"Chunhwa-sajangnim tadi menelepon. Beliau bilang ingin bicara, tapi kubilang Sajangnim sedang keluar bersama Kyuhyun. Setelah kubilang begitu, Chunhwa-sajangnim langsung bertanya 'Kyuhyun? Cho Kyuhyun?' Langsung saja kujawab 'iya'."
Ryeowook menjelaskan lagi. "Beliau memintaku menyampaikan pada Sajangnim kalau Sajangnim harus kembali ke Ilsan hari ini juga. Tanpa Kyuhyun."
.
Dengan gerakan cepat Kyuhyun menggenggam tangan Sungmin, seolah menguatkannya. Mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja. Ingin sekali ia mengatakan untuk tenang saja karena orangtuanya pasti setuju, tapi ia ingat Kyeongsuk memintanya untuk tidak mengatakan hal itu pada Sungmin.
"Aku akan tetap ikut," ucapnya sambil meremas tangan Sungmin dalam genggamannya.
Sungmin menggeleng sambil tersenyum tulus padanya.
'Sungmin tidak akan mundur. Sungmin sudah janji padaku. Kami akan tetap menikah.' Kyuhyun mengulang kalimat itu bagaikan mantra. Ia tidak bisa menutupi perasaan khawatirnya.
Pengusaha muda itu menarik napasnya dalam sebelum menguatkan hatinya. 'Biarkan aku yang berjuang sekarang, Kyuhyunie.'
.
.
.
Title : Thanks To My Phone
Rating : T
Cast : Cho Kyuhyun, Lee Sungmin, and Other
Warning : Terinspirasi dari Drama Korea Sassy Girl Chun Hyang, BoyxBoy, TYPO(s), newbie, membosankan, alur lambat, OOC
Type : Chaptered
Don't Like, Don't Read
.
.
.
Chapter ini adalah yang paling panjang sepanjang sejarah saya nulis ff -..- jadi tolong dimaklumi kalo ada yang menemukan kebosanan ditengah atau justru awal atau di keseluruhan. Mending sisain buat besok daripada muntah. Jangan baca ff tanpa kacang g*ruda!
.
-Chapter 17-
"Ah, sakit." Sungmin meringis lumayan keras saat Kyuhyun meneteskan obat luka didekat hidungnya.
"Maaf." Kyuhyun berkata sambil menempelkan plester luka, tidak menatap Sungmin sama sekali. Ia masih kesal karena Sungmin, dengan keras kepala, tetap memintanya tinggal dan membiarkan Sungmin datang sendirian ke Ilsan. Padahal, ayolah, apa salahnya kalau Kyuhyun ikut?
Kyuhyun menurunkan tangannya dari wajah Sungmin dan menghela napasnya. "Jangan salahkan aku kalau aku ke Ilsan sendiri karena kau tetap tidak mengizinkanku," ucapnya sambil bangkit dan menatap penuh Sungmin yang mendongak memandangnya.
"Alasannya?" tanya Sungmin singkat.
"Lihat dimana letak salahnya saat aku menemanimu untuk bertemu orangtuamu lalu mengatakan semua yang terjadi antara kau dan aku?" Jeda sebentar dari Kyuhyun. "Aku punya peran, Min-hyung," lanjutnya sambil mengusap bagian wajah Sungmin yang tidak ditutup plester.
Sungmin tersenyum tipis dan ikut berdiri. "Tidak ada yang salah kalau kau bilang begitu." Sungmin menyentuh tangan Kyuhyun yang menyentuh pipinya. "Masalahnya, alasan kau tidak mengizinkanku pergi sendiri adalah kau, Cho Kyuhyun, yang katanya ingin menikahiku tidak mempercayaiku sama sekali. Karena kau tidak percaya, kau takut aku akan pergi setelah pergi saat kau tidak disampingku. Aku benar, 'kan?"
Kyuhyun menghentikan elusannya pada Sungmin. Kalau Sungmin tahu alasannya, kenapa tetap tidak mengajaknya? Sungmin harusnya tahu yang membuatnya hilang kepercayaan justru karena tingkahnya yang sulit ditebak. Harusnya Sungmin lebih terbuka padanya. Kalau Sungmin memang ingin benar menikah dengannya, membiarkan dirinya ikut dan melihatnya bicara dengan kedua orangtuanya bisa dijadikan bukti keseriusannya.
"Kau yakin ingin menikah dengan orang yang tidak kau percaya?" tantang Sungmin sambil perlahan menyingkirkan tangan Kyuhyun. Ia tahu semua yang terjadi memang salahnya. Paling tidak kalau ia pergi sendiri dan membuktikan kalau ia serius dengan ucapannya, kepercayaan Kyuhyun akan kembali sedikit demi sedikit.
Kyuhyun membalas dengan nada yang sedikit lebih tinggi, mendekatkan tubuhnya dengan Sungmin. "Bukankah justru aku yang seharusnya menanyakan hal itu? Apa kau serius mengatakan mengatakan ingin menikah denganku?"
Sungmin mundur dan sedikit menggeser tubuhnya, berniat menjauhi Kyuhyun. Akan bodoh bila adu mulut dengan Kyuhyun. Belum apa-apa ia sudah malas dengan sifat Kyuhyun yang satu itu. Sebegitu sulitkah untuk Kyuhyun mengerti dirinya?
"Aku akan kembali sebelum malam," Sungmin mengambil langkah besar sebelum Kyuhyun menahannya, menggenggam pergelangan tangannya erat.
"Aku sedang bicara denganmu, Lee Sungmin."
"Kau mau aku menanggapinya dengan apa, Cho Kyuhyun? Toh apapun yang kukatakan tidak akan membuatmu langsung percaya padaku." Sungmin menatap Kyuhyun tajam. Ia berharap Kyuhyun mengerti dan mendukung keputusannya. Tapi, sepertinya pemuda yang lebih muda darinya itu tidak bisa sedikitpun.
"Aku bersumpah, Kyuhyun-ah. Kau boleh membunuhku kalau aku benar-benar pergi darimu setelah ini. Aku rela Tuhan mencabut nyawaku kalau itu bisa membuatku percaya hari ini saja padaku." Ucapan Sungmin sontak membuat Kyuhyun membawa Sungmin kedalam pelukannya. Ia tidak suka ucapan Sungmin. Seakan menunjukan kalau ia sebrengsek itu karena tidak bisa percaya padanya.
"Jangan bicara yang tidak-tidak. Kau hanya perlu kembali padaku secepat mungkin. Aku tidak tahan ditinggal sebentar saja olehmu." Kyuhyun mengalah. Ia akan mencoba yang Sungmin katakan.
Sungmin tersenyum dan membalas pelukan Kyuhyun. Ia bersyukur Kyuhyun bisa meredakan emosinya. "Kalau begitu kau hanya perlu percaya padaku." Menjauhkan tubuhnya, Sungmin kembali memamerkan senyum manisnya. "Aku tahu kau pasti tidak tahan ditinggal calon pengantinmu ini lama-lama, makanya aku akan kembali sebelum malam lalu kita akan makan malam bersama."
Meraih kembali kedua sisi wajah Sungmin, Kyuhyun memberikan kecupan hangat pada kening Sungmin. "Aku percaya kalau kau mencintaiku dan tidak akan mengecewakanku."
Kali ini Sungmin yang memeluk Kyuhyun. "Aku memang mencintaimu."
Lebih erat lagi.
"Selamat berjuang," ucap Kyuhyun ditutup kecupan manis pada bibir Sungmin.
.
.
Katakan dia munafik. Katakan Cho Kyuhyun pembohong ulung yang tidak waras. Semua hinaan itu tidak masalah untuknya karena dia benar-benar seperti itu.
