Selasa. 25/07/20**

Menurut daftar pelajaran yang diumumin kemarin sama Kakashi-sensei, hari Selasa ada pelajaran olahraga.

Cihuy! Jelas dong gue girang. Inilah pelajaran favorit gue.

Keuntungan olahraga bagi cowo: Bikin populer dikalangan cewek karena setiap 1 ml keringet cowok mengandung 1mg Feromon *katanya*. Yah, walaupun sebenernya gue udah cukup populer sih dikalangan cewek.

Oh iya, karena olahraga kali ini nggak merluin lapangan basket maupun meja pingpong, kami harus ke Gym di deket sekolah gue. Gue, Naruto, Gaara dan Lee selalu datang kemari untuk berolahraga. Guy-sensei adalah guru olahraga kami. Orangnya sangat rajin tersenyum dan tidak pernah ngupil sembarangan. Oh ya! Jangan lupain semangat masa mudanya yang kadang-kadang overdosis itu.

Guy-sensei membagi kelompok cowok menjadi 5 regu karena ada 20 cowok. Setiap regu berisi 4 siswa. Gue merasa beruntung ketika disebut satu regu dengan Lee. Bukan karena dia jago lari, tapi karena tubuhnya yang bisa dibilang kurus ideal lah. Kalo ada angin begini, larinya bisa cepet karena dibantu angin. Dan jangan lupain juga julukannya sebagai copy of Guy-sensei gara-gara dia niru semangat masa mudanya guru nyentrik itu. Tapi sialnya, gue satu regu sama Chouji. Berat badannya kebalikan dari Lee. Superjumbo. Mungkin sebentar lagi kegemukannya akan mengantar Chouji masuk World Record, kalo nggak ya masuk sumur ajalah nggak papa.

"Awas ya, kalo nanti elo nggak lari yang kenceng!" Ancam gue setengah berbisik.

"Ngapain sih mesti lari segala? Orang jalan aja ntar juga nyampai. Gue pernah denger salah satu pepatah dari salah satu daerah di Indonesia. Alon-Alon waton kelakon." Kilah Chouji santai banget. Lagian itu pepatah bukan dari salah satu daerah di Indonesia. Tapi dari Zimbabwe! Kalo kiamat datang pun, mungkin cuma dia yang santai nggak nyelametin diri.

Akhirnya gue ngandalin orang keempat di regu gue, yakni Sai. Gue nggak tahu sejauh mana kecepatan larinya. Tapi mestinya sih bisa cepet karena tubuhnya lumayan kecil tapi proporsional. Lagian, dia punya warna mata dan rambut yang hampir sama kayak gue, jadi gue yakin larinya juga cepet kayak gue.(?)

Sebagai kapten regu, gue mengatur urutan lari. Pertama tentunya Sai, disusul Lee, Chouji dan gue. Biarlah nanti gue yang mengejar ketinggalan Chouji kalo lelet.

"Oke! Anak-anak yang penuh dengan semangat masa muda! Semuanya siap!" Teriak Guy-sensei.

Sai sudah diposisinya. Cewek-cewek di pinggir lapangan semua mendukungnya.

"Sai! Sai! Sai! Sai!" Gue melihat Sasori matanya berapi-api kayak kompor gas dari pemerintah.(?) Dia pasti ingin jadi yang lebih cepat dari Sai. Sementara disebelahnya, si Pantat Lem sedang merapikan rambutnya yang panjang bak bintang iklan shampo anti kutu, agar sisirannya nggak berubah saat lari (Waxnya udah gue ganti pake lem SUPER GLUE!).

"Three … Two … One … GO!" Wuaaaaah! Sai ternyata larinya kenceng banget. Sai paling dulu menyerahkan tongkat estafet ke Lee. Langsung aja Lee berlari kencang. Cuman, rupanya angin bertiup dari arah berlawanan. Hasilnya? Lee bukannya maju malah mundur ketiup angin. -_-

Ngomong-ngomong, kemana Sai?

"Chouji siap! Lee udah mau nyampe tuh!" Teriak gue sampe berasa urat-urat ditenggorokan gue pada kusut.

"Santai …" Katanya ogah-ogahan.

Lee semakin dekat. Dan huph! Dia menyerahkan tongkat ke Chouji, tapi Chouji malah jalan santai. Oooh benar-benar hari yang buruk. Tim gue yang semula unggul, malah jadi kebuncit di pelari ketiga ini.

