The Mysterious Sins Collector

Dia, Lenka Kagami adalah putri tunggal dari direktur sebuah perusahaan di Jepang. Tak heran jika ia kaya raya. Dia bersekolah di Royale Academy, tempat para orang kaya bersekolah. Jadi, jika kalian ke sana tidak mengherankan jika para murid di sana mempunyai maid ataupun butler pribadi yang selalu mendampingi mereka, termasuk Lenka. Butler yang mendampinginya adalah Kagaine Rinto, sekilas mereka tampak mirip, seperti kembar.

Kembali ke Lenka, dia adalah seorang yang sempurna, baik di mata pelajaran maupun olah raga, wajahnya cantik dan ia juga tinggi.. Sayangnya ia sangat amat angkuh, dia juga senang merendahkan orang lain dan ia juga tidak mau berbaur dengan teman sekelasnya, ia hanya mau membuka diri kepada Rinto, butlernya.

Well.. Itu dirinya yang sekarang, jika kita lihat sepuluh tahun yang lalu, saat ia berumur 5 tahun mungkin pendapat kalian akan berbeda, dulu, Lenka adalah pribadi yang ceria dan juga amat sangat baik kepada semua orang.. Tapi sebuah tragedi terjadi.. Ah, kita tak usah balas itu dulu, sebaiknya kita kembali ke masa kini.

Lenka berjalan dengan anggunnya dan duduk di kursinya yang paling depan dan persis di barisan tengah.

"Cih.. Sombong sekali dia." Bisik seorang siswi ke teman di dekatnya.

"Ya iyalah diakan putri dari direktur perusahaan malvolio." Ucap siswi lain dengan suara yang keras dan penekanan dibeberapa kata yang dimaksudkan untuk menyindir Lenka.

Sementara yang dibicarakan memilih untuk diam dan membaca novel misteri ya baru dibelinya, saat dia mulai membaca kata demi kata, buku itu telah diambil oleh seseorang.

"Ohayou, Lenka-chan!" Sapa seorang pemuda yang berambut honey blonde dan cukup berantakan, serta memakai jepitan di poninya agar poninya tidak menghalanginya.

"Rinto! Kembalikan buku milik ku!" Seru Lenka.

"Baiklah-baiklaahhh.. Kamu sangat membosankan Lenka-chan." Ujarnya sambil mengembalikan buku tersebut.

"Kyaaaa! Rinto-kun! You are so handsome!" Jerit salah satu fan girl-nya Rinto.

Dan beberapa saat kemudian Rinto sudah dikerubuni oleh para fan girlnya, sementara Lenka? Oh, dia tidak ambil pusing, baginya itu adalah hal yang biasa.

'Heh, sungguh manusia-manusia kurang kerjaan, lagipula itukan juga tidak berguna.' Batinnya sambil memperhatikan para siswi yang mengerubungi Rinto tersebut.


Kringg! Kringgg!

Lenka segera berdiri dari kursinya dan bergegas ke perpustakaan. Saat Rinto hendak menyusulnya ia telah dikerubuni oleh fans-fansnya.

"Maaf ladies, tapi saya harus pergi." Ujarnya sambil tersenyum manis.

"Tidak usah, Rinto-kun! Lagian Lenka pasti bisa menjaga dirinya sendiri." Ucap salah satu fan girlsnya sambil tersenyum penuh arti.

"O-oh, begitu ya?" Ujar Rinto sambil memaksakan senyum padahal hatinya merutuki fans-fansnya itu karena menghalangi jalannya.

Sementara itu, di perpustakaan Lenka mengambil beberapa buku, tapi tiba-tiba saja kedua lengannya dipegang oleh seseorang dan dia dibawa keluar dengan paksa oleh orang itu. Setelah berjalan beberapa langkah akhirnya mereka tiba di toilet perempuan.

"Hei, Lily, mau apa kau?" Tanya Lenka dengan dinginnya.

"Tentu saja untuk memberimu pelajaran Lenka." Ujar wanita yang dipanggil Lily tersebut.

"Hahh, ini benar-benar membuang waktuku saja, daripada memberiku pelajaran bukankah lebih baik kau belajar? Nilaimukan di bawah rata-rata." Ucap Lenka merendahkan Lily.

"Hei! Jangan mentang-mentang kau pintar dan kaya, kau bisa seenaknya ya!?" Seru Lily marah.

