"Kau mungkin mengira aku sudah bisa mengembalikan perasaanmu, Kyu. Sekali lagi, maafkan aku," kata Sungmin penuh penyesalan. Apapun yang terjadi antara dirinya dan Kyuhyun sampai beberapa hari nanti, itu akan menjadi pembelajaran untuknya.

Sekalipun nanti Sungmin jatuh cinta pada Kyuhyun, ia akan membiarkannya begitu saja. Paling tidak semuanya akan setimpal dengan niat jahatnya. Kalau karma memang berlaku dan ia akan mencintai Kyuhyun nantinya, ia tetap akan melepaskan Kyuhyun.

Malam ini Sungmin memilih tidur menghadap Kyuhyun, ia merasakan kedamaian memandang wajah itu. Kalau benar ia jatuh cinta pada Kyuhyun...

"Maaf, Kyu. Selamat malam. Mimpi indah," tutup Sungmin sambil memandang lekat wajah tampan Kyuhyun. Ia tidak bisa mengembalikan ciuman yang kemarin malam Kyuhyun berikan untuknya. Mungkin tidak sekarang.

.

.

.

Title : Thanks To My Phone

Rating : T

Cast : Cho Kyuhyun, Lee Sungmin, and Other

Warning : Terinspirasi dari Drama Korea Sassy Girl Chun Hyang, BoyxBoy, TYPO(s), newbie, membosankan, alur lambat, OOC

Type : Chaptered

Don't Like, Don't Read

.

.

.

-Chapter 10-

Kyuhyun membelalakkan matanya dengan sangat lebar saat membuka matanya pagi ini. Wajah Sungmin yang tertidur lelap didepannya bukan hal yang terlalu baik untuk kesehatan jantungnya yang akan selalu melemah saat berada dekat Sungmin.

"Pagi, Minimi-hyung," bisiknya dengan sangat pelan, tidak mau membangunkan Sungmin sama sekali. Ia jadi ingin tertawa sendiri membayangkan Sungmin yang akan marah padanya jika tahu mereka berada dalam posisi sedekat ini. Ia bersumpah kalau dirinya tidak mau Sungmin memarahinya pagi ini. Karena, jujur saja, Sungmin akan terlihat 20 kali lebih menarik saat marah, apalagi dengan mata foxy tajam penuh hipnotisnya. Dan itu akan menjadi satu dari sekian alasan yang akan membuat Kyuhyun makin tidak tahan untuk terus mendekati Sungmin.

Sesuai dengan insting orang yang sedang jatuh cinta –Entalah, apa bisa disebut begitu karena Kyuhyun sendiri tidak yakin apakah semua orang yang sedang jatuh cinta aan memiliki insting sepertinya– Kyuhyun kemudian menggerakkan tangannya ke pinggang Sungmin, melingkarkannya disana. Membawa tubuh Sungmin berada didekapannya. Ia mengeratkan pelukannya pada manusia manis didekatnya. Memeluk Sungmin untuk pertama kali dalam hidupnya, memberikan sensasi hangat yang tidak bisa digambarkan oleh mulut pedas Kyuhyun. Sesaat setelah itulah Kyuhyun sadar kalau ini akan menambah alasan baginya untuk menjadikan Sungmin miliknya. Ia bersumpah.

"Aku benar-benar mencintaimu, Sungmin-ah," katanya lagi. Kali ini lebih keras dari salam paginya. Kyuhyun kembali mengeratkan pelukannya. Merasakan betapa lembut dan pas tubuh Sungmin dalam dekapannya.

Terlalu terbuai dengan fantasi dan kehangatan yang disuguhkan tubuh Sungmin, Kyuhyun sampai tidak sadar bahwa sosok yang ia kagumi itu sudah bergerak-gerak gelisah. Saat Kyuhyun akhirnya menyadari hal tersebut, ia menahan napasnya dan bersiap akan semua kemungkinan yang akan terjadi. Betapa terkejut dirinya saat yang dirasakan berikutnya adalah lengan Sungmin yang juga melingkar dipinggangnya. Kyuhyun yakin itu hanya gerakan alam bawah sadar Sungmin, tapi ia tidak bisa menutupi perasaan bahagia yang menguar begitu saja dalam dirinya. Ia hanya bisa membalas pelukan Sungmin dengan erat dan menghirup semua aroma khas Sungmin di sekitar lehernya.

Disisi lain, Sungmin hanya bisa membenamkan wajah merahnya di dada Kyuhyun. Ia sudah bangun sejak Kyuhyun membisikkan 'Pagi, Minimi-hyung' tepat didepan wajahnya. Ia berharap Kyuhyun tidak merasakan detak jantungnya yang mulai tidak normal. Ia sudah mengakuinya sebelum ini, kan? Kalau dirinya mulai merasakan perubahan saat dekat dengan Kyuhyun. Atau belum? Baiklah, ia mengakuinya sekarang. Ia akhirnya sadar kalau anemianya tidak kambuh, tapi mungkin ada penyakit baru yang menggerayangi tubuhnya.

Kyuhyun juga tidak membuat detak jantungnya kembali normal dengan kalimat 'Aku benar-benar mencintaimu, Sungmin-ah' miliknya. Ia akhirnya secara refleks melingkarkan tangannya juga di pinggang Kyuhyun. Hal ini ia lakukan agar Kyuhyun tidak memiliki celah sedikitpun untuk melihat wajahnya yang pasti sudah sangat memalukan. Belum lagi, Kyuhyun bisa saja melihat matanya yang terpejam dengat sangat dipaksakan saat ini. Ia hanya bisa berharap Kyuhyun tidak melakukan hal berbahaya lainnya atau ia benar-benar akan mati menahan malu sekarang.

Sungmin tidak bisa bernapas lega saat ia merasakan Kyuhyun melonggarkan pelukannya. Kyuhyun bisa melihat wajahnya sekarang dan ia belum siap dengan itu. Dengan cepat ia memeluk Kyuhyun lagi dan menahan tubuh Kyuhyun supaya pemuda itu tidak melepas pelukannya. 'Apa yang harus kulakukan? Bagaimana kalau aku bangun dan menamparnya? Atau menunggu sampai wajahku tidak panas lagi? Oh, atau bagaimana kalau—' Sungmin belum selesai dengan pikirannya saat Kyuhyun dengan sangat tiba-tiba menarik pelukannya dan mencium bibir Sungmin.

Hal ini mau tidak mau membuat Sungmin membuka matanya dan terbelalak sendiri saat melihat mata Kyuhyun yang menatap lurus padanya. Bibirnya terkunci rapat dengan bibir tebal milik Kyuhyun.

'Astaga, matilah aku!'

Kyuhyun yang merasa dirinya sudah tertangkap basah seperti maling celana dalam memilih untuk memejamkan matanya tanpa melepas ciumannya pada bibir Sungmin. Ia memindahan tangannya yang sebelumnya melingkar dipinggang Sungmin untuk menangkup pipi Sungmin. Jangan salahkan dirinya yang melakukan ini karena ia memang memegang prinsip 'hidup cuma sekali' dan akan mempertaruhkan dirinya untuk ciuman paginya dengan Sungmin.

Saat Kyuhyun merasa Sungmin mau melepaskan diri darinya, Kyuhyun akhirnya menggunakan kekuatannya yang hanya ala kadarnya untuk membalik keadaan dan memutar tubuhnya untuk menindih Sungmin dan mengunci gerakannya. Ia belum siap menerima protes Sungmin pada kelakuan memalukan yang ia lakukan pagi ini sebelum–

"Sungmin-ah," panggil seorang wanita didepan pintu apartemen Sungmin yang terbuka dengan bungkusan makanan yang tergeletak dilantai. Sepertinya ia sudah terlalu tua untuk melihat adegan tindihan itu dilakukan oleh anak laki-laki kebanggannya.

