Chapter 2

Shiho menenggelamkan wajah pada lutut yang ditekuknya, meruntuki kebodohannya, telah melakukan hal yang paling memalukan seumur hidupnya. Tapi yang paling menyakitkan adalah ketika Shinichi tidak pernah mengira bahwa yang di ciumnya tadi adalah Shiho, malah dia menyangka bermimpi berciuman dengan Ran Mauri.

Isak tangis sang gadis terus mengalun tanpa suara, dalam ruang pribadinya. Selain rasa sedih yang dirasakannya, ada perasaan lain yang mengganggunya. Perasaan takut saat tangan sang pemuda memeluknya masih terasa bagi Shiho.

"Aku tahu berbedaan tenaga leki-laki dan perempuan itu berbeda, tapi aku tak menyangka sejauh itu perbedaannya." gumamnya

Tapi detik berikutnya Shiho menguatkan hati, jika memang Shinichi tidak mengingatnya, lalu untuk apa dia bersedih dan mengingat semuanya? dia berjanji pada dirinya sendiri akan menyimpan peristiwa hari ini jauh dalam hatinya. Dan akan bersikap biasa seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Tapi... Apakah akan semudah itu? mampukah dia tetap teguh pada pendiriannya? Menganggap seolah tak pernah terjadi apa-apa? Padahal dia kini sadar, jatungnya selalu berdetak dua kali lebih cepat saat sekedar bertemu dengan Shinichi atau hanya melihat Shinichi dari kejauhan. Apa yang akan terjadi jika lengan kekar Shinichi kembali memeluknya? Mungkin dia bisa shock atau malah pingsan.

Sejak peristiwa dalam ruang kesehatan itu, Shiho selalu menghindar bila akan bertemu dengan Shinichi, niat awal Shiho yang ingin berpura-pura tidak pernah terjadi apa-apa gagal total dan hal tersebut membuat rasa ingin tahu Shinichi makin mengelitik detektif muda itu. Membuat pemuda surai hitam itu selalu mencari Shiho di setiap kesempatan, dia tak tahu apa yang membuat temannya itu jadi begitu berubah. Dan dia benar-benar ingin tahu kebenarannya.

OoO

Sejenak Shinichi mengerutkan kening saat didapatinya seorang gadis bersurai coklat caramel pendek tengah berjalan bersama seorang pria disalah satu lorong sekolah yang menuju ruang kesehatan SMU Teitan. Jika dilihat dengan seksama, pria yang tengah bersikap sok akrab itu bukan salah satu siswa SMU Teitan, itu terbukti dengan dia yang tak memakai seragam seperti dirinya dan siswa yang lainnya.

"Siapa dia? Apakah seorang guru di kelas Shiho?" gumam Shinichi lebih pada dirinya sendiri.

Ada yang janggal dengan pemandangan yang ada dihadapannya ini, sudah hampir dua tahun ini dia mengenal sosok Shiho Miyano, tapi dia tak pernah melihatnya berjalan apalagi berbincang dengan pria selain dirinya.

"Apa karena pria itu, dia jadi menghindariku akhir-akhir ini?" pikirnya sambil terus mengawasi pasangan yang tengah berjalan menjauhinya.

Shinichi yang sudah terkenal dengan pribadi yang suka ikut campur dan selalu penasaran, memutuskan untuk mengikuti pasangan yang beberapa meter lagi akan mencapai pintu ruang kesehatan.

OoO

"Sensei... anda baik-baik saja?" tanya Shiho sesampainya di ruang kesehatan, hari ini memang waktunya untuk Shiho piket menjaga ruang serba putih itu.

"Ya... ku rasa, aku baik-baik saja, mungkin hanya sedikit terkilir." ucap pemuda yang dipanggil sensei itu sambil mengulas senyum singkat.

Shiho hanya menatap senseinya itu dengan hati yang gamang, karena akhir-akhir ini dia sering melamun, Shiho jadi sering tidak memperhatikan jalan yang dilaluinya. Seperti hari ini, dia hampir saja mematahkan kedua kakinya karena tidak memperhatikan tangga saat akan turun dari lantai dua. Beruntung ada sesosok pemuda bersurai pirang yang menyelamatkannya, dengan tubuh atletis dan lengan yang kekarnya, Mizouchi Nisimura sang guru olah raga putri SMU Teitan hadir menangkap tubuh ringkih siswinya sebelum tubuh Shiho mencium lantai yang keras.

