The Mysterious Sins Collector

Disclaimer : Vocaloid milik crypton future media inc.


Di pinggir perkotaan yang sangat padat, sebuah mansion yang mewah berdiri dekat di sana.. Rumornya, jika kau melewati mansion itu, kamu akan masuk ke sana dan tidak pernah kembali lagi..

"Rin-chan, apakah kamu tahu mengenai rumor baru akhir-akhir ini?" Tanya seorang ibu-ibu yang kebetulan berpapasan dengan Rin sambil membawa tas belanjaan dengan isi yang cukup banyak.

"Eh? Tidak pernah." Jawab Rin dengan wajah yang kebingungan.

"Ya, wajar sih, kamukan baru tinggal di area sini selama satu minggu..." Ujar ibu-ibu itu sambil memeganggi pipinya itu.

"Jadi rumor apa ya?" Tanya Rin yang mulai tertarik dengan rumor tersebut.

"Katanya, jika kau ke pinggir dari kota ini, di sana terdapat sebuah mansion yang cukup besar dan jika kau mendekat ke mansion tersebut, kau tidak akan pernah terlihat maupun kembali lagi." Jawab ibu-ibu itu dengan nada yang serius.

"Hah?! Apakah itu benar?" Tanya Rin lagi.

"Ya, ah, sudah dulu ya, aku harus cepat-cepat memasak untuk anakku." Ujar ibu-ibu tersebut seraya berjalan pergi.

"Ya sudah, hati-hati ya!" Seru Rin sambil melambaikan tangannya kepada ibu itu.

Setelah sosok ibu itu tak nampak lagi, Rin segera berjalan masuk ke dalam tokonya.

"Len!" Panggil Rin sambil mencari-cari pemuda yang berambut honey blonde itu.

"Apa?" Tanya sebuah suara dari arah dapur toko tersebut.

Setelah mendapat jawaban - atau lebih tepatnya pertanyaan itu, Rin segera berjalan menuju dapur yang terletak di sebelah kirinya, hanya dalam beberapa langkah ia telah berada di dapur sekaligus ruang makan yang tidak begitu besar.

Segera Rin mendapati pemuda berambut honey blonde yang ia ikat menjadi pony tail dan memakai kemeja putih berlengan panjang yang ia lipat lengan kemeja tersebut sampai di sikunya, sebuah celana panjang berwarna hitam juga ia kenakan, tak lupa celemek berwarna biru yang tengah ia pakai. Pemuda itu sedang mengaduk-aduk panci yang isinya adonan coklat tersebut.

"Hoi." Panggil Rin dengan nada yang datar kepada pemuda itu yang tak lain adalah Len.

"Apa?" Tanyanya singkat sambil terus mengaduk adonan coklatnya itu.

"Kurasa kau harus menyelidiki mansion yang belakangan ini menjadi rumor.." Ujar Rin sambil menduduki sebuah kursi.

"Kenapa harus aku?" Tanya Len sambil menuang adonan coklat tersebut ke dalam cetakan.

"Memangnya kau tidak mendengar rumor itu? Katanya kan jika seorang perempuan ke daerah mansion itu dia tidak akan pernah kembali." Jawab Rin sambil memangku dagunya dengan tangan kirinya.

"Ya, aku tahu rumor itu.. Memangnya kau percaya dengan rumor itu?" Tanyanya lagi sambil memasukan cetakan coklat tersebut ke dalam mesin pendingin.

"Lebih baik berjaga-jaga bukan?" Tanya Rin balik sambil beranjak dari tempat duduknya.

"Baiklah, baiklah, kau menang kali ini." Ujar Len sambil mengangkat kedua tangannya, tanda ia menyerah.

Segera Len melepaskan celemeknya dan berjalan ke arah pintu belakang yang kebetulan terdapat di dalam dapur.

"Aku akan kembali sebelum makan malam." Ujarnya lalu keluar dan menutup pintu belakang.

