"Lo berdua seriusan gapapa 'kan?!"
Boboiboy menganggukkan kepalanya meskipun Gopal tidak akan bisa melihatnya. Mata cowok itu melirik ke arah dapur, memperlihatkan Yaya dan ibunya tengah berbincang diselingi tawa tanpa menyadari keberadaannya. Boboiboy menyandarkan kepalanya pada pintu belakang rumah, terus menatap dua wanita favoritnya itu dengan ponsel ditempelkan di telinga.
"Hm, gue sama Yaya gapapa. Tadinya gue mau nyamperin mereka, tapi pasti bakal ada perkelahian. Jadi gue bawa Yaya pergi dari sana dulu, buat ngelindungin dia." jawab Boboiboy dengan suara sepelan mungkin. Terdengar helaan napas panjang dari seberang telepon, membuat Boboiboy yakin Gopal tengah khawatir padanya.
"Syukur deh. Lo harusnya telepon kita, bego! Kalo lo dihajar lagi gimana?"
"Ya diobatin."
"Gue serius, anjing!"
Boboiboy terkekeh. Berteman lama dengan Gopal membuatnya dianggap seperti adik sendiri oleh cowok itu. Boboiboy pun sudah menganggap Gopal kakaknya sendiri. Meskipun menyebalkan, Gopal adalah orang paling pertama yang akan mengkhawatirkannya setelah ibunya. Ah, lebih tepatnya setelah Yaya sepertinya, karena Yaya sudah menempati posisi nomor 2 dalam hidupnya.
"Iyaa, sorry."
"Tapi lo yakin, mereka geng Adu Du?" tanya Gopal kemudian.
Boboiboy terdiam sejenak. Orang yang mengikutinya saat di rumah Ying tadi belum bisa dipastikan apakah dia bagian dari geng Adu Du atau bukan. Satu-satunya yang menjadi ciri khas bawahannya Adu Du adalah tatto di pergelangan tangan mereka. Tatto itu berbentuk api yang membara, dan Boboiboy selalu menemukannya saat ia tiba-tiba dihajar oleh orang tak dikenal. Kecuali pada saat ia menyelamatkan Yaya dari sekumpulan preman di gang dekat rumahnya.
Namun untuk kali ini, Boboiboy tak menemukannya pada orang itu. Dia hanya memandangnya penuh selidik, membuat Boboiboy yakin orang itu berhubungan dengannya.
"Gue nggak tau. Nggak sempet ngeliat tangannya,"
"Gue mau nanya deh sama lo."
Boboiboy mengernyit bingung. "Kenapa?"
"Lo... cerita ini sama Yaya?"
Pertanyaan itu membuat Boboiboy refleks menatap ke arah Yaya di sana. "Hm, tapi nggak semuanya gue cerita ke dia."
"Gimana tanggepan dia?"
"Dia khawatir sama gue," ujar Boboiboy. Yaya tampak tertawa bersama ibunya di depan kitchen set. Entah apa yang sedang mereka tertawakan, namun itu mampu membuatnya tersenyum.
"Gue cuma mau kasih tau lo satu hal," Gopal memberi jeda sebentar sebelum melanjutkan. "Yaya mungkin bisa jadi kekuatan lo sekarang. Tapi dia juga bisa jadi kelemahan lo."
"Maksudnya?" Boboiboy mengernyit tak mengerti. Suara Gopal terdengar sangat serius tak seperti biasanya. Tidak ada sahutan dari Gopal selama beberapa detik, sebelum akhirnya terdengar helaan napas pelan.
"Lo bakal ngerti nanti. Be careful,"
Sambungan telepon kemudian mati begitu saja. Boboiboy terdiam di tempatnya. Apa maksud Gopal tadi? Kenapa Yaya bisa menjadi kekuatan sekaligus kelemahannya? Boboiboy tak kunjung menemukan jawabannya.
Dihelanya napas pelan sekali lagi. Entah apa maksud Gopal, Boboiboy memutuskan untuk berhenti memikirkannya. Lebih baik ia fokus untuk saat ini, pada dua wanita cantik yang masih bercengkrama di sana. Boboiboy berjalan menghampiri mereka dengan wajah penuh senyum. Kehadirannya langsung disadari oleh sang pacar.
