-Your Love is All I Need-

a YunJae fanfiction

©Cherry YunJae

Pairing : YunJae. Slight!ChunJae

Genre : Mystery-Romance

Rate : T-M

Length : 2/?

WARN! Out of characters, misstype.

Better you out from my home, if u don't like.. I've warned u… :)

Inspirated from a manga which I read when I sat in elementary school, such an old one ? hahaha..

Tidak semua isi fanfic ini menjiplak citu karena pada dasarnya saya juga lupa… kekeke~

Ok, hope u like it, readers.. enjoy reading..

.

.

sebelumnya saya minta maaf buat banyaknya kesalahan saya yang bikin reader gak enak pas baca.

cerita ini Genderswitch yah, saya lupa mencantumkan kalo disini Jaejoong udah 18 menjelang 19 tahun.
sementara Yunho 26 tahun.
banyak yang penasaran ama si women in the window ? hehe...
soal yunho, tenang aja saya gak masukin unsur fantasy disini jadi Yunho bukan vampire atau punya kekuatan gitu.
yaudah, baca aja kelanjutannya bagi yang penasaran ^^

Ohya, makasih banget buat reviewer kemarin, Chapter ini saya apdet secepet mungkin buat kalian, love u so much guys..

Missy84 | ryaniaquarius05 | i-ris | kitybear | Nakahara Grill | Gothiclolita89 | ajid yunjae | Choi chan tae | KimRyeona19 | rifqohcassy | seseorang | Zhe | | guest | Vivi | yyyjjj5

and special thanks for abcdefghij123 yang mau ngoreksi saya, As i'm noticed before... saya baca manga ini pas SD jadi hampir 70% saya lupa selain inti ceritanya :)
buat saran dan masukannya makasih banget, i'll try my best...
Himawari Ezuki juga makasih buat masukannya, you're nice corrector :D
dan buat soulmate ku Lady Ze makasih buat semangatnya, Ze.. miss u so much :'(

sekian cuap2nya... enjoy reading yah readers ^^

.

.

.

DON'T LIKE DON'T READ

aku hanya mampu berdiri di ambang pintu ruang tengah sambil menatap dua sosok yang terkapar tak bergerak di atas lantai ruangan itu.

kuabaikan sejenak kobaran api yang makin membesar dari arah belakang rumah, seakan kehilangan rasa ketakutan.

yang ku lakukan hanya menatap dua tubuh dari orang yang sangat kucintai itu, berharap ada gerakan berarti yang membantah pikiranku.
namun hanya genangan darah yang memberi jawaban bahwa dugaanku benar.

aku mundur beberapa langkah, terpojok di sudut ruangan dan meringkuk takut.
perih, sedih, takut...

tapi tak ada setitikpun airmata yang mampu kukeluarkan.
aku hanya bisa menatap kosong keadaan sekitarku.

"uhukkk... ummahh.. hukk ap-pahh.." keluhku semakin lemah karena asap yang semakin nekat mendesak pernafasanku.

aku takut, melihat mereka yang tak kunjung bangun. terlebih ketika melihat kelopak mawar merah yang melengkapi genangan darah mereka.
bunga itu megerikan...
seolah menghisap warna merah darah kedua orangtuaku.

"hukk.. uhukk.." sulit.. rasanya semakin sulit bernafas.
hanya satu yang kupikirkan saat itu, menjemput kematian bersama kedua orang tuaku itu.

ya, hanya pikiran sederhana seorang anak berusia 2 tahun.

tak bergeming dari tempatku, pelahan aku kehilangan cahaya.

semua berubah gelap...


"hmffff~ nghh.."

Jaejoong terus memukul lengan pria tampan itu.
nafasnya seolah dihisap habis, ia tak mampu bertahan lebih lama dari ini.

untungnya sang 'tuan' mau berbaik hati memberikannya peluang untuk bernafas lagi.
sebelum akhirnya mengecup pelan bibir cherry lembut itu.

Jaejoong membuka matanya, dengan bibir yang masih bertaut dengan pria di hadapannya ini, Jaejoong menatap mata Yunho.

Deg~

apa ini?
kenapa tiba-tiba sinar mata pria itu berubah?
kenapa ambisi yang tadi ia lihat berubah menjadi taapan sedih yang penuh luka?

Yunho kali ini benar-benar melepas ciumannya, tertunduk masih sambil mencengkram bahu gadis itu.
"akhh~" protes Jaejoong, bahunya terasa begitu sakit.

"tidakkah kau mengerti aku membutuhkanmu ?"
Jaejoong menatap Yunho yang menunduk.
apa maksud pria ini ?

mereka terdiam beberapa saat sampai Yunho melepas tangannya dari tubuh Jaejoong.
ia bergerak menjauh.

