CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA


Setelah tragedi penggemar kemarin, Lisa khawatir dengan kondisi putranya yang terus menerus murung dan lebih banyak diam setelah insiden itu. Lisa yakin sedikit banyaknya, putranya pasti mengalami trauma.

Lisa merasa bersalah, dia melupakan putranya yang ikut bersamanya. Lisa dibuat uring-uringan karena Naruto sama sekali tidak terlalu aktif berbicara padanya seperti biasa. bahkan guru lesnya, Miss Carol bertanya padanya bahwa akhir-akhir ini Naruto lebih banyak diam saat belajar.

Sebagai seorang ibu, Lisa sama sekali tidak bisa tinggal diam melihat putranya bertingkah pasif. dia harus mengembalikan Naruto seperti sedia kala.

"sayang, ini mama. boleh mama masuk?" Lisa mengetuk pintu Naruto.

"masuk saja mah, gak di kunci kok"

Lisa membuka pintu dan matanya menangkap sang putra sedang duduk di meja belajarnya, sepertinya dia sedang membaca buku.

"sayang, sini sebentar" Lisa menepuk kasur Naruto, bermaksud untuk mengundangnya duduk bersama.

Naruto menurut, dia duduk di samping ibunya.

"ada apa mah?"

Lisa tidak menjawab, dia hanya memeluk Naruto erat, tangannya memegang kepala Naruto agar tetap bersandar padanya

"sayang, jika kamu merasa sedih, terganggu atau apapun itu, katakan pada mama. jangan hanya diam, mama khawatir sayang. mama tidak ingin kamu kenapa-napa" suara Lisa terdengar sendu, dia merindukan putranya yang aktif. "mama gak bisa lihat kamu diam terus, mama... mama sedih. mama minta maaf, ini semua salah mama yang ninggalin kamu kemarin, kamu pasti ketakutan kan?"

Naruto terdiam, dia ikut merasa bersalah. dia merenggangkan pelukannya dan menatap Lisa dengan tatapan bersalah.

"gapapa kok ma, ini bukan salah mama, ini salahku gak bilang sama mama" Naruto tertunduk, dia mencium punggung tangan ibunya. "maafin aku yang nyusahin mama"

"astaga kamu ini ngomong apasih" Lisa memeluk Naruto lagi, "mama gak ngerasa di susahin kamu,. kamu anak mama yang paling baik" Lisa mencium pipi putranya dengan penuh kasih sayang.

"sekarang kamu ngomong, apa yang kamu rasain, hm?"

Naruto terkesiap sebelum tersenyum kikuk, "itu mah, aku boleh minta sesuatu gak?"

Lisa tersenyum manis, Naruto mulai kembali. meminta sesuatu yang kecil sangat mudah bagi Lisa, selama putranya benar-benar kembali normal.

"apa sayang, bilang saja. mama kabulkan keinginan kamu" ujar Lisa semangat.

"mama lusa ke Paris, kan?"

"yah benar, mama ada pekerjaan di sana. kamu mau ikut? gapapa, nanti aku minta Miss Carol untuk ikut juga, mama akan siapkan tiket untuk kamu" Lisa bersiap mengambil ponselnya dan memesan tiket untuk putranya. Lisa memang sudah memiliki niat membawa Naruto tapi karena ada kejadian kemarin, Lisa sedikit was-was memintanya untuk ikut, karena biasanya, dia hanya langsung memesan tiket dan membawa Naruto bersamanya.

Terlebih lagi pekerjaannya yang memakan waktu lama, membuatnya tidak bisa meninggalkan Naruto barang sehari saja. dia merasa merindukan putranya jika tidak melihatnya sedetik saja. makanya dia selalu memesankan tiket untuk Naruto tanpa membiarkannya menolak. Lisa tidak bisa jauh dari putranya.

"tunggu ma..." Naruto menahan tangan Lisa yang sudah bergerak mencari aplikasi pemesanan tiket pesawat online. "bukan itu..."

Lisa mengerutkan keningnya, "kamu gak mau ikut? sayang, mama perginya dua minggu loh, mama gak bisa ninggalin kamu sendirian di rumah. kamu harus ikut mama"

"tunggu sebentar ma... aku belum ngomong"

"yaudah, kamu mau apa?"

"aku udah mutusin buat tetap di Jepang selama mama pergi, aku tinggal bareng ayah untuk sementara, boleh kan ma?" Naruto tersenyum manis.

Lisa merasa tercekat

"a-apa... ka-kamu... yakin sa-sayang? mama perginya.. lama loh" Lisa bertanya dengan tubuh bergetar, dia benar-benar kaget mendengar permintaan Naruto.

"mama kan kerja di sana, ayah juga masih di Jepang kok, mama gak perlu khawatir aku sendirian, aku tinggal bareng ayah. boleh kan ma?" Naruto tersenyum manis dan berharap.

Lisa benar-benar gelisah dan bimbang. tidak, bagaimana mungkin dia bisa jauh dari Naaruto selama dua minggun penuh, oh tidak. ini perminataan yang sangat sulit.

"sayang, mama ke Paris loh, kamu gak mau liburan ke sana? kalau kamu mau, kamu gak perlu belajar dulu gapapa, kita liburan di sana, yah?" Lisa berusaha merayu Naruto dan mengiming-imingi dengan liburan.

Naruto menggelengkan kepalanya, "mama kan gak liburan, mama kerja di sana. aku gak mau ganggu"

"tapi sayang, mama bisa kok" Lisa meyakinkan Naruto lagi.

"tapi aku ingin menghabiskan waktu dengan ayah, gak boleh yah mah?" Naruto menatapnya sendu.

Lisa gemetar, dia berada di antara keputusan yang sulit.

"mama, kali ini aja, yah" Naruto dengan memelas meminta.