Sungmin yang mendengar suara ibunya dengan sekuat tenaga mengerahkan kekuatannya untuk meninju dada Kyuhyun sekaligus menendang kaki pemuda itu dengan sangat keras. Membuat Kyuhyun terbanting kearah kamar mandi dengan sangat keras.

"Eo...Eomma!"

.

.

Lagi-lagi mereka berdua dihadapkan pada kejadian seperti ini. Duduk dengan tegang di ruang tamu apartemen Sungmin dengan seseorang yang menuntut penjelasan atas tindakan mereka yang dinilai sangat keterlaluan di pagi hari. Kyeongsuk yang sedang meletakkan bahan makanan yang ia bawa di meja dapur hanya bisa pasrah dengan jawaban yang akan ia dengar dari dua pemuda yang menunggu dirinya dengan sangat cemas di ruang tamu sana.

"Ini bukan seperti yang Eomma pikirkan. Kami... Kami tidak selalu seperti itu setiap pagi, ini pertama kalinya. Aku bersumpah," jelas Sungmin dengan meyakinkan saat ibunya sudah memasuki ruang tamu dengan membawa beberapa apel ditangan kirinya dan pisau di tangan kanan.

"Pertama kalinya dan langsung digrebek seperti sedang kumpul kebo. Eomma bersyukur menjadi orang pertama yang tahu kelakuanmu, Lee Sungmin," kata ibu Sungmin dengan kata-kata pedas yang sangat kasar.

"Tunggu sebentar, Ahjumma. Ada yang perlu diluruskan disini. Kami berdua hanya—"

Ucapan Kyuhyun harus terputus setelah melihat ibu Sungmin mengeluarkan pisau dan mulai menunjukkan betapa tajamnya pisau itu dengan cara memotong apel dengan sangat beringas di depannya. Hal itu mulai membuat Kyuhyun mengeluarkan keringat dengan tidak wajar pagi ini.

"Kukira yang keras dikeluargamu hanya ayahmu, Sungmin-hyung," bisik Kyuhyun pada Sungmin yang hanya dibalas death glare olehnya. 'Bukan saatnya bercanda, Cho Kyuhyun,' pesan Sungmin dalam tatapannya itu. Sungmin sendiri nyatanya tidak pernah melihat ibunya seperti ini. Ini pertama kali dalam hidupnya.

"Kau ada jadwal jam berapa, Sungmin-ah?" tanya ibu Sungmin dengan nada yang tetap dingin.

Sungmin tahu jadwalnya masih satu jam lagi, tapi daripada dirinya pusing atas musibah yang dilakukan manusia bodoh disebelahnya, ia memilih melarikan diri dan membuat Kyuhyun bertanggung jawab sendiri. Salah sendiri menciumnya dengan begitu aneh pagi ini.

"Sebentar lagi. Lima belas menit lagi aku harus sampai SM Building," kata Sungmin.

Kyuhyun menelan ludahnya berat. Kalau Sungmin pergi artinya ia akan menghadapi Kyeongsuk-ahjumma sendirian. Lebih baik ia pergi juga, "A...aku juga sebentar lagi harus sekolah, Ahjumma. Aku permi—"

"Hari ini sekolah libur untukmu, Cho Kyuhyun-ah," potong wanita itu dengan sangat dingin.

"Tapi, aku ada ujian hari ini," kata Kyuhyun tidak putus asa.

Suara pisau yang memotong apel yang sepertinya tidak habis-habis membuat Kyuhyun tidak jadi beranjak dari tempatnya dan menghadap wanita dihadapannya.

"Kalau dari kalian berdua tidak ada yang mau menjelaskan apa yang terjadi, Eomma akan memanggil ayahmu, Lee Sungmin dan...Cho Kyuhyun, berikan nomor ponsel orangtuamu. Mungkin harus ada perbincangan antar orangtua hari ini."

Kyuhyun memaksa otaknya berpikir dengan cepat saat ini. Bagaimanapun ia dalam keadaan terdesak. Kalau orangtuanya tahu ia merengek ingin pindah apartemen hanya untuk oh-berciuman-setiap-pagi seperti yang akan diceritakan Kyeongsuk, nyawanya benar-benar akan tamat.

Tapi, Kyuhyun tidak disebut genius tanpa alasan. Beberapa detik setelah memaksa otaknya bekerja, dengan cepat Kyuhyun menyebutkan nomor ponsel ibunya. Ia tidak akan hanya duduk pasrah dan menyerahkan semuanya ke tangan Kyeongsuk-ahjumma karena, pada kenyataannya, dengan kepergian Sungmin, ia justru melihat celah yang luar biasa menguntungkan baginya.

"Baiklah, kalau begitu kalian boleh bersiap untuk kegiatan masing-masing," kata Kyeongsuk sambil membersihkan potongan apel yang tidak jadi dimakan olehnya.

Sungmin beranjak duluan dari tempat duduknya dan tersenyum senang. Paling tidak ia tidak perlu menghadapi masalah baru lagi. Sungmin sudah bisa menebak apa yang mungkin terjadi setelah ini. Mungkin keputusan orangtuanya dan Kyuhyun akan membuahkan perpisahan yang sebenarnya bagi mereka. Memang kedengaran menyedihkan, tapi toh memang ini yang dia inginkan.

Sebelum masuk ke kamarnya, Sungmin sempat melihat Kyuhyun sebentar dan merasa sangat kasihan pada anak itu. "Mianhae, Kyu," katanya sangat pelan.

"Ahjumma, bagaimana kalau aku saja yang menghubungi ibuku?" tawar Kyuhyun dengan keberanian yang entah datang darimana. Yang ditanya hanya menatapnya tanpa mengatakan apapun.

"Aku akan meminta Eomma datang kesini sekarang juga. Akan kutelepon sekarang," katanya meyakinkan. Saat memegang ponselnya, Kyuhyun berhenti sebentar karena bingung dengan ponselnya yang polos tanpa gantungan yang diberikan Sungmin kemarin. Baiklah, bukan saatnya untuk itu, Cho Kyuhyun.

"Eomma, selamat pagi ... Ah, tidak, aku tidak sedang butuh uang ... Aku rindu padamu, Eomma ... Tidak, aku serius tidak sedang butuh uang ... Eomma, mau ke apartemenku pagi ini? Aku rindu masakan Eomma ..." sepenggal percakapan Kyuhyun berhasil ditangkap Ibu dua anak di depannya. Kyeongsuk sudah menyiapkan dirinya untuk bicara dari hati ke hati untuk memisahkan anak laki-lakinya dari Kyuhyun yang juga laki-laki. Bukan hal yang ia inginkan juga, tapi ia belum mau menerima kenyataan kalau anaknya ternyata...seperti itu.

"Eomma mungkin akan sampai dalam 15 menit lagi, Ahjumma. Bolehkah aku pamit mandi dulu?" tanya Kyuhyun yang hanya dibalas anggukan. Laki-laki tampan itu kemudian menyeringai menyeramkan saat dirinya sudah berada di luar apartemen Sungmin.

"Tuhan mempermudah hubungan kita, Sungmin-hyung," bisiknya entah pada siapa.

.

.

.