"Nisimura sensei... saya minta maaf karena kecerobohan saya anda jadi terluka." ucap Shiho penuh dengan rasa sesal yang mendalam.

"Aku selalu siap saat kau memerlukan bantuanku, setiap saat." ada penekaan kata saat pemuda berparas masyarakat Eropa saat mengatakan kata 'setiap saat'. Dengan senyum yang penuh makna di tatapnya gadis yang tengah berlutut dihadapannya, membalut pergelangan kakinya yang nampak membiru.

"Miyano..."

Merasa namanya dipanggil, Shiho hanya menonggak sekilas ke arah sensei charmingnya itu. Ditatapnya manik kelabu sang sensei yang tengah menatapnya penuh dengan perasaan.

"Tentang pernyataanku tempo hari, apa jawabanmu?" tanya Nisimura-sensei serupa gumaman, namun ada tuntutan disetiap kata yang dirangkainya.

Beberapa hari yang lalu memang sang sensei sudah menyatakan cintanya pada sang gadis yang kelihatan cuek namun rapuh itu, saat itu Shiho tak dapat mengucapkan apa-apa karena tiba-tiba dirasanya seluruh tubunya kaku dan bibirnya kelu.

Namun saat Nisimura-sensei hendak merengkuh Shiho dalam pelukannya, terjadi penolakan kerena tiba-tiba Shiho beringsut menjauh. Seketika itu Nisimura-sensei merasa yakin bahwa Shiho tidak mungkin menerima cintanya, tapi melihat hari ini dia begitu perhatian dan mengkhawatirkannya, sehingga membuatnya berfikir mungkin masih ada harapan untuk merebut hati Shiho.

Melihat siswi dihadapannya hanya diam dan memandang dengan tatapan menerawang dengan ekspresi yang sulit dijelaskan, sang sensei pun akhirnya angkat bicara.

"Jika kau memang belum bisa menjawabnya, aku akan selalu menanti jawabanmu..."

Sang sensei segaja mengantung kalimatnya sambil menatap tajam manik mata sang lawan bicara.

"Dan aku harap itu adalah jawaban yang aku inginkan."

Shiho mendengar ada penekanan dan harapan yang besar terselip dalam kalimat senseinya barusan tapi, Shiho tetap menghela nafas lega mendengar penuturan sang charming dihadapannya itu, bagaimanapun dia sudah terlanjur mencintai sahabatnya, tapi dia juga ragu apakah sahabatnya juga memiliki perasaan yang sama atau tidak.

Disaat suasana janggung tercipta dalam ruangan serba putih yang hanya dihuni dua manusia yang masih sibuk dengan fikiran mereka masing-masing. Tanpa ada yang menyadari sesosok pemuda sedang mengeratkan gengamanya dan melayangkan tinju ke arah tembok di dekatnya. Ada rasa sesak didadanya dan berharap rasa itu memudar mengalir darah yang mencuat keluar dari kepalan tanganya.

OoO

Beberapa hari berselang dan sayangnya Shiho masih belum mau menampakkan diri pada Shinichi. Membuat detektif muda itu hampir frustasi karena tingkah teman yang biasanya selalu mendampinginya itu, kini malah menghindarinya.

"Apa ada yang sebenarnya terjadi Shinichi?" tanya pria baruh baya bertubuh tambun pada pemuda yang tengah memandangi televisi dihadapannya dengan tatapan kosong.

"Akhir-akhir ini kau jadi jarang terlihat bersama dengan Shiho?"

Shinichi hanya menoleh sekilas ke arah suara bariton profesor Agasa dengan enggan.

Untuk yang kesekian harinya, Shinichi menghabiskan sorenya di rumah tetangganya itu, dengan harapan dian bisa bertemu atau setidaknya bercakap dengan Shiho seperti hari-hari biasanya. Namun sayangnya Shiho masih bersikeras untuk tetap mengurung diri dikamarnya.

"Shinichi... tolong cari tau apa yang membuat Shiho jadi bersikap aneh akhir-akhir ini? Aku sangat khawatir." Pinta sang profesor.

Tentu saja Shinichi tidak dapat mengabaikan permintaan sang profesor sekaligus tetangganya itu, pemuda itu juga merasa penasaran pada hal yang membuat sahabatnya itu jadi punya hobi baru yaitu mengurung diri dikamar dan mengabaikannya.

OoO

Pagi itu Shinichi bergegas mencari Shiho di kelasnya, karena saat tadi dia berencana untuk menjemputnya, Profesor Agasa bilang bahwa Shiho sudah berangkat duluan.

