Balas review:

SI PALING REVIEW:

Dih, ngatur

Rizqa12:

wkwk, wokeh, udh up nih :D

SI PALING REVIEW:

hmm, akan author pikirkan, entah dipake atau gak

Guest:

Ah, sepertinya author kurang jelas ngasih tahu hal ini, hehe maaf :)

Bukan tubuh orang lain kok, itu memang fisik khusus yg dibuat untuk menggantikan tubuh lama Naruto yang, yah, jadi mayat di dunia shinobi :D

IDR Raiden Shogun:

Well, makasih ya :)

Sudah up ini, wkwk :D

Guest:

wah njiirr, makasih supportnya, yah memang sih, author nyaman buat romcom, setidaknya untuk saat ini, hehe :D

Megumin07:

Haha, nice review, dan nice waifu, awkwk :)

Baca ulang? Waduh, sorry ya, tapi jadwal up SN memang lama, karena menyesuaikan dengan kegiatan author juga di dunia luar sana :D

Alix Nostrand:

Wkwk, jadwal up SN sudah tersedia di bio author, karena menyesuaikan dengan aktivitas real life juga :D

Weh, sesudah Zodiac, kita lihat saja nanti, wkwk :)

MFaizB:

mantap, nice review gan :D

btw, kau juga follow author di watty kan? Kalau mau nanya beberapa hal boleh saja kapan2 :D

Wokeh, udh up nih :)

Agam31p:

Awkwk, ada lah spirit yg agresif, nanti juga keliatan :D

Sesi balas review berakhir :)

Daaaaan, plus utra untuk kalian, aihihi :D

Sekedar pemberitahuan, bagi yang masih nanya jadwal up Seirei Ninja, itu sebenarnya sudah lama tersedia di bio akun author, haha :D

Jadi… jangan harap Seirei Ninja up seminggu sekali, dua minggu sekali, dan lain-lain, author punya prioritas tertentu soal ini :)

Tanpa basa-basi lagi silakan membaca update chapter 12 di bawah ini ;)

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Seirei Ninja

Summary

Menemukan dirinya di dunia lain, ninja pirang itu mencoba hidup dan beradaptasi dengan lingkungan barunya. Akan tetapi kehadiran berbagai gadis unik di kehidupan keduanya perlahan membawa keunikan tersendiri di kesehariannya.

.

.

Disclaimer

Naruto dan Date a Live dimiliki oleh pemilik aslinya. Author hanya meminjam mereka untuk kepentingan fanfic ini.

.

.

Genre

Utama : Romance. Drama. Friendship. Harem.

Selingan : Humor. Family. Action. Supranatural.

Warning : Semi-OOC Naruto.

.

.

Chapter 12

Kunci Pengendali Ruang

(Part 2)

.

.

.

Pada angkasa luas ini, pancaran sinar hijau tiba-tiba muncul, itu kemudian redup dan menampilkan Tenka.

Suara feminim terdengar.

"Ah, ini pertemuan yang cukup mengejutkan, kalau menurutku."

Tenka berbalik dan terkejut.

Di hadapannya, sosok (yang diketahui) merupakan Spirit dengan nama kode [Zodiac], melayang sambil menatap Tenka.

Namun, tidak seperti Tenka, Spirit ini murni terbuat dari cahaya. Cahaya berwarna kuning lebih tepatnya.

Tenka mengerutkan alis.

"Aku gak tahu apa alasanmu, tapi kenapa kau gak ambil bentuk fisik seperti manusia juga?" tanya Tenka.

"Aku punya... alasan tersendiri untuk ini. Alasan yang kau gak perlu tahu."

Tenka menyipitkan matanya. Sandalphon muncul di tangan.

"Kau… jangan bilang…"

[Zodiac] merespon.

"Sebelum kau berpikir hal lain, aku sama sekali gak ada rencana untuk ngelakuin hal buruk atau sejenisnya. Kalau ini membuatmu lega, kau bisa membunuhku jika kata-kataku berubah menjadi dusta," kata [Zodiac] tenang.

Tenka terdiam, tapi untuk sesaat, pandangan mereka mengunci satu sama lain.

"…"

"…"

Sandalphon lenyap.

[Zodiac] terdiam sejenak.

"Aku terkesan, aku sempat berpikir kau mudah terbawa emosi dan langsung menyerangku tanpa pikir panjang."

Tenka ekspresinya tenang.

"Jika diriku yang dulu mungkin akan melakukan itu, tapi sayangnya, aku yang sekarang jauh berbeda dari yang sebelumnya."

[Zodiac] mengangguk.

"Kalimat yang bagus."

Tenka tidak menjawab balik, lebih memilih memperhatikan perilaku dia.

"Berapa lama?"

"Ya?"

"Berapa lama kau berada di angkasa ini?"

"Hmm, kurasa sekitar lima tahun, gak lebih dan gak kurang."

Tenka mengangguk.

"Aku tahu ini kedengarannya aneh, tapi apa kau tahu kejadian yang menimpa salah satu kota di bumi?" Tenka menambahkan. "Kota Tenguu lebih tepatnya. Kejadian itu terjadi sekitar 5 tahun yang lalu."

"Soal itu…"

Sinar hijau muncul di antara mereka. Itu meredup sebelum menampilkan seseorang.

Naruto berkedip.

"Huh, cepat juga."

Tenka senang.

"Kau terlambat, Naruto."

Naruto tersenyum ke arahnya.

"Kerja bagus karena telah mengulurkan waktu untukku," kata Naruto.

