"Hyung," panggil Kyuhyun lagi, membuat Sungmin menoleh padanya. "Terima kasih atas hari ini. Aku sangat senang. Aku mencintaimu," katanya sedikit bereteriak.

Sungmin memakai lagi kacamata hitamnya, menyembunyikan mata sekaligus ekspresi aslinya dibalik itu. Ia membenahi dirinya yang mulai kacau dan membuat suaranya terdengar riang. "Sama-sama, Kyuhyun-aaaaaah. Sampai bertemu lagi. Daaaah..."

'Aku juga mencintaimu,' lanjutnya dalam hati.

.

"Eomma, aku mau pulang," kata Sungmin saat melihat ibunya sedang menonton televisi di apartemennya malam ini. Sang ibu hanya bisa menatapnya bingung sambil memfokuskan dirinya pada anak sulungnya.

"Ada masalah, Sungmin-ah?" tanyanya bingung. Tadi pagi anaknya tidak seperti ini.

"Aku mau tinggal di Ilsan lagi. Aku mau tidur dikasur lamaku malam ini. Aku mau tinggal bersama kalian lagi, aku rindu masakan Eomma, aku rindu bicara dengan Appa, bermain dengan Sungjin. Pokoknya aku rindu rumah," lanjut Sungmin sambil tertunduk. Keputusannya sudah bulat. Ia akan pergi malam ini juga.

.

.

Title : Thanks To My Phone

Rating : T

Cast : Cho Kyuhyun, Lee Sungmin, and Other

Warning : Terinspirasi dari Drama Korea Sassy Girl Chun Hyang, BoyxBoy, TYPO(s), newbie, membosankan, alur lambat, OOC

Type : Chaptered

Don't Like, Don't Read

.

.

.

a/n : Saya rekomendasikan OST dari Sassy Girl Chun Hyang yang judulnya Am I Supposed To Be Sorry dari As One, I Love You dari Kim Hyung Sup, dan I Want you To Be Happy dari Lim Hyung Joo buat nemenin temen-temen baca chapter ini :) Buat yang tau drakor Sassy Girl ChunHyang, kalian pasti tau banget 3 lagu yang saya tunjukin itu nunjukin scene apa di drama itu *grin*

-Chapter 11-

Sungmin sedang memasukkan pakaiannya ke koper saat ibunya terus saja memandanginya bingung. Sudah berkali-kali Kyeongsuk menanyakan apa yang terjadi padanya, tapi jawabannya tidak jauh dari 'Aku rindu rumah'. Bukan seorang ibu jika ia tidak merasakan ada kebohongan didalam jawaban anaknya, dan ia yakin Sungminnya berbohong. Tapi, mungkin bukan saat yang tepat untuk memaksa anaknya bercerita sekarang.

"Nah, kurasa ini dulu. Besok atau lusa aku akan mengambil sisanya," kata Sungmin sambil menutup kopernya, membuyarkan semua tebakan di pikiran Kyeongsuk. Ia kemudian melirik lemari pakaian Sungmin, menemukannya dalam keadaan kosong.

"Sisanya? Tidak ada sisanya. Kau memasukkan semua pakaianmu, Sungmin-ah. Semua."

"Aku berpikir akan tinggal lama di rumah, jadi daripada repot bolak-balik, lebih baik kubawa semua. Maksudku barang lain, Eomma. Barang yang lain tidak terlalu penting, jadi bisa diambil kapan-kapan." Sungmin tertawa sambil menatap ibunya. Ia berdiri dari tempatnya membereskan pakaian dan bergegas menuju kamar mandi, mengambil peralatan mandinya.

Sungmin kembali dengan peralatan mandinya saat melihat Sen berputar-putar didepannya, seolah meminta perhatiannya. Ia menatap kucing manisnya sebentar sebelum kemudian meraih kucing itu dan menggendongnya. Matanya terarah pada kalung di leher kucing itu.

Kyumin's

"Tenang saja, aku tidak akan meninggalkanmu, Sen," ucapnya sambil tersenyum dan mengusap kepala Sen. Dia punya banyak alasan untuk membawa Sen bersamanya, tapi alasan utama mengapa dia tidak mungkin meninggalkan Sen atau mungkin mengembalikan Sen pada Kyuhyun adalah, Sen mengingatkannya pada Kyuhyun.

Benar.

Katakan saja ia bodoh, tapi ia tidak keberatan kalau harus tetap hidup dalam bayang-bayang Kyuhyun sampai nanti–sampai kapanpun. Sungmin berani bersumpah, ia tidak mau melupakan apapun yang terjadi antara dirinya dan Kyuhyun sampai saat ini. Bagi Sungmin, Kyuhyun itu sama dengan orang lain yang penting dalam hidupnya, tapi disaat yang sama Sungmin juga merasa Kyuhyun terlalu spesial untuk disamakan dengan orang lain. Se-spesial itu Cho Kyuhyun baginya sampai ia merasa perorbanannya sekarang akan membuahkan sesuatu yang bagus untuk Kyuhyun di masa depan.

'Kau boleh membenciku, Kyuhyuh-ah. Maki aku sampai semua perasaan kesalmu habis dan aku akan menerimanya. Aku tidak akan membalasnya, karena paling tidak, dunia tidak akan mengataimu, memandang rendah dirimu, memakimu...menjauhimu.'

Sungmin kembali mengusap kucingnya, ia yakin pilihan yang ia sambil sangat tepat untuk Kyuhyun.

Berbicara tentang Kyuhyun, Sungmin segera meraih ponsel pinknya, mengecek apakah Kyuhyun menghubungi atau mengirim pesan padanya. Itulah hal yang ia takutkan sebenarnya. Tapi, seakan Tuhan setuju dengan rencananya, ponselnya tidak memberikan tanda-tanda bahwa Kyuhyun menghubunginya. Ia menganggukkan kepalanya berkali-kali tanda mengerti.

Pemuda manis itu segera kembali ke aktivitas awalnya. Tinggal sedikit lagi sebelum semuanya selesai.

.

.

Kyuhyun tidak bisa menelepon Sungmin malam ini. Bukan, bukan karena Sungmin menolak teleponnya, tapi lebih karena...ia takut. Bayangkan saja, bagaimana ia akan menghadapi Sungmin saat dirinya digelayuti perasaan bersalah karena menghilangkan hadiah pertama yang Sungmin berikan padanya?

Ia memutar mobilnya ke arah kanan, berharap menemukan danau yang tadi siang ia datangi bersama Sungmin. Kyuhyun mengutuk dirinya yang tadi siang pulang dengan taksi dan bukannya bis umum.

"Seandainya tadi aku naik bis umum, aku pasti tahu danaunya dimana. Tapi, astaga, aku bahkan tertidur di taksi. Menyebalkan," ia mengumpat sambil memukul kemudi mobilnya.

Semenjak sampai di apartemennya tadi siang, Kyuhyun kalang kabut saat tahu ponsel hitamnya kembali menjadi ponsel lamanya yang tidak penting dan membosankan. Ia sempat menenangkan dirinya sebentar sebelum emosinya kembali menguat saat mengingat gantungan ponsel itu adalah hadiah dari Lee Sungmin-nya tercinta. Ia sampai menggunting saku jaketnya, berharap gantungan itu ada disana. Tapi, hasilnya nihil, ia tetap tidak menemukannya. Jadilah dirinya curiga bahwa gantungannya mungkin terjatuh saat ia di danau bersama Sungmin.

