Chapter 3

"Wah Tuan Putri, kita sudah hampir sampai Suna! Setelah melalui hutan ini, kita akan disambut padang pasir milik si kantung mata hitam itu," cengiran Naruto membuat Kara terkikik geli."Bukan tuan putri, tapi Kara, Naruto."
"Ah aku lebih suka dengan panggilan itu. Jauh lebih keren ketimbang Hokage, hehe."
"Naruto, jangan bicara tidak sopan. Kau tahu Tsunade-sama memiliki telinga di dinding," Yamato yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara.

Dan kedua teman setimnya bergidik.

"Yamato-san, jangan bicara yang bawa sial," rutuk Sakura yang tidak mengetahui bahwa di lain tempat Tsunade merasakan angin dingin menghembus tengkuknya secara tiba-tiba.

"Aah~tenang saja Sakura-chan! Perjalanan kali ini pun lebih ringan terutama dengan tidak adanya perampok ataupun pengganggu lainnya. Iya kan, Tuan Putri?" Kara mengangguk mengiyakan cengiran Naruto dengan senyum dua jari yang selalu disunggingkannya setiap ia geli dengan tingkah Naruto, tak menyadari tatapan curiga Yamato yang sedari tadi dilemparkan padanya.

"Nah, baiklah! Kita beristirahat disini saja dan membuat api unggun untuk malam ini!"
"Siaaap~ Ketua Yamato!"
"Naruto, kau mencari air untuk Tuan Putri ya."
"EEEHHH? Ba..baik, baik~~"

.

.


.

.

Malam berkabut. Hanya deskripsi itu yang bisa dikatakan.

Naruto dan Sakura akhirnya tertidur setelah mereka bergantian berjaga dengan Yamato. Tidak perlu dikhawatirkan, tenaga-nya sama dengan tenaga 2 orang, begitu juga dengan tingkat kesiagaan dan kemampuannya meski mungkin saja untuk tingkat cakra Naruto masih mengalahkannya.

"Yamato-san..?"

Yamato mendapati Kara yang terbangun karena dinginnya malam dan tersenyum. Ia mendekat agar suara mereka tidak membangunkan Naruto dan Sakura yang lelah.

"Kau tidak mengantuk? Perjalanan kita kan masih jauh?" Kara menelengkan kepala heran dengan keceriaan Yamato yang tidak terperangkap kantuk." Tidak, aku masih kuat dengan tidak tidur semalaman, Kara-san," Yamato tersenyum lagi melihat Kara yang menenggelamkan diri di balik selimutnya dalam posisi duduk."Lalu...siapa lagi yang Anda serang malam ini, Kara-san?"
"Eh?" sontak Kara tersentak dengan pertanyaan Yamato. Ia segera membenahi letak selimutnya yang tadi menutupi wajahnya dan memandang Yamato."Maksud Yamato-san?"
"Anda selama ini tidur karena menyerang musuh-musuh yang berniat mengganggu perjalanan Anda lewat mimpi mereka kan? Karena itu, beberapa kali kita berkemah, terkadang Anda bangun dengan sedikit lebam dan lecet di wajah dan tangan Anda?" Yamato masih tersenyum seolah hal itu biasa saja baginya meski terlihat sekali raut wajah Kara yang terlihat bersalah.

"Hn, Yamato-san benar," Kara menjawab lirih."Bukan berarti aku tidak percaya pada kalian, hanya saja aku ingin kalian menyimpan tenaga..."
"Untuk apa?"
"Untuk membantu Kazekage dalam sebuah pertempuran di Suna."

.

.

Matsuri, junior sekaligus salah satu kepercayaan Gaara benar-benar khawatir dengan keadaan Kazekage-nya yang tidak makan selama 4 hari dan masih saja sibuk dengan urusan desa. Dan anehnya ia selalu saja tidur jika ia sudah selesai dengan urusan-urusannya, seolah ia memang sengaja berpuasa dan bertahan hanya dengan meminum air dan tidur saja.

Ada apa dengan Sabaku no Gaara?

"Kazekage-sama, makanlah. Dari kemarin Temari-sama dan Kankurou-sama sudah sangat mengkhawatirkan Anda," cetusnya akhirnya, tidak tahan dengan tingkah laku aneh Gaara.

Baiklah, mungkin memang aneh melihat seorang Gaara menjelaskan apa yang terjadi padanya atau apa alasannya dalam sebuah perilaku anehnya, tapi paling tidak Matsuri ingin mengetahui apa yang dipikirkan Kazekage-nya selama 4 hari ini. Walau sepertinya hal itu juga termasuk sebuah kemustahilan.

Selama ini, yang Matsuri pikirkan hanyalah kemungkinan-kemungkinan umum sebagai berikut:

Sang Kazekage tengah dirundung masalah pelik yang diajukan oleh tetua-tetua desa mereka yang memang sejak lama rewel dengan masalah ini itu; bahkan masalah kenaikan harga sandal sekalipun.
Kedua, ada musuh yang tengah mengincar desa mereka dan Gaara memikirkan cara mengalahkannya hingga harus berpuasa berhari-hari...tapi sepertinya itu tidak mungkin, karena bahkan ketika melawan Akatsuki dan Tobimaru sekalipun, Gaara masih bisa makan.
Ketiga. Matsuri bersumpah, ia akan malu setengah mati ketika mengingatnya. Tapi itu adalah sebuah kenyataan yang ia alami tiga tahun yang lalu, saat di akademi ia bertemu dengan seseorang...yang ia sukai. Dan ia tergila-gila padanya. Dan ia lupa makan karena sibuk mencari perhatiannya.
Dan ia tidak mau bertaruh dengan kemungkinan itu, apalagi pada pemimpin desanya yang terkenal dingin dan tak dapat ditebak seperti Gaara.