Tenka mengangguk.

Naruto mengamati keadaan sekitar, melihat bentuk bumi, sebagian planet, dan keberadaan angkasa lainnya.

'Huh, jadi begini rasanya berada di luar angkasa. Sensasinya terasa... aneh.'

"Fokus, Naruto."

'Aku tahu itu, Kurama.'

Naruto menengok ke arah Spirit itu.

"Jadi… [Zodiac], aku ingin tahu apakah kita bisa bicara… tanpa adanya konflik."

[Zodiac] mengangguk.

"Aku gak keberatan," ujar [Zodiac].

"...eh? Cuma itu saja?"

[Zodiac] memiringkan kepalanya.

"Kau sendiri yang bilang gak mau ada konflik, bukan?"

"Err, ya... memang begitu sih."

Naruto menekan [In-come].

"Nia-chan, bisa kau pindahkan kami-"

[Zodiac] menyadari hal ini.

"Ah, izinkan aku."

[Zodiac] membuka telapak tangannya, seberkas cahaya muncul dari ketiadaan, perlahan cahaya ini mengambil suatu bentuk berupa kunci emas.

[Zodiac] mengangkat [Michael] setinggi mungkin.

"Unlock - Rātaibu."

.

.

.

Kondisi ruang main bridge berlangsung serius.

Hal itu wajar, karena saat ini, mereka sedang menjalani tugas mereka.

"Jadi… [Zodiac], aku ingin tahu apakah kita bisa bicara… tanpa adanya konflik."

"Aku gak keberatan."

Minowa puas.

"Seharusnya dengan begini, interaksi kita dengan [Zodiac] bisa lancar." Minowa menambahkan. "Terlebih kalau ingatanku gak salah, mungkin baru sekarang kita membawa Spirit secara langsung ke kapal."

Kawagoe mengerutkan alis.

"Kau bicara seperti gak ada Spirit yang pernah menginjakkan kaki di sini."

"Maksudku sebelum Naruto-kun membujuk… dan menyegel kekuatan mereka."

"Ah, begitu, jagoan kita ini memang... JANTAN! HAHA!"

Kru kapal lain (sweatdrop).

Tidak lama kemudian.

Mereka melihat sebuah portal tercipta.

Awalnya, mereka waspada, sampai Naruto dan Tenka melayang turun dari portal. Tidak lama kemudian, [Zodiac] ikut turun, dan portal tertutup dengan sendirinya.

Kurumi memiringkan kepalanya.

"Ara, ini perkembangan yang… cukup mengejutkan," ujar Kurumi.

Naruto tertawa canggung.

"Aku tahu ini terdengar mendadak, tapi apakah ada ruangan khusus untuk kami bicara?" tanya Naruto.

Maria berkedip.

"A-Ah, iya, ikuti aku."

Turun dari kursi, Maria melangkah ke arah pintu ini, lalu diikuti oleh Naruto dan [Zodiac].

Pintu ini terbuka.

Mereka melewati itu.

Pintu ini menutup lagi.

Keheningan menyelimuti ruang main bridge.

"…"

"…"

Nakatsugawa berdeham.

"Jadi… apakah kalian berpikir sama dengan apa yang kupikirkan?" tanya Nakatsugawa.

Kru kapal lain terdiam sebentar.

Namun, untuk sesaat, Mikimoto angkat bicara.

"Meski demikian, ingatlah kalau pertemuan ini terlalu cepat, sehingga kita masih belum bisa yakin kalau operasi ini berjalan maksimal."

Nakatsugawa berkedip.

"Oh, benar juga."

Shiizaki mengamati pintu itu.

"Untuk sekarang, kita serahkan hal ini pada yang lainnya," ujar Shiizaki.

Mereka mengangguk.

.

.

.

Dalam ruangan ini, Naruto, Maria, bersama dengan [Zodiac], duduk secara berlawanan.

Maria tersenyum.

"Pertama-tama, aku ucapkan selamat datang di pusat komando [Ratatoskr]." Maria menambahkan. "Kalau boleh jujur, aku senang kita bisa bicara secara damai, tanpa perlu adanya konflik atau semacamnya."

[Zodiac] memiringkan kepalanya.

Naruto minum sebentar.

"Apakah kalian sepasang kekasih?" tanya [Zodiac].

Nada bicaranya terdengar lucu.

Naruto meletakkan cangkir.

Maria gelagapan.

"E-Eh?! D-Dari mana pemikiran itu datang?!"

"Yah, gimana ya, kalian sama-sama suka penyelesaian konflik dengan damai, jadi kupikir-"

Naruto mengangguk.

"Masa depan itu unik, jadi..."

Maria merona.

"Naruto!"

"Hehe, aku cuma bercanda, dattebayo."

Karena gemas, dia mencubit lengan lelaki itu, alhasil membuatnya meringis.

Namun, itu hanya sesaat, sebelum Naruto menyengir ke arahnya.

Maria mengabaikan hal tersebut, berdeham, dan mencoba terlihat tenang.

"Kembali ke topik, apa kau gak ada pertanyaan… yang lebih spesifik?"

Spirit itu terdiam.

"Sebenarnya kalau memungkinkan, aku ingin bicara empat mata…"

[Zodiac] beralih pada Naruto.

"…dengan kau seorang. Apa bisa?"

Maria mengangguk.

Maria berdiri.

"Aku akan menunggu di luar. Tolong gunakan waktu ini untuk bertukar pikiran," kata Maria.

Naruto dan [Zodiac] mengangguk.

Pintu itu terbuka.

