Chapter 2 - First feeling

-= Lapangan basket indoor SMP Teikou 17:11 =-

Kuroko memang sudah terbiasa dengan suasana string 1 saat latihan basket. Kapten penganut aliran yandere yang senang berteriak ini itu saat latihan, juga Murasakibara yang hobi memakan snacknya sebelum, saat, maupun sesudah latihan. Lalu debat tidak penting si point guard dim versus small forward bling-bling dan si kacamata yang menganut ramalan Oha Asa dari televisi atau radio yang juga hobi mengotak-atik kuku tangan kirinya kemudian men-taping dengan sepenuh perasaan seperti yang tengah dilakukannya sekarang di salah satu bench.

Kuroko menghampiri pemuda berambut forest green itu karena bisa dibilang ia sedang menganggur. "Midorima-kun apa yang sedang kau lakukan?" Tanya pemuda mungil itu polos— atau bodoh?

Lawan bicaranya hampir saja melempar kikir kuku ditangannya karena —sedikit— terkejut. Tetapi ia malah membenarkan kacamata yang sebenarnya tidak merosot dengan jari telunjuk. Stay cool.

"Kau sudah mengerti sendiri nanodayo."

"Seperti perempuan ya, rajin merapikan kuku," celetuk Kuroko dengan kepolosannya (lagi).

"Aku bukan perempuan nodayo! Kerapihan kuku mempengaruhi keakuratan tembakanku." —membenarkan posisi kacamata (lagi).

"Lalu kenapa harus di taping?"

"Itu karena— geez bukan urusanmu! Percuma saja, golongan darah A dan golongan darah B tidak akan pernah akur," si shooter beranjak, meninggalkan Kuroko yang tengah memiringkan kepala karena tidak mengerti maksud pemuda berkacamata itu. "Mungkin suatu saat nanti akan ada yang menjelaskan," gumam Kuroko dan kembali ke tengah lapangan.

*skip time*

Latihan hari ini adalah yang 'terhebat' dari hari-hari sebelumnya. Mereka tidak hanya bermain three-on-three saja. Lari keliling halaman sekolah yang lebarnya tiga kali lapangan basket itu lima kali, sit up, push up dan back up masing-masing lima puluh kali dan terakhir latihan shooting. Cukup membuat seorang Kuroko Tetsuya, anggota yang paling 'rawan' itu muntah hebat karena terlalu kelelahan, untung saja dia masih sempat berlari ke toilet di ruang ganti.

-= Ruang ganti 18:40 =-

Kuroko mengusap wajah dengan handuk kecil yang sedari tadi bertengger di lehernya. Entah kenapa kini badannya gemetaran, ia jadi merasa kedinginan dan lemas, membuat tubuh mungil itu terhuyung ke belakang.

Untung saja ada seseorang yang dengan sigap menangkap pemuda berambut ocean blue itu sebelum terjatuh. Lalu membaringkannya di bangku panjang. "Tetsu, kau baik-baik saja?"

"Aomine.. kun.."

Aomine menempelkan punggung tangannya di kening Kuroko. Peluh bercampur panas menghampiri permukaan kulitnya. "Tetsu kenapa badanmu panas sekali?!"

"Tidak apa Aomine-kun.. Aku hanya.." dan pemuda mungil itu pun terpejam, membuat rekan gelapnya kaget sekaligus kebingungan. Tidak menemukan benda yang dapat mengembalikan suhu tubuh Kuroko, ia pun membuka tas dan menutupi tubuh itu dengan sweater putih miliknya. Aomine terduduk di lantai.

"Apa aku harus mengantarnya pulang? Tapi.. aku akan ketinggalan kereta terakhir."

*skip time*

Di tengah gemerlap cahaya lampu jalan kota Tokyo, seorang pemuda dengan kamuflasenya di kegelapan tengah berlari menembus kerumunan para pejalan kaki yang sebagian besar adalah pegawai kantoran. Tak menghiraukan protes atau cercaan yang datang kepadanya, pemuda itu terus saja berlari dengan membawa beban di punggung dan juga bahunya.

