You Are My...
.
.
.
Yo, Mizu kembali lagi! Gomen ya baru bisa update sekarang. Oh iya, Mizu juga mau jawab reviews! Oke, cekidot!
Jun30:
Arigatou Jun-san... :3 Arigatou sudah membaca, meriview, dan memuji FF abal Mizu ini... :)
Red Devils:
Arigatou juga Red-san... XD. Red-san, kurang 'srek' ya sama FF ini? Gomen ya!
Guest:
Oke, ini chap selanjutnya!
NSL:
Arigatou arigatou! :D
Mentari:
Iya... Mizu juga sedih... TAT #plak. Tapi kekuatan cinta sejati itu akan menyatukan kembali Naruto dan Sakura #eaaa
Dear God:
Arigatou! Ini chap 2-nya!
Nagasaki:
Arigatou! :)
Guest:
Oke ;)
Guest:
Tapi semua akan indah pada waktunya, kok! ;)
Reina Murayama:
Arigatou TwT *terharu* Iya. Mizu tau tema ini pasaran. Tapi Mizu akan usahakan lebih baik. ;)
Onpu Azuka:
Tenang... SasuHina ada, kok. Romatis malah ;) Tapi Mizu minta maaf untuk tidak mengabulkan beberapa req Azuka-san. Mizu ngejar waktu soalnya. Gomen, ya!
N:
Oke. Baca terus kelanjutannya, ya! :) Salam kenal juga...
Guest:
Arigatou! Iya. Mizu memang berencana buat 3 chapter. Dan chapter 3-nya hanya sedikit dan pemanis genre Hurt/comfortnya. :)
Disclaimers: Masashi Kishimoto Sensei
Pair: Naru x Saku & Sasu x Hina
Warning: AU, OOC, Typo, Gaje, dan segala hal yang mungkin anda tidak sukai.
Don't like don't read.
Kau adalah musim semiku,
setiap helai suraimu mengingatkanku pada bunga sakura yang bermekaran,
iris matamu memancarkan kesegaran rumput di musim semi,
dan senyummu,
membuatku berfikir bahwa kau memang musim semiku.
Sekarang, dan selamanya...
.
.
.
Chapter 2: You Are My Spring
Sakura menguap saat mata zamrud-nya terbuka lebar. Ah, ia tak menyangka bahwa kesadarannya hilang saat ia sedang mendampingi Naruto. Lirikan kecil ia berikan pada pemuda yang ternyata sedang terlelap pulas di hadapannya.
Senyum kecil menghiasi bibirnya. Sungguh polos wajah Naruto saat tidur, laksana seorang anak lelaki yang tak berdosa dan sangat menggemaskan. Lengan gadis bersurai merah muda itu terulur ke pipi sang pemuda. Disapunya lembut garis-garis tipis yang terukir di wajah tampan Naruto.
Tak ada sedikitpun suara yang tercipta kala itu. Hanya detikan serak jam dinding yang dapat Sakura dengar. Tapi sepertinya telinganya cukup tajam untuk dengkuran halus Naruto.
Terkikik, Sakura melepaskan elusannya. Helaan nafas panjang mengiringi proses berdirinya gadis itu. Naruto takkan tau isi pikiran Sakura saat ini.
Berkecamuk menjadi satu segala rasa dalam dadanya. Kebahagiaan Hinata adalah nomor satu dalam dirinya. Cukup melihat segaris senyum yang tipis di bibir sang Hyuuga, Sakura lega.
.
.
.
Suasana yang tadinya ramai kian sepi. Sasuke mengusir seluruh fangirl dari tempatnya dan seorang Hyuuga Hinata duduk. Oh, semua orang jarang mengetahui bahwa Sasuke dan Hinata itu seumur! Dulu di sekolah menengah pertama, Sasuke dan Hinata sekelas, bahkan sebangku! Mereka sebenarnya adik kelas dari Naruto dan Sakura.
Tapi sungguh! Otak Uchiha dan Hyuuga itu sangat encer! Mereka berdua naik ke kelas dua sebelum waktunya. Tapi sayang, Hinata menolak itu. Ia ingin menikmati masa kelas satunya secara normal. Berbeda dengan keluarga Uchiha yang langsung setuju menaikkan Sasuke ke kelas dua, tanpa menanyai persetujuan sang murid –Sasuke.
