Disclaimer: Cast own themselves. I'm own this fiction.
Pair: ChanBaek. & KaiSoo.
Co-cast: Suho. Lay. Sehun.
Genre: Drama. Supernatural. Humor. Romance. lil Hurt/Comfort (maybe?).
Warning: Shonen-ai. Alternate Universe. Complicated-plot. OOC. Miss-Typo. Weirdo.
Length: Multi-Chapter.
.
.
.
God Must Be Kidding Us!
by icetwollucol
[Chapter 2: The Horrible Whisper From An Angel]
.
.
.
—.—
.
.
.
Terlihat dari balik jendela bening itu. Terduduk dua pria tampan dengan postur tubuh tinggi dan yeah, seksi. Meski, salah satu dari keduanya memiliki wajah sedikit idiot. Mereka tetap saja terlihat seksi. Keduanya duduk berhadap-hadapan di salah satu meja di café itu. Dilihat dari sudut manapun bangunan yang memiliki plang yang menggantung di atas pintu masuk dengan huruf hangguel yang mereka ketahui adalah nama tempat ini, mereka yakin ini adalah café. Namun, yang membuat mereka ingin berpikir dua kali bahwa tempat ini adalah; café karena tempat ini terlalu sepi. Juga suasana di luar sana. Tidak ada satu orang pun yang berlalu lalang di depan sana. Dan jangan lupakan jalanan aneh berwarna serba putih. Dan yang paling penting bagaimana mereka berdua bisa berada di tempat ini?
Keduanya yang sedari tadi sibuk memperhatikan keadaan aneh café ini. Mengalihkan perhatian mereka pada seseorang yang tengah membuka pintu. Bunyi lonceng berdengung. Pertanda tamu datang. Pintu café itu terbuka. Menampilkan sesosok pemuda dengan ukuran tubuh yang lebih mungil dari dua pemuda seksi itu yang sempat mereka perhatikan sedari tadi.
"Annyeong haseyo! Chanyeol-ssi." Salah satu dari pemuda bertubuh seksi tadi segera berdiri dan membungkukkan tubuhnya pada pemuda manis bersurai pirang yang tengah menyapanya. Kembali duduk ketika pemuda pirang tadi kembali mempersilahkannya untuk duduk.
"Jongin-ssi." Si pirang seolah mengabsen. Sosok yang disebut hanya menganggukkan kepalanya pelan. Sungguh gaya yang angkuh.
"Neoddo, annyeong! Suho-hyung." Kedua pemuda pemilik tubuh seksi itu sedikit tercengang ketika tiba-tiba merasakan tekanan arwah. Merinding, jelas saja. Karena tiba-tiba saja di tengah-tengah keduanya terduduk pemuda dengan kulit putih serta surai legam cepaknya. Dan jangan lupakan tubuh pendeknya yang seharusnya membuat kedua pemuda tinggi tadi bangga tapi justru terintimidasi karena tekanan arwah sosok pendek ini.
"Annyeong, manis!" balas pemuda itu—yang Chanyeol dan Jongin ketahui bernama Suho tadi—sok keren pada pemuda pirang yang masih berdiri di hadapan ketiganya.
Pemuda tadi hanya tersenyum menanggapi sapaan itu. Dan…
BUGH! BUGH! BUGH!
"Ah~~ Aku ini tampan tahu, bukan manis… Suho-ahjussi! Dasar kakek-kakek genit."
Chanyeol dan Jongin merinding di tempat. Tidak menyangka kalau pemuda pirang berwajah datar namun sering tersenyum itu dapat bertingkah seperti ini. Memukul-mukulkan sebuah map tebal—setebal arsip kasus yang biasa terjajar rapi di lemari jaksa—yang sedari tadi dipeluknya ke kepala Suho dengan sedikit 'kegirangan'.
'Baunya seperti psikopat.' Gumam Chanyeol dan Jongin serempak dalam hati.
