Summary: [Chapter 1 UP!] Kyungsoo dan Baekhyun terbangun di tempat asing. Bertemu sosok-sosok yang mengaku sebagai malaikat. /"Baekhyun-ssi. Ada yang harus aku jelaskan padamu. Kelihatannya kau masih tidak mengerti dengan ini semua." Terang Dio halus. "Yang berdiri di sana itu; Kekasihku, sementara sosok ini adalah kekasihmu." /Dan, Tuhan memulai lelucon-NYA pada mereka. /ChanBaek /KaiSoo /DLDR!
.
.
.
Disclaimer: Cast own themselves. I'm own this fiction.
Pair: ChanBaek& KaiSoo
Co-cast: Suho & Lay
Genre: Drama, Supernatural, Romance, Humor, lil Hurt/Comfort (maybe?).
Warning: Shonen-ai. Alternate Universe. Complicated-plot. OOC. Miss-Typo. Weirdo.
Length: Multi-Chapter
.
.
.
God Must Be Kidding Us!
[Chapter 1: God's Starting Kidding Them]
.
.
.
—.—
.
.
.
Baekhyun membuka matanya ketika merasakan angin semilir menerpa wajahnya. Menemukan dirinya tertidur di sebuah awan. Tunggu, ini benar-benar awan! Baekhyun segera berdiri menegakkan tubuhnya dan benar dirinya berada di atas awan. Berpijak di atas awan. Bukankah itu berarti—
"Aku sudah mati?" gumam Baekhyun dengan pupil mata yang tidak mau mengecil. Tunggu, tapi Baekhyun masih bisa merasakan ada denyut jantung di dadanya. Untuk semakin meyakinkan dirinya. Baekhyun mengarahkan telunjuknya ke hidungnya. Masih ada hembusan nafas di sana. Itu berarti dia masih hidup. Baekhyun melonjak senang. Namun, detik selanjutnya dirinya kembali merasa takut. Kalau dia masih hidup kenapa dia berada di atas awan? Atau, jangan-jangan dia baru saja mengalami kecelakaan dan masih koma di rumah sakit. Tinggal menunggu waktu sampai detak jantung dan hembusan nafasnya lenyap sebentar lagi. Baekhyun merasa takut bukan main. Tidak, dia tidak mau mati sekarang. Kemarin, baru saja dia mendapat kenaikan pangkat di department-nya. Masa' sudah mau mati? Juga, dia belum minta maaf pada Chanyeol karena perkataannya kemarin. Baekhyun menunduk sedih mengingat hal yang terjadi kemarin malam.
"Byun Baekhyun, usia 24 tahun. Lahir di distrik Bucheon, Provinsi Gyeonggi, Korea Selatan pada tanggal 6 Mei 199X. Seorang editor majalah musik di department publishing Hae Wu. Status berpacaran dengan Park Chanyeol seorang gitaris sebuah band jalanan. Datang kemari untuk mengajukan sebuah permintaan yang berkaitan dengan merubah sikap kekasihnya. Benar?"
Baekhyun menelengkan kepalanya tidak mengerti apa yang diucapkan pemuda berkulit putih bernama Suho—Baekhyun mengetahuinya dari tagname kecil berwarna silver di mana terdapat tulisan Suho yang dapat menyala berwarna-warni yang menggantung di dada bagian kanannya—itu. Merasa tidak akan ada reaksi dari Baekhyun. Suho kembali melanjutkan.
"Perkenalkan namaku, Kim Suho!"
"Sudah tahu." Jawab Baekhyun cepat sambil menunjuk dada kanan Suho. "Aku tahu, kalau kau sudah tahu." Balas Suho tak kalah cepat.
"Lantas, kenapa musti memperkenalkan diri lagi?" Dengan acuh tak acuh Baekhyun bertanya tanpa menatap wajah Suho. Suho menghela nafas. Dasar, manusia!
"Hh, apakah begini caramu berbicara dengan setiap orang?" Suho melipat tangannya di depan dada.
"Tidak juga, sih! Hanya pada orang-orang yang terlihat 'sedikit' menyebalkan." Jawab Baekhyun acuh.
"Ok, aku memang menyebalkan namun sayangnya aku bukan 'orang'. Aku malaikat yang datang untuk membawakan kontrak yang kau minta." Jelas Suho sia-sia. Pasalnya bukannya terkejut atau terkesima atau sebagainya. Baekhyun justru malah memandang remeh pada Suho. Melemparkan pandangan yang seolah mengatakan; 'Kau mabuk, ya? Atau kau sedikit gila?' yang membuat Suho gemas ingin menyeret pemuda itu ke dalam jurang abyss dengan rantai neraka.