Maria keluar dari ruangan ini.

Pintu itu menutup dengan sendirinya.

Keheningan menyelimuti ruangan ini.

"…"

"…"

"Keliatannya [Senshi Lock] bekerja dengan baik."

"Bentar, kau bilang apa tadi?"

[Zodiac] memiringkan kepalanya.

"Huh, mengejutkan sekali, jangan bilang Spirit asal mula gak kasih tahu apa-apa padamu soal ini?"

Naruto menggaruk pipinya.

"Melalui Kurumi-chan, dia cuma bilang setelah aku dapat satu [Kristal Sephira] lagi, maka kami akan bertemu."

"Ah, aku mengerti, dia ingin menjelaskan semua ini padamu nanti."

"Begitulah. Omong-omong, bisa kau jelaskan sesuatu tentang [Senshi Lock] ini?"

[Zodiac] mengangguk.

"Bukan masalah." Dia menambahkan. "[Senshi Lock], pada dasarnya merupakan suatu 'sistem' yang unik, karena mampu membuat pemiliknya bisa mengakses seluruh kekuatan Spirit secara aman tanpa khawatir dengan adanya efek samping.

"Meski demikian, ini cuma bisa terjadi kalau Spirit yang dibicarakan benar-benar percaya hingga ke tahap mencintaimu.

"Namun, gak hanya itu, [Senshi Lock] juga memberikan efek khusus yang bisa membuat penggunanya, jika ada, mengakses kekuatan lamanya, dan bahkan menyatukan energi berbeda sehingga menghasilkan sumber kekuatan yang baru," jelas [Zodiac].

Naruto mengangguk.

"Itu… penjelasan yang bagus, terima kasih, [Zodiac]."

"Sama-sama. Apa ada hal lain yang mau tanyakan lagi?"

"Untuk saat ini, kurasa gak ada."

"Aku mengerti. Omong-omong, kau keberatan untuk memanggil cewek yang bersamamu tadi?"

Naruto tersenyum.

"Bukan masalah."

Naruto segera berdiri kemudian berjalan melewati pintu (yang terbuka) ini.

Tidak lama kemudian.

Maria masuk ke dalam.

Pintu ini menutup.

Kali ini, hanya ada Maria dan [Zodiac], di ruangan ini.

Maria tersenyum setelah duduk.

"Aku sudah dengar dari Naruto. Kau berharap untuk berbicara denganku?"

[Zodiac] mengangguk.

"Kalau dipikirkan lagi, aku ada pertanyaan untukmu."

"Teruskan."

[Zodiac] berbicara.

"…"

Maria melebarkan matanya.

[Zodiac] mengangkat [Michael]. Sebuah portal muncul di atas Spirit itu.

"Ini percakapan yang bagus. Aku akan datang lagi nanti."

"T-Tunggu bentar, apa maksud yang kau katakan-"

[Zodiac] terhisap ke dalam portal, meninggalkan Maria seorang diri di ruangan ini.

"-tadi."

Maria kehabisan kata-kata saat ini.


Pagi hari tiba.

Karena sedang cuti, Naruto membuat keputusan untuk membereskan rumah, mulai dari mengelap jendela, mengepel lantai, mencuci pakaian, dan masih banyak lagi.

"Tumben rajin."

'Ini rumahku, Kurama, ya kali aku gak beres-beres.'

Kurama terkekeh.

Bunyi bel terdengar.

Naruto menengok ke arah pintu.

"Sebentar!" seru Naruto.

Meninggalkan sapu, dia berjalan menuju pintu, lalu membuka itu dari dalam.

Maria tersenyum.

"Apa aku mengganggu?" tanya Maria.

Naruto ikut tersenyum.

"Enggak juga, masuk lah," jawab Naruto.

"Permisi."

Setelah meletakkan sepatu, Maria mengikuti Naruto berjalan ke ruang tamu, lalu duduk di kursi.

"Jus atau kopi?"

"Teh, kalau ada."

Naruto mengangguk, kemudian beralih ke ruang dapur.

Di sisi lain, Maria mengamati keadaan sekitar, dan menyadari sesuatu.

'Dia baru selesai beres-beres rupanya,' pikir Maria.

Tidak berselang lama.

Naruto kembali dengan membawa nampan.

Satu demi satu, dia meletakkan piring kecil berisi makanan ringan, dan dua cangkir teh.

Maria mengerutkan alis.

"Satu untuk siapa?"

Naruto tertawa kecil.

"Untuk pemilik rumah tentunya. Apalagi?"

Semburat merah muda nampak di pipi gadis itu.

"O-Oh, kau benar, maaf."

Naruto terangkat sebelah alisnya.

Keduanya minum teh dengan tenang.

Keheningan menyelimuti situasi ruangan ini.

"…"

"…"

Naruto angkat bicara.

"Jadi… apa ada masalah yang mengganggumu?"

Maria terdiam.

"Apa aku sejelas itu?"

"Kau biasanya minum kopi daripada teh."

Maria menghela nafas.

"Sampai sejauh itu rupanya." Maria menambahkan. "Itu memang benar, aku… memang terganggu sesuatu, dan ini menyangkut masa laluku."

Naruto tidak mengatakan apapun. Lelaki itu lebih memilih diam.

"Apa aku pernah kasih tahu… kalau aku punya adik?"

"Ini pertama kalinya."

"Begitu."

Maria menarik nafas kemudian membuangnya perlahan.

"Kalau boleh jujur… alasan mengapa aku mengambil posisi komandan, karena untuk mengenang memori adikku."