"Eomma~" kata Kyuhyun manja saat melihat Ibunya sudah berdiri di depan apartemennya. Ia kemudian berangsur memeluknya dan membawa ibunya ke dalam apartemennya.

"Apartemenmu sangat rapi, Kyu. Anak Eomma sepertinya memenuhi janjinya," kata Hanna senang saat melihat betapa rapi ruang tamu Kyuhyun. Andaikan Sang Eomma tahu betapa gilanya Kyuhyun mengerahkan tenaganya selama lima belas menit hanya untuk membereskan semua sampah makanan yang mengendap sejak ia meninggali apartemen itu. Dan jangan lupakan kalau dirinya menyemprotkan pengharum ruangan dengan sangat banyak disana. Kyuhyun bahkan akhirnya tidak mandi dan berakhir hanya dengan memakai jaket di atas piyamanya.

"Kau sudah makan?" tanya Hanna lagi.

"Aku belum makan." Jeda sebentar sebelum Kyuhyun melanjutkan. "Eomma, aku mau Eomma menemui seseorang dulu pagi ini."

Menaikkan alisnya bingung, Hanna bertanya, "Siapa?"

Kyuhyun hanya tersenyum misterius dan membawa ibunya keluar dari apartemen miliknya menuju apartemen tetangga. Menemui seseorang yang menunggu disana. "Katakan saja...calon besan."

.

.

.

"Nah, Eomma, perkenalkan. Ini Kyeongsuk-ahjumma. Calon besan yang kuceritakan...Sekaligus ibu dari Lee Sungmin. Kekasihku."

"MWO?" respon kedua wanita didepannya. Oh, ini akan menarik.

'Pertunjukan dimulai.'

.

.

.

"Jadi, Hanna-sshi. Aku hanya ingin mengatakan apa yang kulihat hari ini dengan mata kepalaku sendiri. Kyuhyun dan Sungmin, pagi ini...dalam posisi intim...sangat tidak sesuai dengan usia Kyuhyun yang bahkan belum selesai sekolah," kata Kyeongsuk dengan susunan kata yang berantakan, karena bingung harus memulai darimana, setelah dirinya dan Kyuhyun serta Kim Hanna duduk dengan nyaman di sofa yang sepertinya mulai biasa ditempati untuk keadaan menegangkan seperti ini.

"Aku akan selesai sekolah dalam beberapa bulan lagi, Ahjumma," timpal Kyuhyun tenang.

"Posisi...seintim apa?"

"Ciuman," balas Kyuhyun jujur. "Sambil tindihan. Pagi ini. Di kasur itu." Kyuhyun menunjuk Tempat Kejadian Perkara yang ia sebut. Dirinya hanya bisa menyembunyikan senyumnya sambil mengelus bulu Sen yang sedang duduk dipangkuannya. Niatnya memang ingin disembunyikan, tapi bagi orang beruntung yang melihatnya, mereka akan mengatakan bahwa senyum yang Kyuhyun tunjukkan tidak jauh dari senyum mesum.

Kyeongsuk hanya bisa menahan napasnya mendengar jawaban jujur Kyuhyun. Disisi lain, Kim Hanna hanya bisa menahan malu atas jawaban dan senyum mesum anaknya.

"Aku mau mengakui banyak hal. Maukah kalian mendengarnya tanpa memotong?" kata Kyuhyun akhirnya. Ekspresi mesumnya sudah berubah dengan sangat serius kali ini. Ia merasa ini saatnya untuk bicara dengan jujur pada kedua wanita didepannya. Tak ada gunanya berbohong pada mereka. Kyuhyun sadar betapa suci kehadiran seorang ibu dan akan betapa berdosa dirinya kalau membohongi dua orang ibu dihadapannya.

.

.

Kyeongsuk menatap intens pemuda didepannya yang terus menceritakan hubungannya dengan Sungmin. Mulai dari pertemuan pertama mereka sampai bagaimana mereka bisa berakhir seperti sekarang. Ia juga tidak bisa mengalihkan tatapannya saat bagaimana senyum dan tawa miris itu Kyuhyun tampilkan ketika ia menceritakan betapa sering Sungmin mengatakan kalau dirinya membenci Kyuhyun. Betapa Kyuhyun terlihat lebih dari bahagia saat mereka akhirnya bisa syuting bersama. Kyeongsuk bahkan ikut tertawa saat Kyuhyun menceritakan bagaimana dirinya memohon dengan sangat memalukan pada PD acara itu. Ia tidak sadar kalau dirinya sudah terbuai dengan cerita Kyuhyun. Jujur saja, apa yang diceritakan Kyuhyun memberikan kesan yang menakjubkan untuknya.

Kyuhyun membenarkan posisi duduknya dan beralih menatap ibunya. Ada banyak emosi yang ditampilkan mata itu, tapi Kyuhyun tidak akan goyah. Ini keputusannya. Ia sebentar lagi akan dewasa.

"Eomma, aku benar-benar minta maaf kalau apa yang kuceritakan membuat Eomma malu padaku. Aku berani bersumpah, kalau seandainya yang kutemui di kereta saat itu, orang yang menghancurkan ponselku dan orang yang melakukan semua yang Sungmin lakukan adalah perempuan, aku akan menyukainya dengan intensitas yang sama seperti yang kurasakan pada Sungmin-hyung sekarang. Ini...bukan karena gender, tapi karena orang itu Lee Sungmin." Kyuhyun menegakkan kepalanya setelah menyelesaikan ucapannya. Ia serius. Kyuhyun tahu bahwa diantara ayah dan ibunya, ibunyalah yang merasakan kekecewaan yang paling besar atas tingkahnya.

Kim Hanna hanya bisa menundukkan kepalanya. Ibu mana yang tega untuk merenggut kebahagian anaknya? Ia tidak bisa menutup matanya begitu saja saat melihat raut antusias itu keluar begitu saja saat anaknya bercerita tentang Sungmin. Tapi, ia tidak punya pilihan. Ia tetap ingin anaknya menjalani kehidupan seperti laki-laki normal di luar sana.

"Kyuhyun-ah." Kyuhyun menatap ibunya. "Eomma tidak punya pilihan, kalian—"

"Bagaimana kalau kita melakukan taruhan, Kyuhyun-ah?" potong Kyeongsuk, membuat dua orang lain di ruangan itu menatapnya.

Kyeongsuk tahu dengan sangat jelas seperti apa sifat Sungmin. Ia tahu betapa hormat Lee Sungmin pada orangtua dan keluarganya. Tapi, ia juga tidak lupa bahwa anaknya sangat penuh misteri dan selalu mengejutkan semua orang dengan tindakannya. Ia yakin membuat Sungmin akhirnya luluh pada Kyuhyun dan berani mengambil resiko untuk mengecewakan orangtuanya bukanlah hal mudah. Kyeongsuk sadar tawaran yang akan ia ajukan pada Kyuhyun tidak bisa memberikan hasil seperti yang ia bayangkan. Tapi, itulah kenapa hal ini dinamakan taruhan, kan?

Kyuhyun memutar otanya lagi, mencoba menebak jalan pikiran wanita di depannya. Hal ini agak diluar rencananya, tapi—

"Ahjumma dan Ayah Sungmin akan merelakan Sungmin untuk menjalin hubungan denganmu dengan syarat Sungmin benar-benar jatuh cinta padamu dan akan mempertaruhkan kehormatan keluarganya dan keluargamu juga. Semua orang tahu kalau cinta tidak bisa dipaksakan. Mungkin agak berlebihan membicaran masalah cinta dengan anak seusiamu, oleh karena itu Ahjumma tidak memberikan batas waktu untuk kalian. Hanya saja, kau harus berhenti mengakui Sungmin sebagai kekasihmu didepan umum sebelum Sungmin benar-benar ingin menjadi kekasihmu, Kyuhyun-ah."

