CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA


Naruto menatap langit-langit kamarnya. buku-bukunya tidak lagi terlihat menarik di matanya.

Sesaat dia memikirkan perkataan ayahnya beberapa waktu lalu ketika dia masih menginap di rumah Alhaitham.

TING!

Ponsel Naruto berbunyi. perhatianya teralih. sebuah pesan masuk dari ayahnya.

(*sudah memberi tahu ibumu?*)

(*belum, aku akan memberi tahunya setelah pulang*)

(*apa Lisa belum pulang?*)

(*belum, sepertinya mama lembur*)

(*kamu sendirian di rumah?*)

(*heheh iya ayah*)

(*kamu sudah makan malam?*)

(*belum*)

(*astaga, ayah akan membawakanmu makanan*)

(*eh, ayah tidak perlu repot-repot, aku bisa memesan online*)

(*tidak perlu, ayah akan membawakanmu, tunggu ayah, okey*)

(*baiklah*)

Naruto menaruh kembali ponselnya, dia kembali merenung. dia menarik nafas panjang.

...

"apa ayah membuatmu menunggu?" Haitham datang membawa makanan untuk Naruto.

"sama sekali tidak"

Mereka duduk di ruang makan, hanya keduanya. rumah ini benar-benar hening.

Asisten rumah tangga yang dipekerjakan Lisa hanya bekerja sampai sore hari.

"ayah tidak makan?" Naruto tidak melihat makanan tersaji di depan Haitham.

Haitham tersenyum, dia mengacak rambut Naruto.

"ayah sudah makan, terima kasih sudah memperhatikan ayah"

Naruto balas tersenyum.

"apakah kamu setuju dengan ide ayah?"

Naruto menahan suapannya, dia tertunduk sebelum menatap Haitham.

"sejujurnya aku takut, kemarin aku bertemu orang-orang mengerikan"

Haitham tertawa pelan, "maksudmu para penggemarmu"

Naruto mengangguk malu.

"astaga, mereka hanya kagum padamu" Haitham menggaruk pipinya dan tertawa kikuk, "yah, hanya saja caranya berlebihan, ha ha ha"

"aku hanya khawatir"

Haitham memegang kepala Naruto, "nak, ayah bukannya mau memaksamu, hanya saja, kamu sudah besar. kamu perlu teman, ayah tidak ingin kamu sendirian terus, terkurung dalam rumah ini, dengan bersekolah umum, kamu bisa bersosialisasi, berteman dan mungkin bisa menemukan pujaan hatimu di sana" Haitham memberikan godaan pada putranya di akhir kalimat.

"ayah, aku masih terlalu muda untuk jatuh cinta"

"siapa yang mengatakan itu?"

"mama"

Haitham menepuk ringan wajahnya, "ibumu benar-benar posesif yah"

Naruto hanya terkekeh, "yah begitulah ibu"

"jadi bagaimana keputusanmu?"

Naruto menggaruk pipinya, "aku mau mencobanya ayah, aku ingin kembali bersekolah"

Haitham tersenyum puas. dia tau, putranya pasti merasa kesepian dan bosan dengan kehidupan yang Lisa atur.

"anak pintar, ayah akan mendaftarkanmu di sekolah yang terbaik"

Secara tidak langsung, Haitham ingin menebus masa 3 tahun di mana dia tidak bisa berada di sisi putranya. Dan tidak tegas pada Lisa untuk menyekolahkan Naruto di sekolah umum.

"sayang, mama pulang!"

Lisa datang dengan wajah berseri, namun sesaat luntur melihat mantan suaminya berada di rumahnya bersama putranya.

"selamat datang mama" Naruto menyambut Lisa yang dibalas pelukan dan ciuman kasih sayang.

"ada apa kamu kemari?" suara Lisa terdengar tidak suka tapi meminimkan suaranya.

"aku hanya mengunjungi anakku. tidak boleh?"

Wajah Lisa mengerut.

