What's Wrong With My Pretty BOSS ?

.

Rated : M

.

.

Disclaimer

Naruto : Masashi Kishimoto

HighSchoolDxD : Ichie Ishibumi

Warning : Typo bertebaran

.

.

Sesudah menurunkan Naruto saat ini Rias tidak langsung pulang ke rumahnya namun dia terlebih dahulu pergi ke supermarket untuk membeli bahan-bahan membuat barbeque.

Wanita cantik tersebut mendorong troli melewati berbagai macam rak makanan sampai akhirnya dia sampai di tempat yang menyimpan berbagai macam daging, dengan asal dia mengambil berbungkus-bungkus daging dari berbagai macam bagian. Sehabis mengambil cukup banyak daging barulah dia pergi ke kasir untuk membayar semuanya tak lupa dirinya juga membeli saus serta makanan pendamping yang cocok dengan barbeque.

Setibanya di rumah Rias segera menuju ke halaman belakang kediamannya tersebut di mana sudah ada alat pemanggang tersedia di sana.

"Ngomong-ngomong bagaimana cara menghidupkan benda ini ?" Rias tampak kebingungan bagaimana cara menggunakan alat pemanggang yang baru dia dapatkan beberapa hari lalu sebagai hadiah.

Dia mengamati dan melihat-lihat bentuk serta fungsi dari alat tersebut namun dia tetap tak bisa menghidupkannya, akhirnya dia menyerah jiga dan melihat tutorial di internet bagaimana cara menyalakan alat pemanggang sesuai tipe miliknya. Beberapa saat mendengarkan dan melihat tutorial barulah dia menghidupkannya sendiri dan untungnya berhasil.

"Ternyata tak terlalu sulit, lebih baik aku mandi dulu" karena sudah bisa dan faham cara mengoperasikan alat pemanggangnya Rias sekarang beranjak masuk ke dalam rumah untuk membersihkan diri setelah seharian ini dia cukup banyak berkeringat karena mendukung anggota tim departemennya dalam lomba.

.

Sementara itu kini Naruto baru saja selesai mandi, dirinya sedang mengeringkan rambut dari sisa-sisa buliran air dari surai pirang cerahnya.

Dia segera berpakaian sopan dengan mengenakan baju kaos berwarna putih dilapisi kemeja panjang berwarna biru bermotif kotak-kotak, untuk bawahan dia mengenakan celana kulot panjang berwarna blue navy. Rambut pirangnya dibiarkan acak-acakan seperti biasa, setelah merasa penampilannya cukup sopan barulah ia keluar dari apartemen untuk segera berangkat ke kediaman Rias.

Tak butuh waktu lama untuk sampai di rumah Rias, tampak Naruto baru saja tiba di sebuah rumah berukuran sedang namun tetap nyaman ditinggali. Begitu sampai di depan pintu Naruto segera memencet tombol bel dan menunggu pintu dibukakan. Beberapa saat kemudian pintu terbuka dan yang menyambut si pirang adalah Rias sendiri, wanita itu tampak cantik dengan pakaian santai dengan rambut yang diikat tinggi memperlihatkan leher jenjangnya.

"Selamat datang, aku sudah menunggumu dari tadi" Rias menyambut Naruto dengan sedikit menyunggingkan senyum dan tak lupa sebelah tangannya masih memegang alat penjepit daging, tampaknya ia masih memanggang.

"Terima kasih sudah menunggu, ah ngomong-ngomong aku membeli ini di jalan tadi" Naruto menyerahkan sebuah bungkusan makanan pada Rias yang dia bawa.

Rias menerima bungkus tersebut dan mengajak Naruto masuk ke dalam, namun saat keduanya berjalan menuju pintu belakang samar-samar mereka bisa mencium bau sesuatu yang tidak sedap.

"Bau gosong ?" Naruto mengendus-endus supaya memastikan lebih lanjut namun seakan menyadari sesuatu Rias berlari mendahului Naruto menuju taman belakang rumahnya, melihat Rias ngibrit duluan Naruto segera menyusul karena pasti ada sesuatu yang tidak beres terjadi.

Ketika sudah sampai di taman belakang Naruto dapat melihat kepulan asap berwarna hitam cukup banyak berasal dari arah alat pemanggang yang saat ini sedang Rias urus, ketika asap sudah mulai menipis dan Naruto berjalan mendekati Rias ia mendapati saat ini wanita Gremory itu sedang memegang potongan daging yang gosong menggunakan penjepit yang dia pegang dari tadi.

"Aku lupa sedang memanggang daging tadi" Rias sedikit cemberut dan segera melemparkan potongan daging gosong itu ke tempat sampah.

"Tak apa, kita bisa memanggang lagi" Naruto berjalan ke arah meja yang terletak tak jauh dari Rias, di sana tampak ada satu kantong plastik berwarna putih yang Naruto asumsikan di dalamnya ada daging mentah untuk di panggang.

Tapi begitu di buka yang tersisa di sana hanya bungkusan dan kemasan kosong saja dan dilihat dari jenis dagingnya Naruto bisa tahu bahwa yang Rias beli itu bernilai cukup per seratus gramnya.

"Itu tadi yang terakhir" Rias berucap membuat Naruto menatapnya, "itu adalah daging terakhir yang kupunya".

