Kokuhaku in Akihabara
Surga para otaku. Julukan itu memperkuat Akihabara sebagai kota otaku dengan adanya banyak orang yang bercosplay ria di pinggir jalan. Sakura sedang bermekaran, maka itu menambah keindahan Akihabara.
Aku masih menunggu Kaito di sebuah manga kissa di Akihabara. Aku sibuk membaca komik kesukaanku, Metantei Konan, dan sibuk menebak siapa pelau kejahatan tersebut.
Hingga akhirnya telapak tangan seseorang menutup mataku. Aku tertawa. "Kaito-kun, jangan menutupi mataku seperti itu!" Dia tergelak. "Gomen nasai," tukasnya lalu duduk dihadapanku.
Satu meido menghampiri kami. "Okaerinasai, apa yang akan anda pesan?" katanya sambil menyerahkan daftar menu.
Kaito mengangguk. "Dua porsi ramen dan dua ocha dingin," katanya setelah membolak-balik daftar menu.
Meido itu mengangguk sambil tersenyum. "Baiklah, chotto kudasai."
Aku sibuk curhat tentang kencanku dengan Hakuba kemarin dan sukses membuat Kaito tergelak geli. Seperti yang sudah kuperkirakan, dia akan tetap diam dan membiarkanku bercerita agar dia masih bisa tertawa. Aku memutuskan mengajak Kaito ke Akihabara karena aku mau melihat cosplay anime kesukaanku. Kaito pun tahu kalau aku seorang otaku.
"Kau ini..." desah Kaito. Dia menyeruput kuah ramennya. Aku memanyunkan bibirku beberapa senti. Aku bosan menceritakan cerita itu lagi, karena itu aku mengajak Kaito sibuk menebak pelaku kasus kejahatan di komikku ini.
"Menurutku, pengirim surat pembunuhan itu pasti istri korban," tukas Kaito datar, menebak. Keningku berkerut. "Kenapa? Bukankah anak korban yang harus dicurigai karena dia mendendam pada korban?"
"Tulisan tangannya rapi," katanya menyebalkan, pendek pula. Alisku bertaut. Hanya karena itu? Aku meneruskan membaca.
Eh?! Aku melotot besar ketika mengetahui ending kasus di komik itu. Ternyata benar, pembunuh korban adalah istri korban! Kaito yang mendengar desahanku menoleh antusias dengan mata berbinar.
"Benar, 'kan?" katanya menyebalkan. Aku memandangnya kesal. "Kok, kamu tahu?" tanyaku sewot.
"Jenis kelamin anak korban laki-laki," katanya tenang. "Tulisan surat pembunuhan ini sangat rapi. Berdasarkan riset, tulisan tangan perempuan banyak yang lebih rapi dari laki-laki," lanjutnya sambil tersenyum puas, meledek padaku. Dasar detektif!
Aku merengut kesal. Satu-kosong untuk hari ini.
Diam-diam aku masih memperhatikan Kaito. Sebenarnya dia tampan, bahkan wajahnya yang tampan dapat menutupi sifat aslinya yang menyebalkan dan banyak omong.
Arrgh, kenapa aku malah jadi memperhatikannya begini, sih? rutukku sambil menggeleng-gelengkan kepalaku.
"Mungkin Aoko-neechan mulai tertarik dengannya," suara Taka masih mengiang di telingaku. Aku bergidik ngeri. Huh, mana mungkin aku suka pada ouji-toketsu ini? Kalau dari segi wajah, aku lebih memilih Hakuba-senpai dibanding Kaito. Tapi kalau dari segi perhatian...
Aku lebih memilih ouji-toketsu ini. Apalagi aku lebih dekat dengan Kaito dibanding Hakuba. Kaito sudah kuanggap seperti saudara sendiri.
Aku mengeluarkan i-Pod dan memilih mendengarkan lagu. Puzzle milik Mai Kuraki menghiasi telingaku. Kaito menoleh dari komiknya. "Aoko-chan."