Matsuri tersadar dari lamunannya, ternyata perkataannya tadi hanya disambut lirikan dingin oleh pemuda berambut merah tersebut.
"Hei Matsuri..."
"Y..Ya! Kazekage-sama?" segera Matsuri terkesiap dan memasang posisi siap. Gaara mengernyit melihat rona merah di wajah mantan muridnya, tapi ia menghiraukannya.

"Kau mungkin tidak akan percaya..."Gaara memandang ke jendela yang ada di belakang meja kerjanya. "Tapi aku ingin dimarahi."
"Dimarahi? Eh..?"

Sesaat kemudian Temari masuk ke ruang kerja Gaara dengan mengetuk pintu terlebih dahulu."Kazekage-sama, rombongan Naruto yang mengawal Yume No Hime sudah tiba."

.

.

Kara, si tamu utama yang sudah dinantikan tentu saja disambut paling pertama oleh para tetua, bahkan mereka menyelimutinya dengan handuk basah karena melihat wajah Kara yang kepanasan dengan iklim padang pasir. Sudah barang tentu, mana bisa kau bertahan di udara sekering Suna ketika kau terbiasa dengan kabut di 24 jam setiap harinya dalam hidupmu kan?

Naruto menyeringai begitu melihat Gaara, namun alisnya langsung berkerut. Ia segera menghampiri kawan karibnya itu dan terheran-heran, tak mempedulikan Sakura dan Yamato di belakangnya.

"Gaara! Kau kenapa? Wajahmu pucat dan kau kurus sekali, apa kau tidak makan seharian ini?"

Temari yang menyahut dengan kesal, sengaja mengeraskan suaranya sambil melirik adik bungsunya. Tentu saja ketika para tetua sudah kembali ke dalam kantor Kazekage untuk menghindari amuk-massa-para-orang-tua menimpa Gaara yang malang. "Bukan hanya seharian, dengan ini sudah 4 hari, Naruto."
"Hee? Memang apa saja yang kau lakukan? Bermeditasi?" wajah Naruto berubah lucu ketika mengucapkannya. Gaara tetap berwajah datar.
"Mana ada yang seperti itu di Suna, baka!" Kankurou menimpali dari belakang. Pemuda dengan tato di wajahnya itu kemudian mempersilahkan—menyuruh tepatnya—Naruto dkk ke dalam kantor, mengikuti Kara yang sudah masuk terlebih dahulu.

.

.


.

.

Dan disinilah Naruto sekarang, yang kembali mengernyit memandangi dua orang yang tengah berada didepannya ini setelah Temari dan Kankurou memberinya kesempatan beristirahat, disusul Sakura yang ingin melihat-lihat Suna ditemani Matsuri dan Yamato. Karena ia tidak berminat kemana-mana, akhirnya tinggal Naruto, Gaara dan Kara saja yang tinggal di ruangan itu.

Dan sekarang ia melihat Kara mengomeli Gaara dengan halus—seperti yang ia lakukan pada Naruto saat ia tidak sengaja terjerembab di sungai untuk menangkap ikan hingga Kara memarahinya untuk tidak memaksakan diri (padahal itu hanyalah ke-super-cerobohan Naruto semata yang sedang bersemangat).

Dan Gaara mengalihkan wajah seperti anak kecil yang merajuk.

"...Gaara-san, bagaimana kau bisa menjaga rakyatmu kalau kau tidak bisa menjaga kesehatanmu sendiri? Lihat dirimu sekarang, kurus dan kering seperti mumi," Kara masih memarahi Gaara. Wajahnya terlihat begitu sedih namun ia masih bisa mengatur kata demi kata yang keluar dari bibir mungilnya. "Jika kau memang sudah tidak bisa menjaga kesehatanmu sendiri, sebaiknya kau pensiun dari jabatanmu, kemudian kuruskanlah tubuhmu sendiri hingga kau puas, Gaara-san. Kumohon, dengarkan kata-kataku, jangan mengalihkan wajah seperti itu, Gaara-san mengerti? Kau bahkan sudah dewasa bukan? Kau sudah bisa mengatur dirimu sendiri kan?"

Naruto masih bengong. Gaara masih merajuk.

Di akhir kalimatnya tadi, akhirnya Kara berhenti. Ia menghela napas dalam-dalam, menunggu jawaban Gaara. Dan ia mendapatkan tanggapan pemuda beriris hijau tua didepannya setelah Gaara mendongak.
"Maafkan aku, Kara-chan."

Dan rambut Naruto memutih karena shock tingkat berat.

"EEEEHHHH? KARA-CHAAAANNN?"

.

.

.

Tolong tunggu sebentar hingga nyawa Naruto kembali.

xxx

-Continued-