A/N : Setelah selama seabad dari terakhir chapter 2*lebay*...akhirnya saya datang membawa chapter 3. Ahaha...bukan berarti mentang-mentang judulnya Waiting You jadi pengen bikin kalian juga nunggu update fanfic ini dalam waktu yang tidak pasti sih...cuma yah, you know WB? Yep. And no, it's not Warner Bros.

Sekali lagi maafkanlaaaaah~ /nyanyi

Yasudah saya gak mau banyak curhat...lupakan kalau ternyata udah saya lakukan ya hehehe.

Disclaimer : You know what? Bahkan buat bikin disclaimer yang aneh aja gue mentok... SnK punya Isayama-sensei.

Enjoy!


Waktu terus berjalan. Tidak menunggu siapapun, tidak mempedulikan apapun. Waktu terus maju tanpa bisa dihentikan. Sekalipun oleh prajurit terkuat umat manusia.

Waktu adalah kekuatan yang paling mampu mendesak perubahan. Segala hal bisa berubah oleh waktu. Besi berkarat, tanah berlumut, kayu melapuk. Manusia mengubah alam, manusia diubah oleh waktu.

Sudah 10 tahun semenjak umat manusia keluar menikmati kebebasannya. Tiga lapis dinding yang dahulu sangat berjaya melindungi mereka, kini hanya bagian dari situs sejarah sebagai sisa dari masa lalu. Masa lalu umat manusia yang nyaris punah karena dimangsa oleh musuh naturalnya, para Titan. Kini, tiga bersaudari Maria, Rose, dan Sina hanya berdiri sebagai saksi bisu.

"Hei, Mama." Suara anak kecil yang begitu polos menyenandungkan rasa keingin tahuannya, "Jadi benar, dulu Titan itu ada?"

Sang ibu tersenyum penuh sayang. "Iya, nak. Tapi sekarang manusia sudah bebas." Diusapnya kepala anak laki-lakinya yang masih berumur tidak lebih dari 7 tahun. Sang anak kecil tertawa manis. Tangan kecilnya menunjukkan sebuah buku bersampul cokelat kayu dan membolak-balik lembaran-lembarannya, sebelum ia menampilkan sebuah gambar dengan mata berbinar.

"Ini apa, Mama?" anak kecil tersebut menunjuk pada tiga insignia yang sangatlah familiar di masa kejayaannya.

"Ini adalah kelompok-kelompok prajurit, Nak." Sang ibu berjalan menggiring anaknya duduk di kursi meja makan. Saatnya makan siang untuk perut kecilnya. Ia menatap senang pada makanan yang ibunya sudah sajikan.

"Yang bergambar bunga ini, apa?" ia menunjuk pada salah satu lambang perisai dengan dua buah bunga mawar di atasnya.

"Ah, itu. Itu disebut Garrison. Para tentara di sana membantu merawat dinding dan bertugas menjadi pelindung jika ada serangan."

"Huaa…" anak itu beralih pada gambar perisai dengan kuda bertanduk serupa unicorn berwarna hijau, "Kalau yang ini?"

"Itu Military Police. Hei, kunyah kentangmu dengan benar, nanti tersedak." Kata ibunya mengingati, "Tugas mereka adalah menegakkan hukum di pemerintahan."

"Hmm." Anak itu membiarkan ibunya merapikan mulutnya yang berantakan oleh makan siang, sebelum bertanya lagi. "Yang ini?" kedua matanya tampak tertarik. Sebuah perisai dengan dua sayap berwarna biru dan putih yang saling bersilangan.

Ibunya tersenyum, "Itu Scouting Legion. Tempat para prajurit paling pemberani untuk pergi ke luar dinding dan melawan para Titan di sana. Demi memperluas wilayah manusia dan meraih impian membebaskan umat manusia."

"Kereeen!" seru anaknya girang. Senyuman lebar terbentuk, menampilkan gigi depan yang tanggal satu. "Aku mau ikut di bagian ini!"

Seketika senyuman di wajah ibunya menghilang. Ia berusaha mencari alasan dan menemukan yang paling masuk akal. "Tapi nak, sekarang manusia sudah bebas, jadi mereka sudah tidak dibutuhkan lagi."

"Aah, sayang."

Ibunya hanya menatap anaknya jauh, membiarkannya melahap habis makan siangnya.

Ya, masih ada golongan manusia yang masih tidak bisa melupakan saat-saat penuh kesedihan dan kegentingan itu. Kecemasan hidup di dalam dinding yang dikelilingi oleh bahaya dibaliknya.

.

.

"Kita kedatangan tamu lagi."

"Cih." Decakan kesal menjadi penanda ketidak sukaan sang lawan bicara. "Mereka lagi?"

Sebuah anggukan.

"Aku tidak meladeni mereka." kata pria itu seraya melangkah pergi, tidak peduli.

