Kokuhaku

Hari ini aku mengisi pelajaran musik di kelas Taka. Aku memang menjadi asisten guru musik dan berhak menggantikan guru musik bila tidak bisa mengajar. Kebetulan guru musik yang akan mengajar kelas Taka sedang dikirim untuk mengikuti pelatihan di Shizouka.

Aoi-chan, yang duduk di barisan terdepan, menyimakku yang sedang menjelaskan materi dengan serius. Setelah kuamati, tenyata dia manis juga. Rambut pendek rapi dengan bando menghiasi kepalanya. Selain itu, tampak dia sangat cerdas dan teliti. Taka memang menyukai gadis yang tepat.

Sebuah ide terlintas di kepalaku. Menjahili Taka. Ya, sebagai balasan soal buku diariku yang dia baca dan memberitahu isinya pada Kyoko. Aku melirik buku absen.

"Taka Nakamori!" Aku memanggil Taka. Dia buru-buru berdiri dari kursinya. "Hai, Senpai!" serunya kaget.

Aku menyunggingkan senyum kecil, nakal.

"Hari ini ujian menyanyi. Bagaimana kalau kau mencoba bernyanyi dengan Shinagami Aoi?" tawarku dengan wajah jahil.

Taka terlonjak kaget, wajahnya melongo. Seisi kelas ribut. Kazumi-chan, salah seorang gadis yang menyukai Taka, langsung berteriak histeris. Ada anak perempuan yang sampai memukul kepalanya. Aku buru-buru menenangkan mereka semua. Aku sempat melirik Aoi-chan dari sudut mataku, rona merah menyembul dari pipinya. Sementara wajah Taka masih terlonjak kaget.

"Kalian semua, pilih pasangan kalian, dan salah seorang dari kalian bernyanyi dan salah seorang lagi bermain alat musik," perintahku dengan sunggingan senyum. Seisi kelas ribut kembali, menentukan siapa yang akan menjadi pasangan mereka.

Ada yang bernyanyi dengan ukulele, flute, piano, dan biola, tapi aku hanya menunggu penampilan Taka dan Aoi. Ketika mereka maju, aku buru-buru mengambil ponselku dan merekam mereka.

Taka tampak kaget, Aoi pun begitu. Tapi, sedetik kemudian mereka sudah bisa mengendalikan diri dan membungkuk hormat.

"Lagu yang akan kami bawakan adalah lagu Natsu no Maboroshi dari Garnet Crow." Taka menelan ludahnya. Kutebak, dia gugup sekali. Diam-diam aku menertawakannya, tentu saja di dalam hati.

Dentingan gitar Taka memulai semuanya. Aoi bernyanyi dengan indahnya. Aku tersenyum puas, telah berhasil mengerjai Taka. Walau begitu, ternyata suara Aoi bagus sekali. Taka juga memang jago bermain gitar. Waktu kelas empat SD dia pernah memenangkan juara satu kontes gitar solo di Sapporo. Tampaknya aku tidak salah pilih pasangan.

Ketukan di pintu kelas mengagetkanku. Aku buru-buru berteriak, "Silakan masuk!"

Sesosok yang sukses membuatku kaget luar biasa tersenyum. Seragamnya rapi. Mata cokelatnya tersenyum padaku. Dia memasuki kelas.

Hakuba-senpai! Aku melotot, tak mampu berkata apapun.

"Sumimasen, Sensei." Bahkan dia memanggilku Sensei! Jantungku naik turun tak menentu. Aku melirik Taka, susah payah dia menahan tawanya. Saat aku menjahilinya, aku malah kena balasannya, sekarang dia bebas menertawakanku hingga sakit perut.

Aku buru-buru mengangguk. "Ima, nani, Senpai?" tanyaku gugup. Hakuba tersenyum. "Aku kemari sebagai perwakilan dari ekskul kaligrafi yang akan mendata anak-anak baru yang akan mengikuti ekskul ini."

Aku mengangguk. Taka buru-buru mengangkat tangannya. "Senpai!" teriaknya semangat. Aku melotot. "Aku mau ikut ekskul kaligrafi!" lanjut Taka santai sambil melirik padaku, nakal. Aku menggeretakkan gigiku gugup.

Aduh, Taka... Lagipula sejak kapan dia punya bakat kaligrafi?

Hakuba mengambil notes-nya. "Siapa namamu?" tanyanya. Taka tersenyum simpul. "Taka Nakamori!" teriaknya dengan suara seraknya itu.

Hakuba menoleh padaku. "Nama marganya sama denganmu. Apa dia adikmu?" Aku mengangguk kaget. "Hai... dia adikku, Taka."