Kyuhyun mendengarkan ocehan Onew dan Key di ruang kerja sambil mengepal tangannya keras-keras. Ingin sekali ia menggebrak meja dan merampas kunci mobil yang disimpan entah dimana dan menyusul Sungmin, tapi ia tidak bisa. Ia sudah terlanjur bilang kalau akan menyerahkan semuanya pada Sungmin. Jangan ingatkan Kyuhyun. Dia sudah sangat tahu akan sangat melanggar perjanjian kalau ia benar-benar menyusul Sungmin ke Ilsan. Tapi... Argh, dia benar-benar khawatir! Tunggu, mungkin lebih tepat kalau dikatakan dia takut. Benar, dia takut Sungmin tidak akan—
'Fokus, Kyuhyun. Dia sudah bersumpah padamu. Kau sudah bilang akan percaya. Semuanya sudah pada tempatnya. Lalu bagaimana kalau Chunhwa-ahjussi mengancam yang tidak-tidak? Sungmin itu sangat berbakti. Aku tidak akan menang kalau melawan keluarganya.' Kyuhyun menggelengkan kepalanya pelan. Pikiran-pikiran menyebalkan itu tidak mau berhenti menghinggapi otaknya.
"Jadi, apa saja yang terjadi sampai wajahmu dan Sajangnim babak belur, Hyung?"
Kyuhyun tidak menanggapi pertanyaan Key dan memilih untuk memandang kosong ke luar rumah.
Rasanya ia ingin menendang bokong orang saat matanya tidak sengaja menangkap ponsel putih Sungmin diatas meja. Sial, harusnya ia memberikan itu dulu pada Sungmin sebelum pergi. Kalau sudah begini bagaimana ia bisa tahu keadaan Sungmin? Ia bahkan tidak tahu apakah Sungmin sudah di Ilsan.
'Demi Tuhan, aku bisa gila! Aku benar-benar harus kabur. Pikirkan dimana Sungmin mungkin menyembunyikan dompet dan ponselmu, Cho Kyuhyun.' Kyuhyun masih memandang lekat pemandangan diluar rumah Sungmin sampai ia ingat dengan sepeda yang tadi pagi ia pakai.
Kyuhyun menyembunyikan seringaiannya. Ia tahu apa yang harus dilakukan. Tidak perlu mencari letak dompet dan kunci mobil sepertinya karena ia punya ide lain. Persetan dengan janjinya, Sungmin pasti akan mengerti alasannya menyusul karena dia adalah orang yang paling mengerti dirinya.
"Aku mau tidur sebentar, badanku masih pegal," katanya yang disambut dengan tatapan tidak percaya dari Onew dan Key. Dua orang dihadapan Kyuhyun hanya saling pandang. Bukannya mereka tidak mau mengizinkan Kyuhyun tidur, tapi Sungmin meminta mereka untuk...
"Aku tidak akan kemana-mana. Dompet dan kunci mobilku disembunyikan, ingat?"
.
.
Seperti sedang ditengah persidangan, Sungmin duduk ditengah keluarganya bak orang yang harus diadili karena tertangkap tangan sedang melakukan transaksi kotor. Terakhir kali keluarganya mengelilinginya seperti ini adalah tujuh tahun yang lalu saat ia memutuskan untuk ikut wajib militer tahun itu juga. Dulu semuanya terasa berlebihan bagi Sungmin, tapi sekarang semuanya terlihat wajar. Jelas wajar karena sebentar lagi mereka akan membicarakan masa depan banyak hal—mungkin.
"Sungmin-ah, bagaimana pekerjaanmu?" Chunhwa memulai dengan pertanyaan yang terdengar sangat hangat.
"Masih seperti biasa, Appa. Tidak ada masalah serius selama aku memimpin disana."
Chunhwa mengangguk bangga, menegakkan tubuhnya saat mendengar jawaban mantap anaknya. Sekalipun Sungmin tidak memegang perusahaan skala besar, ia tetap menunjukkan profesionalitas yang sama besar seperti saat memegang jabatan CEO di Sendbill selama beberapa saat.
Kenyataannya adalah Sungmin tidak pernah mengecewakan keluarganya. Bahkan saat Sungmin keluar dari dunia hiburan dan ditawari untuk menjadi CEO di Sendbill, anaknya itu hanya mengambil jabatan itu 2 bulan. Tanpa banyak bicara Sungmin membuktikan kalau dia bisa hidup dengan tangannya sendiri.
Chunhwa memang memberikan kebebasan pada Sungmin, tapi Sungmin selalu tahu batas-batas tidak tertulis yang ia terapkan dalam keluarga kecilnya.
Kecuali, satu hal.
"Apa kau merekrut pekerja baru akhir-akhir ini, Min?"
Sungmin mengangguk sedikit ragu, ia sedang mencoba membaca arah pembiraan ayahnya. "Ada dua laki-laki dan tiga perempuan yang bertugas mengerjakan pembuatan produk."
"Apa salah satu dari mereka bernama Cho Kyuhyun?"
Ah.
Gelengan. "Tidak."
"Appa harap kau bersedia menjelaskan apa yang Cho Kyuhyun, mantan kekasih palsumu, itu lakukan disana."
Sungmin menangkap sebersit kekhawatiran dalam mata ayahnya. Ia tahu apa yang dipikirkan ayahnya. Ia tahu apa yang tidak diharapkan ayahnya untuk keluar dari mulutnya.
Ayahnya mengajarkan banyak hal selama hidupnya, termasuk apa yang disebut hidup dalam masyarakat. Hukuman apa yang pantas diterima orang yang melanggar hukum tidak tertulis dalam masyarakat juga diajarkan dan melekat dalam ingatan Sungmin.
Sungmin tidak berani menatap ayahnya. Perlahan genggaman tangannya mengendur. Sekali lagi, Sungmin tahu jawaban apa yang tidak ingin didengar ayahnya saat ini.
.
.
Kyuhyun membuka laci lemari yang ada di kamar Sungmin dengan tergesa. Ia sudah sukses mendapat uang dalam selipan buku Sungmin, tapi itu masih kurang. Kyuhyun langsung mengeluarkan semua isi dalam laci itu dan perhatiannya langsung tertuju pada amplop putih yang berada paling bawah.
"Datanglah padaku 10 ribu won," mohonnya saat membuka amplop yang ia curigai terdapat uang didalamnya. Lagi-lagi ia harus membuang jauh-jauh harapannya saat tidak mendapat apa yang dia inginkan. Nyaris putus asa Kyuhyun berputar-putar didalam kamar Sungmin. Uang yang yang ada di tangannya memang cukup untuk sekadar naik kereta biasa. Lalu kenapa dia tidak kereta biasa? Jangan gila! Berapa waktu yang akan terbuang percuma untuk itu? Paling tidak ia harus naik KTX untuk menghemat dua jam lebih.
'Sialan. Apa benar harus dengan kereta biasa?' umpatnya saat melihat jarum jam dinding di kamar Sungmin sudah mengarah pada angka 12. Sudah lewat empat jam sejak kepergian Sungmin.
Tempat terakhir yang memungkinkan ia mendapat uang adalah saku jaket Sungmin yang tergeletak di atas kasur. Senyum Kyuhyun terkembang saat menemukan 2 lembar 10 ribu won disana. "Maafkan aku Min-hyung. Aku benar-benar gila kalau tidak menyusulmu."
Mengelilingi kamar Sungmin sekali lagi, Kyuhyun akhirnya ingat sepatunya ada di rak sepatu. Dengan sigap ia mengambil sepatu Sungmin yang ada di pojok kamar. Ia juga mengambil jaket berkupluk Sungmin.
Sesuai rencana yang sudah disusun, Kyuhyun melompat keluar kamar melalui jendela kamar Sungmin dengan nyaris tanpa suara. Ia bersembunyi sebentar saat melihat Jonghyun berjalan di sekitar gerbang rumah.
