungkin aku akan melakukan hal yang sama," tutur Sasuke. Sakura tersenyum, namun kemudia n senyumnya luntur secara perlahan. Sasuke yang mengetahui hal itu memandang penuh tanya pada istrinya.
"Aku jadi teringat kejadian dulu. Maafkan aku, Sasuke-kun…" Sasuke terdiam sejenak, kemudian ia mengusap-usap pucuk kepala Sakura.
"Sudahlah, seharusnya aku yang minta maaf. Aku langsung menamparmu dan mengucapkan kata 'cerai'." Sasuke tersenyum kecut.
"Tidak. Aku yang salah, aku langsung saja menuduhmu sembarangan di saat kau sedang stress. Wajar kau melakukan itu. Dan juga, setelah cerai, kau berjuang mendapatkanku kembali padahal kau sama sekali tak bersalah." Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya. Sasuke hanya terdiam seraya mendekap tubuh Sakura dengan pelan. Sakura balas memeluknya.
"Sudahlah, tidak usah mengingat masa lalu," ucap Sasuke tenang. Sakura mengangguk pelan. Tiba-tiba, Sakura melepas pelukannya dan menatap Sasuke dengan senyum sumringah.
"Sasuke-kun, aku baru mendapat pesan dari Ino. Dia bilang dia tengah hamil! Sai pasti senang!" Sakura berkata dengan semangat.
"Oh ya? Aku turut senang." Sakura mengangguk semangat kala mendengar ucapan Sasuke. "Lalu bagaimana dengan sepupu anehmu itu?" tanyanya lagi. Sakura memandang Sasuke heran, sepupu aneh?
"Ah! Karin kah?" Sasuke mengangguk. "Dia sedang berada di London untuk syuting film, hebat bukan?" Sasuke melihat mata Sakura yang berbinar. Tidak ingin mengecewakan istrinya, ia pun mengangguk seraya menggumamkan kata 'Hn'. "Dia baru saja mengirim pesan padaku. Katanya dia tidak suka dengan rekan aktornya yang bernama Suigetsu, dia bilang Suigetsu menyebalkan, dan mereka selalu saja bertengkar di tempat syuting. Tapi itu justru membuat para paparazzi menyebar gossip bahwa mereka berpacaran, hihihi…" Sakura terkikik pelan.
"Mungkin saja mereka memang saling menyukai," ucap Sasuke seraya bersandar pada sandaran sofa. Sakura tertawa renyah kemudian menyandarkan kepalanya pada bahu Sasuke.
"Aku mencintaimu, Sasuke-kun …" ucap Sakura tiba-tiba. "Aku bahagia kita dapat bersama lagi, aku menyesal selalu menolakmu, bahkan berusaha melupakanmu, aku menyesal…" Sasuke kembali mengelus kepala Sakura.
"Hn, aku juga menyesal telah menceraikanmu, menyakitimu, bersikap egois padamu. Aku sangat senang ketika kau lebih memilihku dibanding Gaara." Sasuke tersenyum ketika mengingat kejadian di taman. Kejadian yang menegangkan, namun memecahkan masalah mereka berdua. Berterimakasihlah kepada Ino dan Gaara. Mereka berdualah yang memerankan peran penting untuk mengembalikan Sasuke dan Tenten ke pasangan masing-masing. Sasuke tak tahu mengapa Gaara mengungkap kebenaran, padahal ia sedikit lagi mendapatkan Sakura.
'Aku tak ingin memiliki Sakura dibalik sebuah kenyataan.' Begitulah katanya saat Sasuke menanyakan pertanyaan itu kepada Gaara. Meski sebagian hatinya mengelak, namun ia mengakui bahwa Gaara ialah pemuda yang misterius.
"Ada apa, Sasuke-kun?" Sasuke tersentak dari lamunannya. Ia menatap istrinya dan menggeleng pelan.
"Tidak apa-apa," ucapnya menyakinkan. Sakura mengernyitkan alisnya heran, namun kemudian mengendikkan bahunya.
"Sasuke-kun, kau janji tak akan menceraikanku lagi 'kan?" Sakura menatap Sasuke penuh harap, Sasuke mengangguk dengan mantap.
"Tentu saja. Itu hal terbodoh yang pernah kulakukan." Sakura tersenyum saat mendengar jawaban Sasuke. Sasuke juga ikut tersenyum, ia mendekatkan wajahnya secara pelan pada Sakura dan mengecup bibir wanita itu. Sakura membalas ciuman Sasuke dengan lembut. Lama mereka berciuman, sampai-
"Akh!" Sakura memegang perutnya. Sasuke yang ikut terkejut menatap perut istrinya dengan panik.
