Derap langkah kaki Shinichi menggema seantero lorong sekolah, membuat beberapa siswa yang kebetulan berpapasan dengan sang detektif muda itu terperanga saat mendapati raut wajah Shinichi hampir pucat pasi.

"Apa yang terjadi, kenapa Kudo-senpai tergesa-gesa?" Shinichi mendengar beberapa gumaman samar dari siswa-siswa yang tidak sengaja berpapasan dengannya. Dan Shinichi mengabaikannya, dia tetap fokus pada tujuannya, pada misinya, pada keinginan kuatnya untuk menyelamatkan gadis yang menurutnya harus dia lindungi saat ini.

"Semoga hari ini tidak terjadi apa-apa saat pelajaran olahraga, Shiho pasti akan 'habis' kalau sampai telat lagi."

Kembali terngiang dalam benak pemuda bersurai gelap itu pembicaraan yang berhasil dia curi dengar pagi tadi. Jika ditelaah dengan seksama, percakapan yang didengar Shinichi pagi tadi, tidak menunjukkan hal yang baik atau lebih tepatnya mengarah pada hal yang buruk. Sadar akan hal itu Shinichi semakin mempercepat laju kakinya. Dia tak ingin terlambat, dia tak ingin menyesal.

Chapter 3

Dengan nafas yang masih terenggah-enggah, Shinichi berhasil kabur dari kelas dan segera melesat menuju halaman sekolahnya. Setelah berhasil mengembalikan kinerja paru-parunya untuk bekerja secara normal, manik biru Shinichi mulai menyapu seluruh halaman untuk menemukan surai coklat caramel sahabatnya.

Tak berselang lama sang detektif muda itupun sudah mendapati apa yang ingin manik birunya lihat. Disudut halaman terjauh dari tempat Shinichi berdiri, nampak seorang gadis dengan seragam olahraga warna putihnya tengah menyandarkan salah satu telapak tangannya pada batang pohon sakura di sampingnya, sedangkan salah satu tangannya sedang sibuk meremat seragam di depan dadanya. Dia nampak kesusahan bernafas, wajahnya merah padam karena hampir kehabisan nafas.

Shiho Miyano bersumpah lebih baik dihukum mengerjakan setumpuk-tumpuk soal matematika dan fisika tingkat perguruan tinggi daripada harus dihukum secara fisik seperti ini.

"Apa yang kau lakukan Miyano? Kau harus menyelesaikan hukumanmu dengan lari empat kali keliling halaman ini lagi." bentak sesosok pemuda yang tengah berjalan mendekati Shiho yang masih berusaha kembali bernafas.

"Kau harus terima hukumanmu karena berani terlambat dalam pelajarannku." suara bariton itu tidak nampak lembut seperti tempo hari, kali ini terdengar sangat mengintimidasi, dan penuh amarah.

Shiho sadar betul jika perubahan sikap dan suara senseinya itu terjadi setelah beberapa hari yang lalu dia bertemu dengan sang sensei charmingnya, yang membuat sang sensei berbalik dari menyukai menjadi sangat membencinya.

"Maaf..." gumam Shiho pelan disela-sela nafasnya yang putus-putus.

"Jika kau memang menyesal harusnya kau tidak terlambat dalam pelajaranku Miyano." sejenak manik mata Shiho menatap senseinya yang berdiri menjulang dihadapanya, permintaan maaf yang dilontarkannya bukan untuk keterlambatannya tapi karena hal lain, namun nampaknya sang pemuda manik kelabu itu terlalu terbawa emosi sehingga tidak dapat menangkap apa yang sebenarnya ingin dikatakan muridnya.

"Cepat lanjutkan larimu Miyano! Aku tak punya banyak waktu untuk menungguimu seharian di sini!" sang sensei yang terkenal ramah dan baik hati dikalangan para siswi itu kembali membentak, membuat Shiho tersentak dan terpaksa mangayunkan kakinya untuk kembali berlari, walaupun dirasa kakinya sudah kebas dan mati rasa, serta nafasnya yang tinggal diujung tenggorokan.

DHUAAAKKK...

"Aghhhhh..."

