The Mysterious Sins Collector


Disclaimer : vocaloid milik Crypton Future Media inc.

Warning : sebelum membaca chap ini, saya sarankan jangan sambil makan, karena mungkin anda akan eneg membacanya.. Saya sudah peringatkan.

A/N : di chap lalukan Oliver memakai tubuh Len, jadi saya sebut saja dia Len, maaf jika membingungkan (_ _)


"Nee-chan, saatnya bangun." Panggil seorang pemuda yang berambut honey blonde sambil mengguncang pelan tubuh gadis yang dipanggilnya Nee-chan itu.

"Hnn.. Lima menit lagi.." Jawab gadis itu sambil menyelungsup ke dalam selimutnya yang nyaman itu.

"Baiklah, aku akan menyiapkan sarapan.. Tolong bersiap-siap, aku telah menemukan sin yang baru." Ujar pemuda itu sambil berjalan keluar.

"Iya, iya, aku tahu, kau berisik sekali Oliver.." Ucap Rin dengan malasnya.

"... Terserahlah.." Ujar Pemuda itu sambil menutup pintu kamar tersebut.

"Ahh, aku ingin tidur lagi... " Gumam Rin sambil bangkit dari tempat tidurnya dan menuju ke kamar mandi yang terdapat di kamarnya juga.

Setelah sekitar 20 menit Rin membersihkan dirinya ia berjalan keluar dengan baju gothic-nya yang berwarna kuning pucat tentu saja tidak lupa dengan renda-renda yang menghiasi dressnya itu. Dengan anggun ia berjalan keluar kearah ruang makan yang cukup sederhana..

"Selamat makan.." Gumamnya sambil memakan sarapannya, omelet dengan yang benar-benar menggugah selera untuk makan.

"Dia hebat juga dalam memasak." Ujar Rin sambil menyantap makanannya.

"Tentu saja, kau sudah bersamaku entah berapa bulan dan tiap hari memakan masakanku, tapi baru kali ini kau memujiku." Ucap pemuda yang berambut honey blonde dan diikat pony tail.

"Masih membuat coklat untuk menangkap jiwa manusia itu?" Tanya Rin.

"Kalau aku tidak memakan jiwa positif manusia aku tidak akan mendapat kekuatan dan terus hidup." Jawab pemuda itu sambil terus mengaduk adonan coklat itu.

"Khh.. Memangnya enak ya?" Tanya Rin lagi.

Chuu~

"Tentu saja.." Ujar pemuda itu sambil melepaskan ciuman singkatnya.

"Apa-apaan itu?!" Bentak Rin marah.

"Ah, jadi itu ciuman pertamamu?" Tanya pemuda itu dengan senyuman yang mengejek.

"Setidaknya jangan menciumku dengan menggunakan tubuh Len!" Seru Rin dengan marah.

"Maaf, maaf, lagipula jika aku memakai tubuh asliku kau juga akan meneriakiku kan?" Tanyanya lagi.

"Berisik kau Oliver." Jawab Rin sambil terus memakan sarapannya.

"Hehehe~" Tawa pemuda itu mengejek Rin.

"Aku sudah selesai, ayo." Ujar Rin sambil membereskan piring-piringnya.

"Aku juga sudah mau selesai." Ucap Len sambil menaruh coklat-coklat yang sudah dibentuknya kedalam kulkas.

"Kali ini Sin apa?" Tanya Rin.

"Gluttony.." Jawab Len.

.

"Nyonya Conchita, ini sarapan anda." Ujar seorang gadis yang berambut hitam sebahu dan memakai bando berwarna putih.

Di meja yang cukup panjang, ah bukan, panjang sekali itu terdapat berbagai macam makanan. Dari masakan prancis sampai masakan China.

"Ya, ya, kalian pergi dan suruh koki-koki yang tak berguna itu untuk membuat dessert." Ujar wanita yang berambut brunette yang ditata bergaya bob itu sambil mengambil garpu dan pisau yang tertata rapi di sana.

"Baik nyonya." Jawab gadis yang berambut hitam itu dan berjalan pergi diikuti oleh pemuda yang berambut hitam yang diikat pony tail.

"Ini kediaman sin itu?" Tanya gadis yang berambut honey blonde sembari memperhatikan rumah yang ukurannya melebihi kata normal.

"Ya.." Jawab pemuda yang berambut honey blonde yang ia tata menjadi pony tail itu sambil tersenyum simpul.

"Ini akan menyenangkan." Gumam Rin sambil tersenyum senang.

.

.

"Masakan macam apa ini?!" Marah seorang wanita yang berambut bob berwarna coklat.