'Apa sih yang orang bodoh itu lakukan disana? Kalaupun aku berhasil mengambil sepeda, aku tetap harus bertatap muka dengan dia.' Kyuhyun mencari kerikil disekitarnya, berniat melemparnya ke pintu samping rumah Sungmin untuk mengalihkan perhatian Jonghyun.
Sepertinya Kyuhyun salah perhitungan karena kerikil yang dia lempar tidak ada yang mengenai sasaran. Dengan cepat Kyuhyun mengambil langkah ekstim untuk bangkit dan berlari menuju garasi di kanannya. Ah, satu lagi kesalahan Kyuhyun: dia menarik perhatian Jonghyun dengan cara mengambil sepeda yang brutal.
"Kyuhyun-hyu—" Sebelum Jonghyun selesai, Kyuhyun sudah meninju pipi Jonghyun lebih dulu. Entah karena pukulan Kyuhyun yang terlalu keras atau efek kaget, Jonghyun sedikit mematung sambil memegang pipinya. Memberikan ruang lebar bagi Kyuhyun untuk lari bersama sepeda curiannya.
.
.
Satu hal lagi yang Lee Chunhwa ajarkan pada anaknya. Kejujuran.
"Cho Kyuhyun datang untuk mengantarku dari Seoul," jawab Sungmin sambil tetap menunduk.
Ayahnya diam sebagai arti ia meminta Sungmin melanjutkan jawabannya.
Sungmin menggigit bibirnya. Yakin kalau sekarang bukan saat yang tepat untuk basa-basi, pemuda itu akan langsung ke inti. "Appa, aku..." Sungmin menelan ludahnya saat melihat raut wajah ayahnya mengeras.
"Aku akan menikah dengan Kyuhyun."
Chunhwa tidak menanggapi, pria itu mematung mendengar jawaban putra sulungnya.
Sungmin menahan napasnya. Ini saat paling nervous dalam hidupnya. Rasanya persis seperti sudah sekolah 6 tahun dan keputusan lulus atau tidaknya hanya diputuskan oleh ujian 3 hari.
"Kapan?" kali ini ibunya yang bertanya.
"...Tiga bulan lagi."
Chunhwa terbelalak saat mendengar jawaban Sungmin. Sungmin sudah selancang itu memikirkan rencana pernikahan abnormalnya tanpa memberi tahu keluarganya sebelum ini?
Seandainya Chunhwa tahu, anaknya pun baru saja memutuskan hal itu kemarin malam.
"Bagaimana kalau Appa tidak mengizinkan?"
Sungmin menunduk sebentar sebelum menatap ayahnya. "Aku akan kawin lari dengan Kyuhyun."
Bukan hanya orangtua Sungmin yang kaget dengan jawaban Sungmin, tapi Sungjin juga. Ia tidak pernah tahu kalau kakaknya seyakin itu dengan Kyuhyun. Lagipula...kawin lari? Yang benar saja! Ada jawaban yang lebih manly dari itu. 'Menikah diam-diam' atau 'menikah tanpa restu kalian' masih akan terdengar lebih elit.
Terlepas dari kekonyolan jawaban kakaknya, yang ia yakin seratus persen akan mendapat penolakan, ia tidak bisa membuang fakta kalau setelah perbincangan ini hubungan keluarganya akan sangat renggang. Ayahnya jelas tidak akan setuju dengan alasan yang sangat masuk akal. Bukan artinya ia menolak keras hubungan kakaknya dengan Kyuhyun, hanya saja...kemungkinan keberhasilannya sangat kecil.
"Kalau kau menikah dengan laki-laki, kau tidak akan mendapat keturunan."
'Benar, 'kan?' kata Sungjin membenarkan kemungkinan yang ia buat. Ia kemudian melihat kakaknya yang kembali menggumamkan 'aku akan tetap kawin lari.'
Rasanya ia ingin membenturkan kepalanya, kakaknya ini...sungguh ajaib. Disaat seperti ini masih sempatnya dia mengulang jawaban konyol itu sambil memasang wajah memelas. Seimut apapun kakaknya saat meminta sesuatu, untuk masalah ini ayah mereka pasti tidak akan—
"Kau boleh menikah dengan Kyuhyun, Sungmin-ah."
—luluh?
Sungjin dengan cepat berdiri dan protes. "Ah, wae?!"
"Harusnya aku yang kaget, Lee Sungjin," timpal Sungmin saat melihat justru adiknya yang memasang wajah tidak percaya yang berlebihan. Yang akan menikah dengan Kyuhyun 'kan dirinya, kenapa Sungjin lebih kaget darinya? Atau adiknya main belakang dengan Kyuhyun?
"Harusnya Appa menolak."
"Ya! Jangan memprovokasi Appa. Sekali Appa bilang boleh artinya boleh." Sungmin tidak terima saat mendengar kalimat yang Sungjin lontarkan. Adiknya sering begini saat ayah mereka mengizinkan Sungmin melakukan sesuatu dan adiknya tidak. Bukan berarti adiknya ingin menikah dengan laki-laki juga, tapi...ah sudahlah.
"Ani, Hyung, ini bukan masalah kau menikah dengan laki-laki, tapi aku sudah susah-susah menebak. Masa iya Appa jadi setuju hanya karena luluh dengan tampang imutmu itu?"
Kyeongsuk menarik kedua putranya untuk duduk tenang lagi di sofa. Selalu ada saat dimana ia tidak rela mengakui anak-anaknya sudah dewasa karena kelakuan mereka tidak pernah berubah sejak mereka kecil.
"Appa bukan tipe ingkar janji, Min."
Sungmin menaikkan alisnya. Janji? Apa ayahnya pernah menjanjikan kebebasan menikah dengan Kyuhyun?
Kyeongsuk mengusap bahu Sungmin, "Tanyakan perjanjian seperti apa yang kekasihmu buat dengan Eomma."
"TUNGGU!" Sungjin menginterupsi lagi.
"Apa artinya Sungmin-hyung benar-benar akan menikah dengan Kyuhyun-hyung tiga bulan lagi? Menikah? Membangun keluarga? Appa dan Eomma mengizinkan?"
Kedua orangtuanya mengangguk.
.
.
Senyum Sungmin tidak bisa dihapus sejak dia mendengar jalan cerita perjanjian yang Kyuhyun buat bersama Hanna-eommonim dan ibunya. Ibunya juga menceritakan betapa ayahnya sangat sulit untuk diajak kooperatif dengan perjanjian yang sudah dibuat. Sungmin tidak menyangka perjanjian yang Kyuhyun buat bisa menyelamatkan hubungan mereka. Ah, lagi-lagi Kyuhyun yang melakukan sesuatu untuknya. Ia akan berterima kasih saat pulang nanti.
"Appamu itu punya segudang alasan. Tapi, akhirnya Appamu setuju setelah tahu kau akan keluar dari dunia hiburan untuk menjauh dari Kyuhyun. Karena artinya, anaknya sudah mundur lebih dulu sebelum semuanya dimulai."
Ekspresi Sungmin melemah. Ada sesuatu yang ia sayangkan saat ini. Masa lalunya, mimpinya, harapan keluarganya.
"Alasan Appa tidak mengundang Kyuhyun kesini karena Appamu ingin menyelesaikan urusannya dengan anak kebanggannya. Ia ingin lihat seperti apa Lee Sungminnya memilih jalannya sendiri," terang Kyeongsuk sambil mengelus pundak Sungmin. Kyeongsuk baru sadar kalau pundak Sungmin sudah tidak seperti anak-anak lagi. Bukan Sungmin kecilnya yang selalu menangis karena dipukuli teman mainnya saat membela teman-teman perempuannya.
"Dulu saat kau mengatakan ingin meninggalkan profesimu sebagai artis, Eomma sudah menebak alasannya adalah Kyuhyun. Eomma pikir itu akhir perjalananmu dengan Kyuhyun. Tapi, ternyata tidak. Tiga tahun lalu saat Eomma tahu dari Luna kalau kau sering ke Seoul untuk menonton konser Kyuhyun, Eomma dan Appa sudah memikirkan kemungkinan kalau kalian mungkin akan mengulang kisah kalian. Dan terbukti benar."