Naruto menunggu kalimat berikutnya.

"Dia… Marina namanya, seorang yang antusias jika menyangkut Spirit." Maria menambahkan. "Dan kau tahu bagian lucunya? Jika dia masih ada, kemungkinan besar posisi komandan jatuh kepadanya."

Naruto mendapat kesimpulan.

"Aku turut berduka cita."

"Terima kasih, tapi itu bukan masalah, kematiannya… sudah lama berlalu, 5 tahun yang lalu lebih tepatnya."

Naruto tersentak.

"5 tahun? Bukankah itu berarti…"

Maria tersenyum.

Namun, jika diperhatikan, senyuman itu tampak dipaksakan.

"Ya, itu benar, waktu dia tiada… adalah saat di mana tragedi menimpa kota ini."

Pada ruang tamu di rumah ini. Tepatnya siang hari.

Sepasang anak perempuan kembar menyaksikan acara di televisi. Keduanya sering tertawa saat pemain di acara itu membuat pose humor mereka.

"Hey, Marina, kau namakan apa bonekamu?"

"Entah, kalau Nee-san?"

"Soal itu… rahasia, hehe."

Marina cemberut.

Marina teringat sesuatu.

"Aku baru ingat, Nee-san, perihal keanggotaan tim untuk menangani Spirit, apa kau akan bergabung?"

Maria menggeleng.

"Aku punya mimpi untuk melihat angkasa, jadi mungkin aku gak akan ikutan."

"Oh, oke." Marina menambahkan. "Yah, Nee-san jangan cemas, aku saja sebenarnya cukup untuk membantu mereka."

Maria mengelus rambut adiknya itu. Dia tersenyum tipis.

"Pasti, Nee-san juga yakin kau orang yang tepat untuk membantu mereka."

"Hehe, sudah pasti itu!"

Naruto mengangguk.

"Lalu? Apa yang terjadi setelah itu?" tanya Naruto.

Maria bercerita lagi.

Sore hari ini.

Kekacauan terjadi di mana-mana.

Sementara itu, Maria berlari sambil mengabaikan lingkungan di sekitarnya, ekspresi cemas nampak di wajahnya.

'Marina, tunggu aku. Nee-san pasti akan datang menyelamatkanmu.'

Beberapa saat sebelumnya, mereka berdua sedang duduk dan bersantai di taman, dan berniat mengamati langit sore sampai matahari terbenam.

Namun, secara mengejutkan, entah dari mana banyak portal bermunculan di langit. Semua portal ini menjatuhkan aneka benda antariksa sehingga menimbulkan kerusakan parah.

Meskipun sempat pingsan, tidak perlu waktu lama, Maria langsung mencari keberadaan adiknya (yang lenyap) usaisadar.

'Di mana? Di mana kau, Marina?'

Kemudian, Maria melihat adiknya, tergeletak tak berdaya di antara reruntuhan bangunan. Darah mengucur dari kening hingga ke dagunya.

"Marina!"

Maria bergegas menghampiri adiknya itu.

Mungkin karena mendengar suaranya, Marina perlahan membuka satu matanya.

"Nee… san?"

"S-Semuanya akan baik-baik saja. Nee-san pasti akan menyelamatkanmu."

Maria menengok sekitar.

"Siapa saja! Kumohon! Selamatkan adikku!"

Meski begitu, Maria memperhatikan tak ada yang datang sama sekali, atau mungkin mereka tengah sibuk dengan keselamatan masing-masing.

"Nee-san… sudahlah..."

Maria beralih pada adiknya. Raut wajah depresi diperlihatkan gadis itu.

"T-Tunggu sebentar, pasti ada sesuatu yang bisa kulakukan."

Maria mencoba mendorong aspek bangunan dari Marina. Namun, tidak peduli seberapa keras usaha gadis itu, itu tetap menimpa tubuh adiknya.

"Sudah… gak apa-apa…."

"B-Bagaimana bisa! Apapun yang terjadi… aku harus menyelamatkanmu!"

Maria bisa merasakan tangannya terasa sakit, bahkan darah sedikit telah jatuh dari area jarinya, tapi dirinya menahan itu semua demi keselamatan adiknya.

"Hey, Nee-san…"

Maria langsung fokus pada Marina. Marina berbicara lagi dengan nada lemah.

"…aku… senang, punya Nee-san yang penyayang sepertimu…"

Maria tercengang. Dia menyadari apa yang akan terjadi berikutnya.

"J-Jangan, tetaplah sadar, bantuan pasti akan datang! Jadi…"

"…Terima kasih… untuk semuanya… aku..."

Marina menunjukkan senyuman.

"…sayang, Nee…."

Marina tidak lagi bersuara.

"..."

Maria meneteskan air matanya.

"MARINAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

Naruto terdiam sebentar.

"Itu… pasti berat untukmu," kata Naruto.

Maria menggeleng.

"Aku semakin lebih baik… walau memori itu sulit kulupakan… hingga sekarang," kata Maria.

Naruto terdiam.

"Begitu rupanya."

Keheningan menyelimuti area ini.

"…"

"…"

"Hey, Maria-chan."

"Ya?"

Naruto tersenyum.

"Mau jalan keluar?" ajak Naruto.

Maria berkedip.

Maria tersenyum.

"Boleh."

Ninja kuning itu puas.


Sementara itu dalam rumah para Spirit, tepatnya ruangan Nia, dua gadis ini tampak sibuk bermain game konsol.

Tenka memandang fokus layar di hadapannya.