"Sungmin pasti marah padaku kalau dia tahu gantungannya aku hilangkan. Sialan. Lain kali, perhatikanlah jalan dengan benar, Cho Kyuhyun," katanya pada diri sendiri. Ia melirik jam digital di dashbornya.

20.13

Ia harus cepat sebelum Sungmin mungkin akan curiga karena dirinya tidak jadi menelepon Sungmin.

"Mana danaunya? Aku ingat tadi ada penjual es krim. Sialan, penjual es krimnya hilang." Kyuhyun memutari tempat penuh rumput yang ada di hadapannya. Lagi-lagi Kyuhyun harus kecewa karena ia yakin bukan tempat yang ini. Danau yang ia datangi tadi memiliki bangku yang menghadap ke danau. Dan tempat ini tidak.

"Atau yang tadi kudatangi bukan danau? Bagaimana kalau yang kudatangi tadi itu ternyata kolam besar atau mungkin danau itu hanya halusinasiku?" katanya frustasi. Dengan cepat Kyuhyun berlari menuju mobilnya. Ia menatap lurus kedepan dan diam sebentar. "Dinginkan kepalamu dan fokus, Kyuhyun-ah. Kau masih punya waktu."

"HUWA!" Kyuhyun terlonjak saat ponselnya berdering. Dengan takut, Kyuhyun membuka matanya dan berharap panggilan yang masuk ponselnya bukan dari Sungmin.

"Dongahe-hyung?"

"Aku mau minta jawaban matemati—"

"Ya! Lee Donghae, katakan padaku sejauh apa danau di Seoul dengan apartemenku?" potong Kyuhyun cepat. Ia yakin Donghae tahu tentang danau yang ia maksud.

"Danau?"

"Cepat, Hyung." Saat dimana Kyuhyun mengatakan 'hyung' adalah saat dimana manusia benar-benar butuh bantuan.

"Jangan bergurau. Mana ada danau di Seoul?"

"Tidak ada...danau?"

"Sejak kapan kau bodoh begini? Tidak ada danau didekat apartemenmu, Kyu. Mungkin taman dengan kolam besar yang kau maksud, Kyuhyun-ah."

Kyuhyun dengan cepat memasang earphonenya. Mungkin benar kalau yang ia datangi bukan danau. Dengan cermat ia mendengar instruksi Donghae tentang beberapa taman yang memiliki kolam besar, memutar balik mobilnya.

Kyuhyun menatap jam digitalnya lagi. 20.24. Kyuhyun tidak tahu kenapa, tapi ia merasa harus benar-benar cepat.

.

.

Sungmin menutup bagasi mobilnya dengan perlahan. Ada sedikit perasaan tidak rela saat ia melirik ke arah pintu masuk utama gedung apartemennya. Kenyataan bahwa dia harus meninggalkan apartemennya membuatnya sangat tidak ikhlas. Ini bukan hanya tentang Kyuhyun, tapi juga karirnya. Apartemen yang menjadi pijakan pertamanya di Seoul, yang menyaksikan dirinya tumbuh mengejar mimpinya sebagai artis, harus ia tinggalkan sekarang. Perlahan bayangan dirinya tentang apartemennya menguak di pikirannya. Bagaimana ia mendekorasi apartemennya, membanggakannya pada teman-temannya, menganggapnya sebagai rumah idealnya, bahkan mengambil gambar setiap pojok apartemennya. Dalam hati Sungmin tertawa, ia juga ingat siapa saja yang memberinya selamat atas apartemen pertamanya, siapa saja yang pernah menginap disana, makan disana, mandi disana...

...dan ada Kyuhyun disana. Ia menundukkan kepalanya sambil tersenyum tipis. Sejak kapan apartemennya identik dengan Kyuhyun?

"Eomma," katanya tiba-tiba. "Aku rasa masih ada yang ketinggalan. Aku lupa mengecek air dan lampu. Aku naik dulu ya," lanjutnya sambil melonggokkan kepalanya ke Kyeongsuk yang sudah siap di mobil.

"Hanya mengecek lampu dan air, setelah itu kembali." Sungmin berbicara sendiri sambil menekan tombol di lift.

Sesampainya didepan pintu apartemennya, Sungmin membeku. Ada sesuatu dalam dirinya yang memaksanya diam dan melirik ke kanan, melirik pintu apartemen Kyuhyun.

Ada sedikit bagian dalam dirinya yang berharap Kyuhyun akan keluar dari pintu itu dan mencegahnya pergi, tapi hanya sedikit, karena bagian lain dari dirinya dipenuhi logika. Sungmin tertawa lagi, tawa yang terdengar sangat berbeda dari tawanya selama ini. Matanya berkabut saat kakinya melangkah ke arah apartemen Kyuhyun.

Logikanya kalah saat ini.

Ia menghentikan langkahnya di depan pintu dan tidak melihat berkas cahaya dari dalam, menandakan Sang Pemilik tidak di dalam. Matanya kemudian tidak sengaja melirik kotak surat di bagian bawah pintu. Lagi-lagi Sungmin terdiam. Bayang-bayang kejadian yang pernah terjadi disana berputar di kepalanya.

Siapa yang akan menyangka kalau lubang sekecil itu bahkan bisa meninggalkan kenangan yang begitu besar bagi Sungmin?

Ia duduk didepannya, menyandarkan tubuhnya di pintu, mengulang kenangannya pada hari dimana Kyuhyun mengirim surat pertamanya.

Sungminnie-hyung. Maafkan aku.

Karena Kyuhyun sekarang adalah tetanggamu jadi bersikap baiklah padanya.

"Kau tetangga yang paling menyebalkan, Kyuhyun-ah," kata Sungmin sambil tersenyum lagi. Samar-samar ia mengingat perkataannya saat itu dan saat dimana Kyuhyun membalas ucapannya yang kasar malam itu dengan penuh penyesalan.

'Aku benar-benar tidak ada maksud membuatmu jadi seperti itu. Maafkan aku.'

"Kau ingat saat kita di mobilmu setelah pulang dari rumahku? ... Kau bertanya apakah aku sudah memaafkanmu atau belum... saat itu aku menjawab kalau aku tidak akan memaafkanmu sebelum aku puas menyiksamu—" Sungmin merasa suaranya tercekat. Ia menggigit bibir bawahnya. Terlalu banyak yang ingin ia katakan pada Kyuhyun. Dan ia tidak tahu bagaimana harus merangkai kata-katanya.

Ia terdiam cukup lama, memikirkan peristiwa berkesan antara dirinya dan Kyuhyun lagi.

"Kau juga ingat setelah kita bertengkar? –Ah, kau pasti bingung bertengkar yang mana karena kita sering bertengkar ya?" Sungmin tertawa.

"Setelah aku menojokmu, kau ingat? Setelah itu kau juga meminta maaf padaku. Bayangkan itu, Kyu... Kau... kau minta maaf setelah...aku menonjokmu. Kau tahu apa yang membuatku sangat menyesal saat itu? ... Surat darimu. Yang didalamnya kau mengatakan kalau aku baik seperti...malaikat." Sungmin terus mengucapkan apa yang ingin ia katakan pada Kyuhyun. Matanya mulai berkabut. Ia tiba-tiba ingat semua yang terjadi, Kyuhyun yang berlari ke apartemennya, dirinya yang memasakkan ramen untuk Kyuhyun, menonton TV bersama, lalu tertidur.