Kyeongsuk memeluk anaknya.
"Eomma tidak pernah lihat kau seperti ini, Sungmin-ah. Anak Eomma sudah sangat besar." Tepukan dan elusan hangat itu Sungmin rasakan pada punggungnya. "Kau harus bahagia, Min."
Airmata Sungmin tumpah saat mendengar doa ibunya. Ia bahkan merasa tidak pantas untuk membalas pelukan wanita yang paling ia cintai. Sungguh ia merasa sangat berdosa karena mengecewakan harapan orangtuanya untuk memberikan keturunan.
"Maafkan aku—Eom-ma," ucapnya sulit sambil mencoba membuat suaranya tidak bergetar.
"Tidak apa-apa, Min. Kau tetap anak kebanggaan Eomma dan Appa. Kami akan selalu berdiri di belakangmu."
.
.
.
Sungmin memukul kemudi mobilnya kesal. Cho Kyuhyun bodoh yang sangat idiot dan tidak tahu diri itu mengingkari janjinya. Bagian mana yang 'aku percaya kau mencintaiku'? Ia yang sudah dengan buru-buru keluar dari rumahnya supaya tidak membuat Kyuhyun menunggu terlalu lama justru harus dikagetkan oleh laporan Onew kalau Kyuhyun pergi, memukul Jonghyun dan sepertinya menyusulnya ke Ilsan.
'Aku sangat kecewa padamu,' ulang Sungmin dalam hati. Sungguh ini sangat menyebalkan. Ia sudah habis-habisan, tapi Kyuhyun malah...
"Dia memegang ponselku yang putih. Telepon dia, Jinki. Tanyakan dia dimana. Aku tidak mau bicara dengannya sekarang," tutup Sungmin sambil memutar kemudinya ke kanan, menambah kecepatan laju mobilnya.
.
.
Kalian pernah liat artis besar, dengan pakaian ala kadarnya, wajah lebam sana sini, naik kepeda ke stasiun? Mungkin tidak. Pernah pun, tidak mungkin artis sekelas Cho Kyuhyun yang kalian lihat. Ia rela mengayuh sepeda jauh-jauh dari rumah Sungmin ke stasiun demi kekasihnya.
Ia memarkirkan sepeda hitam itu dengan hati-hati sebelum bergegas ke loket. Ia beruntung karena hanya perlu menunggu lima menit sebelum keberangkatan keretanya. Mengisi kekosongannya, ia menghubungi Donghae.
"Hyung, ini Kyuhyun. Kau sedang sibuk?"
"Sekarang iya. Kalau dua jam lagi baru aku bebas. Kenapa?"
"Jemput aku di Stasiun Seoul. Lalu antar aku ke Ilsan."
TUT TUT TUT
"MWO? Dia menolakku?" Kyuhyun membelakkan matanya saat mendengar nada putus itu. Jarang-jarang Donghae menolak permintaannya. Sebenarnya wajar Donghae menolak. Badannya masih pegal-pegal karena menyetir nyaris sembilan jam demi Kyuhyun. Jangan bicarakan masalah keikhlasan dengan Donghae, pemuda itu baru merasa tidak ikhlas saat pinggangnya terasa kaku saat keluar dari mobil.
Rasa terkejut Kyuhyun tidak berlangsung lama karena ponsel di tangannya kembali berbunyi. "Ah, dia pasti minta maaf," ujarnya senang sambil melangkah masuk KTX.
"Yeobos-"
"Kyuhyun-hyung!" Suara orang di seberang telepon terdengar bukan seperti hyungnya.
"Onew?"
"Hyung dimana? Aku sudah menghubungi sejak setengah jam yang lalu."
Kyuhyun tertawa keras, senang karena Onew menghubungi tepat saat KTX yang ia naiki sudah bergerak. Ia sebenarnya lumayan bingung saat Onew menghubungi nomor Sungmin tapi langsung menuding dengan teriakan 'Kyuhyun-hyung', tapi terserah, ia tidak peduli.
"Aku di KTX, perjalanan menuju Seoul. Katakan maafku pada Jonghyun karena sudah memu—"
"Sungmin-hyung kecelakaan dalam perjalanan pulang ke Gyeongju."
Genggaman Kyuhyun pada ponselnya melemas.
"Begitu kuceritakan kalau Hyung kabur, Sungmin-hyung sangat panik dan memintaku menghubungi Hyung agar kembali ke Gyeongju karena ada yang mau dibicarakan. Sungmin-hyung bilang padaku untuk mengatakan pada Hyung kalau orangtua Sungmin-hyung sudah memberi restu. Aku tidak terlalu mengerti, tapi aku dan yang lain sudah bersiap ke Seoul karena Sungmin-hyung kecelakaan setelah keluar tol Seoul."
.
.
Belum benar peredaran udara di paru-parunya karena lari dengan sangat kencang, jantungnya harus dipaksa bekerja dengan tidak normal saat melihat orangtua Sungmin beserta Sungjin berada didepan ruangan yang katanya ruang rawat Sungmin. Ia berharap mereka tidak disana. Ia berharap ruangan atas nama Sungmin itu tidak bukti kalau kecelakaan Sungmin hanya omong kosong yang dibuat Onew.
Dengan langkah cepat ia menghampiri mereka. "Eommonim, Abonim, bagaimana keadaan Sungmin? Sungmin baik-baik saja 'kan?"
Lee Chunhwa menjadi yang pertama bangun dan menatap Kyuhyun tajam. "Kau harus bertanggung jawab kalau sesuatu terjadi pada anakku."
Tidak mau berpikir apa maksud Chunhwa, Kyuhyun memilih membungkuk hormat kepada orangtua Sungmin dan memasuki ruangan didepannya dengan buru-buru.
Ia masih berharap semuanya omong kosong sebelum melihat Sungmin yang benar-benar terbaring dengan alat-alat kedokteran di sekelilinginya. Seluruh tubuhnya lemas saat mendekati Sungmin dan melihat wajah kekasihnya yang nyaris tertutup masker oksigen. Tidak tahu kecelakaan macam apa yang dialami Sungmin sampai ia harus dipasangkan alat-alat penopang kehidupan itu.
"Jangan bercanda, Min. Beberapa jam yang lalu kau masih bicara denganku," ujarnya pelan sambil menggenggam tangan kanan Sungmin. Ini tidak pernah ada dalam bayangannya. Ia berniat menyusul Sungmin untuk meminta izin, bukan untuk menjenguk siapapun, apalagi Sungmin.
"Apa yang terjadi sebenarnya? ...Maafkan aku." Kyuhyun menggenggam erat tangan Sungmin, memberikan kekuatan untuk Sungmin membuka matanya. Ia yakin semua salahnya. Kalau saja ia tidak kabur, Onew tidak akan menceritakan hal mengecewakan yang membuat semua ini terjadi. Kalau saja ia percaya pada Sungmin.
Mata Kyuhyun memanas saat mengingat betapa brengsek dirinya. Disaat Sungmin meminta izin untuk membuka lembaran hidup baru, mempertahankan hubungan mereka, dia malah dengan tidak tahu diri mengacak barang-barang di kamar Sungmin demi uang yang ia pakai kesini. Sungmin sudah membuktikan kalau ia siap menikah dengannya, tapi dia justru...
"Orangtuamu sudah mengizinkan, 'kan? Kau sudah bilang akan menikah denganku, Min. Kau sudah berjanji padaku. Kau—" kata-kata Kyuhyun tercekat karena airmata yang mulai menggenangi pelupuk matanya.
"Maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku," ucapnya berulang saat membawa tangan Sungmin ke wajahnya, menutupi airmata yang mengalir saat mengingat semua kebodohannya. Kata-kata penyesalannya tidak mau keluar. Semuanya seakan tersampaikan dengan air yang mulai mengalir dari matanya. Ia akan menukar semua yang ia punya agar ia bisa melihat Sungmin membuka mata dan membalas ucapannya.
Aku rela Tuhan mencabut nyawaku kalau itu bisa membuatku percaya hari ini saja padaku.
Bayang-bayang Sungmin yang meminta Kyuhyun percaya padanya pagi ini kembali terputar. Ia harusnya tahu kalau Tuhan itu mendengar doa semua makhluknya. Tuhan juga tahu isi hati mereka—isi hati Kyuhyun yang terus meragukan Sungmin.
"Jangan bicara begitu. Aku percaya padamu...maaf...buka matamu..." katanya sambil mengecup punggung tangan Sungmin.
...
...
"...hyun."
Kyuhyun mendongakkan wajahnya saat mendengar suara calon pengantinnya. Ia tidak tahu kalau Tuhan masih saja mendengar doa makhluk jahat sepertinya. Ia buru-buru menurunkan tangan Sungmin dari wajahnya dan berdiri dengan wajah terkejut. "A-aku akan panggilkan dokter."
Tangan Sungmin menghalangi gerakan Kyuhyun yang akan beranjak menjauh. Dibalik masker oksigennya, Sungmin masih bisa memberikan senyumannya yang paling tulus.
"Aku berhasil. Percaya-padaku," ucap Sungmin terbata. Alih-alih menghentikan airmatanya, Kyuhyun justru makin bisa merasakan matanya makin panas. Ia merasa berdosa karena kata-kata pertama yang keluar dari bibir kekasihnya justru hal itu. Ia percaya pada Sungmin. Ia bodoh karena meragukan keseriusannya.
"Aku percaya padamu. Kau berhasil mendapat restu, 'kan? Chukkae, Min. Terima kasih banyak." Kyuhyun mencoba memberikan senyum paling tampannya pada Sungmin. "Maaf aku benar-benar menyebalkan. Maafkan aku, aku benar-benar menyesal..."
Sungmin memberikan isyarat pada Kyuhyun agar pemuda itu berhenti bicara dan mendekat. "Kalau begitu aku minta satu hal. Berjanji padaku kau akan selalu percaya padaku dan—"
"Aku berjanji. Aku percaya padamu sampai ajal menjemputku. Sampai kapanpun. Selamanya," potong Kyuhyun cepat.
"Dan jangan marah padaku," tutup Sungmin sambil melepas masker oksigennya dan perlahan mendudukkan tubuhnya pada sandaran tempat tidur. Sebelum mendorong tubuh Kyuhyun perlahan, Sungmin terlihat menutup mulutnya, kesulitan menahan tawanya.
"Hahahahahahahahaha. Aku benar-benar tidak bisa melanjutkannya sampai habis. Hahahahahaha."
Kyuhyun membelalakkan matanya saat melihat Sungmin tertawa seperti orang tidak habis sadar dari kecelakaan. Jangan bilang kalau dia...
"Astaga, perutku...Hahahahah—" Tawa Sungmin terhenti saat Kyuhyun membekap mulutnya.
"Kau mengerjaiku, Lee Sungmin? Kau mengerjaiku sampai aku kelihatan mengenaskan begini." Kyuhyun berbisik dengan nada mengancam. Kyuhyun benar-benar tertipu dengan akting Sungmin yang benar-benar seperti orang sekarat. Tapi, harusnya Kyuhyun tidak lupa kalau kekasihnya ini aktor drama musikal idola ibunya.
Karena Sungmin tetap tertawa sekalipun sudah dibekap Kyuhyun, mau tidak mau Kyuhyun mulai mengelitiki pinggang Sungmin yang sepertinya sangat sensitif terhadap hal-hal seperti ini."Tidak mau berhenti? Kau tidak akan berhenti tertawa sampai mati kalau begitu."
"Geli..ah..hahahahahahaha..Kyu—hahahaha...berhenti du—hahahahaha..."
"Beraninya kau mengelabui Cho Kyuhyun yang tampan," Kyuhyun menghentikan aksinya sambil memeluk pinggang Sungmin erat. Orang-orang mungkin berpikir kalau dirinya akan marah saat tahu Sungmin hanya pura-pura, tapi ia tidak. Ia bersyukur tidak ada hal buruk yang terjadi Sungmin karena kelakuan bodohnya.
"Kau sangat menyebalkan, Cho Kyuhyun. Kau mengecewakanku habis-habisan. Aku sangat kesal saat mendengar kau kabur dengan sepeda dan meninju Jonghyun."
"Itu karena aku gelap mata."
"Ngomong-ngomong, kau kesini naik apa?" tanya Sungmin sambil menghapus jejak airmata yang masih terlihat di pipi Kyuhyun.
"KTX."
"Kau punya uang? Dompetmu 'kan kusita."
"Aku mengobarak-abrik kamarmu. Aku ambil uangnya dari selipan buku, amplop, dan jaketmu. Bahkan aku memakai sepatu dan jaketmu tanpa izin. Sepedamu kuparkir asal-asalan di stasiun, mungkin sudah hilang sekarang," jelas Kyuhyun tanpa wajah bersalah sedikitpun.
"Menyebalkan."
"Kau lebih menyebalkan karena menyiapkan hal tidak penting begini."
Sungmin menjulurkan lidahnya ke arah Kyuhyun. "Pembelajaran untukmu supaya tidak ingkar janji."
Kyuhyun lalu mulai menginterogasi Sungmin. Ia sampai takjub sendiri saat Sungmin menjelaskan detail rencana menyebalkannya. Semuanya dimulai dari pesan Sungmin pada Onew yang mengatakan untuk menyampaikan kalau ia kecelakaan. Kenyataannya, Sungmin baik-baik saja dan langsung memutar mobilnya untuk kembali ke Seoul. Ia menelepon ayahnya supaya datang ke Seoul dan membantunya. Sungguh, semuanya berlangsung dengan sangat cepat. Sungmin dengan tanggap langsung menghubungi temannya yang dokter di rumah sakit ini, Kibum, dan meminta izin untuk meminjam ruangan ini untuk drama kecil-kecilannya.
"Harusnya kau sadar kalau alat-alat disini tidak bekerja."
"Ya! Mana sempat aku memikirkannya? Harusnya aku sadar sejak awal karena aku boleh masuk begitu saja ke UGD. Kau membuatku panik setengah mati. Apalagi ayahmu juga mengancam saat didepan tadi."
Sungmin tahu. Kyuhyun pasti akan sepanik itu, ia tahu. Ia minta maaf karena mengerjainya sampai seperti ini, tapi sungguh ini sangat terpaksa. Ia juga kaget kalau rencana kilatnya akan berhasil dengan begitu sempurna. Entahlah, setiap Sungmin merencanakan rencana kilatnya, semuanya selalu berhasil. Mungkin itu bakat alaminya.
"Aku minta maaf sudah membuatmu seperti ini," ujar Sungmin.
Kyuhyun, yang tidak tertarik membalas ucapan Sungmin, memilih menempelkan bibir Sungmin pada miliknya. Mendiamkannya sebentar, Kyuhyun tersenyum saat Sungmin justru membuka mulutnya duluan sebelum ia minta. Belum sempat Kyuhyun memutar lidahnya didalam mulut Sungmin, pintu ruang rawat Sungmin terbuka dan menampilkan Sungjin yang mematung memandang mereka berdua.
"Ups. Err... Aku dengar tadi Hyung sudah tertawa-tawa, jadi...hanya ingin mengatakan kalau orangtua Kyuhyun-hyung sudah ada disini." Tepat setelah mengucapkan itu Sungjin kembali menutup pintu dan menyisakan wajah penuh tanya Kyuhyun.
"Aku sekalian mempercepat pertemuan kedua orangtua kita, Kyu," jawab Sungmin sebelum ditanya.