"Kali ini aku yang menang."

Kurumi tertawa kecil.

"Ara, ufufufu, harusnya itu kalimatku."

Tenka dan Kurumi menatap tajam satu sama lain. Percikan listrik terlihat dari mata keduanya.

Di sisi lain, pemilik kamar ini lebih sibuk dengan tablet-nya, dan sekarang tengah menyaksikan film tema romantis-komedi.

Pada sore hari, seorang pria terlihat merenung di tepi pantai, dan dirinya tengah mengamati sebuah foto.

"Oh kasihku, tolong maafkan aku, jika waktu bisa diputar, aku takkan melakukan kesalahan itu," ujar pria itu.

Suara feminim terdengar.

"Kakanda!"

Pria itu menengok ke samping, dan melihat seorang wanita, berjalan menghampirinya. Dia terkejut sebelum merasa senang.

"Adinda!"

Wanita itu terus berlari.

"Kakanda!"

Pria itu ikut berlari.

"Adinda!"

Nia tersenyum.

'Yah, setidaknya mereka dapat akhir bahagia,' pikir Nia.

Masih terus berlari, wanita itu kemudian menarik sesuatu dari balik punggungnya, yaitu sebuah gada besar.

Pria itu panik, kemudian memutar arah agar bisa kabur.

"Kenapa adinda tega ngelakuin ini?!"

"Karena kau tukang selingkuh! Dasar buaya darat!"

Film ini berakhir dengan jeritan dan tulisan [Happy-End] di layar hitam.

"…"

Nia (sweatdrop).

'Wah, akhir yang kacau,' pikir Nia.

Setelah mematikan tablet, dia mengamati dua Spirit itu masih sibuk bermain game konsol, dan memutuskan untuk menghampiri mereka.

"Jadi… sudah ditentukan siapa pemenangnya?" tanya Nia.

Nada bicaranya terdengar penasaran.

Mereka beralih pada Nia dengan ekspresi aneh. Pandangan dua Spirit itu tampak membara.

Gadis itu mengangguk.

"Baik, aku mau ke dapur, ada yang mau kuambilkan sesuatu?" (Nia).

"Jus, rasa bebas." (Tenka).

"Soda, apa saja." (Kurumi).

Dia berdiri.

"Aku segera kembali."

Nia pergi.

Hanya ada mereka di ruangan ini sekarang.

"…"

"…"

Mereka melirik satu sama lain. Lalu, seperti ada pesan tersembunyi, Tenka dan Kurumi saling mengangguk.

Tak berselang lama.

Nia datang membawa nampan.

Saat itu diletakkan, penghuni lain kamar ini bisa melihat makanan ringan di atas mangkuk kecil, dan tidak lupa kehadiran beberapa minuman.

"Jus apel dan soda melon."

"Um, makasih, Nia."

"Ara, ufufufu, maaf merepotkanmu, Nia-san."

Nia mengangkat bahu.

"Eh, santai saja." Nia menambahkan. "Lagipula, kalian sahabatku, jadi ini bukan masalah."

Tenka dan Kurumi tersenyum.

Ketiganya makan dan minum sejenak.

Tenka teringat sesuatu.

"Nia."

"Ya, Tenka-chan?"

"Apa Fraxinus pernah menemukan Spirit lain selain kami?"

Nia berkedip.

"Yah… itu pertanyaan yang sulit." Dia menambahkan. "Usaha keras yang dilakukan kami cuma bisa sampai menjangkau kalian.

"Dan kalau boleh jujur, aku sebenarnya penasaran, apakah memang Spirit itu berjumlah sedikit, atau... ada Spirit lain selain kalian di luar sana?"

Tenka mengerutkan alis.

Kurumi berkedip.

"Err, Nia-san, mungkin kau lupa soal ini, tapi… Spirit asal mula?"

Nia berkedip.

Kemudian, wajah gadis itu sedikit merah.

"Y-Ya, kalian benar, bodohnya aku hahaha."

Kedua Spirit itu (sweatdrop).

Nia berdeham.

"Kembali ke topik, bisa kalian sebutkan ciri khas Spirit asal mula? Seperti sikap atau tingkah laku mungkin?"

"Ara, itu mudah saja, dia terdengar seperti tahu segalanya, rendah hati," sahut Kurumi.

"Bijak, dan seperti tahu apa yang harus dilakukan," tambab Tenka.

Nia mengelus dagunya.

"Hmm.. Keeper? Nah, jelek. Sacred? Terlalu sederhana. Mari kita pikirkan... Deus, yah, mungkin itu bagus."

Tenka tertarik.

"Itu nama kodenya?"

"Yup."

Kurumi tertawa kecil.

"Fufu, aku setuju."

Nia tersenyum.

"Aku gabungkan opini kalian, dan viola, Deus langsung masuk ke pikiranku."

Nightmare itu penasaran.

"Jadi… sekarang apa?"

Tenka berkedip.

Nia mengerutkan alis.

"Kalau gitu… mau main game lagi?"

Kedua Spirit itu tersentak sebelum menatap tajam satu sama lain. Percikan listrik tercipta di antara mata mereka.

Nia (sweatdrop).

'Wah, sepertinya aku salah bicara.'

Meski begitu, mereka tetap bermain game, dan momen lucu terkadang datang tanpa diundang.


Naruto dan Maria duduk di bangku taman. Keringat bisa terlihat jelas dari wajah mereka.

Keduanya tengah beristirahat sejenak dari kegiatan lari pagi saat ini. Lalu, salah satu dari mereka angkat bicara, dan orang itu adalah Naruto.