"Maaf Jaejoongie, sungguh aku minta maaf.. aku hanya tidak ingin kau pergi..."

dan begitu, Yunho kemudian menjauh menuju tangga yang terlihat dari dapur ini.

meninggalkan Jaejoong yang menatap tak mengerti tentang Yunho yang berubah-ubah begitu mendadak.

parasnya memerah ketika jari-jarinya menyentuh bibirnya sendiri, ciuman pertamanya adalah sebuah paksaan.

tapi kenapa ia menikmatinya di akhir?


Jaejoong tak mampu memejamkan matanya.
kejadian yang menimpanya beberapa saat tadi begitu mengusik.

ia semakin tidak mengerti tentang Jung Yunho.
tadi ia merasa begitu marah dan ingin kabur dari rumah ini, tapi melihat tatapan kesepian pria itu kenapa justru membuat hatinya terbebani?

"aish..." Jaejoong bergelung dalam selimutnya berharap ia bisa melupakan kejadian tadi.


esok paginya

Yunho turun dari tangga dengan pakaian kasualnya bukan jas seperti biasa.
ia menatap meja makan yang lebih penuh dari biasanya.

"ahjumma, kenapa membuat makanan sebanyak ini ?" tanya Yunho dan maid itu membungkuk sesaat.
"maafkan saya tuan tapi yang memasak ini semua nona Kim.."

dan Yunho mengernyit bingung, ia pikir Jaejoong akan sangat membencinya karena kejadian semalam, tentang bgaimana tiba-tiba ia lepas kendali karena cemburu pada Park Yoochun.

bahkan ia sudah mempersiapan telinganya untuk memdengar kabar Jaejoong sudah tidak ada di kamarnya atau semacam itu.
tapi yang ia temukan sungguh diluar prediksinya.

"dimana Kim Jaejoong sekarang?" tanya Yunho.


sementara gadis yang sedang dibicarakan kini sedang duduk manis di taman belakang rumah itu, menggambar bunga-bunga krisan dan mawar yang tumbuh cantik di pekarangan rumah mewah itu.

tangannya bergerak teliti menggambar detil objeknya sambil menikmati angin dan matahari pagi yang menemaninya.
pikiran dan perasaannya sudah jauh lebih baik sekarang.

ia hampir saja menyelesaikan gambar sketsanya itu.
saat kemudian instingnya merasa diperhatikan.
dan ia pun menoleh, mendapati seorang perempuan berambut hitam panjang dengan gaun merah muda tampak buru-buru berpaling dan pergi menjauhinya.

Jaejoong terkejut.

"wait~!"
gadis itu mencoba bangkit dari duduknya, niat awalnya ingin mengejar perempuan itu.
namun telat karena dengan cepat sosok tu menjauh tak terlihat lagi.

Jaejoong menatap bingung ke arah hilangnya perempuan itu.
siapa sebenarnya dia? kenapa tidak menyapa nya baik-baik?
bahkan Jaejoong belum sempat melihat wajah perempuan itu. meski ia yakin sosok itu cantik dengan porsi tubuh yang ramping dan rambut hitam namun bercahaya-nya yang lurus panjang.

Jaejoong masih penasaran dengan sosok itu.

"Lady Jaejoongie..?" Jaejoong menoleh dengan respon sedikit tersentak.

"ah, ne.. Yunho-ssi kau sudah bangun..." Jaejoong tak tahu harus memasang wajah seperti apa saat menatap pria ini.

"uhm.. kau sudah menyiapkan makanan tapi belum menyentuhnya dan malah kesini ?" tanya Yunho.
"aku menunggumu bangun, meminta maid membangunkanmu rasanya tidak sopan.." Jaejoong menunduk saat Yunho tersenyum.
sama seperti senyum saat pertama kali mereka bertemu kemarin.

"aku.. aku sungguh minta maaf soal kejadian tadi malam.." lirih Yunho.
Jaejoong mengangguk kaku "ne, aku sudah melupakannya.."

bohong.
tentu saja tidak semudah itu Jaejoong melupakan bagaimana ciuman pertamanya direbut paksa.
tapi apa boleh buat, tatapan sedih Yunho malam itu membuat hatinya kalah.

"kau menggambar ?" Yunho melihat buku sketsa yang Jaejoong bawa.
"ne.. taman kecil ini begitu cantik, aku ingin menggambarnya " gadis itu tersenyum manis.

Yunho mengamati gambar yang ditunjukkan Jaejoong, "kurasa memang paris-lah tempat yang cocok untukmu..."
Yunho menatap dengan senyum paksa saat mengucapkan kalimat itu.

Jaejoong akhirnya menatap langsung ke dalam mata musang Yunho, ia kembali merasa ada perasaan aneh yang melingkupi hatinya.

"a-aniya... aku.. aku akan tetap disini, aku ingin membalas semua bantuanmu selama ini..."
Jaejoong menunduk malu.

sementara Yunho menatap tak percaya pada gadis itu.
"kau yakin ?" tanya Yunho.
dan Jaejoong mengangguk.
setelah berperang batin semalaman, inilah hasil yang ia dapatkan.

