Disclaimer : Bleach © Kubo Tite.

Author : The Abnormal Kid.

Rated : T.

Genre : Romance, Family.

Pairing : Ichimaru Gin and Matsumoto Rangiku.

Chapter : 03 (Ongoing).

Warning : Typo (s), OOC, alur terlalu cepat, gaje, abal abal, and many more.

Terinspirasi dari : Byousoku 5cm (Anime Movie).

Aired: Feb 11, 2007 to Mar 3, 2007

Producers: ADV Films, Bandai Entertainment, CoMix Wave.

"Terimakasih," sebuah senyum muncul dari bibir manis Rangiku, di matanya ada sedikit butiran air yang hendak meluncur keluar.

"Eh?"

"Terimakasih karena telah bersedia mencintaiku. Di keluargaku, tak ada satupun yang mencintaiku bahkan orang tuaku sendiri. Aku dibesarkan oleh ayah yang sangat dingin dan ibu yang tak peduli padaku, di TK pun tak ada yang mau berteman atau bahkan mendekat padaku karena ukuran dadaku. Aku selalu diejek dan dihina disana, tapi kau, Gin, kau yang pertama kali menyukaiku dan mencintaiku. Karena itu, aku bahkan rela menjadi Stalker hanya demi mengikutimu dan bisa berteman denganmu. Tapi sekarang kau bilang kau mencintaiku, aku bahkan tak bisa menggerakkan badanku saking senangnya. Terimakasih Gin, terimakasih," Rangiku menunduk dan memegang dadanya dengan kedua tangan, air matanya terus mengalir dan menetes ke tanah tempat dia berdiri.

"Sama-sama," ucap Gin sambil mengulurkan tangan pada Rangiku dengan wajah berseri.

Semester kedua, Rangiku pindah.

Dengan pernyataan cinta Gin, bukan berarti mereka sudah menjadi kekasih.

Mereka sadar akan umurnya sekarang sehingga tidak berpacaran sampai cukup umur.

Gin masih fokus untuk cepat menyelesaikan pendidikannya.

Sementara itu, Rangiku sedang berada di kereta untuk menuju sekolahnya yang baru bersama para penjaga dari keluarganya.

"Saatnya makan cemilan," Rangiku membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil yang berisi coklat.

"Eh? Apa ini?"

Ternyata dibagian atas kotak tersebut terselip secarik kertas.

Saat Rangiku membukanya, ternyata isinya adalah sebuah puisi.

Dia agak terkejut setelah melihat nama pembuat puisi ini, Ichimaru Gin.

Sebuah judul sudah terpajang disana, dibawah langit senja.

Dibawah Langit Senja.

By : Ichimaru Gin.

Awan-awan putih kejinggaan bergerak perlahan diatasku.

Burung-burung ikut terbang melintas menemani gumpalan permen kapas di langit.

Disaat matahari menatapku, disaat itulah aku melihatmu.

Yang bergumul pasir dengan asyiknya.

Aku melihat matamu, sebuah permata biru yang berkilau dengan indahnya.

Aku menyukaimu, itulah kalimat yang kuucapkan pertama kali padamu.

Dan bersamaan dengan itu, hatiku jatuh pada pelukan hatimu.

Dibawah langit senja, tempat dimana kita pertama kali bertemu.

Di sebuah tempat dimana para anak-anak berkumpul.

Dan hanya kita berdua yang tertinggal.

Mungkinkah benang merah telah diikatkan pada kita?

Dibawah langit senja, aku mencintaimu.

Bersama dengan hembusan angin merah muda menerpa kita.

Dibawah sebuah pohon yang tak kunjung berhenti menampakkan keindahannya.

Dan kata-kata cinta yang terbawa oleh angin musim semi.

Dibawah langit senja, aku merindukanmu.

Kuharap matahari masih menatap kita berdua.

Kumohon angin, sampaikan rasa rinduku padanya.

Ayo membuat janji dengan matahari, dengan awan, dengan langit senja ini.

Mari bertemu di bulan Agustus sepuluh tahun mendatang.

Rangiku yang membacanya hanya bisa tersenyum.

Ia tak menyangka, bocah bawel itu mampu membuat puisi romantis seperti ini.

"Ya, ayo bertemu di bulan agustus sepuluh tahun mendatang."

Sudah sepuluh tahun berlalu sejak saat itu.

Selama itu, mereka berdua masih tetap berhubungan jarak jauh dengan menggunakan Email.

Keduanya juga masih tetap fokus pada tugasnya masing-masing.

Gin menyelesaikan pendidikan SMA dan kuliahnya hanya dalam waktu dua tahun.

Begitu pula dengan Rangiku yang juga menyelesaikan SMA dan kuliahnya dalam 2 tahun.

Gin langsung diterima bekerja di salah satu perusahaan milik keluarga Ichimaru.

Rangiku juga masuk ke dalam perusahaan ayahnya.

Keduanya sekarang sudah beranjak remaja.

"Selamat datang, nona matsumoto," terlihat Gin memakai kacamata Frameless, jas hitam yang dibuka yang didalamnya terlihat sebuah kemeja putih dengan dasi biru dan celana hitam dibawah pohon sakura tempat Gin menyatakan cintanya dulu.

"Sudah menunggu lama ya?" Rangiku tampak cantik dengan Kimono merah muda dan rambutnya yang bergelombang ditata rapi.

"Tidak juga."

Tiba-tiba mereka terdiam untuk beberapa saat sambil menatap satu sama lain.

"Entah kenapa, rasanya jadi sulit berbicara setelah lama tak bertemu," sambil membetulkan kacamatanya, Gin tersenyum kecil lalu berjalan mendekat pada Rangiku.

"Hahaha, mana Gin yang bawel dan selalu membentakku waktu dulu?" Rangiku tertawa beberapa saat lalu sadar bahwa tubuhnya telah dipeluk oleh pemuda berkacamata itu.

"Aku merindukanmu," ucap Gin sambil memeluk Rangiku.

"Aku juga," balas Rangiku sambil mengelus punggung Gin.

"Ayo," Gin melepaskan pelukannya, mundur beberapa langkah dan mengulurkan tangannya.

"Hah?"

"Jadilah kekasihku," jawab Gin sambil tersenyum.

Rangiku diam sesaat, kemudian meraih uluran tangan Gin.

"Tentu saja."

- To be Continued -