"Oh, kamu salah Lily, aku bukan hanya pintar dan kaya, aku juga jago dalam olah raga dan juga cantik, well, bisa dibilang aku ini perfect." Ucap Lenka dengan santainya.

"Berisik!" Teriak Lily sambil mengguyur Lenka dengan air tapi Lenka tak menunjukan ekspresi apapun.

"Sudah? Itu saja?" Tanyanya angkuh.

"Dasar sombong!" Seru Lily sambil menjambak rambutnya Lenka.

"Well, well, well, playtime is over, Lily." Ucap Lenka sambil memegang lengan Lily yang menjambak rambutnya, lalu dengan gampangnya ia membanting Lily ke lantai dan meninggalkannya di sana.

"Lenka!" Seru Rinto senang karena telah menemukan ladynya.

"Apa?" Tanya Lenka dengan dinginnya.

"Aku mencarimu tahu! Dan kenapa bajumu basah?! Ayo ikut aku! Kita harus mengganti bajumu itu!" Ujar Rinto yang menghiraukan pertanyaan Lenka dan menyeretnya ke UKS.

Setelah sampai di UKS, Rinto langsung mengambil seragam ganti untuk Lenka dan menyuruhnya untuk mengganti seragamnya yang basah di ruang ganti UKS. Dengan terpaksa Lenka menuruti Rinto, setelah Lenka selesai berganti seragam Rinto memaksa Lenka untuk menceritakan semuannya.

"Lily..." Geram Rinto.

"Sudahlah, diakan manusia yang rendah, biarkan saja dia." Ucap Lenka dengan penekanan kata rendah.

"Tapikan.." Ucap Rinto.

"Sudah, ayo kembali ke kelas." Ujar Lenka sambil berdiri lalu membuka pintu uks dan berjalan ke kelas mereka.

"Baiklah.." Gumam Rinto sambil mengikuti Lenka.

-sepulang sekolah-

PLAKKKKKK!

"Kau apakan Lenka hah?!" Seru seorang pemuda dengan marah.

"M-maafkan aku Rinto-sama.. Aku tidak bermaksud." Ucap seorang gadis yang ditamparnya itu dengan nada sedih yang dibuat-buat.

"Cih.. Baiklah, akan kumaafkan kau, asal jangan mengulanginya lagi.. Jika kau mengulanginya lagi, aku tidak akan segan-segan membunuhmu, Lily." Ancam pemuda yang bernama Rinto tersebut.

'Cih.. Dasar Lenka, mentang-mentang dia kaya raya dia bisa seenaknya saja menyuruh Rinto. Lihat saja besok.' Batin Lily dengan geram.

Kemudian Rinto pergi meninggalkan tempat itu dan berjalan ke arah tempat Lenka menunggu.

"Hei, Rinto, kamu tidak perlu melakukan itu untukku." Ujar Lenka dengan dingin.

"T-tapikan.." Ucap Rinto yang mencoba untuk membela diri.

"Sudahlah, lagi pula kita sudah dijemput." Ujar Lenka sambil menunjuk sebuah mobil limousin yang berhenti di depan sekolah.

Dengan sigap mereka berdua berjalan ke arah mobil tersebut dan masuk ke dalam limousin itu. Setelah duduk beberapa menit di dalam mobil tersebut, merekapun sampai di mansion kediaman keluarga Kagami. Rinto dan Lenka segera turun dari limousin itu dan berjalan masuk ke dalam mansion tersebut yang tentu saja langsung disambut oleh para pelayan dan butler yang lain, setelah melepaskan sepatu masing-masing, Lenka segera pergi ke ruang belajar dan tentu saja mendapat private lesson. Sementara Rinto pergi ke kamarnya dan mengganti seragam sekolahnya menjadi pakaian butler miliknya dengan kemeja yang berwarna putih dan vest yang berwarna hitam dengan celana panjang yang senada dengan warna vestnya. Ia juga mengenakan dasi yang berwarna merah yang dimasukannya ke dalam vestnya tersebut. Setelah berganti pakaian, ia segera menyusul Lenka ke ruang belajar.

Keesokan harinya.

Saat Lenka membuka loker sepatunya, alangkah terkejutnya dia karena ia mendapati banyak ulat bulu di dalam loker sepatunya, sehingga Lenka pingsan dan saat akan jatuh, Rinto dengan sigap menangkap Lenka dan membawanya ke UKS. Sebenarnya Lenka yang sempurna ini phobia pada ulat bulu, sehingga jika ia melihat binatang tersebut terlalu banyak ia bisa pingsan. Setelah membaringkan Lenka di UKS, Rinto segera keluar, karena ia masih harus mengurus kasus ulat bulu tersebut, tapi yang ia tidak tahu, ada sebuah siluet yang berdiri di samping pilar sambil tersenyum mengerikan.

