-Your Love is All I Need-
a YunJae fanfiction
©Cherry YunJae
Pairing : YunJae. Slight!ChunJae
Genre : Mystery-Romance
Rate : T-M
Length : 5/5 (END)
.
.
WARN! Out of characters, misstype.
Better you out from my home, if u don't like.. I've warned u… :)
Inspirated from a manga which I read when I sat in elementary school, such an old one ? hahaha..
Tidak semua isi fanfic ini menjiplak situ karena pada dasarnya saya juga lupa… kekeke~
.
Chapter End apdet..
Sebelumnya saya minta maaf kalo chapter ini mengecewakan.
*deepbow
Special thankseu for you all guys..
| yoon HyunWoon | Irengiovanny | Minhyunni1318 | ajid yunjae | Lady Ze | guest | liendhanesia | myeolchi gyuhee | jae sekundes | cindyshim07 | yyyjjj5 | Baby Cho Brannick | Uno-uno | toki4102 | Kim Eun Seob | Kim Aizh | dzdubunny | Hana-kara |
.
.
.
.
Kaki indah Jaejoong menapaki pelan tangga demi tangga rumah itu.
Mulai dari tangga biasa yang selalu ia lewati setiap ke lantai 2, sampai kini ia berada di tangga asing menuju lantai 3.
Rasa penasaran kian menghantuinya.
Jika Yunho memang tidak mempunyai siapa-siapa, lalu siapa wanta yang sering muncul di sekitarnya itu?
Ia tak mampu lagi menahan rasa penasarannya.
Ternyata memang ada yang aneh di puri Yunho.
Sesampainya di lorong lantai 3 yang begiu dominan adalah gelap.
Berbeda dengan 2 lantai dibawahnya, penerangan di lantai 3 lebih temaram bahkan nyaris gelap di beberapa sudut.
Jaejoong merasa aneh karena suasana seperti ini tentu tidak nyaman untuk istirahat–bagi Yunho.
Dan langkah Jaejoong akhirnya terhenti di depan salah satu ruangan.
Pintunya tertutup memang, tapi entah kenapa Jaejoong memiliki feeling yang kuat tentang ruangan ini.
Di sisi kanan-kiri pintu kamar itu berdiri 2 guci besar yang diisi bunga mawar merah.
Jaejoong jadi semakin curiga.
Tanpa ragu lagi, Jaejoong menyentuh kenop pintu itu dan pelan memutarnya, membuka pintu itu perlahan.
Krieet~
Pemandangan pertama yang ia lihat adalah sebuah kamar luas berisi perabot mewah meski agak suram.
Di banyak spot, ia menemukan berbagai macam mawar.
Oh sungguh ruangan ini semakin mencurigakan saja.
"Siapa itu?"
Jaejoong tersentak dan urung melangkah saat mendengar suara dari arah tempat tidur berkelambu yang jaraknya tak begitu jauh.
Perhatiannya kini tertuju pada ranjang besar itu.
Jaejoong bisa melihat seseorang dengan rambut lurus panjang berwarna hitam–yang ia yakini sebagai sumber rasa penasarannya.
"Kaukah itu gracia? Mawar di dekat cerminku sudah hampir layu bisakah kau membawa yang baru?"
Jaejoong terdiam di tempatnya ketika perempuan itu beranjak dan terlihat berusaha mendekatinya.
Cantik.
Itu yang ada di pikiran Jaejoong saat melihat siluet perempuan itu meski tertutup kelambu.
Namun Jaejoong sempat terkaget karena saat perempuan itu berdiri tak jauh darinya, di wajah bagian kiri perempuan itu terlihat luka bakar yang tidak ringan.
Jaejoong menutup mulutnya sendiri untuk meredam keterkejutannya karena melihat wajah perempuan itu.
Padahal perempuan itu terlihat masih muda dan cantik tapi luka bakar itu...
"oh, kau bukan Gracia? Siapa kau?" tanya perempuan itu sambil menatap Jaejoong.
"A-aku.. Aku Kim Jaejoong... Maaf, anda siapa?"
