ULJIMA OPPA

By Ciezie

Adaptasi dari Film Korea berjudul "Don't Cry Mommy" dengan banyak perubahan.

Fiksi belaka, dibuat untuk memberi gambaran apa yang akan terjadi seandainya hal seperti ini terjadi. Baca dan serap dengan benar. Ambil yang baiknya, buang jauh yang buruknya.

JADI KALAU KAU YANG MASIH BERFIKIRAN DANGKAL

Atau KAU YANG MASIH DI BAWAH UMUR YANG TAK MAMPU MEMBEDAKAN MANA BENAR DAN SALAH

Sebaiknya jangan baca FF ini !

.

.

.

.

Aku membawa semua barang-barangku yang penting saja. Aku tak bisa tinggal di apartemen ini lagi. Terlalu menyakitkan. Aku akan pindah ke mana pun, bahkan kalau aku harus menggelandang pun aku tak peduli. Terakhir sebelum keluar dari pintu, aku mengambil cake itu. Dia memesannya sebelum dia memutuskan mengakhiri hidupnya. Ini akan jadi kekuatanku untuk menuntuk keadilan. Tentu saja dengan caraku sendiri.

Setelah menyimpan semua barangku dan cake itu di tempat baruku, ya aku baru ingat aku punya tempat aman yang mungkin tidak diketahui banyak orang. Calon toko baruku. Tak ada yang tahu tempat ini, karena masih tertutup.

Aku membuka ponsel Hye mencari kontak salah satu di antara mereka. Aku menemukannya. Lihat bahkan Hye menambah ikon love di namanya. Tapi kenapa dia sekejam itu?

"Yobosseyo..."

"Datang ke atap sekolah malam ini!"

"Nde..."

Dia langsung menyetujui? Apa dia merasa bersalah? Setelah menutup telepon, aku segera keluar.

.

.

.

Dia sudah ada di sana ketika aku sampai, dia membelakangiku sedang menumpukan tangannya di dinding pembatas atap. Aku mengeluarkan pisau dengan tangan bergetar, aku.. sedikitpun tak pernah membayangkan menggunakan pisau untuk hal seperti ini, tapi ketika bayangan Hye berkelebat aku berusaha menegarkan diriku.

Aku membalik badannya dan langsung menodongkan pisau itu ke lehernya. Dia terlihat ketakutan.

"H..hyuung..."

"Diam! Sekarang panggil dua temanmu itu kemari."

"Tta... tapi..."

Aku segera menekankah pisau itu, membuat dia merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel. Dia mengangkat tangannya dan membuka ponsel itu. Aku terhenyak.

Wallpapernya...

Bukankah itu, Hye? Hye dan laki-laki ini tersenyum dan tampak bahagia dalam foto itu. Apa mungkin dia. Jangan-jangan dia hanya anak baik yang terpaksa melakukan itu?

"Kau mencintai Hye...?" tanyaku dengan suara bergetar.

Dia menghentikan gerakan tangannya mencari kontak. Memandangku. Lalu mengangguk pelan. Mataku memanas, kalau begitu kami sama-sama korban kan? Aku melepaskan pisauku.

"Pergi!"

"Tapi Hyung..."

"Pergi sebelum aku berubah pikiran!"

Dia terlihat ragu-ragu tapi kemudian pergi. Aku terduduk di sana. Tanganku lemas, kakiku lemas. Oh Tuhan dia terlihat bahagia di foto itu. Dia hanya gadis biasa yang seandainya bisa hidup lebih lama bisa seperti remaja pada umumnya. Seandainya kejadian itu tak terjadi, mungkin dia bahagia dengan teman lelakinya.

.

.

.

Aku merubah strategiku. Sekarang aku mengikuti alamat dalam pesan yang dikirmkan pada Hye. Dan itu menunjukkan tempat yang sedikit terpencil, malah dari luar seperti gudang. Aku melihat sekeliling dan sepertinya tak ada siapapun di sini. Aku membuka pintu pelan.

Ah di sana, di kamar itu ada orang. Dia tak menyadari keberadaanku karena asyik bermain game. Dia si pirang, salah satu dari dua orang jahat itu. Aku memandang berkeliling, dan aku mendapati tongkat baseball. Aku segera mengambilnya dan bersiap-siap di depan pintu.

Entah berapa lama, akhirnya dia beranjak dari gameny dan hendak membuka pintu. Aku segera mengayunkan tongkat ketika dia membuka pintu kamar, tapi rupanya dia punya kesiagaan yang baik, dia berhasil menghindar dan balik mendorongku hingga terbentur dinding.

"Ah... kau rupanya? Kau cari mati?"