"Hah? Malaikat? Kau bercanda? Dan aku apa? Meminta kontrak? Kau—" belum sempat Baekhyun menyelesaikan kalimatnya. Perkataannya dipotong oleh Suho. Dan jelas itu membuat seorang Byun Baekhyun sekarang ini menggeram kesal.
"Jangan banyak bicara, pendek! Cepat tanda tangani kontrak yang kau minta! Aku tidak punya waktu, aku sibuk. Tidak seperti dirimu." sergah Suho jengkel.
"Ap— Hei! Lihat dirimu sendiri Tuan 'sok ngaku-ngaku' malaikat. Kau lebih pendek 4 cm dariku." Timpal Baekhyun tak kalah jengkel. Apa-apaan itu. Sudah mengaku-ngaku sebagai seorang malaikat. Cih, memangnya ada malaikat tempramen kaya' dia? Belum-belum bilang dirinya minta kontrak lah. Sekarang, mengatainya pendek pula. Ergh! Baekhyun paling benci disebut pendek oleh orang tak jelas seperti Suho ini—Baekhyun masih tidak mau menerima kenyataan kalo Suho benar-benar malaikat, bodo' amat. Siapa juga yang mau peduli sama dia malaikat atau bukan?
Setelah sebuah pertengkaran kekanakan yang cukup panjang. Akhirnya, Suho mengalah. Membiarkan Baekhyun tersenyum senang di depannya. Dengan kesabaran yang telah ia tata rapi. Suho mengucapkan sebuah kalimat dengan seluruh kekuatannya. Membuat, Beakhyun mengernyit sakit merasakan tekanan roh, Suho.
"Ce-pat. Tan-da ta-nga-ni i-ni."
Baekhyun masih bersikeras menolak. Kehabisan cara lembut. Suho terpaksa menggunakan cara pemaksaan kali ini. Toh, melakukan cara ini sejak awal pun Suho telah diijinkan. Yah, Suho kan baik jadi pake' cara halus dulu, deh! Mencekal pergelangan tangan Baekhyun kemudian menggoreskan sebuah pisau pada pergelangan tangan itu.
"Eh~? Apa yang kau lakukan— ukh!" Baekhyun merintih sakit.
"Aku terpaksa melakukan ini karena kau konsumen yang susah diatur." Suho kemudian seperti membaca sebuah mantra yang membuat tanda tangan Baekhyun menggunakan darah muncul di kertas keemasan yang disebut-sebutnya sebagai 'kontrak'.
"Tunggu, kau bahkan belum menjelaskan apa isi dari kontrak itu! Tunggu!"
"Kalau saja kau menurut sejak tadi, pasti akan aku jelaskan."
"Kalau begitu sekarang saja!"
Kali ini Suho yang menyeringai senang melihat wajah kebingungan Baekhyun.
"Kau akan tahu setelah kau pulang ke rumah."
"Ya, awas kau!"
Dan, bersamaan dengan itu cahaya putih berkumpul membawa Baekhyun menuju pada kegelapan.
"Semoga berhasil, Byun Baekhyun-ssi!" Suho kembali menyeringai sebelum menghilang.
.
.
.
Sementara itu…
.
.
.
Sudah sekitar 30 menit yang lalu Kyungsoo terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya berada di sebuah tempat yang entahlah. Beralaskan kapas putih yang kenyal, empuk, dan lembut. Entah mendapat sinar dari mana juga Kyungsoo tidak tahu, tapi yang jelas tempat ini sangat terang. Juga sangat sejuk dan nyaman. Sangat menentramkan hati. Pertama, Kyungsoo berpikir kalau dirinya tengah bermimpi sekarang. Namun, bagaimana itu semua bisa disebut mimpi ketika kau masih dapat merasakan hembusan nafas dan detak jantungmu sendiri dengan jelas. Juga, tadi Kyungsoo sudah mengecek kalau ini mimpi atau bukan dengan cara norak, yaitu dengan menampar pipi mulusnya sendiri.