Naik ke kelas tiga, Sasuke pindah sekolah. Entah, tak ada yang tau kemana perginya pangeran sekolah itu. Hingga sekarang, takdir mempertemukan lagi Hinata dan Sasuke. Dua remaja yang sama-sama sedikit bicara, dan saling tak acuh.
Di lubuk hatinya, Sasuke sangat menyesali dirinya yang selalu mendiamkan Hinata. Ingin rasanya berteriak pada gadis itu bahwa dirinya menyukainya. Tapi? Mulut sialan itulah yang selalu mengunci rapat, lidah itu juga yang selalu mengelu.
Suasana masih sama. Tak terlalu sepi dan tak terlalu berisik. Hingga...
"A-apa... apa... Uchiha-san mau kupesankan jus tom-"
"Tak perlu." Tuh, kan! Dia selalu begitu! Memotong dan seolah tak acuh pada kata-kata gadis itu. Jadinya, Hinata sampai melotot karena dibentak mendadak oleh Sasuke si dingin itu.
"... gomen..." Lirih, sang Hyuuga menunduk, dan sang Uchiha merutuki dirinya sendiri –dalam hati tentunya.
.
.
.
Naruto agak terbatuk. Panasnya menurun siang ini. Sakura sudah bisa tersenyum lega saat melihat mata pemuda itu tak lagi keruh.
"Arigatou untuk perawatan kecilnya, ibu suster!" Senyum Sakura bertambah lebar ketika Naruto membercandainya.
"Douitta, pasien merepotkan!" Balas Sakura dengan senyum yang masih semanis buah peach. Naruto merasakan pipinya menghangat.
"Hahaha... lama-lama kau mirip Shikamaru, Sakura-chan!" Gembira rasanya telinga Sakura menangkap kata –chan lagi pada namanya di kalimat Naruto. Sudah satu tahun lebih kata itu tak ia dengar dari kerongkongan sang Uzumaki Naruto.
"Oh iya, apa hubunganmu dengan Sasuke baik-baik saja?" Dengan perih yang meyayat hati, Naruto bertanya.
Dan sekejap kemudian, senyum itu terbang dari bibir Sakura. Pergi entah kemana. Meninggalkan bibir tipis indah milik Sakura, sehingga di bibir itu hanya ada segurat kemurungan.
"Sakura?" Naruto mengibaskan lengannya di hadapan wajah gadis itu. Dan sang gadis kembali sadar.
"Oh, umm... hubunganku baik-baik saja, kok." Jawab Sakura singkat. Lalu hening menyelimuti keduanya dalam diam.
.
.
.
Jam istirahat belum juga selesai. Hinata merutuki nyalinya yang sangat kecil untuk pergi dari sisi pangeran sekolah itu. Bosan dan tidak enak ada dalam diri Hinata. Apalagi si Uchiha itu hanya diam sembari mengetuk-ngetukkan jemarinya yang seputih salju ke meja kantin.
"Apa kau baik saja?" Dengan tiba-tiba, Sasuke menoleh pada Hinata yang sedang tidak enak. Menatapnya dengan tajam tapi tak menusuk. Dan sontak, Hinata memerah ditatap seperti itu oleh Sasuke.
"A-aku... aku baik-baik saja, kok!" Memaksa tersenyum, Hinata diam seribu bahasa. Sasuke tertegun melihat senyum manis yang sebenarnya dipaksakan oleh gadis itu.
Tanpa disadarinya, pipinya menghangat. Ah, Sasuke tak pernah merasa seperti ini lagi saat berpisah dari Hinata.
"Ano... a-apa... apa Uchiha-san demam?" Hei, Hinata menangkap gelagat aneh yang muncul dari pemuda di sampingnya! Dan si pemuda itu hanya bisa salah tingkah dengan rona yang membuatnya semakin tampan –di mata Hinata.
.
.
.
"Ah, aku tak sekolah hari ini. Semoga saja Hinata-chan tak cemas padaku..." Sakura menunduk semakin dalam saat mulut Naruto membicarakan lagi gadis Hyuuga yang manis itu. Rok sekolahnya adalah lampiasan terdekat untuk rasa sakit yang muncul secara tiba-tiba pada hatinya. Remasan-remasan keras ia hasilkan pada rok sekolahnya yang malang.
"Hei Sakura-chan, kau kenapa?" Terkaget, Sakura cepat-cepat menatap Naruto lagi.