Shiho yang baru saja beberapa langkah berlari harus terhenti dan segera menoleh ke arah suara di belakangnya. Ditelinga Shiho terdengar seperti sebuah benda yang menghantam benda atau lebih tepatnya sebuah kepala dengan kerasnya. Dan benar saja manik Shiho sedang menatap dengan bingung pemandangan di belakangnya, nampak sang sensei yang sedari tadi hanya membentak-bentaknya kini tengah berlutut dengan tidak etisnya sambil memegangi belakang kepalanya dengan kedua telapak tangan. Dan tak jauh dari pemuda pirang yang tengah mengerang merasakan sakit dan menjalari kepalanya, Shiho juga mendapati sebuah bola sepak yang mengelinding mendekati kakinya. Seingatnya sejak tadi tak ada bola disekitarnya dan juga tak ada yang nekad bermain sepak bola di halaman dengan cuaca sangat terik seperti ini.

"Miyano... cepat pergi dari sana." teriak sebuah suara yang sangat dikenalnya, membuatnya menoleh ke arah suara yang makin mendekat ke arahnya.

Wajah cemas pemuda bersurai kelam yang tengah berlari mendekat, membuat Shiho diam mematung, maniknya membelalak tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Kenapa kau hanya diam saja, kau harus segera pergi dari sini." teriak Shinichi saat menyadari sahabatnya itu hanya diam mematung di tempat.

"Apa yang kau lakukan disini Kudo-kun?" tanya Shiho datar sambil menyembunyikan rasa keterkejutannya yang luar biasa.

Manik mata Shinichi membelalak sejenak saat mendapati sambutan sahabatnya itu jauh dari kata hangat, namun dengan segera dia kembali memfokuskan diri. Prioritas utamanya saat ini hanyalah membebaskan sahabatnya itu dari hukuman yang sangat tidak masuk akal.

"Kau harus segera pergi dari sini, biarkan aku yang menyelesaikannya disini." pinta Shinichi atau lebih tepatnya perintah Shinichi.

"Tapi untuk ap..."

Kalimat Shiho harus rela terpotong oleh geraman samar dari sang sensei yang masih berlutut di dekatnya.

"Siapa yang telah berani menendang bola ke arahku."

Sang detektif muda itu hanya ber-ich samar sebelum akhirnya menarik pergelangan tangan Shiho dan melesat meninggalkan sensei surai kelabu yang masih berteriak-teriak ke arah mereka.

"SHI-NI-CHI KU-DO..."

OoO

Adegan drama kejar-kejaran mereka dengan sensei yang mengerahkan beberapa siswa andalannya, harus berakhir dengan bersembunyinya sang tersangka di dalam gudang lama di sujut terpencil sekolah.

Setelah yakin bahwa tempat bersembunyian mereka aman dan terkunci, Shinihi baru melepaskan gengaman pada pergelangan tangan Shiho. Dan Shiho sangat bersyukur sang sahabat melepaskan gengamannya atau menurut Shiho itu tadi bukan sekedar gengaman tapi sebuah cengkraman karena saat Shiho mengamati pergelangan tangannya, pergelangannya nampak membiru.

'Rupanya dia menyelamatkanku dengan sekuat tenaga.' batin Shiho.

Shinichi nampak sedang mengamati keadaan luar dari balik jendela kecil gudang yang mereka diami, sebelum akhirnya dia turut bergabung dengan Shiho yang sudah duduk di bawah jendela gudang.

"Apa yang kau lakukan Kudo-kun?" tanya Shiho tajam.

"Aku sedang mengawasi keadaan sekitar, takut kalau kita terbuntuti." jawab detektif muda itu innocent.

Nampak Shiho yang menghembuskan nafasnya samar sambil melipat lengan ke depan dada.

"Maksudku, kenapa kau menendang bola ke arah kepala sensei, dan menyeretku kesini?" tanya Shiho lagi dengan nada datarnya yang sedikit dengan sisipan emosi.

Shinichi berbalik menantang manik mata Shiho dan menatapnya lekat-lekat. "Aku datang untuk menyelamatkanmu dari sensei dan hukuman tidak masuk akalnya. Tak pernah ada ada hukuman lari sepuluh kali keliling halaman sekolah saat kita terlambat kurang dari semenit saat pelajaran olah raga."

Tubuh Shiho menegang, menyadari Shinichi menyelamatkannya membuat hatinya dikelilingi bunga-bunga imajiner yang mekar dan merekah. Namun dengan pengendalian diri yang luar biasa, Shiho mampu menyembunyikan seluruh euforia yang dirasakannya dan tetap memasang wajah datar tanpa ekspresinya.