Hei, apa tadi? Dia mengenalku? Buktinya, dia tahu nama margaku! Aku menoleh kaget. Sementara dia masih mencatat nama-nama anak yang akan mengikuti ekskul kaligrafi, diam-diam aku memperhatikannya. Dia tampan. Wajahnya yang tirus memberikan kesan bahwa dia tegas dan maskulin. Wajahnya yang serius semakin menambah ketampanannya, dan menekankan kalau dia orang yang cerdas dan bervisi kuat.

"Arigatou, Aoko-chan. Oh ya, bisa aku bertemu denganmu sepulang sekolah?" ajaknya sambil tersenyum, mengagetkan lamunanku.

Eh, apa? Bertemu sepulang sekolah? Aku melongo. Wajahku kaku untuk beberapa detik hingga aku mengangguk mengiyakan. Hakuba tersenyum. "Arigatou, sumimasen." Dia angkat diri dan tersenyum padaku.

"Douita ne..." jawabku pelan, lalu sadar kalau Taka masih menertawakanku. Aku menatap Taka kesal dan buru-buru melanjutkan pelajaranku.

"Nanii?! Kau diajak bertemu sepulang sekolah oleh Hakuba-senpai?!" teriak Kyoko kaget yang mulutnya langsung kututup dengan kedua belah tanganku.

"Sssttt... diam!" bentakku. "Aku penasaran, ternyata dia tahu nama margaku, dan dia sudah memanggilku Aoko-chan. Berarti dia sudah mengenalku," lanjutku penasaran.

"Benarkah? Mungkin dia mengenalmu sebagai penulis lagu," ujar Kyoko sambil menelan sushi-nya. Aku terdiam sejenak. Benar juga, beberapa televisi memang pernah meliputku.

Tapi benarkah? Dia mengenalku?

"Ngg... Aoi-chan..." Aoi menoleh. Taka menunduk di belakangnya. Dia tersenyum. Aoi memandang lelaki yang dia sukai ini, dengan matanya yang indah.

"Ada apa, Taka-kun?" balasnya sambil memasukkan tempat pensilnya ke dalam tas. Taka memegang tangannya.

Aoi sedikit kaget.

"Maukah... Maukah... kau pulang bersamaku?" tanya Taka. Dia malu sekali.

Aoi tertegun. "Taka-kun..." desahnya.

Aoi tersenyum.

"Mochiron! Ayo!" Aoi tersenyum senang. Taka langsung menarik tangannya keluar gerbang sekolah, diiringi tatapan iri gadis-gadis yang menyukai Taka.

Aoi tersenyum dan asyik bercerita pada Taka. Taka tersenyum senang. Dia harus berterima kasih pada kakaknya yang sudah membantunya seperti ini.

"Aoi-chan, apa yang paling kau sukai di dunia ini?" tanya Taka tiba-tiba. Aoi menoleh kaget. Tapi kemudian senyum tersungging dari bibirnya. Taka terus memandangnya, wajah yang belakangan ini tidak bisa membuatnya tenang.

"Kebahagiaan."

"Etsu?" Kening Taka berkerut. "Doshite?"

"Tanpa kebahagiaan, dunia takkan ada. Seperti kata pepatah, dunia akan tersenyum saat kau tersenyum," kata Aoi lembut. Taka tersenyum. Aoi merentangkan tangannya.

Taka memandang Aoi dengan sudut matanya. Dia suka kata-kata Aoi. Seakan tertata dengan apik. Nada bicaranya yang lembut, buku sastra cerdas yang dibacanya, dan musik jazz yang digilainya, membuat Taka menyukainya. Dan tentu saja, tidak ingin kehilangannya.

"Kalau kau sendiri, Taka-kun? Apa yang kau sukai di dunia ini?" tanya Aoi sambil menoleh ke arahnya. Taka tersenyum.

"Sesuatu," jawabnya pendek. Aoi tertawa. "Aku tak bisa menerka kalau kau hanya bilang sesuatu."

Yang kusukai di dunia ini hanya kau, Aoi-chan, ucap Taka dalam hati dan tersenyum. "Suatu saat, akan kuberitahukan padamu," janji Taka pada Aoi dan tersenyum.

"Dan kau, sudah bertindak seperti itu, tapi tidak melakukan kokuhaku?" teriakku gusar setelah mendengar curhatan Taka dua hari setelah mereka pulang bersama waktu itu. Taka tersenyum malu.

"Habisnya... aku malu..." Pipi Taka memerah. "Masalahnya, aku menunggu waktu yang tepat, yaitu pada hari ulang tahunnya."