"Dan ngomong-ngomong aku ini bukan psikopat. Aku ini Lay." Chanyeol dan Jongin kembali membeku di tempat. Seolah si pirang bisa mendengar jeritan batin mereka yang ketakutan. Sungguh mengerikan! Dan sekarang pemuda itu beralih menatap mereka. Meninggalkan Suho yang masih memegangi kepalanya yang mungkin sudah benjol sekarang.
"Dan tidakkah kalian bertanya-tanya kenapa kalian berada di sini serta kenapa kami datang seperti hantu di hadapan kalian?" Lay mendudukkan dirinya di sebuah kursi yang entah sejak kapan ditariknya.
"Ah, kau benar. Sebenarnya tempat apa ini?" Chanyeol bertanya sambil mengangkat tangannya idiot.
"Kau bodoh ya? Jelas-jelas ini café." Celetuk Jongin dan Suho bersamaan. Keduanya menatap satu sama lain dengan pandangan; "Jangan meniruku, sialan,". Kelihatannya dua manusia ini mempunyai watak yang sama, keras kepala dan sok keren, meski sebenarnya mereka sangat konyol dan terkadang baik hati.
"Ahaha, abaikan mereka berdua, Chanyeol-ssi. Tempat ini adalah café langit. Dan aku tidak mau berbelit-belit. Akan aku tunjukkan kontrak yang telah disetujui dua kekasih kalian. Karena, yah. Ada konsumen lain yang menanti kami."
"Langit? Cih, permainan kuno macam apa yang kalian mainkan?" cela Jongin dengan gaya angkuh.
BRAK!
"Kumohon diam saja di sana Jongin-ssi! Sudah ku bilang kami tidak punya banyak waktu." Lay memukulkan map tadi dengan kasar ke atas meja namun tetap dengan senyum manisnya serta wajah datarnya. Bisa kalian bayangkan seperti apa itu? Suho hanya menyeringai melihatnya. Meremehkan Jongin yang tengah kena semprot partner 'kerja'nya itu.
"Dan jangan cengar-cengir Suho-hyung. Atau aku akan berubah pikiran dan membuatmu yang melakukan pekerjaan ini." kali ini Lay melempar senyum mautnya pada Suho. Suho langsung menutup mulutnya rapat.
"Nah, lupakan pertanyaan pertama kalian. Aku sekarang akan menjelaskan duduk perkaranya, saja." Lay berdehem sebelum membuka map yang tadi dibawa-bawanya. Menarik dua lembar kertas tebal. Lebih tebal dari kertas buffalo. Um, mungkin setebal cover map yang dibawa-bawa Lay.
"Apa ini?" Chanyeol dan Jongin bertanya-tanya ketika Lay menyerahkan dua lembar kertas tadi pada mereka.
"Kenapa nama Kyungku/Baekkie ada di sini?" Chanyeol dan Jongin saling lirik. Saling melemparkan tatapan. "Berhenti mengikutiku."
"Mereka telah mengikat kontrak untuk menukar jiwa kalian." Jawab Lay singkat, jelas, padat dan datar. Jongin dan Chanyeol terdiam.
"Oh, menukar jiwa, ya?" Chanyeol cengo. Terlihat santai. Terlampau santai karena tidak mengerti maksud Lay. Sementara, Jongin yang kalau di layar kaca biasanya dijuluki Kai tengah menggebrak meja dengan tidak santai.
"APA KAU BILANG? AKU DENGAN DIA YANG SEPERTI INI... B-B-BERTUKAR JIWA? SUNGGUH, SEBENARNYA PERMAINAN MACAM APA YANG KALIAN MAINKAN." Teriaknya di depan wajah Lay. Lay memposisikan map tadi di depan wajahnya takut-takut ada hujaman air lokal ke wajah perfeksionisnya yang datar.
"SOPAN SEDIKIT DAN JANGAN BERTERIAK-TERIAK." Suho memukul keras leher Jongin. Giliran keduanya yang kini sibuk berdebat.
Chanyeol terdiam dengan wajah serius. Lay hanya memperhatikan dengan senyum manis di wajah datarnya.
"Katakan saja Lay-ssi. Kurasa ada yang ingin kau katakan."