'Orang ini...penuh kejutan,' batin Kyuhyun. "Aku bahkan belum cerita ke orangtuaku kalau kita akan menikah, Min."
"Eomma sudah cerita duluan dan kata Hanna-eommonim, Eomma bilang orangtuamu tidak kaget sama sekali. Mereka sudah siap kalau anaknya akan memulai kehidupan ajaibnya."
"Kau benar-benar sudah menyusun rencana jangka panjang. Lalu, tinggal apa yang belum selesai?"
Kyuhyun melirik Sungmin yang sedang melihat ke arah lain sambil memainkan bibirnya.
"Ah, ciuman kita."
.
.
ChoKyuHyun (GaemGyu)
Dulu aku kesini untuk menemani kakakku, sekarang untuk diriku sendiri. Mencoba baju pengantin dengan orang yang manis tapi sangat cerewet imSMl kkk
.
.
Sungmin menepuk bahu Kyuhyun yang sedang sibuk dengan ponselnya. Kyuhyun benar-benar mempercayakan semua hal pada Sungmin, termasuk baju untuk pernikahan mereka.
"Tadi ada lagi model lain yang ditawarkan, tapi aku bingung memilih warnanya. Menurutmu ada yang salah dengan kerahnya?" tanyanya sambil menunjukkan desain baju pengantin mereka pada tablet PC hitamnya. Yang ditanya sempat melirik sebentar sebelum membuka mulutnya.
"Jangan katakan terserah, Kyuhyun-ah. Kau tidak akan membantu."
Kyuhyun tertawa. Laki-laki didepannya benar-benar tahu persis sifatnya. Ia mengurungkan niatnya untuk mengatakan terserah dan memperhatikan desain didepannya dengan lebih detail. "Aku mau kancingnya dihilangkan saja. Jadi, seperti apa bajunya kalau warna putih-silver dan hitam-silver?" Sungmin menggeser layar sentuh di tangannya. Ia menunjukkan dua versi baju dengan model sama dan warna berbeda.
Sudah sebulan berlalu sejak drama penipuan di rumah sakit. Tentu banyak hal yang terjadi dalam jangka waktu itu. Konferensi pers dan masalah dengan agensi Kyuhyun menjadi yang paling menarik perhatian dalam waktu-waktu itu. Sungmin ingat benar hujatan yang datang pada Kyuhyun dan dirinya karena hal ini. Beberapa fans Kyuhyun memintanya menjauh. Ada juga yang sampai menyumpahinya mati. Mereka juga mengancam kalau Kyuhyun sampai berhenti bernyanyi, mereka tidak akan berhenti mengganggu hidupnya.
Menjadi calon suami yang sangat baik—yang sangat tahu sifat sensitif Sungmin, Kyuhyun lebih memilih memamerkan fanpage yang mulai berdiri atas nama Kyumin Shipper. Pendukung Kyumin. Ia tidak bisa lebih terharu lagi saat ia mengatakan bahwa dirinya resmi akan menikah dengan seorang laki-laki beberapa bulan kedepan dan mereka ada disana untuk meneriakan bahwa mereka akan mendukungnya.
Tiga minggu sebelum konfrensi pers,
.Kyuhyun dan Sungmin sepakat untuk membuka hubungan mereka sedikit demi sedikit ke publik lewat umpan-umpan implisit melalui blog Sungmin dan twitter Kyuhyun. Bukan, bukan untuk memamerkan atau apapun dalam konteks itu. Mereka sudah sepakat bahwa Kyuhyun akan mengadakan konferensi pers mengenai hal ini dalam waktu dekat dan untuk itu, mereka memutuskan untuk membuka sedikit demi sedikit agar bisa menebak reaksi yang akan mereka terima nantinya.
Meskipun reaksi yang akan mereka terima nanti tidak akan mengubah keinginan Kyuhyun untuk menikah dengan Sungmin, paling tidak hal itu akan mempengaruhi tata cara pelaksanaan pernikahan mereka. Secara terbuka atau tertutup. Skala besar atau kecil dan beberapa hal lain yang masih dalam pertimbangan.
Semuanya terjadi begitu cepat. Hubungan Kyuhyun dan Sungmin makin tercium oleh beberapa penggemar Kyuhyun setelah Kyuhyun memposting foto minuman berenergi dalam salah satu tweet-nya dan mengatakan terima kasih.
...
ChoKyuHyun (GaemGyu)
Hari ini seseorang menemaniku sampai tempat parkir dan memberikanku minuman energi. Orang-orang di SM menitipkan salam untukmu, Hyung. kkk Terima kasih banyak~
...
Tak ada kata misterius dalam kamus penggemar Kyuhyun, akhirnya ada seorang penggemar yang mengatakan bahwa orang yang terlihat keluar dari mobil yang sama di tempat parkir bersama Kyuhyun adalah Lee Sungmin. Mantan artis SM Entertainment sekaligus seseorang yang pernah terlibat skandal sebelum Kyuhyun menjadi artis. Beberapa jam setelah itu nama Lee Sungmin yang sudah dilupakan kembali mencuat.
"SM meminta penjelasan dariku. Teuk-hyung juga ingin bertemu lagi denganmu," kata Kyuhyun pada malam dimana ia mendapat telepon dari petinggi SM kepada Sungmin yang baru selesai menyiapkan makan malam untuk mereka di apartemen.
"Kau tidak akan mengulangi kesalahanku yang dulu, 'kan?" tanya Sungmin hati-hati.
"Aku akan mencoba pelan-pelan. Di surat kontrak tidak ada larangan untuk menikah selama berada dibawah naungan SM. Aku rasa secara hukum aku tidak melanggar apapun. Kalau SM tetap melarang, aku baru akan mundur seperti caramu dulu."
Sungmin menelan ludahnya sulit. Ia menempatkan Kyuhyun dalam posisi yang membingungkan.
"Aku sudah cerita padamu kalau aku menjadi artis untuk melanjutkan jalan hidupmu. Tapi, sekarang kau punya hidupmu sendiri dan itu bukan sebagai artis." Kyuhyun tertawa. "Jadi, kalau diminta melepasmu atau karirku, aku pasti lebih memilih melepas karirku untuk tetap bersamamu."
"Kyuhyun! Serius sedikit. Bukannya aku mau kau melepasku demi karirmu, tapi kau tahulah maksudku."
Kyuhyun tertawa lagi. "Aku lebih dulu jatuh cinta padamu daripada karirku. Aku memang punya mimpi untuk membuat sebuah lagu denganmu, tapi tidak masalah kalau tidak terlaksana. Seperti yang orang bilang, cinta butuh pengorbanan."
.
Dan kadang pengorbanan itu tidak diperlukan.
Karena, SM tidak mengatakan apapun selain meminta Kyuhyun mengklarifikasi sesuatu yang menarik perhatian umum. Dan itulah yang terjadi. Memang tidak seratus persen dukungan untuk mempertahankan hubungannya dengan Sungmin datang, tapi itu lebih dari cukup untuk membuat Kyuhyun dan Sungmin yakin kalau melangsungkan pernikahan di Korea adalah sesuatu yang aman.
"Kalau kalian masih bersikeras bertanya alasanku bersikeras menikahi Sungmin, jawaban yang kalian dengar dari mulutku tidak akan berubah selain aku mencintainya. Dan kalau kalian menanyakan alasanku mencintai Sungmin, aku tidak akan pernah bisa menjawabnya karena cinta tidak memerlukan alasan."
Di wawancarai di tempat terpisah, Sungmin mengatakan hal yang bernada sama. "Aku ditakdirkan menjadi laki-laki, begitu juga Kyuhyun. Aku bisa memilih siapapun untuk kunikahi, begitu juga Kyuhyun. Takdir yang menentukan pada siapa hatiku jatuh, begitu juga Kyuhyun. Kami tidak punya alasan untuk menolaknya sama sekali karena kami memilih untuk mendapat kebahagiaan. Aku mencintai Kyuhyun dan memilih menikah dengannya sebelum aku kehabisan kesempatan untuk memilih."