Perempuan itu jelas terlihat kaget ketika Jaejoong menyebut namanya sendiri.
Lalu perlahan perempuan itu mundur dari tempat semula–di hadpan Jaejoong.
"Kim.. Kim Jae-hoon... Kim Jaehoon..." Perempuan itu merenggut rambutnya sendiri.
Sementara Jaejoong yang mendengar gumaman itu menjadi bingung.
"A-aku Kim Jaejoong, Kim Jaehoon ayahku.. Bagaimana bisa anda mengetahuinya?" tanya Jaejoong dengan kerutan samar di dahinya.
Perempuan itu membelalakan mata sebelum akhirnya berteriak melengking.
"Kyaaaah!"
Oke, Jaejoong makin merasa ada yang tidak beres disini.
Siapa sebenarnya wanita ini saja belum terjawab dan lagi tambah satu pertanyaan bagaimana bisa wanita itu menyebut nama mendiang ayahnya?
"Kau jalang! Menjauh dari Jaehoon-ku! Kau tidak berhak menyentuhnya dengan tangan kotormu itu!" Pekik wanita itu sambil menunjuk Jaejoong.
Jalang?
Merebut Jaehoon?
Ah, Jaejoong kini ragu tentang kewarasan wanita di hadapannya.
"Maaf, anda salah.. Aku Kim Jaejoong.. Anak dari Kim Jaehoon.." Jaejoong mencoba menjelaskan dengan menepuk dadanya sendiri berharap gesture itu mampu membuat wanita di hadapannya mengerti.
"DIAM! Kau pikir aku akan memaafkanmu karena telah merebut Jaehoon dariku.. TIDAK AKAN!" tangan wanita itu terulur menuju laci meja riasnya.
Jaejoong tak mengerti apa yang hendak dilakukan wanita itu tapi yang jelas, ia punya firasat tidak enak.
Dan hal itu terbukti ketika wanita berambut panjang itu mengeluarkan sebuah belati dan mengacungkannya kearah Jaejoong.
"Kau harusnya sudah mati! Bagaimana kau bisa selamat dari kebakaran itu, Miyoung-ah?"
Jaejoong semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan wanita itu, tapi meningat kata 'kebakaran' dan nama ibunya–Miyoung Jaejoong jadi mendapat setitik jawaban.
Jaejoong memicingkan mata menatap wanita itu.
"Bagaimana kau bisa tahu tentang kebakaran itu?" tak ada lagi kalimat formal, Jaejoong mengepalkan tangannya sendiri karena persepsi-nya tentang siapa wanita ini.
"Hahaha... Bagaimana bisa aku tidak tahu? Kau masih saja naif, Miyoungie.. Tentu saja aku yang melakukannya! Aku yang merencanakan kebakaran itu!" pekik wanita itu lagi.
Kesadaran Jaejoong bagai dihantam batu besar.
Jadi orang dihadapannya ini adalah pembunuh orang tuanya?
Dugaannya benar.
"Kenapa.. Kenapa kau lakukan itu?" Lirih Jaejoong dengan suara serak menahan perih di tenggorokannya ketika ia harus mengingat wajah kedua orangtua-nya lagi.
"'Kenapa' kau bilang? Kau yang membuatku harus melakukan ini! Karena kau yang merebut Jaehoon dariku! Wanita jalang!"
Mata Jaejoong berkaca-kaca, perih rasanya ketika menemui kenyataan bahwa orangtuanya dibunuh karena dendam.
Jaejoong tidak bisa memaafkan orang di hadapannya ini, siapapun dia.
"Kau harus membayar nyawa ayah dan ibuku.." gumam Jaejoong.
"Kau yang harus mati, Hwang Miyoung.. Jika aku tidak bisa membunuhmu saat kebakaran itu, kupastikan tidak ada kesalahan untuk kedua kalinya.. Kau harus mati sekarang juga!" dan bersamaan dengan itu, wanita tadi mencoba menghunuskan belatinya kearah Jaejoong.
"Kyaa!"
"UMMAA! Akh–!"
Jaejoong menatap kaget pada sosok yang kini berdiri melindunginya.