"Ngomongin apa, sih? Kayaknya seru banget?"
Ibunya menatapnya dari kursi rodanya. "Kepo banget kamu. Udah sana, Mama masih mau ngobrol sama Yaya."
Boboiboy pura-pura cemberut karena merasa dicampakkan oleh ibunya sendiri. Yaya tampak menahan tawa di sampingnya.
"Tapi maaf banget nih, Mamaku yang paling cantik. Sekarang udah jam 11, cewek ini harus pulang sesegera mungkin sebelum ibunya marah,"
"Kalo Mamamu yang paling cantik ini nggak mau gimana?" balas sang ibu.
"Yah, jangan dong,"
Yaya tertawa kecil. Ibu Boboiboy kemudian menatapnya, membuatnya berlutut agar posisi mereka setara.
"Yaya nggak mau nginep aja di sini? Tante sendirian, pasti anak Tante habis ini keluyuran lagi. Tante kesepian nanti,"
Boboiboy berdeham pelan atas sindiran itu. Yaya tersenyum tipis.
"Maaf, Tante. Aku belum izin ke ibu, jadi harus pulang sekarang," jawab Yaya sopan.
"Yah, tapi kamu harus sering-sering ke sini, ya? Nanti kita bikin kue bareng-bareng!" seru ibu Boboiboy. Yaya tersenyum dan mengangguk setuju.
Setelah berpamitan, Yaya akhirnya pulang ditemani Boboiboy. Keduanya melangkah keluar rumah besar itu. Saat tiba di teras Yaya baru menyadari sesuatu.
"Kamu nggak pake motor kamu?"
Boboiboy menoleh padanya sembari membuka pintu garasi. "Nggak. Aku udah minta tolong pak satpam buat ambil motor aku kok malem ini. Lagian, nganter pacar malem-malem nggak boleh pake motor. Nanti masuk angin," balasnya sambil tersenyum manis.
Yaya mengangkat alisnya bingung. Ia mengikuti Boboiboy masuk ke dalam garasi, mendapati sebuah mobil hitam terparkir di sana. Pintu kemudi dibuka oleh cowok itu sambil menatap ke arahnya.
"Yuk, masuk. Keburu ibu kamu pulang," katanya. Dilihatnya Yaya tampak terdiam seperti kebingungan. Boboiboy terkekeh kecil karena Yaya tampak menggemaskan di matanya. "Tenang, aku bisa nyetir kok. Nggak bakal nabrak,"
Yaya kemudian terlihat tertegun karena ucapannya. Gadis itu memanyunkan bibirnya sebal dan masuk ke dalam mobil. Boboiboy terkekeh geli, ikut masuk lalu menyalakan mesin.
"Sudah siap, tuan putri?" tanyanya jahil.
"Boboiboy!"
"Bercanda, sayang."
Mobil hitam itu pun melaju di malam yang semakin larut.
Kelas masih sepi saat Yaya tiba. Gadis itu sengaja datang lebih awal hari ini karena menghindari sang ibu. Untungnya pak Yanto tak berkata apa-apa saat dirinya minta untuk berangkat pagi-pagi sekali tanpa sepengetahuan sang ibu. Untuk saat ini Yaya masih merasa kesal pada ibunya, meski amarah ibunya itu untuk kebaikannya sendiri.
Yaya mendudukkan dirinya di kursi dan merebahkan kepalanya di meja. Wajahnya menghadap ke arah meja Boboiboy yang berada di sebelahnya. Cowok itu tentu saja belum datang. Kemarin malam ia berhasil tiba di rumah dengan selamat dan ibunya baru pulang tepat setelah Boboiboy pergi. Entah jam berapa Boboiboy sampai di rumahnya, mengingat jarak rumah mereka terpaut cukup jauh. Semoga saja cowok itu tidak terlambat hari ini.