.
.
Sungmin berdiri disamping Kyuhyun dengan senyum merekah di wajahnya. Ia melingkarkan tangannya pada lengan Kyuhyun sambil sesekali berbisik pada Kyuhyun saat melihat sesuatu yang menarik di pesta pernikahan mereka. Pesta yang diselenggarakan di sebuah ballroom hotel di Korea yang dihadiri lebih dari 5.000 tamu undangan. Sesuatu yang sangat wajar kalau mengingat status sosial kedua mempelai. Kyuhyun anak pemilik UPI dan Sungmin anak pemilik Sendbill. Sungmin sang pengusaha muda dan Kyuhyun sang artis papan atas.
"HYUNG-AH~~" Eunhyuk berteriak dari pintu masuk dan langsung menghambur ke pelukan Sungmin yang sedikit limbung karena sedang berbisik dengan Kyuhyun.
"Ah, anak ini malah baru datang. Kemana saja kau? Aku menunggumu sejak di ruang pengantin."
"Mwoya? Harusnya kau bisa memaklumiku yang harus menyiapkan hatiku untuk melihat Hyungku menikah dengan setan."
Kyuhyun menjauhkan Eunhyuk dari pengantinnya. Dengan tatapan sok terganggu ia meminta Eunhyuk mundur tiga langkah untuk bicara dengan Sungmin. Eunhyuk yang tidak terima malah langsung merangkul Sungmin dan mendorong Kyuhyun. Seakan ia merebut posisi Kyuhyun untuk menjadi pengantin Sungmin.
"Ada sedikit rasa tidak rela saat melihatmu berdiri disamping Kyuhyun, Hyung," ujar Eunhyuk bercanda sambil kembali memeluk Sungmin. Sungmin hanya bisa tertawa dan membalas pelukan Eunhyuk.
"Aku bersyukur kau bisa berdiri disini saat ini. Kalian benar-benar pantas mendapatkannya." Laki-laki yang lebih tua dari Eunhyuk itu hanya bisa terus tersenyum bahagia. Ia tahu kalau pernikahan akan menjadi saat yang paling mengharukan dalam kehidupan seseorang, tapi ia tidak tahu kalau saat ini adalah saat dimana ia tidak bisa membalas semua ucapan selamat dari orang-orang.
"Terima kasih sudah mendampingi sampai saat ini, Eunhyukie."
"Ngomong-ngomong, bagaimana kabar Choi Siwon?" tanya Eunhyuk memanas-manasi Kyuhyun. Kyuhyun yang menjadi target makin mendorong Eunhyuk mendekati pintu keluar. Teman barunya ini makin dikenal makin menyebalkan. Choi Siwon apanya? Dia saja tadinya menolak manusia itu masuk dalam daftar undangannya. Tapi, mengingat reputasi orang itu, dia terpaksa setuju. Tahu tidak berapa lama laki-laki menyebalkan itu pelukan dengan Sungmin? Nyaris satu menit, bayangkan! Pria kekar itu juga sempat melempar senyum kearahnya berkali-kali. Ya Tuhan, untung ada Sungmin disampingnya. Kalau tidak, sudah ia parut semua otot-otot si badannya.
"Hae-hyung, temanmu ini mengganggu. Ajak pulang sana," kata Kyuhyun sambil menggeret Eunhyuk ke Donghae yang sedang berbicara dengan beberapa temannya.
Awalnya Kyuhyun kaget saat mengenalkan Donghae ke Eunhyuk beberapa bulan yang lalu karena mereka berdua bisa langsung akrab seperti teman lama. Padahal menurutnya, Hae-hyung terlalu idiot untuk diajak berteman dan Eunhyuk terlalu ajaib untuk sekadar diajak curhat.
"Oh, kau jadi datang, Eunhyuk-ah?" Donghae langsung meraih pundak Eunhyuk dan membawanya untuk mengambil makanan. Ia tahu betul kalau temannya ini terlalu patah hati bahkan untuk sekadar membaca undangan pernikahan Sungmin dan Kyuhyun. Kalian tidak tahu? Eunhyuk benar-benar jatuh cinta pada Sungmin jauh sebelum Kyuhyun datang.
"Pasti sulit untukmu," kata Donghae sambil menepuk bahu Eunhyuk berkali-kali. Jangankan kalian, Donghae saja benar-benar kaget saat mendengar penuturan Eunhyuk. Tapi, semua memang salah Eunhyuk yang sama sekali tidak berani mendekati Sungmin bahkan saat ada waktu delapan tahun dimana Sungmin hidup tanpa Kyuhyun.
"Cinta itu...mati satu tumbuh seribu. Kalau kau bisa merelakan Sungmin-hyung sampai ke lubuk hatimu, kurasa kau bisa menemukan yang lain."
Eunhyuk menatap Donghae. "Contohnya...kau?"
Senyum Donghae kembali merekah sambil menepuk-nepuk pundak Eunhyuk lebih keras.
Faktanya, tidak semua orang bahagia dengan pernikahan penuh pengorbanan yang ditawarkan pasangan semanis Kyuhyun dan Sungmin. Karena, hidup memang seperti itu. Eunhyuk hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Hyung yang paling ia cintai saat melihat yenyum yang ratusan kali lebih cerah itu di wajah Sungmin. Senyum yang baru akan ada bila Sungmin disamping Kyuhyun dan Eunhyuk harus mulai belajar menerimanya.
"Bertahun-tahun mereka berpisah. Sekalinya bertemu, langsung dalam ikatan pernikahan. Itu namanya takdir. Takdir yang sama yang tidak bisa membuat Sungmin-hyung melirikku." Eunhyuk berkata pelan saat memandang Sungmin yang sedang membenarkan jas putih Kyuhyun.
Seperti kata orang, cinta memang butuh pengorbanan.
.
.
Sungmin buru-buru menutup kamar apartemen Kyuhyun—kamar mereka—sepulangnya dari pesta pernikahan mereka. Ia melongok ke belakang untuk melihat Kyuhyun yang masih di dapur untuk mengambil air minum.
Sungguh hari ini benar-benar menguras tenaga mereka berdua. Rasanya ia hanya ingin langsung merebahkan tubuhnya lalu mendapatkan pijatan di sekujur tubuhnya. Tapi, ini dia masalahnya, siapapun tahu malam setelah pernikahan biasa disebut malam pertama yang artinya tidak ada pijatan yang bisa menghilangkan seluruh rasa pegal di tubuhnya.
'Siapa sih yang menaburkan mawar-mawar itu diatas kasur? Astaga, kalau begini caranya pasti...'
"Kyu, mau tidak memijatku dulu di ruang tamu sebelum mandi?" Sungmin mendekati Kyuhyun dan ikut mengambil gelas untuk minum. Yang ditanya hanya menaikkan alisnya saat mendengar pertanyaan Sungmin. "Di kamar saja."
"Tapi, di kamar sangat kotor. Ada banyak sampah di atas kasur. Aku juga sedang ingin nonton TV. Kalau di kamar—" Sungmin terus memberi alasan sambil tetap mengikuti langkah Kyuhyun yang menuju kamar mereka. Ia hampir menghalangi Kyuhyun sebelum suaminya itu sudah lebih dulu masuk kamar dan membiarkan pintu kamar mereka terbuka lebar-lebar.
Kyuhyun menyeringai saat melihat cahaya temaram yang menerangi ruangan yang ia masuki. Sinar lilin.
"Jadi...mana sampahnya?" tanyanya sambil mendekati Sungmin. Yang didekati memilih mendorong Kyuhyun menjauh dan menawarkan untuk menunda kegiatan khas pengantin baru mereka satu malam.
"Besok malam saja. Badanku pegal semua. Kita menghadapi lebih dari lima ribu orang hari ini."