Lihat dia sama sekali tak ada penyesalan. Apa rasa kemanusiaannya telah mati?

"Katakan di pengadilan kau memang bersalah dan terimalah hukumanmu maka aku berhenti mengganggumu."

Dia malah terbahak mendengar kata-kataku. Ya dia memang bukan manusia, bukan.

"Kenapa aku harus melakukan hal bodoh seperti itu? Kau bermimpi?"

Kemarahanku naik ke ubun-ubun, aku berdiri dan berusaha memukulnya kembali. Tapi aku kalah lagi. Dia punya kemampuan bela diri sementara aku tidak. Dia terus memukuliku, hingga rasanya aku mati rasa saking sakitnya seluruh tubuhku. Lalu kesempatan itu datang ketika dia tergelincir air yang dia tumpahkan sendiri ketika akan memukul kepalaku, aku segera menggapai tongkat baseball dan memukul kepalanya keras.

Dia terhuyung dan akhirnya ambruk. Tanganku bergetaran ketika memeriksanya, dia masih hidup. Aku segera mencari ponsel di sakunya. Dengan tangan lebih bergetar aku memeriksanya dan menemukan pesan dan video yang sama. Ini cukup jadi bukti.

Aku menelepon Kyuhyun dengan ponselnya.

"Hyukkie?"

"Datang ke tempat yang aku katakan!"

"Ada apa?"

Aku tersenyum miris.

"Aku menemukan buktinya Kyu."

.

.

.

"Kyu coba lihat ini!"

Kyuhyun yang sedang meneliti tempat di mana si pirang tergeletak segera beranjak ke arah rekannnya. Kyuhyun merasa mual melihatnya, dan marah, bagaimana mungkin ada orang yang melakukan hal seperti itu? Apa mereka tak punya ibu atau saudara perempuan? Tapi walau bagaimana pun ini bisa menjadi bukti.

Akhirnya Kyuhyun bisa membekuk tiga orang tersangka ini. Sekarang ia hanya menghawatirkan Hyukkie. Ya jangan sampai dia melakukan hal yang sama pada yang lainnya. Itu akan membawa masalah padanya. Dia bisa dipenjara. Meski orang ini tak mati tapi tetap saja.

.

.

.

Ponselku terus berdering. Aku tahu itu pasti Kyu. Tapi aku belum selesai, maafkan aku Kyu. Kau pasti sudah sampai ke tempat penjahat itu. Kau pasti mengerti aku main hakim sendiri, tapi aku tak bisa melakukan apa pun lagi. Hukum tak berpihak padaku, tersangkanya apalagi.

Itu dia, satu lagi penjahat. Lihat dia sedang dengan cueknya berusaha mencongkel sebuah mobil yang terparkir. Dia mau mencuri. Benar kan tak lama setelah dia berhasil membuka dan masuk ke dalam mobil, dia keluar lagi dengan berbagai barang di tangannya.

Dia lalu memasukkannya ke tas yang dia masukan ke dalam bagasi motornya. Ini saatnya.

Ketika dia bersiap menjalankan motor, aku juga siap menjalankan mobilku. Ya kalian mengerti kan apa yang akan aku lakukan?

Aku memejamkan mata ketika mobilku melaju kencang dan berhasil menabrak bagian depan motornya yang sedang berjalan pelan untuk berbelok. Dia kehilangan kendali, motornya terlempar dengan dirinya terseret. Dia masih hidup juga aku tahu. Itu hanya pelajaran dariku.

Sekarang aku lega. Mereka pasti bisa masuk penjara dengan bukti-bukti video menjijikan itu. Aku akan menyusulmu Hye.

.

.

.

Di atap ini.

Ini tempat favorit Hye begitu kata Minnie. Untuk apa aku hidup lagi? Aku akan menyusulmu Hye.

Ponselku berdering lagi. Baiklah ini untuk terakhir kalinya biar kuangkat.

"Kyu..."

"Kau dimana Hyukkie?"

"Itu tak penting."

"Berhenti melakukan itu. Kita akan bisa membekuk para penjahat itu. Jadi berhenti."

Aku tersenyum, aku memang sudah berhenti kan?

"Dengar Dongho akan mendapat hukuman terbanyak, jadi jangan lakukan apa pun padanya okay? Jangan menambah daftar kejahatanmu!"

Huh?

"Kami juga sudah menemukan bukti kalau dialah perancang kejahatan itu. Di komputer gudang itu ditemukan lebih banyak video.."

Apa? Tunggu dulu? Dongho? Orang yang disukai Hye? Dia dalangnya?

"Hyukkie kau mendengarkanku kan?"