Mendengar penuturan Rias membuat Naruto berjalan cepat ke arah tong sampah yang digunakan wanita cantik itu tadi dan alangkah terkejutnya Naruto saat mendapati banyak potongan daging gosong berbagai ukuran dan untuk jenis sudah tak bisa dikenali lagi karena sudah berwarna hitam legam.

"Ini semua dagunh mahal yang kau beli ?" Naruto menatap Rias dengan pandangan seolah tak percaya.

"Ya" satu jawaban singkat dari Rias sukses membuat Naruto kian tertegun, dan dengan begini dia dapat mengetahui bahwa pengetahuan Rias dalam membuat barbeque adalah nol besar. Seharusnya dia bisa datang lebih cepat setidaknya mungkin masih ada kesempatan baginya untuk mencicipi daging mahal tersebut.

"Jadi apa yang tersisa ?" dengan masih menatap tong sampah Naruto bertanya.

"Tak ada, semuanya sudah habis" bagaikan tanpa dosa Rias terkekeh pelan sambil menggaruk kepalanya, sungguh dia juga tak sadar telah menghabiskan semuanya karena dari awal selalu berakhir dengan terbakar hingga gosong.

Naruto mencoba memikirkan sesuatu supaya acara antara dirinya dan Rias tak berakhir lebih cepat tak seperti yang diharapkan sebelumnya ditambah dia juga merasa lapar karena saat ini sudah memasuki jam makan malam. Sebuah ide terpintas di benak pria itu, dia mematikan alat pemanggang yang masih menyala lalu berjalan menghampiri Rias.

"Mau ikut atau menunggu ?".

"Ikut !" Rias melepaskan apron yang dia kenakan dan melemparkannya dan segera pergi bersama Naruto.

Keduanya berjalan menyusuri trotoar sampai akhirnya tiba di sebuah mini market yang terletak di pertigaan jalan, Rias hanya mengikuti Naruto tanpa banyak bertanya ketika pria itu mengambil keranjang belanjaan lalu pria itu memasukkan beberapa bungkus mie instan serta satu kotak telur. Tak lupa pria jangkung itu mengambil bahan pelengkap lainnya sebelum segera pergi ke kasir untuk membayar semuanya.

"Untuk apa semua itu ?" Rias menanyakan fungsi dari semua bahan-bahan makanan yang dibeli oleh Naruto yang sebenarnya tak perlu ia tanyakan.

"Karena semua dagingnya sudah kau bakar ditambah aku sengaja tidak makan dulu di rumah jadi saat ini aku lapar, dan kau juga pasti lapar bukan ?. Ini !" Naruto menyodorkan sebuah sosis pada Rias yang entah kapan dia buka, melihat makanan yang diberikan oleh si pirang Rias menerima dengan suka hati karena dia sangat menyukai makanan tersebut.

Di tengah perjalanan pulang Naruto serta Rias terus berbincang membelah suasana malam hari yang cukup tenang di wilayah tersebut, sesekali Naruto akan melontarkan candaan pada si bungsu Gremory dan sukses membuat sosok wanita menawan tersebut tertawa hingga tak terasa kini sudah berada di depan kediaman milik Rias.

Rias segera membawa Naruto menuju dapur karena pria itu ingin memasakkan sesuatu bagi mereka berdua, walaupun hanya sebatas makanan instan namun itu bukan masalah bagi Rias karena selama itu enak dia akan memakannya ditambah lagi yang memasakkan makanan adalah Naruto itu menjadi nilai plus bagi Rias.

Dengan cekatan Naruto segera menyiapkan apa-apa saja yang dia butuhkan, dia langsung mendidihkan air untuk mienya nanti serta dia langsung mencuci bawang serta jamur yang sudah dibeli tadi.

Karena tak mau mengganggu Rias hanya menonton saja sambil memakan sosis yang entah sudah berapa bungkus, padahal niat awalnya sosis tersebut di beli untuk bahan tambahan untuk Naruto memasak namun karena si wanita Gremory sangat menyukainya maka tak ada pilihan lain selain membiarkannya memakan semua sosis. Melihat bagaimana Naruto memasak membuat Rias senyam-senyum dan cekikikan sendiri, dia merasa saat ini seperti sepasang kekasih yang akan makan malam bersama.

Tangan Naruto yang biasanya menari-nari indah di papan keyboard kini tak kalah gesit dan luwes bermain dengan alat-alat dapur seperti pisau dan yang lainnya, hal itu membuat Rias makin menyukai pria pirang di depannya kini. Dia tak bisa membayangkan bagaimana nanti jika bisa dibuatkan sarapan juga oleh Naruto.

Ketika sibuk berangan-angan tiba-tiba saja sebuah panggilan dari Naruto membuyarkan apa yang sedang Rias bayangkan.

"Rias apa kau suka telurnya di rebus terpisah atau di satukan dengan mienya ?" dengan masih sibuk memotong daun bawang serta jamur Naruto menanyakan pendapat wanita merah tersebut.

"Satukan saja dengan mienya" jawab Rias asal, sebenarnya dia tak tahu apa yang dimaksud oleh Naruto karena selama hidupnya ia hanya beberapa kali saja makan mie instan itupun terakhir kali dia memakannya adalah dengan Akeno saat masih di high school.