"Baiklaah.." Gumam Rin sambil masuk ke dalam kamarnya yang kebetulan dekat dengan dapur tersebut.

.

"Wow, seperti yang rumor itu katakan, mansion ini memiliki suatu aura yang tidak biasa." Ujar Len sambil mengamati mansion tersebut.

Mansion yang dindingnya berwarna abu-abu dengan pilar-pilar yang menyangga bangunan itu, tampak elegant sekaligus mengeluarkan sebuah aura yang tidak mengenakan.

"Sepertinya ada campur tangan iblis lagi nih." Gumamnya sambil memperhatikan mansion tersebut.

.

"Gakupo-sama, silahkan sarapan anda." Ujar seorang gadis yang berambut golden yang diikat menjadi side pony tail sambil menyajikan piring yang berisi sarapan ke pemuda yang berambut ungu panjang yang ia ikat menjadi pony tail.

"Ah, terimakasih Neru." Ujarnya sambil mencium pipi gadis tersebut yang mengakibatkan pipi gadis tersebut memerah.

"Apakah saya boleh menyiuapi anda, Gakupo-sama?" Tanya seorang gadis yang berambut magenta yang ia ikat menjadi twin tail yang mirip dengan bor.

"Tentu saja Teto." Jawab pemuda tersebut - yang diketahui bernama Gakupo sambil tersenyum senang.

.

.


Siang itu matahari bersinar terik, tetapi hal itu tidak mempengaruhi beberapa anak kecil yang berumur sekita lima tahunan yang sedang bermain bersama. Tiba-tiba seorang anak laki-laki yang berambut ungu panjang yang ia ikat menjadi pony tail menghampiri sekumpulan anak-anak tersebut.

"Hai, bolehkah aku ikut bermain?" Tanyanya dengan sebuah senyuman.

"Ihh! Si laki-laki jejadian datang! Pergi yuk!" Seru seorang anak lelaki sambil berlari pergi.

"Gakupo-kun aneh! Masa anak laki-laki rambutnya panjang?" Cibir seorang anak perempuan sambil berjalan pergi.

"Rambutnya panjang sekali! Jangan-jangan dia itu sebenarnya perempuan!" Seru anak laki-laki lain sambil melihat ke arah Gakupo dengan jijik.

"Apa-apaan rambut seperti ini?! Memangnya kau perempuan apa?!" Bentak anak laki-laki lainnya sambil menarik rambut Gakupo.

"S-sakit.." Rintih Gakupo kesakitan karena rambutnya ditarik dengan cukup kencang.

"Gakupo perempuan! Ahaha!" Tawa beberapa anak sambil melempari Gakupo dengan batu-batu kerikil yang ada di sana.

"Hiks.. b-berhenti.. S-sakit.. Hiks.." Isak Gakupo sambil melindungi mukanya dengan tangannya.

"Yah! Dia nangis deh! Cengeng! Pergi yuk!" Seru seorang anak perempuan yang berambut magenta dan diikat twin tail yang mirip bor sambil berjalan pergi.

Beberapa detik kemudian anak-anak tadi telah pergi dan hanya menyisakan Gakupo sendirian.

"Padahal aku hanya ingin bermain bersama kalian.." Ujarnya sambil menundukan kepalanya berusaha menahan tangisan yang sebentar lagi akan meluncur dari kedua kelopak matanya.

Dengan lunglai anak laki-laki tersebut berjalan pergi dengan lunglai.

Ya, dia adalah Gakupo Kamui, seorang laki-laki yang berambut ungu panjang yang sering ia ikat menjadi pony tail, pasti kalian bertanya-tanya kenapa rambutnya itu panjang padahal dia lelaki? Jawabannya gampang, karena keluarganya mempunyai suatu tradisi unik, yaitu setiap anak laki-laki pertama dalam keluarga itu harus memiliki rambut panjang agar keluarga itu beruntung dan tidak tertimpa kesialan.