Tidak seperti Baekhyun yang histeris ketika mendapati dirinya berada di tempat seperti ini. Kyungsoo justru sangat menikmatinya. Seolah ini adalah healing holiday nya yang sampai sekarang belum diberikan oleh manager nya. Yah, kesibukan sebagai seorang penyanyi opera. Kyungsoo memang tidak seterkenal Jongin yang notabene adalah seorang Idol. Namun, jangan salah! Dibanding penghasilan Jongin tentu penghasilan Kyungsoo lebih tinggi. Hanya dengan menyanyi di sebuah opera show saja Kyungsoo dapat mengantongi uang yang bisa digunakan untuk membeli sebuah mobil baru. Ngomong-ngomong soal Jongin. Kyungsoo merasa sedikit bersalah. Pasalnya dia terlalu keterlaluan kemarin malam. Dia telah mengatakan sebuah kesalahan besar. Dan sampai sekarang dirinya belum meminta maaf. Sepulang dirinya dari sini nanti, Kyungsoo akan segera meminta maaf. Dan, mengenai tempat ini juga. Sebenarnya tempat apa ini?
"Do Kyungsoo? Aku benar?" Dan ketika Kyungsoo masih bertanya-tanya mengenai tempat keberadaannya, sebuah suara lembut hinggap di ruang dengarnya. Kyungsoo menolehkan kepalanya ke belakang tubuhnya yang masih terduduk. Segera berdiri ketika mendapati seorang pemuda bernama Lay—Kyungsoo mengetahuinya dengan cara yang sama dengan Baekhyun, melihat tagname kerlap-kerlip yang menempel di dada kanan pemuda itu—dan membungkukkan tubuhnya cepat-cepat. How a good manner he is.
"Ya, saya Do Kyungsoo."
"Tidak perlu, membungkuk sesopan itu padaku. Lagipula, aku bukan manusia."
"Eh?"
Kali ini seperti Baekhyun—juga. Kyungsoo ikut menelengkan kepalanya tidak mengerti.
"Maaf, kalau kau tidak mengerti. Aku malaikat. Kau tahu malaikat, 'kan?" Lay tersenyum lembut melihat wajah Kyungsoo yang makin tenggelam dalam ketidak mengertiannya. Namun, tidak mau terlihat kurang ajar. Kyungsoo membalas dengan sebuah senyum lembut dan anggukkan.
"Ya, aku tahu."
"Baiklah, kita mulai pada intinya saja."
"Ah, maaf!" Kyungsoo sedikit merasa sungkan ketika menyela ucapan Lay.
"Ya?" namun, dengan sangat sabar Lay menunggu hal yang ingin Kyungsoo katakan.
"Sebelumnya boleh tahu tempat apa ini dan kenapa bisa aku di sini?"
"Kau akan tahu, setelah aku mengatakan tujuanku menemuimu sekarang ini."
"Um, baiklah."
"Kau ada di sini karena tangisan dari mata kirimu kemarin."
"Eh?"
Kyungsoo masih belum menangkap maksud ucapan Lay. Namun, cepat-cepat kembali pada mode mendengarkan.
"Kau tidak hanya sekedar mengucapkan harapanmu, kemarin. Melainkan, harapan itu bersumber dari hatimu. Dan, karena tidak beruntungnya air mata yang kau keluarkan adalah dari mata kirimu. Yang mendengar harapanmu bukanlah Tuhan. Melainkan, kami. Dan juga karena tindakanmu merupakan sebuah kesalahan, maksudku kau tidak mensyukuri apa yang diberikan Tuhan olehmu. Maka, kami tidak bisa mengabulkan harapanmu sepenuhnya. Kami, akan mengabulkannya sebagian. Sementara, sebagian akan kami jadikan sebagai kejutan untukmu setelah kembali dari sini." Jelas Lay panjang lebar dengan pembawaan lembutnya.
Kyungsoo masih di sana. Terduduk nyaman di samping Lay. Mendengarkan dengan baik dan sangat serius. Tapi masih tidak menangkap intinya.
"Maksudmu—"
"Ya, kekasihmu akan berubah sesuai keinginanmu."
"Dia akan berubah menjadi… someone whose isn't sexy, dazzling, awesome and the most important Taemin and etc-that-little-b*tch won't flirting around him again." Gumam Kyungsoo sedikit over-excited tanpa sadar menepuk-nepukkan tangannya semangat dan mengabaikan Lay sejenak.
"Tapi, bukankah kalau begitu akan banyak hal yang akan berubah juga?" pertanyaan yang bagus, Kyungsoo.
"Kau yang membuat semuanya menjadi seperti ini. Dan, mau tidak mau kau harus menyetujui kontrak ini. Karena kau sudah memanggil kontak ini dengan hati dan air matamu."
"Tapi, tunggu. Bisakah kau beritahu aku apa saja kemungkinan yang akan terjadi?"