.

Aroma harum dan menggugah selera tercium dari arah kompor, Rias yang mencium aroma tersebut sudah tak sabar untuk bisa mencicipi makanan yang saat ini tengah di masak oleh pria pirang di depan sana. Naruto tampak sedang mengambil mangkuk kecil dan membawanya serta mematikan kompor.

"Mau makan di mana ?" pria itu melihat ke arah Rias yang masih duduk masih di kursi yang terletak dekat meja makan.

"Ah kita makan di ruang tengah saja, sekalian menonton tv" Rias mengusulkan serta segera pergi ke tempat yang di tuju.

Mengetahui lokasi di mana mereka akan menikmati mie ramen yang baru saja matang tersebut Naruto segera membawa panci yang dia gunakan serta mangkuk kecil tadi menyusul Rias. Sampai di sana dia segera meletakkan pancinya di atas meja dengan dialasi oleh talenan kayu yang tadi digunakan untuk alas memotong bawang dan jamur.

Rias bertepuk tangan kala Naruto membuka penutup panci dan aroma harum segera menguar menerpa indera penciuman wanita cantik tersebut, Naruto menuangkan mienya ke mangkuk kecil dan memberikannya pada Rias. Uap tipis mengepul seiring dengan berpindah tangannya mangkuk barusan.

Tanpa menunggu lebih lama Rias segera menyumpit beberapa lembar mie dan segera memasukkannya ke dalam mulut tanpa meniupnya terlebih dahulu, rasa panas bukan halangan bagi wanita itu untuk bisa merasakan bagaimana rasa gurih, pedas, memenuhi lidah dan perpaduan antara kentalnya kuah mie dengan campuran telur serta jamur makin membuat Rias tak tahan untuk menikmati sensasi rasanya.

Dia tak pernah tahu bahwa rasa mie instan bisa sebegitu nikmatnya, ini semua sangat berbeda dengan yang ia dulu pernah makan dan yang lebih penting lagi adalah hidangan tersebut dimasak oleh seseorang yang dirinya sukai sejak dulu.

Melihat bagaimana wajah Rias yang sampai mengeluarkan ekspresi lucu saat menikmati mienya membuat Naruto tak kuasa menyunggingkan senyum tipis, dia baru pertama kali melihat bagaimana Rias bisa seekspresif itu saat makan walaupun selama ini dia dan wanita itu sudah sering makan bersama namun saat ini ia seperti menemukan hal baru mengenai si gadis Gremory.

Bagaikan tak mau kehabisan dengan lahap Rias terus menikmati makanannya, bahkan dia sudah mengambil sisa yang masih di dalam panci dan menikmati mienya lagi menghiraukan televisi dan Naruto seolah pria pirang itu tak ada.

.

Dengan seruputan terakhir kini mangkuk wanita itu sudah kosong melompong serta tak ada lagi sisa di panci, "sudah kenyang ?" sebuah pertanyaan sukses membawanya kembali dari nikmatnya dunia mie. Wanita itu mengangguk lalu menerima sodoran air minum dari Naruto yang dia terima dan segera meminumnya hingga tandas.

"Apa seenak itu sampai kau tak bersuara dan terus makan ?" Naruto mengambil mangkuk Rias dan ia simpan ke dalam panci bersama dengan mangkuk yang ia gunakan.

"Yup, kalau kau menjual ini pasti akan laku keras. Bagaimana kalau sudah pensiun nanti kau aku buatkan kedai mau dan dengan begitu aku bisa merasakan ini setiap hari".

Mendengar penuturan Rias cukup membuat Naruto tersanjung, apalagi dengan pujian dari wanita itu membuatnya senang. "Maaf aku tak tertarik, aku sudah punya rencana lain" si pria pirang menatap wajah Rias.

"Apa keputusanmu sudah bulat untuk keluar dari perusahaan ?" sejumput kesedihan terdengar dari pertanyaan Rias barusan, Naruto tersenyum tipis dan secara tak sadar tangannya bergerak menyentuh kepala wanita di hadapannya serta mengelus lembut surai indah dari si Gremory.

"Waktu pengabdianku pada perusahaan sudah cukup, dan kurasa sudah saatnya aku mencari hal baru dan melakukan hal-hal yang selama ini ingin kulakukan" telapak tangan Naruto masih terus mengelus surai merah itu dan membuat Rias nyaman dengan perlakuan tersebut hingga beberapa saat kemudian Naruto menghentikan kegiatannya. Pria itu berdiri dan membawa panci serta mangkuk yang tadi digunakan ke dapur untuk di cuci.

Melihat punggung Naruto yang bergerak menjauh membuat sebuah getaran di dalam hati wanita merah tersebut, dia merasa punggung pria itu serasa jauh namun juga terasa dekat. Beberapa minggu dia dan Naruto bertemu namun sampai saat ini ia merasa masih belum membuat kemajuan dengan si pria pirang dan seakan jalan di tempat, dirinya belum bisa membuat pria itu mengingatnya. Ditambah sebentar lagi Naruto akan meninggalkan perusahaan membuat waktu yang dipunyai Rias untuk bisa membawa pria itu ke dalam pelukannya juga semakin menipis serta ia tak punya gambaran atau pengetahuan kemanakah nanti Naruto jika semisal Rias belum bisa mendapatkan pria itu kala sudah berhenti bekerja.