"Aku ingat ucapan maafmu yang lain lagi, Kyu. ... Kau tahu tidak, saat kau menciumku malam itu, aku tidak tidur. Hahahaha. Aku benar-benar...tidak tidur. Aku mendengar semua yang kau katakan," lanjutnya sambil menengadahkan kepalanya. Menahan sesuatu yang akan mengalir dari matanya. Ia ingat malam itu, ia tahu saat itulah dirinya melakukan kesalahan terbesar.

Membiarkan Kyuhyun jatuh untuknya.

"...Aku terlalu berdebar saat tahu kau berbaring disebelahku, di kasur yang sama denganku." Sungmin lagi-lagi tertawa.

"Kau...kau minta maaf karena mencuri ciuman dariku. Kau ingat? Untuk apa kau minta maaf...bodoh. Aku yang salah. Aku yang...salah." Ia memukul pelan pintu dibelakangnya. Berharap si pemilik ada dibaliknya dan merasakan betapa kalut dirinya saat ini. Tangannya terkepal sekarang, rasanya ia ingin memukul wajahnya sendiri.

"Aku memaafkanmu, Kyu... Ak-Aku benar-benar memaafkanmu. Kau tahu...aku...memaafkanmu. Maka dari itu...maukah kau memaafkanku setelah ini?" Sungmin merasakan bibirnya bergetar, dan matanya basah. Air itu mengalir begitu saja saat Sungmin memejamkan matanya.

Sebelum tangisnya terdengar, Sungmin dengan cepat bangun dari posisinya dan menatap pintu itu lagi. Mendekatkan wajahnya dan mengelusnya, mengecupnya dan tersenyum ke arah pintu itu.

"Apa-apaan aku ini. Seperti orang gila saja ... Pintu-sshi, aku tahu Kyuhyun pasti sedang mencari gantungan ponsel yang kubuang sekarang. Kalau Kyuhyun sudah pulang, katakan padanya kalau aku minta maaf padanya. Aku sangat jahat padanya. Katakan padanya kalau aku bukan malaikat... Katakan padanya kalau aku...sangat senang bisa mengenalnya. Aku sangat mencintainya." Sungmin tertawa sebentar sebelum menutup mulutnya. Matanya terpejam erat, menyisakan air mata yang mengalir dibawahnya.

"Aku pergi dulu." Sungmin membungkukkan badannya dihadapan pintu itu. Saat melakukannya, Sungmin bisa merasakan air matanya menetes dengan sangat deras dan membasahi lantai dibawahnya. Ia hanya bisa mematung dalam posisinya. Membiarkan airmatanya keluar tanpa halangan. Tangan kanannya sekarang bertumpu pada pintu, bahunya naik turun menahan suaranya yang mungkin akan keluar saat ia membuka mulutnya.

Sungmin memegangi dadanya dengan tangan kiri, merasakan kalau sekarang ternyata ia tidak siap meninggalkan Kyuhyun. Ia masih ingin tertawa bersama Kyuhyun, ia masih ingin menemani Kyuhyun belajar, memasak untuknya, pergi ke taman bermain dengannya, menemaninya saat upacara kelulusan, kuliah bersama—

"Ya...Cho...Kyuhyun...Setelah kutinggal, carilah perempuan yang bisa mengurusmu. Kau masih muda... Aku masih ingat... kau ingin masuk Universitas Seoul dan mengambil bisnis... semangat dengan cita-citamu. Aku akan berdoa untukmu."

Sungmin segera bangkit dari posisinya, menatap pintu didepannya sekali lagi sebelum berjalan cepat menuju lift.

.

Saat dirinya di mobil, Sungmin segera memasang seatbeltnya dan menghidupkan mesin mobilnya. "Nah, air dan lampunya sudah beres," lapor dirinya pada Sang Eomma.

"Sungmin-ah, matamu..."

"Tidak apa-apa, Eomma. Mataku hanya kedinginan. Eomma tahu, mata itu akan merah kalau kedinginan, sama seperti telinga atau hidung, jadi Eomma tidak perlu khawatir." Sungmin melirik ponselnya sekali lagi. Dan ia bersyukur Kyuhyun masih tidak menghubunginya. Tidak mau mengambil risiko Kyuhyun menghubunginya, Sungmin mematikan ponselnya.

"Baiklah, 21.40, berarti kita akan sampai dini hari. Eomma tidur saja," katanya pada Kyeongsuk. Ibu dua anak itu hanya bisa menatap anaknya lagi. 'Apa yang kau sembunyikan, Sungmin-ah?' batinya miris.

.

.

Kyuhyun sudah menemukan tempat yang ia datangi tadi siang, walaupun salah berkali-kali.

"Bagaimana, Kyu, sudah sampai kan?"

Tanpa menjawab pertanyaan Donghae, Kyuhyun langsung memutus teleponnya dengan Donghae.

"Sekarang tinggal mencari gantungannya." Kyuhyun meninju udara di atasnya. Ia baru akan memulai pencariannya saat tiba-tiba langkahnya terhenti. Sesuatu dalam hatinya seperti menggelitik tangannya untuk menggenggam ponselnya dan menghubungi Sungmin sekarang. Ia hanya tersenyum dan berjalan menuju bangku yang sebelumnya ia duduki.

"Aigoo, seperti inikah rasanya jatuh cinta? Baru beberapa saat tidak bertemu Sungmin, aku sudah sangat merindukannya." Kyuhyun hanya bisa menatap langit diatasnya, ia berpikir kalau Sungmin juga sedang menatap langit yang sama dengannya dan memikirkan dirinya.

"Aku pasti menemukannya. Kau tidak akan kecewa memberikannya padaku, Sungmin manis. Semangat!"

.

30 menit berlalu dan Kyuhyun mulai putus asa. Salahkan saja penerangan malam yang ala kadarnya dan dirinya yang kelelahan. Ia hanya bisa membaringkan tubuhnya di rumput dan menatap ponsel hitamnya yang membosankan. Rasanya ponselnya sangat jelek dan butut saat ini. Menggelikan dan menjijikkan saat hiasan pink yang baru pagi ini sempat menggantung disana, sekarang menghilang.

"Kemana sih hilangnya? Lagipula, bagaimana bisa hilang? Itu kan kugantung dari dalam." Kyuhyun membolak-balik ponselnya. Ia mulai berpikir bagaimana gantungannya bisa hilang disaat ia selalu menggenggam ponselnya. Yang ada didekatnya sebelum gantungan itu menghilang hanya supir taksi dan Sungminnya. Supir taksi jelas tidak mungkin. Lalu, Sungmin...

"Jangan-jangan...Sungmin mengambilnya. Tunggu, apa aku baru saja menuduh kekasihku sendir sebagai pencuri? Tapi... Pikirkan dengan baik, Cho Kyuhyun, Sungmin itu pemalu. Bahkan dia tidak berani memberikan gantungan itu langsung padamu, melainkan memasukkannya di celana tidurmu. Saat Sungmin tahu kau memakainya hari ini, dia pasti kaget dan sangat malu, mengetahui bahwa kau sudah menerima dirimu menjadi 'Minimi's'."

Kyuhyun lalu tersenyum.

"Apa yang sedang kau lakukan, Minimi-hyung? –Oh, aku tahu, kau pasti berharap aku mengaku padamu kalau gantungan itu hilang, lalu kau akan memarahiku. Setelah itu kau akan pura-pura membantuku mencarikan gantungan itu dan voila! Kau pasti akan mengataiku bodoh." Kyuhyun menggenggam ponselnya gemas dan berguling-guling di rumput. Ia sangat senang memikirkan kalau Sungmin ingin bermain permainan seperti ini dengannya.

