K-ON © Kakifly, Hobunsha & Kyoto Animation

Another Member of K-ON? © Chaki no Utau


Rate: T

Genre: Friendship/Humor

Pairing: YuiAzu, MiTsu, MugiOC, AzuOC

Warning: AR, OC, OOC, typo(s), minim describe etc

Summary: Azusa bertemu lagi dengan sahabat kecil yang meninggalkannya dulu. Awalnya ia sangat marah, tapi karena Yui ia pun memaafkan Chaki. Lalu penampilan Starlight membuat para member HTT terpana. Seperti apakah penampilan Chaki, Amano dan Yuki?


A/N: Holaaa~ Chaki is back! ^^

Ah sebelumnya Chaki mau makasih banget buat yang udah review, balesannya udah di PM masing-masing ya ^^

Seperti sebelumnya Chaki katakan, Chaki terinspirasi dari k-on season 2 episode 1, tapi untuk chapter ini murni buatan Chaki sendiri, gak ada campuran versi anime maupun manga dari K-ON xD

PS: tulisan yang hurufnya italic itu flashback kenangan masa kecil Azusa dan Chaki.

tulisan yang ada bold dan bold-italic lirik lagu.

Yasudah, daripada Chaki kebanyakan omong, Chaki mulai aja ficnya. Read and please review? ^^

Chaki no Utau, In~


Another Member of K-ON?

By: Chaki no Utau


Chapter 2: New Member: My Childhood Friend?

.

.

.

Yui, Mugi, Mio dan Ritsu senangnya bukan main. Akhirnya mereka mendapatkan anggota baru, dan ada 3 orang. Hal luar biasa yang pernah mereka dapatkan. Setidaknya mereka bisa lega karena akan ada Yuki dan Amano yang menemani Azusa ketika mereka dan Chaki lulus.

Tapi berbeda dengan Azusa. Ia memang senang karena perjuangannya hari ini mendapatkan hasil. Tapi yang jadi masalahnya, salah satu dari anggota baru itu adalah teman masa kecil Azusa, yang dulu sangat ia benci karena telah pergi meninggalkannya tanpa memberitahunya. Dan karena itu, ia jadi mengingat kata-kata Chaki waktu mereka masih kecil dulu.

Chaki memandang Azusa heran yang diam entah kenapa. "Ah, Nakano Azusa-chan? Masih ingat padaku?" tanya Chaki tiba-tiba, dengan senyuman khasnya.

Yui, Mugi, Mio dan Ritsu menoleh padanya, heran. Sedangkan Azusa sedikit kaget. Kenangannya dengan Chaki saat masih kecil dulu kembali terputar dalam otaknya.


Flashback: on.

"Azusa-chan, kesini!" seru gadis kecil berambut coklat pendek ini dengan semangat. Azusa yang tengah membuat istana pasir, menoleh dan mendapatkan Chaki yang tengah tersenyum senang dan tampaknya menyembunyikan sesuatu di punggungnya.

"Nande, Chaki nee-san?" tanya Azusa heran dan mendekati Chaki.

Chaki menunjukkan apa yang ia sembunyikan tadi, yaitu sebuah gitar mainan berwarna pink. "Hora, kawaii desho?" ujarnya sambil tersenyum.

"Kawaii?" tanya Azusa heran, sambil memandangi gitar mainan milik sahabatnya itu. "Ano, aku nggak mengerti." lanjut Azusa dengan polosnya, layak anak kecil seperti biasanya.

"He? Masa' nggak mengerti?" tanya Chaki sangat heran. Azusa mengangguk kecil, ia memang benar-benar tak mengerti dengan apa yang dikatakan Chaki. "Ini buatmu, Azusa-chan!" serunya lalu memberikan gitar mainan itu pada Azusa.

"Eh? Buatku?" tanya Azusa kaget.