.

Sekembalinya dari dapur Naruto menghampiri Rias yang sedang menonton acara televisi sambil menikmati camilan yang dirinya bawakan tadi, sepertinya wanita itu masih memiliki banyak ruang di perutnya untuk bisa menikmati makanan lain. Si pirang duduk di samping Rias dan ikut menikmati tontonan, mereka berdua tertawa bersama kala melihat adegan yang menurut mereka lucu.

Waktu berlalu dan seiring dengan hal tersebut kini posisi duduk Rias bukan lagi bersebelahan dengan si pirang namun dia sedang bergelayut santai di tubuh pria itu, kepalanya dia rebahkan di dada Naruto serta tangan kedua tangannya melingkari pinggang seperti sedang memeluk. Sementara Naruto yang di peluk hanya diam saja sambil terus melihat ke arah televisi namun jujut saja saat ini fokusnya terbelah antara menonton dan Rias. Aroma tubuh serta harum yang menguar dari rambut merah wanita itu membuatnya kurang fokus, hal tersebut makin diperparah dengan Rias yang bergelayut manja padanya menjadikan tubuhnya seakan guling yang empuk untuk dipeluk.

Ditengah-tengah film tiba-tiba menampilkan sebuah adegan yang sukses membuat wajah Naruto memerah serta degup jantungnya menjadi lebih cepat, Rias yang dari beberapa saat lalu lebih menikmati sensasi rebahan di dada si pirang sedikit penasaran karena dia merasakan degup jantung pria itu menjadi lebih cepat. Dengan rasa ingin tahu yang besar kini Rias menoleh ke layar televisi dan sama halnya dengan Naruto ia juga bereaksi sama dengan wajah memerah malu serta mungkin cukup menyesal telah penasaran.

Naruto dan Rias tak bisa menghindar untuk bisa melihat dimana saat ini tokoh utama film sedang tak mengenakan busana sama sekali dan keduanya melakukan persetubuhan cukup intim, dengan sumpah serapan Naruto mengutuk kenapa adegan tersebut tidak di cut saja supaya dia tidak bisa melihatnya apalagi saat ini dia sedang menonton bersama dengan seorang wanita yaitu Rias, bisa-bisa dirinya di cap cabul karena menonton adegan yang sedang berlangsung.

Tapi untungnya adegan menegangkan tersebut tak berlangsung lama, tapi walaupun begitu Naruto dan Rias masih sama-sama malu karena melihat adegan barusan. Secara tak sengaja kini pandangan Rias dan Naruto bertemu, entah kesambet setan apa secara tak terduga dan berani wanita Gremory itu mendekati wajah si pirang dengan perlahan. Walaupun adegan tadi hanya sebentar namun rupanya cukup berdampak membuat Rias terpancing apalagi Naruto sudah berada di bawahnya dan tak akan bisa kabur.

Merasa tak bisa menghindar dan sudah dalam himpitan Rias membuat Naruto pasrah saja dan siap menyambut apa yang akan dilakukan oleh wanita tersebut, arah pandangan mata Rias sudah tertuju pada suatu target yaitu bibir dari si pria Uzumaki. Jarak makin menipis diantara keduanya namun sebuah suara getaran dan deringan ponsel sedikit menghambat adegan selanjutnya yang sudah terbayang.

Karena suara ponsel tak kunjung berhenti akhirnya Rias mau tak mau harus menunda terlebih dahulu kegiatan yang ingin dia lakukan bersama Naruto, dan setelah dilihat siapa yang menghubunginya sukses membuat Rias menggeram kesal. Dengan masih menindih tubuh Naruto wanita cantik tersebut mengangkat telfon dari sang kakak yakni Sirzechs Gremory.

Belum sempat Rias memarahi Sirzechs kakaknya dia terlebih dahulu dikejutkan dengan apa yang dikatakan pria yang memiliki surai sama sepertinya itu, melihat ekspresi Rias yang berubah drastis dari kesal menjadi terkejut membuat Naruto bertanya-tanya.

"Ada apa ?" pria pirang itu tampak penasaran dengan perubahan ekspresi Rias yang tiba-tiba setelah mendengar telfon masuk.

"Ini gawat !" Rias menatap Naruto dengan sedikit melotot.

"Kenapa ?, apa terjadi sesuatu ?" Naruto malah bingung tentang apa yang dibilang gawat

"Ibu dan kakakku sudah dekat, mereka sedang dalam perjalanan kemari" Rias yang tadi berada di atas Naruto kini segera bangkit dan tampak kebingungan mencari ide bagaimana cara menyembunyikan Naruto atau mencari jalan supaya itu bisa kabur dari rumahnya.

"Hah !?" Naruto sama paniknya seperti Rias, dia segera berlari menuju pintu depan untuk mengambil sepatunya dan segera keluar dari kediaman Rias namun dia dihentikan oleh wanita itu tepat ketika akan membuka pintu.