Jung Yunho.
"Y-Yun?" Jaejoong merasa takut ketika melihat lengan kanan Yunho yang tertusuk belati itu.
"lenganmu.." namun Yunho hanya diam menatap kearah wanita itu.
"Umma.. Apa yang kau lakukan?" Yunho berusaha lembut berbicara pada wanita itu.
Umma?
Jadi ternyata pembunuh orang tua Jaejoong adalah umma dari orang yang dicintainya?
Jaejoong semakin tidak bisa menerima situasi ini.
"Jae... Jaehoon?" wanita yang Yunho panggil 'umma' itu kini menjatuhkan belatinya ke lantai.
Mendadak tatapan wanita itu–nyonya Jung berubah sendu.
"Jaehoon-ah.. Kau datang untuk menemuiku?" ia tersenyum sumringah menatap kearah Yunho.
Jaejoong jadi semakin yakin bahwa wanita ini punya masalah dengan psikis-nya.
"Umma? Apa maksudmu? Ini aku, Yunho.." Yunho memegangi lengannya sendiri yang terluka.
"Jaehoon-ah kemarilah.. Kembalilah ke pelukanku.." nyonya Jung merentangkan tangannya, seolah ia melihat Yunho sebagai kekasihnya.
"Umma! Sadarlah!" pekik Yunho.
Dan tak berselang lama, ekspresi nyonya Jung berubah datar, tak terbaca sama sekali.
"Jadi kau datang kesini bukan untukku, sayang?"
"Umma, ini aku.. Yunho!"
"Kau lebih memilihnya daripada aku, Jaehoon-ah?"
Jaejoong beringsut takut di balik tubuh Yunho saat melihat sang nyonya mengambil kembali belati yang sempat terjatuh tadi.
Wanita itu sedikit menyeringai menatap mereka berdua.
Seringai yang sungguh mengerikan bagi Jaejoong.
"Kenapa kau lebih membela wanita jalang itu, Sayangku?"
"Umma!"
"fufufu~ Jadi kau ingin menjadi miliknya? Asal kau tahu, Jaehoon-ah.. Jika aku tidak bisa memilikimu, maka tak ada satupun orang yang boleh memilikimu!" Kembali nyonya Jung mencoba menyerang Yunho.
Namun kali ini ia kalah gesit, dengan sigap Yunho berhasil menahan kedua lengan nyonya Jung.
"LEPASKAN!"
"Umma! Sadarlah! Umma sudah keterlaluan sekarang hentikan semua ini!" Yunho menatap tajam pada ibunya sendiri.
"Jaehoon-ah.. Kenapa kau menatapku seperti itu? Kau benar-benar mencintainya? Kau tak ingin kembali padaku?"
Jaejoong mampu melihat mata Yunho yang mulai berkaca-kaca.
Memang sungguh perih menerima keadaan orangtuanya seperti ini.
Grekk~
Nyonya Jung melepas tangannya ketika cengkraman Yunho melemah lalu ia berdiri di ujung balkon mengangkat dressnya sendiri.
"Apa ini yang kau inginkan, Jaehoon-ah?"
Yunho dan Jaejoong terbelalak melihat nyonya Jung kini.
"Umma! Aku mencintaimu umma! Aku mohon sadarlah! Ini aku, Jung Yunho!" teriak Yunho.
Nyonya Jung Tertegun mendengar kalimat Yunho.
Ia pun akhirnya beranjak turun hendak menghampiri Yunho.
"Yunho? Yunho anakku?"
Ia mencoba melangkah dari atas pagar balkon itu.
Matanya meneteskan butir-butir cair.
Namun takdir sepertinya berkata lain, karena belum sempat nyonya Jung turun dari balkon itu, keseimbangannya hilang.
Ia seolah melayang ketika kakinya kini menginjak udara kosong.
"UMMAAA!"
Yunho berteriak ketika tubuh kurus umma-nya seolah tertiup angin kearah belakang.
Tak ada teriakan, tak ada jerita.
