Chapter 5
Gaara terbangun dari tidurnya tiba-tiba. Ia tak bermimpi buruk, tapi ia tersentak oleh udara padang pasir yang tiba-tiba saja berubah menjadi berat; Gaara tidak dapat menjelaskan maksudnya, tapi yang jelas ia merasakan hawa keberadaan orang dengan tingkat cakra yang tinggi. Tak setinggi Naruto memang, tapi keberadaan orang ini entah mengapa begitu mengganggu Gaara. Sebelum ia benar-benar bangun, tiba-tiba saja ada ledakan tepat di gerbang desa.
"Tck... penyerangan di malam hari rupanya."
Benar saja, ketika Gaara memasuki ruang rapat, para tetua beserta Temari dan Kankurou sudah berkumpul. Penampilan kedua saudaranya itu tampak sudah kepayahan mengingat mereka berada di gerbang desa tempat peledakan itu terjadi.
"Ninja pemberontak dari Iwa. Mereka menjadikan karang sebagai bahan peledak dan senjatanya," lapor Temari sigap. Meski Gaara tak sadar, tapi disana juga ada Kara dan kelompok Naruto. Mereka terlihat khawatir dan waspada, terutama Naruto yang sepertinya akan langsung melesat begitu Gaara meminta bantuannya.
"Bagaimana jumlah korban?" tanya Gaara pendek.
"20 orang termasuk Matsuri."
"Jumlah musuh?"
"4-5 orang, mereka menyebar sehingga kami tidak tahu total mereka."
"Kalau begitu aku dan Naruto akan maju. Temari, Kankurou dan Yamato di belakang. Sakura menangani luka-luka di garis belakang."
"Baik!"
"Tapi Gaara-sama, harus ada yang melindungi Kara-sama," cetus seorang tetua sembari menoleh pada Kara. Gaara melihatnya hanya dengan sudut matanya, kemudian bergegas pergi. "Para shinobi lain akan menjaganya."
Gaara tak menyadari awal kesalahannya.
.
.
Matsuri, dengan perban dan luka-luka lain yang sudah dibebat Sakura dengan terpaksa menuju kamar Kara setelah ia dilarang Kankurou untuk bertarung lagi karena ia tak mungkin membuat yang lain melindungi luka-lukanya, karena itu ia memilih menemani Kara yang mungkin saja membutuhkan tambahan penjagaan.
"Kara-sama?" ketuknya di pintu kamar. Butuh beberapa saat untuk Matsuri menunggu, namun karena tak ada juga jawaban dari dalam, akhirnya rasa curiga muncul di pikiran gadis pemalu itu.
"Kara-sama?" panggilnya lagi.
Matsuri membuka pintu dengan paksa sebelum ia terkejut melihat Kara yang tergeletak bersimbah darah dengan sorot mata kosong.
"KARA-SAMA!"
.
.
.
.
Gaara sibuk melihat pertarungan Naruto dengan 2 ninja bertudung hijau yang memiliki pelindung kepala bersimbol Iwa yang sudah digurat, yang menandakan mereka adalah para ninja pemberontak atau ninja-ninja yang terusir dari desanya. Ia bersiap di belakangnya untuk melindungi Naruto dari serangan musuh, karena entah kenapa kali ini Naruto tidak membiarkannya bertarung dan melawan ketiga lawannya seorang diri.
Gaara mengernyit.
Tiga? Menurut laporan Temari ada 5 orang yang menyerang. Kemana 2 orang yang lain? Apa mereka ninja yang kuat sehingga memilih berada di belakang untuk bagian akhir penyerangan?
Belum sempat Gaara berpikir lebih lanjut, Temari tiba-tiba menghampiri Gaara. "Lapor Kazekage! Kami menemukan dua orang lainnya mati di tengah padang pasir! Sepertinya ada yang berhasil menghalau mereka!"
Pertarungan sontak berhenti. Ketiga musuh terlihat pucat pasi dan saling berteriak pada kawannya sendiri, membuat Naruto sedikit bingung.
"Tidak mungkin! Pemimpin tidak mungkin jatuh begitu saja!"
"Siapa yang melakukannya?"
"Jangan-jangan ada yang memasang jebakan pada kita!"
Gaara melirik Temari yang dijawab anggukan, kemudian kakak sulungnya itu melesat kembali ke garis awal ia ditempatkan. Naruto yang menoleh pada Gaara juga mengangguk mengerti, kemudian dengan sedikit cengiran di wajahnya, ia kembali menyerang para musuh.
"Yoooshh! Akan kukalahkan kalian, para penyerang Suna!"
.
.
.
.
Sakura dan Matsuri akhirnya bisa bernapas lega, setelah sebelumnya Matsuri menemukan Kara dengan luka parah di kamarnya sendiri yang tanpa penjagaan.
Sakura memandang Matsuri dengan penuh pertanyaan, sementara Matsuri sendiri menggeleng tidak mengerti. "Apakah kita harus menyampaikan keadaan Kara-sama pada Gaara?" Matsuri menggeleng keras-keras.
"Ja..jangan Sakura-san! Kazekage-sama bisa mengamuk jika tahu!"
"Tapi..."
"Kumohon!"
Sakura terlihat bimbang melihat wajah melas Matsuri. Ia tak mungkin membiarkan Gaara yang paling tahu terakhir—sebenarnya yang lainnya juga tidak tahu, namun rasa bersalah mulai menyelinap di hati Sakura sebelum tiba-tiba kebimbangan itu buyar oleh sebuah tangan gemetaran yang menariknya perlahan.
"Ka...Kara-sama!" Sakura dan Matsuri berteriak bersamaan. Kara—yang tentu saja masih terlihat sangat lemah namun tetap tersenyum lembut. "Ne, Sakura..." gumamnya nyaris tidak terdengar hingga Matsuri dan Sakura harus menunduk untuk mendengarnya.
"Jangan mengganggu... pria yang sedang berperang..." senyum mengembang di wajah Kara. "Karena itu...biarkan mereka, Sakura..."
"...Baik, Kara-sama..."
.
.
.
.
"OOOIII SAKURA! KAMI BERHASIL LHOOO!"
Teriakan yang entah mengapa bagi Sakura terasa menyebalkan itu terdengar menggema di ruang medis kantor Kazekage. Dari jauh terlihat Naruto dan Gaara yang berjalan paling depan dengan Temari, Kankurou dan Yamato di belakangnya tengah menghampirinya dengan senyum kemenangan (tentu saja Cuma Gaara yang tetap berwajah datar). Sakura dan Matsuri yang berada di ruang medis sejenak terlihat lega melihat tak ada satupun mereka yang terluka. Namun pikiran mengenai Kara tentu saja langsung membuat mereka kalang kabut.
Nah, bagaimana cara memberitahu Gaara mengenai kekasihnya yang terluka tanpa membuatnya mengamuk tanpa ampun?
.
.
-Continued-