"Jadi… gimana pembicaraanmu dengan Zodiac?" tanya Naruto.

Maria berkedip.

"Apa… aku terlalu transparan, bagimu?" tanya balik Maria.

Naruto mengangkat bahu.

"Entah kenapa setelah mendengar kisah saudaramu, aku jadi kepikiran kalau apa yang terjadi di antara percakapan kau dan [Zodiac], itu membuatmu terbebani saat ini."

Dia tertawa kecil. Gadis itu mengamati langit cerah dengan senyuman.

"Soal itu, yang dikatakan [Zodiac] padaku sebelum dia pergi adalah…"

Naruto mendengarkan dengan seksama.

Naruto mengerutkan alis.

"Itu… kedengarannya seperti dia mengenalmu."

"Yah, aku juga berpikir begitu, meski aneh kedengarannya."

Maria tiba-tiba berdiri.

"Aku mau beli minum. Kau?" (Maria).

"Rasa karamel, terserah mau kaleng atau botol." (Naruto).

Maria mengangguk.

Maria pergi sebentar.

Sementara itu, dia menghembuskan nafas, dan memikirkan hal penting saat ini.

"Masih penasaran dengan apa yang akan terjadi setelah ini?"

'Maksudmu setelah aku menyegel kekuatan dari [Zodiac], begitu?'

Kurama keheranan.

"Mana lagi memangnya?"

Dia menahan senyumnya.

'Maaf, tapi kalau boleh jujur… sebenarnya ada banyak hal yang mau kutanyakan pada Spirit asal mula itu.'

Naruto mengelus dadanya sendiri.

'Dan sensasi yang kurasakan ini… apa ini?'

Kurama terdiam.

Sama seperti partnernya ini, dia juga penasaran, tapi dalam artian lain tentunya.

Seperti…

"Jika ke depannya kita bertemu Spirit asal mula ini, dan dia berbuat lucu padamu, aku takkan segan mengirim salam Bijuudama ke wajahnya… ratusan kali jika diperlukan."

Naruto (sweatdrop).

'Setelah melihat kenangan itu bersama Kurumi-chan, kurasa kita harus bersikap positif jika bertemu dengannya.'

Bijuu itu mencibir.

"Kau bilang begitu karena slot harem kau masih ada yang kosong."

'Oi!'

Naruto menghela nafas.

Tidak lama kemudian.

Maria kembali dengan membawa beberapa kaleng minuman. Gadis itu duduk lalu menyerahkan salah satu kaleng kepada Naruto.

"Makasih."

"Sama-sama."

Mereka minum sambil mengamati langit cerah.

"Maria-chan."

"Ya?"

"Mengenai [Zodiac], sepertinya dia gak seperti Spirit yang pernah kita hadapi sebelumnya."

Maria tertawa kecil.

"Yah… soal itu, aku setuju denganmu."

Naruto terkekeh. Ekspresi lelaki itu kemudian serius.

"Karena dia gak seperti Kurumi-chan atau Tenka-chan, apa opsi kencan masih berlaku?"

Maria mengelus dagunya.

"Meski aku bilang bisa… kita gak tahu pasti apakah dia mau menerima permintaan kencan ini." Maria menambahkan. "Skenario terburuk, kau mungkin harus menghadapinya… dengan tinjumu."

Naruto tertawa canggung.

"Aku suka pemikiran cewek ini," sahut Kurama.

'Kau bilang begitu karena ada kekerasan, dattebayo,' balas Naruto.

"Bisa kau salahkan aku? Aku sedang bosan saat ini."

'Oh? Nonton film membuatmu bosan?'

"…bajingan sialan! Cepat pulang! Episode hari ini akan ada adegan kematian anak karakter utama digigit zombie pas kabur dari mall!"

Naruto mengerang sambil mengelus pelipisnya.

Maria memperhatikan tingkah lelaki itu.

"Ada apa, Naruto?"

"Kurama ingin aku cepat pulang. Acara kesukaannya akan tayang jam 12 nanti."

Maria berkedip.

Maria tertawa kecil.

"Ada-ada saja tingkahnya."

Naruto menyengir.

Mereka berdiri dan saling menatap.

"Jika tiba-tiba [Fraxinus] menemukan sesuatu, kami akan menghubungimu nanti," ujar Maria.

"Aku mengerti," balas Naruto.

Maria teringat sesuatu.

"Oh, ada satu hal lagi.'

Naruto penasaran.

"Apa itu?"

Maria mencium pipi Naruto.

Maria menjauhkan wajahnya. Semburat merah muda tipis nampak di pipi gadis itu.

"K-Kalau begitu, aku pergi dulu."

Kemudian, dia pergi ke arah lain, meninggalkan Naruto seorang diri di taman.

"…"

Naruto terkekeh. Dia merasa terhibur saat ini.

'Maria-chan sudah mulai berani rupanya.'

"Oi! Cepat pulang."

'Geez, kau gak sabar sekali, Kurama.'

Naruto melangkah pulang.


Hibiki berdiri di depan pintu ini.

"Di sini rumahnya kalau gak salah," gumam Hibiki.

Usut punya usut, gadis itu berencana untuk berkunjung ke rumah Naruto, dan dirinya memang telah membuat janji sebelum datang.

'Yosh, kau pasti bisa, dattekana.'

Hibiki menekan bel.

"Sebentar!"

Tidak lama kemudian.

Pintu ini terbuka dari dalam.

Naruto tersenyum simpul.

