You Are My...
.
.
.
Disclaimers: Masashi Kishimoto Sensei
Pair: Naru x Saku Sasu x Hina
Warning: AU, OOC, Typo, Gaje, dan segala hal yang mungkin anda tidak sukai.
Don't like don't read.
Sehelai kelopak sakura jatuh diiringi tawa merdu
Waktu begitu cepat berlalu, bukan?
Lalu, apa hari ini kau adalah musim panasku?
Atau mungkin musim gugurku?
Mungkin jugakah musim dinginku?
Hei, jangan-jangan kau musim semiku?
Apa?
Masih bukan juga?
Hmmm... kalau masih bukan,
Berarti...
Kau adalah cintaku, sayang!
.
.
.
Chapter 3: You Are My Love
Sakura dan Naruto berjalan beriringan. Angin dingin yang menusuk kulit tak dirasakan keduanya. Mereka merasa hangat. Sangat hangat.
"Jadi... kenapa kau sendirian?" Ragu, Naruto melontarkan pertanyaan pertamanya di pagi itu.
"Maksudmu, aku tidak boleh sendirian, begitu?" Setelahnya, Sakura kembali menyeruput cokelatnya yang nyaris dingin.
"Eh, m-maksudku... umm... mana Sasuke?" Jawab Naruto takut-takut.
"Hahaha..." Si gadis malah tertawa. Membuat Naruto ber 'heh?' ria dengan wajah idiot yang selalu menjadi bahan tertawaan sekelas.
"Apa ada yang lucu dengan kalimatku?" Polosnya pemuda pirang itu 'nyaris' membuat bogem mentah Sakura mendarat di pipinya.
"Baka! Apa kau tak tau berita panas yang bulan lalu ramai diperbincangkan para fangirl Uchiha Sasuke?" Sakura mencoba menahan tangannya yang gatal untuk menonjok Naruto.
"Aku bukan penggosip. Jelas saja aku tak tau." Alasan Naruto masuk akal juga.
Lalu Sakura menghela nafas.
"Aku dan Sasuke putus." Segerombol kupu-kupu memenuhi rongga dada Naruto saat Sakura mengatakan kalimatnya.
.
.
.
Akhir-akhir ini, Sasuke menjadi tempat curhat yang asik untuk Hinata. Pemuda itu sangat antusias saat Hinata mulai memuntahkan segala suka dan dukanya setiap sepulang sekolah di taman belakang.
Mereka ada di sana pagi ini. Di halaman belakang. Saling tersenyum disertai rona yang lembut. Aroma lavender dan blackberry menyatu di sekitar mereka. Ada apa, ya? Tak biasanya mereka berdua saling diam disertai kecanggungan yang aneh.
Darah Hinata berdesir seratus kali lebih cepat kali ini! Hei, dia tak lagi merasakan desiran cepat itu setelah dia dan Naruto putus. Baru kali ini dia merasakannya lagi.
Sasuke akan menyatakan perasaannya hari ini. Perasaan yang sudah lama dipendamnya. Dikuburnya bulat-bulat dalam kecemasan Hinata akan membencinya. Tapi ia sadar. Ia sadar kalau ia tak cepat-cepat mengatakan perasaannya, ia akan terus dihantui kegelisahan. Gelisah karena Hinata tentunya. Dan bibirnya sudah bergerak, tanda ia akan memulai percakapan pagi ini.
"Umm... aku tau aku tak terlalu berharga bagimu..." Ucapan Sasuke hampir saja membuat Hinata protes.
"... tapi... kau sangat berharga bagiku..." Lalu sedetik kemudian, muncullah warna merah di wajah Hinata. Membuat gadis manis itu tampak seperti buah tomat yang masak
"S-Sasuke..." Lirih gadis itu pelan tanpa mengedipkan matanya.
"Daisuki..." Pemuda raven itu merah matang.
"..." Diam.
"..." Diam.
"..." Diam.
"..." Diam.
"... d... aisu... ki..." Hinata berbisik. Lalu pandangannya teralih pada wajah keren Sasuke.
Sasuke membatu. Mencoba memastikan bahwa dirinya tak salah dengar dengan apa yang dikatan Hinata.
"..." Sepi.
"..." Hening.
Tapi...
"Daisuki Sasuke-kun!"
Kali ini Sasuke tersenyum.
.
.
.
"Kita masih bersahabat, kan?" Naruto bertanya konyol. Lalu Sakura menoleh. Mencoba menjawab pertanyaan Uzumaki Naruto itu.
"Mmm..." Pikirannya kemana-mana. Ia tak yakin perasaan mereka satu sama lain masih sebatas sahabat. Bukan gede rasa, tapi Sakura merasa hal aneh saat Naruto menatapnya. Tatapan pemuda itu bukan lagi tanda persahabatan. Tatapannya lebih tepat dikatakan tatapan...