"Aku tak apa! Hanya cemas pada kelas kita yang sepertinya akan lebih ribut tanpaku!" Dusta gadis itu mengatas namakan 'kelas'. Yah, sepertinya memang begitu. Ia adalah keamanan kelas yang sangaaaaaat ditakuti seluruh siswa. Sekali ribut, bogem mentah akan ia pukulkan ke perut siswa itu.
"Oh... syukurlah kalau kau tak apa." Naruto mengalihkan pandangannya ke jendela kamar yang terbuka lebar. Hirupan panjang menyertai angin sejuk yang masuk pada saat itu.
"Tok... tok... tok..." Suara pintu diketuk membuat kedua orang itu menoleh pada sumber suara. Dan sesaat kemudian, pintu terbuka.
"Konnichiwa~ Sakura-chan, Naruto, ini, aku membuatkan makanan untuk kalian. Kalian kan belum makan dari tadi pagi..." Sapaan ramah dari Kushina membuat Sakura bisa melepaskan penatnya tentang Hinata.
"Arigatou bibi Kushina..." Ucap Sakura lebih lembut. Senyum manisnya kembali hadir saat itu.
Naruto yang tak sengaja melihat wajah Sakura, berdetak kencang dibuatnya. Paras yang sangat sempurna membuat hangat menjalar ke sekitar pipi dan wajahnya.
"Hei Naruto! Jangan terus melihat Sakura dengan tatapan mesum-mu! Nanti dia kabur tak mau dekat denganmu lagi!" Kushina menggoda puteranya yang kebetulan sedang memerah. Refleks, Sakura menoleh pada Naruto, dan keduanya bertatapan. Iris zamrud dan biru sapphire bertemu, bagaikan langit cerah dan bumi yang hijau. Cocok dengan wajah kedua-duanya yang kian memerah.
Kushina bangkit pelan-pelan dari bibir ranjang Naruto. Tanpa suara, kakinya melangkah meninggalkan dua remaja yang sedang kasmaran itu. Keluar kamar dengan hati-hati, dan menutup rapat pintu ruangan itu dengan suara yang lembut.
"Semoga Kami-Sama menjodohkan kalian berdua..." Bisikan yang serak keluar dari mulut Kushina.
"Amiiin..." Tak disadari, suaminya memeluk tubuhnya hangat dari belakang. Mengucapkan kata 'amin' dengan khidmat dan lirih, tepat di telinga wanita cantik itu.
"Amin..." Balas Kushina dengan senyum yang tak kalah manis dengan senyum Sakura tadi. Membuat Minato ikut menggulum sebuah pelangi terbalik di bibirnya.
.
.
.
Hinata tak tahan lagi dengan semua kebohongan di hidupnya. Ia memang mencintai Naruto, tapi dirinya tak mau Naruto mencintainya tanpa ketulusan. Pulang sekolah hari ini, dia memutuskan untuk mengunjungi rumah kekasihnya. Ditemani Sasuke yang memaksa ikut karena alasan takut Hinata digoda pemuda-pemuda bejat di dekat supermarket yang selalu mengumpul mencari mangsa.
Dan Hinata menyetujui alasan itu. Pasalnya, ia berangkat tanpa bodyguard yang selalu ada di sampingnya. Ia ingin merasakan bagaimana hidup bebas seperti remaja-remaja kebanyakan. Sekarang, keduanya berjalan beriringan. Tanpa limousine mewah ataupun motor gede yang gagah.
Hinata dan Sasuke hanya berbekal dua buah parcel sederhana berisi buah-buahan segar.
"Semoga Naruto-kun baik-baik saja..."
Bisik Hinata pelan pada dirinya sendiri. Tapi, Sasuke terlalu dekat dengannya untuk mendengar bisikan gadis manis itu.
"Hn... paling dia hanya flu atau sebagainya..." Tenangnya pada Hinata sembari menepuk lembut pundak Hinata.
Perasaan aneh menyelimuti Hinata saat Sasuke menepuk pundaknya. Dadanya berkecamuk keras. Seperti kecamukan saat dirinya di samping Naruto. Ah, Hinata tak mau bernostalgia lagi tentang kenangan manis tapi asamnya dengan Naruto. Tidak untuk sekarang, dan selamanya.
.
.
.