"Lebih pegal mana denganku yang harus menghadapi lebih dari sepuluh ribu orang dalam satu kali konser?"
"Tapi, kau tidak menjabat tangan mereka satu persatu."
Kyuhyun tertawa pelan dan menarik Sungmin untuk mendorongnya ke tempat tidur.
"Sudahlah, katanya kau pegal. Jadi mau dipijat? Aku tukang pijat paling handal di dunia. Cukup lepas bajumu dan kita mulai pijatannya."
Sungmin menahan tubuh Kyuhyun yang makin turun dan menempel dengan tubuhnya. "Tunggu dulu, aku tidak tahu cara—Tunggu, tunggu!" Sungmin nyaris teriak saat Kyuhyun membuka jasnya.
"Jangan katakan tidak tahu, Hyung. Aku yakin semua laki-laki pernah nonton video porno."
"Sumpah, aku lelah, Cho Kyuhyun. Daripada aku tidur ditengah-tengah nanti, lebih baik izinkan aku tidur malam ini. Besok malam, oke?"
Kyuhyun tetap pada posisinya. Ia kelihatan berpikir. Jujur saja, mana mau ia melepas kesempatan malam ini.
"Bagaimana kalau tidurnya besok saja?" Kyuhyun mendekatkan bibirnya pada telinga Sungmin. "Aku rasa pijatanku bisa menghabiskan waktu semalaman."
.
.
.
Sebenarnya, kata-kata "And they live happily ever after"—yang menggambarkan kehidupan bahagia tokoh utama bersama pasangannya setelah menikah—tetap hanya akan ada di dongeng anak-anak. Kenyataannya, kehidupan baru pasangan pengantin akan dimulai tepat setelah pasangan pengantin itu menyelesaikan pesta pernikahan mereka.
Tidak perlu jauh-jauh karena malam pertama akan jadi masalah pertama yang siap menyambut kehidupan baru itu.
.
.
.
-Enam tahun Kemudian-
Anak kecil itu berlari keluar dari sekolahnya, menemui ayahnya yang kedapatan giliran menjemput hari ini.
"Appa~" ujarnya sambil menggenggam tangan sang ayah.
"Tumben Appa yang jemput," komentar anak itu pada Sungmin, sang ayah.
"Emm...Soalnya kita harus ke tempat Daddy hari ini. Daddy bilang Daddy mau menerima piala dan Sandeulie harus lihat," jawab Sungmin sambil menuntun anaknya ke mobil. Memang benar, tumben sekali ia bisa menjemput anak mereka saat jam segini. Ini semua tidak lepas dari paksaan sang Daddy alias Kyuhyun yang tidak bisa dibantah kalau sudah meminta.
"Sandeul belajar apa hari ini?" tanya Sungmin sambil memasangkan seatbelt pada Sandeul.
"Belajar tentang keluarga."
"Oh ya? Lalu?"
"Appa, eomma itu apa?"
Tangan Sungmin berhenti bergerak saat pertanyaan itu meluncur dari mulut Sandeul, anak hasil adopsinya dan Kyuhyun yang mereka besarkan sejak Sandeul baru berusia tiga bulan.
"Tadi ditanya begini: 'Siapa yang bertugas memasak di rumah?' aku jawab saja 'Appa!' tapi teman-teman lain menjawab 'Eomma!'. Lalu temanku ada yang bilang 'Appa itu tidak memasak. Yang memasak itu Eomma.' " lanjut Sandeul dengan semangat tanpa melihat perubahan wajah ayahnya.
Sungmin mengusap kepala anaknya pelan. Masalah baru dalam keluarga kecil harmonisnya mulai muncul.
"Appa akan jawab saat kita di rumah. Oke?"
.
.
ChoKyuHyun (GaemGyu)
Hari ini ada yang bertanya dengan wajah panik padaku setelah rekaman Radio Star. kkk. Seseorang tidak bisa menjawab pertanyaan mudah yang diajukan anak lima tahun. Semuanya tolong berikan semangat pada imSMl yang harus banyak belajar.
.
Sungmin's blog update!
Judul : Setan dan Bebek
Siapapun tolong bantu akuㅠㅠ
Ada setan jahat yang menolak membantu dan seekor bebek yang tidak berhenti menanyakan pertanyaan yang membuatku pusing dan depresi.
Aku benar-benar butuh bantuan. Aku butuh ibuku.
Ah, siapapun yang tergila-gila dengan setan jahat yang kusebut, tolong jangan berikan dukungan untuknya di acara penghargaan musik tahun depan.
Jangan biarkan dia mendapat gelar penyanyi terbaik lagi hahaha
Mungkin aku butuh ponsel baru yang harus kuinjak supaya bertemu malaikat baik hati yang akan membantu kkk benar tidak, Tuan Setan?
.
.
Kyuhyun memeluk Sungmin yang baru selesai menidurkan Sandeul.
"Apa?"
"Tidak ada acara menginjak ponsel lagi, Lee Sungmin. Cukup ponselku yang kau injak dua kali. Kau tahu benar bagaimana insiden itu punya pengaruh. Aku tidak akan memaafkanmu kalau sampai kau selingkuh."
Sungmin tersenyum sambil mengusap tangan Kyuhyun. "Kalau begitu kau harus jadi malaikat baik hati dan bantu aku membenahi daftar investor malam ini."
"Jawaban untuk Sandeul sudah ketemu?"
Sungmin memukul kepala Kyuhyun. "Ketemu bulu ketiakmu lebat! Menyebalkan sekali kau, Cho Kyuhyun. Ini 'kan masalah sensitif yang harus diselesaikan dengan bijak. Besok kau yang jelaskan padanya. Dasar. Suka sekali menyepelekan masalah."
Kyuhyun mengelus kepalanya. Sungmin sering galak kalau berhubungan dengan Sandeul. "Aku jelaskan, tapi jangan tidur malam ini. Ada yang butuh pijatanmu."
.
.
.
Paling tidak kalau kata-kata "And they live happily ever after" tidak bisa terwujud, Kyuhyun sudah punya Sungmin yang akan menemaninya sampai akhir.
Karena Lee Sungmin adalah takdir hidupnya yang punya tugas menemani dan memberinya kebahagiaan.
.
.
.
THE END
.
Ga ada TBC kan? Hehe dan buat NC...karena ga semua mau saya ga jadi naikin rating. Tapi, saya udah nyiapin NC CUT se-chapter. Belom dipublish sih, nunggu mood aja sambil beresin sedikit-sedikit. Ada yang...mau?
Akhirnya, saya ngucapin terima kasih yang seeeeeeeeeebesar-besarnya buat temen-temen yang udah rela baca Thanks To My Phone dari awal sampe akhir dan nerima semua bentuk typo(s) dan ke-tidak-masuk-akal-an, ke-super-duper-lambatan update, dan kecerewetan saya yang sangat mengganggu disini. Saya bener-bener terharu dan seneng gara-gara ff ini diterima dengan begitu baik *peluk satu-satu*
Maaf juga karena ga bisa bales review kemaren, tapi saya udah baca semuanya, suer. Yang baca dan review, fave dan follow yang saya ga bisa sebut mohon maklum karena ini sudah malem dan saya besok harus berangkat pagi, hehe curhat.
Spesial thanks buat beberapa oknum yang terus menggentayangi pembuatan chapter 17—yang namanya saya samarkan karena arsip negara(?) dan mereka benar-benar menggentayangi seperti tukang kredit dan itu bikin saya nyaris botak -_- Ah, maaf juga ga jadi publish tanggal 15 kayak yang saya janjiin. Tapi, kalo ngikutin jamnya FFn ini masih tanggal 15 oktober kok #ngeles
Semoga bisa ketemu lagi di lain kesempatan. Dadaaaaah :D
.
.
Mohon komentarnya untuk chapter terakhir :)
