A/N : Uhehe~ Haloo~ Akhirnya bisa kembali nulis setelah tugas kuliah yang seabrek. Gila ih, baru juga masuk, dosennya udah pada bikin megap-megap (~=3=)~
Jadi maap kalo update-nya delay. Upupupu~ Mau bilang aja, chapter 2 ini hanya prolog dan curhatan galaunya bapak heichou kita. Jadi maaf ya kalo ada yang ngarepin kelanjutan dari cerita di chapter 1. Tapi tenang, chapter depan akan kembali lagi ke storyline. So, silakan bersabar. Doakan saja semoga tugas-tugas kuliah saya nggak terlalu menyita waktu. Ahahay~ *diemut female titan*
Nah, sudah dulu curhatan dari saya XD
Disclaimer : Gini deh. Ngapain saya nulis fanfic kalo saya yang punya ceritanya? *ini disclaimer macam apa lagi* Ehem...all rights belong to Hajime Isayama.
Enjoy!
Hanya beberapa orang saja yang mengetahui rasa cintaku pada Eren Jaeger. Pemuda yang umurnya jauh lebih muda dariku, seorang yang memiliki kekuatan aneh untuk bisa berubah menjadi Titan, dan prajurit yang bertugas dibawah pengawasanku. Aku tidak perlu membicarakan bagaimana Irvin mengetahuinya, dia memang sudah mengetahui diriku luar dan dalam sejak lama. Hanji, kurasa dia juga sudah bisa mengetahui segala hal yang kupikirkan hanya dengan sorotan mataku ketika melihat Eren. Dulu Mikasa hanya baru mencurigaiku sebelum akhirnya ia menyadarinya sendiri. Dan kurasa Armin pun begitu.
Pertama kalinya aku hanya merasa tertarik dengan hasratnya untuk membunuh semua Titan. Kilatan di kedua iris hijaunya tidak main-main. Semangatnya itulah yang pertama kali membuatku menaruh perhatian.
Lalu rasa tertarik itu berkembang semakin jauh. Aku ingin melihat semua ekspresi yang ia punya. Bagaimana jika aku membuatnya terganggu?
Aku sering berkata kasar padanya, membuatnya melakukan berbagai pekerjaan hanya untuk menyuruhnya mengulang semuanya lagi. Latihan pun kubuat sulit untuknya. Semua hanya untuk mengetes determinasinya sebagai anggota Scouting Legion dibawahku. Aku pun sebenarnya sadar dia mulai stres dan perlahan membuat jarak padaku. Bahkan, sepertinya ia merasa takut hanya ketika kedua mataku menangkap bola mata miliknya.
"Jangan terlalu keras pada anak itu." ucap Hanji setengah memperingatkan. Mungkin ia merasa kasihan juga pada Eren yang agak jadi uring-uringan dan berusaha sebisa mungkin tidak bertemu denganku.
Eren berusaha untuk tidak bertemu denganku. Entah kenapa hal itu membawa rasa…kesepian?
Aku sudah lama tidak menjalin hubungan dekat orang lain—baiklah, Irvin dan Hanji pengecualian karena mereka orang-orang aneh yang selalu mendekatiku—dan kenyataan bahwa aku dijauhi seorang anak ingusan sampai membuatku merasa kesepian seperti ini…
…aneh, bukan?
Tanpa sadar aku kembali mendekati Eren di hari-hari setelahnya. Sesekali kuberikan ia sedikit pujian ketika ia telah menyelesaikan tugasnya dengan baik. Aku langsung menyuruhnya istirahat ketika kulihat ia sudah lelah. Aku menjaga kata-kataku agar tidak menyakitinya.
Dan hubunganku dengan Eren perlahan membaik seperti semula. Dan itu membuatku lega…
…dan senang.
Aku senang membuatnya tersenyum. Jantungku berdetak lebih cepat saat aku bersamanya. Aku tidak suka orang lain dekat-dekat dengannya.
Sial, sial, sial. Perasaan apa ini? Aku bingung.