"Bagaimana kalau mereka melihatmu ?, Kakakku pasti akan mengenalimu walaupun kalian hanya berpapasan di jalan" sebuah kalimat yang dikeluarkan Rias sukses membuat Naruto terdiam, wanita itu benar saat ini dia hanya akan bunuh diri jika tetap nekat keluar dari pintu depan namun dia tak punya jalan keluar lain kecuali..., bagaikan mendapat ide Naruto segera berlari menuju pintu belakang.

"Mau kemana ?, tidak ada jalan keluar selain pintu depan ?" si gadis Gremory mengikuti Naruto keluar dari pintu belakang dan saat ini keduanya berada di pekarangan rumah.

"Di balik dinding tembok itu ada sebuah jalan kecil yang mengarah ke jalan raya bukan ?".

"Entahlah aku tidak tahu".

.

Teng...

.

Sebuah bunyi bel berhasil mengalihkan perhatian Naruto dan Rias, "sial mereka sudah sampai, lebih baik kau segera lakukan apa yang berada di kepalamu. Aku akan mencoba membuat mereka supaya tidak melihat ke arah sini" dengan cepat Rias menutup pintu kaca itu dan beranjak pergi untuk membukakan pintu depan bagi kakak serta ibunya.

Kepergian Rias membuat Naruto harus segera kabur dari kediaman wanita cantik itu, dia tidak mau tertangkap basah sedang berada di rumah seorang wanita di malam yang sudah cukup larut itu plus jika sampai dia tertangkap terlebih oleh Sirzechs yang mengidap siscon akut membuat Naruto tak bisa membayangkan apa hal apa saja yang mungkin dilakukan oleh Sirzechs padanya.

Saat sampai di depan dinding, Naruto cukup kebingungan untuk mencari cara bagaimana dia bisa menaiki dan melewati dinding yang cukup tinggi tersebut, dia tidak mungkin meloncatinya bergitu saja. Sayup-sayup dia mendengar suara seseorang selain Rias berada di dalam rumah, Naruto yang makin panik melihat ke sudut sebelah kiri dinding dan dia memiliki ide. Si pirang berlari menuju sudut dan sedikit meloncat ke dinding bagian kiri dan setelah itu sebelah kakinya yang lain menyentuh tembok bagian kanan sehingga terlihat ia bergerak kayak atlit parkour.

Tapi sialnya karena masih amatir Naruto membuat kesalahan saat akan mendarat setelah berhasil melewati dinding tinggi, kaki kanannya salah tumpuan sehingga membuat pria itu terjerembab dan berguling di atas aspal gang kecil tersebut.

Ketiga orang di dalam rumah dapat mendengar suara jatuh dari Naruto, Sirzechs yang curiga takut ada pencuri segera keluar dari rumah tanpa bisa di hadang oleh Rias.

"Apa kalian mendengarnya ?" pria jangkung tersebut melirik ke kiri dan kanan mencoba mencari penyebab suara barusan.

"Ah ayolah nii-sama, mungkin saja itu suara kucing atau buah dari pohon tetangga jatuh" dengan sambil berharap Naruto sudah menjauh Rias mencoba untuk membuat Sirzechs tak curiga.

Untung saja alasan yang diberikan Rias cukup masuk akal sehingga membuat Sirzechs tak melanjutkan penyelidikannya tentang bunyi tadi dan balik masuk ke dalam rumah, "kalau ada pencuri atau pria yang mencoba masuk kemari akan kupatahkan lehernya".

"Sudahlah tak ada pencuri ataupun penyusup, keamanan wilayah sekitar sini sangat terjamin, dan ngomong-ngomong ada apa kalian berkunjung malam-malam begini ?" mata Rias menatap Sirzechs sambil mendelik karena masih kesal kakaknya menghubungi di waktu yang tidak tepat.

"Kaa-sama merindukanmu, dia juga khawatir kau belum makan malam jarinya aku mengantar kaa-sama kemari".

Seorang wanita berambut cokelat panjang memeluk Rias dari arah belakang dan menempelkan pipinya pada Rias, "kaa-sama merindukanmu gadis kecil, setelah pindah dan tinggal sendiri kau tidak pernah berkunjung untuk pulang".

"Hehe aku cukup sibuk belakangan ini, dan itu semua gara-gara pria di sana" tuduh Rias pada Sirzechs, namun menerima tuduhan dari sang adik tak serta merta membuat pria itu terganggu dia malah berjalan-jalan di dalam rumah sembari melihat-lihat interior dan beberapa furniture namun ada beberapa lemari yang berisi banyak action figure milik adiknya itu membuatnya harus mengelus jidat tak habis pikir.

"Kaa-sama... Rias sepertinya menambah lagi koleksi mainan tidak jelasnya" tak mau kalah dengan sang adik yang tadi mengadu kini Sirzechs juga melaporkan hobi Rias dalam mengoleksi action figure apalagi menurut Sirzechs koleksi dari adiknya itu sudah terlalu banyak hingga saat di rumah utama pun lemari di kamar Rias sudah tak mampu lagi menampung mainan-mainan itu hingga sebagian harus di simpan dalam box.

"Itu bohong kaa-sama, aku tidak membeli action figure baru untuk menambah koleksi. Semua terlihat banyak karena lemarinya lebih kecil dari yang ada di rumah" elakan dan bantahan dari Rias untuk aduan Sirzechs, dia cukup jengkel apalagi sang kakak menyebut koleksinya sebagai mainan tidak jelas.