Sakura masih memerah atas kejadian tadi. Bayangan pemuda itu masih ada walaupun ia menutup kelopak matanya. Dan sekarang Naruto sedang istirahat untuk meringankan demamnya.
Sakura menghirup udara di kamar Naruto. Bau jeruk kesukaannya langsung menyeruak saat itu juga. Naruto memang suka jeruk. Campuran bau ceri tercium samar oleh hidung Sakura. Ceri. Farfumnya beraroma ceri. Sangat kontras dengan bau jeruk milik Naruto.
Jemarinya tak bisa diam untuk memainkan surai pirang pemuda tampan di hadapanya. Surai pirang itu seperti milik Minato. Ayahanda tercinta Uzumaki Naruto, juga mirip dengan surai ibunya. Banyak kemiripan antara keluarganya dan keluarga Naruto. Sangat banyak.
Ia sempat merutuki sifatnya terdahulu pada si pirang itu. Kasar, keras, dan... tak pernah lembut ataupun bersikap layaknya gadis keibuan. Sahabatnya kini menjelma menjadi pemuda tampan dan dewasa –walau tak jarang juga Naruto bersikap kekanankan, konyol, ataupun cari perhatian. Tapi dirinya sudah tak sebebas dulu. Sudah tak bebas memeluk atau merangkul Naruto seperti zaman saat ia masih mengangap Naruto masih sebatas sahabat. Sahabat belaka.
Tak sadar, matanya basah. Entah karena mengantuk atau apa. Yang jelas, setetes air jatuh ke pipi Naruto. Dan itu membuat Naruto membuka matanya yang cerah.
Buru-buru Sakura menyusut sisa air di sudut mata dan pipinya.
"Hoaaaam~" Naruto menguap lebar. Tubuhnya segar sekarang. Ya... walau masih ada rasa ngilu di sekitar punggungnya.
"Hai Naruto!" Sakura melambai ramah pada pemuda itu. Naruto tersenyum.
"Hai Sakura-chan!" Lalu, dirinya bangkit dari posisi tidurnya tadi.
"Oh! Kau sudah sembuh rupanya!" Sakura sumringah.
"Sepertinya begitu. Tubuhku sudah agak segar dari pagi tadi." Nyengir, Naruto meraih apel yang sudah dikupas bersih oleh Kushina tadi.
"Syukurlah..." Lega langsung meringankan 'sedikit' kecemasan Sakura.
"Mau?" Apel yang sudah tergigit kecil di tangan Naruto ia tawarkan pada gadis bersurai kembang gula itu.
"Hmmm..." Sakura tersenyum kecil, lalu meraih apel itu. Menggigitnya pelan tepat di tempat gigitan Naruto tadi.
Keduanya tersenyum manis. Mengalahkan manisnya semua buah di dunia!
.
.
.
Hinata berjalan dengan menunduk. Menatap ujung sepatunya yang mengkilat tanpa noda. Tak berani dia menoleh ke samping. Ke tempat sang Uchiha sedang mencuri pandang ke arahnya.
Tentu saja Hinata tak tahu menahu tentang kelakuan Sasuke saat ini. Ia masih pusing untuk rencananya memutuskan hubungan 'kekasih'-nya dengan Naruto.
"Hei Hinata," Sasuke tiba-tiba memanggil namanya.
"Hm?" Hinata menoleh pada pemuda dingin itu.
"Apa... kau menyukai pemuda lain selain Naruto?" Hinata membelalak saat pertanyaan tak masuk akal itu keluar dari mulut seorang Uchiha. Mana mungkin ia berkhianat pada Naruto.
"A-apa... apa maksudmu? J-jelas... jelas aku hanya menyukai Naruto-kun!" Sergah Hinata cepat dan disambut kekecewaan yang tertera jelas di paras keren Sasuke.
.
.
.
Sakura meraih secarik kertas lusuh yang hampir robek di samping Naruto. Tanpa pengetahuan pemuda penyuka ramen itu, Sakura mulai membaca kata demi kata yang terpahat indah dengan tinta berwarna merah jambu. Itu tulisannya. Ia bisa mengenal tulisannya sendiri. Dia tidak bodoh.
Perasaan sesak lagi-lagi bertamu di dadanya. Itu puisinya. Dan Naruto begitu sering membacanya hingga warna kertas itu menguning. Ah, dia ingat! Puisi Naruto juga masih ada. Terletak di sebuah boks kecil tempatnya menyimpan barang-barang berharga. Dan puisi milik Naruto itu termasuk barang yang sangat berharga di hidupnya.