Tapi, akibat lain dari tradisi itu tak lain Gakupo menjadi dikucilkan anak-anak sebayanya, tidak ada yang mau bermain bersamanya. Tahun demi tahun terlewati, tak terasa kini Gakupo telah berumur 18 tahun, kehidupannya masih sama, masih dikucilkan, tapi baginya itu tak masalah, karena ia masih mempunyai keluarganya yang baik itu. Tapi, semuanya berubah sejak hari itu.

Ketika Gakupo baru saja pulang dari kuliahnya dengan wajah yang kusut, ia menemukan banyak orang yang berdiri di dekat rumahnya.

"Ada apa?" Tanyanya pada salah satu warga yang berdiri di sana.

"Katanya rumah tersebut terbakar..." Jawab warga tersebut sambil menunjuk sebuah rumah.

"I-itukan rumahku?!" Seru Gakupo seraya langsung berlari dan menerobos kerumunan orang-orang, tujuannya hanya satu yaitu ke rumahnya yang sudah hangus itu, berharap keluarganya masih baik-baik saja.

"Kaa-san?! Tou-san?! Gakuko?!" Panggilnya dengan cemas berharap seseorang dari yang ia panggil tadi membalas teriakannya.

"Maaf, apakah anda salah seorang yang tinggal di rumah ini?" Tanya seorang polisi sambil menepuk pundak Gakupo pelan.

"Iya, ada apa ya?" Jawab Gakupo sambil berharap bahwa yang kini tengah ia pikirkan tidak menjadi kenyataan.

"Saya minta maaf sebesar-besarnya, tapi orang-orang yang tinggal di rumah ini, semuanya tewas terbakar." Ujar polisi itu sambil menundukkan kepalanya, menunjukan tanda berbela sungkawa.

"Ahaha.. Kalau ini adalah sebuah candaan ini sama sekali tidak lucu." Ucap Gakupo sambil tertawa hambar berharap sang polisi tersebut tiba-tiba mengatakan bahwa ia berbohong.

"Sayang sekali, tapi ini bukan hanya sebuah candaan.. Saya turut berduka, Kamui-san.." Ujar polisi tersebut kemudian menunduk dan berjalan pergi.

"Hey.. Katanya dia, rambutnya panjang agar keluarganya itu beruntung bukan?" Bisik seorang warga yang berambut blonde ke arah wanita yang berambut silver.

"Iya, tapi yang ada dia membawa sial.." Jawab wanita yang berambut silver itu sambil memandang jijik ke arah Gakupo.

"Hei, diakan anak itu. Kasihan keluarganya yang terbakar itu, kenapa bukan dia saja yang terbakar?" Cibir seorang warga lagi.

Sementara yang sedari tadi dibicarakan hanya menunduk dan mengabaikan apa yang dibicarakan orang-orang tersebut.
Berharap mereka akan diam dan pergi kelamaan, tapi sepertinya dewi fortuna amat membencinya.. Para warga itu malah semakin menjadi-jadi dan lama-lama mereka mulai melempari Gakupo dengan kerikil yang berada di dekat sana. Gakupo segera berlari menjauh dari sana sebelum batu-batu itu mengenainya lagi dan menimbulkan trauma masa lalunya. Ia terus berlari dan berlari, entah sudah berapa jauh ia berlari pemuda itu tetap berlari meskipun kakinya telah mati rasa dan memintanya untuk berhenti, tetapi ia tidak memedulikannya..

Setelah entah berapa lama pria berambut violet tersebut berlari, ia tiba disebuah kota kecil, terdorong oleh rasa lelah yang amat besar, akhirnya ia memutuskan untuk mencari tempat penginapan. Tapi sepertinya dewi fortuna benar-benar membencinya, jangankan mendapatkan tempat penginapan, baru mengetuk saja ia sudah dibentak dengan keras oleh sang pemilik penginapan, dengan gontai ia berjalan tapi, tiba-tiba saja pundaknya ditepuk oleh seseorang - oke, ini sudah kedua kalinya pundaknya ditepuk oleh seseorang dan itu cukup mengagetkannya.