Kyuhyun tersenyum. Ibu dari pemuda yang ia cintai ini tidak jauh berbeda dengan anaknya, mereka sama-sama sulit ditebak. Tapi, Kyuhyun menyukai tawaran itu. Tepat seperti yang ia butuhkan. Ia baru akan membuka suaranya saat ibunya menyela.

"Bukannya aku setuju dengan hubungan Kyuhyun dan Sungmin, hanya saja, taruhan itu kedengaran tidak adil. Bagaimana kalau ternyata dari pihak Sungmin memaksa Sungmin menjauhi Kyuhyun dan menjodohkannya lebih dulu dengan perempuan sehingga membuat Kyuhyun gagal membuat Sungmin jatuh cinta padanya?"

Ibu Kyuhyun kedengaran tidak suka dengan tawaran Kyeongsuk. Ia sadar betapa tawaran itu merugikan Kyuhyun. Mereka semua tahu bagaimana Kyuhyunnya jatuh cinta pada Sungmin dan akan sesulit apa hidupnya jika Sungmin menolak membalas cintanya. Bukannya ia menyetujui Kyuhyun berhubungan dengan Sungmin, hanya saja...dimana harga diri keluarga Cho?

Kyuhyun menahan senyumnya. Ia bersyukur dilahirkan dalam keluarga Cho yang memiliki harga diri tinggi. Tadinya ia sempat khawatir ibunya akan menolak keras tawaran Kyeongsuk-ahjumma, tapi sekali lagi ia berterima kasih pada harga diri keluarganya. Baiklah, ini yang ia tunggu daritadi. Saat dimana kedua wanita ini akan mengeluarkan kalimat jebakannya dan membuat hidupnya bebas dari ketakutan akan dosa pada orangtua yang ia sayangi. Berhenti mengatai Kyuhyun licik, ia hanya manusia biasa yang bisa mengarahkan banyak hal sesuai kemauannya.

'Satu langkah lagi,' batin Kyuhyun semangat.

"Alasan pertama kami melarang kalian berhubungan tidak lebih dari sekadar gengsi dan hal semacam itu. Mendengar cerita darimu, Ahjumma memang kesal padamu. Tapi, dari sisi lain hal itu menunjukkan betapa Sungmin adalah anak berbakti dan tidak mau mengecewakan orangtuanya. Kau tahu apa yang sulit dari taruhan ini? Membuat Sungmin bersedia meninggalkan semua logikanya dan memilih dirimu. Kau mungkin bisa membuat Sungmin kami jatuh cinta padamu, tapi tidak dengan mengorbankan keluarganya," ucap Kyeongsuk pada Kyuhyun. Itu memang benar, Kyeongsuk punya kepercayaan yang sangat besar kalau Sungmin tidak akan meninggalkan keluarganya, tapi disisi lain ia juga yakin Sungmin akan jatuh cinta pada kegigihan Kyuhyun.

Kyuhyun hanya bisa diam. Ia sadar dengan apa yang dikatakan wanita itu benar adanya.

Kyeongsuk kemudian beralih pada Hanna. "Tidak perlu khawatir. Kami, orangtua Sungmin, berjanji tidak akan ikut campur dalam hal ini. Dari dulu kami memang sepakat untuk membebaskan Sungmin dalam memilih pendamping hidupnya, tapi dalam rambu-rambu yang jelas. Kami membebaskan Sungmin untuk urusan cintanya. Siapapun yang beruntung mendapatkan hati Sungmin tidak akan kami larang untuk berhubungan dengannya."

'Baiklah, Cho Kyuhyun kalimat 'kami tidak akan ikut campur' sudah kau kantongi dari calon mertuamu dan yang perlu kau lakukan adalah menunggu kata-kata bermakna sama dikeluarkan oleh Eomma dan setelahnya...hanya ada dirimu dan Sungmin.'

"Sungmin yang akan sangat beruntung mendapatkan hati anakku," balas Hanna tidak mau kalah. Hanna tahu anaknya yang membuat masalah disini. Dan walaupun taruhan ini kedengaran tidak adil, rasanya ini pantas bagi Kyuhyun. Toh kalau Kyuhyun gagal, anak laki-lakinya itu akan kembali ke jalan yang benar.

"Oh, kita akan lihat apa anakmu sepantas itu untuk Sungmin," kata Kyeongsuk dengan nada sedikit meremehkan. Ia agak tidak menyukai sikap wanita didepannya, tapi ia harus mengakui bahwa akan sangat menyenangkan pergi jalan-jalan dengan orang ini.

"Kyuhyun pasti akan mendapatkan Sungmin," balas Hanna dengan semangat. Ia menatap anak laki-lakinya dengan antusias kemudian berbisik, "Buktikan kalau ucapan Eomma bukan sekadar omong kosong, Kyu. Eomma tahu kau bisa."

KLIK

Kyuhyun menekan tombol stop di ponselnya. Menunjukkan kalau ucapan kedua wanita didepannya sudah ia rekam sebagai bukti kalau ia mendapat lampu hijau untuk mendapatkan Sungmin.

"Dengan catatan, jangan lakukan pemaksaan pada Sungmin. Jangan paksa dia untuk berciuman denganmu seperti pagi ini, apalagi sampai tidur denganmu, Cho Kyuhyun atau Eomma tidak akan segan untuk melaporkanmu pada polisi atas tuduhan pelecehan seksual," tambah ibunya lagi yang kali ini disetujui anggukan oleh Ibu Sungmin. Paling tidak Kyeongsuk sadar Kyuhyun dan Ibunya bisa dipercaya untuk menjaga ucapan mereka. Sekarang semuanya ada ditangan mereka berdua. Oh, mungkin ditangan Sungmin lebih tepatnya.

Kyuhyun hanya membalas dengan senyuman.

"Kalau begitu, bolehkah aku permisi? Aku sudah sangat terlambat untuk ujian."

Kyuhyun tidak sabar menceritakan ini semua pada Donghae.

"Jangan katakan apapun pada Sungmin, Kyuhyun-ah," pesan Kyeongsuk saat Kyuhyun sudah didepan pintu apartemen.

"Tentu, calon ibu mertua," balasnya yang ditanggapi ekspresi terkejut dari Kyeongsuk.

"Anakmu punya kepercayaan diri yang sangat tinggi, Hanna-ya." Kyeongsuk menatap wanita di sampingnya. "Sama seperti dirimu saat di seminar dulu."

Kim Hanna hanya bisa tersenyum. "Karena dia memang anakku, Sunbaenim."

Kalian percaya kalau dunia ini sempit? Kenyataannya, dunia ini memang terlalu sempit untuk para aktivis sosial dari kalangan atas. Ibu Sungmin pernah bertemu dengan Ibu Kyuhyun sekali disebuah seminar sosial dan tidak bisa melupakan sifat percaya diri wanita itu. Tidak perlu dijelaskan bagaimana pertemuan mereka karena pada kenyataannya itu semua tidak lepas dari sentuhan takdir.

"Mau masak bersama untuk mereka? Ah~ Padahal aku ingin kita berbesan dengan normal." Tersirat nada sedih dalam ucapan Kyeongsuk. Kim Hanna tertawa. Awalnya mereka pernah berencana mengenalkan Sungmin pada Ahra, tapi siapa yang tahu kalau ternyata Sungmin bertemu dengan Kyuhyun lebih dulu.