"Kalau begitu aku akan berpura-pura tidak peduli pada gantungan itu dan membuatmu menyerahkan gantungan itu dengan sendirinya."

Kyuhyun kemudian bangun dan membersihkan pakaiannya. Ia sudah lega sekarang, paling tidak ia yakin gantungan keramatnya ada ditangannya kekasihnya.

"Ah~ Betapa manisnya dirimu, Sungmin-hyung~"

Dengan langkah ringan dan setengah melompat Kyuhyun menuju mobilnya. Sekarang ia bisa menghubungi Sungmin dengan tenang.

.

.

.

21.45

Remaja 17 tahun itu tidak berhenti menghubungi Sungmin, menyebalkan sekali rasanya saat orang paling ia dengar suaranya itu sepertinya mematikan ponselnya. Ia melangkahkan kakinya besar-besar menjauhi tempat parkir.

Ia sedikit terkejut saat menemukan lampu apartemen Sungmin yang mati. 'Dia belum pulang? Tapi, kan, Kyeongsuk-ahjumma menginap,' pikirnya bingung. Kyuhyun lalu menempelkan telinganya pada pintu didepannya. Mencoba mendengar sesuatu yang mungkin terjadi didalam.

"Aku yang tuli atau pintu ini terlalu tebal atau memang tidak ada orang?" tanyanya. Kyuhyun mengeluarkan kertas yang selalu siap sedia di sakunya. Mengirim surat seperti biasa.

Hyung, kau ada didalam? Aku mau mengatakan sesuatu. –Kyuhyun

Setelah membunyikan bel apartemen dan menunggu sebentar. Tidak ada sahutan sama sekali. Kyeongsuk-ahjumma tidak ada didalam atau bagaimana?

Apa Sungmin berbohong padanya?

Sungmin-hyung, ponselmu mati? Apa Kyeongsuk-ahjumma didalam?

Kyuhyun mulai melangkah ke arah apartemennya sendiri, berjalan mundur sambil terus menatap bingung pada apartemen Sungmin. Ia merasakan sesuatu yang tidak beres disana. Dengan keras Kyuhyun meneriakkan nama Sungmin didepan dinding yang membatasi apartemennya dan Sungmin sesaat setelah ia menutup pintu apartemennya.

Berharap Sungmin membalasnya.

"YA! SUNGMIN-AH!" teriaknya makin kencang. Ia tidak tahu kenapa tapi hatinya merasa tidak tenang sekarang. Kemana Sungmin? Apa terjadi sesuatu padanya?

Kyuhyun memandang jam dindingnya, 22.00. "Baiklah, ini masih belum terlalu larut, mungkin dia masih ada pekerjaan. Aku lebih baik menunggu di depan apartemennya seperti biasa," ucapnya sebelum mengenakan jaketnya dan melangkah keluar, berdiri seperti biasa di depan apartemen Sungmin. Seperti biasa menunggunya disana.

'Pasti sebentar lagi Sungmin datang.'

.

.

Sungmin bergegas menuju SM Building pagi-pagi sekali. Ada yang harus ia selesaikan dengan serius bersama orang paling penting di agensinya. Lee Sooman.

Leeteuk hanya bisa menatap tak percaya pada artisnya. Pemuda itu meneleponnya malam-malam dan memintanya untuk memutus kontrak dengan SM Entertainment. Baru semalam dan ini... benar-benar mengejutkannya. Ia tidak masalah kalau Sungmin mungkin tidak kuat dengan peraturan SM yang merugikan dirinya sehingga memutuskan untuk keluar, tapi... mundur dari dunia hiburan? Yang benar saja. Ia baru akan melebarkan sayapnya!


"Aku akan membayar dendanya. Aku akan melanjutkan sekolah, fokus, dan mendapatkan pekerjaan yang sebenarnya. Aku tahu dunia hiburan tidak cocok denganku."

"Dalam sehari, Sungmin-ah?"

"Aku sudah mencari pengacara kalau memang masalah ini akan dibawa ke pengadilan dan dia yang akan menanganinya saat aku benar-benar pergi. Aku malas berhubungan dengan dunia menjijikkan itu lagi. Aku bosan."

Leeteuk membelalakkan matanya, ia rasa telinganya rusak atau mungkin tertutup debu. Menjijikkan katanya? Apa berdiri berjam-jam untuk audisi menjijikkan bagi Lee Sungmin?

Kemana Sungmin yang berbinar saat membicarakan drama musikalnya? Kemana Sungmin yang rela bergadang demi album pertamanya?

"Besok pagi aku akan ke SM dan mengadaan konferensi pers. Aku barusan menghubungi Sooman-sajangnim dan dia setuju untuk membicarakannya."

"Sungmin-ah. Album pertamamu baru rilis. Kau ini mau dikatai artis cari sensasi atau apa?"

"Aku memang suka cari sensasi."

Jeda sebentar.

"Aku tidak akan membiarkanmu keluar begitu saja."

Sungmin tertawa. "Hyung, maaf kalau aku terdengar kasar. Tapi, aku artisnya dan kau manajerku. Aku bisa mengambil keputusan juga."

"Sung...min-ah?" Leeteuk tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya. Lee Sungmin tidak mungkin seperti ini. Ini terlalu aneh.

"Aku tidak minta pendapatmu, Hyung. Aku menghubungimu untuk mengatakan itu saja."

Leeteuk benci saat seperti ini. Pembicaraan ini tidak seharusnya dibicarakan lewat telepon. Ia ingin menatap langsung mata Sungmin dan mencari kebenaran disana.

"Baiklah, Hyung, kurasa itu saja. Aku minta maaf kalau mengganggumu malam-malam begini. Sampai bertemu besok pagi."


Lee Sooman menatap Sungmin dengan geram. Surat kontrak yang ditandatangi oleh Sungmin sebagai bukti kalau dirinya resmi menjadi artis dibawah naungan SM Entertainment terpampang didepan wajahnya, dengan keadaan sudah terbagi menjadi dua bagian. Sungmin menyobeknya tepat setelah dia mengatakan muak dengan semua hal yang berbau artis.

"Sajangnim, aku sudah menyiapkan uang denda yang harus kubayar untuk keluar dari SM. Kurasa ini artinya permasalahan aku keluar dari SM tidak perlu dibawa ke pengadilan. Benar, kan?"

Pria tua itu menatap orang lain di samping Sungmin, meminta penjelasan darinya. Leeteuk yang ditatap hanya bisa mengalihkan pandangan ke arah lain. Tidak tahu harus menjawab apa.

"Anda tenang saja. Aku tidak menutut ganti rugi atau semacamnya. Cukup coret namaku dari daftar nama artis disini dan batalkan semua jadwal yang dibuat atas namaku."

"Ah, satu lagi, Sajangnim. Anda tidak perlu takut aku pergi ke Agensi lain karena aku benar-benar tidak akan berurusan dengan dunia ini lagi."

"Kau pikir kau siapa, anak muda?" Lee Sooman menatap Sungmin dengan pandangan rendah. Apa Sungmin berpikir tempatnya bekerja adalah toilet umum yang setelah dipakai harus dibayar?

Sungmin menatap lawan bicaranya lama. Ia hanya bisa tersenyum sambil mengambil potongan surat kontrak yang dia sobek.

"Anda lihat, disini tertulis aku hanya perlu membayar denda saat aku melanggar kontrak ini. Dan aku memang melanggar semuanya. Aku tidak mau mengikuti semua peraturan disini. Aku keluar."