"Ya! Soalnya, aku ingin suatu saat nanti melihat Azusa-chan memainkan gitar dan pastinya gitar sungguhan!" jawab Chaki lalu tersenyum 3 jari. "Orangtuamu 'kan musisi, jadi pasti kalau Azusa-chan sudah besar nanti, akan diajari main gitar!" lanjutnya masih dengan senyuman khas anak kecil.

Azusa masih kaget dengan permintaan Chaki tadi. Lalu ia melihat gitar mainan itu dan kemudian tersenyum pada Chaki. "Arigatou gozaimasu, Chaki nee-san!" ujarnya sangat senang.

"Ehehe," Chaki hanya tertawa kecil melihat gadis kecil yang sudah ia anggap adiknya sendiri ini berterima kasih padanya. "Ah, coba kau mainkan, Azusa-chan!" pinta Chaki lagi.

Azusa diam sejenak lalu mencoba memainkannya. "Begini?" tanya Azusa bingung.

"Kyaaa, benar. Ah, Azusa-chan sangat cocok jadi gitaris!" jawab Chaki sangat senang. Azusa hanya tersenyum mendengar pujian dari Chaki.

Chaki hanya bisa melihat Azusa yang masih mencoba bermain gitar. Tanpa Azusa ketahui, hari ini adalah hari terakhirnya ia bisa bermain bersama Azusa karena ia akan mengikuti orangtuanya pindah ke Kyoto. Ia sengaja tak memberitahu Azusa karena tak mau melihat gadis kecil yang sudah ia anggap adiknya sendiri itu menangis. Meskipun ia juga sedih, tapi ia lebih memilih diam dan tetap tersenyum seperti biasa.

"Oh ya, Azusa-chan. Kalau misalnya aku pergi, kau masih ingin 'kan jadi gitaris dan akan menunjukkannya padaku suatu saat nanti?" tanya Chaki tiba-tiba, nada sedih tersembunyi dibalik senyuman cerianya.

Azusa sedikit bingung begitu mendengar permohonan Chaki yang tiba-tiba, tapi ia mencoba untuk berfikir positif. "Um, tentu saja, Chaki nee-san akan melihatku jadi gitaris suatu hari nanti," jawab Azusa sambil tersenyum. Ia tak tau kalau sebenarnya ada maksud terselubung Chaki meminta itu padanya.

"Arigatou, Azusa-chan!" Chaki langsung memeluk Azusa erat. "Kau berjanji ya, Azusa-chan? Kalaupun aku pergi jauh nanti, kita akan jadi sahabat selamanya?" pinta Chaki lagi.

"Tentu saja, Chaki nee-san. Aku berjanji," jawab Azusa membalas pelukan Chaki.

Chaki tersenyum. Air matanya tumpah lagi, tapi ia memilih untuk menangis dalam diam. Dengan cepat, ia hapus air mata itu dan kembali tersenyum. "Hontou ni arigatou, Azusa-chan." balasnya lagi, dengan suara yang lebih pelan dan memeluk Azusa lebih erat. Azusa hanya tersenyum sambil membalas pelukan erat gadis kecil yang sudah ia anggap jadi kakaknya ini.

.

Keesokan harinya, seperti biasa Azusa menunggu Chaki tepat di depan rumah gadis itu. Ia membawa gitar pemberian Chaki dan memanggil Chaki untuk mengajaknya bermain. Tapi yang ia dapatkan malah nenek Chaki yang keluar.

"Obaa-chan, Chaki nee-san nya ada?" tanya Azusa dengan senyum manisnya.

"Ara, Chaki barusan saja pindah ke Kyoto. Dia tak memberitahumu ya, Azusa-chan?" jawab nenek itu dengan herannya.

Raut wajah Azusa berubah. Ia sangat kaget begitu mendengar Chaki pindah ke Kyoto. "K-Kyoto?" tanya Azusa masih dengan kekagetan yang luar biasa.

"Iya, dia bilang tidak akan kembali untuk waktu yang lama. Ah, gomen, Azusa-chan. Obaa-chan ada perlu sebentar, jaa ne." jawab nenek itu lalu pergi dari hadapan Azusa.