Perlahan aku sedikit menjauhkan diri dari Eren. Aku hanya menatapnya dari jauh. Mungkin dengan itu perasaan ini akan hilang.
Sampai suatu hari, aku sudah semakin frustasi. Dan itu semua kutumpahkan pada objek yang membuatku seperti ini. Di suatu misi ia mengabaikan perintahku untuk tetap di formasi karena disitulah ia bisa aman. Tapi dia malah maju demi menyelamatkan seorang prajurit yang hampir menjadi santapan siang Titan-Titan brengsek yang ganas hingga ia sendiri terluka. Namun luka-luka itu pun dapat segera sembuh berkat kekuatan anehnya.
Tetap saja, perintah adalah perintah. Melanggarnya adalah suatu tindakan terlarang. Aku marah sekali, mengkuliahinya dengan tajam dan mengirimnya untuk tetap di kamarnya di ruang bawah tanah selama dua hari penuh. Setelah itu ia wajib bertanggung jawab atas kuda-kuda yang ada di markas selama seminggu. Dia dihukum.
Eren meminta maaf padaku. Kurasa ia sudah tahu konsekuensinya dan menerima hukumannya dengan lapang dada.
"Selamat beristirahat, Kopral."
Aku tidak menjawab.
.
.
Malam menjelang. Aku tidak bisa tidur. Aku mulai berpikir jika hukumanku agak kelewatan. Tapi perintah tetaplah perintah. Peraturan tetaplah peraturan.
Kenapa aku bisa semarah ini? Padahal orang yang hampir dimakan Titan itu berakhir selamat. Jika saja Eren tidak menolongnya, mungkin ia sudah akan tinggal nama.
Mungkinkah… karena aku, sebenarnya…khawatir Eren yang akan terluka—atau bahkan berakhir di dalam perut Titan?
Suatu rasa bergelora mendesak dada. Ah, jadi benar. Aku khawatir.
Aku mencemaskan keselamatan Eren. Aku tidak mau melihatnya terluka.
Eren…
Cih. Apa yang kau lakukan padaku, hah, bocah?
.
.
Di hari ketiga hukuman aku menemuimu. Eren sedang memberi makan kuda-kuda setelah membersihkan kandang mereka. Aku berdehem untuk mendapatkan perhatiannya. Ia berbalik dan sempat tercekat, namun langsung memberi salam hormat.
Aku mengecek pekerjaannya. Hm, tidak buruk.
"Katakan padaku, Eren."
"Y-Ya, Korpal?"
Aku menarik satu tarikan nafas. "Kenapa…kenapa kau begitu ingin membunuh semua Titan, Eren?"
Ia terlihat kaget beberapa saat. Dengan agak canggung ia menjawab, "Karena saya ingin pergi melihat dunia luar, Sir."
Aku menaikkan alis mataku sebelah. "Memang apa yang membuatmu ingin pergi ke sana?"
Sorotan mata Eren melembut, bagai tengah bernostalgia dengan masa lalu, "Salah satu sahabat saya, Armin Arlert, sewaktu kecil pernah menunjukkan buku mengenai dunia luar milik orang tuanya. Dan dari semua gambar beserta deskripsinya, saya berpendapat bahwa dunia luar adalah tempat yang luar biasa. Sangat jauh dengan yang di dalam dinding ini."
"Begitukah?" aku tersenyum sedikit, sangat sedikit. "Katakan padaku seperti apa, Eren."
"I, Iya…saya melihat dari buku itu, wilayah yang dipenuhi pasir. Mereka menyebutnya 'gurun pasir'. Lalu, ada tempat yang ditutupi es seluruhnya, sepanjang tahun. Ada air yang bisa membakar, namanya 'lava'. Oh, dan yang paling saya suka adalah tempat yang seluruhnya adalah air asin, Sir. Namanya 'laut'."
Aku hanya menatapnya. Wajah Eren terlihat sangat berseri ketika menceritakan tempat-tempat di dunia luar sana itu. Suatu perasaan damai menghampiriku ketika melihat senyumannya. Bagaimana pun ia memang masih remaja 15 tahun yang naif dan bermimpi besar.