"Aku tak pernah berniat menyeretmu kesini. Rencana awalku hanya ingin membuat dia sedikit lengah supaya kau bisa kabur dan bersembunyi darinya, agar aku bisa memberikan dia sedikit peringatan." jelas Shinichi panjang lebar.

"Kenapa kau lakukan itu Kudo-kun?"

Shinichi mengerutkan keningnya sejenak sebelum akhirnya menjawab. "Karena aku peduli padamu."

"Kenapa kau peduli padaku Kudo-kun?"

Kerutan pada kening Shinichi makin bertambah seiring dengan percakapan mereka yang tak dapat diprediksi arah dan tujuannya dengan logika yang selalu Shinichi banggakan.

"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan Miyano?" tandas Shinichi pada akhirnya.

"Kau tak perlu terlalu berbaik hati padaku Kudo-kun, aku bisa menjaga diriku sendiri. Tidak kah sikapmu ini bisa membuat orang lain merasa salah faham."

Kening Shinichi makin berkerut dan lebih banyak kerutan lagi sehingga keningnya tak mampu menampung semua kerutan yang ada. Bagi Shinichi lebih mudah memecahkan kasus pembunuhan tertutup dari pada menerka perasaan wanita yang tertutup dihadapannya kini.

Sadar bahwa Shinichi tidak mampu menyerap apa yang disampaikannya, Shiho putuskan untuk menyatakan dengan bahasa yang lebih frontal saja.

"Jangan terlalu baik padaku, jangan terlalu peduli padaku, aku kan hanya sekedar temanmu..." Shiho memberi jeda sejenak pada kalimatnya, hanya sekedar untuk melihat ekspresi Shinichi yang masih menatapnya dengan ekspresi kebingungan.

"Bukankah kau masih mencintai Ran Mauri?"

Manik biru Shinichi membelalak mendengar penuturan sang sahabat, bagaikan petir di siang hari, setidaknya kalimat terakhir Shiho menyadarkan Shinichi sepenuhnya.

"Bukannya aku sudah pernah mengatakan padamu bahwa hubungan kami sudah berakhir. Aku yang telah menghilang dari kehidupannya, membuatnya menemukan tambatan hati yang baru saat aku tak bisa bersamanya."

Shiho merasa geli mendengar penjelasan Shinichi barusan membuatnya menyungging senyum tipis yang penuh makna. "Kau bohong Kudo-kun... kau masih mencintainya."

"Tidak... sama sepertinya, selama dua tahun ini, aku juga menyadari satu hal yang paling penting dalam hidupku..." Shinichi mencoba untuk meraih telapak tangan Shiho yang masih kukuh bersembunyi dalam lipatan tangannya. Berhasil meraihnya, Shinichi mengenggam telapak tangan itu erat-erat, seolah-olah tak ingin kehilangan kehangatan yang tersimpan di dalamnya.

"Aku sadar... bahwa hanya kau Shiho Miyano yang menerima seperti apa pun keadaanku, memberikanku semangat saat aku terpuruk dan hampir berbuat nekad, hanya kau yang melindungiku dengan segenap keberanian yang kau memiliki. Hanya kau yang selama dua tahun ini memenuhi relung hatiku. Hanya kau Shiho Miyano... dan sekarang dengan jelas ingin aku katakan padamu, bahwa aku sangat me..."

"Hentikan Kudo-kun." Ucap Shiho mengintrupsi dengan tidak sopannya. "Jangan membuat aku bingung dan membuatku berdelusi lagi Kudo-kun." Shiho mencoba melepaskan tangannya dari gengaman pemuda bersurai kelam itu, namun sayangnya Shiho harus terima kalau usahanya berbuah kesia-siaan belaka.

"Jangan coba membohongi dan membodohiku. Aku tahu kalau kau masih mencintai Ran Mauri, jadi berhentilah bersikap sok drama seperti ini."

Kerut yang sejenak tadi menghilang, kini kembali menghiasi kening putih Shinichi Kudo.

"Aku tidak berbohong, apa yang tadi aku katakan adalah kenyataan. Sekarang aku tanya padamu Miyano. Apakah aku pernah berbohong padamu?"