"Maafkan kami nyonya.. Tanyakan saja pada koki-koki tak berguna itu." Ujar gadis yang berambut hitam sebahu bersamaan dengan pemuda yang berambut hitam yang diikat pony tail.

"Apakah kami perlu memasak koki tak berguna itu?" Tanya pemuda yang berambut hitam yang dia ikat menjadi pony tail itu dengan warna mata yang tiba-tiba berubah menjadi warna merah darah.

"Tentu saja Rei.." Jawab wanita yang berambut brunette sambil meletakan pisau dan garpu ia pakai.

"Baik, nyonya Conchita." Ujar pemuda yang bernama Rei itu sambil membungkuk lalu berjalan pergi.

"Nyonya, selagi menunggu Rei memasak koki itu, maukah anda membersihkan tubuh anda terlebih dahulu?" Tanya gadis itu sambil tersenyum manis.

"Tentu saja mau, Rui. Lagi pula aku sudah cukup tak nafsu makan gara-gara masakan koki sialan itu." Ujar Conchita sambil berdiri dari kursinya itu dan berjalan menuju kamar mandinya.

"Baik nyonya." Ucap Rui sambil mengikuti masternya tersebut.

.

"Ara~ Ara~ Dimana koki dari Italia itu?" Tanya Rei yang matanya masih berwarna merah darah itu sambil memainkan pisaunya dapur yang berada ditangannya itu.

"J-Jangan mendekat!" Teriak salah satu koki sambil berwajah ketakutan.

"Ah~ Kenapa? Ini hanya perintah dari nyonya~" Ujar Rei sambil tersenyum mengerikan.

"T-tidak, j-jangan m-mendekat..." Ujar koki itu, tapi naas, ia telah dipojokan oleh Rei dan kini tubuhnya telah menyentuh sebuah lemari kayu.

"Waktu bermain telah habis.." Ucap Rei sambil menyeringai kejam.

AAARRRGGGHHHHH!

"Ahahahaha~" Tawa Rei puas melihat hasil kerjanya itu.

"Tinggal menyuruh mereka memasaknya~" Ujar Rei lagi sambil membawa tubuh koki itu yang organ-organ pencernaan miliknya sudah keluar dari perutnya yang sobek itu.

.

"Oh iya, Rin, aku lupa memberi tahumu sesuatu.." Ujar Len sambil melihat kearah Rin.

"Apa?" Tanya Rin singkat sambil terus mengamati rumah yang bisa disebut mansion itu.

"Bahwa aku mencintaimu.." Jawab Len sambil terus melihat Rin.

"Serius sedikit, bodoh." Ujar Rin sambil menatap tajam kearah Len

"Maaf, tapi kurasa.. Sin kali ini mempunyai kontrak dengan Setan Lalat, alias Beelzebub." Ucap Len sambil memperhatikan mansion itu lagi.

"Lagi pula.. Disini terpasang barrier yang mencegah, orang luar untuk masuk maupun orang dari dalam untuk keluar." Lanjut Len sambil menyentuh barrier itu.

"Oh begitu, yang soal barrier aku sudah tahu, tapi bagaimana cara kita untuk masuk?" Tanya Rin sambil menyentuh barrier itu lagi.

"Satu-satunya cara ya.. Menunggu dan memeriksa mansion ini setiap hari.." Jawab Len sambil berjalan pergi.

"Mau bagaimana lagi.." Gumam Rin sambil mengikuti Len.

.

.

"Hii! Apa-apaan ini Rei?!" Tanya salah satu koki sambil bergidik ngeri melihat apa yang dibawa Rei itu.

"Hm? Kau tidak tahu? Bukankah jelas? Ini tubuh manusia." Jawab Rei dengan santainya.

"Tapi! Apa yang kau mau dari membawa tubuh manusia itu?!" Tanya koki yang lain sambil menunjuk mayat koki yang naas itu.

"Kalian harus memasaknya." Jawab Rei lagi.

"Tidak mau! Lebih baik aku pergi saja! Lupakan bayaran mahal itu!" Seru seorang koki sambil membuka pintu menuju keluar dan berjalan keluar.

AAAAAHHHH!

Tiba-tiba saja sebuah pisau telah menancap dipunggungnya dan anehnya pisau tersebut dengan suksesnya menusuk hingga jantung koki yang hendak melarikan diri itu.

"Ah.. Jika kalian ingin keluar sebenarnya juga tidak bisa~ jika kalian mencoba untuk kabur dari mansion ini.. Kalian akan mati seperti dia." Ujar Rei sambil berjalan menuju koki itu dan mencabut pisau dapur tersebut dari tubuhnya.