Memikirkan tentangnya membuat Yaya teringat kejadian semalam. Pikiran Yaya didatangi berbagai macam pertanyaan tak terjawab. Boboiboy bilang kalau orang yang mengejar mereka semalam adalah geng Adu Du, preman yang menjadi musuh sang kekasih. Tentu ini menjadi kebingungan besar bagi Yaya, karena ia sama sekali tak pernah masuk ke dalam dunia itu, dunia para preman. Yaya hanya pernah melihatnya dari film, dimana geng preman itu seringkali beradu cekcok dengan geng lain hanya untuk menunjukkan siapa yang paling kuat. Tapi Yaya tak pernah menyangka, ia memiliki seorang pacar yang juga bagian dari mereka.
Yaya menggelengkan kepalanya kuat karena pikirannya mulai dihampiri dugaan-dugaan buruk. Boboiboy tidak mungkin melakukan hal jahat atau kriminal seperti tokoh antagonis di film yang pernah ia tonton. Cowok itu juga pernah bercerita padanya kalau geng yang ia ikuti tidak seburuk kelihatannya. Boboiboy sendiri pun pasti tidak menyangka niat baiknya menyelamatkan Kaizo dulu akan menghasilkan dampak yang membawanya ikut bergabung ke geng Kaizo, dan dianggap musuh oleh Adu Du. Ini hanya sebuah kebetulan, Yaya yakin itu.
Hanya saja, perkataan Iwan semalam berhasil membuat Yaya terus memikirkannya. Pertanyaan besar pun muncul tanpa pernah Yaya persilakan, membuatnya semakin penasaran bagaimana latar belakang sang pacar. Boboiboy... orang baik, 'kan?
"Heh, jubaedah! Kemaren lo kemana, hah?!"
Yaya terlonjak kaget di tempatnya berkat suara melengking itu bonus gebrakan meja. Kepalanya terangkat dan sosok Ying yang menatapnya penuh tuntutan terlihat. Alih-alih protes karena Ying mengejutkannya, Yaya meringis minta maaf. Ia sampai melupakan acara ulang tahun Ying saking sibuknya memikirkan Boboiboy.
"Itu... um, aku..." Yaya mendadak gelagapan. Jawaban apa yang harus ia berikan pada Ying? Tidak mungkin 'kan ia jawab dengan mengatakan : 'kemaren aku sama Boboiboy dikejar preman'.
"Apa? Tiba-tiba ilang sama Boboiboy. Lo berdua nge-date ya?" tanya Ying menuduh.
Mata Yaya membola. Ia ingin membantah hal itu namun otak dan tubuhnya tidak bekerja sama, jadi kepalanya mengangguk polos.
"Ih jahat lo ya!" pekik Ying kesal. Yaya segera tersadar dan buru-buru menggeleng.
"Eh, nggak! Aku nggak nge-date sama dia, Ying!" seru Yaya sambil berusaha menghindari tabokan cinta dari Ying. "Kemaren itu–" Yaya menatap takut-takut pada Ying yang menatapnya tajam. "–ada masalah sedikit. Jadi aku sama Boboiboy terpaksa pergi duluan karena urgent, sampe lupa ngabarin kamu."
Ying menghela napas kasar dan membuang wajahnya. Melihat itu tentu membuat Yaya merasa bersalah dan meminta maaf lagi. Tapi mau semarah apapun, Ying tetaplah Ying. Sahabatnya.
"Oke. Gue maafin. Tapi lo harus cerita sama gue sekarang!" Belum sempat Yaya berbicara, Ying sudah duduk di tempat Boboiboy dan menatap penuh padanya. "Gimana lo sama Boboiboy? Baik-baik aja?"
Yaya terdiam. Ia kembali memikirkan Boboiboy dengan rasa khawatirnya yang kembali muncul. Jika ditanya kabar hubungannya, jawabannya adalah baik-baik saja, tidak ada masalah. Namun justru, masalah itu ada di salah satu pihak di antara mereka dan Yaya tidak tahu harus melakukan apa untuk Boboiboy.
Karena itulah, Yaya berucap pada sang sahabat, "Ying. Kalo Fang punya masalah yang... katakanlah berat, apa yang bakal kamu lakuin?" tanya Yaya. Sekilas Ying tampak terkejut namun gadis itu dengan segera menjawab.