"Seandainya aku tahu anakmu itu adalah Sungmin yang kukagumi, aku akan gencar mendekatkannya dengan Ahra, Sunbae."

Mereka hanya bisa tertawa miris. Semuanya sudah terlambat.

.

.

"Donghae-hyung, annyeong~" sapa Kyuhyun dengan sangat manis saat menemukan Donghae di kantin sekolah mereka.

"Ujian sudah selesai kau baru datang. Apa begini kelakuan orang yang sedang jatuh cinta?" ejek Donghae pada temannya.

"Aku bisa ikut susulan, tenang saja. Ah~ hari ini sangat cerah. Baru pertama kali ini aku bisa merasakan aroma kehidupan," balas Kyuhyun sambil tertawa seperti orang sinting.

"Dasar gila. Hal apa yang membuatmu sebahagia ini, Cho Kyuhyun? Apa Lee Sungmin?" tebak Donghae.

"Darimana kau tahu, Hyung? Apa kau punya indera keenam?" tanya Kyuhyun sambil tetap tertawa.

"Tertulis jelas di dahimu," kata Donghae sambil memukul dahi Kyuhyun dengan sumpit. "Apa Sungmin sebegitu suka dengan kucingmu? Apa kejutanmu semalam berhasil?"

Kyuhyun hanya bisa melantunkan melodi indah dari penggalan lagu cinta yang ia tahu saat mendiamkan pertanyaan Donghae. Tangannya terulur untuk mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan wallpaper ponselnya yang berupa kucing manis dengan kalung 'Kyumin's' di lehernya. Donghae hanya bisa menggelengkan kepalanya tidak percaya saat melihat gambar itu.

"Menggelikan, seakan-akan kucing itu anakmu dan Sungmin," responnya bercanda.

Kyuhyun menanggapinya dengan senyuman yang makin merekah di wajahnya. Ia kemudian memaksa Donghae mendengarkan 'bukti rekaman lampu hijau' yang ia dapatkan pagi ini.

"Wow...kau...wow! Apa ini artinya mereka setuju?" Kali ini Donghae benar-benar percaya kalau Kyuhyun jenius. Yang ditanya hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya berkali-kali.

"Katakan sesuatu, Kyuhyun-ah. Katakan pada temanmu ini seperti apa perasaanmu saat ini, eoh? Bahagia? Mau mati? Ingin bersedekah tiba-tiba?" Donghae mendorong bahu Kyuhyun dengan gestur memaksa.

"Perlukah kau tanyakan itu, Lee Donghae?" Kyuhyun bahkan tidak tahu bagaimana mengekspresikan kebahagiannya saat ini.

"Kau mau tahu hal lain yang sampai membuatku ingin memeluk semua makhluk di muka bumi ini?" Tanpa menunggu jawaban Donghae, Kyuhyun menggoyangkan ponsel hitamnya di depan wajah Donghae. Memamerkan gantungan berwarna pink yang menghiasi ponselnya. Disusun membuat kata 'Minimi's' disana.

"Minimi's? ... Jangan bilang ini buatan Sungmin...untukmu?"

Kyuhyun hanya membalas dengan suara tawa 'kekeke' khasnya. Jangan tanyakan bagaimana ia bisa menggantungkan gantungan itu di ponselnya karena tadi pagi ia menemukannya begitu saja tergeletak di kamar mandi setelah selesai melepas celana tidurnya dan langsung menggantungkannya sesuai insting. Perasaannya? Kyuhyun tidak bisa melupakan bagaimana dirinya nyaris terpeleset karena kebahagian terus menggerayangi dirinya pagi ini. Ia sangat yakin gantungan itu buatan Sungmin. Siapa lagi yang tahu panggilan Minimi itu kalau bukan dirinya dan Sungmin? Minimi's? Astaga, ia yakin Sungmin terlalu malu menggantungkannya langsung tadi malam. Mengingatnya saja sudah membuat dada Kyuhyun kembali bergemuruh.

"Ponselmu benar-benar memberikan kebahagian level dewa untuk hidupmu yang haus akan cinta, Kyuhyun-ah," timpal Donghae yang ikut senang akan kebahagian Kyuhyun. Tadi ingatannya akan ucapan Sungmin yang akan meninggalkan Kyuhyun sempat terlintas dipikirannya, tapi melihat gantungan ponsel itu, Donghae yakin Sungmin tidak akan melakukan itu.

"Jadi, mungkin traktiran setelah ini, Cho?"

Kyuhyun menanggapinya dengan bahagia. "Katakan aku akan membayar makanan semua orang yang makan disini."

.

.

Sungmin tidak bisa konsentrasi pada pemotretannya hari ini. Ia penasaran jawaban apa yang Kyuhyun berikan pada ibunya. Apa jawaban tidak masuk akal lagi?

"Salahku meninggalkannya. Argh! Cho Kyuhyun sialan," umpatnya kesal setelah sesi pemotretan selesai dengan aman.

"Telepon saja kalau kau merindukannya, Min." Leeteuk menimpali dengan asal. Tebakannya benar, Kyuhyunlah satu-satunya yang menjadi alasan pemotretan Sungmin agak berantakan hari ini.

"Dasar pasangan muda," tambahnya.

'Teuki-hyung benar. Lebih baik kutelepon sekarang. Siapa tahu masih sempat mengatasi tingkah nekat Kyuhyun.'

Sungmin tidak butuh waktu lama untuk menunggu panggilannya terhubung.

"Sungmin-hyung?" suara Kyuhyun masuk ke pendengarannya.

"Kau dimana?"

"Sekolah. Ada apa?"

"Sudah selesai? Aku mau bertemu denganmu. Ada yang mau kubicarakan."

'Bukankah aku hanya ingin bertanya masalah Eomma? Kenapa harus minta bertemu segala?' Sungmin membenturkan kepalanya dengan agak keras. Kenapa dirinya tiba-tiba ingin bertemu Kyuhyun?

"Sudah. Mau bertemu di restoran dekat stasiun?"

"Tidak. Aku yang akan ke sekolahmu. Kau sekolah dimana? ... Baiklah, aku akan sampai tiga puluh menit lagi ... Sampai bertemu." Sungmin menutup panggilannya sambil menghela napas berat. Apa yang ada dipikirannya sebanarnya?

Leeteuk yang menguping pembicaran Sungmin daritadi mau tidak mau tersenyum sendiri. Pasangan itu benar-benar manis. Seakan-akan mereka pemalu tapi kalau mereka ditinggal berdua saja bisa main badan. Tapi, tidak bisakah mereka berhenti mengumbar aura cinta itu ke seluruh penjuru ruangan? Kasihanilah dirinya yang masih single.

Matanya kemudian menangkap gantungan ponsel Sungmin yang sepertinya berbeda dari yang biasa. "GaemGyu's? Kyuhyun maksudmu? Itukah panggilan imut darimu untuk Kyuhyun?" tanyanya penasaran. Yang ditanya hanya bisa menundukan kepalanya menahan wajahnya yang memerah.

"Ini...hadiah," katanya sambil memasukkan ponselnya ke saku.

.

.

.