"Benar sekali," Lay menarik kembali dua kertas keemasan dari tangan Jongin dan Chanyeol. Kembali menyimpannya dalam map. "Ini bukanlah permainan kami. Melainkan, permainan kalian sendiri."
"Jadi ini yang Baekhyun maksud kemarin malam?" Chanyeol menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Sudah mulai tahu ke arah mana semua pembicaraan ini bermuara. Jongin terdiam, mengingat sesuatu ketika Chanyeol mengucapkan kalimat itu.
"Baiklah, sepertinya sudah tidak ada lagi yang bisa kita bicarakan di sini." Lay bangkit dari duduknya. Chanyeol dan Jongin secara bersamaan mendongak menatap sosok Lay.
"Tunggu! Kau belum memberitahukan kami apa alasan jelasnya." Chanyeol kembali buka mulut. Lay menggeleng lemah. Sementara, Jongin menyadari sesuatu. Suho tiba-tiba menghilang.
"Kami tidak bisa memberitahukan alasan jelasnya. Tapi... kami bisa memberi satu petunjuk tujuan Tuhan dan kami melakukan ini semua." Lay mendekati telinga Chanyeol. Lay terlihat berbisik pada Chanyeol. Tubuh Chanyeol tiba-tiba menegang. Matanya melebar ketika Lay membisikkan sebuah kata yang menurutnya mengerikan.
"Jadi, Chanyeol... bagaimana?" bisik Lay sekali lagi.
Chanyeol tanpa sadar mengangguk.
Jongin yang sedari tadi masih mencari keberadaan Suho. Tiba-tiba merasakan sakit yang luar biasa mendera kepalanya. Dia melihat Lay terus berbisik pada Chanyeol, itu terlihat mencurigakan. Tapi, belum sempat ia bertanya. Tubuhnya sudah ambruk tak sadarkan diri di kursi.
Dan tepat setelahnya. Chanyeol terjatuh pingsan. Dan kini, giliran Lay yang menyeringai.
.
.
.
Chanyeol membuka matanya ketika selintas wajah familiar tapi tak dapat diingatnya menyeringai padanya. Chanyeol terduduk di ranjangnya. Mengusap wajahnya yang dihiasi keringat dingin. Dia tidak ingat apakah ia sedang bermimpi buruk atau indah. Karena yang Chanyeol ingat hanya seringai sosok yang tak dikenalnya setelah membisikkan sebuah kalimat di telinganya.
Tunggu! Kalimat apa tadi yang dibisikkan sosok itu di telinganya? Duh, kenapa Chanyeol tidak mengingat apa-apa. Frustasi dengan dirinya sendiri. Chanyeol hendak beranjak dari ranjangnya dan menyegarkan ingatannya dengan basuhan wajah. Tapi, belum sempat niatan itu terpenuhi sebuah suara asing membuat Chanyeol menoleh dan menghentikkan langkahnya.
"Sudah bangun, Jong? Um, mengenai kemarin malam... aku..." seorang pemuda berdiri di pintu kamar yang tadi Chanyeol tiduri.
"Tunggu! Siapa kau? Kenapa kau di sini?" sela Chanyeol sebelum pemuda itu sempat menyelesaikan kalimatnya.
"Jongin! Bicara apa kau ini? Ini aku Kyungsoo." Pemuda melangkah mendekati Chanyeol. Tapi, Chanyeol melangkah mundur. Pertama karena dia takut pada orang asing. Kedua, sejak tadi dirinya dipanggil-panggil dengan nama 'Jongin'. Memang sejak kapan nama Chanyeol berubah sejelek itu?
"Tunggu! Di mana ini? Ini bukan apartment Baekhyun dan ARRRRGHHHH! KENAPA AKU JADI SEPERTI INI?" teriak Chanyeol histeris. Pemuda manis di depan Chanyeol membelalakkan matanya. Menyadari sesuatu. Sosok di depannya ini bukan lagi Jongin-nya.
.
.
.
