"Special Memories of a Week"
Chapter 4
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Rate : T
Genre : Romance and friendship
Warning : AU , OOC , TYPO , EYD enggak jelas -_- , etc ~
Review ya,, ;)
-Sasuke POV-
Masih lima menit lagi sebelum bel masuk. Aku ingin bertemu Sakura tepatnya—meminta maaf—cih, kalau dia bukan orang special tidak akan ada kata maaf yang keluar dari mulutku.
Hm, bangku Sakura kosong. Hanya ada Ino yang duduk dibangkunya. Untuk memastikan aku akan bertanya pada Ino saja.
" Sakura tidak masuk hari ini?"
"Tidak, dia Sakit."
"Apa?"
"Apa?" Ino malah berbalik bertanya.
"Tidak. Sejak kapan?"
" Kemarin."
Argghh.. kenapa Sakura tidak bilang kalau dia sakit. Sial!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jam istirahat sudah dimulai. Tidak ada yang aku ingin lakukan saat ini. Hanya Sakura yang ada diotakku sekarang. Aku menyesali diriku sendiri karena kejadian kemarin...
-flashback-
Dimana Sakura. Cepat sekali dia .. . Akhirnya aku menemukan Sakura yang sedang bersama Ino, Sakura terlihat sedang menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua matanya sedangkan Ino sedang mengelus punggung Sakura. Sakura menangis bahunya bergetar. Langsung saja aku berlari ke arah Ino dan Sakura.
Cih. Sakura benar sedang menangis. Sial!
"Sakura..." aku memanggilnya dan dia terkejut dan malah pergi menuju gerbang sekolah. Apa apan sih Sakura ini.
-grep-
Kupegang saja tangannya agar tidak lari lebih jauh lagi. Aku hanya ingin menjelaskan semua ini pada Sakura. Aku tau dia melihatku saat diruang musik tadi dengan ini salah lihat Sakura hanya diam tidak ada respon dari Sakura.
-sreekk- aku tak tahan melihat Sakura menangis dan penyebabnya adalah aku. Kupaksa dia agar mendekat kepadaku dan memeluknya. Sakura meronta tapi aku tidak akan melepasnya lagi dan malah semakin merekatkannya ketubuhku dan menahan kepalanya di dadaku, berusaha meredam tangisannya.
"jangan pergi. Ada yang ingin ku bicarakan padamu?" aku berbisik di telinganya.
"Sakura... aku..." glek. Sulit sekali mengatakan hal ini. Lidah ku serasa kaku.
-plakk... aku merakan ada sesuatu yang menyentuh pipiku dengan tidak lembut. Ternyata Sakura menamparku. Dan melepaskan pelukanku pada tubuhnya.
"Aku kecewa padamu!" Teriak Sakura padaku lalu berlari keluar. Aku hanya terdiam disana. Entah kenapa kakiku serasa sulit digerakkan dan tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutku melihat Sakura pergi. Aku terpaku pada kata kata Sakura. Dia kecewa padaku. Padahal aku belum menjelaskan semua pada Sakura. Sial.
-end flashback-
Hn, setelah lama berpikir pikir. Aku punya satu tekad, aku akan menjenguk Sakura malam ini dan menjelaskan semua sampai tuntas. menyelesaikan kesalah pahaman ini dan menjalankan hari hari ku tampa beban rumit seperti ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
-Sakura POV-
Kepalaku rasanya pusing sekali dan suhu badanku diatas batas normal. Kaa-sanpun melarangku masuk sekolah tadi. Yasudahlah, lagi pula sepertinya itu bukan hal buruk, dari pada harus sekolah dan bertemu dengan Sasuke, lebih baik dirumah saja. Tapi bosan juga kalau hanya tidur tiduran saja dikasur. Aku teringat kejadian kemarin. Apa aku salah kalau kemarin aku langsung kabur dan pulang tanpa memberi Sasuke kesempatan untuk bicara. Aku memang kecewa padanya. Tidak kusangka dia akan berbuat seperti itu pada ku. Semua kenangan indah yang tercipta sejak kami bertemu tiba tiba terbakar dengan kejadian diruang musik kemarin. Sebenarnya ini bukan semua salah Sasuke tapi aku juga bingung aku terlanjur pergi duluan kemarin. Sudahlah aku tidak ingin pusing pusing memikirkan hal ini. Kepalaku pusing sekali. Aku ingin tidur saja.
.
.
.
tok –tok-tok
ennnngggghhh- siapa yang mengganggu tidurku.
"Sakura.. ini kaa-san" oh ternyata Kaa-san. Biarkan lahh badanku lemas sekali kepalaku juga masih pusing.