Dan aku akan membuat impiannya terwujud dengan seluruh tenagaku.
"Kopral, dunia luar itu tempat yang sangat indah!"
Aku merasa bisa melihatnya di dalam kedua manik hijaunya yang jernih itu. Keindahan itu.
"Suatu saat, ayo kita jelajahi bersama!"
Ya. Suatu saat nanti, Eren.
.
.
Setelah pembicaraan di hari itu perhatianku semakin tertuju padanya. Harus kuakui…tapi ia sudah berhasil mencurinya.
Perasaan tertarik yang kemudian menjadi rasa ingin tahu, dan lalu menjadi suka. Rasa suka pun perlahan bertambah kuat menjadi cinta.
Tapi aku tidak pernah mengatakannya. Aku khawatir Eren akan mendapat pengaruh buruk jika ia memiliki hubungan denganku, tertutama dari para Military Police yang juga mengawasinya. Aku mengubur perasaanku dalam-dalam dan hanya melihatnya dari jauh dengan perasaan rindu di hati. Aku cemburu pada Mikasa yang sangat jelas juga mencintainya sebagai laki-laki dan bukan sebagai saudara tiri. Aku ingin melindungi Eren, menyentuhkan jari-jariku di pipinya, mengusap rambutnya, memeluknya, mencintainya dengan sepenuh hati.
Tapi aku tidak mau ia jadi terluka. Orang-orang brengsek dari Military Police mengancam akan menarik Eren jika mereka mendapati apa yang terjadi disini. Scouting Legion tidak diizinkan berlaku lembut padanya, apa yang akan terjadi jika mereka mengetahui seorang petinggi Scouting Legion, sang prajurit terkuat bahkan, jatuh cinta padanya? Aku akan melanggar impresi yang sudah kubuat di persidangan dulu bahwa aku akan segera membunuh Eren dengan kedua tanganku sendiri ketika sang manusia setengah Titan itu lepas kontrol.
Namun, sekarang, apakah aku bisa?
Tidak, tidak. Melihat Eren dengan perban di lengannya setelah pulang misi saja sudah membuatku tidak fokus dengan tugasku. Apalagi membunuhnya?
Aku yakin aku pasti akan hancur.
.
.
Aku tahu cintaku memang terlarang. Aku sadar dengan apa yang kulakukan. Irvin dan Hanji mempercayaiku. Mereka sudah tahu tentang perasaanku pada Eren.
Namun aku tetap tidak bisa menolak perasaan cemburu ketika gadis Mikasa itu sangat dekat dengannya. Aku melihatnya memeluk Eren. Ingin rasanya aku datang ke sana, memeluk Eren erat, dan mengklaimnya bahwa ia hanya milikku seorang dengan mengecup bibirnya di hadapannya.
Tapi bagaimanapun angan-angan tetaplah angan-angan. Aku hanya bisa memberi gestur sebatas tepukan di kepala. Atau membiarkan tanganku berada di wajahnya lebih lama dari yang diperlukan saat kuobati lebam di pipinya. Memeriksa tangan yang biasa ia gigit untuk berubah hanya supaya aku bisa memegangnya. Dan mengantarnya ke kamar di bawah tanahnya hanya agar aku bisa bersamanya lebih lama.
Kurasa Eren masih tidak sadar pada semua gestur yang kuberikan itu. Ia masih melihatku sebagai atasan yang ia hormati. Ya.
Tidak kurang, tidak lebih.
Hei, Eren, apa kau akan menyadariku?
.
.
Sampai akhirnya pun, aku hanya bisa menunggu. Menunggu apa kau akan pernah menyadari perasaan cintaku yang membludak ini. Rasa yang tidak seharusnya ada.
Dan sampai sekarang pun, aku masih menunggu.
Aku terbangun dari mimpiku. Ah, indah sekali. Mimpi tentang melihatmu masih bergerak bebas di luar, tersenyum cerah, menangis pilu, berapi-api dengan semangat, mengulurkan tanganmu padaku.