Kyuhyun mengembangkan senyumannya, yang sepertinya tidak ada habisnya dari pagi, saat melihat sebuah mobil berhenti didepannya. Ia menemukan Sungmin dengan kacamata hitamnya menurunkan kaca mobil dan meminta Kyuhyun segera masuk. "Kacamata, Sungmin-hyung? Kau sakit mata?" tanya Kyuhyun sambil menutup kaca mobil. Sungmin kemudian melepas kacamata hitamnya dan memukul kepala Kyuhyun.

"APA?" kata Kyuhyun kesal. Sungmin hanya membalas dengan mendengus kesal. Ia sebenarnya kesal pada dirinya sendiri, tapi malah berakhir dengan memukul orang lain. Maafkanlah dirinya yang tidak konsisten hari ini.

Akhirnya Sungmin hanya bisa tertawa sambil mengatakan maaf berkali-kali pada Kyuhyun. Sungmin akhirnya tahu, ia akhirnya sadar kenapa ia ingin beretemu dengan pemuda ini. Mata Kyuhyun memberinya kekuatan untuk melanjutkan rencananya. Dan jangan salahkan dirinya akan hal-hal yang akan terjadi setelah ini, karena pada nyatanya, ini semua sudah ia pikirkan dengan matang.

"Kau sudah makan siang, Kyu?" tanya Sungmin dengan lembut. Kyuhyun menjawabnya dengan belum dan mulai membuka suaranya, menceritakan alasannya tidak makan yang tidak lain dikarenakan interogasi panjang oleh Ibu Sungmin padanya. Sungmin yang memang penasaran mendengarkan Kyuhyun dengan sabar dan mengarahkan mobilnya menuju danau yang memang ingin ia datangi.

Selesai berbicara dengan cerita versi Kyuhyun –yang tentu hasil karangannya— Kyuhyun menutup mulutnya dan membiarkan keadaan diam menyelimuti mereka beberapa menit. Keheningan itu pecah saat Sungmin mengatakan kalau mereka sudah sampai dan Kyuhyun harus turun.

"Kau tidak takut ada fans yang mengganggu, Minimi-hyung?" tanya Kyuhyun sambil meregangkan badannya.

'Minimi, itu manis, Kyu,' kata Sungmin dalam hati.

"Tenang saja, disini memang sepi. Cocok untuk..."

"Pacaran," sambung Kyuhyun bercanda, yang ternyata disambut senyuman oleh Sungmin. Tanpa menunggu waktu lama, Sungmin menarik tangan Kyuhyun dan membawanya duduk di bangku taman yang menghadap ke danau.

Mereka berdua tidak tahu harus melakukan apa, cuaca yang sedikit berawan membuat mereka mengantuk dan hanya bisa menikmati semuanya dalam diam. Tidak dalam konteks canggung, tentu saja.

"Kyu...kenapa kau menciumku tadi pagi?" Sungmin akhirnya menyuarakan apa yang membuatnya penasaran sejak pagi. Oh, tunggu ia sudah tahu alasannya. Baiklah, hanya saja... Sungmin ingin mendengarnya sekali lagi.

"Aku—Entahlah. Hanya sedang ingin mencium seseorang. Dan, Sungmin-hyung, jangan berpikiran kalau aku mesum atau semacamnya, atau aku mengambil kesempatan atau apa karena—"

Sungmin hanya tertawa. Kyuhyun tidak bisa sejujur saat dirinya terlelap. Ia kecewa. Ia berharap Kyuhyun mau jujur padanya saat ini. Jujur mengatakan padanya kalau dia mencintai Sungmin dengan lantang dan berani. Tapi, Kyuhyun tetaplah Kyuhun. Remaja 17 tahun.

"Ciumanmu tidak enak, bodoh," kata Sungmin. Membuat Kyuhyun menatapnya tidak percaya. Ia hanya bisa menggembungkan pipinya. Aegyo Kyuhyun.

"Iuuuh, tidak cocok," Sungmin menghina Kyuhyun dan memukul pelan pipi Kyuhyun. Kyuhyun hanya bisa tertawa. Ia tidak tahu semenjijikkan apa wajahnya saat aegyo tadi.

"Bagaimana kalau ajari aku, Hyung?"

Sungmin menolehkan kepalanya. Tiba-tiba angin bertiup dengan sangat lembut dan menggoyangkan rambut dua pemuda disana. Sungmin tidak tahu apa hanya dirinya yang merasakan ini, tapi tiba-tiba ia merasa suasana di danau ini berubah romantis.

"Ajari apa? Cara aegyo?"

Diam sebentar.

"Atau cara berciuman?" tambah Sungmin yang disambut wajah Kyuhyun yang makin mendekat ke arahnya. Saat bibir mereka sudah tinggal saling sentuh, Kyuhyun memenjamkan matanya. " Ajari aku cara berciuman, Sungmin-ah," bisiknya pelan.

Sungmin yang entah kenapa merasa pikirannya dalam keadaan ringan sekali saat ini dengan begitu saja menerima sentuhan bibir Kyuhyun dan memejamkan matanya. Pemuda manis itu tertawa dalam hati, bibir mereka beretemu tiga kali, tapi baru kali ini ia merasakan ciuman yang sesungguhnya dengan Kyuhyun. Ternyata benar kalau bibir Kyuhyun sangat lembut. Benar kalau rasanya sangat menyenangkan mencium pemuda ini.

'Kemana akal sehatmu, Lee Sungmin?' batin Sungmin mengganggu. Sungmin dengan cepat membuka matanya dan berniat melepas tauatan bibir mereka, kembali ke kehidupan nyatanya dan sadar akan kodratnya, sebelum ia melihat mata Kyuhyun yang masih terpejam dan mencoba meresapi semua rasa yang ada pada bibir bentuk M-nya.

Hal itu mau tidak mau membuat Sungmin kembali terbuai dan kembali menutup matanya. Membuka mulutnya perlahan dan mengalungkan tangannya pada leher Kyuhyun. Sungmin tidak pernah mengalungkan tangannya saat berciuman dengan orang lain. Ini pertama kalinya sedikit membuat dirinya tertarik.

Persetan dengan kodratmu, Minimi?

.

.

.

Setelah mereka berciuman, Kyuhyun memeluk Sungmin erat, mengatakan terima kasih berkali-kali. Sedang yang dipeluk hanya diam. Sungmin tidak bisa membalasnya dengan kata-kata atau apapun. Ia benar-benar bingung, apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya? Semudah itukah ia membuka hatinya untuk Kyuhyun? Benar-benar...semudah itukah? Apa yang akan ia katakan pada keluarganya nanti?

Dalam hatinya Sungmin tertawa getir, ternyata karma memang ada. Ia pantas menerimanya. Kenyataannya ia yang bodoh dan pengecut disini. Selama ini ia mengakui dengan keras kalau anemianya kambuh, padahal ia tahu dengan sangat perasaan apa yang ada pada dirinya.

Kyuhyun melepas pelukannya dan menatap Sungmin dalam. Senyuman itu tidak pernah lepas dari wajahnya. Ia menggengam tangan Sungmin dan mengelusnya lembut.

"Aku menyukaimu, Min-hyung. Aku jatuh untukmu sejak pertama kali kita bertemu. Aku tidak bisa melakukan banyak hal dengan benar saat memikirkanmu. Aku terus berbohong agar aku bisa terus dekat denganmu. Aku tidak bisa menormalkan deta jantungku saat dekat denganmu. Aku tidak bisa melepaskan pandangan mataku saat kau disampingku. Aku... Aku mencintaimu." Kyuhyun berkata dengan jujur. Ia tidak bisa menahan perasaannya sekarang. Semuanya seakan harus ia lepaskan sekarang. Biarkan Sungmin tahu, biarkan Sungmin me—

"Terima kasih," balas Sungmin singkat. Terlalu singkat untuk pengakuan panjang dan mendadak milik Kyuhyun. Tentu saja itu membuat Kyuhyun sedikit kecewa dan penasaran atas perasaan Sungmin yang sesungguhnya padanya. Siapa pula yang tidak akan penasaran?