Azusa masih terdiam di tempatnya. Air matanya mengalir begitu mengingat perkataan Chaki kemarin. Pantas saja Chaki terlihat aneh karena membicarakan hal yang bukan-dirinya-sekali sekaligus Chaki memberikan gitar mainan ini padanya. Chaki juga tampak berbeda kemarin, tidak terlalu hiperaktif seperti biasa. Apakah Chaki sengaja untuk tidak memberitahukan kepindahannya pada Azusa? Apa Chaki tega membiarkan Azusa bermain tanpanya?

"C-Chaki-nee-san... Aku membencimu!" seru Azusa sangat kesal lalu melepas gitar mainan yang ia pakai dan berlari menuju rumahnya.

Flashback: off


Tangan Azusa terkepal begitu mengingat kenangan itu. Ia melihat Chaki dengan tatapan tak suka. Perasaan benci itu masih menghinggapinya. Meskipun ia senang karena K-ON mendapat anggota baru, tapi ia tetap tak suka kalau Chaki merupakan salah satu anggota baru mereka.

"Bukannya kau sudah pergi ya, Chaki nee-san?" tanya Azusa dengan nada tak suka dan ia menekankan kata pergi, membuat semua orang yang ada di ruangan itu kaget mendengar reaksi Azusa yang diluar dugaan kesal pada Chaki.

Awalnya Chaki kaget, tapi ia jadi ingat, saat ia kembali untuk mengambil sesuatu yang tertinggal di rumah lamanya tak lama setelah ia baru pergi untuk pindah ke Kyoto, ia menemukan gitar mainan pemberiannya untuk Azusa tergeletak di tanah dengan kondisi sudah rusak. Chaki tersenyum, berarti Azusa sudah tau kalau ia pergi ke Kyoto tanpa bilang pada gadis kecil itu. "Oh, untuk beberapa tahun aku memang menetap di Kyoto lalu pindah ke Amerika selama 2 tahun dan tahun ini aku kembali kesini," jawab Chaki dengan senyuman cerianya. "Gomen ne, Azusa-chan. Dulu aku pergi tanpa bilang padamu. Aku tak ingin membuatmu sedih," lanjutnya sedih.

"Karena kau tak bilang padaku lah, kau membuatku sedih!" seru Azusa dengan nada kesal. "Buat apa kau memberikanku gitar mainan dulu kalau akhirnya kau meninggalkanku? Jawab, nee-san!" lanjutnya sangat kesal.

"A-Azusa? C-Chaki-san? Kalian bisa menyelesaikan ini baik-baik," Ritsu mencoba untuk menenangkan mereka, meskipun itu tak mengubah suasana tegang yang ada disana.

"Biarkan saja, Ritsu-san. Ini memang kesalahanku meninggalkannya tanpa memberitahunya dulu," jawab Chaki tersenyum pada Ritsu. "Hontou ni gomenasai, Azusa-chan. Saat aku diberitahu kalau akan pindah ke Kyoto, aku sangat bingung. Aku ingin memberitahumu tapi aku tak ingin membuatmu sedih," lanjutnya. "Tapi keputusanku tak ingin memberitahumu ternyata salah. Hontou ni gomenasai, Azusa-chan." Chaki memohon pada Azusa agar memaafkannya, senyuman miris menghiasi wajahnya.

Azusa tak bisa memaafkannya begitu saja. Tapi dengan tiba-tibanya Yui malah memeluk Azusa. "Y-Y-Yui-senpai?!" tanya Azusa kaget.

"Azunyan 'kan anak baik. Pasti Azunyan akan memaafkan Chaki-chan, meskipun saat kecil Azunyan ditinggalkannya. Aku memang nggak tau apa-apa tentang masalah kalian, tapi karena aku tau Azunyan anak baik. Jadi, Azunyan pasti memaafkan Chaki-chan." jawab Yui sambil memeluk Azusa dan menenangkannya. Sama seperti 1 tahun lalu, waktu Azusa 'mengamuk' karena tahu kelakuan para seniornya yang sesungguhnya, kali ini Yui memeluk Azusa untuk menghilangkan perasaan kesal Azusa pada Chaki.

