The Mysterious Sins Collector
Disclaimer : Vocaloid bukan punya saya… Udah tahu? Yo wes XD
"Nah, mulai saat ini tou-chan akan menjadi direktur perusahaan Laurence!" Ujar ayahnya senang kepada kedua anak itu.
"Eh? Tou-chan jangan! Tou-chan jangan pergi! Temani kita saja di rumah!" Seru Rin sambil menarik-narik baju ayahnya itu.
"Tenang saja Rin, kamu dan Len tidak akan sendirian di rumah, ibu baru kalian, Sweet Ann, akan menemani kalian di rumah." Ujar ayah mereka sambil mengusap kedua rambut anaknya itu.
"T-tapi..." Ucap Rin dengan matan yang mulai mengeluarkan air matanya.
"Ibu baru kalian tidaklah jahat kok! Lihatlah namanya terdapat kata sweet yang artinya manis atau baik." Jelas ayahnya sambil tersenyum.
"Tou-chan, tapi tou-chan hati-hati ya, di jalan..." Ujar Rin dengan sedih.
"Ya, pasti!" Jawab ayah mereka dengan riang.
"Nah, sekarang saatnya tou-chan kalian untuk berangkat kerja!~" Ujar Sweet Ann sambil mendorong tubuh Lucian pelan ke arah pintu.
"Tou-chan pergi dulu, ya!" Ujar ayah mereka sambil melambaikan tangannya.
Setelah, Lucian telah pergi dengan mobil yang diberikan oleh Sweet Ann-
BLAM!
-Terdengar pintu rumah itu ditutup dengan keras.
"Nah, anak-anak, lebih baik kalian kerja untuk membersihkan rumah ini sekarang, aku akan pergi beberlanja dulu! Kalau tidak bersih, awas saja! Kalian tidak akan mendapat makanan selama satu hari!" Ujar Sweet Ann dengan nada mengancam setelah itu dia segera mengambil tasnya dan pergi keluar.
"Nee, Len, apakah kita harus membersihkan rumah seperti kata kaa-chan baru kita?" Tanya Rin dengan wajah innocentnya.
"Mau bagaimana lagi? Kamu bisakan?" Ujar Len sambil memberikan kain lap kepada Rin dan dirinya sedang memegang sapu yang tingginya melebihi dirinya sendiri.
"Unn!" Jawab Rin dengan semangat.
"Kita jadikan ini perlombaan ya!" Seru Len sambil mengacungkan sapunya.
"Yang paling bersih, dia yang menang!" Lanjut Rin sambil tersenyum lebar.
"Baiklah, satu, dua, tiga.." Ujar Len.
"START!" Lanjut Rin sambil langsung berlari dan mengelap perabotan-perabotan rumah mereka.
Beberapa jam kemudian..
"Hosh.. Hosh.. Kau menang Rin.." Ujar Len yang saat itu masih berumur 7 tahun sambil mengelap keringatnya.
"Hehe, pastinya!" Jawab Rin sambil mengancungkan jempolnya.
Krieett.. Braak!
Terdengar suara pintu dibanting dengan kerasnya dan tampak seorang wanita yang berumur tiga puluh tahunan yang menenteng beberapa tas belanjaan yang bermerk.
"Wah, wah, kalian anak pintar ya, sedah melakukannya dengan baik, tapi, sayang sekali~ "
Wanita itu pun meletakan tas belanjaannya dan berjalan ke arah dapur, sembari membuka pintu lemari yang berisikan beberapa makanan kaleng, ia mengeluarkannya dan menjatuhkan semuanya ke lantai.
"Kalian harus membersihkan ini~" Ujar wanita itu sambil melangkah kembali ke arah tas belanjaannya dan pergi ke lantai dua, atau lebih tepatnya kamar kedua orang tua Rin dan Len.
"Bagaimana ini Len?.." Ujar Rin dengan wajah yang hampir menangis.
"Shh.. Tidak apa-apa Rin, kita pikirkan cara untuk menaruh semua itu kembali." Ujar Len sambil memunguti makanan-makanan kaleng itu dan berusaha untuk menaruhnya kembali.
Tiba-tiba sebuah tangan yang putih dan mulus segera mengambil kaleng-kaleng itu dan menjatuhkannya ke bawah lagi dengan cukup kencang sehingga isinya berceceran kemana-mana..