"Pasti gue pengen bantu dia, sih. Gue tanya dia dulu baik-baik, biar dia cerita ke gue ada masalah apa. Cuma kalo Fang itu, dia nggak suka kalo gue ikut campur masalahnya."
"Karena nggak mau ngebebanin kamu?" tanya Yaya.
Ying mengangguk. "Bener. Cowok itu biasanya suka nyimpen masalahnya sendirian. Dia nggak bisa langsung cerita kalo nggak ditanya, dan cenderung mau nyelesein masalah itu tanpa ngelibatin ceweknya." Ying diam sejenak untuk memperhatikan mata Yaya yang mengarah ke bawah. Entah sejak kapan sorot mata itu berubah sendu. "Boboiboy... lagi ada masalah kah?" tanya Ying hati-hati.
Yaya mengangguk pelan. "Iya, aku mau bantu dia, Ying. Tapi aku bingung caranya,"
Ying menyilangkan tangannya di depan dada dengan raut berpikir. "Bener juga. Ditambah lagi, kalian belum lama kenal. Pasti lo belum tau secara mendalam kan kehidupan dia gimana?"
"Belum. Kita memang ngelakuinnya pelan-pelan sih, dan aku juga nggak maksa Boboiboy cerita tentang dia semuanya. Cuma, aku ngerasa hubungan kita berat sebelah kalo dia nggak mau aku bantu masalahnya,"
Ying mengangguk paham. Sebagai orang yang sudah menjalani hubungan asmara lebih lama dari Yaya, ia tahu bagaimana rasanya. Ingin membantu, tapi tidak tahu bagaimana caranya, hingga menganggap diri sendiri tidak berguna karena tak melakukan apa-apa sebagai pacar. Tangan Ying terulur untuk mengusap bahu Yaya, menyemangati sang sahabat yang baru merasakan pacaran setelah bertahun-tahun jomblo.
"Gue cuma bisa kasih saran. Lo tanya dia baik-baik, bilang ke dia kalo lo bersedia jadi tempat cerita. Itu bisa ngebuat dia lupain sedikit masalah dia. Dan yang paling penting, lo harus ada buat dia. Jangan biarin dia lewatin itu sendirian. Karena kadang, seseorang cuma butuh ditemenin, dan juga dukungan dari orang tersayangnya."
Benar. Yaya setuju dengan perkataan Ying. Kini hatinya tak merasa bingung lagi, perlahan-lahan Yaya dapat mengatasi kekhawatirannya.
"Jadi, Yaya Yah, lo harus semangat! Lo pasti bisa!"
Pelajaran kedua untuk hari ini adalah olahraga, pelajaran yang sangat Yaya benci karena melibatkan fisik. Seperti kebanyakan perempuan, Yaya jarang berolahraga hingga membuat fisiknya lemah. Tapi sebagai pejuang nilai, Yaya tetap mengikutinya meski dengan ogah-ogahan.
Pak Zola sudah berdiri di depan mereka dan memulai acara pemanasan. Barisan cowok dan cewek diatur secara terpisah. Dari tempatnya, Yaya bisa melihat Boboiboy berdiri di barisan kedua, tampak serius melakukan pemanasan, berbanding terbalik dengannya yang menggerakkan badannya dengan malas di barisan belakang.
Pandangan Yaya tak terlepas dari sosok sang pacar. Perkataan Ying tadi masih melekat di kepala Yaya. Gadis itu sudah tahu apa yang harus dilakukan. Tapi kapan sekiranya waktu yang tepat untuk mengajak Boboiboy berbicara, Yaya belum tahu itu. Dan lagi, bagaimana reaksinya nanti? Yaya takut hal itu akan membuat Boboiboy berubah.
"Hari ini saya akan mengambil nilai dengan lari. Dua orang akan dipanggil dan siapa yang paling cepat sampai pada gawang, dia mendapat nilai tertinggi." seru Pak Zola di depan sana.