"Sudahlah tak apa, lagipula nanti jika Rias bosan dia bisa menjualnya kembali" Venelana wanita yang memiliki wajah cukup mirip dengan Rias itu dapat memaklumi hobi dari sang putri dan jika bertanya dari mana Rias bisa memiliki hobi mengoleksi action figure maka jawaban pastinya adalah hal tersebut menurun dari Venelana yang dulunya juga duka mengoleksi action figure juga.

"Tuh dengarkan dasar orang yang tidak punya hobi" cibiran pedas dari Rias tak membuat Sirzechs sakit hati karena dia sudah sering menerima berbagai ujaran dan hujatan pedas dari adiknya itu sejak dulu.

"Anak dan ibu sama saja" Sirzechs berjalan menjauhi lemari kaca itu menghampiri Venelana serta Rias.

"Lebih baik kau pulang saja sana !, kaa-sama akan menginap di sini" Rias tampaknya memang punya dendam tersendiri pada sang kakak.

"Aku memang berniat pulang, kaa-sama aku pulang dulu" pria berambut merah panjang itu berpamitan pada Venelana karena memang tujuan awalnya hanya ingin mengantar ibunya tersebut.

"Hati-hati di jalan sayang".

Sirzechs segera meninggalkan kediaman adiknya itu untuk segera pulang ke rumah.

.

Sementara itu Naruto saat ini sedang berjalan terpincang-pincang menuju tempat tinggalnya, kaki kanannya terasa cukup sakit setelah tadi salah tumpuan ketika mendarat. Begitu sampai di rumah dia segera mengambil es dan memasukannya ke dalam kantong plastik untuk digunakan sebagai kompres bagi kakinya supaya tidak makin parah.

"Pasti ini akan bengkak besok, Sirzechs sialan kenapa dia datang di waktu yang tidak tepat. Padahal tadi tinggal sedikit lagi hah..." helaan nafas dikeluarkan Naruto seperti mencoba menghilangkan beban yang ada di kepalanya, matanya tertuju pada kaki yang saat sedang berada di atas meja dan sedang menerima kompres. Namun yang menjadi fokusnya adalah bukan rasa sakit yang ia alami saat ini namun justru pada bekas luka yang melingkari pergelangan kakinya.

Tampak bekas luka itu sepertinya sudah cukup lama dan sudah agak pudar tapi tetap saja tak bisa menghilangkan bukti bahwa ada luka di sana, "apa aku harus segera mengaku padanya atau nanti saja ?" Naruto cukup bingung kali ini, dia merubah posisi tubuhnya menjadi merebah dengan kaki yang saat ini lurus di sofa sambil kantong es tetap berada di pergelangan kakinya.

Pandangan Naruto lurus menatap langit-langit rumah, pikirannya terlempar jauh ke masa dimana ia bisa mendapatkan luka tersebut. Beberapa saat mengingat-ingat apa yang terjadi dengan perlahan rasa kantuk mulai menyerah si pria pirang, matanya mulai terasa berat hingga dengan perlahan ia pun terlelap.

.

Seorang gadis kecil berambut merah dan anak lelaki berambut pirang cerah sedang terkunci di dalam ruangan yang cukup berantakan, keduanya duduk bersebelahan dengan kaki mereka terikat tali cukup kuat bahkan sudah ada luka lecet yang keduanya derita.

"Sudah berapa lama kita di sini ?" si gadis kecil tampak sudah lesu dan lelah dengan suasana sumpek serta tak nyaman yang ia rasakan.

"Entahlah tapi sepertinya saat ini hari sudah kembali siang" menimpali si gadis merah kini bocah lelaki itu melihat ke arah lubang ventilasi udara yang berada di bagian atas ruangan tersebut dan jika dia lihat dari sinar yang masuk dapat diasumsikan saat sudah siang hari.

"Kemana perginya bibi yang kemarin ?, dia katanya akan membawa makanan tapi sampai sekarang tidak kunjung datang. Perutku lapar dan kakiku juga perih" gadis merah kecil itu merengek karena perutnya sudah terasa keroncongan sejak kemarin.

"Kalau begitu ayo kita kabur saja dari sini" pria pirang kecil mencoba berdiri dan membantu gadis itu sembari menahan rasa oerih di pergelangan kakinya yang memang sudah terluka akibat terlalu banyak bergesekan dengan tali yang cukup kencang terikat.

"Tapi bagaimana jika dimarahi seperti kemarin ?" raut wajah takut tergambar di si gadis cilik.

"Tenang saja, kita akan bisa kabur sebelum wanita itu kembali" dengan penuh keyakinan bocah itu memberikan harapan dan keberanian supaya mereka bisa kabur, dengan saling berpegangan satu sama lain dan berjalan dengan kompak karena kaki mereka saling terlilit akhirnya keduanya sampai di depan pintu yang rupanya terkunci.

Setelah coba di dorong dan tak membuahkan hasil si bocah pirang memutar otaknya untuk menemukan sebuah ide, dirinya mengintip ke lubang kunci dan rupanya dia tidak bisa melihat apapun ke arah luar itu berarti kunci pintunya menggantung di sana.