"Yui, apa ini berhasil?" tanya Mio dan Ritsu bingung. Tapi begitu ia melihat Azusa kembali tenang seperti 1 tahun lalu, mereka lega sekaligus sweat dropped. Sampai-sampai mereka berpikir kenapa Yui bisa membuat Azusa tenang dalam sekejap. Kalau Mugi sih, ia memerhatikannya dengan sangat serius. Amano dan Yuki hanya terdiam bingung. Chaki juga ikutan bingung melihat Azusa yang tenang ketika dipeluk Yui.

Setelah beberapa menit, akhirnya Azusa angkat bicara, "Gomen ne, Chaki nee-san. Tadi aku terlalu terbawa emosi," ujarnya merasa bersalah.

"Iie, justru karena Azusa-chan seperti tadi, aku jadi tahu kalau aku yang salah," balas Chaki sambil tersenyum. "Jadi, Azusa-chan mau memaafkanku 'kan?" tanya Chaki memastikan.

Azusa tersenyum senang. "Tentu saja, Chaki nee-san." jawab Azusa, membuat semua orang di ruang persiapan lega karenanya.

"Nah, karena kalian sudah bermaafan, kami ingin tau lebih banyak tentang Chaki-san, Amano-san dan Yuki-san. Jadi, kami ingin kalian memperkenalkan diri masing-masing, bagaimana?" Ritsu memulai pembicaraan mereka.

Chaki, Amano dan Yuki mengangguk. "Kalau begitu bagaimana kalau Chaki-san duluan memperkenalkan diri?" tawar Ritsu pada gadis berambut coklat ini.

"Ha'i!" Chaki menjawabnya dengan semangat. "Namaku Asakawa Chaki dari kelas 3-5. Di band ini aku sebagai bassis dan vokalis, tapi aku bisa semua alat musik. Yoroshiku onegaishimasu, minna-san~" seru Chaki lalu ojigi.

"Wah, sugoi." Ritsu bingung, karena Chaki bisa memainkan semua alat musik. "Oke, selanjutnya Amano-san, silahkan." Ritsu mempersilahkan gadis berambut biru panjang yang dikuncir ini untuk berkenalan.

Amano mengangguk lalu memperkenalkan diri. "Namaku Hizashi Amano dari kelas 1-3. Di band ini aku sebagai drummer. Salam kenal, minna!" seru Amano lalu ojigi.

"Oke, selanjutnya Yuki-san." lanjut Ritsu mempersilahkan Yuki untuk memperkenalkan diri.

"Namaku Akagi Yuki dari kelas 2-5. Di band ini aku sebagai gitaris. Salam kenal." ujar Yuki dengan singkat, padat dan jelas, membuat orang-orang disana bingung.

"Oh ya, nama band kami adalah Starlight. Mohon kerjasamanya, Houkago Tea Time." lanjut Chaki lalu ketiganya ojigi.

Yui, Azusa, Mugi, Mio dan Ritsu ikut ojigi. "Kalau begitu karena kalian sudah memperkenalkan diri, sekarang giliran kami memperkenalkan diri," seru Ritsu lalu memulai perkenalan dirinya. "Namaku Tainaka Ritsu dari kelas 3-2. Di HTT aku sebagai drummer dan aku ketua klub musik ini. Salam kenal!" Ritsu memperkenalkan diri dengan semangat, membuat Chaki, Amano dan Yuki tersenyum dan mengetahui kalau Ritsu adalah orang yang penuh semangat. "Kalau gadis pemalu ini namanya Mio, dia bassis dan vokalis di beberapa lagu. Dialah yang membuat lirik di lagu-lagu HTT," seru Ritsu memperkenalkan Mio, namun Mio tampak malu-malu. "Akiyama-san, giliranmu." perintah Ritsu sweat dropped.