"Heh Chouji! Look at this!" Teriak Sai yang tiba-tiba muncul di pinggir lapangan. Chouji melihat benda yang diangkat tangan Sai. Secara ajaib, Chouji langsung lari kenceng. Rasanya gue langsung terharu, menitikkan air mata dan ingin membuat puisi romantis buat Chouji karena baru kali ini gue melihat Chouji lari. Kencang pula! #Menggelinding no jutsu.

Gue nggak merhatiin benda apa yang dibawa Sai. Lagian gue kan mesti siap menerima tongkat estafet dari Chouji. Gue merapihkan rambut pantat ayam kebanggan gue. Dan Hop! Gue lari secepat mungkin. Gue tinggal lari sambil merem aja. Gue bayangin dibelakang gue ada Sadako disebuah ruangan sempit, gelap dan gue berdua tuh sama si sadako. Wuaaaah! Takut banget gue. Dan….

"Horeeeeee!" Ketika gue ngebuka mata ternyata gue sampe duluan di Finish. Cewek-cewek langsung bersorak menyambut nama Sai. Heran, padahal ini kerja tim.

Gue menghampiri Sai. Dia udah nggak bawa benda apapun. "Ngomong-ngomong, tadi apaan sih yang bikin Chouni ngibrit?" Tanya gue.

"Benda yang paling nggak disukai orang gendut." Jawab Sai ngakak.

"Apaan? Kecoak?"

"Bukan. Tapi, timbangan badan."

"Hah? Timbangan badan? Jadi, tadi elo tuh ngilang nyari timbangan badan? Terus, elo dapet di mana tuh benda?"

"Locker Room."

Oh iya gue inget. Di locker room emang ada timbangan badan. Gue sama sekali nggak tau kalo Chouji takut sama timbangan badan. Pantes aja dia selalu ganti baju di semak-semak-_-

Well, hari ini rasanya hari gue banget! Regu lari estafet gue menang. Paling nggak, untuk minggu ini posisi gue sebagai cowok favorit di kelas akan naik di lima besar. Gue buka locker gue untuk ngambil handuk. Ada yang ngirim kertas ditempel pake paku payung di locker gue. Ada yang mulai sirik nih. Disitu ada tulisan, tertulis: "Awas elo Sasuke. Jangan harap bisa jadi peringkat 2 di kelas dan ngalahin gue!"

Hal lainnya, gue bisa memetik pelajaran berharga dari Harry, "Kita harus tahu kelemahan seseorang untuk mengetahui seberapa cepat lari dia."


Rabu. 26/07/20**

Catatan harian seorang cowok nggak akan lengkap kalo nggak ada ceweknya. Ibarat sandwich tanpa roti. Jadinya salad dong.

Kebetulan banget hari ini gue bisa cerita tentang cewek yang gue anggep paling cantik di kelas, bahkan di sekolah gue. Namanya Yamanaka Ino. Gue sering manggil dia Ino. Pengennya sih 'Beby' tapi takut di damprat sama dia. Ino bagi gue juga kayak badai. Setiap gue melihat wajahnya, tiba-tiba angin berdesir menerpa wajah gue, kemudian orkes simphoni bermain lembut di telinga gue, ditambah lagi suara koor nan indah~

Pagi sebelum bel masuk berbunyi. Ino menghampiri gue yang lagi ngerapihin rambut pantat ayam gue yang sedikit berantakan terkena hempasan angin sewaktu di motor tadi. Jantung gue deg-degan melihat kecantikan wajahnya.

"Sasuke, bisa minta tolong nggak?" Tanyanya.

"Apa?"

"Pinjem kaca."

Padahal udah ada sepuluh murid yang datang lainnya. Kenapa gue yang dipilih buat minjem kaca?

"Sebentar ya." Tangan gue merogoh laci meja. Gue memang selalu menyimpan kaca di laci meja kalau-kalau rambut pantat ayam gue goyang sedikit.

"Nih, ada."

"Oh, thanks ya!" Ino menerimanya. Tapi dia tidak langsung pergi. Bikin gue gugup campur nepsong.

"Aku boleh tanya sesuatu nggak?" Tanya Ino lagi.

"Si…. Silahkan." Gue makin gugup. Dia mau nanya apa ya? Mudah-mudahan bukan nanya tentang cara membuat rambut pantat ayam yang ngebuat gue makin ganteng ini.