.
.
.
Cinta...
.
.
.
Sasuke menggigit tomat yang tadi ia bawa dari rumahnya. Suasana tak terlalu tegang sekarang.
"Mau?" Tawar pemuda onyx itu pada Hinata sembari merongoh saku celananya yang kiri. Oh, tomat lagi rupanya.
"Boleh..." Sebuah anggukan kecil muncul di kepala gadis Hyuuga itu.
"ini..." Tomat yang bulat dan besar itu berpindah tangan ke tangan Hinata.
"Arigatou..."
"Hm..."
.
.
.
"Aku bosan..." Sakura berhenti berjalan.
"... dan lelah..." Sambungnya dengan raut wajah yang rumit.
"Baiklah. Aku rasa kita memang perlu istirahat." Angguk Naruto.
"Aku ingin minum," Sakura menengok kanan kiri –mencoba mencari mesin penjual otomatis minuman kaleng.
"Oke. Aku carikan. Kau tunggu di sini. Mmm... yang hangat atau yang dingin?" Tanya Naruto layaknya pelayan café.
"Dingin." Jawab Sakura dengan singkat, padat, dan jelas.
"Yosh. Aku akan segera kembali!" Tanpa ba bi bu, Naruto sudah melesat meninggalkan Sakura yang terduduk di trotoar.
.
.
.
Ah, Naruto...
Taukah kau betapa cintanya Sakura kepadamu?
Taukah kau betapa menderitanya dia saat kau bersama Hinata?
Taukah kau betapa sakit hatinya saat ia mengorbankanmu pada sahabatnya?
Taukah?
Oh, aku yakin kau tak tau persis lara dan dukanya.
Tapi Naruto, kau bilang semua akan indah pada waktunya, kan?
Ya, semoga saja. Waktu yang akan berbicara. Hanya waktu.
.
.
.
Salju turun lebih awal.
Kepingan putih itu jatuh tepat di hadapan Sakura. Dan gadis itu menghela nafas lega. Ia sudah siap dengan pakaian musim dingin yang tebal dan hangat-hangat.
Tapi, uh! Dia menyesal memesan minuman dingin pada Naruto. Udara sekitar mulai lebih dingin. Dingin sekali.
.
.
.
Lavendernya terfokus pada Sasuke.
Kini Hinata duduk manis di kursi empuk limousine milik kekasihnya –atau lebih tepatnya masih CALON kekasih.
"Kita mau kemana?" Dan bibir mungilnya berbicara.
"Mmm... restoran mungkin?" Jawab Sasuke sembari melirik cepat Hinata. Kalau menyetir itu harus konsentrasi, Sasuke!
"..." Hinata mengalihkan pandangannya. Menatap lurus jalan yang sudah dipenuhi salju yang dingin.
"Salju turun lebih cepat, ya..." Gumamnya entah pada siapa.
Dan itu mengingatkannya pada sosok Sasuke saat ia belum mengenalnya. Dingin. Dingin seperti musim salju.
.
.
.
"Sakura-chan!" Teriakkan itu membuat Sakura merasa seakan dirinya akan tuli jika teriakkan itu terdengar lagi.
Naruto berlari dengan sebuah kantung plastik warna putih. Menghampiri gadis berkupluk ungu yang sedang menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya.
"Gomen aku lama. Tadi aku tak melihat mesin penjual otomatis di sekitar sini. Jadi aku mencarinya sampai ketemu. Hehehe..." Naruto nyengir lebar. Walau ia tau tak ada sedikitpun hal lucu di kalimatnya.
Tapi Sakura malah tersenyum. Seolah terhipnotis keceriaan Naruto.
"Ini pesananmu." Naruto menyodorkan sekaleng susu hangat pada gadis Haruno itu. Tunggu. Apa susu ini hangat? Bukannya Sakura memesan minuman 'dingin'?
"Kenapa hang-"
"Iya. Susu itu hangat. Aku membelinya karena aku khawatir Sakura-chan kedinginan kalau aku belikan yang dingin. Maaf... kau boleh memukulku kalau mau." Kalimat Sakura terpotong oleh penjelasan singkat Naruto. Dan kedua sapphire itu terpejam. Menunggu pukulan sakit yang akan dihempaskan Sakura padanya.
"Dasar kau..." Tangan Sakura terangkat tinggi-tinggi. Membuat Naruto makin siap menerima pukulan itu.
1 detik...
2 detik...
3 detik...
Yang ditunggu Naruto tak kunjung datang. Lalu...
"... baka!"
"GREP..."
Hangat.
.
.
.
Naruto membuka matanya. Terperangahlah dia.