"Ara, ara, lihat apa yang kau perbuat Len.." Ujar wanita itu dengan nada yang mengejek.
"Eh? Kaa-san? Apa yang kau lakukan?" Tanya Len dengan bingung.
Krieet...
Terdengar pintu terbuka dengan pelan.
"Tadaima.." Ujar sebuah suara yang tak lain milik Lucian.
Dengan cepat Sweet Ann berlari ke arah suaminya yang baru pulang itu dengan tangisan palsunya ia memeluk suaminya dengan erat.
"Ada apa sayang?" Tanya Lucian sambil mencoba menenangkan Sweet Ann.
"M-mereka.. Hiks.. Hiks.. Saat aku pergi berbelanja.. Hiks.. Mereka menjatuhkan semua makanan kaleng sampai isinya berceceran.. Hiks.. A-aku rasa mereka membenciku.. Hiks.." Jawab Sweet Ann sambil terus menangis.
"Rin! Len! Tou-chan tahu kalau kalian tidak menyukai ibu baru kalian, tapi! Jangan sampai membuatnya menangis begitu!" Seru Lucian dengan nada yang meninggi.
"T-tapi.." Bela Rin dengan mata yang mulai berair.
"Tidak ada tapi-tapian! Sekarang ke kamar kalian dan renungkan semuanya!" Seru Lucian sambil menunjuk ke arah kamar Rin dan Len.
Mau tak mau kedua anak kembar itupun pergi ke kamar mereka, yang tidak Lucian ketahui, Sweet Ann sedang tersenyum dengan liciknya..
"Hyaa!" Seru gadis yang berambut honey blonde seraya duduk di tempat tidurnya.
"Nee-chan? Nee-chan kenapa?.." Tanya pemuda yang berambut honey blonde yang diikat menjadi pony tail yang berantakan.
"Ah, tidak apa-apa, hanya mimpi buruk Len.." Jawab gadis itu sambil merapikan gaun tidurnya.
"Baguslah kalau begitu, Rin.. Semoga mimpi indah.." Ujar pemuda itu sambil tersenyum dan berjalan keluar dari kamar gadis yang bernama Rin itu.
Sepeningal pemuda itu Rin hanya duduk terdiam, otaknya tidak mau berkompromi dan masih melanjutkan penggalan-penggalan ingatan yang kembali menghantui otaknya layaknya sebuah video yang rusak.
-flashback-
Bertahun-tahun telah berlalu sejak Lucian dan Sweet Ann menikah, setiap hari Sweet Ann selalu membuat Rin dan Len dibenci oleh Lucian... Mungkin kisah mereka lebih menyedihkan daripada kisah cinderella yang kalian sering dengar.. Apalagi yang Rin dan Len tidak pernah alami? Dikurung di kamar untuk seharian? Mereka pernah mengalaminya. Tidak diberi makan selama tiga hari? Pernah! Malah sering! Bahkan mereka sampai dibenci oleh ayah kandung mereka sendiri, kurang apa coba? Tanpa terasa mereka telah menginjak usia 14 tahun dan mereka tidak di sekolahkan lagi oleh orang tua mereka berdua.. Ironis huh?
"Rinn~ Lennn~ kesini! Hik.. Hik!" Panggil Lucian yang sedang mabuk
"Y-ya o-otou-chan?.." Tanya Rin dengan takut-takut dan Len yang tengah berdiri di sampingnya.
Tiba-tiba Lucian melempar botol bir yang diminumnya ke arah Rin.
"Ahahahahaha! Rasakan itu! Hik.. Hik.." Tawa Lucian dengan senangnya.
"Hiks.. Hiks.. Hikss.." Isak Rin sambil menutupi mukanya dan badannya yang terluka akibat pecahan kaca botol tersebut.
"Lucian kau brengsek!" Seru Len dengan marahnya, ya, setelah ditipu oleh Sweet Ann, Lucian menjadi membenci Rin dan Len, tentu saja si kembar ini membenci dia juga.
Bahkan Len yang notabenenya seorang pemuda yang ramah, baik dan penuh hormat, memanggil Lucian tanpa embel-embel tou-san ataupun tou-chan.
Kalian bertanya-tanya dimana Sweet Ann? Oh, dia sedang pergi berbelanja seperti biasa.