"Kamu tau nggak Sas, Sai udah punya pacar belum?"

JLEGEEERRR!

WHOOAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!

Tiba-tiba gue melihat malaikat pencabut nyawa cengengesan di pintu kelas.

"Kali-kali aja, Sai pernah ngobrolin pacarnya sama kamu Sas." Lanjut Ino.

Gue buru-buru menggeleng, "Nggak, coba aja lihat di Facebook dia," Saran gue.

"Udah, masih Single. Tapi siapa tau aja dia ngumpetin ceweknya." Timpal Ino.

"Nggak kok."

"Oh ya udah. Nanti salamin ya ke Sai dari aku." Gue cuma senyum. Nggak mau janji. Gue kan bukan kurir titipan salam!

Ino berjalan ke bangkunya. Dia mengambil sebuah buku dan duduk sambil membacanya. Dia jadi makin cantik. Cantik dan Smart. Ya meskipun buku yang dibacanya bukan buku sains, tapi buku berjudul "Bagaimana Menggaet cowok Kece dalam 3 hari dan Memutuskannya dalam waktu sehari." Beberapa teman cowok gue kelihatan sirik karena gue baru aja dideketin Ino.

Sepuluh menit kemudian Sai datang dan duduk di sebelah gue. Gue lihat Ino memandang kearah gue dengan isyarat: "Jangan lupa sampein ya salam dari aku."

Buru-buru aja gue ngucapin kalimat, yang kalau dari tempat duduk Ino seolah-olah gerak bibir gue mengatakan: "Sai, Ino titip salam buat elo." Padahal gue ngomong: "Sai, Ijo ngintip ayam buat telor." Tentu aja Sai cengengesan mendengar kalimat gue. Dikiranya gue lagi kemasukkan setan, jadi pagi-pagi udah ngecapruk kagak jelas. Ino kelihatan senang setelah gue ngomong kalimat tadi. Gue juga seneng bisa ngibulin Ino sehingga dia seneng.

Tadinya gue pikir urusan gue sama Ino beres sampai disitu. Tapi ternyata berlanjut sampai saat istirahat. Ino tiba-tiba menghampiri gue saat gue sendirian keluar dari toilet. Wah, untung gue sempet cuci muka di wastafel tadi.

"Gimana reaksi Sai pas kamu sampein salam dari aku?" Tanya Ino langsung.

"Cuma senyum."

"Dia nggak bilang salam balik?"

"Enggak."

"Enggak bilang apa-apa tentang aku?"

"Enggak."

Ino kecewa level dua belas.

"Kamu naksir Sai ya?" Tanya gue memberanikan diri.

Baru gue sadari itu pertanyaan bodoh. Nggak mungkin kalo nggak naksir sampe deket-deketin gue. Masa sih Ino ngedeketin gue terus nanya-nanya tentang Sai buat ngajak ikut arisan PKK-_-

"Sedikit. Aku tuh penasaran aja sama dia. Dulu aku pernah punya cowok mirip dia. Sama-sama warna matanya onyx. Jangan-jangan Sai ini masih sodaranya." Jelas Ino kayak udah nyiapin kalimat itu beberapa jam sebelumnya. Eh tunggu. Sama-sama matanya onyx? Jangan-jangan gue? Tapi kan gue belum pernah pacaran sama Ino! -_-

Ino nyerahin pas foto ke gue. Ngagetin gue yang lagi rada ngelamun. Dan setelah gue liat fotonya, bujut buset, itu foto ukurannya 12R. Dia nyimpen foto sebesar itu dimana?

Hmm.. Iya mirip sih sama Sai. Matanya onyx, model rambutnya hampir sama kayak Sai. cuman lebih pendek.

"Kalo gitu nanti gue tanyain deh sama Sai."

"Jangan. Mending kamu atur aja supaya aku bisa jalan bareng sama dia."

Yee, emang gue petugas biro perjalanan! -_-

"Pokoknya kalo berhasil, nanti aku kasih kamu apa yang kamu mau."

Hmm, tawaran yang menggiurkan~

"Sas? Bisa nggak?" Desak Ino.

"Bisa bisa." Gue mengangguk tegas sambil memikirkan apa yang akan gue minta dari Ino.

1. PSP. Yeaaaaaaah! :D

(+) Hadiah ultah yang gue idam-idamkan.

(-) Bisa dibeli dimana aja.