Gadis itu, gadis pujaan hatinya, memeluknya erat! Bukan memukulnya keras! Ah, Naruto terbang tingiiiiii sekali. Berharap tak jatuh dengan cepat dari tempatnya melayang sekarang. Dan pemuda itu tersenyum lebar.
'Kaa-san! Tou-san! Puteramu mengalami kemajuan di dalam kisah cintanya!'
.
.
.
Hinata membuka matanya. Cahaya matahari menyorot seluruh tubuhnya yang masih berselimut. Jam berapa ini? Mengapa matahari sudah menghangat?
Dan saat lavendernya menyapu jam dinding...
"Oh! Sudah pukul 06.21!"
.
.
.
Tak biasanya Hinata bangun siang. Sehari-hari, dirinyalah yang pertama kali bangun dari seluruh keluarganya. Tapi pagi ini, ia terpaksa tak sarapan supaya cepat-cepat sampai di sekolah.
Huh, semua ini gara-gara Sasuke. Gara-gara pemuda itu, dia tak bisa tidur sampai pukul empat. Menyebalkan!
Pasalnya, tadi malam adalah kencannya yang kedua dengan Sasuke. Dan, oh! Sasuke mengecupnya! Bukan kecupan di bibir, sih. Hanya kecupan manis di dahi. Tapi, apa daya Hinata untuk melupakan kejadian itu? Jadilah matanya tak mau terpejam sampai pukul empat pagi. Lalu merona setiap Sasuke masuk ke pelupuk matanya. Masa remaja memang sungguh asik, ya?
Waktu cepat sekali berlalu. Bukan begitu, kawan?
Rasanya baru kemarin Sasuke dan dirinya mengatakan perasaan satu sama lain di halaman sekolah. Tapi pagi ini, musim semi sudah menunjukkan kehadirannya.
Kami-Sama sudah bosan rupanya pada musim salju.
.
.
.
Sakura sibuk di tengah lapangan olahraga. Mengoper bola sepak pada Temari yang sedang nganggur di sebelah kirinya. Tuh kan. Benar dugaannya kalau tahun ini perpisahan kelas XII akan diiringi dengan pekan olahraga lagi.
Tak apalah... bermain sepak bola cukup asik, kok. Nanti juga ada penampilan teater untuk hiburan. Lumayan, sih... tak terlalu membosankan.
Dan lain waktu di lapangan basket, Naruto masih men-dribble basketnya. Mencoba mencari siapa pemainnya yang masih kosong. Lalu... Ah! Itu dia Shikamaru. Pemuda pemalas itu sedang tak dihalangi seorangpun lawannya. Langsung saja Naruto mengopernya pada si 'rambut nanas'.
"Sasuke-kun~ berjuanglah!"
"Rebut bolanya~" Teriakan fangirl Sasuke menggema di lapangan basket. Tapi Sasuke malah makin lemas. Ia sudah menyapu semua sudut dengan onyx-nya. Dan gadis yang ditunggunya masih tak ada juga.
Kecewa sekali dirinya.
.
.
.
"Arigatou!" Hinata menunduk di depan pintu mobilnya. Mengucapkan terimakasih pada si supir yang sudah mau mengantarnya ke sekolah. Gadis yang baik.
"Saya pergi dulu, nona..." Lalu mobil itu melaju kembali meninggalkan Hinata yang masih berdiri di depan gerbang.
"... uke-...un~" Samar-samar terdengar berbagai teriakkan cempreng para gadis centil.
"Ah! Sasuke!" Setelah itu Hinata bergegas ke lapangan basket.
.
.
.
"Fyuuuh~" Sakura mengelap peluhnya yang menetes deras membasahi kaus olahraga. Puas rasanya mengalahkan grup Karin di permainan bolanya. Hah. Kelompok si centil itu kalah telak. 1-5. Lima untuk grupnya, dan dia kebagian memasukkan bola 4 kali.
Aneh juga, Karin yang sangat fanatik pada Uchiha Sasuke, tak menontonnya saat pertandingan basket. Dia malah mati-matian merebut bola dari Sakura. Asal tau saja, gadis tomboy itu permainan bolanya sangat mengagumkan. Sepertinya si Karin itu ingin sekali mengalahkannya dan menunjukan pada Sasuke bahwa dirinya lebih hebat dari Sakura. Kau takkan bisa, Karin.
Sakura terdiam sejenak. Oh! Pertandingan basket pasti sudah selesai!
.
.
.
"G-gomen ne..." Hinata menunduk terus saat dirinya menemui Sasuke di taman belakang.
Kelompok Sasuke kalah. Beda tipis dengan kelompok Naruto. Dan itu karena Sasuke tak konsentrasi pada bolanya. Hanya Hinata yang ia ingat. Hanya Hinata.