"Akhirnya, selesai juga mengurus ulat bulu-ulat bulu itu." Ujar Rinto sambil berjalan ke arah UKS.

"HYAAAAAA!" Jerit seorang gadis dari arah UKS.

"Tunggu.. Suara itu.. Lenkaaa!" Seru Rinto sambil berlari ke arah UKS, ketika sampai di depan pintu uks, dia langsung membuka pintu itu, tapi tak ada gunanya karena pintu itu ternyata sudah dikunci dari dalam.

"Sialan..." Gumam Rinto.

Tanpa segan-segan, Rinto segera mendobrak pintu tersebut dan masuk ke dalam UKS tersebut dan betapa terkejutnya dia melihat Lily sedang menyerang Lenka dengan sebuah pisau dapur.

"Apa yang kau lakukan?!" Bentak Rinto sambil menahan tangan Lily yang hendak menyerang Lenka.

"Hahahaha! Aku? Tentu saja memberinya pelajaran! Ahahahahahaha!" Tawa Lily yang sepertinya telah kehilangan kewarasannya.

Lily terus mencoba untuk melepaskan dirinya tapi cengkraman Rinto terlalu kuat alhasil dengan tidak sengaja Lily melepaskan pisaunya.

"Kau! Jangan coba-coba menghalangiku untuk membunuhnya!" Bentak Lily.

"Memangnya kenapa kau mau membunuhnya?!" Seru Rinto.

"Karena dia yang merampas semuanya! Ketenaranku! Dan juga pacarku!" Seru Lily.

"Aku? Mengambil pacarmu? Mana pernah." Ucap Lenka dengan nada yang dingin dan merendahkan meskipun di sekujur tubuhnya telah mendapat beberapa luka.

"Sejak kau di sini, dia putus denganku dan malah menyukaimu tahu! Dasar wanita sialan!" Seru Lily.

"Heh, bukan salahku dong, bukannya itu salahmu, karena kamu tidak secantik aku." Ujar Lenka merendahkan.

"Kamu!" Bentak Lily.

"Hei! Sudahlah!" Seru Rinto yang mencoba untuk melerai namun gagal.

Dengan cepat Lily mengambil pisau cadangan yang terdapat di sakunya dan menusuk Rinto tepat di perutnya.

"Ughh.." Rintih Rinto sambil memeganggi perutnya.

"Hahahahahahaha! Tidak ada yang bisa menghalangiku untuk membunuh Lenka, ahahahahahahaha!" Tawa Lily dengan wajah psikopatnya.

Dengan menahan sakit Rinto segera mengambil pisau yang dijatuhkan oleh Lily dan menyerang gadis tersebut tepat di perutnya.

"R-rinto?" Ujar Lenka sambil melihatnya dengan tatapan horor.

"Maafkan aku.. L-lenka.." Ucap Rinto dengan nada penyesalan sambil menahan luka yang dialaminya.

"Ah, sepertinya kita terlambat Len." Ucap seorang gadis dari ambang pintu UKS.

"S-siapa kalian?!" Tanya Lenka dengan perasaan yang takut.

"Kami? Ah, kau tidak usah tahu kami siapa, karena itu tidak penting." Ucap pemuda yang datang bersama gadis itu.

"Cih, aku juga tidak mau tahu. Kalau begitu, cepat obati Rinto! Ini perintah!" Perintah Lenka.

"Ternyata yang satu ini cukup sok juga ya." Ucap gadis yang misterius itu.

"Aku tidak peduli! C-cepat obati dia! Hiks.. Hiks.. R-rinto.. R-rinto.. Hiks.. Hiks.." Ujar Lenka sambil terisak-isak

"Sudah Lenka, t-tidak apa.." Rintih Rinto.

"Cliché sekali." Gumam Rin dengan wajah yang bosan.

Sementara Lily? Ah, dia sudah terbaring tidak bernyawa di lantai UKS.

"Ayo kita akhiri ini, Len." Perintah gadis misterius tersebut.

"Baiklah." Ujar Len malas.

"O viri peccatoris procidit..." Gumam Len.

