Chapter 4

"AKU BERSUMPAH AKU AKAN MEMBUNUHMU, GAARA."

Sepertinya kalimat diatas adalah kalimat yang biasa diucapkan pada orang yang dendam pada sang Kazekage. Tapi Temari mengucapkan dengan wajah semerah tomat dengan Kankurou yang bengong sampai-sampai rahang bawahnya menyentuh tanah. Ia tidak mungkin sedang dendam, bukan?
Apalagi melihat adik bungsu kesayangannya duduk di sofa dan menggandeng tangan orang yang seharusnya menjadi tamu mereka meski ekspresi wajahnya tetap saja datar.
Tentu saja, nyawa Naruto yang shock tadi belum kembali sampai-sampai Sakura dan Yamato berusaha menyadarkannya dengan jutsu medis dan genjutsu keahlian mereka.

"Temari-san, maafkanlah Gaara. Temari-san tahu sendiri bukan dengan Gaara yang seperti itu?" Kara tersenyum geli sekaligus malu melihat tangannya yang digenggam Gaara di depan teman-teman dan kakak-kakaknya. "Bukan itu masalahnya, Kara-sama," dengus Temari kesal. Ia memang sering melihat Gaara yang tertutup, tapi ia tak menyangka bahwa adiknya mempunyai kekasih. Sebenarnya ia tidak protes, hanya saja kenapa kekasih adiknya itu bisa berasal dari kalangan tak terduga, bahkan sesama penguasa desa ninja?

"Lalu bagaimana kalian bisa bertemu, Kara-sama? Apa kalian pernah berjumpa sebelumnya?" Sakura terlihat penasaran di sela-sela kegiatannya menyadarkan Naruto yang akhirnya bisa menyembuhkan shocknya setelah Yamato menyiramnya dengan air panas.
"Sebenarnya..."
"Aku bertemu dengannya melalui mimpi,"sebelum sempat berbicara, Gaara mendahuluinya. Kara menoleh untuk melihat wajah datar Gaara walau sedang menceritakan kisah cintanya sendiri.
Dan tiba-tiba saja semua duduk manis didepan mereka berdua.

.

-Flashback-

.

Bagaimana pendapatmu ketika melihat mimpi?

Sebagian orang mempresentasikannya sebagai padang bunga yang indah. Sebagian beropini bahwa mimpi hanyalah peristiwa yang tadi kau alami yang diulang kembali dalam bentuk acak sehingga kau akan bingung dengan mimpimu sendiri. Dan masih banyak pendapat lainnya.

Tapi bagi Gaara, mimpi hanyalah sebuah ruang kosong berwarna hitam legam bahkan kau tidak dapat melihat kakimu sendiri.

Itu bukanlah opininya, tapi ia mengalaminya; mimpi di ruang hitam kelam dan ia seorang diri, tak mengalami suatu peristiwa apapun di mimpi itu. Lama ia berada didalamnya tanpa berbuat apa-apa, hingga akhirnya ia melihat sebuah cahaya yang perlahan menampilkan sosok seorang wanita berambut biru dan kulit seputih salju yang berpendar seperti peri—mungkin Gaara sedikit pun tidak percaya dengan keberadaan makhluk seperti itu.

"Siapa?"
Gaara berdiri tidak bergeming walau sosok perempuan yang sepertinya seumuran dengannya mendekat. "Kara," jawabnya sama singkatnya dengan Gaara, tapi ia menambahkan senyum di raut wajahnya yang putih bersih. "Kau Gaara bukan?"
"Bagaimana kau mengenalku?"
Perempuan itu kembali tersenyum. Semua orang tahu namanya, tapi Gaara tak menyangka ia akan begitu terkenal di mimpinya sendiri. "Semua orang di Yumegakure tahu keberadaanmu, Gaara-sama," ujar sosok bernama Kara itu sembari mengulurkan tangan.
"Siapa sebenarnya kau?"
"Aku biasa dipanggil Yume no Hime. Aku datang untuk melindungimu di dunia mimpi," jelas Kara sepertinya tahu arti kerutan di dahi Gaara.

Melindunginya? Di dunia mimpi?
"Aku tidak mengerti maksudmu," gumam Gaara, namun begitu suara itu sudah cukup bergema di ruang tempat mereka berada. "Aku tidak butuh perlindunganmu di dalam mimpiku sendiri."
"Tapi kau membutuhkannya, Gaara-sama. Karena kau tidak memiliki pasirmu di dunia mimpi. Lihat?" Kara mengangkat salah satu tangan Gaara. Tidak ada pasir yang terangkat yang biasanya akan melindungi Gaara jika ia merasa terganggu dengan keberadaan orang asing. Benar kata Kara, ia tidak mempunyai kekuatan apapun disini.

"Ne, benar kan Gaara-sama?" Kara tersenyum tipis. Digenggamnya tangan Gaara yang tadi ia angkat meskipun Gaara masih bingung dengan apa yang terjadi. Apa yang harus dilakukannya di situasi seperti ini?