Tinggal selangkah lagi untuk Shinichi meraih pintu kelas Shiho, namun niatnya harus tertahan karena dia mendengar percakapan beberapa siswi dalam ruangan itu.

"Aku kasihan melihat Miyano sekarang ini."

Samar-samar Shinichi mendengar nama sang sahabat disebut, rasa keingintahuan membuatnya memberanikan diri mengintip dari jendela samping pintu, tempatnya bersembunyi.

Dalam ruang kelas yang masih sepi itu terdapat seorang gadis bersurai coklat tua sedang duduk dimeja sedang bercakap dengan temannya bersurai hitam sebahu yang duduk dihadapannya.

"Aku kira Nishimira-sensei itu sangat menyukai Miyano, kau ingat bagaimana hari pertama dia mengajar dulu, matanya tak pernah lepas dari Miyano." ucap siswi yang duduk diatas meja.

"Tapi kenapa dia sekarang jadi berubah dan seolah membenci Shiho begitu ya? Bahkan kemarin Shiho hampir saja pingsan karena dihukum keliling lapangan di panas yang terik padahal dia hanya sedikit terlambat."

"Ada yang bilang, Nishimura-sensei itu dendam pada Shiho karena dia menolak cintanya."

Manik mata Shinichi membola seiring dengan acara 'mengupingnya' yang semakin lama, semakin mengerogoti hatinya.

'jadi... Shiho menolak pernyataan senseinya' batin Shinichi.

Shinichi merasakan ada kelegaan saat mendengar kabar bahwa ada kemungkinan Shiho menolak sensei yang tempo hari yang pernah menanyakan pernyataan cintanya pada sang sahabat.

"Semoga hari ini tidak terjadi apa-apa saat pelajaran olahraga, Shiho pasti akan 'habis' kalau sampai telat lagi."

Shinichi menajamkan pendengarannya untuk mencerna kalimat terakhir sang gadis.

'Habis? Apa makasudnya'

Shinichi masih sibuk berkutat dengan pemikirannya sendiri sampai tak sadar bel sudah berbunyi menandakan kelas akan segera dimulai.

OoO

Hari itu Shinichi sama sekali tidak dapat berkosentrasi pada pelajaran, pikirannya terus berpusat pada Shiho Miyano, gadis yang selama dua tahun ini selalu mendampinginya dalam keadaan apapun.

Shinichi mencoba mengalihkan pikirannya dengan memandang keluar jendela, namun bukannya pencerahan fikiran yang didapatnya, namun kenyataan pahit yang dilihatnya.

Rahang Shinichi mengeras saat dilihatnya Shiho tengah berlari mengelilingi lapangan pada cuaca musim panas yang menyengat, di samping lapangan terlihat sesosok pria yang tengah tersenyum penuh kemenangan dengan sorot mata yang tajam sambil mengawasi stopwatch yang ada di genggamannya.

"Hukumanmu lari sepuluh kali lapangan Shiho, dan lakukan itu dalam waktu kurang dari sepuluh menit." teriak sang sensei tanpa belas kasihan, saking kerasnya sehingga suara sang sensei sampai ke telinga Shinichi, membuat pemuda bersurai hitam itu geram menahan amarah.

Shinichi tak menghiraukan suara panggilan guru kelasnya saat kedua kakinya melangkah berlari ke arah halaman sekolah, dia tak peduli di anggap orang gila karena terus berlari tanpa menatap sekalilingnya, dia juga tak menghiraukan jika saat ini dia harus di hukum karena kelancangannya yang keluar kelas tanpa alasan.

Ya... dia tidak peduli, dia bekukan semua logika yang biasanya dia gunakan, karena tujuannya saat ini hanya satu, ke lapangan sekolah untuk menyelamatkan Miyano-nya.

TBC

A/N :

Waktunya balas review...

PureAi :

Terimakasih sudah berkenan memfavorit fic saya *terharu...*

Tentu saja di lanjutkan Ai-san... ya, walaupun updatenya agak telat dan lama. Hehe

Terimakasih sudah mereview Ai-san, review anda menjadi penyemangat untuk saya.

Misca :

Terimasih Misca-san sudah mereview... saya senang sekali kalau fic saya ada yang menyukai. Hehe

Gomen ne.. karena updatenya agak lama...

Gouto Chiaki :

Terimaksih sudah meriview Chiaki-san...

Jangan bosan untuk selalu meyemangati saya ya... #Plak *Maksa

Hehe

You-chan & :

Ini sudah di lanjut ko... Hehe