Dengan itu Sungmin keluar dari ruangan itu dan meninggalkan cek bertuliskan harga yang harus ia bayar untuk keluar dari SM Entertainment. Meninggalkan Sooman yang menatap punggung mantan artisnya.

"Dia benar. Hanya perlu membayar denda." Sooman memandang cek didepannya.

Ia kehilangan artis multitalenta yang sangat ia banggakan sekarang. Pria itu tidak percaya jika Sungmin serius dengan ucapannya semalam. Ini semua tidak pernah terpikirkan olehnya. Sepanjang Sungmin bekerja, dirinya tidak pernah mengeluh dan menuruti semua peraturan dengan patuh. Ia masih ingat bagaimana ia memilih Sungmin sebagai artis barunya. Bahkan ekspresi bahagianya masih teringat jelas olehnya.

Mungkin Anda harus memperbaharui kontrak Anda agar tida kehilangan artis lagi, Lee Sooman-sajangnim.

.

.

Ruangan konferensi pers itu siap kurang dari 30 menit setelah Sungmin mengatakan kalau dia ingin mengadakan konferensi pers. Wartawan-wartawan itu menatap lapar meja didepan mereka yang nantinya akan diisi oleh Lee Sungmin dan manajernya serta Lee Sooman. Mereka tahu akan ada berita menggemparkan hanya dengan melihat wajah Lee Sooman yang kusam saat memasuki ruangan.

Leeteuk menatap pasrah Sungmin yang ada disampingnya. Semua ini terlalu cepat untuknya. Semuanya berjalan sesuai kemauan Sungmin, seakan pemuda manis itu sudah merencanakan hal ini sejak lama. Ia tidak sempat membantah apapun yang Sungmin katakan karena memang Sungmin tidak berhenti menyibukkan dirinya dengan rencana kilatnya.

"Kau memutuskan ini tidak dalam semalam, benar kan, Lee Sungmin?" Leeteuk berbisik pada Sungmin. Menahan geraman marahnya.

"Itu urusanku, Hyung." Lagi-lagi Sungmin tersenyum. Leeteuk kali ini punya kesempatan melihat mata Sungmin dan ia melihat api ambisi disana. Siapapun yang melihat mata Sungmin akan tahu kalau tidak ada keraguan sedikitpun dalam langkah Sungmin. Ia terlihat sangat serius.

.

Leeteuk mengundurkan dirinya sebentar tepat sebelum konferensi pers itu dimulai. Kyuhyun menghubunginya dan ia yakin ini semua ada hubungannya dengan tingkah aneh Sungmin.

"Teuki-hyung! Aku minta jadwal Sungmin untuk hari ini. Dari pagi hingga malam. Berikan padaku...Kumohon. Aku menghubungi Sungmin pagi ini dan teleponnya tidak aktif... Ya! Teuki-hyung kau mendengarku? Berikan jad—"

"Kau bisa melihat siaran langsung dari konferensi pers Sungmin 2 menit lagi di televisi. Atau kalau kau mau melihat langsung, datang ke SM Building, tempat Sungmin mengumumkan hubungan kalian waktu itu." Leeteuk berbicara beberapa kalimat lagi sebelum akhirnya dia mematikan teleponnya. Ia menangkap suara panik dari Kyuhyun dan ia tidak bisa menebak alasannya. Dalam hati ia berharap tidak ada masalah dengan Kyuhyun dan Sungmin.

.

.

Kyuhyun berlari menuju tempat parkir. Lift sialan yang harusnya ia gunakan sangat penuh dan ia sangat tidak sabar sekarang.

Membenarkan jaket cokelatnya dan memasukkan ponselnya ke saku, Kyuhyun berhasil sampai di lantai dasar. Ia tidak tahu kenapa ia merasa tidak tenang sekali pagi ini. Kenyataan bahwa dirinya tertidur didepan pintu saat menunggu Sungmin sedikit banyak mengejutkannya. Belum lagi kenyataan bahwa pintu apartemen Sungmin tidak terbuka dan lampu apartemen Sungmin yang mati membuatnya kesal. Artinya Kyeongsuk-ahjumma tidak didalam, kan?

Artinya Sungmin membohonginya.

Disamping keinginan untuk bertemu kekasihnya, Kyuhyun merasa harus menuntut penjelasan dari Sungmin kenapa dia membohonginya. Oh, satu lagi, ia harus menanyakan gantungan ponselnya.

.

.

"Aku memutuskan untuk mundur dari dunia hiburan dan fokus pada pendidikanku." Kata Sungmin yang dibalas langsung dengan kerumunan pertanyaan oleh wartawan-wartawan didepannya.

"Untuk alasan itu, aku sudah menyelesaikan kontrakku dengan SM Entertainment melalui jalur damai dan tidak akan membawanya ke pengadilan. Aku juga tidak menuntut apapun dari SM Entertainment karena ini semua murni keinginanku."

"Bagaimana dengan fansmu?"

"Aku minta maaf pada fansku. Mungin keputusanku kelihatan sangat terburu-buru, tapi aku memikirkannya dengan matang dan tidak akan menyesali ini. Aku berterima kasih atas cinta dan pengertian mereka. Dengan ini aku berharap mereka mendukung keputusanku untuk mundur dan memperbaiki kehidupanku."

"Album pertamamu. Apa akan dibiarkan terbengkalai begitu saja? Promosinya baru dimulai, kan?"

Pertanyaan ini menohok Sungmin. Album pertama yang ia impikan akan redup begitu saja setelah konferensi pers ini berakhir. Ia bekerja keras untuk albumnya dan...semuanya berakhir begitu saja.

'Dengar Sungmin, kau sudah bilang tidak akan menyesalinya. Jangan goyah sekarang. Tatap mereka dan katakan kau benci semuanya.'

"Album itu murni berasal dari rasa penasaranku. Aku ingin tahu apa rasanya meraup keuntungan dari suaraku. Aku merengek pada Sooman-sajangnim dan aku mendapat album pertamaku. Dan rasa penasaranku hilang saat penjualan albumu menduduki top 3. Itu saja. Setelah rasa penasaranku terjawab, keinginan untuk mempromosikan album itu hilang begitu saja. Maaf untuk mengatakan hal ini, tapi aku orang yang mudah bosan." Jawaban itu membuat Leeteuk dan Sooman memandang Sungmin. Mereka tidak percaya dengan jawaban Sungmin.

Itu semua bohong.

Mereka yang mendorong Sungmin memulai debut sebagai penyanyi. Mereka mendorong Sungmin agar dirinya percaya pada suaranya dan maju sebagai penyanyi. Mereka tahu bagaimana Sungmin akhirnya bekerja keras saat rekaman. Mereka tahu kalau—

—konferensi pers ini milik Sungmin.

"Lalu kenapa harus meninggalkan dunia pendidikan? Bukankan bisa memilih vakum?"

"Aku ingin melanjutkan pendidikanku di Amerika dan menetap disana."

.

.

"...Setelah rasa penasaranku terjawab, keinginan untuk mempromosikan album itu hilang begitu saja. Maaf untuk mengatakan hal ini, tapi aku orang yang mudah bosan."

Setelah kalimat itu, Kyuhyun keluar dari mobilnya dan bergegas menuju ruangan konferensi pers. Ia melihat siaran langsung Sungmin melalui TV di mobilnya dan itu semua membuatnya gila. Apa yang ada dipikiran Sungmin sampai ia ingin berhenti menjadi artis? Sesuatu terjadi dan ia tidak tahu? Ia benar-benar pusing dan butuh penjelasan. Sungmin memberinya banyak teka-teki pagi ini.