Serta merta batin Shiho meneriakkan kata 'Tidak' untuk menjawab pertanyaan yang baru saja terlontar, namun sayangnya bibir Shiho terlalu kelu untuk menyuarakan bisikan hatinya.

Semua peristiwa hari ini masih membuatnya bertanya-tanya. Ingin sekali dia mempercayai semua ungkapan hati pemuda yang mengenggam tanganya erat. Namun, rahasia musim panas yang sampai saat ini dia simpan membuatnya tak punya pilihan lain untuk tidak mempercayainya.

"Kau tak mungkin bermimpi berciuman dengan orang yang tidak kau cintai bukan Kudo-kun?" tanya si surai coklat caramel akhirnya.

"Tentu saja." jawab Shinichi yakin, sambil menyelami manik mata sang surai coklat caramel dihadapannya itu.

"Jika kau bermimpi mencium Ran Mauri, lalu apa artinya Kudo-kun?" tanya Shiho tajam.

"Aku tak pernah bermimpi seprti itu, aku berani bersumpah tidak pernah bermimpi seperti itu." tepis Shinichi mentah-mentah.

Manik mata Shiho mencoba menyelami manik biru Shinichi untuk mencari kesungguhan pada kalimatnya barusan, dan hasilnya Shinichi nampak bukan seperti orang yang sedang berbohong saat mengatakan kalimatnya barusan.

Walaupun pada awalnya dia sangat ingin menyimpan rahasianya rapat-rapat, namun rasa keingintahuannya membuatnya terpaksa untuk mengungkapkan apa yang selama ini berusaha dia sembunyikannya.

"Kau bermimpi seperti itu Kudo-kun. Saat kau sedang terlelap dalam ruang kesehatan setelah kegiatan klub kau bermimpi berciuman dengan Ran Mauri."

Ya... Shiho Miyano sudah memutuskan, ingin meluruskan apa yang selama ini menganjal di hatinya. Jika memang Shinichi Kudo masih mencintai sahabat masa kecilnya itu, dengan jiwa besar Shiho siap untuk mundur dan berhenti berharap secuil cinta dari pemuda yang ada dihadapannya kini.

Shinichi nampak mengingat-ingat sesuatu, memaksa otaknya untuk bekerja mengumpulkan kepingan ingatan pada beberapa hari yang lalu, mencoba mengabungkan serentetan kejadian dan menghubungkannya dengan sikap aneh yang selama ini dipertahankan oleh Shiho.

Dan Shinichi menyadari satu hal yang sangat fatal, kesalahan terbesarnya yang membuatnya menjadi jauh dari orang yang telah menguasai hatinya selama dua tahun belakangan ini.

"Percayalah padaku... saat itu aku benar-benar tidak sedang bermimpi dengan Ran Mauri, tapi saat itu sebenarnya aku sedang bermimpi berciuman dengan..." Shinichi yang awalnya menundukan kepala, kini mengangkat kepalanya dan segera menubrukkan manik birunya pada manik mata sang gadis. "Aku bermimpi berciuman denganmu..."

Shiho nampak terkejut dengan penuturan pamuda dihadapannya, mencoba kembali mencari kebohongan pada matanya, namun dia harus kembali kecewa karena saat ini Shinichi benar-benar tidak berbohong padanya.

"Ta.. tapi... saat itu kau mengumamkan bahwa kau sedang bermimpi berciuman denganya."

"Aku sadar bahwa saat itu aku hanya berdua saja di ruangan itu denganmu, dan kau pasti akan marah dan memandangku aneh jika aku mengumamkan hal yang sebenarnya." Terang Shinichi sambil tertunduk malu, mengingat kekonyolan yang diperbuatnya.

"Kau tahu Miyano... saat itu aku benar-benar merasa sedang berciuman denganmu." Shinichi nampak mengongakkan kepalanya menatap langit-langit gudang sambil menerawang jauh mengingat kembali sensasi hari itu.

Kelegaan nampak pada wajah menawan Shiho, ya... dia sangat lega sekaligus senang, apa pun yang selama ini menghimpit hatinya sudah menghilang, menyadari apa yang baru saja dikatakan sang detektif muda serta merta membuat wajah pucat Shiho dipenuhi rona merah muda.

"Tentu saja nyata, kau kan sudah mencuri ciuman pertamaku." gumam lirih Shiho sambil memalingkan wajahnya.