Lay menggeleng. Sedikit menunjukkan rasa bersalahnya karena dia sungguh-sungguh tidak bisa memberitahukan apapun pada Kyungsoo tentang masa depan. Dia hanya malaikat. Bukan, Tuhan!
"Jadi, Tuan Do Kyungsoo?"
"Kalau aku tidak menyetujuinya."
"Jongin lenyap dari hidupmu."
"Dia mati…?"
"Itu kemungkinan terburuknya. Tapi, mungkin dia hanya tidak akan pernah eksis di kehidupanmu. Dia hanya berubah menjadi orang asing bagimu."
Kyungsoo terdiam cukup lama sampai kemudian mengangguk dengan mantap.
"Ya."
Ketika Kyungsoo mengatakan hal itu dengan mantap. Sebuah tanda tangan yang tak lain dan tak bukan adalah miliknya tercetak di kertas keemasan itu dengan tinta merah. Tunggu! Itu, darahnya. Ah, tangannya terluka… Tapi, bagaimana bisa?
"Kalau begitu, selamat menjalani kehidupan barumu. Apapun yang terjadi tetaplah percaya pada cinta sejatimu." Sekumpulan berkas cahaya putih menghampiri tubuh Kyungsoo. Seolah menghapus eksistensinya seperti menghapus gambar dari kertas putih. Lay tersenyum dari kejauhan. Kyungsoo tidak tahu kenapa. Namun, dirinya merasa takut dengan hal yang akan terjadi selanjutnya. Benarkah Jongin akan berubah? Menjadi sosok yang sederhana seperti keinginannya.
Kepala Kyungsoo tiba-tiba saja berdenyut nyeri. Ketika cahaya-cahaya itu semakin membalutnya intens. Dan perlahan cahaya putih itu digantikan oleh selimut tebal kegelapan.
.
.
.
Suara ketukan pintu membangunkan Baekhyun dari tidur nyenyaknya. Memegangi kepalanya yang terasa pening. Uh, entahlah tapi barusan dia mendapat sebuah mimpi yang cukup aneh. Tunggu, dia tadi mimpi apa? Kenapa dirinya tidak mengingat mimpinya? Aneh sekali. Menyibak pelan selimut yang masih membungkus tubuhnya hangat. Baekhyun bangun dari ranjangnya. Melangkahkan kaki menuju pintu kamar. Ketika hendak membukanya pemuda itu menoleh sejenak pada tubuh yang masih bergelung nyaman di atas tempat tidur di sampingnya tadi. Chanyeol bahkan tidur membelakangi dirinya. Mungkin, dia masih marah padanya. Ucapannya kemarin malam memang kelewatan. Hah, sudah diputuskan setelah sosok itu membuka mata nanti. Baekhyun akan bersujud kalau perlu, meminta maaf.
TOK! TOK! TOK!
Mendengar ketukkan pintu itu semakin keras dan berulang-ulang, menandakan bahwa sosok di balik pintu itu makin tidak sabar. Baekhyun segera keluar dari kamar. Persetan dengan rambutnya yang masih acak-acakkan. Toh, dia bukan gadis perawan yang musti selalu menjaga penampilan.
CKLEK!
Pintu terbuka. Berdiri di sana dua sosok pemuda yang asing di mata Baekhyun. Tidak, salah satunya tidak asing di mata Baekhyun. Itu Dio, 'kan? Sungguh Dio penyanyi opera terkenal itu. Ah, persetan dengan mimpi sialan yang sedang berusaha ia ingat-ingat. Mimpi indah ada di depannya sekarang. Baru saja Baekhyun hendak membuka mulutnya. Memastikan kalau makhluk berbola mata bulat di depannya ini benar-benar sosok idolanya itu. Tiba-tiba saja sosok di samping Dio menghambur dan memeluknya erat. Hampir sama eratnya dengan pelukan Chanyeol. Uh, siapa makhluk hitam ini? Baekhyun bahkan tidak mengenalnya.
"Baekhyun!"
Tunggu sosok ini bahkan mengetahui namanya. Baekhyun sekali lagi hendak membuka matanya ketika suara Chanyeol dari belakang tubuhnya membuatnya hampir mati karena terkejut.
"YA! SIAPA KAU? APA YANG KAU LAKUKAN DENGAN TUBUH DAN WAJAHKU?"
Baekhyun mengernyit keras ketika Chanyeol mengatakan hal tersebut, Dio yang mengurut dahinya lelah, dan sosok yang masih memeluknya ini terus saja mengelukan 'maaf''.
"Baekhyun-ssi. Ada yang harus aku jelaskan padamu. Kelihatannya kau masih tidak mengerti dengan ini semua." Terang Dio halus.