"Tunggu, Rivaille! Kau mau aku menghadapi mereka sendirian? Hei!" rengek seorang wanita berkacamata. Pakaiannya yang hanya berupa kemeja kuning dan celana bahan wara hitam tampak berantakan.

"Tidak ada gunanya bicara dengan orang-orang serakah itu. Sampai nanti, Hanji."

"Jahaaaaaat!"

Rivaille berjalan menuruni tangga menuju ruang bawah tanah. Kegiatan rutin yang ia sendiri tidak sadar sudah menjalankannya begitu lama.

Waktu memang dapat mengubah manusia. Tapi itu tidak berlaku pada Rivaille.

Kemeja putih berlengan panjang dengan kain cravat menjuntai di lehernya yang seperti biasa. Rambut hitam dan pandangan setajam cutter blade yang juga seperti biasa. Pria itu melangkah ke tempat yang sering ia kunjungi, seperti biasanya.

Menjumpai seorang kekasih hati yang masih terlelap. Sudah 10 tahun berlalu, namun tidak ada yang berubah. Eren tetap akan tidur, dan Rivaille tetap akan duduk diam menemaninya.

"Hei, Eren." Rivaille menyunggingkan senyuman yang tetap menawan meski umurnya telah mencapai kepala empat. Ia mengelus permukaan es abadi yang memeluk pujaan hatinya dalam tidur panjangnya. Tentu keriduan dan perasaan sedih yang tertanam di hatinya tidak menghilang, namun ia sudah lebih bisa menerima semuanya dengan lapang dada.

Setidaknya, waktu bisa melakukan itu. Walau harus berjalan selama 10 tahun.

"Eren, manusia itu memang egois." Rivaille menarik nafas, dan mulai memposisikan dirinya untuk duduk di lantai tepat di depan es itu. Ia sudah sangat kebal dengan rasa dinginnya yang mampu menusuk kulit. "Manusia sudah mulai mengkalim semua tempat di dunia ini. Heh, aku bahkan masih belum tahu seperti apa di luar sana." sang mantan Kopral mendengus geli, "Tapi mereka dengan cepat membentuk wilayah-wilayah, membuat negara, dan sekarang mulai berperang untuk memperebutkannya."

Rivaille mengubah posisi kakinya menjadi lurus. Sial, aku memang sudah melewati masa mudaku, ujarnya dalam hati sambil memijiti area betisnya yang pegal. Ia kembali bicara, "Padahal dulu kita semua bersatu padu demi melawan monster-monster brengsek itu. Setelah makhluk itu punah, sekarang mereka saling memerangi satu sama lain, eh…" ia tersenyum mengingat kakek-kakek botak yang pernah mengatakan hal serupa itu. "Sepertinya pidato si tua Pixis, aku dengar dari Arlert…itu jadi kenyataan, ya.

"Jika manusia jatuh, itu bukan karena ditelan oleh Titan. Tapi karena mereka saling membunuh satu sama lain."

Tangannya merogoh sebuah kantung yang ia bawa, mengambil botol persegi dari steel dengan ukuran sekitar 15cm. Dengan lihai ia putar tutup botol agar terbuka dan tanpa membuang waktu, menenggak isinya. Wine dari dunia luar yang dibawakan Irvin benar-benar segar. Aku ingin tahu darimana asalnya. "Dan sekarang, orang-orang yang memperebutkan kekuasaan atas tiga dinding sialan ini akan datang untuk berdebat pihak mana yang berhak mendapatkannya. Menghadapi mereka membuatku sakit kepala saja."

Rivaille mengambil beberapa tegukan lagi dan lalu menghembuskan nafas dengan puas. "Memang yang masih ada di wilayah dinding hanya segelintir saja. Lebih sepi lagi di dinding Sina ini. Itu pun karena masih ada anjing Military Police yang belum selesai mengemas barang-barang mereka. Aku jadi penasaran sebanyak apa uang dan harta yang mereka korupsi. Huh, jadi iri." Ia melepaskan tawa kecil, "Bercanda. Mana mau aku disamakan dengan sampah-sampah itu."

Sedikit senyuman penuh kebanggaan keluar di bibirnya untuk beberapa saat. Seorang pemikul Wings of Freedom di punggungnya harus memiliki harga diri tinggi untuk tidak melakukan hal sehina itu. Kebesaran nyali untuk mengorbankan diri demi kemanusiaan tidak akan membiarkannya.

Eren pasti setuju. Ia bangga sekali pada lambang divisinya itu, bukan? Rivaille kembali menenggak wine-nya hingga tinggal setengah habis.

Tidak hanya pada Wings of Freedom. Eren Jaeger juga sangat bangga pada kewajibannya. Ia betul-betul berdedikasi, tidak berbeda dengan Rivaille. Mereka tidak dijuluki Humanity's Strongest dan Humanity's Hope tanpa alasan.