"Apa itu benar Miyano?"

Shiho merutuki dirinya sendiri, menyesali kalimat yang sudah terlanjur didengar sang lawan bicara. Suasana yang tenang dan sepi membuat suara selirih apapun dapat didengar lawan bicara mereka.

Sudah kepalang basah, kenapa tidak terjun saja sekalian, sudah terlanjur berucap kenapa tidak sekalian dinyatakan saja.

Jemari Shinichi mencoba mengapai wajah Shiho yang sejak tadi terus dipalingkan, menyentuh dagunnya perlahan dan mengarahkan manik mata Shiho kembali menatap manik biru milik Shinichi. Dengan gerakan yang jelas, Shinichi mulai mengeliminasi sejengkal jarak diantara mereka, membawa kedua wajah mereka saling mendekat dan menempelkan dahinya pada dahi gadis yang dihadapannya.

"Bolehkah aku memastikan bahwa hari itu aku tidak bermimpi?" tanya Shinichi lembut, dan Shiho hanya mampu diam, pikirannya mendadak blank dan detak jantungnya sudah menggila sejak Shinichi mendekatkan wajah mereka.

Bagi Shinichi diamnya seorang Shiho Miyano adalah sebuah jawaban iya, ditambah dengan mulai tertutupnya kedua kelopak mata Shiho seolah mengisaratkan untuk Shinichi agar segera menciumnya.

Perlahan namun pasti Shinichi mulai mendekatkan bibirnya pada bibir gadis dalam dekapannya, panas menyebar saat kebua bibir merah itu saling bersentuhan. Membuat keduanya merasakan kembali sensasi yang dirasakan keduanya pada beberapa hari yang lalu dalam ruang kesehatan.

Tangan kanan Shinichi membelai helaian surai coklat caramel itu dengan sayang, sambil menekan kepala Shiho lembut untuk memperdalam ciuman mereka.

"SHINICHI KUDO DIMANA KAU!" teriakan-teriakan sumbang dari luar gudang tempat mereka bersembunyi membuat keduanya tersentak dan dengan menyesal harus menghentikan acara pembuktian rasa cinta mereka.

Shinichi segera beranjak berdiri saat mendengar suara sang sensei makin mendekati gudang yang mereka diami.

"Kau mau kemana Kudo-kun?" tanya Shiho khawatir.

"Aku akan menghadapi mereka." jawab Shinichi singkat.

"Tapi kau bisa saja dihukum." Shinichi kembali berjongkok dihadapan gadis yang tengah menatapnya penuh kekhawatiran.

"Aku sudah pernah menghadapi yang jauh lebih berbahaya dari ini, dan akan aku pastikan Nisimura-sensei tidak akan pernah menyakitimu lagi." Shinichi tersenyum lembut sebelum mendaratkan kecupan sayang pada kening sang gadis.

"Ke.. kenapa Kudo-kun?"

"Karena aku sangat mencintaimu Shiho Miyano." ucapnya tulus sebelum membuka pintu gudang untuk menghadapi massa yang tengah mengamuk di depan gudang.

Shiho menatap punggung pemuda yang baru saja menyatakan perasaannya itu menjauh. Ya.. mereka sudah pernah mengalami hal yang sangat berbahaya sebelumnya, jadi jika hanya amukan massa siswa SMU dan kemurkaan seorang sensei tak mungkin membuat mereka merasa takut. Akhirnya Shiho turut beranjak dari tempatnya duduk dan berlari menuju pemuda yang tak jauh berada dihadapannya.

Dia tak ingin hanya selalu menjadi pihak yang dilindungi Shinichi Kudo, dia juga ingin menjadi pihak yang melindingi. Melindungi orang sangat berarti baginya, melindungi orang yang telah menawan hatinya selama dua tahun terakhir. Karena...

"Aku sangat mencintaimu Shinichi Kudo."

ooFINoo

A/N :

Ribuan ucapan terimakasih saya sampaikan kepada

SaniaMiyano, Chairunissa Hailey, NikumiUshin, coffelover98, , ichirukilover, Guest, PureAi, raralarhas, , You-chan, Gouto Chiaki, Misca dan seluruh silent readers.

Terimakasih sudah membaca dan mereview, memberikan semangat, memberikan kritik dan saran yang membangun.

Arigatou atas dukungannya selama ini minna-san... *hormat*