"Hoo, kau berani melawanku ya?!" Seru Lucian dengan lantangnya.
"Meskipun kau ayah kandungku.. Aku tidak menganggapmu seperti itu! Enyahlah!" Seru Len sambil menunjuk Lucian.
"Apa?! Sudah mau mati ya?!" Bentak Lucian dan mengambil pecahan beling dari botol yang ia minum itu serta beranjak berdiri dari tempatnya duduk.
Lucianpun berjalan menuju Len, Len yang ketakutan melihat ayahnya memegang pecahan beling itupun mundur selangkah demi selangkah, namun naas, ia menabrak dinding.
"Mati kau anak sialan!" Seru Lucian yang kemudian menusuk Len berkali-kali dengan beling itu.
Sementara Rin hanya bisa menatap Len dan Lucian dengan horor dan menangis terisak-isak. Setelah Lucian puas dengan 'hasil karyanya' ia pergi kembali ke sofa yang didudukinya dan meninggalkan Len yang terkulai lemas di lantai yang sudah dibanjiri oleh darah milik Len sendiri.
"R-rin.." Panggil Len dengan lirih.
Dengan cepat Rin berlari ke arah Len sambil memeluknya dengan erat.
"M-maafkan a-aku.." Ujar Len yang kemudian menutup matanya untuk selama-lamanya..
"LENN!" Jerit Rin histeris.
"Huahahaha! Rasakan itu anak sialan!" Tawa Lucian tanpa rasa bersalah sekalipun.
"Kau.. Kau... Kau ayah kami tapi tega membunuh anak kandungmu sendiri?!" Seru Rin sambil mengambil pecahan dari botol bir itu dan berlari ke arah Lucian.
"Beraninya kau membunuh Len! Kau Iblis! Iblis!" Seru Rin sambil menusuk-nusuk Lucian yang sudah sangat mabuk itu.
"Anak kurang ajar!" Ujar Lucian sambil menjambak rambut Rin dan menendang perutnya.
"Ughh..." Rintih Rin, darah segar segera mengalir dari mulutnya itu.
"Hahaha! Rasakan itu!" Seru Lucian sambil terus menendang perut milik Rin.
"L-len.. Maafkan aku.." Ujar Rin lirih sambil perlahan-lahan menutup matanya sementara Lucian terus menendang, memukul dan menjambak rambutnya.
.
.
.
Semua menjadi gelap dan ketika Rin tersadar, yang ia dapati hanyalah ruang kehampaan yang berwarna putih.
"Aku dimana?..." Rin terbangun dari tidurnya dan mengubah posisinya tadi menjadi duduk.
Lalu Rin mengamati tubuhnya, baju yang dipakainya di rumah tadi kini berubah menjadi sebuah sun dress yang bewarna putih bersih dan luka-luka ditubuhnya pun lenyap tak berbekas.
"Selamat siang nona muda." Sapa seorang anak yang berumur sekitar 13 tahunan dan memakai perban di mata kirinya, tampak dua sayap kehitaman yang merentang lebar dari punggungnya yang kecil itu, ia memakai sebuah kemeja putih dan celana jeans berwarna hitam, rambutnya yang berwarna golden yellow itu tampak berantakan.
"Siapa kau?.." Tanya Rin.
"Perkenalkan, aku Oliver..." Jawab pemuda itu sambil membungkukan badannya.
"Ini dimana?" Tanya Rin lagi.
"Ini?.. Oh.. Perbatasan antara surga dan neraka.." Jawab Oliver lagi.
"Apa?! Aku masih belum mau meninggal! Aku masih harus membalaskan dendamku ke Lucian dan Sweet Ann!" Seru Rin dengan penuh amarah.
"Ya, ya aku tahu, oleh karena itu aku akan menolongmu.. Tapi..." Ujar Oliver yang sengaja ia potong.
"Tapi?" Ulang Rin dengan wajah yang penasaran.
"Tapi kau harus membuat perjanjian denganku.. Yaitu dengan mengumpulkan seven deadly sins dan mengubahnya menjadi coklat." Jawab Oliver sambil tersenyum.. Senyuman licik... Yang ia sembunyikan dengan sangat baik.
"Baiklah! Tapi jika aku berhasil mengumpulkan seven deadly sins itu, kau harus janji akan menghidupkan kembali kaa-san ku!" Ujar Rin dengan semangat.