Pemuda itu sempat dihadang seorang petugas karena ia ingin memasuki ruang tertutup itu dengan seenaknya.

"Aku bisa melaporkanmu ke Lee Sooman kalau kau melakukan ini padaku," kata Kyuhyun mengancam. Matanya tidak bercanda dan menyiratkan kemarahan.

Petugas didepannya tidak bergerak, tetap menahan Kyuhyun diluar. Pemuda 17 tahun itu tidak kehabisan akal. Dia menjambak rambut petugas itu dan memukul bagian pribadi pertugas itu dengan lutut dan segera menendang petugas itu. Menginjaknya saat berjalan masuk ke dalam ruangan didepannya.

Kalian tidak akan berani berhadapan dengan Kyuhyun saat dirinya sedang marah.

"Aku ingin melanjutkan pendidikanku di Amerika dan menetap disana." Kalimat itu menyambut kedatangannya. Membuat Kyuhyun terperangah didepan pintu tanpa bisa bergerak.

Mata Kyuhyun tidak lepas dari Sungmin yang tidak balas menatapnya.

"Selain melanjutkan pendidikanku, aku juga akan melangsungkan pertunangan disana."

Mata Kyuhyun ingin keluar saat ini. Kekasih Sungmin...adalah dirinya, kan? Mereka tidak pernah membicarakan masalah ini sebelumnya. Apa ini kejutan dari Sungmin? Apa ini artinya Sungmin mau bertunangan dan membawa dirinya ke Ame—

"Pertunangan? Dengan Cho Kyuhyun maksudmu?" tanya seorang wartawan yang disambut tawa kecil Sungmin.

"Bukan. Dia perempuan. Aku tidak mungkin mengatakan siapa dia sekarang karena aku yakin kalian akan menganggunya."

Jawaban itu sontak mengejutkan semua orang tanpa kecuali. Ini seperti...sengatan tegangan tinggi untuk Kyuhyun. Sungmin terlalu...mengejutkannya. Ia bahkan tidak tahu harus melakukan apa saat ini.

Pertanyaan 'lalu bagaimana hubunganmu dengan Kyuhyun?' kemudian terlempar. Tiba-tiba keadaan di ruangan itu seperti diselimuti suasana yang mencekam. Semua orang penasaran dengan jawaban dari pertanyaan itu. Apalagi satu orang yang sekarang mengepalkan tangannya keras.

Sungmin menegakkan kepalanya dan melihat ke arah Kyuhyun. Tidak sengaja. Pemuda itu tidak bisa menutupi keterkejutannya saat melihat Kyuhyun berdiri disana dan menatapnya dengan tatapan yang sama terkejut dengan miliknya. Sungmin tidak menyangka Kyuhyun bisa ada disana. Dan Sungmin tidak siap harus berhadapan dengan Kyuhyun sekarang.

"Aku dan Cho Kyuhyun hanya berpura-pura. Kami tidak ada hubungan apa-apa. Semua yang kami lakukan selama ini tidak lebih dari kebohongan. Hubunganku dan Kyuhyun tidak lebih dari sensasi yang kuciptakan sendiri. Dan ini semua kulakukan untuk mendongkrak namaku dan menyukseskan peluncuran album pertamaku. Aku harus menarik perhatian sebanyak mungkin, kan?" katanya sambil menyeringai.

'Ini bukan Lee Sungmin,' batin Leeteuk tidak percaya. Ia yakin ada sesuatu yang salah di kepala Sungmin.

.

.

Kyuhyun langsung menarik Sungmin keluar dari ruangan memuakkan itu dengan tidak sabar. Ia tidak peduli dengan wartawan yang masih disana atau orang lain yang, persetan, ia tidak peduli siapa mereka.

Sungmin menarik tangannya dengan cepat dan berniat meninggalkan Kyuhyun sebelum Kyuhyun menarik tangannya lagi, kali ini ia lebih keras.

"Apa yang kau lakukan, Cho Kyuhyun!" bentak Sungmin kesal saat mereka sudah berada di toilet, tempat Kyuhyun menarik dan mengunci pintu di belakang mereka.

"Katakan apa yang sebenarnya terjadi, Lee Sungmin." Kyuhyun meremas tangan Sungmin yang masih ia ada dalam genggamannya.

Sungmin tertawa.

"Semuanya sudah jelas. Aku akan pergi ke Amerika untuk sekolah dan ber—"

"Jangan berbohong denganku. LEE SUNGMIN." Kyuhyun tidak tahan untuk membentak Sungmin tepat didepan wajahnya.

"Lihat siapa yang bicara. Kau bisa cek namaku, sudah ada di pendaftaran murid baru di kampus di Amerika. Dan... Jangan tuduh aku pembohong. Siapa duluan yang memulai permainan bohong-membohongi ini?" Sungmin menatap Kyuhyun lalu menunjuk dada Kyuhyun dengan telunjuknya. "...Kau," katanya lagi.

Kyuhyun melepas kasar genggaman tangannya pada Sungmin dan meninju pintu dibelakang Sungmin. "Berhenti berbohong dan katakan padaku apa yang terjadi."

Sungmin menatap Kyuhyun sambil tersenyum merendahkan. "Berhenti bertanya apa yang terjadi padaku. Apa ruginya kalau aku pergi ke Amerika?"

"KAU!" Kyuhyun mengepalkan tangannya. Bersiap memukul apapun didekatnya. Apa Sungmin tidak tahu apa yang akan terjadi padanya kalau Sungmin benar-benar meninggalkannya?

"Aku bersyukur bertemu denganmu sekarang. Aku mau mengucapkan terima kasih karena sudah membantu peluncuran albumku, yah walaupun pada akhirnya aku memilih untuk berhenti."

"Ya, Lee Sungmin! Kau tidak mungkin meninggalkanku begitu saja. Kita..." Kyuhyun tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Lidahnya kelu. Kenyataan kalau Sungmin selama ini mempermainkan dirinya lebih dari petaka untuknya.

"Terima kasih untuk kebodohanmu. Aku pergi."

Kyuhyun menarik tubuh Sungmin yang memunggunginya dan membawanya ke dalam pelukannya. Memeluknya dengan sangat erat. Sungmin tersentak. Ia merasakan pertahanannya akan runtuh bila Kyuhyun membalik tubuhnya dan menatapnya langsung. Mencegah hal itu, Sungmin menyikut perut Kyuhyun dengan keras dan menghadap pemuda yang sekarang memegangi perutnya.

"Menjijikkan. Aku tidak gay sepertimu."

"Jangan pergi," ucap Kyuhyun sambil berdiri tegak. Matanya tidak bisa menunjukkan ekspresi kesal sedikitpun. Ia ingin marah tapi bayangan kehidupannya tanpa Sungmin membuatnya kehilangan keinginan untuk memaki Sungmin.

Sungmin menatap rendah pada Kyuhyun yang memelas dihadapannya. Memandang Kyuhyun yang tidak menunjukkan ekspresi marah sedikitpun padanya, membuatnya nyaris memeluk pemuda itu. Sebelumnya Sungmin yakin Kyuhyun akan memukul wajahnya, memaki dirinya, atau melakukan hal kasar lainnya karena tahu Sungmin menipunya selama ini, tapi Kyuhyun malah...memintanya untuk tidak pergi.

"Kau benar-benar..."

'...jatuh cinta padaku?' lanjutnya dalam hati.