Apa alasan Sungmin bisa menciumnya dengan lembut hari ini alau bukan karena Sungmin mencintainya? Kyuhyun tertawa sendiri dengan analisisnya. Ia tidak tahu kalau selama ini Sungmin sudah membalas perasaannya tanpa ia ketahui.

'Ciuman itu, gantungan ponsel, semuanya... Ah bodoh, kemana saja aku selama ini? Itu semua bukti kalau kau mencintaiku, Hyung. Itu lebih dari cukup.'

Kyuhyun membuka hatinya, ia memaklumi Sungmin yang mungkin malu mengatakannya padanya. Yang jelas, ia yakin Sungmin sudah menaruh hati padanya.

Sungmin menundukkan kepalanya dan dengan cepat ia memberikan senyum terbaiknya pada Kyuhyun. "Kau keberatan kalau kuminta kau memelukku sekali lagi?" Dengan itu Kyuhyun kembali memberikan pelukan terbaiknya untuk Sungmin, membenamkan wajahnya di leher Sungmin. Ia ingin Sungmin tahu betapa bahagia dirinya saat ini.

Sungmin awalnya terlihat ragu untuk membalas pelukan Kyuhyun, sampai akhirnya ia menyadari perasaan hangat yang Kyuhyun berikan padanya. Ia kemudian menggerakkan tangannya dan membalas pelukan Kyuhyun yang sangat erat. Mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ia menyukai saat dimana Kyuhyun merengkuhnya dan menyalurkan sinyal positif padanya.

Pemuda manis itu kembali disadaran oleh logikanya. Ia melepaskan pelukan Kyuhyun.

"Aku kedinginan, tapi mau es krim, Kyu," katanya manja sambil menunjuk penjual es krim yang berada di lumayan jauh dari tempat mereka.

Kyuhyun lalu melepas jaket yang ia kenakan dan memakaikannya pad Sungmin. "Akan kubelikan. Tunggu disini ya, Hyung," balas Kyuhyun setelah meremas tangan Sungmin sebentar dan mulai melangkah ke arah penjual es krim.

Sungmin hanya bisa menatap miris punggung Kyuhyun, dengan cepat ia meraih saku jaket Kyuhyun, mencari ponsel Kyuhyun. Setelah mendapatkannya, ia melepas gantungan ponsel Minimi's yang ia berikan pada Kyuhyun. Jujur saja Sungmin sudah mengincar gantungan itu sejak Kyuhyun seakan memamerkan gantungan itu padanya saat di mobil.

Pemuda dua puluh tahun itu menatap lama gantungan ponsel yang ia buat penuh semangat semalam, tapi dengan cepat ia melempar gantungan ponsel itu ke semak-semak.

"Kau bukan milikku, Cho Kyuhyun. Banyak perempuan yang menunggu untuk kau kencani diluar sana," katanya dengan nada sedih setelah memasukkan ponsel Kyuhyun kembali ke saku jaketnya.

.

.

.

"Kau mau kemana setelah ini, Hyung?" tanya Kyuhyun dengan semangat saat mereka memakan es krim mereka. Sungmin membalas dengan ceria dan mengatakan kalau dirinya akan kembali ke tempat pemotretan untuk sesi berikutnya.

"Kyu, nanti malam kurasa kau tidak bisa menginap. Eomma mau menginap malam ini," kata Sungmin sambil menatap Kyuhyun. Ia menunjukkan ekspresi sedihnya.

"Tidak masalah. Masih ada besok," kata Kyuhyun tenang. Sungmin hanya menimpali dengan senyum manisnya, sebelum ia akhirnya membuka jaketnya dan pamit untuk kembali menjalani rutinitasnya sebagai seorang artis.

"Pakai saja jaketnya, Min-hyung. Kembalikan padaku nanti malam. Kau bilang sdang kedinginan," kata Kyuhyun menolak jaketnya. Sungmin dengan cepat menyerahkan jaketnya.

"Aku hanya ingin merasa kau memelukku saat kau tinggal beli es krim tadi," ujarnya dengan manis.

"Hyung, nanti malam kutelepon ya," tutup Kyuhyun sebelum melepas Sungmin kembali ke mobilnya. Sang Artis hanya bisa mengacungkan jempolnya sambil tersenyum.

"Hyung," panggil Kyuhyun lagi, membuat Sungmin menoleh padanya. "Terima kasih atas hari ini. Aku sangat senang. Aku mencintaimu," katanya sedikit bereteriak.

Sungmin memakai lagi kacamata hitamnya, menyembunyikan mata sekaligus ekspresi aslinya dibalik itu. Ia membenahi dirinya yang mulai kacau dan membuat suaranya terdengar riang. "Sama-sama, Kyuhyun-aaaaaah. Sampai bertemu lagi. Daaaah..."

'Aku juga mencintaimu,' lanjutnya dalam hati.

.

.

.

"Eomma, aku mau pulang," kata Sungmin saat melihat ibunya sedang menonton televisi di apartemennya malam ini. Sang ibu hanya bisa menatapnya bingung sambil memfokuskan dirinya pada anak sulungnya.

"Ada masalah, Sungmin-ah?" tanyanya bingung. Tadi pagi anaknya tidak seperti ini.

"Aku mau tinggal di Ilsan lagi. Aku mau tidur dikasur lamaku malam ini. Aku mau tinggal bersama kalian lagi, aku rindu masakan Eomma, aku rindu bicara dengan Appa, bermain dengan Sungjin. Pokoknya aku rindu rumah," lanjut Sungmin sambil tertunduk. Keputusannya sudah bulat. Ia akan pergi malam ini juga.

"Malam ini? Bagaimana kalau besok, Min-ah?"

"Mianhae, Eomma. Aku mau malam ini. Eomma mau membantuku membereskan barang-barangku sekarang?"

Kyeongsuk hanya bisa menatap sinar redup dimata Sungmin. Apa yang terjadi?

Tidak ada 'sampai bertemu', Cho Kyuhyun. Semuanya selesai hari ini.

.

.

.

To Be Continued

Saya ga tau mau bilang apa, yang jelas karena UAS udah selesai semoga chapter selanjutnya bisa siap disajikan(?) cepet-cepet mumpung masih anget. Ga aya chapter ini udah basi kadaluarsa -_-

Makin kesini saya liat Kyukyu makin ngenes idupnya. Bukan salah saya ini semua kehendak Sungmin yang masih bisa mengedepankan logikanya. Tapi buat saya Sungmin udah mulai keliatan ngenes. Kasian loh dia ga tau kalo ortunya udah ngasih lampu ijo xD

Ya mengingat ff ini udah mulai menunjukkan wajahnya, saya mau bilang makasih banyak banget banget buat temen-temen semua. I LOVE YOU MUAH MUAH :*

As always, balesan review non login dibawah. Yang login, mian internet ga memungkinkan, nanti saya pasti bales kok :(

Eh, lupa saya, kemaren ada yang ngingetin saya kalo kata gay lebih halus dari homo. Maaf ya kalo tulisan itu mengganggu atau semacamnyaaa. Mana banyak pula, hadooooh D: Makasih banyak koreksinyaaa. Saya suka banget *tebar angpao*

-Chapter 1-8-

Himalayavenus : Wah review dari awal? Kamu luar biasaaaaaa *kisshugandpiece* Kok kamu tahu sih Ming suami saya? Hahaha #diceburin kesumur sama Kyuhyun. Makasih banyak reviewnyaaa, udah nyempetin review dari awal bener-bener deh, ckckckck pokoknya Dahsyat! XD

-Chapter 9-

evilbunny : iya ini dilanjut, maaf lama *bow*

MinKyuMin : Ini lanjutannya. Iya kan bener kasian dia, apalagi di chapter ini diangkat ke surga firdaus dibuang ke neraka jahanam. LOL

ChoLee : wkwkwk saya juga suka Evil!Sungmin sekalipun itu OOC. Ini lanjutannya, semoga puas(?)