Yaya mengeluh mendengarnya. Kemampuan berlarinya sangat payah, pasti dia akan dapat nilai pas-pasan nanti. Namun ia tak bisa protes, Yaya hanya pasrah ketika sang guru olahraga meminta para cowok bersiap sementara anak-anak ceweknya disuruh duduk menonton.
Pak Zola menyebutkan nama sesuai absen. Boboiboy dan Fang menjadi yang pertama. Seluruh teman-temannya bersorak, tampak menanti keduanya berlomba. Yaya hanya memperhatikan Boboiboy dalam diam, tanpa memedulikan Ying yang sudah duduk di sebelahnya dengan mata menantang.
Boboiboy dan Fang sudah bersiap di garis start yang dibuat Pak Zola. Keduanya saling melirik dengan aura menyeramkan, membuat semua pasang mata yang menontonnya mendadak tegang.
Dan pada saat suara pluit Pak Zola terdengar, kedua cowok itu berlari cepat menuju gawang 30 meter di seberang sana. Semua teman-temannya menyerukan nama mereka, termasuk Ying yang meneriakkan nama Fang dengan suara super cemprengnya itu. Yaya menontoninya dalam diam, bagaimana jarak antara Boboiboy dan Fang hanya beda tipis sekali. Dan saat hampir mencapai garis finish, semuanya menahan napas untuk melihat hasilnya.
Suara pluit kembali terdengar tanda selesai.
"Yang pertama sampai... Boboiboy!"
Suara sorakan kembali terdengar, sementara Yaya tersenyum tipis menatap Boboiboy yang juga sama menatapnya. Ying mengeluh keras, lalu berlari menenangkan Fang yang menggerutu dengan tatapan sinis ditujukan pada Boboiboy.
Pengambilan nilai terus dilanjutkan sampai tiba giliran anak-anak cewek. Sialnya, Pak Zola memanggil nama dari absen paling bawah. Yaya yang huruf depannya Y menjadi kena batunya, dan lawannya dengan siswi absen teratas, yaitu Amy. Meskipun tak kenal dekat dengan Amy, Yaya tahu gadis itu adalah anggota paskibra sekolahnya, dan pasti kemampuan fisiknya lebih unggul.
Dengan harapan setipis tisu, Yaya berjalan menuju garis start. Ia sempat berpandangan dengan Boboiboy yang duduk di antara anak-anak cowok, tangannya terkepal ke atas sebagai gestur menyemangati. Hal itu membuat Yaya tersenyum kecil, rasa semangatnya menjadi membara.
Dan pada saat pluit kembali dibunyikan, Yaya memelesat cepat tanpa memedulikan sekitarnya. Gawang di seberang sana menjadi satu-satunya yang ia tatap, seolah hidupnya bergantung pada benda itu. Napas Yaya memburu di tengah-tengah lariannya. Sorakan teman-temannya terdengar samar di telinga, dan gawang itu semakin jelas di matanya. Yaya tersenyum sumringah ketika kakinya berhasil mencapai gawang itu, dan pluit Pak Zola kembali terdengar.
"Pemenangnya... Amy!"
Yaya menghela napas kasar. Sudah ia duga. Gadis itu berjalan gontai menuju tempatnya tadi. Namun karena tak berhati-hati, kakinya tak sengaja menginjak batu di sana hingga membuat kakinya keseleo. Tak ada yang menyadarinya karena semua fokus pada dua orang yang ingin mengambil nilai. Sambil meringis, Yaya berusaha meluruskan kakinya. Ia baru ingin berdiri tegak saat tiba-tiba seseorang berjongkok di depannya, lalu menyentuh pergelangan kakinya yang tertutup celana olahraga.
"B-boboiboy..."
"Jangan dipaksain. Kamu duduk dulu." ujar Boboiboy tanpa mengalihkan pandangannya. Yaya dengan kikuk duduk di hadapannya, mencoba meluruskan kakinya sambil meringis tertahan. Boboiboy kemudian memijatnya pelan, membuat urat tegang di sana perlahan-lahan reda.
"Masih sakit?" tanya cowok itu, kepalanya sudah terangkat dan menatap Yaya cemas.