Aku tak medengarnya dan tetap asyik dengan laguku. Dia tampak kesal. Dia merebut sebelah earphone dan bernyanyi dengan suaranya yang serak. Aku mengakui suaranya tak begitu buruk, bahkan lumayan bagus.
"Nani?" balasku. Kaito menarik tanganku. "Cari tempat bagus, yuk!" Aku tertegun dan menurut saja saat dia menarik tanganku keluar dari manga kissa. Dia terus menarik tanganku. Aku tak menolak sambil memegang gitarku yang terayun-ayun.
Sampai di sebuah taman, dia mendudukanku di tatami yang memang disediakan disana. Aku memandang ke sekelilingku. Sakura yang indah, dan membuatku tenang. Kaito melirikku dan tercipta sesungging senyum dari bibirnya. Dia memang tahu aku suka sakura.
"Sugoi ne!" teriakku senang. Kaito mengambil satu bunga sakura yang jatuh dan meletakkannya di samping poniku. Rona merah sukses memenuhi pipiku dan aku menunduk. Wajah Kaito membentuk seuntai senyum.
"Nah, sekarang kau sudah seperti Sakura Hime," katanya memujiku. Sakura Hime, artinya Putri Sakura. Aku mendongak, menatap mata Kaito yang sedang memandangi sakura dengan wajah tirusnya. Dia tersenyum dan aku merasa ada yang aneh.
Eh, apa tadi? Dia memanggilku Putri Sakura?
Ah, senyumnya itu. Kenapa aku bisa terpesona seperti ini?
Kaito mengeluarkan sesuatu dari tas selempangnya. Aku melirik. Dia mengeluarkan maru-pen, penggaris, pensil, drawing pen, dan buku sketsa. Aku bingung.
"Kau mau apa?" tanyaku. Dia tak menggubris pertanyaanku dan sibuk menggambar. Tiba-tiba saja aku berpikir bahwa dia sedang membuat sketsa seseorang yang dia sayangi, sebab dia selalu tersenyum saat menggambar.
Aku terdiam. Siapa ya, yang kira-kira dia gambar? Apa pacarnya? pikirku. Karena dia tetap diam membeku, sesuai dengan julukannya, ouji-toketsu, akhirnya aku memutuskan untuk membuka ponselku dan bermain Fruit Ninja.
"Oh ya, Aoko-chan." Dia menoleh ke arahku. Aku balas menoleh. "Nyanyikan sebuah lagu. Aku bosan."
"Nani? Lagu apa? Aku tak mau membawakan lagu karanganku sendiri," elakku sambil menggelengkan kepala. Dia mengacuhkanku. "Terserahmu, sih."
Akhirnya aku memutuskan untuk bercerita saja. Akhirnya aku bercerita tentang hobiku yang lain selain mengarang lagu dan melihat sakura, yaitu membuat origami. Aku sangat suka membuat origami, hingga aku berpikir kalau sumber ketenanganku adalah origami, sakura, dan laguku. Kaito tidak menggubris, namun aku tahu telinganya mendengarkanku. Dan aku senang karena setiap aku bercerita tentang hobiku yang seperti anak kecil, dia selalu meresponku dengan positif, tak seperti Hakuba-senpai yang pernah mengerutkan kening saat aku menceritakan hobi origamiku itu.
Saat kusebut origami kesukaanku adalah bentuk kelinci, dia melirikku dan berkata, "Kamu 'kan seperti usagi. Tidak mau diam." Aku mengangguk, tergelak. Benar juga, sih. Aku memang susah diatur dan tidak mau diam.
Lalu aku bercerita bahwa impianku yang lain selain menjadi penulis lagu adalah kuliah di Todai, atau Universitas Tokyo. Aku tahu syarat masuk ke sana sangat berat. Nilaiku harus ada di atas rata-rata tinggi yang diberikan mereka. Kaito menyarankan padaku agar aku masuk ke Universitas Kyoto yang relatif bagus dan cukup terkenal.
"Tapi aku mau masuk Todai!" kataku bersikeras. Kaito memalingkan pandangannya. "Dasar keras kepala," tukasnya sambil memasang wajah kesalnya.