Iris mata biru cerah layaknya samudera itu menelusuri ruangan tempat dirinya berada, ia hanya perlu mencari sebuah benda untuk bisa dimasukkan ke dalam lubang kunci, ditengah pencariannya ia melihat sebuah oaku yang tertancap pada debuah papan kayu tak tergeletak di atas tumpukan barang bekas di sana.

Walaupun dengan banyaknya gerakan seperti berjalan akan otomatis membuat luka dua bocah itu semakin besar dan dalam namun demi bisa lolos keduanya harus menahan hal tersebut, bahkan si gadis kecil sudah mulai meringis dan menahan tangisnya karena rasa perih yang menyerang pergelangan kakinya. Dengan sedikit perjuangan bocah lelaki itu bisa mencabut paku dari papan kayu dan membawanya menuju pintu bersama dengan si gadis merah tentunya.

Sebelum dia akan memasukkan paku ke dalam lubang kunci terlebih dahulu dia memasukkan kertas koran yang digunakan dua anak itu sebagai alas duduk melewati celah bawah pintu supaya nanti ketika kunci terjatuh di atas koran mereka hanya perlu menariknya.

Merasa sudah cukup dengan kertas koran kini barulah si bocah pria memasukkan paku ke dalam lubang kunci, jari-jemari kecilnya berusaha untuk bisa mendorong kunci supaya bisa terlepas dari lubang namun hal tersebut nyatanya tidak mudah. Beberapa saat terus berusaha dan dengan diiringi doa oleh si gadis kecil karena takut jika tiba-tiba wanita itu datang lagi dan menghukum mereka seperti sebelumnya karena ketahuan mau melarikan diri akhirnya terdengar suara denting kunci yang membentuk lantai.

Wajah sumringah tercetak dari keduanya, dengan hati-hati kertas koran di tarik dan jika dirasakan dengan seksama kini kertas tersebut terasa lebih berat jika dibandingkan dengan sebelumnya. Sedikit demi sedikit koran mulai di tarik karena takut kuncinya akan tertinggal jika ditarik dengan cepat hingga ketika mata keduanya melihat sebagian dari kunci mulai melewati celah pintu si bocah pirang segera mengambilnya dan melakukan tos dengan si gadis kecil.

Seolah tak sabar dia segera memasukkan kuncinya ke dalam lubang serta memutarnya hingga terdengar bunyi kunci terbuka menandakan pintu sudah tak terkunci, dengan perlahan si bocah pirang membuka pintu dan alangkah terkejutnya dia begitu melihat pemandangan di hadapannya kini. Dengan gerakan yang sangat cepat ia segera menutupi kedua mata si gadis merah supaya ia tak bisa melihat apa yang ada di hadapan mereka.

"Eh ?, kenapa ini ?", gadis itu sedikit memberontak dan melontarkan pertanyaan kenapa matanya ditutup.

"Dengarkan aku sebentar !", tangan yang gemetaran dan pacuan detak jantung yang tak beraturan saat ini tak membuat bocah itu melepaskan tangannya dari wajah si gadis kecil. Walaupun pemandangan di depannya saat ini mungkin akan menjadi trauma berkepanjangan dan menghantuinya terus menerus namun dia tidak akan membiarkan si gadis merah melihat apapun sampai bisa keluar dari sana.

"Pejamkan matamu dan jangan di buka sampai aku memerintahkannya ok ?, apa kau tahu, di Afrika ada seekor laba-laba seukuran manusia yang bisa memakan orang dewasa. Di depan kita ada laba-laba tersebut jadi kuharap kau tak membuka matamu dan kita akan berjalan mengendap-endap menuju pintu keluar supaya tidak ketahuan kau mengerti ?" dengan mata yang mulai berair kini si pirang kecil menuntun gadis itu dengan perlahan meninggalkan tempat tersebut dan karena jalan yang cukup sempit membuatnya secara tak sengaja menyenggol hal yang dia tak ingin di gadis kecil lihat.

Langkah kakinya terhenti dan melirik ke arah hal tersebut dan sukses membuatnya makin deras meneteskan air mata dengan tubuh bergetar ketakutan. Dengan penuh keraguan tangan kecilnya menggapai dan mencoba menyentuh sosok tersebut namun begitu hampir dapat bersentuhan tiba-tiba terdengar bunyi pintu terbuka membuat dirinya menoleh.

.

Sebuah bunyi getaran ponsel menyadarkan Naruto dari tidurnya, dengan mata yang sedikit memerah dan wajah bercucuran keringat dia bangkit dari posisi tidurannya di sofa. Es yang digunakan untuk mengompres kalinya juga sudah berubah menjadi cair dan tak terasa dingin lagi menandakan dia tertidur cukup lama.

Pria itu bangkit dan segera berjalan ke arah dapur untuk mengambil sebotol air karena tenggorokannya cukup kering, "kenapa akhir-akhir ini ingatan itu terus berputar dan bermunculan di kepalaku ?" Naruto meminum airnya dan setelah habis segera pergi ke kamar untuk mengganti baju dan melanjutkan tidur karena saat ini masih jam tiga dini hari.

.

.