"Sedikit. Tapi gapapa, kok. Kamu bisa ke sana lagi." balas Yaya pelan. Ia mengawasi sekitar dengan was was, takut ada yang melihat mereka.
Boboiboy tak memedulikan itu. Tangannya terus memijat pergelangan kaki Yaya sampai benar-benar sembuh.
"Kamu liatin aku terus daritadi. Ada yang mau kamu omongin?" tanya Bobiboy kemudian.
Yaya tertegun. Tak menyangka Boboiboy akan menyadarinya. Apa terlihat sangat jelas?
Karena tak mendapat respon, Boboiboy berhenti mengurut kaki Yaya lalu memandangnya. Gadis itu hanya diam menatapnya.
"Tatapan kamu," Telunjuk Boboiboy menyentuh pelipis Yaya sebentar, membuat gadis itu refleks berkedip. "Tatapan yang sama pas pertama kali kita ketemu." lanjut Boboiboy. "Aku bukan cenayang yang bisa langsung tau pikiran kamu. Jadi, ada apa?"
Jantung Yaya berdetak lebih cepat dari biasanya kala mata Boboiboy menatapnya begitu intens. Ia hampir tidak bisa berpikir jernih jika tak mengalihkan pandangan cepat-cepat. Tunggu. Bukankah harusnya Yaya yang mengatakan itu karena ingin membantu Boboiboy? Kenapa sekarang jadi terbalik? Yaya memaki dirinya sendiri dalam hati.
"Yaya?"
"Oiii! Kalian sedang apa di sana?! Cepat ke sini!"
Teriakan itu membuat keduanya terkejut. Saat Yaya menatap kembali ke arah teman-teman sekelasnya, mereka semua sudah menontoni dirinya bersama Boboiboy di pinggir lapangan.
"Cieee, Boboiboy sama Yaya pacaran!"
"Uhuuyyy!"
"Waduuhh pangeran dan putri mesra banget di sana!"
Yaya buru-buru berdiri dan menunduk malu. Boboiboy juga ikut berdiri. Berbeda dengan Yaya yang malu setengah mati sampai ingin menghilang segera, Boboiboy malah tersenyum mendengar ledekan dari teman-temannya.
"Kita nggak pacaran, kok. Cuma temen," balas Boboiboy. Yaya makin meringis malu di tempat. Kenapa Boboiboy pakek nanggepin segala, sih?!
Ledekan dan siulan untuk mereka kian bertambah. Pak Zola hanya menghela napas melihat sikap anak didiknya dan menyuruh mereka untuk berkumpul. Yaya langsung ngacir ke tempat Ying berada tanpa menyadari Boboiboy terus menatapnya dengan senyum.
Rumor Yaya dan Boboiboy tersebar luas dengan cepat berkat kejadian saat olahraga tadi. Yaya harus tahan mati-matian tatapan tajam yang terus membuntutinya kemanapun ia pergi dari para siswi. Tentu saja, siapa yang rela jika si anak baru yang dengan cepat bisa jadi idola sekolah berkat keberaniannya saat insiden kantin kebakaran, memiliki pacar yang hanya gadis biasa?
Karenanya, Yaya menjaga jarak dari Boboiboy untuk sementara. Saat bel istirahat berbunyi nyaring, ia langsung memelesat keluar kelas sebelum Boboiboy yang sedang ke toilet menyadarinya. Gadis itu menghela napas lega ketika kakinya menapaki lantai rooftop sekolah. Hanya ini tempat ia bisa aman.
Sembari matanya menyapu pemandangan yang ada di hadapannya, Yaya tersenyum karena teringat ia dan Boboiboy pernah menghabiskan waktu bersama di rooftop markas geng cowok itu. Mereka berdua duduk di aspal tak beralaskan apapun, menatap kagum pada langit yang membentang di atas sana. Mungkin Yaya harus berterima kasih pada Gopal nanti, karena jika ia tidak dipaksa masuk olehnya, Yaya tak akan pernah merasakan momen itu bersama Boboiboy.
"Aku cariin di sini ternyata."