Aku berusaha mengacuhkan Kaito dan terus bercerita kesana-kemari. Setelah aku lelah bercerita, aku memainkan gitar. Kaito meminjam gitarku, membuat lagu B'z, band favoritnya menjadi versi akustik. Astaga, baru sekarang aku menyadari kalau dia sangat keren.
Ponselku bergetar. Aku mengangkat telepon yang masuk.
"Sonoko Obasaan?" Aku tersenyum. Sonoko Obasaan adalah pimpinan studio rekaman Todaichi. Usianya sedikit lebih tua dari nenekku. Berbeda dengan Mutou-san, dia ramah dan baik. Aku sangat menghormatinya.
"Moshi-moshi, cucuku, Aoko-chan..."
Aku tersenyum mendengarnya. "Ogenki desuka, Obasaan? Lama tak berjumpa," sapaku sambil menanyakan kabarnya.
Sonoko Obasaan mengangguk. "Genki desu, Yui-chan. Aku akan menawarkan sesuatu untukmu."
Keningku berkerut. "Apa itu, Obasaan?"
"Pelatihan penulisan lagu. Kau mau ikut?"
Mataku berbinar. Tentu saja aku akan ikut. Aku juga ingin mengembangkan bakatku dalam penulisan lagu. Kaito melirik. Aku tersenyum dan memberi isyarat padanya untuk ikut mendengarkan lewat loadspeaker ponsel.
"Bagaimana, Yui-chan? Aku bisa membuat penawaran menarik untukmu jika kau mengikuti pelatihan menulis lagu ini." Suara Sonoko Obasaan sedikit merayu. Ah, ciri khas setiap pengusaha.
"Mochiron, Obasaan! Berapa lama pelatihan itu?" tanyaku diiringi tatapan penasaran Kaito.
"Ayo, lihat... Dua minggu, Hakodate." Aku mengerling. Hakodate? Cukup jauh juga.
"Baiklah, Obasaan. Siapkan keberangkatanku!" ujarku bersemangat. Sonoko Obasaan tersenyum. "Sudah kuduga kau akan mau. Baiklah, mata ashita, Aoko-chan. Kau bisa berangkat dua hari lagi."
Aku mengangguk. "Mata ashita, Obasaan." Senyuman lebar menghiasi bibirku. Aku menatap Kaito senang, seperti anak kecil yang baru saja mendapat balon. Kaito menunduk. Wajahnya mendadak berubah menjadi serius.
"Aku ikut denganmu."
Keningku berkerut, alisku bertaut. "Jodan daro! Kau mau ikut?" tanyaku dengan nada marah. Bukannya aku tidak mengizinkannya, tapi Hakodate itu cukup jauh. Kasihan dia, apalagi aku tahu dia punya asma akut. Dan Hakodate adalah daerah pantai, banyak restoran seafood, sementara Kaito punya ichytyphobia, ketakutan ekstrim pada ikan.
"Iya," ujarnya tegas. Aku menggeleng. "Iie, kau tidak boleh ikut, kau harus tetap disini."
Dia tidak menggubrisku. Sialan. Tekadnya besar sekali.
"Aku akan ikut denganmu, Aoko-chan. Karena aku peduli padamu," tukasnya tegas dengan wajah tegas. Aku sampai tidak berani menatap matanya yang tengah memandangiku dengan kuat.
"Doshite? Kenapa kau peduli padaku?" tanyaku penasaran. Peduli, bukan kata-kata yang biasa diucapkan ouji-toketsu ini. Dia seperti biasanya, diam, dingin. Aku sendiri tidak tahu harus berkata apa. Kenapa dia jadi perhatian begini padaku?
"Karena aku adalah kakakmu," jawabnya pendek sambil sibuk berkutat di buku sketsanya. Alisku lagi-lagi bertaut.
"Kakakku? Kau bukan kakakku!" bentakku keras, hingga dia menoleh. "Kau harus tetap disini. Aku... Aku khawatir pada kesehatanmu."