"Oh, Hibiki-chan rupanya, masuk lah."

Hibiki mengangguk lalu masuk ke dalam.

"Permisi."

Naruto menutup pintu.

Keduanya melangkah berdampingan. Tentunya itu terjadi setelah Hibiki meletakkan sandal ke rak.

Tiba di ruang tamu, Hibiki melihat ada gelas dan makanan ringan di atas meja, tidak lupa dengan televisi (yang menampilkan) film.

"Naruto-san, kau habis nonton film?" tanya Hibiki.

"Hm? Oh, lebih tepatnya habis nonton serial TV," jawab Naruto.

"Heeh," balas Hibiki.

Naruto merapikan gelas dan piring.

Naruto teringat sesuatu.

"Omong-omong, kau mau kuambilkan minum? Jus atau susu mungkin?"

Hibiki mengelus dagunya.

"Susu putih kalau boleh."

Naruto tersenyum tipis.

"Aku mengerti. Kau tunggu saja di sini."

Hibiki tersenyum. Gadis itu melihat Naruto membawa peralatan kotor tadi ke ruang dapur.

Memilih duduk, dia memperhatikan preview untuk episode lain, yaitu adegan di mana keluarga dari kerabat karakter utama akhirnya berkumpul lagi setelah sebelumnya berpisah.

"…"

Naruto kembali dengan dua gelas. Satu jus jeruk dan satunya lagi susu tawar.

Dia meletakkan nampan di meja.

"Ini untukmu, tapi hati-hati karena masih panas."

Tak ada jawaban.

Naruto kebingungan.

"Err, Hibiki-chan?"

Hibiki tersentak.

"Eh? A-Ah iya, terima kasih banyak."

Segera minum setengah, Hibiki gelagapan karena lidahnya terasa terbakar.

"Hah, huh, hihaha?!"

Naruto (sweatdrop).

"Padahal sudah kubilang kalau itu masih panas." (Naruto).

"Ehehe, maaf…" (Hibiki).

Naruto menggeleng.

"Jadi… ada urusan apa kau denganku?" Naruto menambahkan. "Tentu ini bukan berarti kau gak boleh datang cuma untuk sekedar berkunjung atau sejenisnya."

Hibiki meletakkan cangkir ke meja.

Hibiki mengangguk.

"Soal itu, aku berharap kau mau menemaniku ke suatu tempat... nanti setelah urusan dengan [Zodiac] selesai."

Naruto tertarik.

"Boleh saja. Kapan?"

"Tempat dan waktunya nanti kuberitahu lagi."

"Aku mengerti."

Keheningan menyelimuti ruangan ini.

"…"

"…"

Hibiki berdeham.

"D-Dan satu hal lagi," kata Hibiki.

"Apa itu?" tanya Naruto.

"…kau punya game konsol?"

Naruto berkedip.

Naruto tertawa kecil.

"Ada-ada saja kau ini."

Hibiki menyengir lebar.

"Hehe."

Naruto dan Hibiki bermain selama beberapa jam. Canda dan tawa terdengar dari aktivitas mereka ini.


Malam tiba.

Pada tempat latihan biasa, Naruto mengelak dari ayunan pedang seseorang, senyum tipis nampak di pipinya.

"Perhatikan arah seranganmu, Tenka-chan."

Tenka tersenyum.

"Harusnya aku yang bilang begitu padamu, Naruto."

Sebuah bayangan muncul di tanah, detik itu juga, Kurumi keluar dari sana sambil menembak ke arah titik buta penglihatan ninja itu.

Meski begitu, Naruto memutar badan, menangkis setiap peluru dengan kunai di tangan kanannya. Tenka memanfaatkan kesempatan ini dengan Sandalphon terangkat.

'Kena.'

Dengan cepat, Tenka mencoba menebas punggung lelaki itu, hanya untuk ditahan oleh kunai lain di tangan kirinya.

Tenka tersentak sebelum bergerak mundur. Begitu pula dengan Kurumi (yang menjaga) jarak.

Keduanya mengitari lelaki itu.

Naruto terhibur.

"Mengesankan, kalian hampir mengenaiku tadi," ujar Naruto.

"Hmph, 'hampir mengenai' gak sama dengan 'kena', benarkan, Kurumi?"

"Fufu, itu benar sekali, Tenka-san."

Naruto tertawa kecil.

"Kalian ada-ada saja."

Kemudian, dia lenyap disertai hembusan angin, meninggalkan sebuah kunai dengan kertas peledak tertancap di tanah.

Kurumi dan Tenka melebarkan matanya. Mereka langsung melompat ke udara.

Ledakan kecil terjadi.

Saat di udara, Naruto muncul disertai hembusan angin, dan berusaha menendang wajah keduanya dengan keras.

Namun, Kurumi seketika berubah menjadi bayangan, sementara Tenka menahan tendangan itu dengan wajahnya sendiri. Tenka menyeringai.

"Dapat."

'Naruto' terkekeh sebelum kepulan asap menyelimutinya, menampilkan batang pohon lengkap denga kertas peledak.

Tenka melebarkan matanya.

Ledakan kecil terjadi.

Di saat itu juga, Tenka terpaksa mendarat di tanah, wajahnya gosong dengan asap mengepul dari rambutnya.

Tenka menggeleng cepat lalu wajahnya kembali seperti semula.

Bunyi bel terdengar.

Kunai di tanah diselimuti asap. Itu berubah menjadi Naruto.

Naruto menepuk tangan.