-ceklek- sepertinya Kaa-san membuka pintu kamarku. Aku pun menoleh. betapa tekejutnya diriku melihat orang dibelakang Kaa-san. Sasuke Uchiha. Kenapa dia kemari aku tidak suka.
" Ada Sasuke, Sakura... Kaa-san tinggal ya." Aku juga sudah tau kalau ada Sasuke. Tapi untuk apa dia datang aku ingin keluar kamar saja. Kaa-san pun keluar kamarku dan menutup pintunya.
Aku malas sekali meladeni Sasuke. Akupun berbalik memunggunginya lalu menarik selimut sampai sebatas pipi. Berusaha untuk tidur kembali.
"Sakura.. " Sasuke memanggilku. Aku hanya diam. Malas untuk menjawab
"Bagaimana keadaanmu? Aku mengganggu ya?" sangat mengganggu Sasuke,pikirku dalam hati.
" Sakura?" aku merasakan ada yang duduk dipinggir tempat tidurku. Arhhgg itu pasti Sasuke. Mau apa sih dia.
Aku pun menengok ke arahnyadan membuka selimutku seatas perut. Lalu berpindah posisi menjadi duduk. Ya.. walaupun aku kesal dengan Sasuke tapi aku tidak boleh berperilaku tidak sopan begini. Kalau Kasa-san tau, aku pasti dapat omelannya panjang lebar darinya.
"Sakura... aku... minta maaf" what? Sasuke minta maaf. Baru kali ini aku mendengar kata maaf dari nya. Aku tidak tega dengan Sasuke, lalu akupun menatapnya.
" Tidak apa Sasuke." Jawabku singkat.
"Sakura.." dia memanggilku lalu menggenggam kedua tanganku dengan kedua tangannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Normal POV-
"Sakura... dengarkan aku." Sasuke lalu menyibak sebagian poni Sakura ke belakang telinganya. Dan menatap Sakura lekat lekat.
"Kau salah paham Sakura. Aku tidak ada hubungan apapun dengan Karin. Dan soal kemarin di ruang musik itu. Aku sedang menyelesaikan masalahku dengan Karin."
"A-aku tidak mengerti Sasuke. Apa maksudmu?" jawab Sakura
"Aku menyelesaikan masalahku. E-ehh aku memang menyukainya tapi aku tidak ingin menjalankan hubungan apapun dengan Karin."
-tess—Sakura meneteskan air matanya. Ia tidak menyangka kalau Sasuke juga menyukai Karin. Sakura merasa ada yang megores hatinya lagi. Ternyata cintanya bertepuk sebelah tangan pikir Sakura.
Sasuke yang melihat Sakura menangispun langsung menghapus air mata di pipi Sakura dan kemudian memeluk Sakura.
"Sakura, kumohon jangan menangis. Aku belum selesai dengan kata kataku."
"A-aku.. " Sakura tidak kuasa melanjutkan kata katanya. Hatinya begitu sakit.
" kemarin..."
.
.
.
-flashback-
"Karin..."
"Ada apa Sasuke-kun?"
"Kau menyukaiku?" tanya Sasuke to the piont
"eh- eng... i-iya Sasuke-kun." Jawab Karin sambil memalingkan mukanya. Ia takut Sasuke melihat wajahnya yang memerah.
"..."
"Aku tau maksudmu Sasuke-kun. Tidak apa. Aku tidak marah padamu kalau kau memilih Sakura." Karin tersenyum pada Sasuke.
" Kau mengetahuinya?" tanya Sasuke. Dia heran kenapa Karin mengetahui masalahnya.
Karin mengangguk. " ya.. aku tau. Sudahlah Sasuke jangan memikirkan aku. Kalau kau mencintai Sakura.. kejarlah.." ucap Karin seolah meyakinkan Sasuke atas jawabannya.
" Hn." Jawab Sasuke singkat. Entah bayangan atau bukan. Tapi ia melihat Sakura sedang menaruh map di meja dekat pintu. Sasuke lebih melebarkan matanya lagi memastikan yang dilihatnya benar Sakura atau tidak.
-greep- Sasuke tersentak. Karin memeluknya.
"Gomen Sasuke. Tapi ini permintaan terakhirku. Memelukmu." Bisik Karin
Sasuke kembali melihat kearah pintu. Dia melihat Sakura menatap kearahnya dan sedetik kemudian Sakura lari keluar ruang tersebut.
" Karin cukup. Aku pergi." Sasuke langsung melepaskan diri dari Karin dan berlari mengejar Sakura.