Di tempat kerja Naruto berjalan dengan sedikit terpincang, kakinya masih merasakan sakit walaupun semalam sudah dikompres dengan es. Lelaki pirang itu menjalankan kegiatannya sehari-hari dengan mengerjakan tugas pokok miliknya serta membimbing dan mempersiapkan Asia ketika dia berhenti nanti.

Tanpa pria pirang itu sadari dia sedari tadi tengah diperhatikan oleh seorang wanita berparas cantik, iris blue-green miliknya terpaku pada sosok si pria Uzumaki.

"Pasti suara semalam itu berasal darinya, apakah kondisinya parah sampai berjalan terpincang-pincang ?" Rias cukup khawatir dengan kondisi Naruto yang tak bisa berjalan normal saat ini.

Dia ingin menanyakan kondisi pria itu secara langsung saat ini namun dengan kejadian di ruang ganti kemarin justru Rias jadi malu sendiri kala melihat bagaimana tatapan dari para karyawannya ketika dia dan Naruto berdekatan. Rupanya kejadian kemarin memiliki efek yang tak terbayangkan dan gosip antara hubungan seorang atasan dan bawahan mulai sayup-sayup beredar di lingkungan kantor.

Jika diingat-ingat apa yang diperbuatnya kemarin jelas saja pasti akan ada gosip dengan Naruto yang bertelanjang dada serta baju Rias yang beberapa kancingnya terbuka sudah pasti akan menimbulkan imajinasi liar bagi yang melihat mereka saat itu. Namun hal tersebut tak akan disesali oleh Rias sebab dia bisa memperhatikan beberapa orang wanita yang dulunya mengincar si pirang mulai berjalan mundur dengan teratur.

Dia tak akan membiarkan orang lain mengambil prianya, sejak kedatangannya ke perusahaan dia sudah memiliki tekad bulat untuk mengambil apa yang dia anggap diciptakan khusus baginya apalagi semalam dia sudah mendapat wejangan dari sang ibu.

.

Flashback.

.

Setelah Sirzechs pulang kini Rias bersama sang ibu yakni Venelana sudah berada di kamar dan bergelung selimut, gadis Gremory itu memeluk sang ibu dan merasakan rasa nyaman yang selama beberapa tahun belakangan jarang ia rasakan karena tempat tinggal yang terpaut jauh.

Namun tetap saja walaupun dirinya tengah menikmati rasa nyaman otaknya tetap memikirkan sesuatu yang membuat sang ibu menyadarinya, "apa ada yang mengganggu pikiranmu ?".

Tahu tak bisa mengelabui Venelana, Rias hanya mengangguk pelan dan menenggelamkan kepala merahnya pada dada sang ibu. "Aku sedang bingung dan bimbang akhir-akhir ini kaa-sama", suara Rias terdengar pelan karena dia masih menempel pada Venelana.

"Apa yang membuatmu bimbang ?" Venelana dengan penuh kasih mengelus surai putrinya itu yang sudah lama tak bermanja-manja padanya.

"Menurut kaa-sama bagaimana jika seorang wanita menyatakan perasaan lebih dulu pada seorang pria ?" Rias mendongakkan kepala supaya bisa melihat wajah sang ibu.

"Hmmm... menurut kaa-sama itu bukan masalah jika wanita menyatakan perasaan lebih dulu. Hanya saja ketika kau menyatakan perasaan lebih dulu maka kau harus bersiap jika seandainya tak berjalan seperti apa yang dirimu inginkan" Venalana balik menatap wajah yang cukup mirip dengannya itu hanya saja berbeda di warna rambut.

"Memangnya siapa pria beruntung yang bisa membuat putri kaa-sama ini ingin menyatakan perasaan lebih dulu ?" Venelana mencubit sebelah pipi Rias karena cukup gemas dengan putrinya itu.

Mendapatkan cubitan dari ibunya membuat Rias menggembungkan pipi dan cemberut karena merasa diperlakukan seperti anak kecil, "apa kaa-sama ingat dengan anak kecil yang diculik bersamaku saat kita liburan musim panas?".

Venelana mencoba mengingat kembali sosok yang dimaksud oleh Rias, jujur saja dia tak terlalu ingat dengan sosok tersebut karena dia waktu itu adalah dimana dirinya hampir kehilangan sang putri karena di culik oleh seseorang yang Venelana sendiri tidak sempat melihat wajah sang pelaku. Namun jika dipaksakan untuk mengingat dirinya hanya terbayang sosok bocah laki-laki berambut pirang, "apa yang kau maksud adalah anak laki-laki yang bersama denganmu saat itu ?".

"Dia adalah pria itu kaa-sama, apa kaa-sama setuju jika dengannya ?" wajah penuh harap terpampang pada si Gremory muda.

Melihat Rias yang memelas seperti anak kucing membuat Venelana kembali mencubit pipi anak perempuannya, "selama kau senang maka lakukanlah".

"Terima kasih kaa-sama" Rias sangat senang mendengar pendapat sang ibu, ia memeluk wanita yang masih terlihat muda itu walaupun umurnya sudah berada di ujung kepala empat.

"Sudah, sudah... sekarang ayo kita tidur sudah malam" Venelana balik memeluk Rias dan merasakan pelukan sang putri juga lebih erat namun tak membuatnya sesak dan lebih ke perasaan nyaman.

.

Flashback end.

.

.

.

TBC