"Na-namaku Akiyama Mio dari kelas 3-2. Di HTT aku sebagai bass dan di beberapa lagu aku vokalis. Salam kenal," ujar Mio dengan malu-malunya. Chaki, Amano dan Yuki bisa menarik kesimpulan kalau Mio adalah gadis pemalu tapi terlihat imut.

"Yahoo, namaku Hirasawa Yui dari kelas 3-2. Di HTT aku sebagai gitaris utama dan vokalis. Aku menyukai sesuatu yang tampak dan terasa manis. Salam kenal, minna!" seru Yui yang memperkenalkan diri. Chaki, Amano dan Yuki bisa menarik kesimpulan kalau Yui adalah orang yang lucu dan polos.

"Namaku Kotobuki Tsumugi dari kelas 3-2. Di HTT aku sebagai keyboardis dan penulis melodi lagu-lagu HTT. Salam kenal, minna-san~" seru Tsumugi memperkenalkan diri. Chaki, Amano dan Yuki bisa menarik kesimpulan kalau Mugi adalah gadis cantik yang selalu tampak ceria.

"Namaku Nakano Azusa dari kelas 2-1. Di HTT aku sebagai rhythm gitaris. Salam kenal, minna." ujar Azusa sedikit malu, apalagi ia masih tak enak karena sudah marah-marah tadi. Chaki, Amano dan Yuki hanya tersenyum memaklumi.

"Nah, karena kita semua sudah memperkenalkan diri, bagaimana kalau kami mendengarkan kalian bermain dulu?" pinta Ritsu pada Chaki, Amano dan Yuki.

"Silahkan," Yui memberikan Gitahnya pada Yuki, Ritsu memberikan stik drumnya pada Amano dan Mio dengan ragu-ragunya memberikan Elizabeth pada Chaki. "Kau bisa bermain kidal, Chaki-san?" tanya Mio tak yakin.

"Bisa kok, di Amerika aku diajarkan cara bermain gitar dan bass kidal!" jawab Chaki yang membuat Mio tenang.

Chaki, Amano dan Yuki melakukan persiapan sejenak. Sedangkan Yui, Azusa dan Mugi duduk di sofa lalu Mio dan Ritsu berdiri dibelakang mereka. Setelah persiapan mereka selesai, mereka pun memulai penampilan mereka.

"Kami akan menyanyikan salah satu lagu favorit kami, tolong didengarkan." Chaki membuka penampilan mereka lalu petikan gitar Yuki memulainya.


Saihate no STORY idaite
Ate mo naku samayoi tsuzuketa
Nijinda new world
The game has only just begun
Ima hajimari no EYES

This is where tomorrow brings a new game
it's time to learn that pain is gain ready FIGHT


Yui, Azusa, Mugi, Mio dan Ritsu sangat kaget begitu mendengar lagu yang dinyanyikan mereka. Lagunya sangat beat dan semangat. Petikan gitar dan bass dari Chaki dan Yuki, maupun ketukan drum dari Amano disusun dengan sedemikian rupa dan terdengar keren.


Kako no shitsubou nuritsubusu tame ni
Gisei ni shite kita mirai
Boku no RAIFU ga tsukiru made
Sono sadame buchikowashite iku no sa

Aa break out and start a revolution
Hitotsu no kotae wo sagashite


Yui dan Azusa memperhatikan betul petikan gitar cepat dari Yuki. Mio memperhatikan keahlian Chaki bermain bass sambil bernyanyi. Ritsu mendengarkan betul ketukan drum Amano. Mugi sangat terpana dengan penampilan mereka.


Genkai no RACE ni idonde
Ichidokiri no CHANSU to shitte
Seotta unmei koete yukunda yo

Saihate no STORY idaite
Ate mo naku samayoi tsuzuketa
Nijinda new world
The game has only just begun
Ima hajimari no EYES


Musik dimainkan dan telah berakhir. Setelah itu Chaki memberikan Elizabeth pada Mio, Yuki memberikan Gitah pada Yui dan Amano memberikan stik drum pada Ritsu. Yui, Azusa, Mugi, Mio dan Ritsu terdiam kemudian mereka bertepuk tangan. "Penampilan yang bagus, minna!" seru Mugi masih terpana.