Lisa kemudian tersadar, dia merasa egois, tidak memperhatikan kemauan putranya. Naruto juga pasti ingin menghabiskan waktu dengan ayahnya. selama ini dia memaksanya selalu ikut.

Lisa tersenyum, dia memegang wajah Naruto dan mengecup wajahnya.

"yaudah boleh, kalau ada apa-apa telepon mama yah? mama mungkin gak bisa hubungin kamu terus, mama mungkin sibuk di sana" Lisa berkata dengan lembut.

"terima kasih mama"

"habiskan waktu berdua dengan ayahmu, jangan makan-makanan tidak sehat, mama tetap mantau kamu loh"

Naruto tersenyum lebar dan hormat ala prajurit.

"siap ibu bos"

Lisa tersenyum, mungkin dia harus membiarkannya tumbuh, Lisa harus membiarkan Naruto mandiri, mungkin dengan perjalanan ini membuat putranya mandiri.

Yah, Lisa berpikir positif, dia bisa hidup mandiri...

Meskipun... di hari keberangkatannya...

"Huwaaa... sayang, ikut sama mama. mama tidak bisa jauh dari kamu"

Lisa memeluk erat Naruto dan menangis di bandara, menolak menjauh dari putranya.

Naruto hanya bisa berkeringat jatuh.

Dan... Lisa mengatakan tidak bisa selalu menghubungi Naruto, namun... nyatanya...

"sayang, kamu sudah makan belum...?"

"sayang, kamu sudah mandi...?"

"sayang, jangan lupa belajar yang rajin.."

"sayang, kamu gak niat nyusul mama, gitu...?"

"sayang, mama rindu kamu... hiks"

"sayang... sayang..."

Naruto mendapatkan pesan dan telepon dari ibunya setiap hari dan Naruto dengan sabar menenangkan ibunya yang dilanda rindu.

-o0o-

Setelah dua minggu berlarut dalam kerinduan tak berujung pada putranya, akhirnya Lisa kembali ke tanah air. dia sudah sangat ingin memeluk dan mencium putranya.

Tapi meskipun begitu, Lisa belum bisa bertemu Naruto. alasannya? keluarga besarnya mengadakan liburan bersama di puncak, alhasil kemarin sore Naruto di jemput dan dibawa. Lisa akan menyusul besok pagi. Lisa benar-benar tidak sabar.

Hingga tibanya dia di sana, Lisa hanya bisa merasakan alisnya berkedut kesal. pikirannya yang ingin menghabiskan waktu dengan putranya, harus pupus tak berbekas.

Lisa menahan rasa jengkel di hatinya.

"mama, mama sudah kembali" Naruto tersenyum pada ibunya.

Lisa memaksakan senyumannya. "iya sayang, kamu boleh ke sini sebentar"

"maunya gitu mah, tapi..." Naruto mengendarkan pandangan ke sekitarnya, di mana banyak sekali adik sepupunya, mengerubunginya, menahannya, memeluknya dari berbagai arah.

"Klee, Sayu, Diona, Qiqi, YaoYao. boleh tante pinjam Naruto sebentar?" Lisa berusaha tersenyum manis pada mereka

Bukannya menurut, mereka semakin memeluk Naruto, terlebih Klee yang enggan turun dari gendongan Naruto

Bukannya menurut, mereka semakin memeluk Naruto, terlebih Klee yang enggan turun dari gendongan Naruto.

"gak boleh, Naru-nii punya kami, bukan punya tante Lisa" Klee menjulurkan lidahnya pada Lisa

"benar, Naru-niichan punya kami, dia hanya boleh main sama kami" seru yang lainnya

Lisa semakin tersenyum gelap, urat-uratnya tampak menebal

"Naruto itu anak tante, tentu saja dia milik tante" Lisa menegaskan status Naruto di hadapan mereka.

"pembohong..." Diona menunjuk Lisa, "kamu meninggalkan Naru-nii, jadi sekarang dia milik kami"

"benar, Naru-niichan milik kami"

Lisa hampir meledak, dia memanyunkan bibirnya.

"anak kecil seperti kalian tau apa, lepaskan anak tante" Lisa mulai melototi mereka.

"gak mau!" ucap mereka serempak.

Lisa semakin jengkel, dia menarik tangan Naruto, yang lain tidak mau kalah, dia menarik tangan Naruto sebelahnya.

"lepaskan anakku"

"tidak, Naru-nii milik kami"

"mama, semuanya, ini bisa dibicarakan baik-baik" Naruto kewalahan meladeni mereka dan lagi kenapa ibunya bertingkah kekanakan.

"dia anakku" Lisa melototi merka

"Naru-nii milik kami" mereka juga tidak mau kalah.

Lisa menarik Naruto sedikit kuat alhasil dia memenangkan tarikan ini. dia langsung memeluk Naruto dari belakang.

Senyum mengejek terpampang jelas di wajah Lisa.

"hah! lihat aku menang! dia milikku!"

Lima sepupu kecil Naruto tidak terima, mereka mencoba kembali merebut Naruto.

Sebagian keluarga besar Lisa dari kalangan dewasa hanya bisa berkeringat jatuh melihat mereka, terlebih dengan kelakuan Lisa.

"Lisa kau berlebihan" komentar salah satu sepupu Lisa, namun sayangnya dia menyesali komentarnya ketika Lisa menatapnya bagaikan predator.

"sumimasen!"

"itulah kenapa aku tidak berkomentar" batin beberapa orang yang sudah hapal kelakuan Lisa jika menyangkut putranya.

-CONTINUED-


Reviews :

elkenn : I'll think about it later, thanks

Crimson Riot 01 : gracias por pasarte, jeje.

Dasgun : ;)

NaruLemon Stories : Ningguang will be in, soon. just wait.