-end flasback-
" Begitulah ceritanya Sakura.." Sasuke menceritakan kembali kejadian sebenarnya saat diruang musik kemarin.
Sakura melepas pelukan Sasuke. Lalu menatapnya seolah mencari kebenaran dari kata kata Sasuke tadi.
" Jadi?" tanya Sakura
" Hn. Tentu aku memilihmu Cherry." Sakura senang mendengar Sasuke menyebut nama panggilan kecilnya. Tapi Sakura masih bingung dengan perasaannya.
"Jadi? "
" Maksudmu? " Sakura binggung
" Mau kah kau menjadi kekasihku untuk sementara." Sasuke menatap dalam dalam diri Sakura.
Sakura terkejut dengan kata kata Sasuke. Dia tidak percaya kalau Sasuke menginginkannya menjadi kekasihnya. Tapi apa maksud kata sementara itu? Sakura berpikir, dalam hatinya dia ingin sekali menjadi kekasih Sasuke bahkan lebih. Tapi Sakura takut Sasuke mempermainkannya.
"Se-mentara?" Sakura bertanya maksud dari kata tersebut pada Sasuke.
"Hn, hanya sementara saja."
"A-aku... tidak tau Sasuke-kun..."
-grepp. Sasuke memeluk Sakura kembali lebih erat.
"Hanya sementara Sakura. Aku tidak ingin kau hanya menjadi kekasihku saja Sakura. Aku ingin kau menjadi kekasihku, tunanganku, lalu... istriku." Ucap Sasuke pada Sakura. Sakura tidak dapat berbicara apa apa mendengar penuturan Sasuke. Lalu Sakura melepas pelukannya. Tangannya tergerak menuju pipi Sasuke. Lalu menangkunya dengan kedua telapak tangannya. Sasukepun memegang kedua tangan Sakura yang ada dipipinya lalu menurunkannya dan merapatkan telapak tangan kanan dan kirinya didepan mereka dengan saling berpegangan. Tangan Sakura hangat, terlihat Sekali kalau dia sedang sakit.
"Aku mau Sasuke." Ucap Sakura mantap.
"Mau apa?" tanya Sasuke sambil menaikan satu alisnya.
" eh—ee..." Sakura malu sekali mengucapkannya. Mukanya pun memerah dalam pucat, membuat Sasuke semakin ingin mengerjainya.
"Kau mau apa Sakura? Aku kan tidak akan tau kalau kau tidak bilang." Ucap Sasuke pura- pura tidak tahu.
"Hm... a-aku mau menjadi apa ya-yang kau bilang tadi." Sakura menelan ludahnya dalam dalam.
"Memangnya aku bilang apa?" tanya Sasuke kembali. Wajah pucat Sakura semakin memerah.
"Jangan mempermainkanku Sasuke!" geram Sakura. Sakura tidak suka dikerjai dengan yang seperti ini.
"Siapa yang mengerjaimu Sakura. Aku hanya ingin mendengarnya." Jawab Sasuke polos.
Sakura menarik nafasnya dalam dalam.
"A-aku.. mau jadi kekasihmu Sasuke." Jawab Sakura dengan susah payah. Dia mau sekali untuk jujur.
" Hanya kekasih?" tanya Sasuke lagi.
"Menjadi tunanganmu juga.. –nanti."
"Sebatas itu?" tanya Sasuke lagi. Niat sekali Sasuke mengerjai Sakura.
"Dan.." Sakura meneguk salivanya dalam dalam.
"Dan.." Sasuke mengulangi kembali kata kata Sakura.
"- istrimu kalau sudah saatnya." Jawab Sakura sambil menutup muka dengan bantal merah kesayangannya.
Sasuke tersenyum sumringah. Lalu membuang bantal yang ada didepan muka Sakura lau—cupp—Sasuke mencium kening Sakura. Lalu duduk di kursi disamping tempat tidur Sakura seolah tidak terjadi apa-apa barusan. Sakura masih terpaku dengan apa yang baru dilakukan Sasuke, rasanya ingin berteriak sepuas puasnya dilangit.
"Arigatou." Ucap Sasuke pada Sakura yang masih diam tidak bergerak.
-tok tok tok- ada yang mengetuk pintu kamar Sakura, kemudian masuk seorang wanita paruh baya membawa nampan berisi makanan dan susu.
"Dari tadi siang kau belum makan Sakura. Tidur saja kerjaanmu. Makan ini dulu ya lalu minum obatmu." Kaa-san tersenyum pada kedanya sambil menaruh nampannya di meja samping tempat tidur Sakura lalu keluar dari kamar Sakura.