"Ulang tahun Aoi-chan?" Alisku bertaut. "Kapan?"

"Enam belas Juni." Taka tersenyum kecil. "Aku sudah menyiapkan cokelat dan mawar yang bagus untuknya," lanjutnya sambil melamun. Aku tersenyum, lalu mengacak rambutnya. Ah, ternyata adik kecilku ini sudah dewasa.

"Lalu, bagaimana dengan Hakuba-senpaimu, Oneechan? Pasti dia juga tidak melakukan kokuhaku, 'kan?"

Sepenggal pertanyaan dari Taka mengagetkanku. Aku menggeleng. "Iie..."

Aku menghembuskan nafas pelan-pelan. Hakuba memang sudah dua hari ini sangat dekat denganku. Dia mengajakku ke taman bermain dan mengajakku naik komidi putar.

Yang kukagumi darinya, dia sangat perhatian padaku, seakan-akan aku adalah adik kecilnya. Waktu aku di bis saja, yang terkenal banyak chikan, dia sangat melindungiku. Dan waktu aku terjatuh juga, dia menggendongku ke pinggir keramaian dan memberiku obat.

Tapi, seperti kata Taka, dia belum melakukan kokuhaku. Padahal aku sudah berharap bahwa dia akan menyatakan perasaannya padaku dan kami akan segera berpacaran. Tapi nyatanya tidak.

"Kau pancing saja, Oneechan." Suara Taka mengagetkanku.

"Nani?" kataku kaget. Taka menggeleng-geleng. "Kau pancing dia untuk menyatakan perasaannya padamu. Ajak dia ke bioskop, menonton film drama romantis."

Aku tertegun. Benar juga, aku ingat waktu pacar Kyoko menyatakan perasaannya pada Kyoko di bioskop. Mereka juga menonton film drama romantis yang berjudul Stay With Me.

"Ajak dia menonton, Oneechan," dukung Taka sambil mengulurkan kedua jempolnya padaku.

Aku mengangguk.

Oke, aku akan melakukannya! Bersiaplah, Kyuzama-senpai! Aku mengepalkan tinjuku.

Malam ini, sesuai usul Taka, aku memang mengajak Hakuba menonton drama romantis di bioskop. Kebetulan memang ada film drama romantis yang sudah kutunggu-tunggu, Ai shiteru. Judulnya pun sudah menyimpulkan, bukan? Seharusnya Hakuba sudah melakukan kokuhaku padaku saat mendengar judul film ini. Aku memang belum memberi tahunya judul film apa yang akan ditonton. Namun dia mengiyakan saja.

"Konbanwa," sapanya. Hakuba datang lebih dulu dari waktu yang ditentukan. Aku yang masih memakai celana jeans pendek selutut dan kaos melongo saat menyambutnya di depan pintu rumah. Dia yang sudah berpakaian kemeja kotak-kotak merah dengan lengan dilipat hingga siku dan jeans panjang, terlalu rapi bagiku.

"Ko... konbanwa... Hakuba-senpai, kenapa kau datang lebih dulu? Aku... belum berpakaian yang layak..." kata-kataku terputus ketika melihat senyumnya. "Tak apa. Segeralah berganti pakaian," perintahnya pelan.

Aku bersiap berganti pakaian ketika menyadari dia masih ada di depan pintu kamarku dan memasang senyum jahil. Aku langsung mendorongnya keluar ke ruang tamu. "Chikan!" pekikku dengan rona merah menghiasi wajahku.

Taka menghidangkan ocha dingin dan mengobrol dengan Hakuba. Aku sendiri masih mengikat rambutku.

Saat aku keluar dari kamar, Hakuba menatapku dengan lurus. Mungkin seharusnya aku sudah kabur karena tak tahan melihat senyumnya. Ah, aku jadi merasa malu sekali. Aku memutuskan memakai baju warna kesukaannya, kuning.

"Ayo, Aoko-chan. Kita berangkat." Hakuba langsung berdiri dan berpamitan pada Otoosan dan Okaasan. Taka tersenyum jahil. Aku tahu apa yang akan dia lakukan.

Dia sudah bilang, akan mengontrol keadaan dan memberitahuku ucapan-ucapan yang akan membuatnya menyatakan perasaan lewat pesan pendek. Aku sendiri geli mendengar strategi Taka.

Di jalan, ponselku bergetar. Aku tersenyum. Pesan dari Taka.

Bilang padanya, 'Menurutmu film apa yang akan kita tonton malam ini?'

"Menurutmu... film apa yang akan kita tonton malam ini?" tanyaku padanya yang masih sibuk menyetir.