ZaAra eviLKyu : Eaaa sehati sama Kyukyu. Kalo aku lebih ngenes ngeliat Sungmin yang merana, mungkin aku juga sehati sama Sungmin :9 Maaf ga bisa kilat

misaki aekyo : Thanks to you too~ Selamat datang di Thanks To My Phone. Kasian emang Kyu disini *pukpuk Kyu* Happy End dongssss kan aku ga suka broken Kyumin, hehehe

Meong : Kalo ini masih sendu ga? Sekarang udah ga di kejar setan kok, jadi semoga lanjutannya bisa ga nyampe lumutan begini ya, hoho

Z : Soalnya Min masih punya harga diri, kalo Kyu udah abis kalo buat Sungmin *hah? Sabar Kyuuu

shim chan rim : Maaf banget ya baru bisa apdet sekarang. Kemaren UAS sih *gaadayangnanya. Saya juga ga kebayang kasian Kyuuu, sini aku peluk Kyuuu *ditendang Sungmin* NC? Wow, seandainya ada yang bisa ngajarin saya bikin NC :9

love haehyuk : LOL basa jawa, untung ibu saya bahasanya beginian jadi bisa ngerti. Pokoke maknyos deh chapter depan (ga lama-lama maksudnya xD) Semoga Sungmin mngambil jalan yang terbaik ya~ Iya nih saya lagi kebawa arus Arya Wiguna, ada juga yang nyadar saya selipin begituan wkwkwk

winecouple : Hehe, tapi disini kucingnya belom mulai bermain nih(?) Harus! Saya juga ga rela kalo liat Kyu ditinggal Ming~

Sparkyu : Dan sepertinya disini Sungmin bahkan udah sadar. Hehe, maaf ya lama banget apdetnya. Pokoknya ini lanjutannya, selamat menikmati :D

Tika : Begitulah Kyumin, kalo diliat sekilas bikin adem tapi kalo ditelusiri sampe dalem bisa kena hutan duri #apasih

ririn chubby : Iya panggil eonnie gapapa senangnya punya adik(?) Iya sih Siwon padahal tampil di ff ini cuma bentar tapi bawa efek dahsyat buat uri Sungmin, ckckck. Semoga sungmin ga jadi pergi deh :) Kyuhyun pasti bisa gila kalo beneran ditinggal, sebenernya mau bikin adegan mabok disini, tapi berhubung dia masih 17 tahun ga mungkin ada scene itu. Lol. Maaf curhat lagi saya. Dan ini lanjutannya~

Park Ha Mi : Aku terima saran kok tenang ajahhh xD Saran dablek siwon punya manfaat kok nanti, mari lihat dan saksikan :9 Maksih dukungannya! :D

Chikyumin : *hugsbalik* Saya Cuma bisa ngasihanin Kyu, semuanya Ming yang urus XD

Findaa : Annyeong juga^^ Pokoknya apapun akhirnya, terima jadi dah (hah?) becanda Happy kok~

Diamond : Semoga bisa bersatu, hehe. Karena ff ini Kyumin focus banget, jadi yang lain normal yaa

Sanyewook : Gapapa, untung ff ini masih ketemu ya udah lama banget soalnya. Semoga Kyu ga nyampe mau bunuh diri pas ditinggal Ming. Maaf ya ga bisa kilat-kilat apdetnya. Eh iya, kamu sampe review 2 kali ya say? Pasti lupa udah pernah lupa, pasti juga gara-gara saya ga apdet apdet. Mianhaeee.

vey900128 : Iya ngebayangin Min pura-pura kuat padahal sakit hati juga bakalan nyesek banget deh.

Sissy : 100 chapter? Modar saya *_*

Jirania : Hehe pantes kita tak bersua di kotak review.

Guest : Maklimin aja dia masih bocah. Sunat aja belom, lol. Sotoy banget guaaa

Lee Minry : *tutup kuping Ming dari saran siwon* Chapter ini berakhir dengan begitu *deepsigh* terima yaaaa

lee sunri hyun : Tapi Sungmin ga jahat *peluk Sungmin* dia masih galau aja kok, chingu^^

KYUMINTS : EAAAA ada yang kangen sama saya *tebar bunga* Sungmin itu masih normal, kalo kyu udah...ya tau sendiri dah. Jangankan kamu, saya aja penasaran sama endingnya xD

mariels25 : Tapi sungmin gimana ya...masih mau normal gitu loh (apasih) Aduh jadi kakak lagi, hahay. Saya ga tau ujungnya Sungmin ninggalon Kyu apa engaak yaa *balikin kitty eyes*

KyuWie : *pukpuk* ga akan ada sad ending kok di TTMP. Karena ff ini drama, yah ada turun naek emosi deh didalemnya kaya drama, jadi ditunggu aja sampe keadaan tidak memanas(?) yaaa

I'm minhun : Karena saya banyak tugas, terus UAS, terus persiapan mau Saturdaynight bareng Uming tgl 1 juni kemaren terus #dibekep Sungmin. LOL jadi dibikin menderita apa enggak nih si kyukyu? Yaaah kalo sad kecewa ya? Yang ini apalagi dong T.T Mereka bakal bersatu kok.

fifin yefi137 : *ikut nangis* Amiiiin KyuMin ga boleh pisah ^^b

kimteechul : Kenapa bingung sama chapter 9? Cerita sama sayaaa *ala mamah dedeh*

Ria : Salam kenal juga^^ Iya gapapa, juga kalo udah ketinggal banyak chapterbakal begituu. Pokoknya, Kyu harus bikin Min suka sama dia, titik xD Biarkan Siwon berkoar tentang rencana dableknya hahaha

Ashani : Ow? Really? Thank you *hug*Saya soalnya cinta mati sama karakter ming yang kayak gini, Kyu yang polos-polos jail juga favorit saya kalo baca ff kyumin. Ah, saya bakal sangat sangat bahagia kalo ada yang mau ngangkat ff ini jadi ftv atau novel with kyumin on it^^

Unknownsparkyu : Ya ampun sampe begitu? Sini saya obatin mana ulu hatinya? Ya...yah jangan jadi sider lagi dongs T.T

Nada : Siwon ya? Dia penuh misteriiiii. Dahsyat 9 chapter langsung dilahap. Saya mah bosen, apalagi bikinan saya sendiri :v

Dessykyumin : Jawabannya diatas yaaaa, kasian emang kyukyu, sama saya aja deh sini *ditampol Sungmin*

Ulinulinuha : Hebat dah *apaan sih* Chapter ini semoga ga biin galau yaaa

Shelly : Dan ketegangan itu mungkin akan kembali berlanjut di chapter ini dan depan~

Terakhir, tolong tinggalkan reviewnyaaaa pleaaaase :)