"Ada apa Sakura?" cemasnya. Sakura mengelus perutnya kemudian tertawa.
"Dia menendang. Mungkin si bayi marah karena kita menunjukkan hal yang tidak boleh ditontonnya." Sakura masih tertawa. Sasuke juga ikut tersenyum.
"Ada-ada saja," ucapnya lalu kembali mencium istrinya. Mereka kembali berciuman lembut, mencoba melupakan hal-hal yang dulu terjadi dan melangkah bersama-sama menuju masa depan, dengan buah hati mereka.
.
.
.
'Sakura, jawab dengan jujur, siapa yang kau cintai?'
.
'A-aku … masih mencintainya, sangat mencintainya.'
.
-END-
.
#kabursebelumkenaprotes
Iyaiya, aku tahu kekurangannya. Pendek, gaje, hancur, ending gak jelas, dan sebagainya. ==" Aku juga lama update yah? Hehe… #nyengir
Yang temen fb-ku, pasti tau hal yang terjadi padaku, yang menyebabkan aku lambat update. Hahaha! #PDbanget
Oh ya, saatnya balas review anonym :D
Sasusaku Kira : Haihai … iya gak papa kok :3 ah, aku memang sengaja mengubahnya. Apa itu menganggu? Kalo menganggu aku ubah lagi kok :D makasih reviewnya. Aku senang kamu ngikutin cerita ini :D review lagi? :p
Mitpe : Aku gak PHP kok, aku hanya pemberi janji palsu :D #geplaked makasih udah review yah :D review lagi? xD
Chidori : Hahaha, makasih udah setia nunggu :D makasih juga reviewnya yah, review lagi? :D
QRen : haiii… makasih review dan semangatnya :D review lagi? :D
Haya : Hai ^^ makasih yah udah review, hehe… review lagi? :D
Fujita : Hai xD ah… kalo panjang nanti membosankan, karena intinya cuma itu aja xD hehe… makasih reviewnya, review lagi? :D
Savaid-chan : Makasih reviewnya yah, makasih udah nunggu sam pek the and xD wkwkwk review lagi? :3
Ngloco-senpai : Kamu bilang apa? ==" tapi makasih reviewnya yah :D review lagi? xD
NE : Hahaha, nggak bosen dong :3 #kicked Epilog? Epilog apanya? xD wkwkwk… makasih udah review :D review lagi? xD
Yaya Uchha : Salam kenal :D makasih-makasih-makasih-makasih xD wkwkwk… kamu gak sok tau kok, aku aja yang sok-sokan xD makasih reviewnya :D review lagi?
Uchiha Jidat : Wah, kamu review empat kali yah? xD Gaara dan Tenten? Wkwkwk xD Makasih udah bela aku dari si flamer :D aku gak terlalu pentingin flamer itu kok :D makasih reviewnya yah :3 review lagi?
Nadeshiko : Makasih udah review chap 6 ^^ iya kok, endingnya happy kok, hehe… makasih reviewnya yah :3
Guest : Kalo Gaara nikah sama Sakura, Sasuke gimana dong? :3 wkwkwk xD Gaara ada aku kok yang nemenin xD #kicked Makasih reviewnya yah :D review lagi? xD
NameNadeshiko : kamu yang review pake nama Nadeshiko? :D #sotoy Sudah aku bilang, happy end kok xD hehe… makasih reviewnyaaa
Mega dwi : Hai :D makasih reviewnya :D review lagi? xD
Fii-chan : Hikari anakku sama Itachi :D haha, makasih reviewnya :3 review lagi?
Natsumo Kagerou : Gomeeeennn… chap lalu memang pendek, walau sekarang juga pendek sih ._. #plak Ayo Sasu! Rebut dia! #ikutanngasihsemangat #plak makasih reviewnya yah :D review lagi? xD
Udaaaahhh
Perasaanku, atau memang para reviewer bermunculan di chapter 8? O.o
Ah… pokoknya chap ini gak ada silent reader! Ini kan chap terakhir, masa masih mau silent sih? :3
Btw, makasih banget untuk yang udah fav, follow, dan alerts :D akhirnya bebanku berkurang satu lagi! hohohoho!
Dan maaf jika pendek ._.
Sampai jumpa di Night School :*
Pai pai minna xDD
Arigatou~
Hany-chan DHA E3