Tok tok tok

Sahutan "sebentar" terdengar dari dalam. Tak lama, pintu tersebut terbuka. Menampakkan seorang ibu paruh baya dengan apron bunga-bunga menutup bagian depan bajunya.

"Bibi— hah— Tetsu pingsan!" Dengan nafas tersengal, Aomine berusaha menjelaskan maksud kedatangannya kepada orang yang diketahui sebagai ibu Kuroko.

"... Tetsuya?!" Orang itu tampak terkejut saat melihat siapa pemuda yang ada di balik punggung pemuda tadi. Segera beliau mempersilakan masuk, lebih tepatnya mengarahkan ke kamar Kuroko.

"Tolong baringkan saja disini, eto.."

"Aomine Daiki."

"Ah, iya Aomine-kun." —membuka lemari dan mengambil satu setel baju untuk Kuroko, membawanya pada Aomine. "Maaf, bisa tolong gantikan ini pada Tetsuya?"

"Eh?" Jelas saja pemuda berambut indigo itu mengerjapkan mata bingung. Dia belum pernah menggantikan baju pada anak kecil— terlebih lagi pada Kuroko. Pemuda yang seumuran dengannya. Dengan sebutir keringat menetes dari pelipisnya, Aomine meng-iya-kan.

"Baiklah, bibi ambilkan air dingin, tolong gantikan ya."

-= Kamar Kuroko 19.57 =-

"Nah.. sudah selesai~" Ibu Kuroko memeras handuk kecil yang tadi di tempel pada dahi Kuroko. Setelah diukur dengan termometer, suhu badannya sudah berangsur normal. Aomine menghela nafas pelan, entah karena lega atau karena kereta untuk pulang sudah lewat dua puluh menit lalu.

"Aomine-kun?" Kuroko-san tampak khawatir dengan ekspresi lesu pemuda gelap di sebelahnya.

"Ah iya bibi, ada apa?"

"Terima kasih ya sudah mengantar Tetsuya pulang, sampai kamu ketinggalan kereta."

"Tidak masalah bi. Aku sudah biasa ketinggalan kereta kok," Aomine nyengir meyakinkan, terlebih meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia akan dapat tumpangan untuk tidur karena perjalanan dari sekolah ke rumahnya tidaklah dekat.

"Kalau begitu tidur saja di kamar sebelah. Kebetulan paman sedang ke luar kota,"

"T-tidak usah bi— em, aku menemani Tetsu saja disini," pemuda itu memapar cengiran andalannya. Lawan bicaranya hanya dapat tersenyum atas kepolosan pemilik rambut indigo itu. Beliau menarik kursi belajar Kuroko kemudian mengusap rambut Aomine perlahan dan meninggalkannya.

*skip time*

Aomine Daiki menguap lebar-lebar. Sedari tadi ia tak dapat memejamkan mata, bukan, bukan karena ia mencoba tidur dengan posisi duduk. Tapi seperti ada sesuatu yang tidak beres dengan dirinya. Semakin lama iris indigo-nya menatap wajah tidur Kuroko, semakin keras juga degupan jantungnya. Bahkan saat ia mencoba memejamkan mata pun, alam bawah sadarnya memutar memori tentang ia dan Kuroko. Saat di lapangan, di pertandingan (ketika kepalan tangan mereka saling menyambut), bahkan saat di atap. Saat pertama kalinya mereka makan berdua dan dengan polos pemuda mungil itu menjilat sisa makanan—

"Argh!" Aomine mengacak rambut frustasi. Pipinya terasa panas. Dengan kepala tertunduk, ia mencuri pandang pada Kuroko. Dan entah kenapa tangannya menyisir helaian ocean blue itu— perlahan ia mendaratkan sebuah kecupan kecil di dahi pemuda mungil itu.

'Entah ada apa denganku. Tapi sepertinya.. aku menyukaimu Tetsu.'