"setidaknya beritahu aku terlebih dahulu"

"apa aku harus membuat laporan padamu terlebih dahulu jika ingin bertemu anakku? dia anakku juga Lisa" Haitham tidak habis pikir, sebegitu tidak sukanya Lisa dia dekat dengan putranya sendiri?

"setidaknya berikan aku kabar jika ingin kesini" suara Lisa terdengar kesal.

"dan membuat putraku mati kelaparan, jelas aku memperhatikan kondisi putraku terlebih dulu Lisa"

Lisa terkejut, dia menatap Naruto, "apa Kaeya tidak membawakanmu makan malam?"

Naruto terkekeh kikuk, "paman Kaeya sepertinya lupa"

Lisa terkejut sebelum menggeram, bisa-bisanya temannya itu melupakan membawa makanan untuk putranya, padahal tadi sudah menyanggupinya.

"akan ku marahi dia" geram Lisa dalam hati.

"lalu? apa urusanmu di sini sudah selesai?" Lisa bertanya pada Haitham yang masih duduk tenang di rumahnya.

"belum. aku masih ingin di sini, berbincang dengan putraku, bahkan jika perlu aku menginap di sini" ucap Haitham santai.

"apa? aku tidak mengizinkanmu" ucap Lisa tegas.

"hey, aku masih merindukan putraku, jangan pisahkan anak dan ayahnya"

"kamu-"

"mama" Naruto mengambil perhatian Lisa yang akan marah pada ayahnya.

"aku dan ayah ingin membicarakan sesuatu dengan mama"

Lisa terdiam, dia merasa firasat buruk.

...

"Aku tidak setuju!" ucap Lisa tegas.

Dia sudah mendengar semua penjelasan Naruto. Lisa menolak, dia tidak bisa membiarkan putranya berada di sekolah umum.

"Lisa, setuju atau tidak. Aku akan tetap memasukkan Naru di sekolah umum"

Demi masa depan putranya, Haitham harus membawa Naruto keluar dari zona kekang Lisa.

Lisa menggeram marah, "diam kamu! anakku akan tetap menjalani homeshooling sampai selesai. kau pikir anakku aman di luar sana, kenakalan remaja, pergaulan bebas bisa merusak putraku!" Lisa menolak segala hal yang berrhubungan dengan sekolah umum.

Lisa terlalu takut dengan putranya apabila dia berada di lingkungan asing.

"Lisa, kau terlalu memikirkan dampak buruk di luar sana tanpa memikirkan dampar buruk mental anakmu sendiri yang terus kau kekang!? Naru butuh kebebasan, dia tidak bisa terus bersamamu, mengikutimu seperti anak ayam. biarkan dia mandiri! anakku juga ingin merasakan dunia luar!"

Haitham sangat kesal dengan pikiran sempit Lisa. terus-menerus memaksa Naruto dalam kunkungannya, tidak membiarkannya lepas.

"DIAM! Kau tidak punya hak atas putraku! aku lebih tau, aku ibunya! kau bahkan memberikan pengaruh buruk, semenjak dia tinggal bersamamu, dia mulai tidak menurutiku!" teriak Lisa marah. maksud tidak menurut di sini adalah Naruto sudah mulai ingin merasa bebas dengan membiarkannya bergaul dengan dunia luar.

Lisa tentu saja tidak setuju. dia ingin selalu putranya bersikap manis dan terus menurut padanya.

"atas dasar apa aku membuat putraku menjadi buruk! aku juga khawatir dengan hidupnya tapi aku paham bahwa dia membutuhkan kebebasan, dia semakin besar, ada kalanya dia harus hidup sendiri tanpa perlu bergantung dengan orang tuanya"

"Tidak! Aku menolak! biarkan saja jika anakku bergantung terus padaku, bahkan jika perlu, aku yang akan membiayainya seumur hidupku!"

"LISA! JANGAN EGOIS!"