"...sangat memprihatinkan. Lihat dirimu, Cho Kyuhyun. Saat kita pertama kali bertemu kau memandangku dengan tatapan merendahkan seakan kau bisa menggerakkan diriku sesuai kemauan kekanakanmu."

"Aku akan berhenti menyusahkan hidupmu, Hyung. Aku juga tidak akan mengganggumu lagi," kata Kyuhyun sambil meraih tangan Sungmin. Meyakinkan Sungmin bahwa ia serius dengan kata-katanya. "Kau boleh memukulku sampai kau puas asal jangan pergi dariku."

Sungmin menarik tangannya dengan kasar. Ia membalikkan badannya lagi. Sungmin merasa ini sudah mencapai batasnya. Ia akan luluh bila Kyuhyun mengatakan—

"Hyung, aku...benar-benar mencintaimu. Jangan tinggalkan aku."

'Jangan memohon padaku, Kyuhyun-ah. Jangan nyatakan perasaanmu saat ini. Jangan katakan apapun.' Sungmin membuka mulutnya tanpa mengatakan apapun. Matanya memerah hanya dengan mendengar Kyuhyun memohon padanya. Ia tidak tahu kalau Kyuhyun akan semenyedihkan ini saat dirinya akan meninggalkannya.

Sungmin tahu ia akan ikut memohon pada Tuhan untuk menyatukan dirinya dengan Kyuhyun saat dia melihat Kyuhyun saat ini. Tangan pemuda itu sudah memegang pegangan pintu saat Kyuhyun kembali memeluknya dan membalik badannya dengan cepat. Menempelkan bibirnya dengan milik Sungmin.

Sungmin merasakan airmatanya meleleh saat itu juga. Ia tidak akan sanggup pergi kalau Kyuhyun tetap begini.

'Jangan membuatku menanggung dosamu, Kyu.'

PLAK

Tanpa berpikir dua kali Sungmin menampar Kyuhyun dan keluar dari bilik toilet itu.

"Menjijikkan." Kyuhyun mendengar kata itu keluar dari mulut Sungmin sebelum Sungmin menutup pintu toilet dan meninggalkan Kyuhyun yang diam disana, mencerna apa yang barusan terjadi padanya.

Otaknya memerintahkan dirinya untuk berdiri dan mengejar Sungmin, tapi tubuhnya menolak karena terlalu shock. Sungmin menjatuhkan dirinya. Sungmin membuatnya patah hati kurang dalam waktu 30 menit.

.

.

Sungmin duduk di ruang tunggu keberangkatan sambil tertunduk. Ia sedang mengingat-ingat apa yang terjadi dalam waktu kurang dari sehari ini. Rencana kilatnya benar-benar berhasil sesuai rencana. Kebohongannya benar-benar...

"Aku belajar dari ahlinya," gumam Sungmin sambil tertawa hambar. Benar, Kyuhyun yang mengajarinya untuk berbohong seperti ini. Salahkan Kyuhyun kalau kalian mau. Keputusan Sungmin untuk berbohong sendiri tidak lebih dari spontanitasnya saat di konferensi pers tadi.

"Tunangan apanya? Dasar pembohong. Amerika? Gila. Bahasa inggrisku bahkan dibawah rata-rata. Ya~ Lee Sungmin, kalau Kyuhyun benar-benar mengecek daftar anak baru di Amerika, dia akan segera tahu kalau kau menipunya." Sungmin menundukkan kepalanya. Baru menyadari kesalahan terbesarnya tadi.

Ia mengeluarkan ponsel yang daritadi ia matikan, menatapnya lama. Ia tidak mau ada yang mengusiknya dan membuat dirinya goyah. Tidak orangtuanya, sahabatnya, atau Kyuhyun.

Sungmin menarik napasnya panjang dan mengeluarkannya dari mulut. Ada gumpalan perasaan yang ingin ia muntahkan saat ini juga. Rasa kesal, sedih, menyesal... semuanya ingin membuatnya menangis.

"Tidak ada laki-laki yang menangis karena ini. Aku sudah melepas dunia yang paling kucintai dan itu...pasti hal yang benar. Mungkin Tuhan memang menakdirkan hal ini. Harusnya aku tidak memaksa menjadi artis sejak dulu." Sungmin membayangkan masa-masa traineenya. Semuanya membuatnya gila. Ia tidak rela melepas semua kerasnya. Ia masih sangat mencitai kehidupan artisnya yang baru saja akan menanjak.

"Sesuatu yang baik itu memang memerlukan pengorbanan." Sungmin tersenyum sambil berdiri setelah mendnegar pengumuman keberangkatannya.

Sungmin menengokkan kepalanya ke belakang sebelum ia memasuki ruangan keberangkatannya.

'Bodoh. Apa yang kuharapkan? Kyuhyun berlari kemari dan menarikku menjauh dari pesawat seperti di drama-drama? Kau tidak tahu malu, Lee Sungmin.' Sungmin tertawa miris.

'Kalau Kyuhyun datang, aku pasti...'

Ia sudah siap dengan semuanya sebelum suara teriakan Kyuhyun benar-benar masuk ke telinganya.

"YA! LEE SUNGMIN! Apa-apaan ini?! Biarkan aku masuk! Kekasihku disana! SUNGMIN-AH! LEE SUNGMIN, DENGARKAN AKU! KELUAR DARI SANA SEKARANG JUGA!"

Sungmin menolehkan kepalanya dan menemukan Kyuhyun disana. Ia tidak percaya Kyuhyun benar-benar ada disana, ditahan empat sampai lima petugas yang tidak mengizinkannya masuk.

"AKU AKAN MENGEJARMU KE AMERIKA. KAU DENGAR! AKU TIDAK AKAN MELEPASKANMU! Kau berhutang banyak hal padaku, kau tahu. YA! LEE SUNGMIN DENGARKAN AKU! AKU TAHU KAU MENDENGARKU! AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN KAU BERTUNANGAN DISANA! AKU TAHU KAU BERBOHONG PADAKU!"

Sungmin perlahan menjauhi pintu didepannya. Ia tidak tahan melihat Kyuhyun yang berteriak-teriak seperti orang gila disana dan ia harus melakukan sesuatu.

.

Kyuhyun menangis meraung-raung ditengah-tengah kerumunan orang-orang yang lalu lalang di bandara saat pesawat yang membawa Sungminnya menjauhi lapangan terbang.

Sungminnya pergi begitu saja.

"Sialan dia...benar-benar pergi." Kyuhyun merosot ke lantai saat ia melihat ke sekeliling dan tidak menemukan Sungmin yang berbalik untuknya.

"Kyuhyun-ah," panggil seseorang dari arah belakang, membuat Kyuhyun membalik badannya dengan cepat.

.

.

.

Bersambung(?)

Yak, kayaknya sebentar lagi tamat(?) Kalian tau kan siapa yang manggil Kyukyu? *smirk*Bukan saya loh bukan.

Saya tahu betapa anehnya chapter ini karena saya emang bener-bener ga ada bakat nulis adegan di atas *nunjuk adegan awal* Tapi, kalian harus percaya kalo saya udah nyoba sebisa saya xD Kalian juga harus percaya kalo saya sebenernya ga pengen nulis bersambung disana. Saya terpaksa. Ini udah lebih 6k+ kurang dikit, daripada kepanjangan, putusin(?) aja disana.

Balesan buat review nonlogin:

-Chapter 1-9-

Ainun : Iya udah aku cantumin untuk selanjutnya. Lupa banget waktu chapter 1 :)

ika kyuminssss : wow makasihh :D

Guest :Kyuhyun evil, tapi makin seksi kan?