"Kalian membawakan lagu ini dengan baik. Padahal lagu ini tergolong sulit. Sugoi~" Ritsu tak habis-habisnya memuji, Mio mengangguk setuju.

"Aku tak percaya, permainan kalian benar-benar seperti band pro. Sugoi!" Azusa sangat kagum melihat penampilan mereka.

"Suara Chaki-chan bagus, aku sangat menyukainya. Yuki-chan kau hebat!" seru Yui sangat kagum.

Chaki, Amano dan Yuki hanya tersenyum mendengar pujian dari teman-teman baru mereka. "Arigatou, minna. Tapi penampilan kalian lebih keren kok dari kami," balas Chaki sangat senang.

"Ah, kalian lebih keren dari kami kok. Karena sekarang kita satu klub, jadi mohon kerjasamanya ya." ujar Amano sambil menggaruk kepalanya yang gatal.

"Ini formulir keanggotaan kami, mohon kerjasamanya." Yuki memberikan formulir keanggotaan mereka pada Ritsu.

"Kuterima. Kalian bisa mulai dari besok. Kami juga mohon kerjasamanya." balas Ritsu dengan senang hati menerimanya.

"Baiklah, kalau begitu kami pulang dulu. Matta ashita, minna!" seru Chaki dan Amano lalu mereka dan Yuki keluar dari ruang persiapan.

Yui, Azusa, Mugi, Mio dan Ritsu masih tak percaya kalau mereka mendapatkan anggota yang permainannya seperti pro. Dan karena itu mereka punya saingan baru. "Yosh, minna! Kita harus melampaui penampilan mereka. Kita bisa menunjukkan pada mereka kalau permainan mereka juga keren!" seru Yui dan Ritsu penuh semangat.

"Bisa-bisanya kalian bicara seperti itu, awas saja kalau besok kalian malas latihan, Yui-san, Ritsu-san." Mio memandang remeh Yui dan Ritsu yang tiba-tiba semangat latihan mereka berkibar.

"Sou desu yo, kalau Yui-senpai bohong, kau tak boleh memperlakukanku seperti tadi!" ancam Azusa pada Yui.

"Eeeeeh~ Azunyan jahat sekali!" seru Yui lalu memeluk Azusa dan tentu saja Azusa menghindar.

Mugi, Mio dan Ritsu hanya melihat 2 gitaris mereka yang sangat dekat itu. Lalu Mio mengambil kamera dan mengambil foto mereka.

"Ne, minna, bagaimana kalau kita buat pesta penyambutan untuk mereka?"

"Ide bagus, Mugi-buchou!"

"Oi, oi!"

.

.

.

To be continued...

.

.

.


A/N:

Yatta! Akhirnya selesai juga chapter 2 nya! ^^

Di chapter ini Azunyan OOC kah? Ehehe :v

Ah, sebelumnya saya mau ngucapin dulu: Otanjoubi Omedettou, Hirasawa Yui! -telat 2,5 jam- :v Semoga K-ON Season 3 keluar deh, mau liat nih versi animenya Yui-tachi kalo kuliah sama Azunyan dan Wakaba Girls DX /eh

Oh ya, untuk lagu yang dibawakan Chaki, Amano dan Yuki itu lagunya Nano - No Pain, No Game. Saya ambil sampe bagian reff ke 1 ehehe ^^

Untuk ilustrasi Chaki, Amano dan Yuki menyusul (lagi) ya, karena saya lagi disibukkin ulangan xP *plak*

Yasudah, mungkin ini saja yang bisa saya tulis di chapter ini. Seperti biasa, saya mengharapkan komentar dari minna-tachi. Arigatou gozaimasu sudah membaca fic ini! ^^

.

Sign

Chaki no Utau, Out~