Keduanya saling berteriak.

Keduanya berada di puncak amarah.

Kedua saling mempertahankan argumennya.

Tidak ada yang mau mengalah.

"Berhenti mengguruiku! jangan seolah-olah kau jadi pahlawan bagi anakku! aku yang selalu ada untuknya!" Lisa tidak suka jika ada mengatakan dirinya 'egois' untuk putranya.

Menurut Lisa, dia tau apa yang terbaik unutk anaknya.

Haitham benar-benar marah, sampai detik ini pun Lisa tidak mengerti. Keposesifannya sudah sangat parah.

Haitham tidak bisa membiarkannya seperti ini terus menerus. Naruto dalam bahaya.

Namun berdebat dengannya tidak menyelesaikan masalah. Lisa akan keras kepala.

Haitham menarik nafas panjang, mengatur emosinya. dia menatap tajam Lisa.

"baiklah, kalau begini caramu" Haitham mengeratkan giginya, tangannya terkepal, "aku akan mengambil alih hak asuh Naru dan membuatnya jauh darimu" ucap Haitham tidak main-main. sebelum dia berlalu.

Mata Lisa terbelalak, dia menarik tangan Haitham kasar.

"Kau tidak bisa melakukannya! Hak asuh putraku sudah jatuh padaku! kau tidak bisa mengambilnya!" ucap Lisa keras, ada nada kepanikan tersemat dalam suaranya.

Haitham hanya berlalu, "kita lihat saja di pengadilan"

Haitham akan mengurus hak asuh Naruto segera.

Haitham keluar dari rumah Lisa, mengabaikan teriakan Lisa yang memanggilnya dan menolak memberikan hak asuh Naruto.

Naruto hanya bisa terdiam, pertengkaran kedua orang dewasa yang mengguncang mentalnya.

Kedua sepertinya lupa, pertengkaran keduanya disaksikan anak mereka yang baru tumbuh.

Nafas Naruto terasa tercekat.

"ma..ma.."

Lisa berbalik, nafasnya tak beratur, tanpa mengatakan apapun dia menghampiri Naruto dan membawanya ke kamar.

"mulai sekarang, aku tidak boleh keluar dari rumah ini dan tidak boleh menerima siapaun di rumah ini bahkan ayahmu, tanpa seizin mama, paham!" Lisa tanpa sadar meneriaki Naruto, pikirannya melayang ketika putranya menghilang, benar-benar menganggunya.

Belum sempat Naruto menjawab, Lisa menutup pintu dan menguncinya dari luar.

Naruto hanya terdian dengan tubuh mematung.

-o0o-

Setelah pertengkaran itu, Haitham tidak main-main dengan ucapannya.

Dia benar-benar ingin meminta hak asuh Naruto.

Lisa cuti sementara dari pekerjaannya dan berusaha menyembunyikan permasalahan rumah tangganya agar tidak tercium awak media.

Sementara Lisa mengurus hak asuh Naruto, dia memperkerjakan beberapa pengawal dan memberikan pengawalan ketat.

Kecuali Caroline dan asisten rumah tangga, tidak ada yang boleh masuk ke rumah Lisa tanpa seiizinya. Naruto mendadak jadi tahanan rumah

Naruto menjadi lebih pendiam, dibandingkan masalah penggemar waktu lalu. mentalnya benar-benar belum siap dengan ini.

Namun, kali ini Lisa tidak memperhatikkanya, sibuk mempertahankan hak asuhnya.

Perhatian Lisa pun teralihkan beberapa hari terakhir. dia tidak memikirkan apapun selain hak asuh Naruto.

Hari ini adalah hari putusan sidang hak asuh Naruto. Lisa membawa Naruto bersamanya.

Sebelum ke pengadilan, Naruto menemani Lisa syuting, lokasinya tidak jauh dari pengadilan.

"mama..." Naruto memanggil Lisa.

Kini hanya ada mereka berdua di ruangan Lisa.