Terbayang lagi semuanya. Jadi dialah penyebabnya. Benar-benar, padahal Hye benar-benar menyukainya. Segera kumatikan panggilan Kyu sambil meminta maaf dalam hati. Setelah menenangkan diri , aku meneleponnya.

"Hyung?"

"Datang ke atap!"

"Nde!"

Haha dia masih mempertahankan akting coolnya? Benar-benar. Aku mengeluarkan pisau yang selalu kusimpan di balik jaketku.

Tak lama dia datang.

"Hyung..."

"Kenapa kau lakukan itu?"

Dia memandangku pura-pura tak mengerti. Betapa tersembunyi setan di balik wajah yang sangat tampan itu.

"Kalau kau tidak suka padanya, tinggal kau tolak kan?"

"Apa maksud Hyung?"

"Jangan berpura-pura lagi!" aku segera mendekat dan menarik tangannya, kembali menempelkan pisau di lehernya.

"Kenapa kau lakukan itu? Padahal dia hanya gadis polos yang tak tahu apa-apa?"

"A... aku..."

Terdengar langkah cepat, aku menoleh dan mendapati Kyuhyun rupanya dia menemukanku.

"Berhenti Hyukkie! Jangan melakukan sesuatu yang akan kau sesali nanti!"

Aku tersenyum dan kembali menatap mata Dongho yang tampak sangat ketakutan.

"Aku takkan menyesalinya! Aku tak punya alasan untuk hidup Kyu..."

"Hyukkie.. kau hanya akan membuat Hye bersedih..."

"Tidak aku akan membuatnya bahagia karena berhasil menghabisi penjahat ini..."

Tanpa berpikir lagi aku mengambil jarak dan akan menyabetkan pisau itu ke lehernya, tapi sesuatu menubrukku. Aku memberontak tapi sesuatu itu kini memelukku erat, tak peduli aku mencakarnya atau memukulinya.

"Biarkan dia mendapat hukumannya. Jangan kau kotori tanganmu. Membunuh tetap dosa apapun alasannya, kita tak berhak melenyapkan kehidupan seseorang." Bisiknya di telingaku.

Akhirnya aku luruh, dan rasanya semua emosiku meledak, aku menangis meraung-raung dalam dekapannya. Hingga akhirnya aku tak ingat apa-apa lagi.

.

.

.

Berita tiga orang remaja itu tak juga berakhir. Tetap menjadi pemberitaan hangat. Aku tersenyum. Semoga itu bisa mejadi pembelajarang bagi semua orang. Pelecehan, penyiksaan adalah hal yang keji. Bersyukur aku tak mendapat hukuman karena kesaksian Kyu dan karena kesadaran Dongho sendiri. Mungkin sekarang dia menyesal. Tapi aku belum bisa memaafkannya, takkan pernah bisa mungkin.

Aku segera menghela napas berusaha meringankan beban hatiku.

"Hai..."

Aku menoleh dan tersenyum pada Kyu. Kini hanya dia yang kupercayai di dunia ini. Dia juga yang membuatku bisa menemukan tempat ini, tempat aku bisa sedikit melupakan lara hatiku. Mengabdikan diriku di rumah sakit pedalaman ini. Hidupku lebih berarti di sini. Sesekali Kyu mengunjungiku.

Min masih tak mau mengunjungiku, meski aku tak menyalahkannya sama sekali. Sebenarnya ketika kejadian itu terjadi, Min melihat tapi dia terlalu takut untuk melaporkan. Dia pasti sangat merasa bersalah. Mungkin itu juga yang akan dilakukan Hye jika dalam posisi Min.

"Bagaimana sekarang keadaanmu?"

"Lebih baik Kyu.. terimakasih. Hidup dengan dendam memang hanya membuat hidup bagai di neraka. Di sini aku berhasil mengalihkan semua rasa marah itu, membantu mereka membuatku merasa berarti."

Kyu tersenyum dia mendekat dan mengusap-usap pundakku.

"Hye akan bahagia melihatmu sekarang."

"Ya semoga."

Aku memandang langit di kejauhan. Semoga kau bahagia di sana. Di tempat tak ada lagi kesakitan dunia.

.

.

.

END

Semoga bisa mengambil hal baiknya dan melempar jauh-jauh yang tak patut dicontohnya.

Walau bagaimana pun ini tetaplah fiksi, meski mungkin terinspirasi dari kejadian nyata.

Kalau penasaran bagaimana cerita sebenarnya silakan tonton filmnya. Film Korea.

"Don't Cry Mommy"

Makasih buat : Mira Haje, Guest (ki cute), niknukss, lonelykim, Cho eun xian, lee ikan, bluerissing.

Mian kalau mengecewakan #deepbow