The Mysterious Sins Collector

Kira-kira 5 tahun telah berlalu, setelah insiden menghilangnya beberapa murid SMA secara misterius tersebut berakhir. Sejak saat itu tidak ada berita orang yang hilang secara misterius lagi. Apakah semuanya akan bertahan lama?.. Well, nobody know about it.

Seorang pemuda yang berambut oranye yang cukup acak-acakan berjalan memasuki ruangan pengadilan, dia memakai jubah ala hakim.

"Baiklah, mari kita mulai persidangan ini!" Seru laki-laki itu lantang.

Sidang tersebut berjalan dengan lancar dan dimenangkan oleh pihak terdakwa yang terbukti tidak bersalah, malah ternyata sang pemberi kesaksian yang membunuh sang korban, tentu saja keluarga sang terdakwa sangat senang akan hasilnya.

"Tuan Lui, terimakasih telah membebaskan suamiku dari tuduhan pembunuhan ini." Ujar seorang wanita yang merupakan istri dari terdakwa.

"Ah, bukan apa-apa, ini adalah tugasku." Ujar Lui sambil tersenyum senang.

"Terimakasih! Sungguh terimakasih! Oh! Bagaimana aku bisa membalaskan kebaikanmu ini?!" Seru wanita itu dengan bahagia.

"Hahaha, tak usah, sudah ya, aku mau pergi dulu." Ujar Lui sambil tersenyum manis dan berjalan pergi.

Beruntung bagi Lui, karena rumahnya tak begitu jauh dari pengadilan. Setelah beberapa menit berjalan, ia sampai di sebuah rumah yang cukup sederhana, ia membuka pintu rumah tersebut dan masuk ke dalamnya.

"Ring, aku pulang." Ujar Lui sambil menaruh jubahnya asal.

"Selamat datang Lui." Ucap wanita yang dipanggil Ring sambil mengayuh kursi rodanya mendekati Lui.

"Huwaaaaahh! Aku capek sekali!" Seru Lui sambil menghempaskan dirinya di sofanya yang empuk itu.

"Lui.. Apakah tadi sidangmu berjalan dengan baik?" Tanya Ring dengan khawatir.

"Iya! Dan ternyata sang saksi adalah pelakunya!" Jawab Lui dengan semangat dan mata yang berbinar-binar.

"Woaaah! Keren! Ternyata ada juga ya yang begitu!" Ujar Ring sambil mendorong kursi rodanya mendekati Lui dan memeluknya.

"Ya, begitulah, dunia ini memang penuh misteri." Ucap Lui seraya memeluk Ring kembali.

"Apakah tadi kau sudah ke dokter?" Tanya Lui tiba-tiba.

"Ya, sudah kok! Tadi aku sudah terapi dan diberi obat." Jawab Ring dengan senyuman yang manis.

"O-oh begitu, b-baguslah." Ujar Lui terbata-bata dengan muka yang sudah semerah buah tomat.

"Hahahaha, kau ini, sudah menikah masih saja sering blushing!" Ucap Ring sambil tertawa terbahak-bahak.

"H-hei! Ini tidak lucu tahu!" Seru Lui sambil mengembungkan kedua pipinya.

"Hahahaha, maafkan aku, dan makan malam sudah siap lhoo." Ujar Ring sambil tersenyum jahil, lalu bersiap untuk memutar kursi rodanya.

"Biarkan aku mengantarmu, hime-sama." Ucap Lui seraya berdiri dan mendorong kursi roda milik Ring.

"Terimakasih, O knight in shining armor." Ujar Ring sambil terkekeh geli.

Makan malam dilalui dengan penuh canda tawa dan suasana yang romantis. Tapi disuatu tempat yang tak lain adalah sebuah rumah sakit yang cukup ternama tampak dua orang yang sedang berdiskusi.

"Dokter! Kenapa dokter tidak segera mengambil penganan terhadap nyonya Hibiki?!" Seru seorang perawat dengan marah.

"Heh, buat apa aku menanganinya? Lagipula setelah hasil ronsen terakhir kali, kemungkinan dia untuk sembuh kecil sekali, jadi daripada susah payah dan hasilnya tidak jelas, lebih baik berbohong padanya." Ujar dokter itu dengan santai.

"T-tapi! Walaupun begitu, kita bisa saja menyelamatkan nyawanya! Itukan tugas seorang dokter dan perawat!" Seru perawat itu lagi.

"Kau terlalu naif.. Sudahlah, aku mau pulang dulu." Ujar dokter itu sambil berjalan pergi.

"-dan jangan pernah memberi tahu Hibiki Ring akan ini jika kau tidak mau kau dipecat dan memungkinkan kau tidak akan mendapatkan pekerjaan apapun di kota ini.." Lanjut dokter itu, lalu ia pun meninggalkan rumah sakit itu dengan mengendarai mobilnya dan menghilang dari pandangan sang perawat itu.

"Si dokter sialan itu.." Gumam perawat itu lalu ia meninggalkanrumah sakit itu juga.

Kembali ke Ring dan Lui.

"Lui, aku akan mencuci piringnya, kau bantulah aku." Ujar Ring sambil mengayuh kursi rodanya.