Dia menoleh sekilas. "Thriller?" Aku melongo. Kok jawabannya begitu? Ayo, Aoko, berjuang lagi! Sampai dia bilang film romantis!

"Bu... bukan... Ano... film yang akan kita tonton itu..."

"Ah! Aku tahu! Komedi, 'kan?" tebaknya sambil mengacungkan telunjuknya.

Aku semakin pusing. Oke, Aoko. Mungkin harus dengan cara cerdas.

"Hei, lihat. Spion kaca motor di depan itu bentuknya seperti hati, ya!" Aku mendadak menunjuk spion kaca motor modifikasi yang ada di depan mobil Hakuba.

Dia melirik sekilas, lalu tertawa kecil. "Lebih seperti layang-layang, kok." Dia menginjak gas.

Aku memasang wajah kesal. Iya, sih... Tapi maksudku 'kan membuat kamu peka! rutukku dalam hati sambil melirik kaca spion modifikasi itu. Bentuknya memang belah ketupat.

Ketika masuk gedung bioskop, Hakuba membelikanku popcorn dan kola. Aku akhirnya memberitahunya kalau judul film yang akan ditonton adalah Ai shiteru, dan dia melirik seakan bertanya, benarkah?

Tak ada kokuhaku.

Di dalam bioskop, kami diam menonton film, sesekali aku meliriknya yang tampak serius. Aku mulai memancing reaksinya.

Aku mengambil satu popcorn dan membentuknya menjadi bentuk hati dengan gigiku. Lalu aku menunjukkannya pada Hakuba yang tampak menikmati filmnya. Dia melirik.

"Menurutmu, bentuknya seperti hati tidak?" tanyaku berdasarkan pesan dari Taka.

Dia mengangguk. "Iya."

Aku melongo lagi. Hanya begitu responnya? Aku langsung diam dan kembali menonton film. Tak ada sepatah katapun keluar dari bibirku.

Saat adegan tokoh utama lelaki menyatakan perasaannya pada tokoh wanita dengan mengatakan 'Aishite iru no ni', aku pura-pura terkagum-kagum dan mengirim pesan pada Taka yang sedang mengontrol situasi. Aku mendongak.

"Sugoi ne!" Ponselku bergetar lagi saat aku masih berpura-pura mengagumi adegan itu. Aku melirik pesan.

Bilang 'Aku juga mau seperti itu...'

"Ngg... Aku juga mau seperti itu... Menyatakan perasaan di depan wanita secara langsung itu gentleman sekali..." tambahku sambil meliriknya penuh harapan.

Nyatakan perasaanmu! Nyatakan perasaanmu! Aku terus berharap dalam hati.

"Oh, begitu, ya?" Dia malah bertanya dengan antusias. Aku melongo. Tapi aku berusaha memancingnya lagi.

"Iya! Seandainya ada yang menyatakan perasaannya padaku seperti itu..." Aku pura-pura berangan-angan. Tiba-tiba saja dia memegang tanganku.

"Ha... Hakuba-senpai?" tanyaku kaget. Aku tak berani mendongak, menatap matanya.

"Aoko-chan," katanya pelan. Jantungku berdebar tak berhenti. Pandanganku tak pernah copot dari bola matanya. Hakuba menelan ludah. Pastilah dia gugup sekali.

Inikah saatnya? Aku harus menjawab apa?

"Apa kau mau..."

Aku mengangguk cepat. "Ya, aku mau!" jawabku sambil mengangguk, memotong perkataannya.

"Oh, baiklah, kalau kau sudah mau pulang. Sudah jam sembilan. Ayo kita pulang," ajaknya padaku seperti ayah dengan putri kecilnya.

Aku mengangguk dengan melongo. Tidak ada kokuhaku! Jadi tadi itu... ajakan untuk pulang?

Aku mendadak ingin pingsan saja.

Taka tertawa terbahak-bahak saat aku menceritakan kejadian itu padanya. Dia terus menertawaiku dan tawanya masih berlanjut walau sudah kulempari boneka.

"Kau itu ya, Oneechan!" Dia tergelak. "Kalau begitu memang dia yang tak peka, ya! Sepertinya strategiku gagal untuk hal ini..." Tawanya meledak lagi. Aku meliriknya kesal. Huh, awas saja, Taka-kun!

"Aku tidak mau lagi jalan dengannya," jawabku kesal. Taka mengerling. "Doshite?" tanyanya heran.

"Takut terlalu berharap dia akan melakukan kokuhaku dan jika dia tidak melakukannya, aku akan depresi," kataku dingin dengan wajah kesal.

Tawa Taka semakin meledak.