2. Kencan dengan Ino.

(+) Kesempatan langka.

(-) Resiko patah hati di kemudian hari.

3. Cek 10 Juta Dollar.

(+) Muehehehehe gue kaya men!

(-) …. Nggak ada :D

Pada belajaran berikutnya gue sibuk mikirin cara nyomblangin Sai agar mau ngajak jalan Ino.

Yang ada di otak gue cuman ada tiga cara:

1. Terus terang bilang sama Sai kalo Ino pengen jalan bareng sama dia. Tapi, kalo Sai nolak gimana?

2. Minta tolong Sai supaya pura-pura mau jalan bareng sama Ino, meskipun dia nggak suka. Alasannya, nolong gue biar mendapat sesuatu dari Ino.

3. Bilang sama Sai, Ino pengen jalan bareng dia. Itu adalah keinginan terakhirnya sebelum dia meninggal karena kanker parahnya sebulan lagi. Biar meyakinkan Ino dandan kayak orang sakit sekalian.

Akhirnya gue nggak pake tiga cara diatas. Gue malah nulis di atas kertas sebuah cerita ngawur dan menyodorkannya ke Sai. Soalnya nggak mungkin gue obrolin. Asuma-sensei lagi ngajar di depan. Dia adalah guru terkiller di sekolah. Kalo dia ngajar terus ada muridnya yang ngobrol, dia bisa ngehukum gue ngesot keliling lapangan lima putaran yang sebelumnya udah ditaburin sama kerikil kecil-kecil nan genit.

'Sai, udah beberapa hari ini gue selalu ngimpiin peristiwa yang sama. Semacam peringatan melalui Indera ke enam gue. Dalam mimpi itu, gue melihat teman sekelas kita Ino bakal mengalami penculikan oleh pangeran dari Afrika. Lalu gue melihat penampakan elo pake baju spiderman lengkap dengan laba-labanya yang langsung nolongin Ino. Dalam mimpi itu jelas sekali kejadiannya hari Rabu tepat jam Satu siang. Gue belum ngasih tau nih, mimpi ini ke Ino. Ngeri kalo dia nganggep gue sarap. Tentu elo sebagai teman sebangku gue nggak akan nganggep gue sarap, kan?'

Sai membaca tulisan gue itu dengan serius. Setelah itu Sai membalas tulisan gue.

'Sas, Elo emang beneran sarap. Tapi, karena batu yang elo kasih itu beneran berkhasiat, gue percaya elo punya Indera keenam. Biar nanti, gue yang bilang ke Ino akan jadi pengawalnya mulai siang sampe sore ini.' Gue tersenyum ngebacanya. Langsung gue acungin jempol untuknya.

Pas pulang sekolah Sai langsung ngedeketin Ino. Gue nggak tau mereka ngobrolin apa. Tapi nggak mungkin kalo mereka ngomongin pertandingan Barcelona melawan Phoenix karena beda olahraganya. Nggak mungkin juga ngomongin merk kaos oblong gue. Yang jelas, mereka kemudian jalan berduaan. Perasaan gue langsung hancur nggak karuan melihatnya. Ternyata gue emang cuman bisa mimpi aja bisa jalan bareng Ino. Mungkin gue mesti menurunkan standar cewek impian gue. Ya sedikit aja di atas Pixie Lott lah.

Sorenya, waktu gue udah bisa meredakan perasaan hati gue, Ino tiba-tiba nelepon gue. "Sas, makasih ya udah bikin Sai ngajak aku jalan. Besok kamu boleh minta apa aja sama aku kok."

Gitu doang. Singkat. Kayak takut keabisan pulsa.

Malamnya gue langsung mikirin hadiah apa yang bakal gue minta besok.

Hmm, sampe gue nulis catatan ini sih baru nemu satu: Kencan malam mingguan sama Ino. Cukup adil buat gue ini, kan?

Pelajaran yang gue dapet hari ini: buatlah cerita bohong tentang Pangeran Afrika dan Spiderman untuk membuat sahabatmu jalan bareng cewek!

- TBC -

maaf atas updatenya yang lama. hehe...

ini sengaja saya gabungin 2hari jadi 1 chapter. buar agak panjangan. nyehehe.. *ketauan kalo g bisa bikin cerita yg panjang*

yap. akhir kata wassalamu'alaikum. eh' minta reviewnya sekalian yak?! xD