Yaya hampir memekik kaget kala suara familiar itu menyapa gendang telinganya. Sosok Boboiboy sudah berdiri di sampingnya, menatap ke depan seolah tak melakukan apa-apa dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.
"Kok kamu tau aku disini?" tanya Yaya kaget.
Boboiboy kemudian menatapnya. "Tadi aku liat kamu naik tangga pas mau ke kelas. Yaudah aku ikutin," jawabnya enteng.
Yaya meringis malu dan membuang wajahnya. Betapa bodohnya ia.
"Soal yang tadi, maaf ya," Boboiboy bersuara lagi dengan nada pelan. Yaya menoleh, alisnya mengernyit tak mengerti. "Karena aku nyamperin kamu tadi, jadi rumor kita pacaran kesebar,"
Yaya mendadak merasa tidak enak. Di sebelahnya Boboiboy tampak merasa bersalah. Keduanya memang sepakat untuk menjalani hubungan ini secara diam-diam, sesuai dengan yang Yaya minta. Tapi mau serapat apapun mereka menutupinya, pasti akan terbuka juga.
"Bukan rumor, tapi emang beneran kita pacaran kok," balas Yaya. "Itu bukan salah kamu, Boboiboy. Cepat atau lambat, mereka pasti tau kalo kita pacaran. Aku nggak papa, asal fans kamu yang gila itu nggak berulah..." Yaya menghentikan ucapannya dan menggerutu kesal. Masih tidak terima para siswi kecentilan itu memandangnya sinis seolah ia adalah pelaku pembunuhan.
"Fans? Emangnya aku ada fans?"
Yaya mendelik kesal, Boboiboy hanya terkekeh melihatnya.
"Biarin aja. Nggak usah ladenin mereka. Walaupun satu dunia membenci kamu, aku bakal tetep milih kamu," ucap Boboiboy dramatisir.
Yaya tertawa. "Kamu puitis banget kayak Tulus." Ia lalu menatap Boboiboy lamat-lamat. "Coba aku tanya, berapa kali kamu pacaran, Boboiboy?" tanya Yaya jahil.
"Nggak pernah. Ini pertama kalinya sama kamu."
"Bohong!" bantah Yaya tak percaya.
"Aku serius. Kamu sendiri, berapa kali kamu pacaran, Yaya Yah?" tanya Boboiboy balik.
"Belum pernah."
"Bohong!" balas Boboiboy meniru ucapan Yaya tadi.
Yaya sontak tertawa. Boboiboy pun ikut tertawa atas tingkah konyol mereka. Keduanya sama-sama tersenyum di sana, membiarkan angin sepoi-sepoi membelai wajah mereka.
Saat tawa mereka reda, Yaya melirik Boboiboy yang menatap jauh di depan mereka. Ia menelisik wajah tampan itu, bertanya-tanya apa sekiranya yang sedang Boboiboy pikirkan. Obrolannya dengan Ying pagi tadi kembali teringat, Yaya sampai saat ini belum berani melakukannya agar Boboiboy bercerita tentang masalahnya. Apa ini saat yang tepat? Tapi bagaimana memulainya?
"Kamu tau?"
Yaya terkesiap tiba-tiba Boboiboy kembali bersuara. Sang gadis tetap diam menatapnya, menunggu kalimat selanjutnya diucapkan.
"Kadang aku mikir, aku nggak seharusnya ada di dunia ini."
Ucapan itu tak pernah Yaya harap akan keluar dari mulut Boboiboy. Gadis itu menatap heran bercampur tak percaya pada sang pacar. Sementara yang ditatap, masih belum mengalihkan pandangannya dari langit. Seolah memberitahu, pikirannya sedang berkelana begitu jauh.
Da pada saat mata itu akhirnya mau balas menatapnya, Yaya tahu, Boboiboy akhirnya ingin membuka diri padanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
oke makin gajelas. jangan banyak berharap sama ff ini, karna gua pun ilang ilangan niatnya. tapi diusahain selesai kok, semoga.
tengkyu yang udah nunggu sampe lumutan. next? review jangan lupa.