Duo Humanity's Strongest Hope yang membawa manusia ke depan pintu kebebasanya.

Huh, terdegar heroik sekali, Rivaille kembali mendengus. Mereka tidak akan sukses tapa pengorbanan para prajurit yang gugur. Mungkin ia akan kembali untuk menyiram batu nisan dengan lambang Scouting Legion yang ia pasang di hutan tempat Petra, Gunther, Auruo, dan Erd tewas nanti. Membawa beberapa tangkai bunga sepertinya ide bagus.

"Aah…" Rivaille mendesah pelan, "Sekarang aku benar-benar sendirian, ya?"

Tidak ada Auruo yang berusaha mengimitasinya. Tidak ada gurauan Erd dan Gunther. Tidak ada senyuman menenangkannya Petra. Dan tidak ada kehangatan dari Eren.

Sekarang, aku hanya akan jadi sisa dari sejarah kelam umat manusia yang tinggal menunggu ajal menjemput. Jika itu artinya aku bisa bertemu dengan kalian lagi, mungkin aku akan menantikan itu. Sekarang ini tidak ada lagi yang bisa kulakukan—

"Rivaille! Bantu aku mengusir mereka, kumohon!" Hanji datang memecah pikiran Rivaille dengan tampang hampir menangis.

Rivaille—mau tidak mau—akhirnya berdiri, mencium lembut es besar yang melingkupi Eren, dan lalu menyusul Hanji ke permukaan yang terang dengan cahaya mataharinya.

Yah, mungkin aku bisa melakukan beberapa hal kecil sambil menantikan saat itu. Rivaille keluar ke lapangan di depan gedung pengadilan Sina, menyebarkan deathglare mematikannya yang sanggup membuat orang-orang serakah ini buang air di celana.

"Mengganggu waktuku bersama Eren, tidak akan kumaafkan."

.

.

"Mereka masih gagal mendapatkan tiga dinding paling bersejarah itu."

"Sial, apa sih yang mereka lakukan?"

"Masih ada pihak yang menolak situs itu untuk diserahkan pada salah satu dari negara yang memperebutkannya, termasuk kita."

"Siapa?"

"Kebanyakan dari mereka, para mantan tentara."

"Apa yang membuat mereka menolaknya?"

"…"

"Jangan-jangan, ada sesuatu yang mereka sembunyikan? Sesuatu yang berharga?"

"Entahlah."

"Tapi jika benar mereka menyembunyikan sesuatu, kita harus memastikannya."

Sebuah senyuman merekah lebar.

"Kalau jalan diplomasi masih buntu, kita akan kibarkan bendera perang. Siapa yang akan mendapatkan Nyonya Maria, Rose, dan Sina. Sekaligus kita rebut sesuatu yang mereka sembunyikan di sana."

"Ide bagus, Yang Mulia."

"Siapkan pasukan."


- To Be Continued -


A/N: Huh, what? The hell did I write?

Reviews Replies: Reniel Moza: Makasih banyaaak! *hug* Tapi chap ini kayaknya lagi nggak gitu angst ya. Ehehe... Azure'czar: Iya sih, emang niatnya fokus ke RivaEren. Soal bakal tetep angst sih...well, kemungkinan iya XD Makasih doanya~ Walau ini juga bisa update setelah ujian...*nangis cantik* Kim Victoria: Upupupu~ kapan lagi bikin si heichou nangis? /authorkampret Maaf update-nya lama yah... Adelia-chan: Iya kayak si Annie. Nggak tau sih apa Eren sebenarnya juga bisa, tapi yah anggep aja gitu XD Soalnya itu yang jadi ide story ini hehehe~ Soal ending, umm.. kita liat aja~~ *ngopi* LinLinOrange: Makasiiiih! *jempol* Wanda aka Fanta: hah emang summary-nya udah bikin galau ya? XD sessho ryu: Kapan lagi dapet kado story galau? Nyahahha~ Woi mesum woi. Ntar aku gambarin lemon deh ya. Harafiah. Wkakakaka Fuyuko Tsubasa: Iya, flashback gitu. Ini udah kembali ke storyline :D dame dame no ko dame ku chan: ahaha syukur kalau ini bisa bikin kokoro anda galau XD Kamikura39: yosh, ganbarimasu! Thanks support-nya! huangangelin: Ini lanjutannyaaa! Miharu Midorikawa: Sok temenin biar gak galau sendirian si om heichou uhuhuhu *ngapa lu yang nangis* Makasih yaaa! TATAKAE /woi

Fiuh~ Makasih ya buat semua yang baca, review, fav, follow! Ai lap yu~! *tebar kecup basah*

Have a good day, folks!

mystic rei