"Anno.. Sedari tadi aku perhatikan sepertinya kamu kesusahan? Bisa aku bantu?" Tanya sebuah suara yang bagaikan malaikat penolong di telinga Gakupo.

"Eh? Ya.. Sebenarnya aku sedang mencari penginapan." Jawab Gakupo sambil membalikan tubuhnya agar bisa melihat wajah orang yang sudah menolongnya itu.

Dan tampaklah oleh indra pengelihatan Gakupo seorang gadis berwajah cantik dengan rambut berwarna hijau lumut membingkai sosok itu, badannya yang mungil dengan kulit seputih susu juga menambahkan kesan 'malaikat' pada gadis itu.

"Ah, kebetulan sekali! Orang tuaku memiliki penginapan di dekat sini." Ujar gadis itu sambil tersenyum.

"Eh? Tidak usah, aku tidak mau merepotkan." Tolak Gakupo sambil mengibas-ibaskan tangannya tanda ia menolak ajakan gadis yang baru dikenalnya itu.

"Tidak apa kok!" Seru gadis itu sambil menarik tangan Gakupo dan menyeretnya agar mengikutinya.

'Terimakasih..' Batinnya sambil berusaha menyamakan langkah kakinya dengan gadis penolongnya itu.

"Ini dia penginapan milik orang tuaku!" Ujarnya bangga sambil merentangkan kedua tangannya lebar di depan gerbang penginapannya.

"Woah.. Besar ya.. Oh ya, aku belum tahu namamu." Ucap Gakupo sambil mengamati penginapan itu.

"Bukankah seorang gentleman harus mengenalkan dirinya terlebih dahulu?" Tanya gadis itu sambil merapikan rambutnya yang tertiup angin malam.

"Ah, maafkan kelancangan saya nona muda, nama saya Kamui Gakupo." Ucap Gakupo mengenalkan dirinya sambil membungkuk ala butler.

"Ahaaha! Kamu lucu juga ya Kamui-san! Namaku Gumi Megpoid!" Ujar gadis itu sambil tertawa.

"Salam kenal, Megpoid-san." Ucap Gakupo sambil tersenyum.

"Salam kenal juga Kamui-san, ayo masuk, hari sudah semakin larut tahu!" Ajak Gumi sambil menarik tangan Gakupo untuk masuk ke dalam penginapan tersebut.

Berbulan-bulan setelah Gakupo bertemu dengan Gumi, benih-benih cintapun tumbuh diantara mereka berdua atau mungkin hanya pada Gakupo?...

"Gumi... Aku suka padamu!" Ujar Gakupo sambil menatap mata Gumi.

"Maaf Gakupo.. Tapi aku hanya menganggapmu sebagai kakakku saja.. Lagipula kamu tahukan aku tengah berpacaran dengan Gumiya?" Tolak Gumi sambil menunduk ke bawah.

"Ahahaha, aku sudah tahu kau akan menjawab seperti itu, maaf karena aku telah mengganggumu, permisi." Tawa Gakupo dengan dipaksakan sambil berjalan meninggalkan tempat itu.

Kala itu hari sudah mulai sore, tapi itu tidak berpengaruh bagi Gakupo yang tengah berjalan dengan gontai, mengikuti kemana kakinya akan membawanya, sampai pada akhirnya ia telah berdiri di sebuah jalan kecil yang langsung bersinggungan dengan sebuah jurang.

"Apa lebih baik aku melompat ke juran tersebut ya? Lagipula pasti tidak ada yang menangisiku.." Gumam Gakupo sambil melihat ke arah jurang tersebut dengan tatapan nanar.

Entah karena suatu keberuntungan atau kesialan, Gakupo tersandung sebuah batu yang mengakibatkan dirinya tidak seimbang dan pada akhirnya hal tersebut membuatnya jatuh ke dalam jurang itu.

BUUUUKKKK!