"Hoi Sakura-chan!" Naruto memanggil namanya keras. Membuat sang pemilik nama itu terkaget dan cepat-cepat menaruh kembali kertas puisi itu di samping Naruto.
"Kau menemukan puisi itu rupanya." Naruto nyengir. Ah, Sakura selalu terenyuh saat Naruto memamerkan sederetan gigi putih yang bagus-bagus.
"I-iya. Kau masih menyimpannya, Naruto?" Pertanyaan yang sebenarnya tak usah dijawab itu terlontar dari Sakura dengan wajah yang polos. Naruto masih mempertahankan cengiran itu –tapi sekarang disertai rona tipis di setiap pelosok wajahnya – dan mengangguk malu-malu.
"Ahahaha... aku pikir puisi jelek itu akan kau buang..." Sakura tertawa hambar.
"Hei, kata siapa puisi ini jelek? Puisi ini adalah puisi yang paling keren yang pernah aku temukan!" Canda Naruto yang membuat Sakura tersipu.
.
.
.
Sudah tiga menit Hinata dan Sasuke berdiri di depan rumah Naruto. Tapi Hinata tak berani menekan tombol bel rumah. Jarinya bergetar kecil saat Sasuke menyuruhnya menekan tombol mungil berwarna hijau itu. Dan Sasuke menghela nafas sembari menggelengkan kepalanya samar.
"Sudahlah, biar aku saja yang menekannya!" Kata pemuda raven itu dengan mendorong lembut bahu Hinata. Hinata mengangguk.
"KLIK..."
"TING... TONG..." Dua suara berurutan terdengar jelas. Dan tak lama, terbukalah pintu itu.
"CKLEK..." Seorang wanita cantik dengan surai panjang merah menyala keluar dari rumah.
"Maaf, umm... Naruto-nya ada?" Kata Hinata gugup. Keringat dingin sebesar biji beras keluar dari pelipisnya. Kushina mengangguk dengan senyum ramah.
"Ada di dalam. Dia tiba-tiba saja demam." Jelasnya singkat. Lalu dua tamu dari dua marga terkenal se-Jepang itu dipersilahkan masuk oleh sang nyonya Uzu... ralat. Maksudnya nyona Namikaze.
"Kamar Naruto di lantai atas. Awas, kalian akan kaget karena keberantakannya yang sangaaaaaat mengerikan!" Ujar Kushina dengan gaya yang lucu.
"Hm!" Keduanya mengangguk serentak.
.
.
.
"Tok... tok... tok..." Suara pintu diketuk menyembul lagi di pendengaran Naruto dan Sakura.
"Masuk saja..." Kata Naruto agak keras. Setelah itu, Hinata dan Sasuke masuk.
Tercenganglah Hinata saat menangkap sosok gadis cantik dengan surai merah jambu ada di samping Naruto.
"Eh, Sakura-san?" Pasti Hinata agar dirinya tak salah melihat siapa yang sedang tersenyum dan bercanda dengan Naruto itu.
"Iya. Gomen aku tak mengabarimu dulu. Demam Naruto sangat tinggi tadi. Jadi aku panik dibuatnya..." Sakura menatap Hinata, lalu tiga detik kemudian mengalihkan pandangannya pada Sasuke.
"Oh iya, ini, ada parcel dari kami berdua..." Sasuke menyerahkan parcelnya pada Naruto. Hinata menyusulnya kemudian.
"Arigatou gozaimasu!" Naruto bersemangat mengambil dua parcel itu.
"H-hei, Naruto-kun t-tampak sehat-sehat saja, kok!" Hinata memiringkan kepalanya saat menatap Naruto. Betapa manisnya gadis itu. Hingga...
"Hphft!" Darah segar menetes dari kedua lubang hidung Sasuke. Hinata cepat-cepat mengambil sehelai tisu dari sakunya.
.
.
.
"A-aku... aku pikir hubunganku dan Na-Naruto-kun tak beres..." Suara lirih Hinata membuat semuanya diam.
"Apa maksudmu?" Kedua halis Naruto bertaut. Dia masih bingung mencerna semua maksud Hinata mengatakan hal yang aneh.