Yunho justru bisa melihat ibunya tersenyum sebelum bunyi debaman keras karena tubuh itu menghantam tanah.
"UMMAA!" Yunho menjerit pilu setelah berlari menuju balkon, menatap perih tubuh nyonya Jung yang bersimbah darah dibawah sana.
Jaejoong ikut shock melihat kejadian yang terlalu cepat itu.
Ia hanya mampu menutup mulutnya sendiri.
Semua berakhir kini.
.
.
.
Yunho terlihat berdiri diam di depan pusara nyonya Jung, ekspresinya masih jelas menampakkan kesedihan.
Jaejoong yang berada tak jauh darinya kemudian memeluk tubuh itu dari belakang.
Seolah menyampaikan bahwa ia masih ada untuk pria bermata musang itu.
"Yun–"
Yunho menggenggam tangan yang melingkari perutnya.
"Sudah tidak apa-apa.. Mungkin ini caranya membalas perbuatan ibuku.." Yunho tersenyum, senyum miris.
Jaejoong meneteskan airmatanya.
Sungguh bukan ini yang ia inginkan, meski tahu nyonya Jung adalah pembunuh orangtuanya tapi bukan ini yang ia harapkan.
"Mianhae, Yun.. Mian" Jaejoong menenggelamkan wajahnya di punggung Yunho.
"shhh~ kau tidak salah, maaf aku menyembunyikan semua ini."
Jaejoong hanya terdiam.
Terlalu banyak yang terjadi dan Jaejoong merasa belum bisa menerima semua kenyataan itu baik-baik.
"Jja... Jangan menangis lagi sayang.. Sekarang apa kau masih mau menerimaku ?" Yunho berbalik dan memeluk Jaejoong erat-erat.
Jaejoong mengangguk mantap dalam pelukan itu, membuat Yunho tidak tahan ingin menciuminya.
"I Love You, Kim Jaejoong... Would you marry me?"
Jaejoong kehilangan kata-kata setelahnya. Ia kaget karena Yunho yang begitu mendadak mengucakan hal itu, bahkan mereka masih ada di pemakaman nyonya Jung.
Namun Yunho mendapat jawabannya ketika wanita-nya itu mengangguk.
Setelah mencium dahi Jaejoong, Yunho menggandeng tangan gadis itu mengisyaratkan untuk pulang.
Yah, dan membiarkan semua dendam serta kesedihan terkubur dalam.
Yunho dan Jaejoong kini hanya ingin melindungi satu sama lain.
Menjadi keluarga dengan normal.
Menjalani hari-hari lagi seperti biasa.
Dan tetap saling mencintai...
Meski dengan darah dari ayah yang sama.
.
.
.
The End
Endingnya gak asik banget yah? Mian saya keilangan feel buat ngetik padahal udah niat banget.
Ternyata Incest.. hehe Mian buat readers yg kecewa sama ending-nya.
Buat yang masih nanya ini disadur dari manga apa, serius saya gak inget..
yang saya inget cuma tokoh di manga itu Violet Austin(Jaejoong) & Alexander Earl(Yunho).
Sekali lagi terimakasih buat readers yang mau membaca fic ini, memberi review, ngefollow, & ngefav.. Love u guys ^^
.
"Kau serius akan ke Jepang sendiri, Jae?"
"Yah.. unnie-ku tidak bisa mengantarku kesana, tapi aku harus tetap melihat Tohoshinki!"
.
"Kyahh! Jauhkan pistol itu!"
"Huh, bodoh.. Baru pertamakali ke luar negeri ya? Pintu kamar pun tidak dikunci"
.
"Itu Red Shalvet, batu berlian terbesar yang dipercaya bisa mengabulkan permintaan apapun.."
"a-apapun?"
.
"Aku yang akan mengantarmu kembali ke Seoul tapi untuk sekarang kita harus bekerja sama dulu, mengerti?"
.
.
Yaps itu bakal jadi project baru saya selain SECRETIVE J.
Mungkin bisa posting setiap weekend aja, semoga kalian gak bosen baca fic saya.
Gomawo, and see ya~
.
Find me on twitter : at)CherryYunJae