"Jika kalian tidak cepat bekerja.. Siapa tahu selanjutnya nyonya akan memintaku untuk membunuh kalian dan menyuruh koki-koki yang tersisa untuk memasak tubuh kalian." Lanjut Rei sambil menyeringai dan meninggalkan dua mayat itu di lantai sambil berjalan pergi.

"Uhh.. Apa yang harus kita lakukan?" Tanya salah satu koki yang dilihat dari name tagnya bernama Bruno.

"Mau bagaimana lagi.. Aku masih ingin hidup.. Mau tak mau kita harus memasak mereka berdua.." Jawab koki yang berambut merah muda yang diketahui dari name tagnya bernama Ruki.

"Ck.. Jika tahu begini aku tidak akan menerima pekerjaan disini.." Gumam salah seorang koki yang bernama SeeWoo sambil memandang jijik pada dua mayat itu.

Sementara koki-koki yang lain hanya bisa berlari ke toilet dan muntah disana..

.

"Nyonya~ hidangannya telah siap~ silahkan dinikmati~" Ujar Rui dan Rei dengan gembira sambil menyajikan hidangan dari bahan daging manusia itu.

"Sepertinya enak.." Gumam Conchita sambil menyeringai.

Ketika dibuka terlihatlah berpiring-piring makanan dari daging manusia.. Mulai dari usus manusia sampai dengan otak manusia.. Masih mending jika sudah tidak berbentuk lagi.. Tapi ini? Masih dengan jelasnya bisa terlihat itu adalah sebuah usus halus..

Conchita menyantap makanannya dengan elegant dan tampak dari raut mukanya bahwa ia menikmati makanannya kali ini.

"Kerja yang bagus kalian berdua." Ujar Conchita sambil meminum wine dari darah manusia.

"Terimakasih atas pujian anda nyonya." Ujar Rui dan Rei serempak sambil membungkukan tubuh mereka.

Beberapa bulan kemudian...

"Gawat! Bahan makanan kita habis! Bagaimana ini?!" Seru koki yang bernama Ruki sambil berteriak panik.

"Hm? Tidak habis kok.. Kita hanya perlu membunuh satu orang saja~" Ujar Bruno sambil menyeringai.

"Kau gila! Mana mungkin aku mau membunuh rekanku?!" Seru Ruki sambil menampar Bruno.

"Hah? Selama beberapa bulan kita bekerja di sini sudah banyakan rekan kita yang dibunuh di depan kita! Dengan cara yang sadis pula! Sekarang sudah tinggal berapa kita?! Hanya tigakan?!" Seru Bruno sambil menunjuk Ruki dan SeeWoo.

"Kalau begitu~ Bagaimana jika kami saja yang memasak kalian? Nyonya sudah lapar tahu~" Ujar Rui sambil memegang pisau dapur di tangannya.

"Kalian pasti akan menjadi masakan yang enak~" Ucap Rei sambil menyeringai kejam dam memegang pisau dapur di masing-masing tangannya.

Rui dan Rei berjalan ke arah SeeWoo dan Bruno dalam beberapa detik saja sudah terdengar teriakan dua lelaki yang memekakan dan menyayat telinga.

AAAAHHHHHHHH!TTTIIDAAAAAKKKK!

"Wah, hanya tinggal anda seorang rupanya Ruki.." Ujar Rei sambil menyeringai.

"Hmm~ lumayanlah masih bisa untuk persediaan makan untuk beberapa hari~" Ucap Rui sambil tersenyum kejam.

"Tidak.. J-jangan mendekat.. Kalian setan!" Teriak Ruki sambil terus berjalan mundur.

"Ah, kami memang setan~" Ujar Rui dan Rei secara bersamaan sambil mengayunkan kedua pisau dapur mereka.

GAAAAHHH!

Tampak tiga mayat yang mati mengenaskan, yang satu kepalanya terbelah menjadi dua, yang satunya lagi bagian tubuhnya telah terpisah-pisah dan yang satunya lagi organ-orang tubuhnya telah tercerai berai dari tubuhnya.

"Nyonya pasti senang.." Gumam mereka berdua sambil tersenyum.

.

.

"Mana makananku hari ini?!" Bentak Conchita sambil memukul meja makannya.

"Maafkan kami nyonya, tapi, semua bahan makanan sudah habis.." Jawab Rui lirih.

"Kalau begitu.."

AHHHH! TIDAAAAKKKKKK!

"R-rui.. Hei, nyonya, anda telah melanggar kontak yang telah dibuat dengan junjungan kami." Ujar Rei sambil meratapi nasib kembarannya yang sudah tak bernyawa.