Dan inilah sekarang keadaan empat pemuda manis bernama Baekhyun, Chanyeol, Jongin, dan Kyungsoo. Terduduk di ruang tengah apartment Baekhyun dengan wajah yang masih kebingungan serta terkejut.
"Maaf, Baekhyun. Aku seharusnya berusaha menjadi yang kau inginkan. Agar ini semua tidak terjadi." Sesosok pemuda berkulit kecoklatan berlutut di depan Baekhyun yang terduduk dengan tidak nyamannya di atas sofa. Baekhyun mengernyit ketika pemuda itu juga memegangi tangannya seperti yang biasa Chanyeol lakukan kalau ingin minta maaf.
"Hei! Bisakah kau berhenti bersikap seperti pengemis cinta seperti itu dengan tubuhku?" sementara pemuda yang sudah sangat Baekhyun kenal sebagai Chanyeol dan kekasihnya kini mendorong-dorong bahu pemuda berkulit kecoklatan ini dengan jempol kakinya. Baekhyun makin mengernyit dalam. Itu bukan Chanyeol yang selama ini dia kenal.
"Jongin! Sopan, sedikit!" dan yang ini Dio, dengan nama asli Do Kyungsoo. Penyanyi opera favorit Baekhyun serta sosok figur yang paling Baekhyun incar info-info terbarunya untuk dijadikan referensi majalah musiknya bulan-bulan yang akan datang. Tapi, Baekhyun justru mengernyit. Pasalnya, idolanya ini tak lagi terlihat seperti idolanya dikarenakan pembicaraan mereka sejak 2 jam tadi, sangat tidak maksud akal.
"Tapi, dia seenaknya menggunakan wajah dan tubuhku senista itu." Chanyeol masih kolot. Kyungsoo mendelikkan matanya, mengancam Chanyeol. Tapi, Chanyeol masih mendorong-dorong tubuh pemuda di hadapan Baekhyun ini.
"Kau juga menggunakan wajah dan tubuhnya sesukamu, ingat?" tegur Kyungsoo. Berusaha menjauhkan kaki berbulu Chanyeol yang tak berbalut apapun dari bahu sosok langsat ini.
Baekhyun mengurut dahinya. Di tangan kanannya ada sebuah ponsel kini. Menekan angka 1 sangat lama. Kemudian, mendekatkan benda itu ke telinganya.
'Bahkan, yang menjadi panggilan nomor satunya bukan aku.' Tangis pemuda berkulit kecoklatan itu miris. Dirinya mungkin berada di dalam tubuh orang lain. Tapi, Chanyeol tetaplah Chanyeol. Meski kini dia berada di dalam tubuh seorang Kim Jongin. Dia tetaplah dirinya, yang hanya dan akan selalu menyayangi Baekhyun.
Ya, perlu diperjelaskah bahwa Chanyeol berada di dalam tubuh Kim Jongin dan begitu sebaliknya? Ku rasa tidak perlu. Karena yah, sudah sangat jelas bukan bahwa kenyataan dibalik kontrak yang Baekhyun dan Kyungsoo tanda tangani dengan darah mereka adalah ini. Tapi, keduanya tidak menduga akan sampai sejauh ini. Maksudnya, mereka mungkin berharap kekasih mereka berubah dari yang tidak punya tingkat kepekaan sama sekali menjadi sedikit lebih peka dan agresif serta dari yang seksi, tampan, terkenal luar biasa menjadi sosok sederhana yang bisa dimiliki untuknya seorang diri. Tapi, kenapa justru kini Chanyeol dan Jongin tertukar? Baekhyun masih berharap kalau ini bagian dari mimpinya tadi.
Harapannya bubar seketika ketika sebuah suara imut di seberang ponselnya bersuara. Baekhyun hampir terlonjak dan jatuh. Tapi, beruntung Chanyeol bertubuh Jongin berada di depannya. Hingga kini dia masih terduduk di sofa dengan keadaan baik-baik saja.
"Halo?"
"Halo, Sehun-ie?"