"M-maksudku... l-lebih baik kita bersahabat saja..."
DEG...
Jantung Sakura hampir saja meledak oleh kalimat Hinata. Begitu pula Sasuke. Mereka berdua tak tau apa harus senang atau ikut berduka atas apa yang dikatakan Hinata. Tapi Naruto... dia tak merasakan apa-apa. Hanya bisa mengatakan 'oh' pada dirinya sendiri.
"... kalau itu memang yang terbaik untukmu dan untukku, aku tak apa..." Naruto menunduk.
"Tapi kita tetap sahabat, kan?" Tapi sedetik kemudian, ia tersenyum dan mendongkakkan wajahnya ke arah tiga sahabatnya. Perasaan Naruto berubah dengan cepat.
Dan kepala gadis Hyuuga itu mengangguk. Dia tersenyum walau hatinya menangis.
.
.
.
Matahari sudah masuk ke belahan bumi lain. Sakura terdiam menikmati angin malam yang katanya tak baik untuk kesehatan itu. Ah, besok mulai musim gugur, ya? Pantas saja bunga-bunga sakura di rumahnya tiba-tiba menghilang dan terbang tertiup angin. Ia tak menghitung lagi sudah berapa kali dirinya menikmati mega-mega sore tanpa kehadiran sahabat, sekaligus pujaan hatinya –Uzumaki Naruto.
Musim gugur. Tak lama lagi setelah musim gugur, akan tiba waktu musim dingin. Akan beda musim dingin kali ini tanpa Naruto. Juga musim semi. Biasanya, mereka berdua selalu manikmati langit biru musim semi di atas atap sekolah. Berdua, tanpa kehadiran orang lain. Berdua saja.
Waku sudah menunjukkan pukul delapan malam. Sakura bangkit dari bangku taman rumahnya, lalu masuk ke rumah dengan perasaan yang masih campur aduk di dadanya.
Masuk kamar, Sakura melangkah gontai. Dirinya duduk di tepi ranjang. Menatap foto kecil di meja belajarnya. Di sudut foto itu, tergores sebuah tulisan rapi. Haruno Sakura dan Uzumaki Naruto. Sahabat, untuk selamanya...
Menangis lagi jadinya Sakura membaca kalimat itu. Boks kecil di bawah bantalnya ia raih. Dibukanya, lalu diambilnya secarik kertas puisi milik Naruto.
"Kau adalah musim semiku..."
Bibirnya mulai bergetar. Ah, Sakura memang secantik musim semi. Tapi salahkah bila Sakura membacanya di musim gugur? Ayolah! Malam ini sangatlah dingin, Naruto! Bisakah kau menghangatkan gadis pujaan hatimu ini?
"... setiap helai suraimu mengingatkanku pada bunga sakura yang bermekaran..."
Pandangan gadis itu mulai memburam. Ia benci surainya yang mencolok. Ia benciii sekali pada ayahnya yang menurunkan gen rambut yang begitu konyol. Jika semua orang mengolok warna aneh itu, Naruto tidak. Dia malah memujinya bertubi-tubi. Apa ada yang salah dengan matamu, Naruto?
"... iris matamu memancarkan kesegaran rumput di musim semi..."
Sakura menutup zamrudnya. Membiarkan lelehan air mata menetes anggun ke dagunya. Jika Sakura tak punya zamrud itu, apa kau masih mencintainya, Naruto?
"... dan senyummu... membuatku berfikir bahwa kau memang musim semiku..."
Nafasnya mulai tak teratur. Naruto, Sakura itu gadis musim semi... tapi apa kau yakin dia musim semi milikmu?
"... sekarang..."
Ya, bayangan Naruto mulai melayang di benak Sakura.
"... dan selamanya..."
Dan dia menghempaskan dirinya ke ranjang. Meremas dadanya yang mulai perih. Memukuli kasur tak berdaya untuk memuaskan segala emosinya. Mengacak surai yang selalu Naruto puji-puji.
Persahabatannya takkan hancur, kan?
Semoga...
.
.
.
Musim gugur serapuh Hyuuga Hinata. Gadis manis itu kini terdiam di taman belakang sekolah. Semalam, kamarnya penuh sampah tisu yang dipakainya untuk mengelap air mata. Ingin rasanya ia menjerit pada dinginnya angin musim semi yang berhembus melewati jendela kamarnya yang ia biarkan terbuka. Dadanya sakit. Naruto selalu saja bertamu di benaknya malam itu.