"ada apa?" Lisa memandang Naruto dari pantulan cermin.

Naruto meremas tangannya, pandangannya tertunduk.

"aku rasa pertengkaran mama dan ayah, sudahi saja... aku adalah anak mama dan ayah, kalian adalah orang tuaku... aku tidak ingin kalian bertengkar hanya gara-gara aku" ucap Naruto dengan nada pelan dan lambat.

Lisa menghentikan aktivitasnya dan menoleh pada Naruto.

"tidak, sayang dengar dan lihat mama" Lisa memegang pundak Naruto.

Naruto memandang ibunya.

"ayahmu yang membawa pengaruh buruk, mama hanya ingin melindungimu. jadi, saat di pengadilan nanti, pilih mama, okay?" Lisa memandan lurus tepat di depan mata Naruto, mengsugesti pikirannya.

Mulut Naruto terbuka, "aku tidak ingin membuat ayah sedih tapi aku juga tidak ingin mama terluka"

"tidak, tidak. kamu tidak perlu memikirkan ayahmu, pilih ibu, mengerti!" Lisa dibuat gusar oleh Haitham, kalau Naruto berpihak pada ayahnya, otomatis Lisa akan kalah.

Lisa benar-benar tidak bisa membiarkannya.

"mama-

"mama tidak mau mendengar penolakan, titik" Lisa berdiri dan mengambil tasnya.

"lebih baik kita pergi sekarang"

Naruto tidak mengerti, kenapa kedua orang tuanya begitu gigih dan saling menyalahkan hanya karena hak asuh.

Cuaca Tokyo hari ini benar-benar dingin, salju mulai menghujani Jepang. Naruto berjalan di trotoar dengan kosong. dia menghela nafas. kepulan asap dingin.

Naruto memandang sedih ibunya

Naruto memandang sedih ibunya. entah kapan keduanya bisa berdamai kembali. Naruto sangat merindukan kedua orang tuanya bersatu lagi.

"mama tidak membiarkanmu jatuh ditangan ayahmu, kamu dengar itu?" Lisa berkata, dia melirik Naruto dari balik bahunya, keduanya berjalan beriringan.

Naruto tertunduk.

"mama, apa keputusanku salah. aku hanya ingin belajar" gumam Naruto pelan.

Wajah Lisa mengerut.

Keduanya berhenti di ujung jalan, lampu merah untuk pejalan kaki.

"kamu dengar apa yang mama katakan kan? kamu harus berpihak pada mama"

Lampu hijau kembali menyala.

Keduanya berjalan melewati zebracross.

"Mama tidak akan membiarkan ayahmu menang" Lisa mengoceh dengan ambisinya.

Naruto memandang punggung Lisa, tatapannya menyendu. sebelum matanya terbelalak melihat sebuah mobil dengan kecepatan tinggi mengarah pada Lisa. Lisa tidak memperhatikan sekelilingnya.

"mama!" Naruto berlari dan mendorong punggung Lisa.

Mobil itu tidak sempat mengerem karena kondisi jalan yang licin.

Lisa terdorong ke depan, hingga hampir tersungkur. dia segera berbalik.

"ada ap-"

BRAK!

Sepersekian detik, tubuh Lisa kaku, lidahnya kelu, matanya tak mampu berkedip.

Di depan matanya sendiri, Lisa menyaksikan bagaimana mobil itu menghantam tubuh putranya dengan keras.

Tubuh Lisa gemetar hebat.

Orang-orang berkumpul.

Lisa berlari mendekati tubuh Naruto yang bersimbah darah, tanpa dia sadari, dia sudah menangis.

"sayang! dengarkan mama! tolong, jangan tutup matamu!" Lisa berteriak dalam tangisnya. dia mengangkat Naruto ke pelukannya.

Mata Naruto menjadi sayu, kepalanya terlalu sakit, matanya sangat berat. dia bahkan sulit melihat Lisa.