Tiba-tiba saja ada cahaya putih yang menyelimuti tubuh Lenka dan Rinto. Lenkapun menutup matanya, saat ia membuka matanya kembali ia melihat sebuah rumah yang asing tapi juga familiar baginya.

"Hei, bukankah itu aku?" Tanyanya pada dirinya sendiri.

Anak perempuan yang berumur sekitar 5 tahun sedang bermain dengan seorang anak laki-laki yang umurnya hampir sama dengan anak perempuan tersebut.

"Lenka-chan! Tunggu!" Ujar anak laki-laki tersebut sambil mencoba untuk meraih pundak perempuan yang dipanggil Lenka tersebut.

"Ga mau! Rinto lambat sih!" Ujar Lenka sambil menjulurkan lidahnya ke arah anak laki-laki tersebut.

"Lenka yang terlalu cepat!" Ujar anak laki-laki yang dipanggil Rinto itu.

Tiba-tiba terdengar suara tembakan dari arah ruang tamu yang membuat dua anak itu menghentikan permainan mereka.

"Lenka, sini.." Ujar Rinto sambil menarik tangan Lenka dan menuntunnya ke sebuah pohon.

"Apa yang terjadi?" Tanya Lenka dengan wajah polosnya.

"Nanti akan ku jelaskan ta- Lenkaaaa!" Jawab Rinto tapi ucapannya terpotong karena Lenka telah digendong oleh seorang wanita dan dibawa pergi.

Beberapa saat kemudian seorang pria datang dan membawa pergi Rinto.

"Rintooo!" Teriak Lenka.

"Lenkaaaaaa!" Teriak Rinto.

Tapi kedua orang tak menghentikan langkah mereka, meskipun.. Kedua anak ini telah menangis sejadi-jadinya. Beberapa tahun berlalu ternyata Rinto dididik untuk menjadi butler sedangkan Lenka dibawa oleh kakak ibunya, dan dididik untuk meneruskan perusahaan malvolio. Saat Rinto berusia 13 tahun, ia menjadi butler pribadi Lenka, dari pertama Rinto bertemu kembali dengan Lenka, ia langsung tahu jika Lenka adalah saudara kembarnya. Sedangkan Lenka? Dia mengalami kehilangan ingatan atas apa yang terjadi pada saat kedua orang tuanya dibunuh dan peristiwa-peristiwa sebelumnya.. Ya.. Jadi ia tidak tahu jika Rinto adalah saudara kembarnya.

Masa lalu yang tragis.. Hanya karena keegoisan orang dewasa menyembabkan dua saudara kembar ini terpisah.. Dan juga membunuh kedua orang tua Rinto dan Lenka.. Ya...

"R-rinto.. Rintoo! Huwaaaaaaaa!" Tangis Lenka setelah semua ingatannya kembali.

"Maafkan aku! Maafkan aku Rinto!" Seru Lenka sambil terus menangis.

"Semua sudah terlambat... Yang terjadi di masa lalu tidak bisa diulangi lagi bukan?..." Ujar Rin.

"Ya.. Mungkin.." Gumam Len.

Setelah cahaya yang membungkus tubuh Lenka dan Rinto hilang, tubuh kedua remaja itu juga hilang, yang tertinggal di situ adalah sebuah coklat yang berbentuk yin dan satunya lagi berbentuk yang. Dan kedua coklat itu digabungkan akan menjadi yin dan yang.. Simbol yang melambangkan balance atau keseimbangan.. Ya.. Seperti kembar..

Len mengambil kedua coklat itu dan dimasukannya ke dalam kotak yang berisi dua coklat yang lain, yaitu coklat yang berbentuk hati yang berwarna merah muda dan coklat yang berbentuk bunga. Kemudian kedua orang itu meninggalkan UKS dan menghilang ditelan kegelapan.

Setelah pulang sekolah para murid menemukan jasad Lily tapi, mereka sama sekali tidak menemukan tubuh Rinto maupun Lenka dan keberadaan kedua orang itu menjadi misteri...

To Be Continued

Me : Akhirnya update jugaa XD entah kenapa saya merasa chap kali ini aneh, kalau misalnya ada yang ga suka sama chap ini bilang ya dalam bentuk saran maupun kritikan, nanti akan saya perbaiki lagi. Dan seperti biasa, sialahkan review, dan maaf kalau banyak typo dan kependekan, yang review udah saya bales di pm... See you next time OwO