Entah bagaimana ternyata Gakupo jatuh ke daerah yang sedikit menjorok keluar dari jurang tersebut, dengan kata lain ia diselamatkan oleh tempat jatuhnya itu. Untungnya ia tak mengalami luka yang benar-benar parah hanya luka goresan-goresan kecil. Disebelah tubuhnya terdapat sebuah botol kaca yang tersumbat oleh gabus. Gakupo mengubah posisinya yang berbaring menjadi posisi duduk dan memerhatikan botol tersebut. Didorong oleh rasa penasaran yang besar Gakupo membuka tutup botol tersebut. Asap kabut memenuhi indra pengelihatannya untuk beberapa menit.

"Akhirnya seorang manusia bodoh membebaskanku!" Tawa seorang sosok yang menyerupai seekor iblis dengan sayap hitam dan tanduk mirip tanduk kambing gunung.

"Eh?" Jawaban yang singkat dari Gakupo karena ia belum terlalu mengerti keadaan itu.

"Cih, sekali manusia bodoh tetep bodoh, baiklah karena kau telah membebaskanku dari penjara menyebalkan itu, maka aku akan mengabulkan satu permintaanmu." Tawar iblis itu sambil melayang-layang di udara.

"Eh? Kalau begitu aku ingin semua wanita tidak bisa menolak karismaku." Jawab Gakupo sambil melihat ke arah iblis itu.

"He? Itu saja? Baiklah, aku akan mengabulkan permintaanmu dan aku juga akan memberimu kekayaan.. Tetapi! Kekuatan itu akan menghilang jika kau mati dan perempuan-perempuanmu akan pergi meninggalkanmu." Ujar iblis itu menjelaskan.

"Itu saja? Baiklah!" Seru Gakupo sambil tersenyum penuh kemenangan.

.


"...Ma... -sama... Po-sama.. Kupo-sama.. Gakupo-sama?" Panggil gadis yang berambut hijau lumut sambil sambil melambai-lambaikan tangannya didepan wajah pemuda tersebut.

Yang dipanggil hanya menolehkan kepalanya ke arah gadis berambut hijau lumut tersebut.

"Saya lihat anda tengah melamun.. Apa anda memikirkan sesuatu?" Tanya gadis itu sambil terlihat khawatir.

"Tidak ada apa-apa kok Gumi.." Jawab Gakupo sambil menarik Gumi kearahnya dan mencium bibir gadis tersebut sekilas.

"Gakupo-sama, sepertinya ada yang mencari anda di luar sana." Panggil gadis yang berambut cream bergelombang.

"Ah ya, gadis yang tersesat lagi ya?" Tanya Gakupo kepada gadis yang berambut cream tersebut da gadis tersebut hanya menganguk kecil.

Gakupo berjalan ke arah pintu mansion tersebut dan membuka pintu dari kayu mahoni itu dan tampaklah seorang gadis yang berambut blonde sepungung dan memakai bandana yang tengah menggenakan sebuah sun dress yang berwarna putih dan sebuah jaket putih yang menutupi sampai pergelangan tangannya.

"Apakah kamu tersesat wahai gadis muda?" Tanya Gakupo sambil mengulurkan tangganya.

"Ya, aku tersesat.. Dan aku takut sekali tuan!" Seru gadis itu sambil memeluk Gakupo dan yang dipeluk hanya bisa memeluk gadis asing tersebut.

"Maafkan aku.." Rintih gadis itu.

Tiba-tiba saja Gakupo merasakan permukaan dingin yang menembus kulit dan dagingnya, ya gadis tadi telah menusuknya dengan sebilah pisau yang ia sembunyikan di saku jaketnya tersebut. Dengan kasar gadis itu mendorong Gakupo hingga pemuda itu terjerembab jatuh.

"Cih! Nanti aku harus menghukum si maniak jeruk itu karena telah membuatku menggunakan wig dan dress ini!" Umpatnya sambil melempar pisau tersebut ke sembarang arah.