Aku menatap sekitar. Rupanya aku ketiduran di ruangan ini. Pandanganku kualihkan padamu yang masih terlelap di dalam bongkahan es. Damai, tidak bergerak.
Tidak terbangun.
Setetes air mata berjalan menuruni pipiku. Kuusap es dingin besar ini, menatapmu sendu.
"Aku rindu kamu, Eren…"
Melihat wajah dengan berbagai ekspresi milkmu. Gerakan lincahmu. Suaramu. Segalanya tentangmu.
"Aku di sini, Eren. Bangunlah. Keluarlah dari situ."
Tetap tidak ada reaksi apa-apa. Aku sudah duga itu. Tapi biarkan aku menyuarakan kesedihanku pada tempat yang gelap ini.
"Di dalam sana dingin, bukan? Keluarlah, aku akan memelukmu sampai badanmu hangat."
Dan aku tetap dijawab oleh keheningan.
"Apa kamu ketakutan, Eren? Keluarlah, aku akan melindungimu."
Suara yang parau terdengar. Suaraku sendiri.
"Kamu ingin melihat dunia, kan? Keluarlah, akan kutemani kau menjelajah kemana pun kamu pergi."
Aku merosot kembali ke lantai, meratapi keadaan. Kekejaman dunia. Yang menekan Eren sampai seperti ini. Dan membuatku jadi manusia yang semenyedihkan ini dengan cinta yang tak terbalas.
"Keluarlah, Eren…kumohon…"
Dan tetap tidak ada yang mendengar tangisanku.
A/N : Yap sekian dulu. Maaf banget kalo mengecewakan ya! Arigatou gozaimashita~
Review replies:
[Kim Victoria] Yep! TBC! Ini lanjutannya, maaf ya lama... [Earl Lousia vi Duivel] Iya emang divisi Military Police itu pada sotoy! *panggil colossal titan pake dukun* [Fuyuko Tsubasa] Aduh aduh... *sodorin cravat-nya Rivaille* *ditebas cutter blade* Eaa...mbak tau aja, jangan-jangan itu pengalaman prbadi? XD *ditabok* [Elliotte] Silakan chapter 2, semoga gak mengecewakan~ Oh iya aku pernah baca juga doujin-nya, tapi pas nulis ini bener-bener gak lagi kepikiran doujin itu. Soalnya banyak juga doujin tentang Eren ujungnya dibunuh, terutama sama si Rivai Q_Q Iya bongkahan es ato kristal kayak si Annie~ ALL HAIL RIVAERE! *diinjek* [phinphin321] Nih asupan galau lagi untuk anda XD Oh sudah lama saya kepikiran adegan Rivai bunuh diri gara-gara Eren mati, tapi usahanya saya gagalkan di sini... soalnya ntar ceritanya gak lanjut bwahahaha! *plak* Maaf kalo yang ini juga kurang panjang, lagi agak WB abis nugas kuliah uhuhu~ [Shigure Haruki] silakan, update-an angst-nya XD Makasih juga udah bacaaa! Pas nulis ini aku juga ikutan galau, hah kokoro ini lelah... /watde [Azure'czar] Yang ini manis gak? Upupu~ Makasih yaa! Pair JeanArmin umm...suka juga sih tapi lagi seneng banget sama RivaEre jadi...yah... ^^a [Network Error] Pen name-nya...mengingatkan pada flashdisk saya yang saya kasih nama Not Found dan sekarang jadi not found beneran... /bego Ada di chapter 34 gitu kalo gak salah. Makasih udah fav! [sessho ryu] Oh, iya ya tau hehe. Yah namanya juga tempat orang-orang pencari aman, wajar lah... Wogh itu ntar genrenya ganti dari angst jadi tragedy... tapi itu bagus juga mwahaha! Siip, chappie 2 buat hadiah ultah XD
Okay, that's all for now. Thanks for reading!
Hoping a good sleep for you all (it's already night when I write this),
mystic rei