" ..." Naruto terasa sulit berbicara.

"simpan tenagamu!" Lisa melihat sekitar, "hubungi ambulans!" Lisa benar-benar tidak bisa berpikir jernih, dia terus berteriak.

"Lisa! apa yang terjadi?!" Haitham datang, dia mendengar seseorang kecelakaa. tapi betapa terkejutnya dia melihat putranya bersimbah darah di pelukan Lisa.

Lisa tidak menjawab, dia hanya terus menangis.

Naruto melirik Haitham. dengan susah payah, Naruto mengenggam tangan ayahnya.

"a...yah"

Haitham mengenggam balik tangan Naruto, "simpan tenaga mu nak, ambulans akan datang" dia juga ikut menangis.

Naruto tersenyum simpul, dia meringis ketika rasa nyeri di dadanya, sepertinya tulang rusuknya ada yang patah.

"ha... mama, aku lelah..."

"Mama akan memarahimu kalau kamu menutup matamu! Dengarkan mama!" Untuk pertama kali dalam hidupnya, Lisa merasa sangat takut.

"sayang, dengarkan mama! mama di sini, jadi ku mohon tetaplah bersama mama!"

Lisa tidak peduli darah sudah memenuhi tubuhnya, tidak peduli bahwa dia sudah mengeluarkan banyak air mata. Lisa tidak peduli.

Tangannya mengcengkram erat jaket Naruto.

Naruto tersenyum, dia meringkuk dalam pelukan Lisa.

"jangan nangis ma..." Naruto bersusah payah untuk berbicara

" .." Naruto memandang Lisa, "tolong, jangan bertengkar dengan ayah..."

Naruto memandang Haitham dan Lisa bergantian, air mata membasahi wajahnya.

Naruto mencoba menghapus air mata Lisa, namun Lisa menggenggam wajahnay.

"ya, ya... mama janji,,, mama tidak akan bertengkar lagi... tapi mama mohon, tetaplah bersama mama..." setiap kali berbicara, Lisa hanya bisa menemukan ketakutan.

Genggaman tangannya mengerat.

"terima kasih, maafkan aku..." Naruto tersenyum cerah, "aku sayang kalian..."

Mendengar itu, tangisan Lisa tak berhenti.

Tangan Naruto, Lisa taruh di pipinya.

"mama juga menyayangimu"

Haitham tidak sanggup berkata-kata.

Suara ambulans terdengar. Lisa dan Haitham merasa sedikit lega.

"DI SINI, KORBAN DI SINI!"

Naruto lega, dia menutup mata,

"sepertinya tidak apa-apa aku tidur sebentar" gumam Naruto pelan. perlahan matanya tertutup.

Lisa membeku, tangan putranya menjadi dingin.

"maaf, putra anda... meninggal"

Tatapan Lisa menjadi kosong. Matanya bergulir menatap wajah putranya yang pucat.

Dengan tangan gemetar, dia menyentuhnya dengan perlahan.

Tidak, tidak, tidak.

Tidak mungkin putra kesayangannya meninggal, dokter itu bercanda.

"sayang, hey, bangun, dokter sudah ada di sini, kamu berjanji untuk menemani mama, kan?" pikiran Lisa mulai kacau.

"sayang, bangunlah..."

Namun tetap saja, mata hijau yang sama dengan miliknya, tidak lagi melihatnya.

"sayang, kumohon bangunlah!" Lisa mulai berteriak, dia meletakkan telinganya di dadanya, dia tidak mendengar detak jantungnya.

Lisa tidak bisa menerima kenyataan ini.

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAaaaaaaaaaaaaaah!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

o0o0o

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Tidaakkkkkkk!" Lisa terbangun dari tidurnya.. nafasnya tersengal-sengal. dia benar-benar ketakutan, mimpinya terasa sangat nyata.

apa itu tadi? itu nyata atau... mimpi?

.

.

.

-end-

Lisa Minci : Selesai