Tapi...
"Hei..." Hinata menoleh pada suara itu. Oh. Uchiha Sasuke rupanya.
"Kenapa kau sendirian di sini?" Sasuke duduk di samping Hinata. Membuat gadis polos itu menggeser sedit bokongnya ke kanan.
"Umm... aku... aku ingin me-menenangkan diri..." Hinata terlalu malu untuk menatap pemuda yang menurutnya makin lama makin keren saja.
"Rrr... dari Naru-"
"Ya." Belum sempat Sasuke menyelesaikan ucapannya, Hinata ikut berbicara.
"Oh..."
Lalu sepi. Terlalu sepi untuk menyembunyikan debaran keras jantung Sasuke.
"Tadi Sakura meminta putus..." Cepat-cepat Hinata memasang telinga.
"Kenapa?" Balas Hinata berbisik.
"... entahlah..." Sasuke tak kenapa-kenapa. Nafasnya pun ringan seperti biasa. Dan Hinata tak mengerti kenapa pemuda itu masih bisa bersikap sewajarnya.
.
.
.
Hinata dan Naruto putus? Ah, penduduk sekolah tak peduli. Mungkin hanya beberapa gadis kelas satu dan beberapa pemuda kelas tiga yang senang dengan berita itu. Berarti, masih ada kesempatan mereka untuk mengejar Hinata atau Naruto, bukan?
Lalu, bagaimana dengan berita Sakura dan Sasuke putus? Tepat. Para fangirl Uchiha Sasuke berteriak histeris saat telinga mereka mendengar kabar 'menyenangkan' itu.
Detik ini, Sasuke masih berada di taman belakang sekolah. Menemani Hinata yang masih harus menyatukan kembali hatinya yang retak. Hinata menangis. Mengeluarkan segala duka dan laranya di hadapan Uchiha Sasuke.
Entah setan apa yang merasuki Sasuke, pemuda raven itu merengkuh tiba-tiba tubuh ramping Hinata. Dan hei, Hinata tak berontak! Ia malah makin merapatkan rengkuhan itu. Berusaha membuat kehangatan di musim gugur yang rapuh.
.
.
.
Cepat sekali waktu berlalu. Pagi ini adalah puncaknya dingin di musim gugur. Bagaimana tidak, besok kan, musim dingin akan dimulai.
Sehelai daun cokelat terbang dan mendarat di pangkuan Sakura. Gadis itu tak menyadari hadirnya daun mungil itu. Yang ada, dia hanya duduk mematung di bangku taman kota. Memainkan kaleng cokelat yang masih hangat, yang baru saja ia dapatkan dari mesin penjual minuman kaleng otomatis.
Libur? Ya. Sekolah libur. Guru-guru mengadakan rapat untuk memutuskan acara apa yang akan mendampingi kelulusan kelas 12. Ah, paling-paling teater lagi. Atau mungkin pekan olahraga? Entah. Sakura tak tau pasti. Dan ia juga tak tau kenapa ia berada di taman kota detik ini.
Mmm... mungkin menunggu seseorang lewat dan berteriak cempreng meneriakkan namanya dengan sufiks –chan? Hahaha... kalian pasti menebak siapa orang itu.
"... kura-cha... n!" Samar, telinga Sakura mendengar sebuah suara cempreng. Tunggu, apa tadi dia berfikir tentang kata 'cempreng'?
Langsung saja kepalanya menoleh pada suara itu. Setelahnya, senyumnya merekah.
.
.
.
TBC
.
.
.
Fyuuh... akhirnya Mizu bisa ngepost juga lanjutan 'You Are My'. Soalnya udah lama banget Mizu ninggalin FF ini. Merasa bersalah, deh... gomen ya... abisnya banyak tugas & ulangan, nih. Dari mulai ulangan IPS, Fisika, TIK, Matematika, Bahasa Inggris, sampai PKN! Biasa... anak sekolah tuh rata-rata kayak gitu. Belum lagi modem lemot Mizu abis pulsanya. Dan terakhir, Mizu belum nabung buat beli pulsa langganannya! Uh... parah, kan?
Oke. Arigatou untuk review-nya. Lalu, apakah senpai-senpai semuanya mau kembali me...
R
E
V
I
E
W
?