"Oh, kau hyung? Mencari umma, ya? Dia ada sih tapi gak mau bicara sama hyung kalau hyung gak mau pulang-pulang." Baekhyun mati kutu. Wajahnya derp kali ini. Sudah menduga kalau ini yang akan terucap dari mulut kecil adiknya. Duh, apa sehebat itu sih kekuatan para cenayang? Tahu begitu, Baekhyun dulu pasti jadi anak baik dan tidak kabur dari rumah ketika hendak dijadikan cenayang penerus keluarganya. Tapi, kalau dia jadi cenayang. Jangankan menjadi seorang editor majalah, bertemu Chanyeol pun pasti mustahil.
"Kau bahkan belum bilang pada umma aku mau bicara apa 'kan?" bujuk Baekhyun.
"Umma bicara lewat telepati hyung. Umma ada di Jepang hari ini."
"HAH? Kau gak bohong, 'kan?" teriak Baekhyun terkejut bukan main. Sementara orang di sekitarnya hanya bisa memasang wajah terkejut. Tidak sempat berteriak ria seperti Baekhyun.
"Telingaku sakit, hyung! Buat apa cenayang bohong?"
"Tapi, ini sangat penting, Sehun." Baekhyun tanpa sadar merengek.
"Mudah, hyung. Kata umma; 'Pulanglah bersama pacarmu juga dua teman barumu itu.' begitu. Sudah ya, hyung! Ada seseorang datang. Annyeong~~"
"Hei! Tung—"
Pip!
Panggilan dimatikan secara sepihak dari seberang. Baekhyun memasang wajah skeptis.
Pacar? Yang ini? Tunjuk Baekhyun dalam hati pada Jongin yang masih berlutut di depannya.
Dan teman? Mereka? Baekhyun membatin sambil melirik dua pemuda yang sudah sangat familiar di matanya dengan keringat yang menggantung di dahinya.
Sial, ini pasti tidak akan mudah. Baekhyun menutup wajahnya frustasi.
.
.
.
—.—
.
.
.
[Chapter 2]
—END—
.
.
.
.
.
.
Special Thanks:
Vicky98Amalia, Izca RizcassieYJ, SHY Fukuru, 7D, ajib4ff, pinoya, PrincePink, kyeoptafadila, KaiLufan, louise lee, Sihyun Jung, Michio' June, 13ginger, siscaMinstalove, sweetgyu95, 12Wolf, jenny, Viivii-ken, Jaylyn Rui, ChanLoveBaek, nissaa, PutriPootree, Guest, I'm Lis, Deniss, Hanobeef, fleur, lee kaisoo, Kim Jongmi, Light-B, Guest, chanbaekku, Kusanagi Hikari.
.
.
.
a/n: Pertama… Duh! Maafkan saya yang mengabaikan fic ini sampai jangka waktu dua bulan lebih. /nangiskejer/ Dan maaf kalau semisal chapter ini mengecewakan sangat. Dan juga, maaf saya tidak bisa membalas review satu-satu. Yang saya sangat berterima kasih atas review kalian. Dan sekali lagi maaf kalau chapter ini justru membuat anda sekalian bingung. Pokoknya maaf-maaf. /bungkukbungkukbungkuk/
Kedua... iya makin rancu. Ini bukan alur yang sengaja dibelokkan tapi memang inilah rencana saya sejak awal. Membuat ChanKai tertukar. Konflik-ringan yang akan buat saya belibet. Kemunculan tokoh baru yang juga berhubungan dengan kasus(?) mereka. Apa yang dibisikkan Lay? Ke mana Suho? Siapa ibu Baekhyun? Siapa yang datang menemui Sehun? Ayo, tebak! Karena yang jelas itu semua berhubungan. /seenaknya/ Dan untuk ke-ooc-an yang apabila masih belum hilang, maafkan saya. Karena di sudut pandang saya seperti inilah mereka. /dihajar/ Lalu satu hal terkahir yang ingin kutanyakan. Apa fic ini feel-nya masih ada? T.T Terima kasih dan sekian.
.
.
.
Jadi, masih adakah yang berkenan mereview chapter ini? ;w;