"Untuk hari ini kita selesai dulu. Kita lanjutkan lagi di lain waktu."

Bayangan muncul di tanah. Kurumi naik dari sana.

Keduanya mengangguk.

Kurumi dan Tenka bersandar pada salah satu pohon.

Sementara itu, Naruto mengamati keadaan sekitar, di mana sebagian pohon tumbang dan kondisi tanah berlubang.

Naruto mengepalkan tangannya yang perlahan diselimuti aura ungu dan kuning membara. Dengan cepat, dia meninju kedua lengannya bersamaan, menghasilkan letusan energi kecil yang menyebar ke seluruh hutan ini.

Namun, ketimbang menimbulkan kehancuran besar, itu membuat keadaan tanah dan pohon-pohon kembali seperti semula. Tumbuh dan bagus lagi.

Puas, dia menghampiri kedua Spirit tadi, lalu duduk di antara mereka.

Tenka tertarik.

"Aku penasaran apakah aku bisa meniru yang kau lakukan," ujar Tenka.

Naruto menggaruk pipinya.

"Yah… alasan aku bisa melakukannya juga karena chakra Kurama mempunyai konsep vitalitas yang besar." Naruto menambahkan. "Dan melalui akses [Reiryoku] milikmu, itu meningkatkan properti energinya."

Tenka mengangguk.

"Begitu rupanya. Jadi energi kakek rubah itu bisa berguna selain dalam pertempuran."

Kurama menggeram.

"Cih, tukang makan sepertimu lebih baik diam saja."

'Kurama…'

"Apa? Cewek konyol ini yang memulainya duluan."

'Sabar itu bagus untuk kesehatan.'

"Cih, terserah."

Naruto tertawa canggung.

Kurumi menghela nafas.

"Ara, Tenka-san, menjaga tata etika itu penting dalam kehidupan bermasyarakat, jadi mungkin kau harus memilah lagi kata-kata yang akan kau ucapkan," ujar Kurumi.

Kurama menyeringai.

"Bagus, beritahu dia."

Tenka berkedip.

"Itu mungkin benar, tapi seingatku kakek rubah itu gak termasuk dalam golongan masyarakat… kecuali golongan makhluk asing…"

Seringai Kurama pudar.

"…apalagi, dia cuma bisa numpang hidup di dalam badan Naruto, kapan terakhir kali dia bayar sewa tempat tinggal?"

Naruto dan Kurumi (sweatdrop).

'Wah, pola pikirnya kena ini,' pikir Naruto.

'Tenka-san, kita sebagai Spirit juga termasuk golongan makhluk asing, kenapa kau bisa gak sadar hal sederhana seperti ini,' batin Kurumi.

Di sisi lain…

"Akqkkkwkwj*!* 8 &* 9 (* (^*& 91…."

Naruto pura-pura batuk.

"Y-Ya, barangkali ada baiknya kita segera pulang." (Naruto).

"K-Kau benar, sebentar lagi juga mau tengah malam." (Kurumi).

"Oh, baiklah." (Tenka).

Mereka berdiri.

Naruto teringat sesuatu.

"Oh, ada yang kelupaan."

Dua Spirit itu penasaran.

"Apa itu, Naruto?"

"Ara, memangnya apa yang kau lupakan, Naruto-san?"

Naruto tersenyum.

"Ini."

Ninja itu mengecup pipi Kurumi dan Tenka. Keduanya memerah wajahnya.

Naruto puas melihat muka mereka berdua.

"Semoga mimpi kalian indah malam ini."

"Y-Ya, begitu pula denganmu, Naruto-san."

"U-Um, kau juga, Naruto."

Mereka bertiga berjalan ke arah rumah masing-masing.

Namun, dalam perjalanan, Tenka dan Kurumi tidak berhenti tersenyum.

.

.

.

Maria mengamati langit-langit ruangan dengan ekspresi rumit.

Saat ini, dia sedang berada di kamar tidurnya, diam memikirkan kata-kata terakhir dari [Zodiac].

"Apa kau bahagia?"

Kemudian, dia mengambil posisi duduk di tepi kasur, pandangannya beralih keluar jendela.

"Kenapa… aku merasa seperti mengenal [Zodiac]? Tapi kalau benar… di mana? Dan kapan?" gumam Maria.

Maria menghembuskan nafas.


Di atas salah satu gedung pencakar langit, sosok ini alias [Zodiac], mengamati Kota Tenguu dengan ekspresi lembut.

"Tenguu… kalau dipikirkan lagi, sudah lama sekali aku gak berkunjung ke kota kelahiranku sendiri, terlebih lagi…"

Perlahan, sosok itu mulai mempunyai tampilan normal, dimulai dari rambut hitam panjang dan iris mata kuning.

"…aku senang, bisa ketemu sama Nee-san lagi."

Marina tersenyum simpul.

T-B-C

A/N: Hellooo reader-san sekalian! Gimana chapter kali ini? Mengherankan? Membosankan? Seperti biasa letakkan komen kalian di tempat yang seharusnya :D

Ehem, akhirnya kita bisa tahu nama dari kemampuan penyegelan Spirit yang dimiliki Naruto, aka [Senshi Lock]. Dari namanya sudah jelas itu hal yang, eh, unik :D

Dan di chap kali ini, kita mengetahui kalau sosok yang menjadi [Zodiac], tidak lain dan tak bukan adalah saudara dari Maria itu sendiri.

Hoho, entah apa reaksi Maria nanti :D

Terakhir...

Sampai jumpa di chapter berikutnya ;)

{Racemoon - Sign out}