"Deal.. Nah, selama itu kau tidak akan bisa dibunuh maupun tumbuh tua, dengan kata lain kau akan immortal, dan selama itu aku akan memakai tubuh adikmu untuk membantumu mengubah seven deadly sins itu menjadi coklat... Tapi.. Jika semuanya telah selesai, jiwamu akan terikat di neraka.." Jelas Oliver panjang lebar sambil membungkuk.
"Baiklah, bagaimana dengan nyawa Len?" Tanya Rin.
"Tenang saja, dia aman di surga..." Jawab Oliver dengan datar.
"Bukankah sudah waktunya kau untuk membalaskan dendammu?" Tanya Oliver lagi.
"Ya.." Jawab Rin.
Tak lama kemudian, tampak kediaman Lucian terbakar oleh api yang menyala-nyala.
"Tolong! Tolong aku!" Jerit Sweet Ann yang tengah tertimpa balok-balok kayu yang jatuh.
"Ah, rupanya kau sudah pulang.. Bagaimana acara belanjamu?.. Menyenangkan bukan?" Ujar seorang gadis yang berambut honey blonde sebahu sambil berdiri di depan wanita malang yang hampir terpanggang hidup-hidup itu.
"R-rin?" Tanyanya horor sambil menatap tubuh gadis itu yang penuh dengan darah akibat perbuatan Lucian tadi.
"Ya, ini aku, Ann, bagaimana rasanya mengalami hal ini? Menyakitkan bukan?" Tanya Rin dengan senyum sinisnya.. Rupanya kebencian telah menelan Rin..
"K-kau! Kau yang melakukan ini?! Dasar! Kau dan Lily tidak ada bedanya!" Jerit wanita itu.
Hening, tidak ada jawaban, tapi yang jelas, Rin tengah melihat Sweet Ann dengan tatapan yang tidak bisa dideskripsikan.
"Kalau saja wanita itu tidak pernah ada di dunia ini.. Lucian dari dulu sudah menjadi milikku!" Seru Sweet Ann dengan marahnya.
"Jadi kau yang menabrak Kaa-chan dulu?..." Tanya Rin dengan nada yang mengintimidasi tapi jelas tersembunyi kesedihan yang amat sangat.
"Bukan, tapi baguslah ada yang menabraknya, sehingga aku bisa menikahi Lucian!" Jawab Sweet Ann dengan bangganya tanpa sadar bahwa mungkin itu kata-kata terakhirnya.
"Oh, baiklah, selamat tinggal.. Semoga perjalananmu ke nereka menyenangkan." Ujar Rin sambil berjalan pergi dan tepat saat itu sebuah balok kayu penyangga atap rumah jatuh menimpa kepala Sweet Ann dengan tepat yang membuatnya tewas seketika.
'Sekarang.. Dimana Lucian brengsek itu?' Pikir Rin sambil terus mencari Lucian.
"Tolong! Tolong!" Seru sebuah suara dengan putus asa.
"Ternyata kau disana." Gumam Rin sambil melangkah ke asal suara itu.
Sementara Oliver yang telah merasuki tubuh Len itu sedang berada di luar rumah itu, tepatnya duduk di salah satu cabang pohon sambil tersenyum puas dengan pemandangan yang ada di depannya.
"Indahnya.." Gumamnya sambil tersenyum puas.
-flashback off-
"Sebaiknya aku kembali tidur.." Ujar Rin seraya masuk kedalam selimutnya yang nyaman itu dan berbaring kembali.
"Len.. Aku rindu padamu.." Isak Rin dengan diam..
Sementara itu, di suatu ruangan tampak Len tengah tersenyum puas
"Hanya tiga lagi.. Dan semuanya akan berakhir..." Gumamnya dengan seringaian yang kejam.
To be Continued
Me : Maaaff! Saya baru bisa update sekarang, sekolah lagi banyak tugas dll DX Maafkan saya readers tercinta saya DX Dan sialnya Microsoft word saya rusak….. jadi ya, ga bisa update cepet.. Maafkan sayaaa
Reader : Gak, pergi kau author yang lama updatenya.
Me : Nuoooo#stop
Me : Baiklah, para readers yang mau ngeriview silahkan, telah tersedia di kota dibawah sana, see you next chappie~
SeeU : Byee!