-Chapter 10-

Park Ha Mi : Update~ Ini kilat loh satu minggu setelah chapter 10, hehe. Yah Sungmin kelakuannya seperti yang terjadi diatas deh. Kasian dia galau *peluk Ming*

Okoyunjae : Min tega sama kyu? Min suka sama kyu yang bener xD

Meong : Nah, chapter ini ga sendu kan? *dibakar*

Evilbunny : Itu katanya Kyuhyun mau ikutan ke amerika ngejar ming, hahaha padahal bahasa inggrisnya dia... ala kadarnya *dibantai sparkyu*

Lee Minry : Ngeliat Kyu senyum emang bikin bahagia, apalagi liat saya senyum xD Makasih buat 'finghting'nya! :)

Ria : Makasih dukungannya~ Wah analisisnya :O semuanya bakal kejawab pelan-pelan dibeberapa chapter ke depan ya. Yang jelas ibunya Kyumin udah restu lahir batin deh buat hubungannya kyumin :D Ini lanjutannya, moga bisa diterima dengan baik :)

kim eun neul : Dua-duanya kejebak dipermainan mereka sendiri dan mereka ga bisa keluar :( Tuh Min udah ngau kok, sama pintu apartemennya Kyu xD

haekiddy : Ma-maaf deh, abisan jalan cerita ngeharusin Kyu jadi ngenes begitu sih. Nah sungmin ke ilsan aatu enggak, ada diatas ya :D

mariels25 : Tenang aja Kyukyu orangnya gigih kok jadi dia ga ga perlu kita kasianin(?) Yang chapter ini cepet kan apdetnya? *wink* Tonight SHINee's in the house hoo *balesan I'm so curious yeeeaahh xD

Guest : Iya dia belom sadar, sampe chapter ini pun dia ga tau kalo gantungannya dibuang :( Mau jadiin Kyu simpenan? *Ming asah golok*

Diamond : Hehehe, temenan sih enggak, cuma kenal aja(?)

Sparkyu : saja jadi kasian kalo liat Kyu diatas. Ini cepet say :D

Guest : Banget nget nget.

Tika : Iya sebenernya ming galau juga kasian dia. Setelah ini semuanya akan hepi kok :D

lee sunri hyun : Eh? Kita berebut Ming nih? LOL ujungnya juga Kyu yang milikin Ming, haha

stevaniCP : Saya juga seneng bisa apdet. Yeeei~ Ming itu kemaren mau ngasih kenangan yang paling manis buat Kyukyu sebelum ditinggal :( Semangat! Makasih dukungannyaaaa

Dessykyumin : Kasian ming juga :( Chapter 15 atau kurang, semoga betah nunggu sedikit lagi :)

Minoru : Haduh maaf ya kalo kemaren lamaaaaa banget apdetnya *bow* Mari kita beri semangat buat kyukyu supaya dia ga berenti ngejar Mingie~

Chikyumin : Sama ya, chapter ini ga nyesek kok xP

vey900128 : ini lebih cepet lagi kan? :D Kyukyu tegar kok. Tenang ajaaaa

ririn chubby : *ngiler* re-review apa ini? Saya terkesaaan sama panjangnyaaaa. Bener banget, dia sering banget beruntung~ bukan cuma kejeniusan Kyu yang berperan disana, tapi juga takdir hahaha. Aku juga ga tega sih bikin kyu susah banget idupnya gitu, tapi yah mau gimana lagi. Jalannya ga mungkin semudah itu kan? *smirk* Parahnya lagi kyu ninggalin ujian mulu, jangan-jangan entar dia dikeluarin lagi dari sekolah :o Kamu harus bisa menyukai karakter sungmin disini karena emang sungmin punya alesan yang kuat buat itu :) Kamu bakal tau juga kalo sungmin ga jauh menderita dari kyukyu. Aish, ming dikatain lagi. Sabar ya ming *pukpuk* saya ga nyangka ming jadi keliatan egois ya disini. Untuk masalah marga, jadi pas aku searching, marga perempuan yang udah nikah ga akan berubah jadi marga suami. Yang nanti bakal ikut marga suami itu anak-anak mereka :) WAAAH Gomapta chingu-ya :D

Chizawa95 : Iya maaf ya kyukyu menyedihkan banget :(

Mhinniemin : eh?

Jirania : Min bakal bertahan selama berberapa hari kedepan #ups

Sissy : Makasih, semoga chapter ini juga seru :D

kyumin pu : Ming dikatain lagi *Ngadu ke Sungmin* Salam kenal dan makasih banyak~

sary nayola : Inilanjutannya~

KS : Apa aku yang kelewatan ya KS-ya? Mian ya kalo aku yang ngelewatin :( Di chapter ini ga nangis kan, say?

MinnieGalz : Iya ini chapter penentu sebenernya, dan chapter berikutnya akan mulai ke kehidupan dewasa masing-masing tokohnya #aduhspoiler

Joy : Iya makasih banyak ya jempolnya udah nyampe(?) Kyumin dipisahin bentar ya supaya saling kangen-kangenan :D Ah, hebat banget ngabisin 10 chapter langsung. Fighting! Eh iya bener kan homo ga enak, maaf atas ketidaknyamanannya~

JustELF : Iya sayang banget kemaren date terakhir mereka :( Kita cuma bisa berdoa mereka dipertemukan lagi nanti :D

Eminonyx09 : INI LANJUTANNYA *tereak pake sedotan*

Sung hyesang : Ini chapter depannya *bawa nampan* Nah begitu deh Sungmin emang ngagetin mulu. Disini aja saya kaget sama sikapnya :o

Choleerann : Mari beri semangat ke Kyuhyun. KYUUUU FIGHTING!

KyuMinalways89 : Ayo sering dibuka ffn-nya soalnya banyak kyumin ff sekarang :d Itulah yang bikin kyumin cocooook. Nanti terakhirnya kyuhyun terbang lagi kok bareng sungmin *cieee

Kimteechul : Syukur deh udah ga bingung lagi fiuuuh. Aigooo kamu putusin sendiri deh akhirnya kyu sama ming pisah apa enggak *smirk*NADO SARANGHAEYOOOO :*

FuJoyer97 : Uming emang ga jadi ke menetap di ilsan kok, tapi... FIGHTING! Makasih udah nyempetin diri buat review :)

Guest : Okeee

Meonbelle : KYAAAA AKU BISA APDET LAGIIII Ming jangan abur *geret Ming ke kamar Kyu*

KM137 : *tring* Sungmin udah jujur kok...sama pintu apartemennya kyukyu xD YOHA ortunya kyumin udah oke!

Hyunnie : Ini lanjutannyaaaa. Udah ga penasaran kan?

Sanyewook : Hehehe, makasih banget cerita awalannya. Aku makasih bangeeeet sama inisiatifnya buat review dua kali :D AW masa sih? Aku dapet ide dari jari-jari kyumin yang saling bertautan *ACIEEEEE* Publish di blog pribadi gimana? Nanti kamu link ke aku deh *wink* Yewook? Hmmm aku belom tahu. Di plot awal ga ada yewook, mian :( rikues apa? Aku mencoba adil buat masalah sakit menyakiti disini lewat cara mereka masing-masing, tapi sayang yang kerasa ngenesnya cuma kyu. Aku suka yang panjang-panjang kok #eh? Makasih banyak yaaaa :*

SEKIAAAAAN. SALAM SAYANG BUAT REVIEWER TERCINTAAAAH. Buat yang masih sider, kalian masih menyakiti hati saya :(