Chapter 6

Naruto berlari kecil ke arah Sakura dan Matsuri yang menyambut mereka. Gaara yang berjalan pelan di sebelahnya menoleh dan sepertinya mulai mencari-cari sesuatu sehingga Naruto berhenti untuk menanyainya.
"Ada apa, Gaara?"
"Dimana Kara?" Gaara malah berbalik tanya padanya. Naruto yang tentu saja tidak tahu keberadaan Yume No Hime itu menelengkan kepalanya tidak mengerti dan menoleh pada Sakura. Ia melanjutkan lari kecilnya dan menyampaikan pertanyaan Gaara pada gadis beriris emerald itu.

"Eh... Kara-sama..." Sakura berusaha tidak memandang tatapan lurus Naruto yang semakin tidak mengerti. Belum selesai penasarannya, Matsuri mendorongnya untuk masuk ke gedung Kazekage.

"Si..silakan masuk terlebih dahulu, Naruto-san..." ujarnya dengan gugup tanpa mengetahui Gaara memandang curiga ke arahnya. Tanpa banyak bicara, pemuda berwajah datar itu langsung melesat menuju ruang medis. Ada yang tidak beres di antara kedua kunouichi ini. Tak peduli dengan teriakan Sakura dan Matsuri yang menahannya agar tidak kesana dan pertanyaan Naruto dan lainnya yang menyelip di antara teriakan itu. Gaara bergegas membuka pintu ruang medis hingga mengagetkan beberapa ninja yang berjaga disana.

Dan ia tahu akhir dari kesalahannya setelah melihat tubuh tak berdaya di sudut ruang medis.

"KARA!"

.

.


.

.

Gaara tak pernah bermimpi seaneh ini; duduk di sebuah ruang penuh tirai sampai-sampai lantai keramik di ruangan itu nyaris tertutup oleh tirai berwarna lembut itu. Ia tahu mimpi seperti ini, karenanya ia menarik kakinya untuk mencari. Sebelah tangannya menyibak tirai-tirai yang bergerak gemulai itu dan bibirnya meneriakkan nama Kara.

"Kara...?" Gaara tersenyum lega saat melihat tubuh kekasihnya meringkuk di sebuah kasur yang berada di sudut ruang-penuh-tirai tersebut. Ia mendekat dan membelai rambut halus milik Kara meski gadis itu hanya mendongak kecil untuk menatapnya. Terlihat sekali kesakitan di pancaran bola matanya itu, namun ia tersenyum dan memeluk Gaara dengan lembut.

Memeluk Gaara. Memeluk.

"Gaara," bisik Kara meski tubuhnya begitu gemetaran. Gaara yang masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi tentu saja hanya terdiam. Kau tahu, Gaara bahkan tak pernah dipeluk keluarganya sendiri, bukan?

Ini memang bukan pertama kalinya dia dipeluk karena saat kasus ia mati setelah Bijuu dikeluarkan dari tubuhnya, orang-orang Suna yang menyambut sadar-kembalinya-Kazekage-mereka langsung beramai-ramai memeluk Gaara. Tapi hal ini berbeda jauh dengan yang dilakukan Kara sekarang.

Lamunan Gaara buyar oleh pelukan Kara yang melonggar dan ia segera menangkap tubuh Kara yang terjatuh lemas. Gaara berusaha menerka-nerka apa yang terjadi padanya meski Kara tak menjelaskan apapun. Gaara jenius, sama seperti Sasuke. Karena itu nalarnya bergerak lebih cepat hingga ia sampai pada suatu kesimpulan. Gaara ternganga saat mengatakannya.
"Kara... kau yang mengalahkan dua orang pemimpin musuh itu?"

Hening sejenak, hanya ada Kara yang berusaha tersenyum meski ia terlihat begitu kesakitan. Ia mengangguk kecil, menandakan kata-kata Gaara benar adanya.

"...Dasar bodoh..."

Ini memang bukan pertama kalinya dia dipeluk karena saat kasus ia mati setelah Bijuu dikeluarkan dari tubuhnya, orang-orang Suna yang menyambut sadar-kembalinya-Kazekage-mereka langsung beramai-ramai memeluk Gaara.

Tapi ini pertama kalinya Gaara memeluk. Dan ia memeluk kekasihnya.

.

.

Gaara terbangun di ruang medis—tepatnya di kursi yang berada persis di sebelah ranjang Kara. Rupanya ia tertidur saat ia menungguinya. Gaara ingat, saat ia melihat tubuh Kara yang tergolek lemah di ranjang dengan balutan perban di sekujur tubuhnya, ia langsung berteriak dan begitu kebingungan, sampai-sampai Naruto dan Kankurou menenangkannya meski tentu saja mereka bingung dengan apa yang terjadi pada Kara. Setelah ia tenang, ia langsung menggenggam tangan Kara dan bersimpuh disampingnya.

Gaara merasa pedih. Ada rasa sakit di dada kirinya yang terus berdenyut melihat wajah tidur Kara yang terlihat tak tenang. Ia pasti kesakitan. Gaara merasa gadis itu begitu kesakitan dengan luka-lukanya.

Selama ini Gaara merasa datar-datar saja melihat kunouichi anak buah dan teman-temannya terluka. Ia menganggap hal itu terlalu biasa. Mereka mempunyai konsekuensi untuk terluka saat bertempur. Tapi apa yang dilihatnya pada Kara adalah hal yang berbeda.

Kara bukan kunouichi seperti itu. Ia memang penguasa desanya, tapi ia berbeda. Ia adalah seorang Miko yang seharusnya dilindungi untuk kemudian memberikan tenaganya pada desa, dia bukan seperti Tsunade yang gagah yang bisa turun ke medan perang begitu saja seorang diri.

Memikirkannya saja membuat dada kiri Gaara kembali berdenyut sakit. Ia mengeratkan genggamannya pada tangan mungil Kara.
"Aku bersumpah," bisiknya di samping Kara yang tertidur, entah gadis itu akan mendengarnya atau tidak. "Aku pasti akan melindungimu, tak akan kubiarkan kau terluka lagi. Karena aku mencintaimu, Kara."

.

.


.

.

Naruto dan lainnya berkumpul di sebuah ruang duduk dalam diam. Berbagai hal berkelebat dalam pikiran mereka. Dan yang paling pertama memecah keheningan adalah Matsuri.

"Jadi benar kalau Kazekage-sama..." ia tak meneruskan kalimatnya setelah teringat bagaimana histerisnya Gaara yang dingin beberapa saat yang lalu. Sakura dan Temari meliriknya, kemudian mereka kembali terdiam. Akhirnya Kankurou menepuk kursi dan beranjak. "Baiklah, bukankah itu bagus?"
"Bagus?" Temari mengernyitkan dahi tidak mengerti. "Kankurou, adikmu baru saja histeris dan kau mengatakan itu hal bagus?"
"Bukan seperti itu maksudku, Temari," pria dengan topi kucing itu berdehem, kemudian ia tersenyum lebar seolah kehisterisan adiknya tadi bukanlah sesuatu yang penting.

"Apakah kau tidak berharap punya adik ipar, huh?"

xxx

-Continued-