Dan sontak para gadis-gadis yang di dalam mansion tersebut segera berlari keluar dari mansion tersebut, sampai seorang gadis yang berambut hijau lumut berlari menuju pintu, ketika sampai di depan Gakupo, ia berhenti.

"Kau menjijikan." Ujarnya tanpa melihat wajah pemuda yang berambut violet itu.

"G-gumi?..." Panggilnya sambil mencoba meraih gadis pujaan hatinya itu tapi nyatanya gadis itu sama sekali tidak mengubrisnya ataupun melihat ke arah pemuda itu.

"Keh... Kau dicampakan oleh orang yang amat kau cintai.. Menyedihkan sekali.." Ujar gadis itu sambil melepas wignya dan tampaklah pemuda dengan rambut yang berwarna honey blonde pendek yang tak lain adalah Len.

"K-kau siapa?" Tanyanya dengan terbata-bata.

"Malaikat pencabut nyawamu.. Mungkin?" Jawab Len sambil tersenyum sinis ke arah Gakupo.

"O viri peccatoris procidit..." Ujar Len tersebut dengan wajah yang datar.

Dan seketika tubuh Gakupo diselimuti cahaya putih untuk beberapa saat dan ketika cahaya itu hilang tidak ada lagi tubuh pemuda tersebut yang ada hanyalah coklat yang berbentuk bunga mawar, Len mengambil coklat tersebut dan meletakannya di sebuah box coklat berukuran 10 cm x 12 cm yang di dalamnya telah berisikan beberapa coklat yang lain.

.

.

"Aku kembali..." Ujar pemuda yang berambut honey blonde sambil membuka pintu belakang yang terdapat di dapur.

Dan dia dihadiahi oleh lemparan sebuah bantal yang tepat mendarat di mukanya.

"Kau lama." Ucap gadis yang berambut honey blonde yang tengah duduk di kursi.

"Jarak dari rumah dan mansion itukan jauh!" Bentak Len sambil menunjuk ke arah Rin dan yang dimarahi hanya mendengus dan berjalan pergi.

"Cih! Mengesalkan!" Marah Len.


Beberapa jam yang lalu..

"Ternyata memang benar, dia membuat kontrak dengan iblis." Ujar Len sambil melihat ke arah Rin.

"Lalu?" Tanya Rin dengan acuh tak acuh.

"Untuk menghilangkan kekuatannya kita harus membunuhnya." Jawab Len sambil mendelik tajam kearah Rin.

"Kau saja yang membunuhnya, nanti kalau aku terkena kekuatannya bagaimana?" Tanya Rin sambil memakan pocky rasa coklat yang baru ia beli.

"Tapikan aku laki-laki tulen!" Teriak Len mengeluarkan semua kekesalannya.

"Kalau begitu aku cross dress saja kamu." Ujar Rin santai.

"Whaaat?!" Teriak Len kaget.


"... Aku menyesali keputusanku tadi.." Gumamnya sambil meratapi nasibnya.


To Be Continued!


Balas review~

To : Raruki Nee-chan

Iya, aku ambil refrensinya dari seven deadly sins yang dibuat sama mothy/okuno-p XD

Iya, yang dibuat sama mothy itu baru sampai lust.

Hum, ini bukan Rin x Oliver kok, kalaupun ada hanya slight, karena pada dasarnya ini bukan fict romance.

Saya memang jelek dalam alur dan keterangan, maklum author newbie, jadi harap memaklumi, saya akan berusaha sebisa saya :3


Author curcol time!

Pada akhirnya aku bertekat buat update fanfictku dalam jangka dua minggu sekali.. mungkin lebih cepat dan mungkin pas dua minggu.. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya kalau chap kali ini abal, banyak typo, alur terlalu cepat, keterangan kuran, dll.. Ah, saya ga banyak bacot deh XD

Segala macam review diterima sama saya X3 silahkan memberikan pendapat, kritik, saran dan flame, tenang saya menerima flame kok XD#plak