"Gomawo Jaejoongie..." dan segera Yunho memeluk tubuh ramping itu.
hingga pipi Jaejoong blushing parah.


Jaejoong memakan garlic-toast-nya sambil menatap pria bernama Jung Yunho itu.
ia tak mengerti tapi rasanya ada sesuatu yang disembunyikan oleh Yunho.

tentang wanita berambut hitam itu misalnya.
kenapa Yunho harus sembunyi-sembunyi merahasiakan istrinya sendiri. apa yang ia takutkan sebenarnya?

"ohya, Kim Jaejoong.."

"ah, ne ?"

"meskipun ini mendadak tapi aku ingin membuat pesta untuk menyambutmu sebagai anggota rumah ini..."

"eh ? pesta..? ti-tidakkah itu berlebihan ?" tanya Jaejoong ragu mendengar usul yang begitu mengejutkan dari Yunho

Yunho tersenyum lembut, dan tanpa ia ketahui itu membuat darah Jaejoong berdesir.
"no, aku rasa memang sudah sewajarnya aku membuat pesta penyambutan untukmu terlebih lagi kau spesial disini.."

Jaejoong merasakan wajahnya yang memanas, meski ia belum tahu maksud pasti dari kata-kata Yunho itu, tapi mendengar pujian yang keluar dari bibir hati milik Yunho membuatnya merasa senang.

'haishh... dia pria beristri, Kim Jaejoong... apa yang kau pikirkan ?'
Jaejoong merutuki kebodohannya dalam hati.

"uhmm... kalau begitu terserah anda saja..."

Yunho tertawa pelan, "kau terlihat masih sangat canggung berbicara padaku, tenanglah kau tidak perlu bicara formal, cukup panggil aku Yunho dan anggap saja aku ini kakak atau mungkin temanmu..."

Jaejoong pun mengangguk kecil.


Tak terasa hari mulai beranjak gelap lagi.

setelah menyelesaikan acara makan malamnya bersama Yunho, Jaejoong dipaksa untuk istirahat.

ini karena Jaejoong terlihat begitu lelah, seharian ini ia melakukan banyak hal untuk rumah megah keluarga Jung itu.

mulai dari merapikan setiap ruangan, bahkan merawat bunga-bunga yang ada di halaman belakang.

bahkan ia terlalu keras kepala saat beberapa maid memperingatkan gadis itu.

mereka takut majikannya akan marah jika tahu tamu 'spesial'nya justru mengerjakan pekerjaan rumah yang sedemikian banyak.

namun bukan Jaejoong namanya kalau tidak memaksa.

ia bersikeras mengatakan bahwa itu adalah usahanya membalas kebaikan Jung Yunho.

dan otomatis para maid tak mampu berkata apa-apa lagi.


"tidurlah, kau terlihat begitu lelah.." pesan Yunho ketika melihat Jaejoong akan membereskan meja makan.

"eh ? tapi ini.." Jaejoong merapikan beberapa piring namun Yunho segera bergerak mengambil piring-piring itu dari tangan Jaejoong.

"aku ingin mengadakan pesta untukmu besok, jadi aku ingin kau istriahat cukup agar terlihat cantik besok hari.." bisik Yunho membuat Jaejoong sedikit bergidik ngeri karena biibir Yunho yang menempel di telinganya, telinga adalah titik sensitifnya.

"mengerti ?" Yunho menjauhkan wajahnya dan menatap wajah cantik Jaejoong yang merona cantik

bisikan Yunho seperti mantra yang mampu membuat Jaejoong menunduk patuh, setelah mengantarkan Jaejoong kedepan pintu kamarnya sendiri, Yunho beranjak menaiki tangga.


Jaejoong menutup pitnu kamar berwarna putih itu perlahan, ia sentuh pipinya sendiri yang terasa memanas.

ah, pria itu selalu berhasil membuatnya tersipu malu. ia hampir saja lupa cara bernafas jika sudah berada didekat Yunho.

melangkahkan kakinya diatas marmer krem ruang tidurnya, Jaejoong menuju tempat tidur besar itu, tak lupa menyalakan lampu antik di meja nakas dekat pintu kamarnya.

tiba-tiba saja matanya menatap kaget kearah tempat tidur itu.

dan tak sanggup menahan ketakutannya lagi, ia berteriak sekuat tenaga.

"KYAAAAA~!"

.

.

.

.

To Be Continued


Chapter 2 DONE~

hehehe.. sempet-sempetin update padahal saya abis ngisi KRS di kampus nih, jadi jangan heran kalau chapter ini pendek banget.. maafkan saya kalau masih ada typos yah~

kalau sempet besok saya update lagi kok. so, Mind to review ? ;)