"Tak apa. Aku memang menantimu, sih. Tapi kalau terlambat, mau bagaimana lagi?" Sasuke tersenyum manis. Hei, kalau Ino melihatnya, pasti ia akan pingsan selama sebulan!
"K-kalau begitu... ayo kita lihat panggung untuk teater nanti!" Hinata menarik lembut pergelangan tangan Sasuke.
.
.
.
"Kau menang?" Sakura terpekik kala Naruto nyengir memamerkan kesombongannya memenangkan pertandingan basket.
Naruto mengangguk.
"Hebat!" Tak sadar, Sakura merengkuh Naruto. Menghirup aroma khas Naruto yang bercampur dengan aroma keringat lelaki. Hmm... perpaduan yang membuat hidung nyaman dengan aroma itu.
Naruto tersentak. Ini pelukan kedua Sakura padanya. Ah... lama-lamalah begini, Sakura.
.
.
.
Perlu diketahui, kelompok Naruto adalah kelompok yang desegani seluruh kelompk basket di Konoha. Tapi kelompoknya selalu kalah jika melawan kelompok Sasuke. Walau hanya beda tipis. Tapi kali ini sepertinya Sasuke sedang tak konsen pada pertandingan. Naruto bisa melihat dari tatapan matanya yang gelisah. Mungkin sedang menunggu seseorang.
Dan kau benar Naruto.
.
.
.
Sehelai kelopak sakura jatuh ke rumput segar nan hijau. Setelah eskul teater selesai menampilkan dramanya, seorang gadis musim semi ditarik paksa oleh seorang pemuda musim panas ke atas panggung. Dan semua penonton yang berisik menjadi pendiam sekarang. Bingung dengan apa yang akan dilakukan dua remaja itu di atas sana.
Hening terpecah.
"Sakura, maukah kau menjadi kekasihku?" Penonton mulai ribut. Saling berbisik membicarakan betapa manisnya aksi penembakan itu.
"A-apa maksudmu, Naruto?" Si gadis musim semi terperanjat saat genggaman halus lengan menyertai ucapan simpel si pemuda musim panas. Gadis itu semerah apel kini.
"Ya, menjadi kekasihku. Umm... tingkatannya lebih tinggi, lah dari persahabatan..." Nyengir, si pemuda musim panas menutup iris sapphire-nya. Beberapa orang menyuruh penonton diam. Mereka penasaran dengan apa yang akan dijawab sang gadis.
"..." Tapi tak ada jawaban dari gadis musim semi.
Si musim panas harap-harap cemas menanti jawaban sang pujaan hati. Begitu juga orang-orang dibawah sana. Ikut merasa apa yang dialami si pemuda.
"Aku..." Adakah yang tau keduanya bedebar?
"... mau..."
.
.
.
"YEAAAH!" Suara bersorak menggema di lapangan. Aduh! Malunya kedua insan itu sekarang! Lihat! Pipi keduanya bagaikan senja merah yang indah.
Sepasang kekasih juga bahagia kala itu. Sasuke dan Hinata tepatnya. Keduanya berjalan bergenggaman menuju Naruto dan Sakura.
"Omedettou, Naruto-kun!" Hinata tersenyum tulus. Naruto menggaruk tenguknya yang tak gatal.
"Hehehe... Arigatou!" Jawabnya ceria.
Semua gadis berhenti bersorak. Mereka merasa ada yang tak beres dengan Sasuke. Oke, dan Ino menemukan kejanggalannya. Tangan Sasuke bergenggaman dengan tangan Hinata!
"Hei! Apa yang kau lakukan Hinata?"
"Lepaskan genggamanmu itu!"
"Kyaaa~ aku tak setuju Sasuke-kun berpegangan dengan Hinata~"
"Hinata jahat~"
"Sasuke-kun jahat~"
Berbagai teriakan menjijikan mengusik pendengaran Sasuke.
"Hei! Stop semuanya!" Cegah Sasuke tanpa melepaskan genggaman hangatnya terhadap Hinata. Dia terpaksa bertindak kali ini.
"..." Lalu hening.
"Hinata-chan..." Para gadis terpekik dengan sufiks –chan yang menyertai kata-kata Sasuke.
"... maukah kau menjadi tambatan hatiku?" Sejak kapan Sasuke puitis begini? Dan sejak kapan beberapa orang gadis pingsan di tempat?
"Ah..." Hinata malu-malu.
"... Aku mau..."
"KYAAAAA~"
.
.
.
END
.
.
.
Yeah! Akhirnya selesai juga...
Gimana akhirnya? Kurang memuaskan, ya? Gomen, gomen!
Tapi, maukah para senpai me...
R
E
V
I
E
W