Sakura memandang Sasuke, dia melihat Sasuke memandangnya tajam. Takut takut Sakurapun menggambil buburnya. Namun tangannya dicegah oleh Sasuke.
"Kau belum makan dari tadi siang eh?" tanya Sasuke mengintrogasi.
"Hehe.. habis kepalaku pusing Sasuke-kun jadi aku tidur saja."
"Ini sudah jam tujuh malam Sakura... nakal sekali kau belum makan dari tadi siang."
"..." Sakura hanya diam mendapatkan omelan dari laki laki yang baru resmi menjadi kekasihnya itu beberapa menit yang lalu. Lalu mengambil buburnya dan menaruhnya diatas paha yang dibalut selimut tebal. Dan mulai menyendok bubur tersebut kedalam mulutnya.
" a-awh." Sakura kaget merasakan panas dari buburnya. Sasukepun menatap tajam dirinya seorah berkata 'hati-hati Sakura'. Sasuke agak kesal dengan Sakura karena tidak hati-hati. Diapun mengambil mangkuk bubur Sakura dan sendoknya. Lalu dengan sabar meniup niup bubur tersebut agar panasnya hilang.
"Aku bisa makan sendiri Sasuke-kun." Bela Sakura.
"Hn." Jawab Sasuke singkat lalu menyodorkan sendoknya kedepan mulut Sakura.
Sakurapun hendak mengambil gagang sendoknya dengan hati hati seolah ingin makan sendiri. Namun Sasuke malah menjauhkan sendoknya dari tangan Sakura.
"Jangan keras kapala Sakura. Diam dan jadi anak yang manis." Ucap Sasuke kembali menyodorkan sendok didepan mulut Sakura. Akhirnya Sakurapun membuka mulutnya walau tampak ragu.
Sasuke dengan sabar menunggu Sakura mengunyah yang menurutnya sangat lelet padahal yang ia makan adalah bubur. Lalu menyuapinya kembali sampai mangkok buburnya kosong tak bersisa dan memberi Sakura segelas susu coklatnya lalu menyuruh Sakura meminum obatnya. Setelah semua selesai, Sasuke menyusun beberapa bantal di kepala kasur Sakura dan menyuruh Sakura bersender.
" Sasuke-kun.. arigatou.." ucap Sakura tiba tiba. Sasukepun hanya tersenyum sambil mengacak rambut Sakura pelan.
" Aku ingin sekolah besok. Bosan sekali seharian hanya dikamar saja." Celutuk Sakura
"Sebaiknya kau istirahat saja dulu sampai kau benar benar sembuh Sakura." Nasehat Sasuke.
"..." tidak ada jawaban dari Sakura.
" Besok ada turnament basket di Kiri. Aku akan ikut kesana."
"Benarkah Sasuke-kun." Sakura nampak sedih. Dia kurang suka kalau Sasuke main basket, karena jadi banyak perempuan nakal yang melihat Sasuke sambil berteriak teriak tidak jelas.
"Hn, karena itu sebaiknya kau dirumah. Aku takut terjadi sesuatu padamu nanti."
"Aku bisa menjaga diriku sendiri Sasuke." Bela Sakura.
"Hn."
"Sudahlah.. sekarang kau tidur. Kau masih perlu banyak istirahat."
"Sakurapun mencari posisi tidurnya yang nyaman." Lalu menatap Sasuke kembali.
"Sasuke... arigatou untuk semuanya."
"Sama-sama Sakura. Tidurlah. Dan mimpi indah." Sasuke pun mencium kembali kening Sakura sebagai ucapan selamat tidur. Lalu memekan saklaar lampu kamar Sakura dan keluar dari kamar tesebut.
-Sakura POV-
Kami-sama... aku bahagia sekali hari ini. Dari dulu aku sangat tidak suka dengan yang namanya sakit. Tapi kali ini. Aku menikmati sakitku hihihi.,,... aku masih tidak menyangka sekarang aku dan Sasuke-kun adalah sepasang kekasih. Ya.. walau tidak seromantis romeo and juliet, tapi itu cukup untukku. Arigatou...
.
.
.
.
To be continue
.
.
.
.
Chapter 4 update... lebih panjang. Hihihi... ini masih berlanjut loh kawan.. masih ada beberapa konflik lagi yang WoW... wkwkkw
Makasih ya untuk semua yang sudah baca dan review favorite and follow this story.
Maaf kalo ceritanya jelek.. banyak typo and ga nyambung.. eyd ga jelas dan lain sebagainya..
Arigatou.. ^^
Bye bye..
Bekasi, 16 oktober 2013
21:21