"Masa bodoh dengan kontrak itu.. Selanjutnya kau.. Rei.." Ujar Conchita sambil tersenyum atau lebih tepatnya menyeringai.

GAAAAAHHHHHHHHHHHH!

Kini ruang makan Conchita telah berubah, dari design yang elit menjadi penuh bercak-bercak darah...

"Ah, aku masih lapar~" Gumamnya sambil berjalan keluar dari mansionnya itu.

.

"Nee-chan, sepertinya barriernya telah terbuka." Ujar Len sambil menelepon Rin.

"Baiklah, aku akan segera ke sana." Ujar Rin di seberang telepon sana.

"Hmmm... Apa yang bisa kumakan ya?.." Ujar Conchita sambil berjalan-jalan di sekeliling mansionnya..

Meow~~

Tampak seekor kucing tengah membersihkan bulu-bulunya, ia tak sadar bahwa Conchita sedang berjalan mendekatinya..

"Ah, kucing yang manis.. Apakah kau keberatan jika aku makan?" Tanya Conchita sambil tersenyum.

MMEEOOWWW!

"Lumayan juga~" Ucap Conchita sambil tersenyum puas.

Matahari semakin terik, Conchita yang sudah memuaskan perutnya walaupun dalam skalanya masih kurang memutuskan untuk pulang kembali ke mansionnya..

Saat berjalan melewati sebuah cermin besar, ia melihat pantulannya sendiri.

'Sepertinya.. Dia enak..' Batinnya sambil menyentuh permukaan cermin itu.

"Saya tidak akan membiarkan anda memakan diri anda sendiri~" Ujar Rin sambil berdiri di belakang Conchita.

"Siapa kau?! Berani-beraninnya kau menganggu saat-saat makanku!" Bentak Conchita sambil melihat ke arah Rin.

"Atau, kau mau menjadi santapanku?" Lanjut Conchita sambil menyeringai.

"Tidak terimakasih, aku tidak tertarik." Jawab Rin sambil berwajah datar.

"O viri peccatoris procidit..." Ucap Len sambil berdiri di samping Rin dan menutup matanya.

"Apa?..." Tanya Conchita pada dirinya sendiri.

Tiba-tiba cahaya putih yang menyilaukan menyelimuti tubuh Conchita dan ketika cahaya itu hilang, yang tersisa di sana hanyalah coklat yang berbentuk tulang yang berwarna putih yang melayang-layang. Dengan cepat Len mengambil coklat itu dan meletakannya di dalam kotak coklat yang juga berisi coklat-coklat lain.

"Tinggal dua sin lagi." Ujar Rin sambil melihat kearah Len.

"Iya, dan kali ini benar-benar menguras tenagaku." Ucap Len sambil berjalan pergi.

"Ya, mau bagaimana lagi? Yang kali inikan dia bekerja sama dengan setan." Ujar Rin sambil menyamakan langkah kakinya dengan Len.

Lalu mereka berdua menghilang ditelan oleh bayangan..


To be Continued


Balas Review yang ga log in :

Namikaze Kyoko :

Sebelumnya saya minta maaf karena chap lalu saya lupa balas reviewnya.. Ahhh! DX Saya orangnya pelupa jadi maafkan saya...

Soal chap yang pendek.. entah kenapa saya paling ga bisa nulis panjang-panajng ga tau kenapa#derita.

Makasih atas pujiannya *meluk-meluk gaje*

Terimakasih atas reviewnya X3

Aiharra :

Saya senang anda suka dengan fict saya.. TTwTT #terharu

Sin apa lagi yaa?~~ *tawa-tawa gaje*

Coklatnya sebenarnya buat bangkitin ibunya Rin, ada kok di chap 7#promo

Terimakasih atas reviewnya X3


Sesi curhat author :

Demi apapun! Saya kira dah berapa ribu words gitu.. ternyata.. ga sampai dua ribu.. *nangis dipojokan* Yang udah baca chap ini gimana? Eneg? Kalau engga saya ancungi jempol (Reader : ga usah/Me : Okay..) dan demi apapun.. ini abal bangettt! *nangis guling-guling* maafkan readers yang udah nantiin chap ini.. Saya telah mengecewakan anda semuaa!*lebay* Oke, mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa saya pakainya Conchita bukan Meiko.. (Reader : Ga ada.) Ya, karena saya mau ganti suasana aja.. saya juga sebenarnya ga tau kenapa saya pakai Conchita.. Mungkin karena lebih cocok? Oke, malah ngelantur, jadi ada yang mau ngeriview? *Pasang puppy eyes*