"Yang berdiri di sana itu. Kekasihku, sementara sosok ini adalah kekasihmu."
"Apa—"
Tuhan pasti bercanda padanya.
.
.
.
—.—
.
.
.
[Chapter 1]
—END—
.
.
.
a/n: Prologue-nya kemarin sempet kehapus dan saya re-up. Kalo, ada yang udah review pas sebelum dihapus mohon maaf. Saya belum sempet baca. T.T Juga, maaf… updatenya ngaret. Sekedar info next chap mungkin update ngaret juga... sorry guys~ T.T
Times for review's replies :
Viivii-ken : Yah, bisa dibilang semacam itulah. Bukan, cuman gak peka sih sebenarnya… Argh! Gat tau jelasinnya~ Maaf, Vii! TToTT /dor/ Tunggu next chap2 aja yah? /kedip2/ Okeh, ni dah lanjutttt~~~ ;D
PrincePink : Yang bilang jelek nih Col. /tunjukdirisendiri/ /dor/ Makasih2, argh! Saya cengar-cengir baca Review kamu. Kok kamu sama banget sih ma aku? Bagian 'seme2 tersiksa' dan 'uke2 beringas'. Tos dulu? /ogah/ /maksa/ Sip, I'm gotta keep it~~ ;D
SHY Fukuru : Syukur kamu juga suka ini. T.T /kiss&hug/ /kicked/ Iyah-iyah, ini sudah di keep! #maribanyakinChanBaekbersamahahaha# /jder/ XDDD
BekiYeollo : Saya bukan merendah. Saya kehabisan obat, rabies saya kambuh! /slapped/ Gosh, your… your review… made me… TTTwTTT I lost my word. Saya terharu, sumpah. I LOVE YOU TOO! Ini lanjutannya… Moga, gak mengecewakan. /kumat/ And, paipai Beki! xD /sksd/
kyeoptafadila : Astaga, kenapa pake gantung2 segala atuh? /dor/ Ok2, ini udah dilanjut… :DD
siscaMintalove : Nahloh, mereka dipisah tuh ma SuLay, gimana dong? O.o Btw, cuman tubuhnya kok. XD Sudah dilanjut. ;))
ajib4ff : Udah dilanjut. See ya too. Gomawo yo. Sehat selalu juga. Terus review juga. /jdarjdor/ /becanda/ XDD
fzkhrfa : Suuuudaaaaaaaaaahhhhhhhh…. XDDDD~~ Moga gak kecewa ma ni chap, yah. ;D
Sakyu : /cubitgemes/ Makasih dah bilang ni kaku. Ada yang sependapat juga ma saya. /rabieskambuh/ Nasib mereka gak akan jauh dari kata nista kalo dah di tangan Col. Hahaha~~ XD /killed/ Chap ini kaku gak? Ini dah dilanjut… ;D
baekris : Sepanjang apa, Baekris-ssi? /colek/ XD /becanda/ Ini dah lanjut… Moga udah cukup panjang.
Jaylyn Rui : Hayo, kamu baca pikiran Col, ya? Kok tahu Chanyeol pembantunya Baekhyun. /slapped/ Eh, gak ding. Chanyeol ntuh gitaris band indie yang gak begitu terkenal jadi banyak nganggurnya deh. /jedar/ Ini sudah lanjut. :))
Sihyun Jung : Ih! /gregetan/ Boleh cubit? /maksa/ Bwahaha! /ikutanketawa/ Kay, you lost your control, I lost my word and mind. O.o Ini sudah dilanjut… ;D
justdenis : He'eh makasih banget udah bilang ini kaku tapi nge-feel. Btw, kok gak maksud ke kepala ku sih? ;A; Dan, met bersariawan ria... /dor/ Ok, ini udah keep, yeobo(?). ;D
nasehatlewat : Siapapun kamu... Review kamu bikin saya nangis gelimpungan(?). Saya terharu, pokoknya makasih banyak udah baca semua fic2 abalan saya. Saya gak tau mau ngomong apa lagi. Ini udah di keep...
Ah rin : Done yah! Keep it! Tentu, mereka pasti akan bersama... Tunggu tanggal mainnya aja yah... ;D
.
Thank you very much, guys~ Y'all are very awesome and really 'something' (?).
Without y'all I didn't sure I could continue this fiction~ ;D
I LOVE Y'ALL WITH ALL OF MY HEARTS~~~ /kiss&hug/ /kicked/
.
.
.
So, mind to review for this chap?