"Gaara-sama," bisik Kara sembari melangkah tetap dengan tangan kanannya yang mengenggam Gaara. Tanpa kesulitan ia menarik Gaara supaya mengikuti langkahnya, kemudian ia menunjuk sebuah pintu yang entah sejak kapan berada tak jauh dari mereka. "Pintu keluarnya ada disana, Gaara-sama, jika kau kembali memasuki ruang ini lagi, maka sebutlah namaku, aku akan datang saat itu juga, Gaara-sama."

Gaara terbelalak mendengar perkataan Kara. Siapa gadis yang sedari tadi mengatakan hal-hal yang tidak dimengertinya? Apakah ia musuh? Atau utusan Suna yang dapat menggunakan cakranya untuk masuk ke dunia mimpi seperti genjutsu yang Obito lakukan pada Kakashi di perang gabungan melawan Akatsuki tempo hari?

Melihat kebingungan Gaara, Kara kembali tersenyum. Dengan tangan yang bebas ia membukakan pintu yang ada di depan mereka dan mempersilakan Gaara untuk masuk ke dalam lingkupan cahaya yang begitu terang.

"Gaara-sama, pergilah. Aku bukan seseorang yang pantas dicurigai, kujamin itu."

Dan detik berikutnya Gaara terbangun di atas kasur ruang medis dengan Temari dan Kankurou yang terlihat lega luar biasa saat melihatnya terbangun. "Gaara! Akhirnya kau sadar! Kau tahu? Tiba-tiba saja 2 hari yang lalu kau tak bangun juga dari tidurmu dan tim medis menyatakanmu koma!"
"...Aku...koma?"

Kini Gaara mulai mengerti apa yang terjadi, terutama keberadaan ninja pemberontak dari negara bayangan Yumegakure yang mengincar dirinya di dunia mimpi setelah mendengarnya dari utusan negara bayangan itu sendiri dua hari berikutnya. Dan kebenaran mengenai keberadaan sang Yume no Hime, Shirin No Kara.

Di beberapa malam setelah kejadian mengejutkan itu, Gaara memasuki mimpi dengan hamparan padang bunga. Di tengah menikmati keindahan padang yang seolah nyata itu, Gaara melihat sosok berbalut kimono berhias bebatuan berwarna merah muda dan mengenalinya.
"Terima kasih atas pertolonganmu tempo hari," kata Gaara setelah mendekatinya. Sosok itu berbalik dan menampilkan senyum yang sama yang ia tunjukkan pada Gaara saat meyakinkannya. "Ya, Gaara-sama. Lega melihatmu tetap hidup,"ia membungkuk untuk memberi hormat dengan beberapa tangkai bunga dipelukannya.

Kemudian seperti sebuah dorongan yang sangat hebat, sebuah ide berkelebat dan menyelinap begitu saja sebagai sebuah kalimat dari bibir Gaara. "Apakah aku boleh mengenalmu?"

"Mengenalku?" sebuah nada keterkejutan menyadarkan Gaara, sejenak Gaara ragu untuk melanjutkannya karena reaksi Kara. Tapi Kara mengerti maksud Gaara dan kembali tersenyum. Ia menjatuhkan bunga-bunga yang ada dalam pelukannya dan menggandeng Gaara; sebuah langkah yang langsung membuat Gaara membatu sekaligus terkesima dengan gerakan gemulainya. Bahkan Hinata yang Gaara kenal sebagai teman Naruto yang paling feminin pun tak dapat menunjukkan gerakan segemulai itu. Juga senyum setulus dan seindah Kara.

Oh, tidak. Apa yang Gaara pikirkan?

"Tak apa, Gaara-sama," ucap Kara halus setelah mendapati kebimbangan dalam wajah pemuda dengan tato 'Ai' di dahinya itu. "Aku akan berbicara mengenai diriku, dan Gaara-sama dapat mendengarkannya saja. Jika ingin berbicara, maka berbicaralah," senyum kembali mengembang di wajah Kara. "Karena aku menyukai Gaara-sama, aku ingin Gaara-sama mengenalku."
"Aku juga..." tukas Gaara sebelum Kara melanjutkan kalimatnya. Ia mendongak dan menatap Kara tetap dengan wajah dinginnya. "Aku ingin kau mengenalku, Kara."

.

-End Flashback-

.

Kemudian keheningan menimpa desa Suna—ralat, menimpa kelima orang pendengar didepan Gaara dan Kara. Dan reaksi pun akhirnya bermunculan beberapa detik kemudian.

"EEEHHH?"
"Tunggu! Aku tidak terima dengan cerita itu!"
"Ja...Jadi cuma karena itu?"
"Kara-sama! Kenapa kau bisa menyukai manusia sedingin orang bertato ini!"
"Tu,tunggu dulu! Aku tidak mengerti! Kepintaranku tidak bisa mencernanya!"

Kelihatannya timbul perempatan kecil di dahi Gaara dan ia mulai berlatih meredam kekuatannya agar tidak meledak di tempat saking kesalnya.
"Berisik."

.

.

.

-Continued-