Wajahnya memerah. Kaito berdiri. Aku sendiri tidak tahu apa yang telah kulakukan. "Mungkin aku bukan kakakmu." Kaito berdiri mendekatiku. Aku menatapnya kaget. Wajahnya mendekat ke wajahku. Pipiku merona.
"Aku pacarmu." Bibir Kaito bergetar, tepat di depan mataku.
Apa? Aku melotot kaget hingga dia tersenyum.
"Aishite iru no ni, Sakura Hime." Dia meraihku ke pelukannya. Aku sendiri tak bisa menolak karena semua itu benar. Diam-diam aku juga menyukainya. Aku merasakan detak jantung Kaito yang berderap semakin cepat. Dia memperlihatkan buku sketsanya sambil tersenyum.
Mataku membelalak kaget. Ternyata gambar anime seorang gadis SMU berbaju seragam dan rambutnya... panjang sepertiku!
"Itu kamu, Aoko-chan." Dia mendongak, menatap mataku yang masih menatapi kertas buku sketsanya. Aku tersenyum, dan mengulumnya karena malu.
Ouji-toketsu...
Dia yang cuek, tapi sangat perhatian, dan dia yang selalu merespon positif tentang cerita-ceritaku, dia yang konyol, pintar, dan aku baru menyadari kalau dialah tipe pacarku selama ini.
Aku melepaskan diri dari pelukan Hakuba dan dia tersentak. "Doshite, Aoko-chan?" tanyanya lembut. Aku tak mampu menatapnya, apa aku harus menerima atau menolaknya. Tubuhku bergetar dengan kuat. Wajah itu...
"Kaito-kun." Hatiku berdesir. "Aku... Aku belum bisa membalas perasaanmu."
Kening Kaito berkerut. "Kenapa?" Tubuhku mendadak memanas, aku tak tahu apa yang terjadi.
"Ber... Bersediakah kau menungguku? Hingga aku lulus penerimaan Todai?" pintaku sungguh-sungguh, tentu saja untuk mengetes kesungguhannya. Kaito tersenyum dan mencium keningku pelan. "Tentu saja, aku bersedia menunggumu."
Bibirku tersenyum pelan-pelan. Ternyata dia sungguh-sungguh mencintaiku dan bersedia memperjuangkan apapun demi mendapatkanku.
"Kaito-kun, mo... suki... yo!" kataku tiba-tiba dan membuatku malu luar biasa. Kaito menatapku serius bercampur kaget, meminta pertimbangan.
"Really for now?" Bahasa Inggris anehnya yang bercampur logat Kansai sedikit membuatku tertawa. "Of course," jawabku sambil menatap matanya yang menatapku penuh kasih sayang.
"Dan aku tak perlu menunggumu hingga lulus penerimaan Todai?"
Aku menggeleng. "Iie... watashi wa... anata ga tameshite mimashou," kataku sambil tersenyum simpul. "I let you try, ouji-toketsu."
Dia meninju tanganku, pelan. Tertawa renyah.
"Jadi, apakah putaran film cinta kita akan dimulai sekarang, Sakura Hime?"
"Hai, setidaknya sampai film cinta ini selesai." Aku menatapnya, bercanda. Dia mengelus rambutku. "Iie..." elaknya. "Film cinta ini akan selalu kuputar berulang kali, hingga kita mati."
Aku menatapnya serius. "Rayuanmu tak akan mempan, aku bosan melihat film yang sama berulang kali." Kaito menatapku kaget. "Setidaknya jika kau bosan memutar film cinta ini lagi, akan kubuat episode barunya."
Aku tergelak sambil menyandarkan kepalaku di bahunya. Dia mengelus kepalaku pelan, penuh kasih sayang.
Aku baru menyadari, kokuhaku yang sebenarnya dimulai saat sakura di Akihabara. Sakura dan gitarku menjadi saksi bisu akan percintaan kami. Aku sendiri tak menyangka, bahwa ternyata ouji-toketsu ini akan menyatakan perasaannya padaku.
Kaito...
Sakura masih berjatuhan dengan indahnya, menaungi dua insan yang sedang mencinta. Siapa peduli?