"Eh?! Tapi!" Bela Lui.

"Tidak ada tapi-tapian!" Seru Ring.

"Baiklah..." Ujar Lui pasrah.

Ketika mereka berdua sedang mencuci piring, tiba-tiba Ring menjatuhkan piringnya secara tiba-tiba.

"Ring?! Ring?! Kau tidak apa-apa?!" Tanya Lui khawatir.

"L-lui?.. K-kau dimana? K-kenapa g-gelap sekali? Aku tidak bisa melihat apa-apa.." Jawab Ring sambil menatap kosong tentu saja dengan muka yang shock.

"Aku di sini, tunggu ya.. Aku akan telepon doktermu!" Ujar Lui sambil bergegas menuju telepon rumahnya dan menelepon dokter langganan Ring.

Meskipun telah ditelepon berkali-kali tapi dokter itu tak menjawab juga, ya, bagaimana dia mau menjawab handphonenya saja dia silent. Akhirnya Lui memutuskan untuk menelepon ambulans dan kembali ke tempat Ring tadi, nafas Ring sudah makin tak beraturan dan dalam sekejab tubuhnya telah lumpuh total.

"Tidak! Ring!Bertahanlah! Ambulans akan segera tiba! Jangan pergi! Ring!" Seru Lui sambil menggenggam tangan Ring dengan erat.

Tapi apa dayanya manusia? Tuhan telah mengambil nyawa wanita yang paling dicintai oleh Lui ini dan ketika ambulans telah datang.. Semuanya terlambat.. Ring telah meninggal..

Beberapa minggu kemudian, ketika Lui hendak berangkat kerja, pintu rumahnya diketuk oleh seseorang, dengan rasa yang malas ia segera membuka pintu itu.

"Ada apa ya?" Tanya Lui.

"Ah, saya dulu perawatnya Hibiki Ring, nama saya IA." Ujar perawat itu sambil mengenalkan diri.

"Oh... A-ada apa ya?" Tanya Lui dengan nada yang cukup sedih.

"Sebenarnya.. Dokter sudah tahu jika penyakit nyonya Hibiki sudah sangat parah tapi dia sama sekali tidak mengambil tindakan apapun, saya juga sudah memarahinya.. Tapi dia malah mengancam saya dan saya tidak boleh memberitahukannya kepada anda.. S-saya.. B-benar-benar minta maaf!" Cerita IA sambil meneteskan bulir-bulir air matanya.

"Dokter sialan itu..." Geram Lui sambil memukul tembok rumahnya, dia tak menghiraukan tangannya yang kesakitan itu.

"Ah, lebih baik saya segera kembali, itu saja yang ingin saya katakan, terimakasih tuan Hibiki." Ujar IA sambil berlari terburu-buru dan menyetop taksi untuk mengantarnya ke tempat kerjanya.

Dengan segera Lui menggugat sang dokter itu dan membawanya ke pengadilan, tapi pada akhirnya si dokter itu dinyatakan tidak bersalah... Lui pergi dari ruang pengadilan itu dengan lesu, tiba-tiba ia melihat hakim yang tadi dan dokter yang tadi itu sedang bercakap-cakap, karena penasaran, Lui menguping pembicaraan mereka.

"Terimakasih untuk hari ini ya!" Ujar dokter itu sambil menyerahkan sejumlah uang.

"Ahahahaha, itu tidak masalah bagiku." Ucap hakim itu sambil menerima uang tersebut.

Karena geram, Lui segera melompat keluar dari tempat persembunyiannya itu dan menonjok pipi hakim itu.

"Hei! Kenapa kau lakukan itu?! Bukankah kau seorang hakim?! Kaukan harusnya membela kebenaran dan keadilan! Bukan menerima uang sogokan!" Seru Lui marah.

"Kau terlalu naif.." Ujar hakim itu dengan santainya dan berjalan pergi.

Setelah memberi tatapan dingin kepada dokter itu, Lui berjalan pergi ke rumahnya.

"Naif huh?... Yah, baiklah.. Sepertinya aku tak usah membela keadilan lagi.." Gumam Lui sambil membuka pintu rumahnya dan masuk ke dalamnya.

Beberapa minggu kemudian telepon di rumah Lui berdering, dengan enggan Lui mengangkat telepon tersebut.

"Halo?" Ucap Lui.

"Pesanan anda sudah jadi tuan Lui." Ujar orang yang diseberang sana.

"Baguslah, nanti aku akan mengambilnya." Ucap Lui seraya menaruh teleponnya kembali.

To Be Continued

Me : Saya hadir lagi! Maaf kalau lama banget updatenya A Pas kemarin saya lagi bikin cover buat fanfic ini, trus udah jadi... Malah kaga bisa diupload! Argghhhhhh! (Malah curhat) Nanti kalau udah, tolong kritik dan sarannya atas covernya yaa XD Jangan lupa review, seperti biasa kritik, saran, dll diterima disini jadi jangan sungkan XD

Rin : Clarinvia-chan minta maaf kalau chap kali ini ga memuaskan, kependekan dan kalau misalnya ada typo dia minta maaf.

Me : Good job Rinny! *lempar jeruk sekarung*

Rin : Yoi! *nangkep jeruknya*